Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Conditions of Kejawanan Beach Based on Standard Quality and Suitability for Pollution Index Marine Tourism Area Sudirman, Nasir; Husrin, Semeidi; Ruswahyuni, Ruswahyuni
Jurnal ILMU DASAR Vol 15 No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (789.92 KB) | DOI: 10.19184/jid.v15i1.637

Abstract

Kejawanan tourist beach is one beach which is located in West Java. This beach is located side to the Kejawanan fishing port. Kejawanan beach topography sloping beach with quiet waters and the waves are not too big. The dominant wind direction throughout the year that influencet the formation of ocean waves are heading toward the bay coast of Cirebon. The existence tourist beach that is located near to the fishing port crowded with activity interesting to known the conditions coast as marine tourism area based on Water quality standars according to Decree of The Minister of Environment Number 51 of 2004. Pollution indeks is based on Decree of The Minister of Environment Number 115 of 2003. Indication of biological contamination by Diversity index of makrobentic animal. The results of the research obtained Water quality standard for marine tourism area mostly exceeded. Pollution index is at the level Heavy pollution. Diversity index of macrobentic animal are at the level of Medium Pollution. Keywords : Kejawanan, standard quality, pollution index, diversity index  
BAKU MUTU AIR LAUT UNTUK KAWASAN PELABUHAN DAN INDEKS PENCEMARAN PERAIRAN DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA KEJAWANAN, CIREBON (Water Quality Standards For Port Area And Water Pollution Index In Fisheries Port Kejawanan, Cirebon) Sudirman, Nasir; Husrin, Semeidi; Ruswahyuni, Ruswahyuni
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 9, No 1 (2013): JURNAL SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3521.619 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.9.1.14-22

Abstract

Pelabuhan Perikanan Nusantara Kejawanan secara administratif terletak di wilayah Kota Cirebon. Pelabuhan ini merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis dari Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Kementerian Kelautan dan Perikanan yang sangat penting peranannya dalam mendukung program industrialisasi perikanan di Cirebon. Aktivitas pelabuhan perikanan yang cukup ramai dengan berbagai kegiatannya antara lain aktivitas bongkar ikan, perbengkelan serta posisinya yang dekat dengan sungai dan terdapat berbagai pabrik pengolahan ikan tentunya akan menimbulkan dampak terhadap kualitas airnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian baku mutu air laut untuk pelabuhan serta untuk mengetahui indeks pencemaran yang terjadi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini pada dasarnya secara kuantitatif dimana pengumpulan data yang dilakukan dengan pengukuran kualitas air menggunakan Water quality cheker, identifikasi laboratorium untuk sedimen dan air. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini ternyata kondisi kolam Pelabuhan Perikanan Nusantara Kejawanan dalam kondisi tercemar sedang, dimana parameter pH dan Seng berada diatas ambang batas baku mutu yang disyaratkan. Kata kunci : Pelabuhan, Indeks Pencemaran, Baku Mutu, Kejawanan Kejawanan fishing port administratively located in the city of Cirebon. Theportis administrativelyunder the DirectorateGeneral of CapturedFisheries, Ministery of Marine Affairs and Fisheriesand is veryimportantinsupporting thefisheries industriesinCirebon. Activityfishing portsarequite crowdedwitha variety ofactivitiesincluding afishloading activities, workshop activities as well asits positionnear to theriverandthere area varietyof fishprocessing plants, will certainlyhave an impactonwaterquality. This studyto determinethe suitability ofseawaterquality standardforthe portas well asto determine thepollution. This port The method used in this study are essentially quantitative where data collection was carried out by measuring the water quality using Water Quality Cheker and laboratory test for the identification for sediment and water quality parameters. The results show that the condition of the Fishing Port of Kejawanan was in a moderate polluted conditions which the parameters of pH and zinc were above the required threshold. Key words : Port, Pollution Index, Standards, Kejawanan
Ekosistem Lamun sebagai Bioindikator Lingkungan di P. Lembeh, Bitung, Sulawesi Utara Rustam, Agustin; Kepel, Terry L.; Kusumaningtyas, Mariska A.; Ati, Restu Nur Afi; Daulat, August; Suryono, Devi D.; Sudirman, Nasir; Rahayu, Yusmiana P.; Mangindaan, Peter; Heriati, Aida; Hutahaean, Andreas A.
JURNAL BIOLOGI INDONESIA Vol 11, No 2 (2015): JURNAL BIOLOGI INDONESIA
Publisher : Perhimpunan Biologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jbi.v11i2.2197

Abstract

ABSTRACTSeagrass ecosystem has a function of spawning, nursery, and feeding ground. Besides, it could be used as a bio-indicator of environmental health. This study of seagrass ecosystem was done in 17- 22 May 2014 in Lembeh Island and Tanjung Merah, Bitung. The purpose of the study is to obtain existing condition of seagrass ecosystem and its role as environment bio-indicator. Purposive sampling method was used representing all study sites. Structure analysis of seagrass communities describes the existing condition, while scoring / weighting method estimate current condition of the seagrass. Results that show there are seven species of seagrass. In the stations opposite to Bitung mainland, 75% of the seagrass are Enhalus acoroides (10-50% covers). Importance value index of the seagrass species were Enhalus acoroides (231–300 %), Thalassia hemprichii ( 102–198 %) and Halophila ovalis (110 %) respectively. Based on the weighting method and environmental standard quality, seagrass ecosystem in Lembeh island opposite to Bitung mainland was in damage and unhealthy condition, while seagrass ecosystem opposite to the open sea was in a good and healthy condition. This was due to the domestic waste that is trapped in seagrass ecosystem in the study site. It is necessary to improve awareness to maintain quality of environmental.  Keywords: seagrass, existing, bioindicator, Lembeh Island 
Seagrass Ecosystem Carbon Stock In The Small Islands: Case Study In Spermonde Island, South Sulawesi, Indonesia Rustam, Agustin; Sudirman, Nasir; Afi Ati, Restu Nur; Salim, Hadiwijaya Lesmana; Rahayu, Yusmiana Puspitaningsih
Jurnal Segara Vol 13, No 2 (2017): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1198.664 KB) | DOI: 10.15578/segara.v13i2.6445

Abstract

Small islands are particularly rich with coral reefs and seagrass ecosystems and coastal plants. Seagrass is one of the coastal ecosystems of blue carbon, which is capable of storing utilize and store CO2 in the form of organic carbon in biomass and sediment. The purpose of this study to get the carbon stock of seagrass and its role in climate change. The survey method with sampling purposive sampling representing all research sites and analyzed the amount of carbon contained in biomass and sediment. The result showed that there were eight species of seagrass found, and the highest carbon stock  on the type Enhalus acoroides at  Kapoposang island was 1.64 MgC / ha. The average value of the total biomass of carbon stock in the island's largest seagrass Bauluang island  was 1.89 ± 0.92 Mg C / ha with the largest at the ground below 77% of total carbon biomass. Carbon stock in sediments of seagrass ecosystems average of 531.87 ± 74.08 Mg C / ha up to a depth of 50 cm. The role of seagrass in Spermonde archipelago waters in climate change in both the biomass and sediment for MgC 533.25 MgC/ ha is equivalent to the use of CO2 for 1955.26 MgCO2e / ha.
Simulasi Daya Dukung Lingkungan di Pulau Gili Ketapang-Probolinggo dengan Mengandalkan Curah Hujan sebagai Pemenuhan Kebutuhan Air Ramdhan, Muhammad; Husrin, Semeidi; Pryambodo, Dino Gunawan; Prihantono, Joko; Nur Amri, Syahrial; Prihatno, Hari; Sudirman, Nasir; -, Hasanuddin; Iswahyudi, Sachrul
Jurnal Kelautan Nasional Vol 14, No 1 (2019): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.529 KB) | DOI: 10.15578/jkn.v14i1.6861

Abstract

Hujan merupakan salah satu sumberdaya air yang penting bagi kehidupan manusia. Keseimbangan lingkungan dapat diketahui dari ketersediaan sumber air yang berguna untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Daya dukung lingkungan adalah kemampuan lingkungan untuk menunjang kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Salah satu cara menentukan daya dukung lingkungan adalah dengan pendekatan ketersediaan dan kebutuhan air. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan simulasi terhadap status daya dukung lingkungan berdasarkan ketersediaan air bulanan dari curah hujan dan kebutuhan air di Pulau Gili Ketapang-Probolinggo dalam satu tahun. Metode yang digunakan untuk mengetahui daya dukung lingkungan adalah analisis kuantitatif melalui perbandingan antara penghitungan ketersediaan air dan kebutuhan air. Hasil penghitungan status daya dukung lingkungan berdasarkan ketersediaan air dan kebutuhan air di Gili Ketapang apabila dihitung berdasarkan kebutuhan layak air minum 130 liter/orang/hari adalah defisit sebesar 33.389.799,47 liter/bulan.
Cadangan Karbon Ekosistem Mangrove di Sulawesi Utara dan Implikasinya Pada Aksi Mitigasi Perubahan Iklim Kepel, Terry Louise; Nur Afi Ati, Restu; Rustam, Agustin; Puspitaningsih Rahayu, Yusmiana; Astrid Kusumaningtyas, Mariska; Daulat, August; D. Suryono, Devi; Sudirman, Nasir; Susetyo Adi, Novi; Maria Helena Mantiri, Desy; Albertino Hutahaean, Andreas
Jurnal Kelautan Nasional Vol 14, No 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.705 KB) | DOI: 10.15578/jkn.v14i2.7711

Abstract

Sulawesi Utara adalah salah satu provinsi yang menerapkan kebijakan rencana aksi nasional/daerah (RAN/RAD) gas rumah kaca sebagai bagian dari usaha nasional dalam mitigasi perubahan iklim. Salah satu kegiatan mitigasi berbasis lahan di Sulawesi Utara adalah pengukuran dan monitoring biomas dan stok karbon di hutan termasuk hutan pantai yang luasan pengukuran masih terbatas. Pada tahun 2013-2015, Tim Penelitian Karbon Biru melakukan penelitian di empat lokasi di Sulawesi Utara yang bertujuan untuk menganalisis kondisi ekologis dan kemampuan ekosistem pesisir terutama mangrove dalam menyimpan karbon serta implikasi pada mitigasi gas rumah kaca. Lokasi penelitian terletak di Ratatotok – Kabupaten Minahasa Tenggara, Kema – Kabupaten Minahasa Utara, Pulau Lembeh – Kota Bitung dan  Pulau Sangihe – Kabupaten Sangihe. Jenis mangrove yang teridentifikasi adalah 17 spesies dan 3 spesies diantaranya yaitu B. gymnorrhiza, R. mucronata dan S. alba ditemukan di semua lokasi. Keanekaragaman spesies berkisar dari rendah sampai sedang dan penyebaran spesies tidak merata.  Kapasitas penyimpanan karbon adalah sebesar 343,85 Mg C ha-1 di Ratatotok, 254,35 Mg C ha-1 di Lembeh, 387,95 Mg C ha-1 di Kema, dan 594,83 Mg C ha-1 di Sangihe. Lebih dari 59% simpanan karbon berada pada sedimen. Nilai rata-rata simpanan karbon di keempat lokasi penelitian sebesar 456,86 M C ha-1 atau 5,70 Tg C setelah dikonversi dengan luas total ekosistem mangrove Sulawesi Utara. Nilai ini setara dengan penyerapan CO2 dari atmosfer sebesar 20,70 Tg CO2e. Potensi emisi akibat perubahan lahan mangrove mencapai 0,42 Tg CO2e. Upaya meningkatkan kontribusi penurunan emisi Sulawesi Utara dapat dicapai dengan melakukan intervensi pengurangan emisi melalui rehabilitasi dan konservasi ekosistem mangrove.
Identifikasi Likuifaksi di Kawasan Pesisir Kota Padang dengan Metoda Geolistrik 2D Pryambodo, Dino Gunawan; Sudirman, Nasir
Jurnal Segara Vol 15, No 3 (2019): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/segara.v15i3.7732

Abstract

Studi kasus penyelidikan likuifaksi dilakukan di kawasan pesisir kota Padang, yang terletak di pesisir barat Sumatra, pada zona ini sering tejadinya gempa bumi. Prediksi dari zona likuifaksi ini daerah kegempaan yang tinggi akan sangat membantu untuk mitigasi bahaya bencana gempa bumi. Geolistrik 2D menggunakan konfigurasi Wenner telah dilakukan dan bisa membantu untuk menggambarkan zona likuifaksi. Lintasan geolistrik ini terdiri dari empat lintasan yaitu lintasan UBH, lintasan Parak Gadang, lintasan Purus dan lintasan Telkom dengan bentangan kabel sepanjang 160 meter dan dengan kedalaman penetrasi sedalam 26,5 meter. Dengan latar belakang ini, bahwa dalam hubungannya dengan karakteristik tanah dan sedimen menunjukkan hubungan yang tinggi terhadap likuifaksi, dan anomali nilai tahanan jenis akan memberikan informasi penting untuk memprediksi dan mengidentifikasi zona likuifaksi. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan lapisan bawah permukaan terdiri dari endapan aluvial yang jenuh air sehingga berpotensi menjadi likuifaksi selama terjadinya gempa bumi. Pada model 2-D geolistrik ini dengan nilai tahanan jenisnya rendah < 2 Ωm dan dengan kedalaman rata-rata kurang dari 10 meter dan di lintasan Telkom di beberapa tempat kedalaman likuifaksinya mencapai 20 meter.
EKOSISTEM LAMUN SEBAGAI BIOINDIKATOR LINGKUNGAN DI P. LEMBEH, BITUNG, SULAWESI UTARA Rustam, Agustin; Kepel, Terry L.; Kusumaningtyas, Mariska A.; Ati, Restu Nur Afi; Daulat, August; Suryono, Devi D.; Sudirman, Nasir; Rahayu, Yusmiana P.; Mangindaan, Peter; Heriati, Aida; Hutahaean, Andreas A.
JURNAL BIOLOGI INDONESIA Vol 11, No 2 (2015): JURNAL BIOLOGI INDONESIA
Publisher : Perhimpunan Biologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jbi.v11i2.2197

Abstract

ABSTRACTSeagrass ecosystem has a function of spawning, nursery, and feeding ground. Besides, it could be used as a bio-indicator of environmental health. This study of seagrass ecosystem was done in 17- 22 May 2014 in Lembeh Island and Tanjung Merah, Bitung. The purpose of the study is to obtain existing condition of seagrass ecosystem and its role as environment bio-indicator. Purposive sampling method was used representing all study sites. Structure analysis of seagrass communities describes the existing condition, while scoring / weighting method estimate current condition of the seagrass. Results that show there are seven species of seagrass. In the stations opposite to Bitung mainland, 75% of the seagrass are Enhalus acoroides (10-50% covers). Importance value index of the seagrass species were Enhalus acoroides (231?300 %), Thalassia hemprichii ( 102?198 %) and Halophila ovalis (110 %) respectively. Based on the weighting method and environmental standard quality, seagrass ecosystem in Lembeh island opposite to Bitung mainland was in damage and unhealthy condition, while seagrass ecosystem opposite to the open sea was in a good and healthy condition. This was due to the domestic waste that is trapped in seagrass ecosystem in the study site. It is necessary to improve awareness to maintain quality of environmental.  Keywords: seagrass, existing, bioindicator, Lembeh Island 
Perubahan Spasial dan Temporal Luas Wilayah untuk Pengembangan Wisata Bahari di Bagaian Barat Pulau Gili Ketapang Probolinggo Jawa Timur Pryambodo, Dino Gunawan; Hasanudun, Muhamad; kusmanto, Edi; Sudirman, Nasir
Jurnal Segara Vol 16, No 1 (2020): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2632.137 KB) | DOI: 10.15578/segara.v16i1.8648

Abstract

Pulau Gili Ketapang yang berpenduduk padat, dengan kepadatan mencapai 12.356 jiwa/ km2 dan mempunyai luasan sebesar 68 hektar atau 0,68 km2 termasuk katagori pulau kecil. Dengan adanya Perda Kab. Probolinggo no15 th.2001 menjadika Pulau Gili Ketapang menjadi salah satu destinasi wisata bahari di Kab.Probolinggo, pesona pasir putih di barat wilayah dari Pulau Gili Ketapang yang menjadi salah satu daya tarik wisatawan. Perubahan luasan wilayah hamparan pasir putih tersebut akan mengurangi wilayah hamparan pasir putih tersebut karena kehilangan hamparan pasir tersebut akan mengurangi keragaman destinasi wisata. Metoda penelitian menggunakan google earth image digunakan sebagai sumber masukan utama untuk membuat peta perubahan wilayah selain penelitian lapangan yang berupa pengukuran garis pantai, batimetri dan pola arus di wilayah perairan Gili Ketapang. Dari data citra Satelit dari tahun 2004 sampai tahun 2018 terjadi penyusutan luas wilayah untuk pasir putih di Barat Pulau Gili Ketapang sebesar 0.288 Ha. Batimetri Perairan Gili Ketapang secara umum memiliki kedalaman terukur antara 0-34 meter, Daerah terdalam terdapat disebelah utara Pulau Gili Ketapang dengan jarak sekitar 1.700 m. Sebelah Barat dari Pulau Gili Ketapang memiliki dasar laut yang agak dangkal kurang dari 20 m sehingga sangat cocok untuk dikembangkan menjadi daerah wisata bahari.
Tekanan Ekologi dan Nilai Moneter Karbon Biru Ekosistem Mangrove Muara Gembong, Teluk Jakarta Kepel, Terry Louise; Mbay, La Ode Nurman; Nugraha, R. Bambang Aditya; Jayawiguna, M. Hikmat; Mangindaan, Peter; Sudirman, Nasir
Jurnal Kelautan Nasional Vol 16, No 2 (2021): AGUSTUS
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkn.v16i2.9917

Abstract

Muara Gembong merupakan daerah yang mengalami tekanan antropogenik yang memberikan dampak signifikan bagi ekosistem pesisir di wilayah Teluk Jakarta. Riset ini bertujuan untuk menilai kondisi ekosistem mangrove, menghitung biomasa dan jumlah karbon yang tersimpan di dalam vegetasi mangrove per satuan luas (hektar) guna menentukan nilai moneternya. Riset dilakukan dengan pengamatan dan pengukuran mangrove untuk mengidentifikasi jenis mangrove, jumlah tegakan serta mengukur diameter batang pohon mangrove. Hasil riset menunjukkan bahwa rata-rata biomass dan karbon yang tersimpan di ekosistem mangrove Muara Gembong adalah sebesar 258,81 Mg/ha dan 119,97 Mg C/ha. Potensi kehilangan nilai ekonomi akibat kehilangan karbon ditaksirkan berkisar antara 1,15-2,84 x 1011 rupiah atau setara dengan 2,7-6,7 milyar per tahun. Kondisi kerusakan diperparah dengan adanya serangan hama, abrasi dan sampah. Dibutuhkan skenario rehabilitasi dengan memperhitungkan luasan area mangrove yang terdampak serta besarnya nilai kerugian moneter akibat kerusakan dan jasa ekosistem mangrove yang hilang.