Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Penggunaan Modul Stimulasi Perkembangan Untuk Melatih Kemampuan Bahasa Dan Bicara Anak Usia 0-12 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Ranomeeto Kabupaten Konawe Selatan Feryani, Feryani; Elyasari, Elyasari
Jurnal Keperawatan Vol 3 No 03 (2020): JURNAL KEPERAWATAN : JURNAL PENELITIAN DISIPLIN ILMU KEPERAWATAN
Publisher : STIKes Karya Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan bahasa dan berbicara setiap anak berbeda-beda, ada yang cepat dan ada yang lambat. Anak yang mampu berbicara sesuai tingkat usianya mencerminkan perkembangan bahasa dan berbicara yang baik, bila anak memiliki gangguan pada fase produksi bunyi/suara atau artikulasi maka dapat mempengaruhi kemampuan bahasa dan bicara. Kemampuan bahasa maupun bicara anak secara bertahap meningkat dimulai dari ekpresikan mimik wajah sebagai teknikberkomunikasi, gerakan dan tanda isyarat untuk menunjukkan keinginan, produksi bunyi dan selanjutnya berkembang menjadi produk arti bahasa. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan modul stimulasi perkembangan untuk melatih kemampuan bahasa dan bicara anak. Jenis penelitian adalah quasi eksperiment one group pre test-post. Sampel penelitian adalah anak usia 0-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Ranomeeto Kabupaten Konawe Selatan tahun 2018 berjumlah 25 orang. Tehnik pengambilan sampel purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dan modul. Uji statistik menggunakan paired sampel t-test SPSS versi 17.00. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh penggunaan modul stimulasi perkembangan untuk melatih kemampuan bahasa dan bicara anak sebelum dan setelah diberi perlakukanp value 0,005, α=0,05. Stimulasi perkembangan bahasa dan bicara dilakukan sesuai umur anak. Abstract. Every child's language and speech development is different, some are fast and some are slow. Children who are able to speak according to their age level reflect the development of language and good speech, if the child has a disturbance in the production phase of sound / articulation then it can affect language and speech skills. Children's language and speech skills gradually increase starting from the expression on their faces as communication techniques, movements and signs to show desire, sound production and subsequently develop into a product of language meaning. This research was conducted to determine the effect of using developmental stimulation modules to practice children's language and speech skills. This type of research is a quasi one group pre-test-post experiment. The sample of this research is children aged 0-12 months in the working area of ​​Ranomeeto Public Health Center in Konawe Selatan Regency in 2018 amounting to 25 people. Purposive sampling technique sampling. Research instruments using questionnaires and modules. Statistical tests using paired sample t-test SPSS version 17.00. The results showed there was an influence on the use of development stimulation modules to practice children's language and speech skills before and after being treated with a value of 0.005, α = 0.05. Stimulation of language and speech development is done according to the age of the child.
Perbedaan Pengetahuan Pre Dan Post Pendidikan Kesehatan Pada Penghuni Lapas Tentang Risiko Kejadian Viral Hepatitis Di Lapas Perempuan Kelas III Sari, Hesmina Puspita; Indriastuti, Diah; Asrul, Muhamad; Elyasari, Elyasari
Jurnal Keperawatan Vol 2 No 03 (2019): JURNAL KEPERAWATAN : JURNAL PENELITIAN DISIPLIN ILMU KEPERAWATAN
Publisher : STIKes Karya Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Abstrak. Viral hepatitis di Lapas menjadi masalah bagi kesehatan narapidana. Kurangnya sanitasi dan gaya hidup narapidana terutama wanita seringkali menjadi penyebab mudahnya hepatitis menular di dalam lapas. Upaya kesehatan seperti screening hepatitis maupun pemberian penyuluhan tentang hepatitis belum pernah dilakukan di Lapas Perempuan Kendari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengetahuan pre dan post pendidikan kesehatan pada penghuni lapas tentang risiko viral hepatitis di Lapas. Penelitian ini adalah penelitian Pre-Experimental dengan desain one group pre test-post test design. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah 86 orang penghuni lapas perempuan kelas III Kendari. Teknik sampeling menggunakan teknik total sampling. Data diperoleh menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji wilcoxon sign rank test. Hasil penelitian menunjukan data sebelum pendidikan kesehatan mengenai hepatitis sebesar 52,3% pengetahuan narapidana dalam kategori tinggi dan 47,7% memiliki kategori pengetahuan rendah. Data pengetahuan setelah pendidikan kesehatan sebesar 70,9% pengetahuan tinggi dan hanya 29,1% masih memiliki pengetahuan rendah. Rata-rata skor pengetahuan sebesar 6,33 sebelum pendidikan kesehatan sebesar dan setelah pendidikan kesehatan sebesar 8,56. Hasil uji wilcoxon sign rank test diperoleh nilai p value 0,000. Simpulan yang didapatkan dari penelitian ini adalah ada perbedaan pengetahuan pre dan post pendidikan kesehatan pada penghuni lapas tentang risiko kejadian viral hepatitis. Saran peneliti adalah bagi pihak Lapas perempuan agar menentukan kebijakan tentang risiko kejadian viral Hepatitis dengan rutin memberikan penyuluhan tentang Hepatitis. Bagi narapidana perempuan agar mencegah penyakit Hepatitis dengan menjaga personal higiene. Bagi peneliti selanjutnya, agar menggunakan media yang berbeda dalam upaya peningkatan pengetahuan narapidana tentang viral Hepatitis. Absctract. Viral hepatitis in prisons is a problem for prisoners' health. Lack of sanitation and lifestyles of prisoners, especially women are often the cause of the ease of communicable hepatitis in prisons. Health efforts such as hepatitis screening and counseling about hepatitis have never been done in Kendari Women's Penitentiary. This study aims to determine differences in pre and post health education knowledge among prison residents about the risk of viral hepatitis in correctional institutions. This research is a Pre-Experimental study with one group pre-test-post test design. The population and sample in this study were 86 female class III prison residents in Kendari. The sampling technique uses total sampling technique. Data obtained using a questionnaire and analyzed using the Wilcoxon sign rank test. The results showed data before health education about hepatitis amounted to 52.3% knowledge of prisoners in the high category and 47.7% had a low knowledge category. Knowledge data after health education was 70.9% high knowledge and only 29.1% still had low knowledge. The average knowledge score of 6.33 before health education was equal to and after health education was 8.56. Wilcoxon sign rank test results obtained p value of 0,000. The conclusion obtained from this study is that there are differences in pre and post health education knowledge among prison residents about the risk of viral hepatitis. Researcher's suggestion is for women prison staff to determine policies about the risk of viral hepatitis by routinely providing counseling about hepatitis. For female prisoners to prevent hepatitis by maintaining personal hygiene. For further researchers, to use different media in an effort to increase prisoners' knowledge about viral hepatitis.
Perbedaan Pengetahuan Pre Dan Post Pendidikan Kesehatan Pada Penghuni Lapas Tentang Risiko Kejadian Viral Hepatitis Di Lapas Perempuan Kelas III Sari, Hesmina Puspita; Indriastuti, Diah; Asrul, Muhamad; Elyasari, Elyasari
Jurnal Keperawatan Vol 2 No 03 (2019): JURNAL KEPERAWATAN : JURNAL PENELITIAN DISIPLIN ILMU KEPERAWATAN
Publisher : STIKes Karya Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Abstrak. Viral hepatitis di Lapas menjadi masalah bagi kesehatan narapidana. Kurangnya sanitasi dan gaya hidup narapidana terutama wanita seringkali menjadi penyebab mudahnya hepatitis menular di dalam lapas. Upaya kesehatan seperti screening hepatitis maupun pemberian penyuluhan tentang hepatitis belum pernah dilakukan di Lapas Perempuan Kendari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengetahuan pre dan post pendidikan kesehatan pada penghuni lapas tentang risiko viral hepatitis di Lapas. Penelitian ini adalah penelitian Pre-Experimental dengan desain one group pre test-post test design. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah 86 orang penghuni lapas perempuan kelas III Kendari. Teknik sampeling menggunakan teknik total sampling. Data diperoleh menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji wilcoxon sign rank test. Hasil penelitian menunjukan data sebelum pendidikan kesehatan mengenai hepatitis sebesar 52,3% pengetahuan narapidana dalam kategori tinggi dan 47,7% memiliki kategori pengetahuan rendah. Data pengetahuan setelah pendidikan kesehatan sebesar 70,9% pengetahuan tinggi dan hanya 29,1% masih memiliki pengetahuan rendah. Rata-rata skor pengetahuan sebesar 6,33 sebelum pendidikan kesehatan sebesar dan setelah pendidikan kesehatan sebesar 8,56. Hasil uji wilcoxon sign rank test diperoleh nilai p value 0,000. Simpulan yang didapatkan dari penelitian ini adalah ada perbedaan pengetahuan pre dan post pendidikan kesehatan pada penghuni lapas tentang risiko kejadian viral hepatitis. Saran peneliti adalah bagi pihak Lapas perempuan agar menentukan kebijakan tentang risiko kejadian viral Hepatitis dengan rutin memberikan penyuluhan tentang Hepatitis. Bagi narapidana perempuan agar mencegah penyakit Hepatitis dengan menjaga personal higiene. Bagi peneliti selanjutnya, agar menggunakan media yang berbeda dalam upaya peningkatan pengetahuan narapidana tentang viral Hepatitis. Absctract. Viral hepatitis in prisons is a problem for prisoners' health. Lack of sanitation and lifestyles of prisoners, especially women are often the cause of the ease of communicable hepatitis in prisons. Health efforts such as hepatitis screening and counseling about hepatitis have never been done in Kendari Women's Penitentiary. This study aims to determine differences in pre and post health education knowledge among prison residents about the risk of viral hepatitis in correctional institutions. This research is a Pre-Experimental study with one group pre-test-post test design. The population and sample in this study were 86 female class III prison residents in Kendari. The sampling technique uses total sampling technique. Data obtained using a questionnaire and analyzed using the Wilcoxon sign rank test. The results showed data before health education about hepatitis amounted to 52.3% knowledge of prisoners in the high category and 47.7% had a low knowledge category. Knowledge data after health education was 70.9% high knowledge and only 29.1% still had low knowledge. The average knowledge score of 6.33 before health education was equal to and after health education was 8.56. Wilcoxon sign rank test results obtained p value of 0,000. The conclusion obtained from this study is that there are differences in pre and post health education knowledge among prison residents about the risk of viral hepatitis. Researcher's suggestion is for women prison staff to determine policies about the risk of viral hepatitis by routinely providing counseling about hepatitis. For female prisoners to prevent hepatitis by maintaining personal hygiene. For further researchers, to use different media in an effort to increase prisoners' knowledge about viral hepatitis.
EFEKTIVITAS PENYULUHAN TERHADAP PENGETAHUAN, SIKAP DAN KEPUTUSAN MELAKUKAN DETEKSI DINI KANKER SERVIKS DENGAN TES INSPEKSI VISUAL ASAM ASETAT (IVA) Nurmiaty, Nurmiaty; Wahida, Wahida; Elyasari, Elyasari; Malahayati, Andi
Midwifery Journal: Jurnal Kebidanan UM. Mataram Vol 6, No 1 (2021): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/mj.v6i1.1643

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas penyuluhan terhadap pengetahuan, sikap dan keputusan ibu melakukan IVA. Desain penelitian adalah Quasi Experimental.  Analisis data dengan uji Wilcoxon dan chi square. Hasil penelitian skor pengetahuan sebelum di beri penyuluhan (T0) sebesar (65,66±12,55) dan setelah diberikan intervensi (T1) berupa penyuluhan, skor pengetahuan meningkat menjadi (81,13±5,62). Hasil ini menunjukkan bahwa pemberian penyuluhan signifikan terhadap pengetahuan, dimana (p<0,05). Skor sikap sebelum di beri penyuluhan  sebesar (58,75±16,60) dan setelah diberi penyuluhan (77,75±10,70)  hasil ini menunjukkan bahwa pemberian penyuluhan signifikan terhadap sikap ibu di mana (p<0,05). Skor keputusan ibu sebelum penyuluhan adalah (61,52±11,87) dan setelah penyuluhan (78,58±10,05). Hasil uji statistik menunjukkan skor perilaku signifikan pada post test di mana (p<0,05), hasil ini menunjukkan bahwa pemberian penyuluhan dapat mempengaruhi tindakan ibu untuk melakukan deteksi dini kanker serviks dengan IVA Test. Pemberian penyuluhan dapat meningkatkan pengetahuan, serta mempengaruhi sikap dan tindakan ibu untuk melakukan deteksi dini kanker serviks menggunakan IVA Test.The purpose of the study was to determine the effectiveness of counselling on the knowledge, attitudes and decisions of mothers conducting an early detection of cervical cancer. The research design was quasi-experimental. Statistical analysis using the Wilcoxon and chi-square test. Based on the results of data analysis with Wilcoxon test obtained knowledge scores before counselling (T0) of (65.66 ± 12.55) and after counselling (T1) knowledge scores increased to (81.13 ± 5.62) p-values <0,05. The attitude score before counselling was (58.75 ± 16.60) and after counselling (77.75 ± 10.70) with a p-value <0.05. The results of the static analysis showed that the provision of counseling significantly increased the knowledge score, attitude score and the mother's decision to make early detection of cervical cancer with an IVA Test.  
Hubungan Serotinus dengan Kejadian Asfiksia Bayi Baru Lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kendari Tahun 2015 Elyasari, Elyasari; Listi, Listi
Health Information : Jurnal Penelitian Vol 10 No 1 (2018): Digitalisasi Versi Cetak
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (31.116 KB) | DOI: 10.36990/hijp.v10i1.56

Abstract

Newborn asphyxia is a condition where the baby is born can not immediately breathe spontaneously and regularly after birth (Wiknjosastro, 2007). AKB in Kendari City in 2014 as many as 26 people out of 6,228 newborns with the incidence of asphyxia in newborns in Kendari City General Hospital in 2015 as many as 78 people out of 950 newborns and the number of infants experiencing serotinus as many as 40 babies (Medical Record of Kendari City Hospital, 2015). Objective to determine the relationship between serotinus and the incidence of asphyxia in newborns at the Kendari Regional General Hospital in 2015. The type of research used was analytic with the design of Case-Control. The sampling technique was purposive sampling, in which all asphyxial infants were taken as a case. The systematic sampling technique was random sampling, where all non-asphyxial infants were numbered, and from 872 non-asphyxial infants divided by the number of controls taken 872: 78 = 11.2, so that the sample for control is a multiple of 11. Based on data analysis obtained results, namely from 78 infants with asphyxia there were 10 people (12.8%) babies born with serotinus. The value of X2counts 5,778> X2 table 3,841 so that H0 is rejected and Ha is accepted with OR = 5.588 (p= 0.032). There is a relationship between serotinus and the incidence of asphyxia in newborns in Kendari Regional General Hospital in 2015.