Tino Orciny Chandra
UNIVERSITAS TANJUNGPURA

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Studi Sifat Fisika Tanah Pada Dua Tingkatan Umur Budidaya Karet Di Dusun Tiang Aji Desa Lamoanak Kecamatan Menjalin Kabupaten Landak SAFARUDIN, ANDRI; CHANDRA, TINO ORCINY; WIDARSO, BAMBANG
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 1 (2018): Februari 2018
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan sifat fisika tanah pada dua tingkatan umur budidaya tanaman karet di Dusun Tiang Aji, Desa Lamoanak, Kecamatan Menjalin, Kabupaten Landak. Penelitian dilakukan di Desa Lamoanak Dusun Tiang Aji, lahan penelitian merupakan lahan tanaman karet dengan umur 14 tahun dan umur 5 tahun, dengan luas masing-masing 1 ha. Dalam 1 ha diambil 5 titik sampel  secara diagonal, dengan 2 kedalaman yaitu 0-30 cm dan 30-60 cm. Sampel tanah diambil dalam bentuk sampel tanah utuh dan sampel tanah terganggu. Analisis data menggunakan analisis statistik uji-t berpasangan.Hasil dari penelitian ini profil tanah pada lahan karet umur 5 tahun dan umur 14 tahun memiliki dua lapisan tanah, warna tanah pada lahan karet umur 5 tahun kedalaman 0-30 titik 1 dan 5 memiliki warna tanah 10 YR 3/4  dan titik 2, 3, 4 memiliki warna tanah 10 YR 5/8, sedangkan kedalaman 30-60 cm titik 1 memiliki warna tanah 10 YR 5/8, dan titik 2, 3, 4, 5 memiliki warna tanah 10 YR 7/6. Warna tanah pada lahan karet umur 14 tahun kedalaman 0-30 titik 1 dan 2 memiliki warna 10 YR 4/2, dan titik 3, 4, 5 memiliki warna tanah 10 YR 5/8 sedangakan kedalaman 30-60 cm titik 1, 3 dan 5 memiliki warna tanah 10 YR 7/6, titik 2 memiliki warna 10 YR 7/8 dan titik  4 memiliki warna tanah 10 YR 8/3. Tekstur tanah pada umur 5 tahun kedalaman 0-30 adalah lempung dan kedalaman 30-60 cm adalah lempung berpasir, sedangkan umur 14 tahun kedalaman 0-30 cm adalah lempung berpasir, dan kedalaman 30-60 adalah lempung. Struktur tanah lahan karet umur 5 tahun dan umur 14 tahun kedalaman 0-30 adalah Granular (butiran), sedangkan kedalaman 30-60 cm umur 5 tahun adalah Gumpal Bersudut, dan kedalaman 30-60 cm umur 14 tahun adalah Gumpal Membulat. Nilai rerata kemantapan agregat tanah pada lahan karet umur 5 tahun lebih tinggi dari pada lahan karet umur 14 tahun. Rerata bobot isi tanah pada lahan karet umur 5 tahun lebih rendah dari pada umur 14 tahun. Nilai rerata porositas tanah pada umur 5 tahun lebih tinggi dari pada umur 14 tahun pada kedalaman 0-30, sedangkan pada kedalaman 30-60 porositas tanah lebih tinggi pada umur 14 tahun dari pada umur 5 tahun. Kadar air kapasitas lapang pada lahan karet umur 5 tahun memiliki rerata lebih tinggi dari pada umur 14 tahun. Rerata permeabilitas tanah pada lahan karet umur 5 tahun lebih tinggi dari pada lahan karet umur 14 tahun. Nilai rerata pH tanah pada umur 5 tahun lebih rendah dari pada umur 14 tahun. Nilai rerata C-organik, N-total, dan C/N ratio pada lahan karet umur 5 tahun lebih tinggi dari pada lahan karet umur 14 tahun.Kata kunci : Sifat Fisika Tanah, Tanaman Karet, Umur Bididaya.
SIFAT FISIKA TANAH SAWAH TADAH HUJAN DAN IRIGASI SEMI TEKNIS DI DESA SENYABANG, KECAMATAN BALAI, KABUPATEN SANGGAU AMALO, ISA PAUL; CHANDRA, TINO ORCINY; RIDUANSYAH, RIDUANSYAH
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 3 (2018): AGUSTUS 2018
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan sifat fisik tanah sawah pada dua lahan di Desa Senyabang, Kecamatan Balai, Kabupaten Sanggau. Penelitian dilakukan di Desa Senyabang, lahan penelitian merupakan lahan sawah,Irigasidan Tadah Hujan, dengan luas masing-masing 2 ha. Dalam 2 ha diambil 5 titik sampel  secara diagonal, dengan 2 kedalaman yaitu 0-20 cm dan 20-40 cm.Sampel tanah diambil dalam bentuk sampel tanah utuh dan sampel tanah terganggu.Analisis data menggunakan analisis statistik uji-t berpasangan.Hasil dari penelitian ini profil tanah pada lahan Irigasi ssemi teknisdan Tadah Hujanmemiliki dua lapisan tanah, warna tanah pada lahan Irigasimemiliki warna tanah coklat sangat gelapsedangkan kedalaman 20-40 cm memiliki warna tanah Abu-abu Warna tanah pada lahan Tadah Hujan kedalaman 0-20 cm memiliki warna coklat sangat gelapsedangakan kedalaman 20-40 cm memiliki warna tanah abu-abu gelapTekstur tanah pada lahan olah tanah kedalaman 0-20 adalah liat berdebu dan kedalaman 20-40 cm adalah liat berdebu, sedangkan lahan tanpa olah tanah kedalaman 0-20 cm adalah liat, dan kedalaman 20-40 adalah liat berdebu.Struktur tanah lahan olah tanah kedalaman 0-20 dan 20-40 cm adalah Gumpal Membulat, sedangkan lahan tanpa olah tanah kedalaman 0-20 dan 20-40 cm adalah Gumpal Bersudut dan Gumpal Membulat. Rerata bobot isi tanah pada kedalaman 0-20 cm pada lahan Irigasisemi teknis lebih rendah dibandingkan pada lahan Tadah Hujan sedangkan pada kedalaman 20-40 cm pada lahan irigasi lebih tinggi.Nilai rerata porositas tanahpada lahan irigasipada kedalaman 0-20 cm lebih tinggi dan sebaliknya pada kedalaman 20-40 cm nilai yang paling lebih tinggi pada lahan tadah hujan. Kadar air kapasitas lapang pada lahanirigasisemi teknis memiliki kadar air kapasitas lapangan yang  lebih tinggi dibandingkan dengan lahan tadah hujan pada kedalaman 0-20 cm sedangkan pada kedalaman 20-40 cm lahan irigasi semi teknis yang lebih rendah.Rerata permeabilitas tanah pada lahan irigasi kedalaman 0-20 cm lebih tinggi dengan tadah hujan, dan sebaliknya pada kedalaman 20-40 cm pada lahan irigasi semi teknis lebih rendah dari pada lahan tadah hujan . Nilai kemantapan agregat tanah pada lahan irigasi lebih tinggi di bandingkan lahan tadah hujan pada kedalaman 0–20 cm sedangkan pada kedalaman 20–40 cm pada lahan tadah hujan lebih tinggi dari pada irigasi semi teknis. Nilai rerata pH tanah pada lahan irigasi semi teknis dan tadah hujan tergolong kreteria sangat masam.Nilai rerata C-organik dan N-total pada lahan  irigasi semi teknissebandingdengan lahan tadah hujan, sedangkan C/N rasio pada lahanirigasi semi teknis lebih tinggi dari pada lahan tadah hujan.Kata kunci : Sifat FisikaTanah, Sawah Irigasi semi teknis,Sawah Tadah Hujan.ABSTRACTThis study aims to determine the differences in physical properties of paddy fields in two fields in the village of Senyabang, Balai District, Sanggau District. The research was conducted in Senyabang Village, the research field was paddy field, Irrigation and Rainfed, with area of 2 ha each. In 2 ha 5 diagonal samples were taken, with 2 depths of 0-20 cm and 20-40 cm. Soil samples were taken in the form of intact soil samples and disturbed soil samples. Data analysis used paired t-test statistical analysis.The result of this study soil profile on irrigation and rainfed land has two layers of soil, soil color on irrigation land has very dark brown soil color while the depth of 20-40 cm has the color of soil Gray Color of soil on land Rainwater depth 0-20 cm has a very dark brown color will depth of 20-40 cm has a dark gray earth color Texture of soil on the soil if the soil depth 0-20 is dusty clay and 20-40 cm depth is dusty clay, while land without tillage depth 0- 20 cm is tough, and the depth of 20-40 is dusty clay. soil structure in the depth 0-20 and 20-40 cm are rounded rounds, while land without tillage depth 0-20 and 20-40 cm is angled and rounded round. The average bulk density soil at 0-20 cm deep in Irrigation field is lower than on Rainfed land while at a depth of 20-40 cm on irrigated land is higher. The mean value of porosity of soil on irrigated land at a depth of 0-20 cm higher and vice versa at a depth of 20-40 cm the highest value in rainfed. The moisture content of the field capacity on irrigated land has a higher moisture content of field capacity compared to rainfed land at a depth of 0-20 cm while at a depth of 20-40 cm of lower irrigated land. The average of soil permeability in the irrigation area is 0-20 cm deeper with rainfed, and vice versa at 20-40 cm depth on irrigated land is lower than rainfed area. The value of soil aggregate stability on irrigated land is higher than rainfed area at 0-20 cm depth while at 20-40 cm depth in rainfed area is higher than irrigation. The average value of soil pH on irrigated and rain-fed land is considered very acid. The mean value of C-organic and N-total on irrigated land is proportional to rainfed land, whereas the C / N ratio on irrigated land is higher than in rainfed.Keywords: Physical Properties of Soil, Rice Field Rain Fed, Medium Technical Irrigation.
STUDI KUALITAS AIR SUNGAI MELAWI UNRUK IRIGASI DI KECAMATAN ELLA HILIR KABUPATEN MELAWI Dastra, Edi; Chandra, Tino Orciny; Riduansyah, Riduansyah
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian  dilaksanakan pada bulan Oktober tanggal 05 sampai tanggal 21 Oktober 2015 di Kecamatan Ella Hilir Kabupaten Melawi dan analisis sampel dilakukan di Laboratorium Kualitas dan Kesehatan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. Irigasi merupakan pemakaian air untuk pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air sungai Melawi yang ada di daerah administrasi  Kecamatan Ella Hilir Kabupaten Melawi apakah memenuhi standar jika digunakan sebagai sumber air untuk irigasi. Penelitian ini di lakukan pada 2 (dua) lokasi, di wilayah Desa Nanga Nuak pada bagian Hulu dan pada wilayah Desa Popai bagian Hilir, jarak antara Hulu dan Hilir sekitar 3 kilo meter. Metode pengumpulan data kelas lereng, penggunaan lahan, jenis tanah dan curah hujan. Metode analisis kualitas air yang dilakukan yaitu Pengukuran langsung di lapangan dan di laboratorium meliputi debit aliran, profil melintang sungai, Total suspended solid, Kecerahan, Temperatur, pH, Salinitas, Alkalinitas, Ca++, Mg++, Na+, Sodium Absorption Ratio (SAR/sodium Absrobtion Ratio), RSC (residual sodium carbonate), Boron dan Merkuri. Berdasarkan hasil analisis dan perhitungan, kualitas air pada Sungai Melawi di Kecamatan Ella Hilir dapat digunakan karena memenuhi syarat kriteria air untuk irigasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata debit aliran bagian Hulu 18,300 m3/detik dan pada bagian Hilir 24,452 m3/detik, profil melintang sungai pada bagian Hulu dan Hilir berbentuk segitiga, total suspended solid rata-rata pada bagian Hulu 72,2 mg/liter dan pada bagian Hilir 56,2 mg/liter, kecerahan air rata-rata pada bagian Hulu 30,8 cm dan pada bagian Hilir 29,1 cm, temperatur rata-rata pada bagian Hulu 28,20C dan pada bagian Hilir 290C, derajat keasaman rata-rata pada bagian Hulu 7,14 dan bagian Hilir 6,56, alkalinitas rata-rata pada bagian Hulu 18,8 mg/liter setara CaCO3 dan pada bagian Hilir 20,4 mg/liter setara CaCO3, salinitas rata-rata bagian Hulu 0,0297 dS/m dan bagian Hilir 0,0292 dS/m, Ca++ rata-rata pada bagian Hulu  0,94 mg/liter dan bagian Hilir 0,79 mg/liter, Mg++ rata-rata bagian Hulu 1,12 mg/liter dan bagian Hilir 1,11 mg/liter, Na+ rata-rata pada bagian Hulu 2,84 mg/liter dan bagian Hilir 3,04 mg/liter, sodium Absorption Ratio (SAR / sodium Absrobtion Ratio) rata-rata pada bagian Hulu 0,4691 dan bagian Hilir 0,5177, RSC (residual sodium carbonate) rata-rata pada bagian Hulu 0,1694 meq/liter dan bagian Hilir 0,2039 meq/liter, Boron rata-rata pada bagian Hulu 0,03 mg/liter dan bagian Hilir 0,10 mg/liter, merkuri rata-rata pada bagian Hulu 0,0005 mg/liter dan Hilir 0,0006 mg/liter. Kata Kunci: Sungai Melawi, Kualitas air, Irigasi  
Studi Sifat Fisika Tanah Sawah Tadah Hujan Tanpa Olah Tanah di Desa Tempurukan Kecamatan Muara Pawan Kabupaten Ketapang pilhan, pilhan; chandra, tino orciny; junaidi, junaidi
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan sifat fisika tanah pada tingkatan umur pencetakan sawah tadah hujan di Desa Tempurukan kecamatan Muara Pawan Kabupaten Ketapang. Penelitian dilakukan pada bulan januari hingga maret 2016, Penelitian ini menggunakan metode survei lapangan yaitu dengan melakukan pangamatan dan pengambilan sampel tanah pada lahan tadah hujan dengan vegetasi tanaman Padi pada 3 lokasi yang berbeda umur pengelolaannya, yaitu dengan umur lokasi A (12 tahun), lokasi B (25 tahun), dan lokasi C (37 tahun). Variabel pengamatan meliputi : sifat fisika tanah (tekstur, kemantapan agregat, bobot isi, porositas dan kadar air kapasitas lapangan), kemudian variabel pendukung (pH, C-organik, N-total dan C/N ratio). Hasil penelitian menunjukan tekstur tanah secara umum didominasi oleh fraksi liat dan tergolong kedalam kelas tekstur yaitu liat berdebu, kemantapan agregat berbeda pada kedalaman 0-20 cm, sedangkan kedalaman 20-40 cm nilainya semua 100% agregat, bobot isi  cenderung meningkat seiring bertambahnya umur pencetakan sawah, uji ortogonal kontras menunjukan berbeda sangat nyata pada kedalaman 0-20 cm, porositas tergolong semakin menurun terkait dengan nilai bobot isi tanahnya dimana nilai bobot isi tanah semakin meningkat dengan bertambahnya umur pencetakan sawah, nilai kadar air kapasitas lapangan cenderung meningkat karena fraksi liat tinggi sehingga kemampuan tanah untuk meloloskan air juga rendah, pH tanah tergolong rendah yaitu (5,53-6,57 %), C-organik tergolong sangat rendah hingga sedang yaitu (0,23-2,16 %), N-total tergolong sangat rendah hingga sedang yaitu (0,04-0,25 %), C/N ratio tergolong sangat rendah hingga rendah yaitu (4,60-8,71 %). Kata Kunci : Sifat Fisika Tanah, Tanah Sawah, Tanpa Olah Tanah.
STUDI EFISIENSI PENYALURAN DAN APLIKASI AIR DIPETAK TERSIER PADA LAHAN SAWAH BERIRIGASI DIDESA TIRTAKENCANA KECAMATAN BENGKAYANG KABUPATEN BENGKAYANG DESI, DESI; chandra, Tino orciny; junaidi, Junaidi
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 3 (2016): Desember 2016
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Irigasi merupakan pendukung keberhasilan pembangunan pertanian dan merupakan kebijakan Pemerintah yang sangat strategis guna mempertahankan produk siswasembada beras. Diperlukan pengelolaan dan perhatian khusus dalam pengelolaan sumberdaya air karena sangat berpengaruh terhadap pemanfaatan air untuk kebutuhan tanaman, kehilangan air selama proses penyaluran air irigasi (distributionlosses) dan selama proses pemakaian (fieldapplication losses). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi penyaluran dan aplikasi air di petak tersier pada lahan sawah beririgasi di Desa Tirtakencana Kecamatan Bengkayang. Pengambilan sampel tanah pada satu penggunaan lahan disesuaikan dengan titik pengamatan dengan jumlah 8 sampel, dengan masing-masing kedalaman 0-20 cm, 20-40cm. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pH tanah tergolong masam sampai agak masam dan C/N rasio yang rendah. Profil tanah pada petakan sawah memiliki tiga lapisan tanah  (solum)  yaitu kedalaman 0-40cm, lapisan 40 cm- 50 cm dan lapisan50- 60 cm.  kedalaman 0-20 cm dan 20-40cm menunjukan keretria lempung berpasir. Bobot isi tanah memiliki kriteria sedang tinggi dan sangat tinggi, porositas tanah termasuk kriteria baik, poros sampai kurang baik, permeabilitas tanah menunjukan agak lambat, sementara kadar air kapasitas lapangan Adapun perbedaan nilai rata-rata yaitu pada kedalaman 0-20 cm (58,87%) lebih tinggi sedangkan lapisan tanah kedalaman 20-40 cm (36,43%) lebih rendah. Efisiensi penyaluran air pada keadaan  pintu air dibuka semua nilai efisiensi nya sebesar   98,6 % dan pada saat kedaan pintu air di buka satu arah nilai efisiensinya sebesar  96,3 %. Rata-rata nilai efisiensi penyaluran sebesar 94,65 %. Rata-rata nilai efisiensi aplikasi air pada petak sawah sebesar 69,45 %. Efisiensi keseluruhan 67,68%.   Katakunci :Efisiensi penyaluran, aplikasi air, lahan sawah, petak tersier.
Studi Biodiversitas Fungi Tanah Pada Lahan Gambut Tidak Terbakar Dan Setelah Kebakaran Di Desa Rasau Jaya Umum Kabupaten Kuburaya Nurdiansyah, Nurdiansyah; Chandra, Tino Orciny; Umran, Ismahan
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 3: Desember 2013
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Untuk mempercepat tersedianya unsur hara dalam budidaya tanaman, masyarakat pada umumnya melakukan sistem tebas bakar. Lahan yang dibakar itu selain areal pertanian, juga berada di kawasan perkebunan, dan sangat berdampak terhadap berbagai gatra kehidupan. Pemulihan tanaman hutan setelah kebakaran akan memakan waktu lama, dan akan sering terhambat bila kebakaran terulang. Kerusakan ekosistem akibat kebakaran berpeluang melenyapkan aneka jenis makro dan mikro organisme tanah, khususnya yang tidak mampu menghadapi perubahan keadaan huniannya serta berbagai jenis organisme tanah yang berpotensi dalam kesuburan tanah. Selain itu mikroorganisme tanah yang banyak berasosiasi dengan tanaman yang hilang akibat kebakaran juga akan ikut hilang, sehingga keanekaragaman dari jenis mikroorganisme juga dapat berpotensi semakin berkurang. Mengingat pentingnya peran mikroorganisme tanah khususnya fungi, dalam proses dekomposisi bahan organik pada tanah gambut dan masih relatif terbatasnya informasi mengenai jenis fungi pada tanah gambut, perlu mempelajari biodiversitas fungi tanah gambut dalam rangka mempercepat proses dekomposisi bahan organik. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah Untuk mempelajari biodiversitas fungi yang terdapat pada lahan gambut yang tidak terbakar dan setelah kebakaran, mengetahui fungi pada tingkat kedalaman gambut pada pada lahan gambut yang tidak terbakar dan setelah kebakaran dan mengetahui hubungan antara biodiversitas fungi dengan faktor fisik dan kimia tanah pada lahan gambut yang tidak terbakar dan setelah kebakaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sehabis kebakaran kegiatan dan jumlah mikroorganisme tanah meningkat yang di tunjukkan pada tanah gambut tidak terbakar, fungi yang teridentifikasi sebanyak lima jenis yaitu Aspergillus niger, Penicillium, Phytopthora, Thielaviopsis dan Thrichoderma harzianum sedangkan pada tanah gambut setelah kebakaran fungi yang teridentifikasi sebanyak Sembilan jenis yaitu Acremonium, Aspergillus niger, Candida, Curvularia, Penicillium, Phytium, Phytoptora, Thielaviopsis dan Thrichoderma harzianum. Hal ini tidak lepas dari beberapa faktor lingkungan tanah gambut seperti kedalaman muka air tanah, tingkat kematangan tanah gambut, suhu tanah gambut, kadar air tanah gambut, bobot isi tanah gambut dan pH tanah gambut pada lahan yang tidak terbakar ataupun yang telah mengalami kebakaran.
PREDIKSI EROSI DENGAN METODE USLE DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT PTPN XIII GUNUNG MELIAU KECAMATAN MELIAU KABUPATEN SANGGAU Liastuti, Putri; Chandra, Tino Orciny; Widiarso, Bambang
Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 8, No 2 (2018): Perkebunan dan Lahan Tropika
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.219 KB) | DOI: 10.26418/plt.v8i2.29800

Abstract

Lokasi penelitian yakni di Afdeling 3 PTPN XIII Gunung Meliau Kecamatan Meliau Kabupaten Sanggau. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi besarnya erosi yang terjadi dan besarnya erosi yang masih dapat ditoleransi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini dihitung menggunakan metode USLE dengan mengetahui nilai dari faktor R, K, L, S, C dan P yang merupakan faktor penyebab terjadinya erosi pada areal perkebunan kelapa sawit di lokasi penelitian. Selanjutnya nilai erosi yang dapat ditoleransi dibandingkan dengan nilai prediksi erosi. Setelah dibandingkan nilai prediksi erosi dengan nilai erosi yang dapat ditoleransi, maka perlu dilakukan tindakan konservasi yang direkomendasikan.  Hasil penelitian ini didapatkan bahwa prediksi laju erosi (A) mencapai 140,16 sampai 9737,28 ton/ha/tahun. Nilai prediksi erosi yang dapat ditoleransi (ETOL) berkisar antara 48,22 sampai 32,13 ton/ha/tahun. Pada lahan Ult4 nilai (A) lebih besar dari nilai Etol dengan tingkat bahaya erosi sedang, sedangkan pada lahan Ult18, Ult24, Ult36 nilai (A) lebih besar dari nilai Etol dengan tingkat bahaya erosi sangat berat. Perencanaan dan penanggulangan bahaya erosi yang sesuai adalah pembuatan teras bangku kontruksi baik. Khusus untuk lahan Ult4 dan Ult18 dapat direkomendasikan juga dengan penanaman LCC dan pembuatan teras kontruksi sedang.Katakunci : Prediksi erosi USLE, Kelapa sawit, Perkebunan PTPN XIII
Kajian Kapasitas Infiltrasi Lahan Jeruk dan Karet Di Daerah Pasang Surut Desa Sebawi Kabupaten Sambas Saputra, Rendi; Chandra, Tino Orciny; Junaidi, Junaidi
Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 8, No 1 (2018): Perkebunan dan Lahan Tropika
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.364 KB) | DOI: 10.26418/plt.v8i1.29785

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari laju atau kapasitas infiltrasi pada lahan yang berbeda (lahan jeruk dan lahan karet) pada wilayah pasang surut di Desa Sebawi Kabupaten Sambas. Pengukuran laju infiltrasi dilakukan pada 4 titik pengukuran tiap lahan, sehingga diperoleh 8 titik pengukuran. Laju infiltrasi diukur dengan menggunakan alat infiltrometer cincin ganda. Keberadaan vegetasi seperti rerumputan memberikan perbedaan laju infiltrasi yang nyata. Dari hasil pengukuran di lapangan, diperoleh pengukuran laju infiltrasi pada lahan jeruk pada saat pasang yaitu 11,78 cm/jam sedangkan pada lahan karet 4,79 cm/jam dan pada saat surut laju infiltrasi lahan jeruk 15,30 cm/jam sedangkan di lahan karet 8,58 cm/jam. Dari hasil analisis laboratorium yang dilakukan bahwa tekstur tanah di dominasi oleh liat, dan menunjukkan t hitung pada lahan jeruk dan lahan karet bahwa bobot isi, porositas, kadar air, berat jenis partikel dan permeabilitas tanah tidak berbeda nyata terhadap t tabel. Tanaman penutup tanah seperti rerumputan sangat membantu meningkatkan porositas tanah, sehingga semakin banyak tanaman penutup tanah dan rerumputan maka laju infiltrasi semakin baik.Kata kunci : Lahan, Infiltrasi, Permeabilitas, Kebun, Infiltrometer Ring Ganda.
STUDI PERBANDINGAN PENGUKURAN KONDUKTIVITAS HIDROLIKA JENUH PADA TANAMAN SAWAH BERIRIGASI Chandra, Tino Orciny
PedonTropika Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : PedonTropika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.516 KB)

Abstract

Kemampuan tanah melewatkan air disebut permeabilitas dan nilai numeriknya dinyatakan sebagai konduktivitas hidrolika.  Konduktivitas hidrolika jenuh dapat diukur dengan metode sampel tanah utuh dan metode tekstur tanah.  Hasil pengukuran dari dua metode tersebut dibandingkan besarnya secara statistik dengan Uji-t Student pada tingkat kepercayaan 95%. Pada tanah sawah beririgasi, struktur dan tekstur tanah serta bidang batas antara horizon-horizon termasuk kemungkinan adanya lapisan tapak bajak secara keseluruhannya berhubungan dengan kemampuan tanah untuk melewatkan air.  Porositas berpengaruh pada bobot isi dan secara langsung mempengaruhi konduktivitas hidrolika jenuhnya.  Hasilnya menunjukkan konduktivitas hidrolika jenuh yang diukut dengan metode sample tanah utuh nilainya lebih besar dibandingkan dengan hasil pengukuran metode tekstur tanah dan secara statistik berbeda nyata. Sampel tanah utuh menggambarkan kondisi tanah yang alami, tetapi sulit sampel tanahnya terhindarkan dari getaran-getaran, adanya batu/kerikil, akar/sisa tanaman dan bahan-bahan kasar lainnya serta lubang-lubang kecil bekas jalan serangga/hewan kecil yang ikut terambil dalam sampel tanahnya.  Sedangkan pengukuran dengan metode tekstur tanah pendekatannya hanya berdasarkan fraksi liat, debu dan pasir, tetapi pengambilan sampel tanahnya mudah dilakukan. Kata kunci : bobot isi, konduktivitas hidrolika, porositas