Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

PERUBAHAN KIMIA, MIKROBIOLOGIS DAN KARAKTERISTIK GEN HDC PENGKODE HISTIDIN DEKARBOKSILASE PADA IKAN TONGKOL ABU-ABU Thunnus tonggol SELAMA PENYIMPANAN SUHU DINGIN Nurjanah; Mala Nurilmala; Asadatun Abdullah; Vicentius Marco Matutina; Roza Yusfiandayani; M. Fedi A. Sondita; Hanifah Husein Hizbullah
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 11 No. 2 (2019): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (942.362 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v11i2.23007

Abstract

Histamin merupakan senyawa amin biologis yang dapat terbentuk dari histidin bebas dalam daging ikan pada fase post rigor. Laju pertumbuhan histamin dapat diperlambat dengan cara menjaga mutu ikan menggunakan suhu dingin. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan lama waktu penyimpanan, perubahan kimia dan mikrobiologis ikan tongkol Thunnus tonggol serta waktu terdeteksinya gen hdc selama penyimpanan suhu 8±3°C. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan parameter perbedaan waktu penyimpanan ikan (1,2,3,4,5,6,7 hari) dan perbandingan es 1:1. Hasil penelitian menunjukkan ikan tongkol abu-abu mengalami kemunduran mutu selama 7 hari penyimpanan. Nilai organoleptik dan pH mengalami penurunan selama penyimpanan dan pada hari ketujuh ikan berada pada fase rigormortis. Nilai TVB dan TPC meningkat selama penyimpanan dan pada penyimpanan hari keenam sudah melewati batas aman untuk dikonsumsi. Kadar histamin pada hari ketujuh yaitu 1,96 ppm. DNA berhasil di-isolasi dan terdeteksi gen hdc, namun hasil amplifikasi belum efektif, sehingga diperlukan optimalisasi metode PCR. Profil protein yang terbentuk selama penyimpanan berdasarkan hasil SDS-PAGE mulai terpisah karena adanya aktivitas enzim katepsin.
Penerapan suhu pemingsanan dalam transportasi sistem kering ikan baronang Siganus sp. Taufik Hidayat; Muhammad Baiquni Bramantyo; Mala Nurilmala
Depik Vol 7, No 3 (2018): December 2018
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.287 KB) | DOI: 10.13170/depik.7.3.10207

Abstract

Abstract. Rabbitfish (Siganus sp.) is an unfamiliar fish consumption in public. Demand of fresh fishes continue to increase every year. One method to maintain freshness of fish is fish transportation method. The research purpose was to determine the best rabbitfih immotilization temperature for filler media in transportation tools packaging, immotilization fish use 2 ppt of clove oil, and then fish conscious test was measured at , 14°C, dan 17°C, and 19°C of temperatures.  The experiments were the fish conscious time and water quality analyses. Test of water qualities were seawater before used, water plus anesteshia (water+clove oil), immotilization water (water+clove oil+fish), seawater for temperature treatment, and seawaterafter conscious fish. Water quality parameter analyses were DO (Dissolved oxygen),pH, CO2, TAN, KH, GH, NO3, NO2. The best temperature of fish conscious time test in this experiment was 17°C with 300 minutes of conscious time.Keywords: Immotilization;  Siganus sp.; Transportation; Water quality Abstrak. Ikan baronang (Siganus sp.) merupakan ikan konsumsi yang belum familiar di masyarakat luas. Ikan segar terus meningkat permintaannya setiap tahunnya. Salah satu metode untuk mempertahankan kesegaran ikan adalah dengan metode transportasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui suhu pemingsanan terbaik ikan baronang untuk media pengisi pada kemasan alat transportasi, ikan dipingsankan dengan minyak cengkeh 2 ppt kemudian di uji waktu sadar ikan dengan perlakuan suhu 19°C, 14°C, dan 17°C. Pengujian yang dilakukan adalah uji waktu sadar ikan dan uji kualitas air. Kualitas air yang diuji adalah air laut sebelum digunakan, air ditambah anestesi (air+minyak cengkeh), air proses pemingsanan (air+minyak cengkeh+ikan), air laut untuk perlakuan suhu, dan air setelah pembugaran.Parameter uji kualitas air adalah DO, pH, CO2, TAN, KH, GH, NO3, NO2. Pengujian waktu sadar ikan terbaik adalah dengan perlakuan suhu 17°C dengan waktu sadar sebesar 300 menit. Kata kunci:Transportasi;Siganussp.; Pemingsanan; Kualitas air
Perubahan kandungan vitamin dan mineral ikan kembung lelaki akibat proses penggorengan Mala Nurilmala; Nurjanah .; Reza Febriyansyah; Taufik Hidayat
Depik Vol 4, No 2 (2015): AUGUST 2015
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.497 KB) | DOI: 10.13170/depik.4.2.2688

Abstract

Abstract. Indian mackerel (Rastrelliger kanagurta) is one of sea water fish in Indonesia. It is a good source of protein. This fish is consumed by vary processing methods. In addition, it is very known that frying is the favorite method for food processing including fish in Indonesia because of its specific taste. However there is no data found for changes of vitamin and mineral  compositions so far, thus our study investigated the effect of deep frying  using 4L palm oil at 180 oC for 5 minutes on vitamin A, B12, and minerals (Ca, Na,K, Fe, Zn, and Se) of this fish. The measurenment of vitamin A and B12 was carried  out by HPLC and  AAS for  mineral. The results showed that deep frying effected on vitamin A with significantly increased (P0.05), on the other hand vitamin B12  decreased significantly (P0.05).  Mineral Ca  increased significantly (P0.05), however Na dan K  decreased significantly (P0.05). No significant result for Fe and Zn. Furthermore, it is found that Se content was under limit detection.Keywords: deep frying; mineral; Rastrelliger kanagurta; vitaminAbstrak. Ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) merupakan salah satu ikan laut Indonesia. Ikan ini  dikonsumsi  dengan berbagai metode pengolahan. Pengolahan dengan menggoreng merupakan metode yang sangat disukai di Indonesia karena akan menghasilkan rasa yang khas termasuk pada ikan kembung. Di sisi lain, belum adanya data yang ditemukan akibat metode penggorengan ini pada perubahan vitamin dan mineral ikan kembung, sehingga tujuan penelitian ini adalah menentukan pengaruh yang terjadi pada kandungan vitamin A, B12, dan mineral ikan kembung (Ca, Na, K, Fe, Zn, dan Se)  setelah digoreng dalam deep fryer menggunakan 4L minyak goreng pada suhu 180 oC selama 5 menit. Pengujian yang dilakukan yaitu, uji vitamin A dan B12 dengan HPLC, serta uji mineral dengan AAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode penggorengan deep fryingberpengaruh nyata (P0,05) terhadap vitamin A, sedangkan vitamin B12menurun secara signifikan (P0,05). Mineral Ca meningkat secara signifikan (P0,05), sedangkan Na dan K  menurun secara signifikan (P0,05) setelah proses penggorengan. Mineral Fe dan Zn tidak berubah secara signifikan. Selenium memiliki kandungan dibawah limit deteksi.Kata kunci: proses penggorengan; mineral; Rastrelliger kanagurta; vitamin; 
Perbaikan Nilai Tambah Limbah Tulang Ikan Tuna (Thunnus sp) menjadi Gelatin serta Analisis Fisika-Kimia Mala Nurilmala; Mita Wahyuni; Heidi Wiratmaja
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 9 No 2 (2006): Buletin Teknologi Hasil Perikanan
Publisher : Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (61.394 KB) | DOI: 10.17844/jphpi.v9i2.980

Abstract

Tulang ikan tuna (Thunnus sp.) merupakan limbah yang belum termanfaatkan dengan baik dan didalamnya mengandung kolagen sehingga dapat dibuat gelatin. Pembuatan gelatin dari tulang ikan tuna dilakukan dengan metode asam klorida. Konsentrasi asam klorida yang digunakan berkisar antara 4 %-6 % v/v dengan lama perendaman 2 hari. Ekstraksi gelatin dilakukan dengan suhu berkisar antara 80-90 oC. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pembuatan gelatin dari tulang ikan tuna menggunakan asam klorida serta menganalisis sifat fisika kimia gelatin yang dihasilkan. Perlakuan terpilih adalah kombinasi konsentrasi HCl 6% dengan suhu ekstraksi 80oC. Kadar air gelatin tulang ikan tuna adalah 6,54 %, abu 1,93 %, lemak 0,42 % dan protein 91,01 %. Titik gel gelatin tulang ikan tuna adalah pada suhu 7,61 oC, titik leleh 19,84 oC, titik isoelektrik pada pH 7, derajat putih 10,7 % dan asam amino glisin merupakan asam amino yang utama pada gelatin tulang ikan tuna.Kata kunci : gelatin, ikan tuna, limbah, tulang
Quality Changes of Tilapia Fish (O. niloticus) by Killing Techniques and Gutting during Low Storage Temperature Aris Munandar; . Nurjanah; Mala Nurilmala
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 12 No 2 (2009): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.658 KB) | DOI: 10.17844/jphpi.v12i2.850

Abstract

Killing and gutting treatment at low storage temperature (0-5 oC) on tilapia fish (O. niloticus) showed significant results on the subjective test (organoleptic) and objectives (TPC/Total Plate Count, pH, and TVB/Total Volatile Base). The A1B2 treatment (dead pricker, gutting) gare the best quality, and this could he maintained for 10 days. Tilapia fish could be consumed up to-10 days because the number of bacteria at the end of the storage prevent reached 9.7x105 colonies/g. TVB value generated at the end of the storage period reached 20.45 mg N/g with some fluctuation of pH value during the storage. The quality of tilapia fish could maintain with the combination of treatment and storage at low temperature (0-5 oC).Keywords: chilling, fish quality, tilapia
Penggunaan Kitosan sebagai Pembentuk Gel pada Bakso Ikan Kurisi (Nemipterus nematophorus) Mala Nurilmala; Pipih Suptijah; Dini Nurfianti
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 10 No 1 (2007): Buletin Teknologi Hasil Perikanan
Publisher : Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.852 KB) | DOI: 10.17844/jphpi.v10i1.968

Abstract

Konsumsi daging ikan Indonesia tahun 2005 masih rendah sebesar 26 kg/kapita/tahun, karena masyarakat kurang menggemari ikan dalam bentuk penyajian utuh sehingga perlu adanya diversifikasi produk seperti bakso ikan. Bakso merupakan produk makanan yang banyak digemari masyarakat, tetapi adanya isu penggunaan bahan tambahan berbahaya menurunkan minat konsumen. Untuk itu penggunaan bahan alami seperti kitosan sangat diharapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik kitosan yang dibuat serta memanfaatkannya sebagai pembentuk gel bakso ikan kurisi (Nemipterus nematophorus). Pada penelitian pendahuluan dibuat kitosan yang memenuhi standar. Konsentrasi kitosan yang digunakan ke dalam adonan dalam penelitian utama adalah 0% (tanpa kitosan); 0,1 %(v/b); 0,2 %(v/b); 0,3 %(v/b); 0,4 %(v/b); 0,5 %(v/b) yang diperoleh dari larutan kitosan 1,5 %(b/v) dan STPP 0,15 %(b/b) untuk pembanding. Konsentrasi kitosan terpilih untuk pengadonan adalah 0,2 %(v/b), bila dibandingkan dengan sodium tripoliposfat, kitosan lebih unggul dalam membentuk gel maupun organoleptik produk bakso ikan. Kitosan berpengaruh nyata terhadap organoleptik (penampakan dan tekstur), fisik (uji lipat uji gigit dan kekuatan gel.
Quality Changes of Dumbo Catfish (Clarias gariepinus) by Killing Techniques During Chilling Temperature Storage Mala Nurilmala; . Nurjanah; Rahadian Hardja Utama
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 12 No 1 (2009): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.341 KB) | DOI: 10.17844/jphpi.v12i1.883

Abstract

The time of prerigor, rigor mortis, initial postrigor, and the end postrigor phase of catfish killed instantly in 0, 9, 57, and 144 hours was investigated. In addition, the time of prerigor, rigor mortis, initial postrigor, and the end of postrigor phase of catfish killed after 12 hours without water media were 0, 6, 42, and 120 hours. Freshness declination of catfish killed instantly slower than killed after 12 hours without water media. Fish killed instantly had 5.1x105 colonies/g TPC (Total Plate Count) value and 24.36 mg N/100 TVB (Total Volatile Base) value. The sensory value for eyes, gills, mucus of body surface, meats, odor, and texture at the end of storage (the sixth day) was 3.95, 4.05, 4.30, 4.45, 4.45 and 3.45 respectively. On the other hand the fish killed after 12 hours without water media had 1,2x106 colonies /g, TPC value and 25,2 mg N/100 g TVB value. The sensory value for eyes, gills, mucus of body surface, meats, odor, and texture at the end of storage (the sixth day) was 2.3, 2.2, 2.8, 3.9, 3.7 and 2.85, respectively.Keywords: catfish, fish quality, low temperature
Deteksi bakteri pembentuk amina biogenik pada ikan Scombridae secara multiplex PCR: Detection of Biogenic Amine Producing Bacteria in Scombridae Fish based on Multiplex PCR assay Nurjanah; Rizsa Mustika Pertiwi; Mala Nurilmala; Asadatun Abdullah; Roza Yusfiandayani; M. Fedi A. Sondita
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 23 No 2 (2020): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 23(2)
Publisher : Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v23i2.31596

Abstract

Amina biogenik merupakan komponen basa nitrogen yang terbentuk oleh dekarboksilasi asam amino. Amina biogenik yang sering terdeteksi pada produk perikanan di antaranya histamin, tiramin dan kadaverin. Gen pengkode dekarboksilasi asam amino tersebut yaitu histidine decarboxylase (hdc), tyrosine decarboxylase (tdc) serta lysine decarboxylase (ldc). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan isolat DNA bakteri beserta konsentrasi dan kemurniannya, menyeleksi media pertumbuhan bakteri, mendeteksi gen hdc, tdc dan ldc menggunakan multiplex PCR serta identifikasi bakteri.. Sampel yang digunakan yaitu ikan tuna beku, tongkol beku, cakalang beku, tuna loin, pindang tongkol potong dan pindang tongkol bumbu kuning serta kontrol positif menggunakan ikan tuna yang disimpan pada suhu ruang selama 3 hari. Penelitian terdiri dari tahap pra-pengayaan bakteri pada media marine broth dan lactose broth, isolasi DNA sampel tanpa dan hasil pra-pengayaan, uji kemurnian dan konsentrasi isolat serta amplifikasi gen target hdc, tdc, ldc menggunakan multiplex PCR. Hasil yang diperoleh yaitu kualitas isolat DNA bakteri pada umumnya sudah murni, dengan konsentrasi isolat 15,75-157,84 ng/µL. Teknik multiplex PCR berhasil mendeteksi gen hdc, tdc dan ldc pada ikan scombridae. Kondisi optimum amplifikasi PCR yaitu annealing pada suhu 50°C selama 90 detik. Gen yang terdeteksi pada sampel tanpa pra-pengayaan yaitu tdc, sedangkan ldc dan hdc ditemukan pada sampel hasil pra-pengayaan media lactose broth dan marine broth. Bakteri pembentuk amina biogenik teridentifikasi sebagai Enterococcus fecalis, M. morganii, E. aerogenes, Citrobacter sp., Hafnia paralvei dan Obesumbacterium proteus. Amina biogenik merupakan komponen basa nitrogen yang terbentuk oleh dekarboksilasi asam amino. Amina biogenik yang sering terdeteksi pada produk perikanan di antaranya histamin, tiramin dan kadaverin. Gen pengkode dekarboksilasi asam amino tersebut yaitu histidine decarboxylase (hdc), tyrosine decarboxylase (tdc) serta lysine decarboxylase (ldc). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan isolat DNA bakteri beserta konsentrasi dan kemurniannya, menyeleksi media pertumbuhan bakteri, mendeteksi gen hdc, tdc dan ldc menggunakan multiplex PCR serta identifikasi bakteri.. Sampel yang digunakan yaitu ikan tuna beku, tongkol beku, cakalang beku, tuna loin, pindang tongkol potong dan pindang tongkol bumbu kuning serta kontrol positif menggunakan ikan tuna yang disimpan pada suhu ruang selama 3 hari. Penelitian terdiri dari tahap pra-pengayaan bakteri pada media marine broth dan lactose broth, isolasi DNA sampel tanpa dan hasil pra-pengayaan, uji kemurnian dan konsentrasi isolat serta amplifikasi gen target hdc, tdc, ldc menggunakan multiplex PCR. Hasil yang diperoleh yaitu kualitas isolat DNA bakteri pada umumnya sudah murni, dengan konsentrasi isolat 15,75-157,84 ng/µL. Teknik multiplex PCR berhasil mendeteksi gen hdc, tdc dan ldc pada ikan scombridae. Kondisi optimum amplifikasi PCR yaitu annealing pada suhu 50°C selama 90 detik. Gen yang terdeteksi pada sampel tanpa pra-pengayaan yaitu tdc, sedangkan ldc dan hdc ditemukan pada sampel hasil pra-pengayaan media lactose broth dan marine broth. Bakteri pembentuk amina biogenik teridentifikasi sebagai Enterococcus fecalis, M. morganii, E. aerogenes, Citrobacter sp., Hafnia paralvei dan Obesumbacterium proteus.
Penapisan Senyawa Bioaktif pada Siput Laut Gonggong (Laevistrombus turturella) Asal Bintan : Bioactive Compound Screening of Gonggong Snail (Laevistrombus turturella) Lily Viruly; Nuri Andarwulan; Maggy T. Suhartono; Mala Nurilmala
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 23 No 2 (2020): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 23(2)
Publisher : Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v23i2.32041

Abstract

Siput laut gonggong asal Bintan merupakan salah satu gastropoda laut yang belum dimanfaatkan secara optimal. Siput ini merupakan makanan laut khas Bintan dan harganya sangat mahal. Secara empiris, siput ini dipercaya dapat meningkatkan stamina dan vitalitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan penapisan senyawa bioaktif pada siput laut gonggong asal Bintan yaitu aktivitas antioksidan dan aktivitas antimikroba. Aktivitas antioksidan dianalisis menggunakan metode DPPH dan aktivitas antimikroba dianalisis menggunakan metode difusi sumur. Aktivitas antioksidan ekstrak gonggong bercangkang tipis dengan IC50 1.433,08±0,01 ppm lebih tinggi daripada gonggong bercangkang tebal dengan IC50= 2.051,55±0,10 ppm. Aktivitas antimikroba pada ekstrak gonggong lebih baik pada bakteri Gram positif daripada bakteri Gram negatif. Ekstrak gonggong rebus bercangkang tebal memiliki aktivitas antimikroba yang paling tinggi dengan nilai rata-rata diameter daya hambat (DDH) yaitu 25,53±0,12 mm.
PENENTUAN UMUR SIMPAN FISH SNACK (PRODUK EKSTRUSI) MENGGUNAKAN METODE AKSELERASI DENGAN PENDEKATAN KADAR AIR KRITIS DAN METODE KONVENSIONAL AGOES M. JACOEB; MALA NURILMALA; NICOLAS HUTASOIT
Akuatik: Jurnal Sumberdaya Perairan Vol 4 No 1 (2010): AKUATIK : Jurnal Sumberdaya Perairan
Publisher : Department of Aquatic Resources Management, Faculty of Agriculture, Fisheries, and Biology, University of Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.511 KB)

Abstract

Fish represent one of protein source. Patin ( Pangasius Sp) is representing one of prospect commodity because it has been cultured better. Fish snack (product extrusion) is food which it enhanced with fish to increase its nutrition. Water rate become critical point and determine characteristic of snack during production and depository. Assessment of age keep fish snack was done by acceleration method pursuant to rate of critical water with sorption curve approach. This research aim to evaluate age keep fish snack with critical water rate approach that is isothermal sorption approach curve and compare it with age keep determined by manual calculation. measure This research is divided become 2 phase; especial research and antecedent research. Antecedent research was conducted in a few phase which are making of fish snack, measuring of rout snack parameter through consumer survey, and determinating of characteristic early product using proximate analysis and cracking test. Especial research are conventional method for rate proximate analyze, TPC, TBA, cracking, and organoleptic every week during depository temperature 30 0C. Calculating of critical water rate, balance water rate, model and isothermal sorption curve, MRD value, slope, package permeability, weight and wide package for calculation of age keep Labuza at acceleration method using critical water rate approach. Based on this research; equation model chosen is model Caurie. Critical water rate both types of the product by hedonic; fish snack without flavor is 0,125 g H2O/G solid and fish snack with flavor is 0,078 g H2O/G solid. Based on critical water rate, both types of the product; fish snack without flavor is 0,124 g H2O/G solid and fish snack with flavor is 0,077 g H2O/G solid. Cracking value that obtained on hedonic test 1164,74 gf for snack TF and 874,54 gf for snack DF. Based on rating test, value of cracking is 1164,04 gf for snack TF and 861,38 gf for snack DF. Value of aw for snack TF is 0,15 and 0,16 for snack DF. Age keep fish snack through isothermal sorption curve approach is 2,9-4,3 month for snack TF and 0,4-0,9 month for snack DF by rating test and also hedonic test on RH depository condition about 85 %. At conventional depository method, fish snack have shown of quality retreating of depository for four weeks, but still be consumed. Isothermal sorption curve approach is representing more precise method in determination of age keep fish snack though has not perfect sigmoid curve, according to Labuza statement. Influenced factors of age keep in general are early water rate, critical water rate, balancing water rate, RH, and packaging. Based on this research can be proved that that isothermal sorption curve approach has advantages; easy to be done, effective, efficient, and cheaper than conventional method in determination of age keep fish snack (product extrusion)