Handoko Sugiharto
Faculty of Civil Engineering and Planning, Petra Christian University

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

PENGGUNAAN FLY ASH DAN VISCOCRETE PADA SELF COMPACTING CONCRETE Handoko Sugiharto; Gideon Hadi Kusuma
Civil Engineering Dimension Vol. 3 No. 1 (2001): MARCH 2001
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.247 KB) | DOI: 10.9744/ced.3.1.pp. 30-35

Abstract

Self Compacting Concrete (SCC) gives a new solution in concrete technology, since SCC does not need vibrator for compacting. SCC has been used and developed abroad, however in Indonesia SCC is not used because there is no research about SCC yet. In this preliminary research, trial mix is performed to understand the characteristics and to calculate the materials composition to be used in SCC. From this trial mix, some variables are fixed and others are varied. This variable is examined further in the next trial mix. The workability is examined using slump cone method and flowability using L-shaped box. From this test, it is found out that to get the condition of self compactibility, viscocrete must be used. The binder (cement-fly ash) composition, is examined using 10:0, 8:2, 7:3, 6:4 cement to fly ash ratio, until the maximum of flowability and workability, which is 5:5. Viscocrete dose 1.5 % and 2 % did not show a significant difference for all binder composition. From the workability, flowability and strength point of view, binder composition 6:4 and viscocrete dose 1.5 % gives the optimal condition. Abstract in Bahasa Indonesia : Self Compacting Concrete (SCC) memberikan solusi baru dalam dunia teknologi beton karena tidak memerlukan vibrator untuk pemadatannya. SCC telah digunakan dan dikembangkan di luar negeri, tetapi di Indonesia belum begitu dikenal, dikarenakan belum adanya penelitian tentang SCC di Indonesia. Pada penelitian awal ini dilakukan trial mix untuk mengetahui karakteristik dan memperkirakan komposisi bahan yang dibutuhkan untuk SCC. Kemudian dari trial mix tersebut ditetapkan variabel-variabel berubah dan variabel-variabel tetap yang akan diuji pada trial mix selanjutnya. Pengujian workability dilakukan dengan alat slump cone sedangkan pengujian flowability dilakukan dengan alat L-shaped box. Dari hasil pengujian yang telah dilakukan, ternyata harus digunakan viscocrete untuk mendapatkan kondisi self compactibility. Untuk komposisi semen dengan bahan pengisi fly ash dilakukan dengan komposisi binder (semen : fly ash) 10:0, 8:2, 7:3, 6:4 dan sampai batas flowability dan workability yang dapat dikerjakan, yaitu 5:5. Penggunaan dosis viscocrete 1.5 % dan 2 % tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan pada tiap komposisi binder. Dari segi workability, flowability dan kuat tekan beton, komposisi binder 6:4 dan dosis viscocrete 1.5 % merupakan kondisi yang optimal.
REDISTRIBUSI MOMEN PADA BALOK KOMPOSIT MENERUS DENGAN MEMPERHATIKAN PENGARUH MOMEN INERSIA NEGATIF Handoko Sugiharto; Hasan Santoso
Civil Engineering Dimension Vol. 3 No. 2 (2001): SEPTEMBER 2001
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.127 KB) | DOI: 10.9744/ced.3.2.pp. 80-83

Abstract

Elastic analysis of continuos composite beams, assumes constant second moment of area constant over the length of the beam, giving hogging moment at internal supports higher than sagging moment at midspan. This certainly is not favorable because the contribution of concrete slab should be ignored in calculating moment resistance at the internal support. Where elastic analysis is used, alternative economic design is achieved with redistribution of moments from the internal support to the midspan. This paper considering the influence of negative moment inertia to moment redistribution shows that moment redistribution is influenced by the ratio of ultimate positive bending moment to positive bending moment capacity (Mu+/Mkap+). The smaller the ratio (Mu+/Mkap+) the bigger the allowed moment redistribution. Some graphs to calculate the amount of moment redistribution that can be allowed are also presented. Abstract in Bahasa Indonesia : Pada perencanaan balok komposit menerus secara elastis momen enersia sepanjang balok dianggap sama, sehingga momen negatif yang terjadi di daerah tumpuan lebih besar daripada momen positif yang terjadi di lapangan. Hal ini tidak menguntungkan karena kontribusi pelat beton pada daerah momen negatif tidak dapat diperhitungan. Salah satu alternatif untuk memperoleh desain yang lebih menguntungkan dilakukan dengan redistribusi momen dari daerah tumpuan ke daerah lapangan. Makalah ini dengan memperhatikan pengaruh momen inersia negatif terhadap redistribusi momen, menunjukkan bahwa besar redistribusi momen yang dapat dilakukan dipengaruhi oleh rasio momen ultimate positif yang terjadi sebelum redistribusi (Mu+) terhadap kapasitas momen lentur positif penampang (Mkap+). Makin kecil rasio (Mu+/Mkap+) makin besar redistribusi yang dapat dilakukan. Tulisan ini juga menyajikan alat bantu berupa grafik untuk menentukan besarnya redistribusi momen.
RANCANG BANGUN ALAT UJI PERMEABILITAS BETON Handoko Sugiharto; Allan Surya; Koeshardiono Wibowo; Wong Foek Tjong
Civil Engineering Dimension Vol. 6 No. 2 (2004): SEPTEMBER 2004
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.111 KB) | DOI: 10.9744/ced.6.2.pp. 94-100

Abstract

The permeability of concrete to water is an important factor that have an effect to durability of concrete structures having direct contact with water, such as port structures, bridges, and basements. In order to identify the permeability nature of concrete, permeability testing is needed. This paper presents a concrete permeability test equipment that was designed and built by the authors. The equipment can be used to conduct permeability tests by flow test as well as by penetration test method. The trial tests of the equipment by flow test method were conducted to 12 concrete speciments with water-cement ratio 0.4 and 0.5 and with wet and dry curing method. The averages of coefficients of permeability obtained differ in the range of 5%-26% from that obtained by using permeability test equipment made by Marui. In addition, the trial tests by penetration method were also conducted to six dry-cured concrete speciments with water-cement ratio 0.4 and 0.5. The averages of coefficients of permeability obtained from the penetration test differs from the flow test 23% and 90% for concrete of water –cement ratio 0.4 and 0.5, respectively. Abstract in Bahasa Indonesia : Permeabilitas beton terhadap air merupakan faktor penting yang mempengaruhi durabilitas struktur beton yang berhubungan langsung dengan air, seperti pelabuhan, jembatan, dan basement. Untuk mengetahui karakteristik permeabilitas beton diperlukan uji permeabilitas. Makalah ini menyajikan suatu alat uji permeabilitas beton terhadap air yang dirancang dan dibuat oleh penulis. Dengan alat ini uji permeabilitas beton dapat dilakukan baik dengan cara aliran maupun cara penetrasi. Ujicoba penggunaan alat ini dilakukan dengan cara uji aliran terhadap 12 sampel beton dengan variasi faktor air semen 0.4 dan 0.5 serta variasi curing kering dan basah. Rata-rata koefisien permeabilitas yang diperoleh berbeda sekitar 5%-26% dari yang didapatkan dengan alat uji permeabilitas buatan Marui. Dilakukan pula ujicoba dengan cara penetrasi terhadap enam sampel beton curing kering dengan variasi faktor air semen 0.4 dan 0.5. Rata-rata koefisien permeabilitas yang dari uji penetrasi berbeda dari yang dihasilkan dengan uji aliran masing-masing 23% dan 90% untuk beton dengan faktor air semen 0.4 dan 0.5.
PENELITIAN MENGENAI PENINGKATAN KEKUATAN AWAL BETON PADA SELF COMPACTING CONCRETE Handoko Sugiharto; Tedy Gunawan; Yusuf Muntu
Civil Engineering Dimension Vol. 8 No. 2 (2006): SEPTEMBER 2006
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.696 KB) | DOI: 10.9744/ced.8.2.pp. 87-92

Abstract

High Early Strength Self Compacting Concrete, a new phenomenon in the world of concrete technology, offers advantages such as high workability, high durability and high early strength characteristic that can well be applied especially in the pre-cast concrete industry. In this study the properties of High Early Strength Self Compacting Concrete is achieved by the use of admixture (hyper plasticizer) Glenium Ace-80 and Silica Fume Rheomac SF 100 as filler. The water-binder ratio is kept in the low level. The workability conditions are tested using workability test like Slump Cone, V-Funnel, and L-Shaped Box. To test the High Early Strength characteristic compression tests are carried out on 1, 3, 7, 14 and 28 days of concrete age. The tests were focused on the age 1 and 28 days. The test result shows that the use of 2.5 % Glenium Ace-80 and 2 % Silica Fume can fulfill both workability and high early strength requirement of Self Compacting Concrete High Early Strength by keeping the value of water-binder ratio in the low level. Abstract in Bahasa Indonesia : High Early Strength Self Compacting Concrete (HESSCC), sebuah fenomena baru dalam dunia teknologi beton, memiliki keunggulan workability, durabilitas dan kekuatan awal yang tinggi, sehingga dapat diaplikasikan dengan baik khususnya pada dunia usaha pre-cast concrete. Dalam penelitian ini digunakan admixture (hyperplasticizer) Glenium Ace–80 dan filler Silica Fume Rheomac SF 100 dengan water-binder ratio rendah. Pengujian workability dilakukan dengan menggunakan alat Slump Cone, V-Funnel dan L-Shaped Box, sedangkan tes kuat tekan beton dilakukan pada umur 1, 3, 7, 14, 28 hari. Tes kuat tekan ini diutamakan untuk umur 1 hari untuk kuat tekan awal dan 28 hari untuk kuat tekan akhir dari beton. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan Silica Fume sebesar 2 % dan Glenium Ace-80 sebesar 2.5 % sudah mampu mencapai kriteria self compactible sekaligus kuat tekan awal (High Early Strength) yang baik pula, karena nilai water-binder ratio tetap dijaga pada nilai yang rendah
PENGUKURAN KADAR AIR AGREGAT DAN BETON SEGAR DENGAN MENGGUNAKAN MICROWAVE OVEN Gideon Hadi Kusuma; Handoko Sugiharto
Civil Engineering Dimension Vol. 2 No. 1 (2000): MARCH 2000
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.971 KB) | DOI: 10.9744/ced.2.1.pp. 22-36

Abstract

The conventional method of water content measurement of aggregate and fresh concrete need along time to perform. As an alternative the use of microwave oven is explored in this research. The microwave oven used has 900 watt power and equiped with a turn table. Nine (9) type of aggregate consist of five (5) type of fine aggregate and four (4) type of coarse aggregate with varions water absorbsion value, are unvestigated. The rater contents measured is then compared with the once obtained using conventional oven. Four (4) type of mix using aggegate with varions water absorbsion values. Water content used for the fresh concrete mix is 0.3, 0.5 and 0.7. The test results show that this method can beused to measure water content of fine and coarse aggregate regardless of the water absorbsion values of the aggregates. For fine aggregate nine (9) minutes drying time is needed to get 100% accuracy while for coarse aggregate 11 minutes with 96% accuracy. For fresh concrete using aggregate with less than 5% absorbsion value 18 minutes is neede to get 98% accuracy, while for aggregate with 40% absorbsion value 35 minutes is needed to get 80% accuracy. Abstract in Bahasa Indonesia : Pengukuran kadar air pada agregat dan beton segar dengan metode konvensional memerlukan waktu yang cukup lama, maka dilakukan penelitian penggunaan microwave oven sebagai metode alternatifnya. Microwave oven yang digunakan mempunyai daya 900 watt dan dilengkapi dengan piring putar. Dilakukan penelitian terhadap 9 tipe agregat (5 jenis agregat halus dan 4 jenis agregat kasar) dengan berbagai nilai absorpsi. Sedangkan untuk beton segar dibuat 4 macam campuran dengan berbagai nilai absorpsi agregat. Faktor air-semen yang digunakan adalah 0.3, 0.5 dan 0.7. Hasil pengukuran kadar airnya dengan microwave oven dibandingkan terhadap oven standard. Hasil tes yang diperoleh menunjukkan bahwa metode ini dapat digunakan untuk mengukur kadar air agregat halus dan kasar dengan tidak tergantung pada nilai absorpsinya. Untuk agregat halus dibutuhkan waktu pengeringan selama 9 menit dengan ketelitian 100%, untuk agregat kasar selama 11 menit dengan ketelitian 96%. Untuk beton segar dengan agregat yang nilai absorpsinya di bawah 5% selama 18 menit dengan ketelitian 98%. Untuk beton segar dengan agregat yang nilai absorpsinya 40% dibutuhkan waktu 35 menit dan hasil yang dicapai hanya sanggup mengukur kadar air total, rata-rata sebesar 80% dari total kandungan air dari beton segar yang diukur.
POTENSI PEMAKAIAN KERIKIL PATERONGAN TORJUN DAN OMBEN DI PULAU MADURA UNTUK BETON STRUKTUR Julistiono Handojo; Handoko Sugiharto
Civil Engineering Dimension Vol. 3 No. 2 (2001): SEPTEMBER 2001
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.351 KB) | DOI: 10.9744/ced.3.2.pp. 51-58

Abstract

The use of structural concrete in Madura increases with the development of the island, however coarse and fine aggregates which are used, mostly come from Jawa. This research explores the possibility of using the coarse aggregates from Madura taken from Paterongan, Torjun, and Omben. Although it is shown that in general the coarse aggregates are physically the same with aggregates from Mojokerto or Pasuruan and pass SNI, ACI, ASTM, and BS, only aggregate from Torjun pass the flakiness requirements. The fineness modulus of the aggregates do not pass SNI but pass the BS requirement. Using the aggregates in 225kg/cm2 concrete strength mix design fail to reach the target strength. Aggregates from Paterongan and Omben are only recommended for lean concrete, but there is a possibility to use aggregates from Torjun for structural concrete, with betterment in grading. Abstract in Bahasa Indonesia : Pemakaian beton di pulau Madura meningkat seiring dengan perkembangan pulau Madura tetapi agregat kasar dan halus yang digunakan untuk pembuatan beton masih banyak didatangkan dari pulau Jawa. Untuk melihat kemungkinan penggunaan krikil Madura sebagai agregat kasar beton, telah dilakukan penelitian kekuatan terhadap kerikil Madura yang berasal dari Paterongan, Torjun, dan Omben. Meskipun secara umum dapat dikatakan sifat-sifat fisik kerikil tersebut mendekati sama dengan kerikil dari Mojokerto atau Pasuruan dan memenuhi syarat SNI, ACI, ASTM maupun BS, hanya krikil dari Torjun yang memenuhi syarat kepipihan. Modulus kehalusan kerikil tersebut juga tidak memenuhi syarat SNI walaupun masih memenuhi syarat BS. Penggunaan kerikil Paterongan, Torjun, dan Omben untuk mix disain 225 kg/cm2 ternyata di bawah target yang diharapkan, sehingga kerikil Paterongan dan Omben direkomendasi hanya untuk beton rabat, sedangkan kerikil dari Torjun kemungkinan masih bisa digunakan untuk beton struktur dengan perbaikan gradasi.
ROLLER COMPACTED CONCRETE RCC UNTUK BANGUNAN BENDUNGAN Ruslan Djajadi; Deddy Hardianto; Henry James; Handoko Sugiharto
Civil Engineering Dimension Vol. 5 No. 2 (2003): SEPTEMBER 2003
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.956 KB) | DOI: 10.9744/ced.5.2.pp. 82-86

Abstract

The using of Roller Compacted Concrete (RCC) is one of many alternatives that can be used to decrease dam construction cost. Many Roller Compacted Concrete (RCC) composition has been developed to achieve maximum compressive strength. Due to the economical consideration and the possibility of the execution, drop hammer system has been used for this research. Compression test is done after the age of the sample reaches seven, 28, 60, and 90 days. The result shows that 60/40 composition of gravel/sand has higher average compressive strength on all age of sample. The highest compressive strength the achieve is 17.78 MPa for 90 days sample. Abstract in Bahasa Indonesia : Penggunaan Roller Compacted Concrete (RCC) merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk mengurangi biaya pembuatan konstruksi bendungan. Berbagai komposisi benda uji Roller Compacted Concrete (RCC) dibuat untuk mengetahui kuat tekan yang paling maksimal. Ditinjau dari segi ekonomis dan kemudahan pelaksanaan, maka digunakan sistem alat pemadat drop hammer. Dilakukan tes kuat tekan setelah umur benda uji masing-masing mencapai tujuh, 28, 60, dan 90 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi kerikil/pasir sebesar 60/40 selalu memiliki kuat tekan rata-rata yang lebih tinggi pada semua umur benda uji. Kuat tekan terbesar pada benda uji umur 90 hari mencapai 17.78 MPa.
SYSTEMATIC FORMULATION OF HIGH PERFORMANCE CONCRETE PAVEMENT Salil Kumar Roy; Handoko Sugiharto; Anton Kristando; Salim Himawan S
Civil Engineering Dimension Vol. 7 No. 2 (2005): SEPTEMBER 2005
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.956 KB) | DOI: 10.9744/ced.7.2.pp. 57-60

Abstract

Following a 25-1 fractional factorial design concept, an experiment was planned ; sixteen experimental mixes were calculated from a basic mix (cement : sand : aggregates : fly ash = 1 : 1.3 : 2.6 : 0.8 and W/C ratio of 0.37) and determined changes (cement = 0.1 ; sand = 0.1 ; aggregates = 0.2 ; fly ash = 0.04 and changing W/C ratio by 0.01) using Taguchi’s orthogonal array. Samples were made from each data point. Compressive strength and water absorption were determined after each of two curing conditions (a) 28 days in the water, (b) 28 days in the water and 32 days in the air after that. Mix no 12 [Cement : Sand : Gravel : Fly Ash = 0.9 : 1.2 : 2.8 : 0.76] was found to have highest compressive strength and lowest water absorption.