Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

SIMULASI PENETAPAN KARAKTERISTIK PENGERINGAN SEMPROT LATEKS BERDASARKAN TEKNIK KOMPUTASI DINAMIKA FLUIDA Vachlepi, Afrizal; Suwardin, Didin; Abidin, A. Zainal
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 31, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v31i1.131

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari karakteristik proses pengeringan lateks karet alam dengan alat pengering semprot menggunakan pendekatan teknik komputasi dinamika fluida (computational fluid dynamic/CFD). Kegiatan penelitian ini meliputi penentuan model CFD untuk menggambarkan sistem pengeringan semprot, penentuan kondisi batas simulasi, penentuan parameter operasi, dan simulasi pengeringan. Variasi perlakuan berupa kadar air lateks terdiri atas 65%, 70%, 75%, dan 80%. Sedangkan suhu udara pengering terdiri atas 140°C, 150°C, 160°C, 170°C, dan 180°C. Dari penelitian yang sudah dilakukan dapat disimpulkan bahwa kadar air lateks dan suhu udara pengering berpengaruh terhadap proses pengeringan kaitannya dengan kecepatan udara-partikel, waktu pengeringan, diameter partikel, kadar air produk, dan perubahan suhu udara-partikel. Simulasi CFD memprediksi diameter partikel produk akhir sekitar 130-135 micrometer dengan kadar air sekitar 0,32-0,58%. Suhu produk akhir yang keluar dari ruang pengering sekitar 37-54 °C. Diterima : 1 November 2012; Disetujui : 7 April 2013 How to Cite : Vachlepi, A., Suwardin, D., & Abidin, A. Z. (2013). Simulasi penetapan karakteristik pengeringan semprot lateks berdasarkan teknik komputasi dinamika fluida. Jurnal Penelitian Karet, 31(1), 30-44. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/131
PENGAWETAN KAYU KARET MENGGUNAKAN BAHAN ORGANIK DENGAN TEKNIK PERENDAMAN PANAS Vachlepi, Afrizal; Suwardin, Didin; Hanifarianty, Sherly
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 33, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v33i1.171

Abstract

Kebutuhan kayu terus mengalami peningkatan. Sementara itu, ketersediaan kayu hutan semakin berkurang dan terbatas. Kayu karet dapat menjadi salah satu alternatif pengganti kayu alam. Untuk meningkatkan ketahanan kayu karet dari organisme perusak kayu seperti serangga dan jamur, perlu dilakukan pencegahan dan pengawetan. Penggunaan pengawet kimia diduga mempunyai dampak negatif terhadap lingkungan. Oleh karena itu perlu alternatif pengawet organik yang lebih ramah lingkungan. Aplikasi bahan pengawet pada kayu karet alam dapat menggunakan teknik perendaman panas. Faktor perlakuan terdiri atas jenis bahan pengawet dan lama perendaman. Bahan pengawet yang digunakan berupa asap cair 5%, ekstrak kunyit 5%, formalin 5% dan boraks 5%. Sedangkan waktu perendaman kayu karet terdiri dari 0 (kontrol), 1, 3, dan 5 jam. Parameter yang diamati yaitu retensi bahan pengawet, penyusutan berat, warna dan derajat proteksi terhadap kerusakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan asap cair sebagai bahan pengawet kayu karet lebih baik dibandingkan ekstrak kunyit. Retensi dan derajat proteksi asap cair sebagai bahan pengawet tidak berbeda dibandingkan dengan bahan pengawet kimia, boraks dan formalin. Penggunaan asap cair hanya akan mempengaruhi warna kayu karet menjadi cokelat muda setelah perendaman. Warna ini akan berubah selama proses penyimpanan menjadi cokelat sangat pucat. Aplikasi terbaik bahan pengawet asap cair adalah perendaman selama 1 jam. Diterima : 12 Maret 2015; Direvisi : 28 April 2015; Disetujui : 7 Mei 2015  How to Cite : Vachlepi, A., Suwardin, D., & Hanifarianty, S. (2015). Pengawetan kayu karet menggunakan bahan organik dengan teknik perendaman panas. Jurnal Penelitian Karet, 33(1), 57-64. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/171 
KARAKTERISASI KONDISI PENGGUMPALAN DAN MUTU KARET YANG DIGUMPALKAN DENGAN KOAGULAN DEORUB FORMULA BARU Vachlepi, Afrizal; Suwardin, Didin; Purbaya, Mili
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 33, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v33i2.182

Abstract

Penggunaan koagulan menentukan kondisi penggumpalan dan mutu karet yang akan dihasilkan. Koagulan anjuran, asam format dan asap cair murni, masih belum digunakan secara luas oleh petani karet. Asam format menghasilkan bokar berbau busuk, berbahaya bagi manusia dan lingkungan serta harganya mahal. Sedangkan asap cair murni memerlukan konsentrasi dan dosis yang lebih banyak sehingga kurang ekonomis. Sekarang ini sudah dikembangkan koagulan Deorub formula baru yang memiliki kelebihan dibandingkan kedua koagulan anjuran tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari karakteristik kondisi penggumpalan dan mutu karet yang digumpalkan dengan koagulan Deorub formula baru. Parameter yang diamati terdiri atas kondisi penggumpalan, kadar karet kering koagulum, karakteristik karet mentah, mutu teknis, karateristik vulkanisasi, dan sifat fisik vulkanisat karet yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu, pH penggumpalan, mutu teknis, modulus torsi, dan sifat fisik vulkanisat karet yang digumpalkan dengan koagulan Deorub formula baru tidak berbeda dibandingkan asam format dan lebih baik dari Deorub K. Koagulum yang digumpalkan dengan Deorub formula baru ini mempunyai warna coklat muda dan bau asap ringan dengan kadar karet kering lebih tinggi. Mutu teknis karet dari kedua koagulan juga tidak berbeda nyata. Diterima : 15 April 2015; Direvisi : 30 Juni 2015; Disetujui : 3 Agustus 2015  How to Cite : Vachlepi, A., Suwardin, D., & Purbaya, M. (2015). Karakterisasi kondisi penggumpalan dan mutu karet yang digumpalkan dengan koagulan deorub formula baru. Jurnal Penelitian Karet, 33(2), 175-182. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/182
PENGGUNAAN GARAM AMMONIUM DALAM PRODUKSI KARET VISKOSITAS RENDAH DARI LATEKS Vachlepi, Afrizal; Suwardin, Didin
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 33, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v33i2.184

Abstract

Ekspor karet alam Indonesia masih didominasi SIR 20 yang digunakan sebagai bahan baku produksi ban. Untuk mengurangi konsumsi energi, sebagian pabrik ban sudah mulai mensubstitusi karet SIR 20 dengan jenis mutu yang lebih sesuai berupa karet viskositas mantap dan viskositas rendah. Kedua jenis karet alam ini mampu mengurangi konsumsi energi. Penambahan aditif diperlukan untuk memproduksi karet viskositas rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mencari aditif terbaik dari kelompok senyawa garam ammonium yang dapat digunakan dalam pembuatan karet alam viskositas rendah sesuai dengan persyaratan mutu ekspor. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan satu faktor perlakuan, yaitu jenis bahan aditif terdiri dari ammonium sulfat, ammonium klorida, ammonium dihidrogen fosfat dan ammonium nitrat  serta HNS sebagai kontrol dengan dosis 0,15% berat per berat (b/b) karet kering dan tanpa aditif (blanko). Parameter yang diamati terdiri atas kondisi penggumpalan (pH dan waktu penggumpalan), Po, PRI, ASHT, viskositas Mooney, SVI, kadar abu dan kadar gel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya dua jenis senyawa garam ammonium yang dapat digunakan sebagai aditif untuk menghasilkan karet viskositas rendah yaitu ammonium sulfat dan ammonium dihidrogen fosfat. Mutu kedua karet tersebut memenuhi persyaratan sebagai karet viskositas rendah sesuai dengan SNI No. 1903-2011 tentang SIR. Diterima : 28 Juli 2015; Direvisi : 31 Agustus 2015; Disetujui : 27 September 2015  How to Cite : Vachlepi, A., & Suwardin, D. (2015). Penggunaan garam ammonium dalam produksi karet viskositas rendah dari lateks. Jurnal Penelitian Karet, 33(2), 193-202. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/184
KARAKTERISTIK MUTU KARET ALAM SIR 20CV MENGGUNAKANBAHAN PEMANTAP HIDRAZINE PADA SUHU PENYIMPANAN 60 °C Vachlepi, Afrizal; Suwardin, Didin
Jurnal Dinamika Penelitian Industri Vol 26, No 2 (2015): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.688 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari stabilitas karet alam SIR 20CV menggunakan bahan pemantap hidrazine selama penyimpanan pada suhu 60 °C. Perlakuan pada penelitian ini terdiri dari dosis penggunaan bahan pemantap (hidrazine 0,1% b/b; 0,2% b/b 0,4% b/b; kontrol HNS dosis 0.15% b/b dan karet tanpa bahan pemantap/blanko) dan lama penyimpanan (0, 1, 4 dan 7 hari pada suhu 60 °C). Bahan pemantap diberikan pada karet alam sebelum diproses dalam mesin ekstruder. Karet alam disimpan dalam oven pada suhu 60 °C sesuai dengan perlakuan lama penyimpanan. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan bahan pemantap mempengaruhi mutu karet alam selama penyimpanan pada suhu 60 °C. Perlakuan bahan pemantap hidrazine 0,4% b/b menghasilkan karet alam dengan mutu yang stabil/konstan selama penyimpanandibandingkan perlakuan lain. Karet alam dengan hidrazine 0,4%b/b memenuhi standar mutu SIR 20CV sesuai SNI 1903-2011 tentang SIR seperti PRI dan viskositas Mooney.Mutu karet alam yang menggunakan pemantap hidrazine 0,4 b/b yaitu nilai Po 31-32, PRI 63-74, SVI 1-3 dan ASHT maksimum 4.
Kajian pembuatan kompon karet alam dari bahan pengisi abu briket batubara dan arang cangkang sawit Vachlepi, Afrizal; Suwardin, Didin
Jurnal Dinamika Penelitian Industri Vol 26, No 1 (2015): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.952 KB)

Abstract

The purpose of this research was to study the effect of alternative fillers use such as palm shell charcoal and coal briquette ash to the vulcanization characteristics of rubber compound and physical properties of vulcanized rubber. This research was carried out in three stages, namely 1) the manufacture of dry blanket as raw rubber material for the solid compound, 2) preparation of alternative fillers, and 3) the making of rubber compound. The use of palm shell charcoal and briquette coal ash was mixed with carbon black fillers each around 20 phr in the compound making. Parameters observed such as technical quality, vulcanization characteristics and physical properties of vulcanized. The research results generally showed the alternative fillers palm shell charcoal (compound B) able to produce rubber vulcanized with better physical properties than coal briquette ash (compound A). Compound B in combination with of 20 phr palm shell charcoal and 20 phr carbon black produced vulcanized rubber with tensile strength approximately 134 kg/cm2, elongation at break 710%, specific gravity 1.134 g/cm3 and and tear resistance around 429 mm2/kg. Vulcanized rubber of compound A has hardness values (47 Shore A) and tear resistance (21.1 KN/m) which was larger and the optimum vulcanization time faster than palm shell charcoal.Keywords: fillers, rubber compound, and physical propertiesAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penggunaan bahan pengisi alternatif berupa arang cangkang kelapa sawit dan abu sisa pembakaran briket batubara terhadap karakteristik vulkanisasi kompon karet dan sifat fisik vulkanisat. Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap, yaitu 1) pembuatan blanket kering sebagai bahan baku pembuatan kompon, 2) penyiapan bahan pengisi alternatif, dan 3) pembuatan kompon karet. Penggunaan arang cangkang sawit dan abu briket batubara dicampurkan dengan bahan pengisi karbon hitam masing-masing sebanyak 20 phr pada pembuatan kompon. Parameter yang diamati berupa mutu teknis, karakteristik vulkanisasi dan sifat fisik vulkanisat. Hasil penelitian secara umum menunjukkan bahan pengisi alternatif arang cangkang kelapa sawit (kompon B) mampu menghasilkan vulkanisat dengan sifat fisik yang lebih baik dibandingkan abu briket batubara (Kompon A). Kompon B dengan kombinasi 20 phr arang cangkang kelapa sawit dan 20 phr karbon hitam menghasilkan vulkanisat dengan tegangan putus sekitar 134 kg/cm2, perpanjangan putus 710%, bobot jenis 1,143 g/cm3 dan ketahanan kikis sebesar 429 mm3/kg. Vulkanisat karet kompon A mempunyai nilai kekerasan (47 Shore A) dan ketahanan sobek (21,1 KN/m) yang lebih besar serta waktu vulkanisasi optimum yang lebih cepat dari kompon arang cangkang kelapa sawit.Kata kunci: bahan pengisi, kompon karet, sifat fisik
INHIBISI KOROSI OLEH HIDROKSILAMIN NETRAL SULFAT TERMODIFIKASI TERHADAP BAJA KARBON - (The Corrosion Inhibition by Modified Hydroxylamine Neutral Sulfate on Carbon Steel) Vachlepi, Afrizal; Suwardin, Didin
Biopropal Industri Vol 7, No 2 (2016)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.874 KB)

Abstract

Production of natural rubber SIR 20CV requires Hydroxylamine Neutral Sulfate (HNS) as stabilizing agent which serves to stabilize viscosity of natural rubber. Several methods of HNS applications among others are spraying, soaking and mixing into the latex. The HNS use may cause corrosion of processing equipments. The aims of this research were to explore the charateristics of modified HNS as stabilizing agents to reduce the corrosion attack on carbon steel. Treatments were consisted of pure HNS and modified HNS. The method was weight loss method with planned interval test. Removal of corrosion products on metal specimen was done by chemical cleaning method based on ASTM G1-90. The results showed that weight loss percentage and corrosion rate of carbon steel by modified HNS were lower than pure HNS. Corrosion resistance criteria of carbon steel by modified HNS was classified as outstanding. Inhibition efficiency of corrosion by modified HNS reached around 98-99%.Keywords: corrosion, inhibition, modified HNS, natural rubber ABSTRAKProduksi karet alam SIR 20CV memerlukan hidroksilamine netral sulfat (HNS) sebagai bahan pemantap yang berfungsi menjaga viskositas karet alam stabil. Beberapa metode aplikasi HNS antara lain penyemprotan, perendaman dan pencampuran ke dalam lateks. Penggunaan HNS dapat menyebabkan korosi pada peralatan pengolahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari dan mengetahui karakteristik inhibisi bahan pemantap HNS termodifikasi dalam mengurangi serangan korosi terhadap logam baja. Perlakuan yang diberikan terdiri atas HNS murni dan HNS termodifikasi. Metode yang digunakan adalah metode kehilangan berat dengan planned interval test. Penghilangan produk korosi pada spesimen logam baja karbon dilakukan dengan metode pembersihan kimia berdasarkan ASTM G1-90. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase kehilangan berat dan laju korosi baja karbon oleh HNS termodifikasi lebih rendah dibandingkan HNS murni. Kriteria ketahanan korosi logam baja karbon oleh HNS termodifikasi tergolong luar biasa. Efisiensi inhibisi serangan korosi oleh HNS termodifikasi mencapai sekitar 98-99%.Kata kunci: HNS termodifikasi, inhibisi, karet alam, korosi
PENGARUH PENAMBAHAN ANHIDRIDA MALEAT TERHADAP MUTU TEKNIS KARET ALAM TERMODIFIKASI Vachlepi, Afrizal; Purbaya, Mili
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 37, Nomor 1, Tahun 2019
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v37i1.618

Abstract

Pemaduan (blending) polimer karet alam dengan pati alam yang mempunyai sifat dan karakteristik berbeda dapat menghasilkan polimer dengan karakteristik baru. Polimer karet alam yang non polar perlu dimodifikasi agar dapat berinteraksi secara baik dengan pati alam yang bersifat polar. Penggunaan aditif anhidrida maleat dapat  meningkatkan interaksi dengan pati alam. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dan memperoleh dosis terbaik penggunaan aditif anhidrida maleat dalam memodifikasi sifat polimer karet alam. Dengan dosis ini diharapkan dapat menghasilkan karet alam termodifikasi dengan karakteristik dan mutu teknis yang berbeda sehingga dapat dipadukan dengan pati alam. Perlakuan berupa penambahan anhidrida maleat dengan dosis 5% berat per berat (b/b) karet kering, 10% b/b, 15% b/b dan kontrol (karet tanpa anhidrida maleat). Parameter pengamatan terdiri dari analisa spektrometri fourier transform infrared (FTIR), plastisitas awal (Po), indeks ketahanan plastisitas (PRI), viskositas Mooney, indeks kestabilan viskositas (SVI), kadar abu dan kadar zat menguap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan penambahan aditif anhidrida maleat terbaik dalam memodifikasi sifat dan karakteristik polimer karet alam adalah dosis 10% b/b karet kering. Dari analisa spektrometri FTIR, gugus anhidrida maleat dalam karet alam sudah terlihat pada dosis ini. Mutu teknis karet alam yang sudah dimodifikasi menggunakan maleat anhidrida 10% b/b karet kering, yaitu Po 27; PRI 54,95; viskositas Mooney 78; SVI 4; kadar abu 0,51% dan kadar zat menguap 0,26%.
Desain proses pengeringan semprot untuk produksi tepung karet alam dari lateks Abidin, A. Zainal; Vachlepi, Afrizal
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 11, No 3 (2012)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2012.11.3.2

Abstract

Spray drying process design for the production of natural rubber powder from latexHigh water content in latex may result in perishable condition, high transportation costs, large packing needs, and handling difficulty due to the use of ammonia to prevent its coagulation.  A solution to this problem is to convert the latex into rubber powder using spray drying.  This work describes the design of the rubber powder production process, feedstock formulation, and the design of the dryer. Spray dryer performance is evaluated by simulation. The production process involves latex collection, quality inspection, filtration, addition of additives, and spray drying. Feedstock formulation consists of fresh latex, 1 %-w anticoagulant, and 2 %-w non-stick agent. The drying chamber is designed with a latex feed rate of 6x10-5 m3/s, moisture content of 80 %-w, density of 920 kg/m3, feed temperature of 27 oC, and drying air temperature of 140 oC. A pressurized-type nozzle is selected for the dryer. Design calculation results indicate that the dryer requires a nozzle diameter of 3.5 mm, chamber volume of 0.8 m3, cylindrical section height of 850 mm, conical section height of 870 mm, and a chamber diameter of 1000 mm. Drying time is 0.134 sec, with an overall residence time of 1.80 second. The dryer is predicted to produce natural rubber powder with a moisture content of 0.32-0.56 %-w.Keywords: latex, design, spray drying, simulation AbstrakKandungan air yang tinggi di dalam lateks dapat mengakibatkan lateks mudah rusak, biaya transportasinya tinggi, kebutuhan kemasannya besar, dan penanganannya yang ketat karena lateks mengandung amonia sebagai bahan pencegah kerusakan. Salah satu cara mengatasinya adalah mengkonversi lateks tersebut menjadi tepung karet alam dengan teknologi pengeringan semprot (spray drying). Di sini akan dipaparkan perancangan proses produksi tepung tersebut, formulasi umpannya, dan pengering semprot (spray dryer) yang digunakan untuk mengeringkan lateks. Kinerja dari pengering semprot dievaluasi dengan teknik simulasi. Rancangan proses produksi dimulai dari pengumpulan lateks, pemeriksaan kualitas lateks, penyaringan, penambahan zat aditif, dan pengeringan semprot. Formulasi umpan terdiri dari lateks segar, antikoagulan 1%-b, dan antilengket 2 %-b. Ruang   pengering semprot dirancang berdasarkan laju alir umpan lateks 6x10-5 m3/s dengan kadar air 80 %-b, densitas 920 kg/m3, suhu umpan 27 °C, dan udara pengering 140 °C. Nozzle bertekanan dipilih untuk alat ini. Hasil desain menunjukkan bahwa pengering semprot memerlukan diameter lubang nozzle 3,5 mm,volume ruang pengering 0,8 m3, tinggi bagian silinder 850 mm, kerucut 870 mm, dan diameter 1000 mm. Waktu pengeringan umpan berlangsung selama 0,134 detik dengan waktu lintasan 1,80 detik. Hasil simulasi menunjukkan pengering semprot mampu menghasilkan tepung karet alam dengan kadar air sekitar 0,32-0,56%.Kata kunci: lateks, perancangan, pengeringan semprot, simulasi