Asep Saefumillah
Universitas Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Modifikasi Lapisan Difusi dengan Pengikat Silang N,N’Metilenbisakrilamida (MBA) pada Sistem DGT Berbasis Gel dengan Adsorben TiO2 untuk Penentuan Konsentrasi Fosfat di Lingkungan Akuatik Saefumillah, Asep; Dwi Aprianti, Dhania; Abdullah, Iman; Husna, Inna
Sainsmat : Jurnal Ilmiah Ilmu Pengetahuan Alam Vol 2, No 2 (2013): September
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (581.684 KB) | DOI: 10.35580/sainsmat228562013

Abstract

Konsentrasi fosfat yang tinggi di lingkungan akuatik dapat menyebabkan terjadinya ledakan alga yang dapat mengakibatkan ketidakseimbangan ekosistem air. Oleh karena itu, penentuan ketersediaanbiologi (bioavailabilitas) fosfat perlu dilakukan untuk mengetahui konsentrasinya dalam air. Salah satu metode efektif yang saat ini digunakan dalam penentuan bioavailabilitas fosfat di lingkungan akuatik adalah menggunakan perangkat Diffusive Gradient in Thin Films (DGT) dengan gel berpengikat TiO2. Pada penelitian ini dilakukan modifikasi pengikat silang pada gel poliakrilamida yang digunakan sebagai diffusive gel pada sistem DGT untuk meningkatkan selektivitasnya terhadap anion ortofosfat. Pengikat silang yang digunakan untuk modifikasi adalah N,N’-Metilenbisakrilamida (MBA). Pengaruh variasi konsentrasi pengikat silang MBA terhadap koefisien difusi menghasilkan nilai koefisien difusi berbanding terbalik dengan konsentrasi pengikat silangnya. Pembandingan selektivitas diffusive gel DGT dengan pengikat silang MBA dilakukan melalui perhitungan kadar fosfat total pada kedua sistem tersebut dengan adanya anion pengganggu berupa asam fitat dan asam humat. Perhitungan dilakukan menggunakan sistem deployment dalam waktu 24 jam dan variasi konsentrasi pengikat silang MBA (0,05%; 0,2%; dan 0,3%). Melalui perhitungan ini diketahui bahwa gel pendifusi (diffusive gel) dengan konsentrasi pengikat silang MBA sebesar 0,3% menunjukkan selektivitas terbaik terhadap anion ortofosfat. Hal ini dibuktikan melalui percobaan dengan suatu gangguan fosfat organik. Konsentrasi asam fitat dan asam humat yang teradsorpsi pada sistem ini cenderung tetap meski konsentrasinya bertambah. Hal ini membuktikan bahwa diffusive gel MBA 0,3% memiliki batas tertentu dalam melewatkan kedua asam organik tersebut, yaitu hanya sebesar 28,753 μg untuk asam fitat dan untuk asam humat sebesar 33,177 μg. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa MBA dapat digunakan sebagai pengikat silang pada diffusive gel poliakrilamida dalam sistem DGT. Penggunaan pengikat silang MBA juga dapat menghasilkan pengukuran kadar ketersediaan biologi fosfat yang lebih akurat karena lebih selektif terhadap ortofosfat dan bersifat membatasi jumlah fosfat organik yang terdifusi yang dapat mengganggu analisis kadar ortofosfat.Kata Kunci: DGT, Ortofosfat, (MBA), Koefisien Difusi, Gel Pendifusi
Validasi Metode Analisis Bahan Pembanding Sekunder Anhidrotetrasiklin Hasil Transformasi In Situ Tetrasiklin Hidroklorida dengan Asam Hidroklorida Kurniyati, Fajar; Saefumillah, Asep
Sainsmat : Jurnal Ilmiah Ilmu Pengetahuan Alam Vol 3, No 1 (2014): Maret
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.597 KB) | DOI: 10.35580/sainsmat3110142014

Abstract

Parameter mutu dan keamanan obat seringkali dikaitkan dengan kandungan cemaran di dalamnya terutama terkait dengan cemaran yang bersifat racun atau karsinogenik. Dalam konteks pengawasan obat di Indonesia, analisis yang akurat dalam mendeteksi dan mengkuantisasi cemaran pada senyawa obat maupun produk obat perlu dilakukan. Namun demikian, ketersedian bahan pembanding cemaran yang merupakan salah satu faktor penentu jaminan mutu hasil pengujian laboratorium, seringkali menjadi kendala karena sukar diperoleh dan cukup mahal harganya. Penelitian ini dimaksudkan untuk membuat bahan pembanding sekunder cemaran secara in situ dengan cara mengubah senyawa aktifnya dalam hal ini anhidrotetrasiklin hidroklorida yang dibuat melalui transformasi tetrasiklin hidroklorida dengan asam hidroklorida. Analisis kualitatif pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan HPLC yang dilengkapi detektor dioda array, sementara analisis kuantitatifnya dilakukan menggunakan HPLC UV-vis pada panjang gelombang 280 nm. Anhidrotetrasiklin hasil transformasi diuji stabilitasnya dengan microwave dan paparan sinar matahari dan hasilnya menunjukkan bahwa senyawa yang terbentuk bukan produk intermediet. Semua parameter validasi metode seperti spesifisitas/selektivitas, rentang, linearitas, presisi dan akurasinya telah terpenuhi dengan nilai sangat baik. Uji homogenitas juga dilakukan dan tetrasiklin hidroklorida yang diuji dapat dinyatakan homogen dalam hal pembentukan anhidrotetrasiklin hidroklorida. Nilai yang ditetapkan terhadap baku pembanding primer anhydrotetracycline hydrochloride EPRS adalah 102,05%, n=10, SD=0,64%, RSD=0,63% tanpa data outlier. Nilai estimasi ketidakpastian pengukuran diperluas yaitu 3,19%.Kata kunci: bahan pembanding sekunder in situ, anhidrotetrasiklin hidroklorida, transformasi, tetrasiklin hidroklorida, validasi metode, homogenitas
Studi Pemanfaatan Limbah Biomassa sebagai Raw Material Adsorben SiC dalam Penurunan Konsentrasi Amonia sebagai Parameter Bau dalam Air Limbah Agustiani, Tia; Saefumillah, Asep; Ambarsari, Hanies
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22 No. 2 (2021)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v22i2.4838

Abstract

ABSTRACT Biomass as raw material is one solution that can be developed in the management of agricultural, plantation, and industrial waste. The utilization of biomass-derived from waste can help reduce pollution and environmental pollution. This research was conducted to make Silicon Carbide (SiC) adsorbent from wood biomass using Sengon sawdust as a source of carbon and non-wood biomass, namely coconut husk, as a source of silica. SiC adsorbent is applied for ammonium adsorption, which has implications on reducing ammonia gas from wastewater, reducing odor. The research methods included isolation of silica and carbon, the production of SiC adsorbent by magnesiothermic reduction, and the characterization of SiC adsorbents with XRD and SEM-EDX. Adsorption capacities of SiC to ammonium were determined according to SiO2:C adsorbent ratios (1:3 and 5:3), adsorbent mass variations, and ammonium concentrations in simulated wastewater using the spectrophotometric method. The results showed that SiC could be used as an adsorbent because there are pores on the surface structure. The optimum SiO2:C adsorbent ratio in adsorbing ammonium was 1:3 (SiC 136) with 45% adsorbed ammonium and an adsorption capacity of 0.47 mg/g. The optimum adsorbent mass in adsorbing ammonium was 0.1 g with 41.77% adsorbed ammonium. The optimum concentration of ammonium in simulated wastewater for ammonium adsorption was 20 mg/L with 46.25% adsorbed ammonium. The adsorption isotherm pattern during the ammonium adsorption process follows the Freundlich isotherm, which means that the adsorption process occurs physically. Keywords: adsorbent, adsorption, ammonia, biomass, coconut husk, SiC   ABSTRAK Biomassa sebagai raw material merupakan salah satu solusi yang dapat dikembangkan dalam pengelolaan limbah hasil pertanian, perkebunan, dan industri. Pemanfaatan biomassa yang berasal dari limbah dapat membantu mengurangi tingkat polusi dan pencemaran lingkungan. Penelitian ini dilakukan untuk membuat adsorben Silikon Carbida (SiC) dari biomassa kayu yaitu memanfaatkan serbuk gergaji kayu Sengon sebagai sumber karbon dan biomassa non kayu yaitu sabut kelapa sebagai sumber silika. Adsorben SiC diaplikasikan dalam penjerapan amonium yang berimplikasi pada potensi penurunan gas amonia dari air limbah sehingga adsorben SiC berpotensi mengurangi bau dalam air limbah. Metode penelitian meliputi isolasi silika, isolasi karbon, pembuatan adsorben SiC secara reduksi magnesiotermik dan karakterisasi adsorben SiC dengan XRD dan SEM-EDX. Penentuan daya adsorpsi SiC sebagai adsorben terhadap variasi rasio adsorben SiO2:C (1:3 dan 5:3), variasi massa adsorben, variasi konsentrasi limbah simulasi menggunakan metode spektrofotometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SiC dapat digunakan sebagai adsorben karena terdapat pori-pori pada struktur permukaan. Variasi rasio adsorben SiO2:C optimum dalam mengadsorpsi amonium ialah SiC 136 dengan amonium teradsorpsi sebanyak 45% dan kapasitas adsorpsi sebesar 0,47 mg/g. Massa adsorben optimum dalam mengadsorpsi amonium ialah 0,1 g dengan amonium teradsorpsi 41,77%. Konsentrasi optimum limbah simulasi dalam adsorpsi amonium 20 mg/L dengan amonium teradsorpsi 46,25%. Pola isoterm adsorpsi selama proses adsorpsi amonium mengikuti isoterm Freundlich, yang berarti proses adsorpsi cenderung terjadi secara fisika. Kata kunci: adsorben, adsorpsi, amonia, biomassa, sabut kelapa, SiC