Rizka Yulia
Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Medan

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN ANAK USIA 6-8 TAHUN TERHADAP PENCABUTAN GIGI DI KLINIK JURUSAN KEPERAWATAN GIGI TAHUN 2016 Rosdiana Tiurlan Simaremare; Manta Rosma; Rizka Yulia
Jurnal Ilmiah PANNMED (Pharmacist, Analyst, Nurse, Nutrition, Midwivery, Environment, Dentist) Vol. 11 No. 3 (2017): Jurnal Ilmiah PANNMED Periode Januari - April 2017
Publisher : Poltekkes Kemenkes Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.908 KB) | DOI: 10.36911/pannmed.v11i3.99

Abstract

Gigi sulung adalah gigi yang muncul pada masa periode anak-anak, sdimulai dari anak berumur 8 bulan hingga anak berumur 12 tahun. Oleh karena itu anak perlu mendapat perhatian khusus, terutama pada awal dimulainya pertumbuhan gigi permanen menggantikan gigi susu, umumnya anak akan cenderung cemas menghadapi pengalaman pertamanya mencabut gigi susu. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan lembar observasi tingkat kecemasan yang dilakukan dengan cara mengamati reaksi atau respon kecemasan yang tampak pada anak, mencakup respon fisiologis, respon perilaku, respon kognitif dan respon efektif yang menunjukkan tingkat kecemasan anak terhadap pncabutan gigi yaitu tidak ada kecemasan, kecemasan ringan, kecemasan sedang dan kecemasan berat. Penelitian ini dilakukan dengan jumlah responden sebanyak 40 orang. Data yang diperoleh langsung diambil oleh peneliti, dengan hasil anak usia 6-8 tahun baik laki-laki maupun perempuan diperoleh kriteria tidak cemas sebanyak 7 anak (17,5%), kecemasan ringan yaitu sebanyak 17 anak (42,5%), kecemasan sedang sebanyak 13 anak (32,5%), kecemasan berat 3 anak (7,5%). Hal ini menunjukkan bahwa kecemasan anak terhadap pencabutan gigi dapat dikurangi ataupun diatasi dengan dukungan orang tua, membujuk anak dengan memberikan hadiah juga bisa mengurangi kecemasan anak dikarenakan keinginnannya terhadap hadiah tersebut, kemudian keahlian perawat gigi dalam berkomunikasi (komunikasi terapeutik) kepada anak, memberikan pengetahuan mengenai pertumbuhan gigi baik kepada anak maupun orang tua.