Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Peksos: Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial

ADVOKASI SOSIAL BAGI PEKERJA MIGRAN PEREMPUAN Nurhayani Lubis
Peksos: Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Vol 11 No 1 (2012): PEKSOS
Publisher : Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31595/peksos.v11i1.3

Abstract

Abstract This paper discusses about the social advocacy for women migrant workers as an effort to address the problem of them. The effort conducted by the government in handling the problems has not been effective and the problem tends to grow. Social advocacy for women migrant workers formed in case advocacy and class advocacy, depending to the problem and contributing factors. Case advocacy is intended to women migrant workers, and the class advocacy is intended to persuade the policy maker to make changes the policy in favor of the women migrant workers in order to provide a maximum protection for them.  In compiling this paper, author used documentation study method, from documents related to women migrant workers and social advocacy, such as: book, journal, research result, newspaper (as clippings) and internet. Whereas the writing object focused on women migrant workers who work as housemaid, because those cases is the most commonly occur. This paper is intended as a problem solving solution of women migrant workers, how thes foreign exchange “heroes” can work in peace and comfort, their families are helped and their country also benefited. Keywords: social advocacy, women migrant workers Abstrak Karya tulis ini membahas tentang advokasi sosial bagi pekerja migran perempuan Indonesia yang bekerja di luar negeri, sebagai salah satu upaya mengatasi permasalahan yang dialami oleh mereka. Selama ini upaya yang dilakukan pemerintah dalam mengatasi permasalahan pekerja migran perempuan belum efektif, dan masalahnya cenderung bertambah. Advokasi sosial bagi pekerja migran perempuan ini dalam bentuk advokasi kasus (case advocacy) dan atau advokasi kelas (class advocacy), tergantung bentuk masalahnya dan faktor penyebabnya. Advokasi kasus ditujukan kepada pekerja migran perempuan dan advokasi kelas ditujukan kepada pembuat kebijakan, untuk melakukan perubahan atau membuat kebijakan yang berpihak pada kepentingan pekerja migran perempuan, agar bisa memberikan perlindungan maksimal bagi mereka. Dalam menyusun karya tulis ini, penulis menggunakan metode studi dokumentasi, berdasarkan kajian berbagai dokumen tentang pekerja migran perempuan dan advokasi sosial, seperti: buku, jurnal, hasil penelitian, surat kabar (dalam bentuk kliping) dan internet. Sedangkan obyek tulisan difokuskan pada pekerja migran perempuan yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga di luar negeri, karena jumlah kasus tersebut yang paling banyak terjadi selama ini menimpamereka.  Tulisan ini dimaksudkan sebagai solusi mengatasi masalah pekerja migran perempuan, agar pahlawan devisa ini bisa bekerja dengan tenang dan nyaman, keluarganya terbantu dan negara pun diuntungkan.
PELAYANAN KESEJAHTERAAN SOSIAL MELALUI RUMAH SOSIAL ”SALUYU” DI DESA SUKAMAJUKECAMATAN CIKAKAK, SUKABUMI Denti Kardeti; Nurhayani Lubis
Peksos: Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Vol 11 No 2 (2012): PEKSOS
Publisher : Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31595/peksos.v11i2.16

Abstract

AbstractThe research purpose, described Social Welfare Service Rumah Sosial “Saluyu” in Desa Sukamaju, Sukabumi with  participatory action research and  the qualitative approach. The steps are: Initial Reflection, Action Plan preparation, Implementation, Evaluation, Improvement, Re-Implementation, Re-Evaluation. Data resource is Social House Administration and assistant as primary data, Kepala Desa, PPKS,  PSKS officials and staff of Sosial District Sukabumi as secondary data by  indepth interview, FGD and documentation study. The result that Rumah Sosial “Saluyu” activities in implementing social welfare services is identification PMKS as WRSE, RTLH, Neglected Older People, People with Disability and Neglected Children; PSKS and networking with health local unit and nearest business field. The internal problem is  the status and the operational of Rumah Sosial, incentive and capacity of management, facilities and infrastructures.The external problem is the community attitude. To overcome those problems, the officials and assistant capacity are conducted in the form of understanding enhancement about PMKS, PSKS and resources that can be accessed such as the Ministry of Social Affair. After the evaluation, official capacity has not been seen increased, then the training conducted again by the researcher  and  they are able to make 3 proposals, “Overcome Neglected Children”, “Older People” and “Socio-Economy Vulnerable Women”. Keywords: social welfareservices, Rumah Sosial AbstrakTujuan Penelitian ini menggambarkan Pelayanan Kesejahteraan Sosial Rumah Sosial “Saluyu” di Desa Sukamaju, Sukabumi  dengan penelitian tindakan partisipatif  (participatory action research) dengan pendekatan kualitatif. Langkah-langkahnya, yaitu: Refleksi awal, Penyusunan rencana tindakan, Pelaksanaan tindakan/Implementasi, Evaluasi, Penyempurnaan, Re-Implementasi, dan Re-Evaluasi. Sumber data, yaitu: Pengurus dan Pendamping Rumah Sosial sebagai sumber data primer , dan Aparat Desa, Penerima Pelayanan, PSKS, dan Staf Dinas Sosial Kabupaten Sukabumi sebagai sumber data sekunder dengan wawancara mendalam (indepth interview),diskusi kelompok terfokus,  dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan Rumah Sosial “Saluyu” dalam menyelenggarakan pelayanan kesejahteraan sosial dalam bentuk mendata   PMKS yang terdiri dari WRSE (Wanita Rawan Sosial Ekonomi), RTLH (Rumah Tidak Layak Huni), Lanjut Usia Terlantar, Penyandang Cacat dan Anak/Balita Terlantar., PSKS, dan melaksanakan jejaring baik dengan  UPTD Kesehatan dan dunia usaha yang terdekat. Diketahui  masalah interen yaitu status rumah sosial,  Juklak/Juknis Penyelenggaran Rumah Sosial, Insentif Pengurus, Kapasitas Pengurus, Sarana dan Prasarana, dan masalah eksteren Sikap Instansi terkait (Dinas Sosial) dan sikap masyarakat. Untuk mengatasi masalah tersebut, dilakukan penguatan kapasitas pengurus dan pendamping dalam bentuk peningkatan pemahaman tentang keberadaan rumah sosial secara utuh, mengenai PMKS, PSKS dan sumber yang bisa diakses salah satunya Kementerian Sosial. Selain itu diberikan pelatihan cara membuat proposal dan pelaporan. Selanjutnya, setelah dievaluasi, kapasitas pengurus belum terlihat meningkat, kemudian dilakukan lagi pelatihan yang sama oleh tim peneliti, dan setelah dievaluasi mereka mampu membuat 3 proposal, yaitu: Proposal untuk menangani masalah anak terlantar, lanjut usia, dan Wanita Rawan Sosial Ekonomi.    Kata kunci: pelayanan kesejahteraan sosial, Rumah Sosial
COPING STRATEGY PEREMPUAN RAWAN SOSIAL EKONOMI MEMENUHI KEBUTUHAN KELUARGA DI KAMPUNG ADAT CIJERE, RANCAKALONG, SUMEDANG Nurhayani Lubis
Peksos: Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Vol 17 No 1 (2018): PEKSOS
Publisher : Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31595/peksos.v17i1.128

Abstract

Penelitian ini mengkaji Coping Strategy Perempuan Rawan Sosial Ekonomi (PRSE) pada komunitas adat Cijere, Kabupaten Sumedang, tentang problem focused coping dan emotion focused copingnya. PRSE harus menjalankan peran gandanya,  sebagai ibu dan kepala keluarga memenuhi kebutuhan keluarganya, sementara sebelumnya tidak mengenal dunia kerja, tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan. Sementara persoalan  rumah tangga, pengasuhan dan pendidikan anak juga bukan merupakan hal yang mudah, sehingga dapat menimbulkan tekanan psikologis/stres. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, latar penelitian tertutup dan terbuka dengan informan 3 PRSE warga komunitas adat Cijere, tetangga, dan keluarganya, yang ditentukan secara purposive. Teknik pengumpulan data menggunakan Wawancara Mendalam dan Observasi. Pemeriksaan keabsahan data menggunakan uji kredibilitas data: Member Check dan Triangulasi, serta teknik analisis data dengan  Reduksi Data, Kategorisasi dan Pengkodean, Display Data dan Kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan Coping strategy informan sudah terbangun,  problem focused coping maupun emotion focused copingnya, yang bentuknya disesuaikan dengan masalahnya dan sumber/potensi yang ada. Dua informan bekerja membantu warga yang membutuhkan tenaganya dan membantu anaknya berjualan sate (En) dan membuat layangan (Ah) serta membangun sikap tidak peduli. Sedangkan informan Kr tidak bekerja, kebutuhannya dipenuhi orangtua dan saudaranya, berencana kerja di luar desa saat kedua anaknya sudah agak besar, bisa ditinggal dengan keluarganya Kata Kunci : Coping Strategy, PRSE, Komunitas Adat
PERAN TOKOH MASYARAKAT DALAM PEMBERDAYAAN PEREMPUAN RAWAN SOSIAL EKONOMI (PRSE) DI DESA SUKAMULYA KECAMATAN SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA Nurhayani Lubis
Peksos: Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Vol 18 No 2 (2019): PEKSOS
Publisher : Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31595/peksos.v18i2.196

Abstract

Penelitian ini mengkaji Peran Tokoh Masyarakat dalam Pemberdayaan Perempuan Rawan Sosial Ekonomi (PRSE) di Desa Sukamulya, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, yaitu sebagai penggerak, pengorganisasi dan sebagai pengontrol, agar PRSE mampu memenuhi kebutuhan dasarnya, menjangkau sumber-sumber produktif dan mampu berpartisipasi dalam proses pembangunan dan keputusan-keputusan yang mempengaruhi mereka. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan informan 3 orang tokoh masyarakat dan 2 orang PRSE dengan Wawancara Mendalam dan Observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran tokoh masyarakat dalam pemberdayaan PRSE belum maksimal. Bentuk kegiatannya masih melanjutkan kegiatan sebelumnya berupa pembagian sembako pada saat menjelang Bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri. Demikian pula dengan kegiatan pengembangan kapasitas PRSE, hanya berupa latihan keterampilan usaha ekonomi produktif, tidak diiringi dengan latihan keterampilan keterampilan mengemas produksi, strategi pemasaran dan pemberian bantuan modal usaha. Selanjutnya, pada kemampuan menjangkau sumbersumber produktif untuk mengatasi masalah ketiadaan modal usaha dan kelemahan dalam strategi pemasaran juga tidak diberikan. Alasannya, masa kerjanya yang baru, keterbatasan anggaran dan kurangnya tenaga lapangan yang membantu pelaksanaan kegiatan.