Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Peristiwa Penyaliban Yesus Ditinjau dari Perpektif Sejarah dan Teologi Yohanes Daniel Lindung Adiatma
IMMANUEL: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 3, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v3i1.104

Abstract

Peristiwa penyaliban Yesus Kristus telah menimbulkan kontroversi bagi beberapa kalangan. Bagi orang Kristen, peristiwa tersebut menandai perubahan besar dalam kehidupan manusia dalam memperoleh kehidupan kekal. Bagi sejarahwan non keagamaan, peristiwa tersebut merupakan peristiwa biasa yang tidak memiliki makna apapun dalam sejarah. Tetapi mereka mengakui bahwa peristiwa penyaliban Yesus dianggap sebagai peristiwa besar bagi umat manusia. KeteladanNya memberikan pengaruh bagi umat manusia agar menjadi manusia yang beradap. Selain itu, ada beberapa kalangan yang tidak meyakini peristiwa penyaliban Yesus sebagai peristiwa yang faktual dan dapat dipercayai kebenarannya. Asumsinya, Yesus dilepaskan dari hukuman salib dan pergi ke daerah lainnya untuk memberitakan injil. Meskipun pendapat terakhir tersebut tidak didukung dengan data-data yang valid dan memperoleh pertentangan dari sejarahwan dan teolog Kristen, namun pendapat tersebut masih diyakini oleh beberapa kelompok orang. Penelitian ini berusaha untuk menilai fakta sejarah tentang penyaliban Yesus Kristus dari perpektif sejarah dan teologi. Penulis akan memaparkan data-data sejarah dari sejarahwan terkemuka dan analisis sastra Injil Yohanes 11:1-12:36 untuk menemukan faktualitas sejarah penyaliban Yesus dan makna teologis di balik peristiwa tersebut. Akhirnya, pembaca dapat meyakini faktualitas dan historitas penyaliban Yesus yang dimaknai sebagai kemuliaan bagi Anak Allah dan berdampak pada kehidupan orang percaya.
Konstruksi Teologi Bagi Gereja dan Israel Dalam Roma 11:25-27 Daniel Lindung Adiatma
Predica Verbum: Jurnal Teologi dan Misi Vol 1 No 2 (2021): Jurnal Predica Verbum Vol. 1 No. 2 (December) 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia (STTII) Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.744 KB) | DOI: 10.51591/predicaverbum.v1i2.21

Abstract

Romans 11:25-27 is part of the New Testament which is quite difficult to interpret. Many debates have arisen from biblical scholars in interpreting this passage. Theological pre-assumptions can divert the interpretation of the text. The systematic theological approach can lead the interpreter's understanding not intended by the author of the book. Biblical theology must be produced through an interpretive process that pays attention to the elements of biblical texts. In interpreting Romans 11:25-27, an interpreter needs to pay attention to textual, contextual, intertextual and theological elements. Thus Romans 11:25-27 is not interpreted in the lens of systematic theology (soteriology, ecclesiology and eschatology), but pays attention to the text and the final format of the book. Thus, there is no need to continue the debate on predestination and the nature of the church in relation to Israel in both a pastoral and academic context. Understanding Romans 11:25-27 makes believers active in preaching the gospel to implement God's great plan for the church and Israel. Ultimately, God is glorified by the two communities that God has chosen.
Makna Teologis Kata Perhentian dalam Ibrani 4:1-14 (Analisis Tekstual, Stuktural, Kontekstual dan Intertekstual) Daniel Lindung Adiatma; Saul Arlos Gurich
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 2, No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.258 KB) | DOI: 10.46817/huperetes.v2i2.60

Abstract

There is a tendency for many commentator of the New Testament to interpret the text with a topical approach. This approach is relevant for research in the field of Christian theology. The problem is, the topical approach has a tendency to ignore the unity of the elements of the book. Therefore, we need a model of topical interpretation that is perfected with the unity of the theology of the book. The topic of the theological meaning of the word "rest" has attracted the attention of interpreters recently. These topics are the small sections that make up the theology of the book of Hebrews as a whole. This article presents three analyzes (textual, contextual and intertextual) as an approach to finding the theological meaning of the word "rest" in Hebrews 4:1-14. The author considers the book of Hebrews as the final form to find the meaning of the word "rest" in the theological context of the book of Hebrews. The author tries to synchronize the three approaches in finding the progressive meaning of the word "cessation" in both the Old Testament and the New Testament. The results of research through these three approaches have shown an increase in the meaning of the word "rest" from the context of the Old and New Testaments. Finally, this article can support the theory of progressive revelation that dispensational evangelicals have long believed.Ada kecenderungan penafsir kitab Perjanjian Baru menafsirkan teks dengan pendekatan topikal. Pendekatan ini relevan bagi penelitian pada bidang teologi Kristen. Masalahnya, pendekatan topikal memiliki kecenderungan mengabaikan kesatuan unsur-unsur kitab. Oleh karena itu, diperlukan suatu model penafsiran topikal yang disempurnakan dengan kesatuan teologi kitab. Topik tentang makna teologi kata “perhentian” menarik perhatian para penafsir pada akhir-akhir ini. Topik tersebut merupakan bagian kecil yang membangun teologi kitab Ibrani secara keseluruhan. Artikel ini memaparkan tiga analisa (tekstual, kontekstual dan intertekstual) sebagai pendekatan untuk menemukan makna teologi kata “Perhentian” dalam kitab Ibrani 4:1-14. Penulis mempertimbangkan kitab Ibrani sebagai bentuk akhir untuk menemukan makna kata “perhentian” dalam konteks teologi kitab Ibrani. Penulis berusaha melakukan sinkronisasi tiga pendekatan tersebut dalam menemukan progresifitas makna kata “Perhentian” baik dalam kitab Perjanjian Lama maupun kitab Perjanjian Baru. Hasil penelitian melalui tiga pendekatan tersebut telah menampilkan adanya peningkatan makna kata “Perhentian” dari konteks Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Akhirnya, artikel ini dapat mendukung teori pewahyuan progresif yang selama ini diyakini oleh kaum injili dispensasi.
AN EXAMINING OF JEPHTHAH’S VOW ACCORDING NARRATIVE RESEARCH Daniel Lindung Adiatma; Sutrisno Sutrisno
MAHABBAH: Journal of Religion and Education Vol 2, No 1 (2021): MAHABBAH: Journal of Religion and Education , Vol.2, No.1 (January 2021)
Publisher : Scriptura Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47135/mahabbah.v2i1.21

Abstract

The book of Judges is great historiography of the Old Testament. This book is composed of many rhetorical devices in the form of narrative. Scholar, pastor, professor etc pay attention to elaborate theological issue of this book. Some of academic journal elaborate about ethical issue about Jephthah’s vow. Common interpretation used topical approach to examine ethical issue. The main problem to interpret Jephthah vow is that many interpreters did not used narrative approach, so that they have lost the writer emphasis.  This article aims to examine Jephthah’s vow according narrative approaches. Some of interpretation book of the Old Testament, especially commentary on Judges 11:29-40 forget narrative approach as literary that writer used. Literary approach of the Judges 11:29-40 presents the properly approach to produce properly theological interpretation. This article elaborating each plot of Judges 11:29-40 to find the motive of narrator. The interpretation is according the structure of narrative text produce the precise and clear interpretation. The writer striving to consistent with an interpretation rule in examine each part of the passage. Therefore, this article is an academic writing that gives rich insights.
Makna Penggunaan Gaya Bahasa Ironi dalam Narasi Hakim-Hakim 4:1-24 Giyarto Giyarto; Daniel Lindung Adiatma
KAPATA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 1, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Bethel Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.346 KB) | DOI: 10.55798/kapata.v1i2.13

Abstract

The book of judges is an important historical theological book in Old Testament Canon. This book uses narrative literature as common narrative books in Old Testament. Judges 4:1-24 is part of narrative book of Judges. Some interpretation books do not pay attention to literary approach. Especially on Judges 4:1-24 some interpretation only concern to Deborah dan Barak and their success. Irony is one of the language styles used in describing a narrative. This article aims to examine the meaning of the use of irony in the narrative of Judges 4: 1-24. Through narrative literary research and the use of irony in language, the interpreters discover the theological meanings that contained in the narrative of Israel's deliverance of the oppression. Abstrak Kitab Hakim-Hakim merupakan kitab sejarah teologis yang penting dalam kanon Perjanjian Lama yang memakai sastra narasi. Tidak banyak buku tafsir yang memeriksa penggunakan unsur sastra dalam menafsirkan kitab Hakim-Hakim 4:1-24. Ironi adalah salah satu gaya bahasa yang dipakai dalam melukiskan narasi. Artikel ini bertujuan meneliti makna penggunaan gaya bahasa ironi dalam narasi Hakim-Hakim 4:1-24. Melalui penelitian sastra narasi dan penggunaan gaya bahasa ironi, penafsir menemukan kekayaan makna teologis yang terkandung dalam narasi pembebasan Israel dari penindasan raja Kanaan. 
Ciri Khas Pengajaran Yesus dengan Metode Perumpamaan Berdasarkan Catatan Injil Sinoptik Daniel Lindung Adiatma
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 3, No 2 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (716.158 KB) | DOI: 10.46817/huperetes.v3i2.115

Abstract

Para penulis Injil mengonfirmasi materi perumpamaan dan menyusunnya dalam sebuah historiografi. Para penulis telah memiliki motif khusus dalam memilih materi perumpamaan untuk mendukung tema utama yang mereka tetapkan dalam historigrafinya. Kecenderungan yang dilakukan oleh penafsir adalah memisahkan materi perumpamaan dari kesatuan materi. Hal ini berpotensi menimbulkan ketidakpaduan ajaran dari perumpamaan. Penelitian yang mengabaikan aspek bentuk akhir kitab menyulitkan penafsir menemukan nilai teologis yang ditetapkan. Meskipun telah muncul tafsir alegoris yang berkembang sejak abad permulaan, namun model itu tidak cukup relevan digunakan dalam konteks hermeneutik yang komprehensif. Penelitian ini dilakukan melalui pengamatan tiga aspek penting. Pertama, analisis motif penulis. Kedua, analisis pendengar mula-mula. Ketiga, analisis terhadap respons pembaca yang diharapkan. Dengan demikian, penafsir dapat menemukan makna teologis perumpamaan Yesus yang alkitabiah serta mendorong pembaca menentukan sikap yang sesuai dengan harapan penulis kitab. Para penulis Injil memanfaatkan perumpamaan untuk meneguhkan makna teologis dalam kitabnya.The Gospel writers confirmed the parable material and arranged it in historiography. The writers have a special motive in choosing parable material to support the main theme they set in their historiography. The tendency of the interpreter is to separate the material of the parable from the unity of the material. This has the potential to cause dissonance in the teachings of the parable. Research that ignores aspects of the final form of the book makes it difficult for the interpreter to find the theological value assigned. Although there have been allegorical interpretations that have developed since the early centuries, the model is not relevant enough to be used in a comprehensive hermeneutical context. This research was conducted by observing three important aspects. First, an analysis of the author's motives. Second, analyze the initial audience. Third, analysis of the expected response of readers. Thus, the interpreter can find the theological meaning of the biblical parable of Jesus and encourage the reader to take an attitude that is by the expectations of the author of the book. The Gospel writers used parables to confirm the theological meaning of their books.