Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

MENAKAR EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN DI MADRASAH ALIYAH PASCA PANDEMI COVID 19 Zunaidah Zunaidah; Dwi Noviani; Hoiri Navis
Jurnal Ilmu Sosial, Pendidikan dan Humaniora (JISPENDIORA) Vol. 1 No. 3 (2022): Desember : Jurnal Ilmu Sosial, Pendidikan Dan Humaniora (JISPENDIORA)
Publisher : Badan Penerbit STIEPARI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56910/jispendiora.v1i3.335

Abstract

Penggunaan metode yang benar akan memberikan dampak besar dalam penyampaian tujuan pembelajaran di madrasah. Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan metode pembelajaran di madrasah, diantaranya tujuan, kemampuan siswa, kemampuan guru, situasi dan sarana. Penelitian ini untuk menganalisis efektifitas pembelajaran di Madrasah Aliyah Al-Ittifaqiah. Pengumpulan data menggunakan observasi, interview dan dokumentasi. Data primer diperoleh melalui observasi dan wawancara. Informan penelitian ini terdiri dari 20 orang yang terdiri dari kepala sekolah, guru, dan siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari beberapa metode pembelajaran yang digunakan di Madrasah Aliyah Al-Ittifaqiah yaitu pembelajaran luring, pembelajaran daring, pembelajaran berbasis proyek, dan pembelajaran berbasis masalah, hanya pembelajaran daring yang masih kurang efektif. Hal ini dikarenakan sebagian besar siswa bermukim di Pondok Pesantren dengan beberapa keterbatasannya.asional.
PROBLEMATIKA PENDIDIKAN ISLAM DI PESANTREN DAN MADRASAH DI ERA GLOBALISASI Lisdaleni Lisdaleni; Dwi Noviani; Paizaluddin Paizaluddin; Belly Harisandi
PUSTAKA: Jurnal Bahasa dan Pendidikan Vol. 2 No. 4 (2022): Oktober : Jurnal Bahasa dan Pendidikan
Publisher : BADAN PENERBIT STIEPARI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56910/pustaka.v2i4.359

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis problematika pendidikan Islam di madrasah dan Pesantren di era globalisasi. Yang dapat dilakukan madrasah dan pesantren untuk meningkatkan pendidikan Islam di era globalisasi adalah dengan mengidentifikasi problematika yang dihadapi pesantren dan madrasah serta memahami bagaimana mencari solusi pendidikan Islam untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kepustakaan. Adapun teknik pengumpulan data diperoleh melalui literatur yang terkait yaitu jurnal, buku, dokumen dan literatur online. Hasil penelitian ini menunjukkn bahwa pelaksanaan pendidikan Islam di pondok pesantren dan madrasah sudah terealisasi. Kedua institusi tersebut muncul dengan latar belakang kebutuhan yang berbeda satu sama lain dan juga memiliki karakteristik atau cara yang berbeda dalam penyelenggaraan pendidikan Islam. Pesantren lebih dominan dalam ilmu agama dan Madrasah lebih dominan dengan ilmu agama dan ilmu umum. Pendidikan Islam di pondok pesantren dan madrasah pada dasarnya memiliki permasalahan yang cukup urgensi dalam membenahi pendidikan Islamdi era globalisasi sekarang ini tetapi juga harus dilihat dari karakteristik masing-masing lembaga pendidikan.
MEMAHAMI AN-NAHARI WAL-LAILI DALAM ‘ULUMUL QUR’AN Sukriadi Sukriadi; Dwi Noviani; Nyimas Anisah Muhammad; Andre Bahrudin
Jurnal Riset Rumpun Agama dan Filsafat Vol. 2 No. 1 (2023): April : Jurnal Riset Rumpun Agama dan Filsafat
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurrafi.v2i1.999

Abstract

Al-Qur’an sebagai Firman Allah menjadi petunjuk bagi seluruh manusia. Dalam memahami petunjuk-petunjuk Al-Qur’an tersebut dengan benar maka diperlukan ‘Ulumul Qur’an, yaitu ilmu yang membahas atau mengkaji Al-Qur’an itu, yang di dalamnya memuat seluruh bahasan tentang Al-Quran mulai dari tafsir Al-Qur’an yang merupakan induk dari segala macam kajian mengenai Al-Qur’an sampai pada ilmu bacaan Al-Qur’an. Namun sangat disanyangkan karena sangat sedikit yang tertarik mengkaji ‘Ulumul Qur’an terutama dalam aspek An-nahari wal laili yang merupakan cabang dari ‘Ulumul Qur’an. Padahal memahami An-nahari wal laili ini akan menambah hazanah keilmuan dalam memahami Al-Qur’an secara sempurna. Sehingga dilakukan penelitian untuk memberikan pemahaman tentang pengertian An-nahawi wal-laili, pendapat ulama tentang An-nahawi wal-laili, metode untuk menentukan An-nahawi wal-laili serta menjelaskan contoh surat dan ayat-ayat An-nahawi wal-laili. Pada penelitian ini digunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif dengan instrumen studi pustaka dari beberapa buku, jurnal dan artikel ilmiah lainnya.
KEDUDUKAN DAN TUGAS GURU DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM Wardiah Wardiah; Dwi Noviani; Hilmin Hilmin; Abdallah Abdallah
Education : Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan Vol 2 No 3 (2022): November : Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi - Studi Ekonomi Modern

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1117.217 KB) | DOI: 10.51903/education.v2i3.280

Abstract

Guru memiliki peranan yang paling utama dalam berlangsungnya proses pembelajaran, Seorang guru mempunyai tugas akan mengubah tingkah laku dan meningkatkan kualitas peserta didik menjadi pribadi yang lebih baik, membimbing, mendidik, dan mengarahkan peserta didik untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan bahwa guru memiliki kedudukan yang lebih tinggi dan istimewa dalam perspektif pendidikan Islam. Metode penelitian yang digunakan dalam artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kepustakaan. Untuk memperoleh data, penelitian ini menggunakan sumber data buku, jurnal, dan sumber lainnya yang dikumpulkan dari beberapa referensi terkait dengan judul artikel ini. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu dengan cara mencari sumber referensi yang terkait dengan pembahasan artikel ini, kemudian menganalisis isi dari data – data yang sudah terkumpul, Setelah menemukan sumber referensi, isi data yang terkumpul dianalisis dengan menampilkan, melatih dan merekonstruksi untuk memperoleh konsep baru yang komprehensif dan relevan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru memiliki kedudukan yang lebih tinggi dalam perspektif Islam, dalam Al Quran terdapat ayat yang menyatakan bahwa Allah akan memberi kedudukan serta derajat yang lebih tinggi kepada orang–orang yang berilmu, orang yang mengajar akan mendapat pahala yang sama dengan sedekah, seorang guru akan mendapatkan kebaikan yang berlimpah dan tentunya ilmunya akan membawa manfaat yang baik untuk dirinya dan juga anak didiknya.
STRATEGI INOVATIF DALAM PEMBELAJARAN THAHARAH DI MI PIAT TANJUNG SETEKO Nuril Pitriyati; Dwi Noviani; Imam Nasruddin; Dewi Purbasari
Education : Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan Vol 2 No 3 (2022): November : Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi - Studi Ekonomi Modern

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (997.393 KB) | DOI: 10.51903/education.v2i3.282

Abstract

The quality of the learning process and good learning outcomes is the key to the success of an educator in delivering material. The importance of various skills that must be owned by a student, made researchers moved to conduct this research. The purpose of this study is to find out and describe the meaning of learning strategies, to find out the types of learning strategies and to find out how to develop innovative strategies in thaharah (cleanliness) learning. The method used in this study is to use a qualitative approach to the type of library research. Sources of data for this research come from articles, journals, books, and several other scientific works. The results of this study are by using innovative learning strategies the learning atmosphere becomes fun and can make students motivated and enthusiastic about participating in learning. There are several types of learning strategies including: expository learning strategies, inquiry learning strategies and cooperative learning strategies. This innovative learning includes uncleanness, hadast (large, medium, small) as well as procedures for ablution and tayammum. Innovative learning strategies used in thaharah learning can use games, show videos and practice. This can make students understand more about what is being studied.
Model Kebijakan Pemerintah Desa Dalam Penguatan Pendidikan Non Formal Keagamaan Untuk Pemberdayaan Masyarakat Dwi Noviani; Hilmin Hilmin; Elhefni Elhefni; Mustafiyanti Mustafiyanti
IHSANIKA : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 1 No. 3 (2023): September : Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/ihsanika.v1i3.333

Abstract

Strengthening non-formal religious education is an important aspect in efforts to empower village communities. Village governments have a central role in designing policy models that focus on strengthening religious education at the local level. In this research, a qualitative approach was used, taking data from various sources through library research. The research results found that village government policies in implementing non-formal education include several key aspects including community participation, partnerships with religious institutions, provision of adequate facilities and resources budgeted in the APBDes, as well as integration with formal education. Community participation in planning and implementing non-formal religious education programs directs programs that are more relevant to local needs and more supported by the community, because these policies are based on participatory principles and are a joint commitment between the community and the village government as stated in the RPJMDes and RKPDes policy documents. Establishing partnerships with religious institutions is a strong basis for supporting and integrating non-formal religious education in villages. Because formal religious institutions which are also managed by the government have human resources who are trained in the field of religion and can become teachers or facilitators in non-formal religious education activities, due to the weaknesses and limitations of human resources in the village. Next, providing adequate facilities and resources is a prerequisite for creating a conducive learning environment. The availability of classrooms, learning facilities, books and adequate operational funds will improve the quality of non-formal religious education in the village. Integration with formal education is also an important step in strengthening non-formal religious education. Collaboration between formal and non-formal education creates a learning environment that is holistic and relevant to students' needs. Through this policy model, strengthening non-formal religious education in villages can empower the community and increase their knowledge, skills and religious awareness. Continuous evaluation and monitoring are important tools in measuring program effectiveness and ensuring the continuity of community empowerment efforts through religious education at the village level. Keywords; Village Government Policy Model, Non-Formal Religious Education, Community Empowerment
Membangun Kesadaran Publik Anti Korupsi Dalam Konsep Pendidikan Berbasis Agama Islam Hilmin Hilmin; Dwi Noviani
IHSANIKA : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 1 No. 3 (2023): September : Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/ihsanika.v1i3.335

Abstract

Build public awareness in the concept of anti-corruption education based on Islam aims to form a generation that has strong moral awareness, an understanding of true Islamic values, and social responsibility towards society in forming honest, just and anti-corruption individuals. Islamic Religion-based education has an important role in building a social order that is based on faith and piety, so that anti-corruption education must be integrated and inclusive in formal education as well as in people's daily lives. The educational process must foster normative social awareness, build objective reasoning, and develop a universal perspective of truth for individuals based on collective religious values ​​in the midst of a predominantly Muslim society in Indonesia. Building massive public awareness by integrating education and social movements, involving media participation, encouraging the implementation of a transparent and accountable government system and rewarding non-corrupt behavior by creating zones of integrity. Religious awareness is certainly the foundation in building collective anti-corruption awareness. By positioning the role of the individual who understands and believes in moral and social responsibility, as well as personal responsibility with God so that every action will be accountable to God and the retribution will be the law of the hereafter.