p-Index From 2018 - 2023
0.562
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Telematika
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Penerapan Metode Cluster Pada Algoritma Penentuan Moda dan Rute untuk Meminimasi Biaya Transportasi Sonna Kristina; Wasingten Wasingten
Jurnal Telematika Vol 13, No 2 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transportation cost is a cost that used for transporting product to consumer. One of the ways to reduce transportation cost is to determine the route and minimizing the vehicle usage. To make it easier for driver when deliver the product to customer, the customers are divided into several areas. A general method to assign customer into an area is called clustering method. In the previous research, area of the customer was divided with rayon system. In this research, clustering method will be applied to give a solution to replace rayon system. This research focus on agglomerative hierarchical clustering with clustering nearest neighbor and furthest neighbor method. Clustering will be performed by using a program called IBM SPSS Statistics 22 to generate an amount of cluster based on clustering method used in this research. The previous research that use rayon system with eight cluster, has a total transportation cost at Rp 661.227. Whilst the result in this research using clustering nearest neighbor will generate seven cluster with total transportation cost at Rp 594.635 (total cost has decreased by 10,07%). While using clustering furthest neighbor will generate two cluster with total transportation cost at Rp 571.722 (total cost has decreased by 13,54%). The result of this research show that furthest neighbor method is the best method compare to nearest neighbor method and rayon system.Biaya transportasi merupakan biaya yang digunakan untuk mengirimkan produk kepada konsumen. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan biaya transportasi adalah dengan penentuan rute dan minimasi moda transportasi yang digunakan. Untuk memudahkan penugasan dalam melakukan pengiriman kepada konsumen, maka konsumen dibagi menjadi beberapa daerah. Metode yang paling umum untuk digunakan untuk membagi daerah tersebut adalah metode clustering. Pada penelitian sebelumnya, pembagian daerah konsumen menggunakan sistem rayon. Pada penelitian ini, metode clustering akan diterapkan untuk memberikan solusi terhadap pembagian daerah menggantikan sistem rayon. Penelitian ini berfokus pada agglomerative hierarchical clustering, dengan metode clustering yang digunakan adalah nearest neighbor dan furthest neighbor. Clustering akan dilakukan dengan menggunakan program IBM SPSS Statistics 22 untuk memberikan jumlah cluster berdasarkan metode clustering yang digunakan. Penelitian sebelumnya dengan menggunakan sistem rayon berjumlah delapan cluster, hasil total biaya transportasi sebesar Rp 661.227. Hasil penelitian dengan menggunakan metode clustering nearest neighbor akan membentuk tujuh cluster, dengan total biaya transportasi Rp 594.635 atau penurunan sebesar 10,07%, sedangkan dengan menggunakan clustering furthest neighbor, akan terbentuk dua cluster dengan total biaya transportasi Rp 571.722 atau penurunan sebesar 13,54%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan metode clustering furthest neighbor memiliki hasil yang terbaik dibandingkan dengan metode clustering nearest neighbor dan sistem rayon.
Pengembangan Aplikasi Analisis Rantai Nilai Produk KainGray di Perusahaan Tekstil (Studi Kasus: PT XYZ) Sonna Kristina; Julia Gunawan
Jurnal Telematika Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The main objective of this study is to identify every primary and supporting activity of the value chain of gray cloth products in textile companies and to know the value addition of gray cloth within the company. The value chain mapping steps use the Porter value chain with some adjustments in several stages. The steps are primary and supporting activities identification, value chain mapping, added value calculation, SWOT analysis, key activity determination based on price sensitivity analysis, and key activity analysis based on SWOT analysis and price sensitivity analysis. The result of the study shows that the value chain of gray cloth products in PT XYZ is  running well because every activities, both primary and supporting, are interconnected, thus affecting the success of the company. The percentage of added value of gray cloth is relatively high which allows textile companies to continue growing and competing on a global scale. There are several internal and external factors that may become strengths and weaknesses, therefore in this study  those factors should be considered in order for the textile companies to be able to grow and compete. Key activities based on price sensitivity analysis is procurement activities because the most influence the price of polyester yarns. The result of key activity analysis based on SWOT analysis and sensitivity analysis stated that the price of polyester yarn  has the greatest price sensitivity and is influenced by procurement activity, procurement activity based on SWOT analysis is one of the activities that become the strength of  the value chain of gray cloth product. The results of this analysis will be applied in the application of information systems in textile companies. Therefore procurement activity such as the selection of raw material suppliers need to be considered based on price so that  textile companies can continue to grow and can compete globally..Tujuan utama dari penelitian ini adalah mengidentifikasi setiap aktivitas primer dan aktivitas pendukung rantai nilai produk kain gray di perusahaan tekstil serta mengetahui pertambahan nilai kain gray di dalam perusahaan. Langkah-langkah pemetaan rantai nilai menggunakan rantai nilai Porter dengan beberapa penyesuaian dalam beberapa tahapan. Langkah awal yang dilakukan adalah identifikasi aktivitas primer dan pendukung, pemetaan rantai nilai, perhitungan nilai tambah, analisis SWOT, penentuan aktivitas kunci berdasarkan analisis sensitivitas harga serta analisis aktivitas kunci berdasarkan SWOT dan analisis sensitivitas. Hasil penelitian didapati bahwa rantai nilai produk kain gray di PT XYZ berjalan dengan baik karena setiap aktivitas baik aktivitas primer dan aktivitas pendukung saling berhubungan sehingga mempengaruhi keberhasilan suatu perusahan. Persentase nilai tambah kain gray tergolong tinggi sebesar  55,71% sehingga perusahaan tekstil dapat terus tumbuh dan bersaing secara global.  Terdapat beberapa faktor internal dan eksternal yang menjadi kekuatan dan kelemahan sehingga perlu diperhatikan pada penelitian ini agar perusahaan tekstil dapat terus tumbuh dan bersaing. Aktivitas kunci berdasarkan analisis sensitivitas harga adalah aktivitas procurement karena paling mempengaruhi harga benang polyester. Hasil dari analisis aktivitas kunci berdasarkan SWOT dan analisis sensitivitas menyebutkan bahwa harga benang polyester memiliki sensitivitas harga yang paling besar dan dipengaruhi oleh aktivitas procurement, aktivitas procurement berdasarkan analisis SWOT merupakan salah satu aktivitas yang menjadi kekuatan rantai nilai produk kain gray. Hasil analisis ini akan diterapkan dalam aplikasi sistem informasi di perusahaan tekstil. Maka dari itu aktivitas procurement seperti pemilihan supplier bahan baku perlu diperhatikan berdasarkan harga agar perusahaan tekstil dapat terus tumbuh dan dapat bersaing secara global.
Perancangan Kriteria Evaluasi Kinerja Supplier dengan Menggunakan Metode Fuzzy-AHP di PT X Sonna Kristina; Vincensia Syola Irawan
Jurnal Telematika Vol 13, No 1 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT X is a textile industry and still has no comprehensive criteria in choosing supplier. Supplier selection process in PT X is dominated by price, and tends to be done with high subjectivity, which causes problems and losses for the company, such as delays in delivery, and the quality of products delivered by suppliers does not meet company’s expectation, etc. The purpose of this study is to identify criterias that can be used for evaluating supplier performance, so that supplier selection process can be done based on supplier performance evaluation and become objective. In order to create an objective supplier selection process (with reference to the performance of supplier), it is important to establish main criteria and subcriteria to assess suppliers’ performance and prioritize them based on the company's point of view. In this study, QCDFR framework consisting of quality, cost, delivery, flexibility, and responsiveness is used as the basic reference in determining the main criteria. Then, fuzzy-AHP is used to determine attributes’ weights. Based on the calculation using fuzzy-AHP, the most important attributes in evaluating supplier is quality (with highest priority weight, 0,231), followed by flexibility (0,207), delivery (0,204), responsiveness (0,185), and cost (with the lowest priority weight, 0,173).PT X merupakan sebuah perusahaan tekstil yang belum memakai kriteria yang komprehensif/lengkap dalam memilih supplier. Pemilihan supplier di PT X sangat didominasi oleh kriteria harga dan cenderung dilakukan dengan subjektivitas yang tinggi yang tak jarang menimbulkan masalah dan kerugian bagi perusahaan, seperti keterlambatan pengiriman, serta kualitas produk yang dikirim supplier tidak sesuai dengan yang diharapkan perusahaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kriteria-kriteria yang dapat dijadikan dasar untuk mengevaluasi kinerja supplier, sehingga pemilihan supplier dapat didasarkan atas hasil evaluasi kinerja tersebut dan menjadi objektif. Penentuan kriteria untuk pemilihan supplier dilakukan agar pemilihan supplier menjadi objektif dan mengacu pada performa kinerja supplier. Kerangka kriteria QCDFR yang terdiri dari quality, cost, delivery, flexibility, dan responsiveness digunakan sebagai acuan dasar dalam menentukan kriteria utama. Kemudian, dilakukan pembobotan terhadap kriteria-kriteria utama dan terhadap subkriteria dari kelima kriteria utama dengan menggunakan metode fuzzy-AHP. Melalui perhitungan dengan menggunakan metode fuzzy-AHP, diketahui bahwa urutan prioritas dari kriteria penilaian kinerja yang dianggap penting di perusahaan adalah kriteria quality, dengan bobot prioritas tertinggi, yaitu sebesar 0,231, dan diikuti dengan kriteria flexibility (0,207), delivery (0,204), responsiveness (0,185), serta kriteria cost dengan bobot prioritas terendah, yaitu sebesar 0,173.
Model Simulasi untuk Sistem Manufaktur Fleksibel Eka Kurnia Asih Pakpahan; Sonna Kristina; Ari Setiawan
Jurnal Telematika Vol 13, No 2 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper discussed the design of simulation model for a specific flexible manufacturing system (FMS) workstation. It consist of four CNC machines with identical processing capability, a stacker crane as material handling equipment, pallet stocker as material storage location and a computer centre as integrator of all workstation’s elements. Jobs to be processed are multi-stages which are divided by setup activity. A certain stage must be allocated on a single machine to avoid damage due to frequent material handling. Each stage consists of several operations and each operation requires a specific cutting tool. Thus, the capability of a particular machine to process a certain stage will depend on its cutting tools availability. When jobs-machine allocation has been created, it will guide the movement of material handling equipment to conduct material pickup and delivery. In this setting, the material handling equipment will perform as a shared resource, accommodating the movement of multiple jobs. By designing simulation model, this research is aimed to help production planner on determining three important decisions in timely fashion; the job-machine allocation, the number of cutting tools to be prepared on each machine’s tools magazine and the priority rule for guiding material handling equipment.Artikel ini membahas mengenai perancangan model simulasi untuk stasiun kerja di sebuah sistem manufaktur fleksibel (flexible manufacturing system/FMS). Stasiun kerja ini terdiri dari empat mesin CNC dengan kemampuan pemrosesan yang identik, sebuah alat pemindah material (stacker crane), lokasi penyimpanan material (pallet stocker) dan sebuah komputer yang mengintegrasikan semua komponen yang telah disebutkan sebelumnya. Pekerjaan yang dikerjakan di stasiun kerja ini bersifat multi-stage, setiap stage dipisahkan dengan kebutuhan setup. Sebuah stage pekerjaan harus dialokasikan ke satu mesin untuk menghindari kerusakan akibat pemindahan. Setiap stage pekerjaan terdiri dari beberapa operasi, dimana setiap operasi membutuhkan perkakas potong khusus. Untuk itu, mampu atau tidaknya sebuah mesin memproses sebuah stage pekerjaan ditentukan oleh ketersediaan perkakas potong yang dibutuhkan oleh rangkaian operasi dalam stage tertentu pada mesin tersebut. Saat alokasi pekerjaan ke mesin sudah dibuat, stacker crane akan melayani pemindahan material. Dalam hal ini, stacker crane melayani pemindahan bagi lebih dari satu pekerjaan sehingga membutuhkan aturan prioritas yang jelas. Melalui perancangan model simulasi, penelitian ini bertujuan untuk membantu perencana produksi dalam menentukan tiga keputusan penting secara cepat; pengalokasian pekerjaan ke mesin, penentuan jumlah perkakas potong yang harus disediakan di setiap mesin dan penentuan prioritas pemindahan material oleh stacker crane.