cover
Contact Name
Dewi Astuti Herawati
Contact Email
dewitkusb@gmail.com
Phone
+6287836766465
Journal Mail Official
tek.kimia.u5b@gmail.com
Editorial Address
Jl. Letjend Sutoyo Mojosongo Solo 57127
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kimia dan Rekayasa
Published by Universitas Setia Budi
ISSN : 27472841     EISSN : 27460886     DOI : https://doi.org/10.31001/jkireka
Core Subject :
Jurnal Kimia dan Rekayasa (J.Kireka) merupakan jurnal hasil penelitian laboratorium, studi lapangan, studi kasus, telaah pustaka yang diterbitkan oleh Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi pada bulan Juli 2020. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali dalam satu tahun yaitu pada bulan Januari dan Juli. Bidang kajian yang termuat dalam Kimia dan Rekayasa adalah bidang Kimia (Kimia, Biokimia, Analisis Kimia, Kimia material, Kimia Lingkungan ) dan bidang Rekayasa (Rekayasa Kimia, Rekayasa Industri,Bioproses dan Technologi, Rekayasa Lingkungan dan Rekayasa Pangan).
Arjuna Subject : -
Articles 35 Documents
Analysis of Timbal Metal (Pb) in a Carboned Canned Drink using Atom Absorption Spectrofotometer: Analisis Logam Timbal (Pb) dalam Minuman Kaleng Berkarbonasi dengan Menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom Fransisca Sara Maranatha; Argoto Mahayana
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 1 No. 1 (2020): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Juli 2020
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.625 KB) | DOI: 10.31001/jkireka.v1i1.6

Abstract

Carbonated beverage cans are drinks that are supplemented with carbon dioxide (CO2), giving rise to gas bubbles to give freshness and quench your thirst when taken and drunk in cans. Cans are made of sheets coated with Tin (Sn) connected by an electric device such as soldered using Metal Lead (Pb) material, so that drinks can be contaminated by Metal Lead (Pb). Determination of Lead Metal (Pb) content in 3 different canned carbonated beverage brands is carried out by evaporating carbon dioxide (CO2) for 24 hours. Then the sample was acidified with concentrated HNO3 to pH <2 and filtered with Whatman filter paper No. 42, the resulting filtrate was analyzed with Atomic Absorption Spectrophotometer at a wavelength of 283.3 nm. Based on the results of the study, it was found that Lead Metal (Pb) levels in 3 Different brands of carbonated beverages are sample A 0.004 mg / L; B 0.002 mg / L; C 0.003 mg / L with a maximum limit of Lead Metal (Pb) content is 0.005 mg / L according to SNI 3708-2015 about Soda Water. Abstrak Minuman berkarbonasi kemasan kaleng merupakan minuman yang ditambah dengan karbondioksida (CO2) sehingga menimbulkan gelembung – gelembung gas untuk memberi kesegaran dan pelepas dahaga saat diminum yang dikemas dalam kemasan kaleng. Kaleng terbuat dari lembaran yang disalut dengan Timah (Sn) yang disambung dengan alat listrik seperti disolder yang menggunakan bahan Logam Timbal (Pb), sehingga minuman dapat terkontaminasi oleh Logam Timbal (Pb). Penentuan kadar Logam Timbal (Pb) dalam 3 merk minuman berkarbonasi kemasan kaleng yang berbeda dilakukan dengan menguapkan karbondioksida (CO2) selama 24 jam. Kemudian sampel diasamkan dengan HNO3 pekat sampai pH < 2 dan disaring dengan kertas saring Whatman no.42, filtrat yang dihasilkan dianalisis dengan Spektrofotometer Serapan Atom pada panjang gelombang 283,3 nm.Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa kadar Logam Timbal (Pb) dalam 3 merk minuman berkarbonasi yang berbeda adalah sampel A  0,004 mg/L; B 0,002 mg/L; C 0,003 mg/L dengan batas maksimum kadar Logam Timbal (Pb) adalah 0,005 mg/L sesuai SNI 3708- 2015 tentang Air Soda.
Analysis Of Preservatives in Jelly at Traditional Markets: Analisis Pengawet pada Jelly Agar di Pasar Tradisional Dinar Wahyu Utami; Petrus Darmawan
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 1 No. 1 (2020): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Juli 2020
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.427 KB) | DOI: 10.31001/jkireka.v1i1.7

Abstract

Jelly is a processed food product from seaweed that is given fruit juice, sugar and water and has a semi-solid but chewy texture. Jelly producers add food preservatives to maintain quality and extend shelf life. Permitted preservatives and commonly used for jelly products are sodium benzoate, potassium sorbate and sulfur dioxide. Each preservative is regulated the maximum limit of its use in the Head of BPOM RI Regulation No. 36 of 2013. This study aims to determine the content and levels of preservatives contained in jelly products.Qualitative analysis was carried out on preservatives of sodium benzoate, potassium sorbate and sulfur dioxide whether found in jelly products sold in traditional markets in the District of Jebres, Surakarta. Furthermore, quantitative analysis was carried out to determine the levels of preservatives contained in jelly agar products. Quantitative analysis of preservatives in jelly products by titrimetry and HPLC methods.The results showed that of the four jelly samples analyzed, there were three positive jelly samples containing sodium benzoate preservative with each Jelly A level of 688,559 mg / kg; Jelly B is 488,161 mg / kg and Jelly C is 139,711 mg / kg. There are 2 samples of jelly that do not meet the quality standards according to the Head of BPOM RI Regulation No. 36 of 2013 ie samples of Jelly A and Jelly B because more than 200 mg / kg. Abstrak Jelly agar merupakan produk olahan pangan dari rumput laut yang diberi sari buah-buahan, gula dan air serta memiliki tekstur setengah padat namun kenyal. Produsen jelly agar menambahkan bahan pengawet makanan untuk mempertahankan kualitas dan memperpanjang umur simpan. Bahan pengawet yang diperkenankan dan biasa digunakan untuk produk jelly agar adalah natrium benzoat, kalium sorbat dan belerang dioksida. Masing-masing bahan pengawet tersebut diatur batas maksimum penggunaannya dalam Peraturan Kepala BPOM RI No. 36 Tahun 2013. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan dan kadar pengawet yang terdapat pada produk jelly agar. Analisis kualitatif dilakukan terhadap bahan pengawet natrium benzoat, kalium sorbat dan belerang dioksida apakah terdapat pada produk jelly agar yang dijual di pasar tradisional di Kecamatan Jebres, Surakarta. Selanjutnya dilakukan analisis kuantitatif untuk mengetahui kadar bahan pengawet yang positif terdapat pada produk jelly agar. Analisis kuantitatif bahan pengawet pada produk jelly agar dengan metode titirimetri dan HPLC. Hasil penelitian menunjukkan dari keempat sampel jelly agar yang dianalisis, terdapat tiga sampel jelly agar yang positif mengandung bahan pengawet natrium benzoat dengan kadar masing-masing Jelly A sebesar 688,559 mg/kg; Jelly B sebesar 488,161 mg/kg dan Jelly C sebesar 139,711 mg/kg. Terdapat 2 sampel jelly agar yang tidak memenuhi baku mutu sesuai Peraturan Kepala BPOM RI No. 36 Tahun 2013 yaitu sampel Jelly A dan Jelly B karena lebih dari 200 mg/kg.
The Effect of Nutrient And CO2 Change to Spirullina sp. Growth Cultivation: Pengaruh Perubahan Nutrien dan Gas CO2 terhadap Kultivasi Pertumbuhan Mikroalga Spirullina sp. Widia Arrifa Asna; Sumardiyono
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 1 No. 1 (2020): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Juli 2020
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.812 KB) | DOI: 10.31001/jkireka.v1i1.8

Abstract

Spirulina sp. is a microalgae recently being developed because of its functions and benefits. This study aimed to determine the optimum growth of Spirulina cultivation using nutrient variables, which were cultured in three different containers, namely open pond batch, closed pond batch and open pond continue. Spirulina sp. was cultivated using NPK fertilizer and urea with freshwater media and light obtained from TL lamps 20 watts. The growth was observed every 24 hours for the analysis process using count booths to determine the number of Spirulina cells. Growth density rate of  Spirulina cells in the open pond container batch was 500 cells / ml, in the closed pond batch was 400 cells / ml and in the open pond continue was 290 cells / ml with the number of starter cells of 110 cells / ml. Abstrak Spirulina sp. merupakan jenis mikroalga yang sedang banyak dikembangkan akhir-akhir ini karena memiliki banyak fungsi dan manfaat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan optimum pada kultivasi Spirulina sp dengan menggunakan variabel nutrien yang dikultur dengan 3 wadah yang berbeda yakni open pond batch, closed pond batch dan open pond continue. Spirulina sp. dikultivasi menggunakan pupuk NPK dan urea menggunakan media air tawar serta cahaya didapatkan dari lampu TL 20 watt kemudian pertumbuhan diamati setiap 24 jam untuk proses analisa digunakan bilik hitung untuk mengetahui jumlah sel spirulina. Angka pertumbuhan kepadatan sel mikroalga Spirulina sp. pada wadah open pond batch 500 sel/ml, pada closed pond batch 400 sel/ml dan pada open pond continue 290 sel/ml dengan jumlah sel stater 110 sel/ml
Chemical Oxygen Demand (COD) Analysis Ink Printing Waste Water Using Titrimetry Method: Analisis Chemical Oxygen Demand (COD) Air Limbah Tinta Industri Percetakan Menggunakan Metode Titrimetri Dian Khristiani Suhari; Peni Pujiastuti
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 1 No. 1 (2020): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Juli 2020
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.728 KB) | DOI: 10.31001/jkireka.v1i1.9

Abstract

The printing industry produces wastewater from the ink used. Contains organic and inorganic pollutants such as lead, cadmium, chromium and zinc. Having a quality that exceeds the quality standards for wastewater. If it is discharged into the environment it can pollute the receiving water body. Need to do an analysis of organic pollutant content, by measuring the parameters of Chemical Oxygen Demand (COD). Determination of COD numbers in printing industry wastewater ink using titrimetry method (SNI 6989.73: 2009). Perform oxidation-reduction titration using Ferro Ammonium Sulfate (FAS) solution in printing industry ink wastewater. This study conducted three sampling replications. The results of the first day research obtained a COD rate of 33,088 mg /L; second day 69,694.6 mg /L; third day 67,830.4 mg /L. All three samples had COD figures exceeding the printing industry wastewater quality standard of 125 mg / L. Printing industry wastewater is not suitable to be discharged into the environment. Abstrak Industri percetakan menghasilkan limbah cair dari tinta yang digunakan. Mengandung polutan organik dan anorganik seperti timbal, kadmium, kromium, dan zink. Memiliki kualitas yang melebihi baku mutu air limbah. Apabila dibuang ke lingkungan dapat mencemari badan air penerima. Perlu dilakukan analisis kandungan polutan organik, dengan mengukur parameter Chemical Oxygen Demand (COD). Penentuan angka COD pada air limbah tinta industri percetakan dengan menggunakan metode titrimetri (SNI 6989.73:2009). Melakukan titrasi oksidasi-reduksi menggunakan larutan Ferro Amonium Sulfat (FAS) pada sampel air limbah tinta industri percetakan. Penelitian ini melakukan tiga kali ulangan sampling. Hasil penelitian hari pertama diperoleh angka COD sebesar 33.088 mg/L; hari kedua sebesar 69.484,6 mg/L; hari ketiga sebesar 67.830,4 mg/L. Ketiga sampel memilik angka COD melebihi baku mutu air limbah industri percetakan sebesar 125 mg/L. Air limbah tinta industri percetakan tidak layak dibuang ke lingkungan.
The Influence of Zeolite Addition into Anaerobic Vinasse Treatment Process in Microaerated Batch Reactor: Pengaruh Penambahan Zeolit Pada Pengolahan Limbah Vinasse secara Anaerob dalam Reaktor Batch Dengan Mikroaerasi Umul Lailatul Jannah; Gregorius Prima Indra Budianto
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 1 No. 1 (2020): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Juli 2020
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.899 KB) | DOI: 10.31001/jkireka.v1i1.10

Abstract

Microaeration and cell immobilization are two ways to improve the performance of vinasse anaerobic treatment. Several variations of vinasse anaerobic process were conducted to approach the effectivity of microaeration and cell immobilization addition in 200 ppm vinasse anaerobic treatment process. The variation of (R1) microaeration addition; (R2) zeolite addition as cell immobilizer; (R3) combination microaeration and zeolite addition and (R4) blank reactor – anaerobic reactor without microaeration and zeolite addition. The process was conducted in batch mode, pH in 7. During the process, gas volume was calculated by water replacement concept and sampling was done for analytical such as Volatile Solids (VS) and methane concentration. The result, combination between microaeration and zeolite addition was obtained the lag phase to be shorter while the biogas productivity and VS degradation rate were obtained the insignificant difference value with reactor with zeolite addition and reactor with microaeration addition respectively. Abstrak Beberapa variasi proses dilakukan untuk menakar sejauh mana efektifitas mikroaerasi dan imobilisasai sel pada proses pengolahan limbah vinasse 200 ppm secara anaerob, variasi tersebut diantaranya (R1) reactor dengan mikroaerasi, (R2) reactor dengan penambahan zeolite, (R3) reactor dengan penambahan mikoraerasi dan zeolite (R4) reactor control – tanpa penambahan mikroaerasi dan zeolite. Proses dijalankan pada kondisi pH 7, mode batch. Selama proses, pengukuran volume biogas dilakukan dengan konsep water replacement dan pengambilan sampel dilakukan untuk kebutuhan analisis Volatile Solids (VS) dan kadar metana. Hasilnya, penambahan zeolite pada reactor dengan mikroaerasi menghasilkan masa aklimatisasi tersingkat sedangkan produktivitas dan laju penunuran VS tidak berbeda signifikan masing-masing dari reactor dengan zeolite dan reactor dengan mikroaerasi.
Effect of Temperature and Time of Reaction Of FeSO4 Synthesis and Characterization Of Fe2O3 Nanoparticles from Lathe Iron Waste: Pengaruh Suhu dan Waktu Reaksi Pembuatan FeSO4 Sintesis dan Karakterisasi Nanopartikel Fe2O3 dari Limbah Besi Bubut Kriscylla Sekar Arum; Dewi Astuti Herawati
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 1 No. 1 (2020): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Juli 2020
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.943 KB) | DOI: 10.31001/jkireka.v1i1.11

Abstract

The lathe industry produces 3-5 kg / month of lathe iron waste which has a negative impact on environmental pollution. However, iron lathe waste also has potential as a raw material for making ferrous sulfate and for making ferrous oxide.The synthesis of ferrous sulfate is carried out by mixing the lathe iron waste with 25% sulfuric acid with a variation of temperature (50; 60; 70) oC and time (5; 10; 15) minutes.The process of ferrous oxide synthesis is carried out by mixing ferrous sulfate crystals that have been formed with NaOH and then characterized into nanoparticles by SEM analysis.The results showed that the study produced ferrous sulfate from qualitative tests.The best temperature and time in the ferro sulfate synthesis process is at 70oC and 15 minutes with a yield of 7.52%.The results of SEM analysis measurements of the average ferrous oxide of 3 samples obtained a size of 39.1 nm Abstrak Industri besi bubut menghasilkan limbah besi bubut sekitar 3-5 kg/bulan yang menimbulkan dampak negatif terhadap pencemaran lingkungan. Namun limbah besi bubut juga mempunyai potensi sebagai bahan baku pembuatan ferro sulfat dan pembuatan ferro oksida. Sintesis ferro sulfat dilakukan dengan mencampurkan limbah besi bubut dengan asam sulfat 25% dengan variasi suhu (50; 60; 70)cC dan waktu (5; 10; 15) menit. Proses sintesis ferro oksida dilakukan dengan mencampurkan kristal ferro sulfat yang telah terbentuk dengan NaOH dan kemudian di karakterisasikan menjadi nanopartikel dengan analisis SEM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penelitian menghasilkan ferro sulfat dari uji kualitatif. Suhu dan waktu terbaik pada proses sintesis ferro sulfat yaitu pada suhu 70oC dan waktu 15 menit dengan nilai rendemen 7,52%. Hasil pengukuran analisis SEM terhadap ferro oksida rerata dari 3 sampel  diperoleh  ukuran 39,1 nm.
Determination of Lead Metal Levels in Fresh Cow Milk Samples Using Atomic Absorption Spectrophotometry: Penentuan Kadar Logam Timbal pada Sampel Susu Sapi Segar menggunakan Spektrofotometri Serapan Atom Depita Fajar Rohmawati; Yari Mukti Wibowo
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 1 No. 2 (2021): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Januari 2021
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31001/jkireka.v1i2.13

Abstract

Fresh milk is a liquid produced by healthy and clean animals, such as cows. The natural content of fresh milk is not reduced or added by other compounds and is only treated with a cooling process without affecting its purity. Fresh milk can be contaminated with lead metal (Pb), because animal feed or water has been contaminated with Pb. If we consume fresh cow's milk in the long term, it can interfere with health. According to SNI 3141.1: 2011, the maximum Pb level allowed in fresh cow's milk is 0.02 µg / mL. It is necessary to test fresh cow's milk, one of which is to determine the Pb level, so that the fresh cow's milk is suitable for consumption. Pb levels were determined by Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) based on SNI 01-2896-1998. The Pb content in the fresh cow's milk sample was determined by wet digestion and then analyzed by AAS at 283.3 nm lamda. The results showed that the Pb levels were 0.0570 µg / mL (sample A), 0.1230 µg / mL (sample B) and 0.0380 µg / mL (sample C). From these results it can be seen that the Pb content in the fresh cow milk sample does not meet the requirements based on SNI 3141.1: 2011. Keyword : Atomic Absorption Spectrophotometry, fresh cow's milk ,lead metal. AbstrakSusu segar adalah suatu cairan yang dihasilkan oleh hewan yang sehat dan bersih, misalnya sapi. Kandungan alami dari susu segar tersebut tidak dikurangi atau ditambah senyawa lain dan hanya mendapat perlakuan proses pendinginan tanpa mempengaruhi kemurniannya. Susu segar dapat tercemar logam timbal (Pb), karena pakan ternak atau airnya yang sudah tercemar Pb. Bila kita mengkonsumsi susu sapi segar dalam jangka panjang, dapat mengganggu kesehatan. Menurut SNI 3141.1:2011, kadar Pb maksimum yang diperbolehkan dalam susu sapi segar sebesar 0,02 µg/mL. Perlunya dilakukan pengujian terhadap susu sapi segar, salah satunya adalah penentuan kadar Pb, agar susu sapi segar tersebut layak untuk dikonsumsi. Kadar Pb ditentukan dengan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) berdasarkan SNI 01-2896-1998. Kadar Pb pada sampel susu sapi segar ditentukan dengan destruksi basah kemudian dianalisis dengan SSA pada lamda 283,3 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar Pb sebesar 0,0570 µg/mL (sampel A), 0,1230 µg/mL (sampel B) dan 0,0380 µg/mL (sampel C). Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa kadar Pb pada sampel susu sapi segar tidak memenuhi syarat berdasarkan SNI 3141.1:2011.
Remazol Blue (RS) P Textile Dyestuff Removal Using Electrocoagulation Method With Iron Metal Electrodes: Penghilangan Zat Warna Tekstil Remazol Blue (RS)P Dengan Metode Elektrokoagulasi Menggunakan Elektroda Logam Besi Suseno; Argoto Mahayana; Petrus Darmawan
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 1 No. 2 (2021): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Januari 2021
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31001/jkireka.v1i2.14

Abstract

An experiment  removed of remazol blue (RS) P textile dye has been carried out  using the electrocoagulation method with iron  metal electrodes. The electrocoagulation apparatus consists of a plastic tub with a size (w x l x h) = 20 x 20 x 25 cm equipped with an electric stirrer and 3 pairs of iron metal electrodes with a diameter of 12 mm and a length of 120 mm. The iron  used is SNI concrete iron rods which are commonly used for building construction. This dye removal experiment was carried out using a batch system (not continuous) with a variation of stirring time of 15, 30, 45, and 60 minutes, while the other variables are made fixed, namely the dye concentration of 100.24 mg / liter, electrolyte NaCl 4.12 g / liter, voltage 12 V, and stirring speed 250 rpm. The absorbance of the dye solution before and after the electrocoagulation process was measured using a UV-Vis spectrophotometer at the maximum wavelength, to determine the percentage of absorbance reduction. The results showed that the largest percentage reduction in absorbance was 98.31%, which was achieved at 45 minutes of contact time. This study proves that the electrocoagulation method using ferrous metal electrodes can be used as an alternative method of waste treatment, especially in terms of removing dyes in textile industrial wastewater. AbstrakTelah dilakukan percobaan penghilangan zat warna tekstil remazol blue  (RS)P dengan metode elektrokoagulasi menggunakan elektroda logam besi. Alat elektrokoagulasi terdiri dari bak plastik dengan ukuran (p x l x t ) = 20 x 20 x 25 cm yang dilengkapi dengan pengaduk elektrik dan 3 pasang elektroda logam besi dengan garis tengah 12 mm dan panjang 120 mm. Logam besi yang digunakan adalah batang besi beton SNI yang biasa digunakan untuk konstruksi bangunan. Percobaan penghilangan zat warna ini dilakukan menggunakan sistem batch ( tidak kontinyu) dengan variasi waktu pengadukan 15, 30, 45, dan 60 menit, sedangkan variabel lainnya dibuat tetap yaitu konsentrasi zat warna 100,24 mg/liter, elektrolit NaCl 4,12 g/liter, voltase 12 V, dan kecepatan pengadukan 250  rpm. Larutan zat warna sebelum dan sesudah proses elektrokoagulasi diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang maksimum, untuk menentukan persentase penurunan absorbansinya. Hasil percobaan menunjukkan bahwa persentase penurunan absorbansi terbesar adalah 98,31 %, tercapai pada waktu kontak 45 menit. Penelitian ini membuktikan bahwa metode elektrokoagulasi menggunakan elektroda logam besi dapat digunakan sebagai alternatif metode pengolahan limbah khususnya dalam hal menghilangkan pewarna dalam limbah cair industri tekstil.
The Effect of Saccharomyces cerevisiae Mass Variation and Time of Fermentation on Bioethanol production from Solid Waste of Palm Starch Using Simultaneous of Saccarification and Fermentation Methods: Pengaruh Variasi Massa Saccharomyces cerevisiae dan Waktu Fermentasi pada Pembuatan Bioetanol dari Limbah Padat Pati Aren Metode Simultaneous of Saccarification and Fermentation Nurul Putri Gayatri; Dewi Astuti Herawati
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 1 No. 2 (2021): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Januari 2021
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31001/jkireka.v1i2.15

Abstract

This study aims to determine the effect of mass variation of Saccharomyces cerevisiae (baker's yeast) and determine the optimum time required for the bioethanol fermentation process from solid waste of sugar palm starch. The fermentation process uses variations in yeast mass : 0.8 g / 100ml; 1.6 g / 100ml, 2.4 g / 100ml, 3.2 g / 100ml and fermentation time from start fermentation until the 7th days. This study uses the Simultaneous of Saccarification and Fermentation method, which is a combination of hydrolysis and fermentation processes simultaneously. Hydrolysis using a mixture of enzymes from Aspergillus niger and Trichoderma sp and fermentation using yeast. The results showed that the mass of Saccharomyces cerevisiae 3.2 g / 100ml produced the highest bioethanol content of 4.7868% and the optimum time required for the fermentation process was 4 days. AbstrakPenelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh variasi massa Saccharomyces cerevisiae (ragi roti) dan menentukan waktu optimum yang diperlukan untuk proses fermentasi bioetanol dari limbah padat pati aren. Proses fermentasi menggunakan variasi massa ragi yaitu: ragi 0,8 g/100ml; 1,6 g/100ml, 2,4 g/100ml, 3,2 g/100ml dan waktu fermentasi yaitu: awal fermentasi sampai hari ke 7enelitian ini menggunakan metode Simultaneous of Saccarification and Fermentation adalah gabungan proses hidrolisis dan fermentasi secara serempak.Hidrolisis menggunakan campuran enzim dari Aspergillus niger dan Trichoderma sp dan fermentasi menggunakan ragi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa massa Saccharomyces cerevisiae 3,2 g/100ml menghasilkan kadar bioetanol paling tinggi 4,7868% dan waktu optimum yang diperlukan untuk proses fermentasi adalah 4 hari.
Microalgae Chlamydomonas reinhardtii Cultivication as A Single Cell Protein in Raceway Open Pond Bioreactor: Kultivasi Mikroalga sebagai Produsen Protein Sel Tunggal dalam Bioreaktor Kolam Lintasan Terbuka (RACEWAY OPEN POND BIOREACTOR) Sumardiyono
Jurnal Kimia dan Rekayasa Vol. 1 No. 2 (2021): Jurnal Kimia dan Rekayasa Edisi Januari 2021
Publisher : Program Studi S1 Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31001/jkireka.v1i2.16

Abstract

Research on the cultivation of Chlamydomonas reinhardtii in an open pond bioreactor has been carried out using seawater media. Cultivation using media with a depth of 10, 12 and 14 cm to the bottom of the pond, at a temperature of 30, 40 and 50 ° C. The light source is produced by a tube electric lamp (TL) with a power of 8, 15, 23 Watt. Microalgae growth was observed every 8 hours by measuring the density of the cells using a spectrophotometer. The results showed that the depth of cultivation media, temperature, and light intensity affected the growth rate of C. reinhardtii microalgae. The highest number of C. reinhardtii microalgae cells was obtained at a culture media depth of 12 cm, a temperature of 45 ° C, and a light intensity of 15 watts with a cell number of 1.65 x 108. The fastest growth rate of C. reinhardtii microalgae was obtained at a culture media depth of 12 cm, a temperature of 40 ° C, and a light intensity of 23 watts with a k value of 2.71 x 10-2 cells / hour. The highest protein content was obtained at a culture media depth of 10 cm, a temperature of 45 ° C, and a light intensity of 15 watts with a protein content of 4.444 mg / 100 ml sample. AbstrakTelah dilakukan penelitian kultivasi Chlamydomonas.reinhardtii dalam bioreaktor kolam terbuka (openpond bioreactor) dengan media air laut. Kultivasi dilakukan dalam media dengan kedalaman 10 ,12 dan 14 cm terhadap dasar kolam, pada suhu 30, 40 dan 50°C. Sumber cahaya dihasilkan oleh lampu listrik tabung (TL) dengan daya 8, 15, 23 Watt. Pertumbuhan mikroalga diamati setiap 8 jam dengan mengukur densitas selnya menggunakan spektrofotometer. Hasil penelitian didapatkan kedalaman media kultivasi, temperatur, dan intensitas cahaya berpengaruh terhadap laju pertumbuhan mikroalga C. reinhardtii. Jumlah sel mikroalga C. reinhardtii terbanyak didapatkan pada kedalaman media kultur 12 cm, suhu 45 °C, dan intensitas cahaya 15 watt dengan jumlah sel sebanyak 1,65 x 108. Laju pertumbuhan mikroalga C. reinhardtii tercepat didapatkan pada kedalaman media kultur 12 cm, suhu 40 °C, dan intensitas cahaya 23 watt dengan nilai k sebesar 2,71 x 10-2 sel/jam. Kadar protein tertinggi didapatkan pada kedalaman media kultur 10 cm, temperatur 45 °C, dan intensitas cahaya 15 watt dengan kadar protein sebesar 4,444 mg/100 ml sampel.

Page 1 of 4 | Total Record : 35