Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Penyelesaian Sengketa Batas Laut Antara Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan Provinsi Kepulauan Riau Sulistyono, Djoko
Jurnal Bina Praja: Journal of Home Affairs Governance Vol 6 No 2 (2014): Juni
Publisher : Research and Development Agency Ministry of Home Affairs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21787/jbp.06.2014.167-181

Abstract

AbstrakPenelitian ini dilakukan dan didasari atas adanya “kengototan” klaim dari provinsi Bangka Belitung dan provinsi Kepulauan Riau bahwa Gugus Pulau Tujuh, yaitu wilayah yang disengketakan tersebut merupakan wilayahnya. Oleh karena itu, penelitian ini kiranya dapat memberikan suatu solusi dalam penyelesaian sengketa batas laut di antara ke dua provinsi tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis. Metode ini digunakan, karena fenomena konstelasi sengketa batas antar daerah(termasuk batas laut)  dipandang bersifat multidimensional. Data-data yang diambil dari penelitian lapangan baik itu data primer maupun sekunder,  dilakukan melalui wawancara mendalamdengan informan kunci terpilih dan observasi  lapangan  serta dikombinasikan dengan studi kepustakaan,melalui penelusuran bukti- bukti otentik  sengketa pada masa lalu yang relevan. Pemerintah  (pihak  Kementerian  Dalam Negeri) harus segera menyelesaikan  masalah  sengketa  segmen batas  laut  di  gugusan  Pulau Tujuh yang melibatkan pihak Pemerintah  Provinsi  Kepulauan  Bangka  Belitung dengan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dengan mengacu  pada  empat pendekatan,  yaitu a) Sisi Historis; b) Yuridis; c) Pemerintahan; dan d) Sisi Sosial Budaya.  Dan ditambah dengan tidak menafikan keinginan masyarakat yang tinggal  di pulau  tersebut,diharapkan dapat diapresiasi oleh Pemerintah dengan baik.AbstractThis research was conducted and based on the existence of “persistence” claims of the province of Bangka Belitung islands and Riau islands province that seven islands groups, which is disputes region territory. Therefore, this study would be likely to provide a solution in resolving the dispute between the two provinces. This study uses qualitative methods with descriptive analytical approach. This method is used, because the phenomenon of inter-regional constellation boundary disputes (including sea boundary) is considered to be multidimensional. The data were taken from both the research field of primary data and secondary data, conducted through in-depth interviews with selected key informants and field observations, and combined with the study of literature through a search of the authentic evidence disputes the relevant past. Government (the Ministry of Home Affairs) should immediately resolves disputes in the sea boundary segment cluster seven islands involving the provincial government Bangka Belitung islands and Riau islands provincial government with reference to the four approaches, namely: a) the historical side; b) juridical side; c) side of the rule; d) the social side of the culture. And coupled with the desire not to deny the people who live on the islands so expect to be appreciated by the government well.
Evaluasi Tim Penegasan Batas Daerah (Studi Kasus di Provinsi Lampung dan Kalimantan Timur) Sulistyono, Djoko; Nuryadin, Deden; Hadi, Anung S.
Jurnal Bina Praja: Journal of Home Affairs Governance Vol 6 No 1 (2014): Maret
Publisher : Research and Development Agency Ministry of Home Affairs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21787/jbp.06.2014.31-40

Abstract

AbstrakPenelitian ini akan melihat masalah tapal batas yang sering menjadi persoalan pelik. Sejak dibukanya “kran” pemekaran daerah, hingga saat ini tercatat ada sebanyak 946 konflik sengketa perbatasan, baik antarkabupaten/kota dalam satu provinsi, maupun kabupaten/kota dalam satu provinsi dengan kabupaten/kota di provinsi tetangga. Penelitian ini melihat lebih khusus tentang evaluasi Tim Penegasan Batas Daerah yang merupakan salah satu bagian dalam rangka percepatan penegasan batas daerah. Metode deskriptif kualitatif yang digunakan, melalui teknik wawancara mendalam dengan memakai pendekatan kualitatif sebagai konsentrasi utama pada penelitian ini. Lokasi penelitian secara kasus akan melihat di Provinsi Lampung dan Kalimantan Timur. Provinsi Lampung dipilih karena merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang rawan konflik batas daerah, sedangkan Kalimantan Timur dipilih karena provinsi ini kaya sumber daya alam (SDA). Masalah umum yang dihadapi di kedua provinsi ini antara lain: adanya keterbatasan sumber daya manusia yang profesional (tenaga ahli segmen batas), kurangnya koordinasi antara pemerintah-pemerintah daerah yang berbatasan, sarana dan prasarana yang belum menjangkau sampai ke daerah pelosok, serta kurangnya dukungan pimpinan di dalam program kerja Penegasan Batas Daerah, yang dianggap belum menjadi hal yang prioritas. AbstractThis study examines the matter of boundary that often a thorny issue. Since opening of the “faucet” regional expansion, until now, there were as many as 946 border dispute conflict, both between districts/cities in the province, and district/city in the province of the district/city in the neighboring province. This study examines only the boundary assertion evaluation team, which is one part the acceleration of boundary assertion. Qualitative descriptive methods were used, through in-depth interview techniques with qualitative and quantitative approaches, as well as a major consentration on the qualitative approach. Location research purposively determined in Lampung and East Kalimantan. Lampung chosen because it is one of the provinces in Indonesia which limits conflict-prone regions, while the East Kalimantan province was chosen because it is rich in natural resources. A common problem encountered in the these two provinces, among others: the limited human resources professional (expert segment boundary), the lack of coordination between governments adjacent areas, facilities and infrastructure that have not reached into rural areas, as well as a lack of leadership support in the work program which is considered the limit assertion has not become a priority.
PENGARUH KUAT ARUS LISTRIK, DAN KECEPATAN PENGELASAN SMAW TERHADAP KEKUATAN TARIK PELAT BAJA KOMERSIAL Sulistyono, Djoko; Rohim, Abdur
MEKANIKA: Jurnal Teknik Mesin Vol 2 No 02 (2016): December
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12345/jm.v2i02.1089

Abstract

Lingkup penggunaan teknik pengelasan dalam konstruksi sangat luas meliputi perkapalan, jembatan, rangka baja,sarana transportasi, rel, pipa saluran dan lain sebagainya.  Kekuatan hasil lasan dipengaruhi oleh tegangan busur, besar arus, kecepatan pengelasan, besarnya penembusan dan polaritas listrik. Penentuan besarnya arus dalam penyambungan logam menggunakan las busur mempengaruhi efisiensi pekerjaan dan bahan las. Penentuan besar arus dalam pengelasan ini mengambil 100 A, 150 A dan 200 A. Pengambilannya dimaksudkan sebagai pembanding dengan interval arus diatas. Pada variasi arus 100 A, 150 A, 200 A untuk tebal 10 mm diperoleh arus terbaik yaitu 100 A,dan 150 A dengan tegangan luluh 4890 kg/mm2, tegangan maksimun 4950 kg/mm2, dan tegangan patah 4110 kg/mm2 dengan pembanding tanpa pengelasan dengan tegangan luluh 4298,3 kg/mm2, tegangan maksimun 4790  kg/mm2, dan tegangan patah 4219,85 kg/mm2. Pada variasi arus 100 A, 150 A, 200 A untuk tebal 11 mm diperoleh arus terbaik yaitu 100 A, dengan tegangan luluh 4890 kg/mm2, tegangan maksimun 4950 kg/mm2, dan tegangan patah 4260 dan pada arus 150 didapat tegangan  luluh 4859,4 kg/mm2, tegngan maksimum 4950 kg/mm2,tegangan patah 4376 kg/mm2, dengan pembanding tanpa pengelasan dengan tegangan luluh 4298,3 kg/mm2, tegangan maksimun 4790  kg/mm2, dan tegangan patah 4219,85 kg/mm2. Dan regangan terbaik untuk tebal 10 mm dengan arus 100 A adalah 20 %, dan tebal 11 mm dengan arus 100 A adalah 22 %. Dan regangan terbaik untuk tebal11mm dengan arus 150 A adalah  22%  Dimana dapat dilihat dari perbedaar arus 100 A dengan tebal 10 mm dan arus 100 A  dan 150 A dengan tebal 11 mm, mempengaruhi kuar arus dan tebal, maka senakin tebal plat yang akan dilas maka arus di gunakan harus lebih besar.Kata kunci: Uji Tarik, Arus, SMAW
ANALISA PENGARUH PUTARAN DAN JARAK (PITCH) PISAU TERHADAP KAPASITAS PRODUKSI LIMBAH SAWI PADA MESIN PERAJANG SAWI Sulistyono, Djoko; Triyono, Achmad
MEKANIKA: Jurnal Teknik Mesin Vol 1 No 02 (2015): December
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12345/jm.v1i02.762

Abstract

Mustard is a group of plants of the genus Brassica leaves or flowers are used as food (vegetables), both fresh and processed. Mustard Brassica species include some that are sometimes similar to each other. Onecommodity farmers in village Parengan, Krian, Sidoarjo every day requires a mixture of vegetable waste mustard asanimal feed ingredients. Livestock alone is the main food forage. Green feed cattle, namely waste mustard. Forageplays a very important because it contains all the substances necessary livestock. One of them is from the green feedlivestock waste that much mustard in the traditional market. In East Java, many home a chicken farmer, in thehamlet Parengan Kraton Sidoarjo district is very famous for animal breeding chicken. Productivity breeders requirewaste mustard chicken with the chopped in the hamlet Parengan Kraton Krian Sidoarjo can not meet the needs ofthe market, the acquisition of waste results from the traditional markets of 50-80 kg / day, were able to be processed5-15 kg / day using traditional tools ie by perajangan mustard waste manually. Some efforts to increase productionhave been made to spur the development of the farmer, from the conventional to modern process (machine).Therefore conducted research with the title : analysis of effect of round and distance (pitch) pisau to wasteproduction capacity in the machine chooper mustard mustard in the area. In this study the authors calculate thechopper machine design capacity mustard waste by means of varying the distance a knife (0.03 m; 0.04 m; 0.05 m)and the rotation axis (200Rpm, 300Rpm, 400rpm), while the fixed blade diameter, so that obtain optimal results andto determine the engine power is needed, with reference to 250 kg / h, and the conveniences expected chopperengine testing conducted to determine the waste mustard in actual production capacity, and compared with theproduction capacity of the calculation results. The achievement of a production capacity of 247.67 kg / hour is themost excellent results of chopped cabbage waste, using waste mesinperajang mustard dimensions: Diameter 0.28mknife, round knife 300Rpm with a distance of 0.04m. The results showed that the production capacity of wastemustard be 244.28 kg / h (± 250kg / h) using mustard waste chopper machine. Thus the research conducted by thepublic is expected to be implemented in order to further increase production and able to serve the market demand.Keywords : Waste chopper mustard, Distance knife, Round the machine.
ANALISA PENGARUH KEDALAMAN POTONG DAN KECEPATAN POTONG TERHADAP KERATAAN PERMUKAAN BAJA AISI 1045 PADA MESIN BUBUT CNC Sulistyono, Djoko; Anif, Muhammad Nur
MEKANIKA: Jurnal Teknik Mesin Vol 3 No 02 (2017): December
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12345/jm.v3i02.1470

Abstract

One of the components or parts that are required to have a low surface roughness, namely the shaft. Thus in line with these developments are also components (shaft) or parts produced in CNC lathe machining processes must have a good level of surface roughness. This study aims to determine the effect of depth of cut and cutting speed in the process of material AISI perautan in 1045. The experimental design used is variasi speed cutting with a depth of cut of each tested three times objects. From the analysis of the cutting speed and depth of cut affects the surface flatness surface cutting results where (Ra) is the lowest. In the AISI 1045 material obtained to cutting with cutting speed 93 m/min with a cutting depth of cut 0.1 mm average price obtained for the surface flatness is 1.16 µm. For the depth of cut 0.2 mm average price obtained for the surface flatness is 1.21 µm. For the depth of cut 0.3 mm average price obtained for the surface flatness is 1.31 µm. To cutting with cutting speed 79 m/min with a cutting depth of cut 0.1 mm average price obtained for the surface flatness is 1.23 µm. For the depth of cut 0.2 mm average price obtained for the surface flatness is 1.27 µm. For the depth of cut 0.3 mm average price obtained for the surface flatness is 1.32 µm. To cutting with cutting speed 79 m/min with a cutting depth of cut 0.1 mm average price obtained for the surface flatness is 1.25 µm. For the depth of cut 0.2 mm average price obtained for the surface flatness is 1.28 µm. For the depth of cut 0.3 mm average price obtained for the surface flatness is 1.35 µmKeywords: AISI 1045, Cut Speed, Ingestion thickness, surface flatness
EFEKTIFITAS VASRIASI PUTARAN DARI PROSES BALANCING TERHADAP PUTARAN KERJA POROS YANG SESUNGGUHNYA Sulistyono, Djoko; Budiman, Arief
MEKANIKA: Jurnal Teknik Mesin Vol 1 No 02 (2015): December
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12345/jm.v1i02.765

Abstract

Balancing the goal is to balance the machine or the rotating shaft, which in turn will reduce the vibration.Balancing is done pasa shaft-disk system by responding vibration in five rounds variations balancing: 400 rpm,600rpm, 800rpm, 1000 rpm, 1200 rpm. Retrieval of data by performing the balancing process which furtherbalancing process that responds to vibrations to determine the mass of unbalancenya and a counterweight on theshaft angle disc. Results balancing is then rotated in the other rounds to determine the effectiveness of balancing hasbeen done to change round. The purpose of this test is to get round the balancing effective. The test results showedthat the balancing process is able to reduce the vibration conducted properly, this indicates that balancing is doneon a round shaft below the critical round-the dish is less effective. In addition, the balancing is done on rotationaway from a critical lap is relatively effective. While balancing is done on a round close with a round of critics isrelatively effective. Balancing process that is performed in the round balancing is far from critical rotation hasadvantages over balancing the work done at the round when viewed in terms of security while balancing process isdoneKeywords: balancing, spindle disc, critical round
ANALISIS SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH DI KECAMATAN KARANGPLOSO KABUPATEN MALANG Sulistyono, Djoko
EXTRAPOLASI: Jurnal Teknik Sipil Vol 6, No 02 (2013)
Publisher : EXTRAPOLASI: Jurnal Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.773 KB)

Abstract

Pengelolaan sampah di Kecamatan Karangploso merupakan suatu problem yang harus segera ditanganisaat ini, dikarenakan banyaknya komponen-komponen yang tidak mendukung dalam operasional baik ituperalatan, peraturan, pembiayaan, organisasi, serta peran serta masyarakat. Sampah adalah suatu bahan yangterbuang atau dibuang dari sumbernya hasil aktivitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilaiekonomis. Manajemen pengelolaan sampah merupakan suatu sistem yang bertujuan untuk pencapaian targetkebersihan yang didukung oleh perangkat-perangkat berkaitan. Hasil evaluasi ini diharapkan dapat memberikanmasukan kepada pemerintah daerah khususnya pemerintah kabupaten Malang dalam mengambil kebijakandalam hal kebersihan dan kenyamanan wilayahnya. Dari hasil analisa dan perhitungan didapat banyaknyakebutuhan peralatan / perwadahan, alat pengumpul, kendaraan angkutan sampah dan TPA-nya, metode yangsesuai adalah metode pembuangan terkontrol, dengan peralatan 1 (satu) buah buldoser.Kata kunci : Sampah, Sistem Pengelolaan, Kebutuhan
ANALISA PENGARUH MACAM MACAM FLUIDA DAN VARIASI KIPAS TERHADAP EFEKTIFITAS PENYERAPAN PANAS PADA MOTOR BENSIN 135CC Sulistyono, Djoko; Nuansa Gusti, Aris
MEKANIKA: Jurnal Teknik Mesin Vol 3 No 01 (2017): July
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.876 KB) | DOI: 10.12345/jm.v3i01.2719

Abstract

Radiator cooling system is by using a liquid fluid as a heat exchanger. How to work theradiator with ducted heat released by the motor is then absorbed by the fluid in the radiatorcoolant. the fan on the radiator is typically only the size of the already terstandart. Little bigfan sizes affect the performance of the radiator. This research was conducted with the aim ofanalyzing the influence of a range of different kinds of fluid in the radiator and the fanagainst variations in the effectiveness of absorption of heat radiator. In the study conducted acomparative test of the effectiveness of heat-absorption fluid 100% variation between RCPower coolant, RC Megacools 100% and 50% coolant Power RC + 50% RC Megacools witheach variation of the fan, the fan is standard, large, single fan and double fan on everyvariation of the fluid. Based on the results of observation and data analysis in fluid 100% RCPower coolant obtained value effectiveness 0.512 on fan standard. On the variation of singlelarge fan of 0.528, and variations of the double fan of 0.539. Then it can be inferred that thelarger the fan is used, then the ride also value their effectiveness. This is because the largerthe fan to make the air more and more collisions so that accelerate the process of absorptionof the heat from the radiator. Whereas in fluid, variations on the variations of the double fanwith fluid 100% RC Megacools obtained the value of effectiveness of 0.477. On the fluid 50%+ 50% Megacools RC RC Power coolant fluid and in 0.502 100% RC Power coolant of0.539. Then it can be inferred that the fluid with 100% Power RC cooant is the best fluidvalues effectiveness due to fluid 100% RC has a higher boiling point than in other variationsof the fluid.
ANALISIS SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH DI KECAMATAN KARANGPLOSO KABUPATEN MALANG Sulistyono, Djoko
EXTRAPOLASI Vol 6 No 02 (2013)
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/exp.v6i02.842

Abstract

Pengelolaan sampah di Kecamatan Karangploso merupakan suatu problem yang harus segera ditanganisaat ini, dikarenakan banyaknya komponen-komponen yang tidak mendukung dalam operasional baik ituperalatan, peraturan, pembiayaan, organisasi, serta peran serta masyarakat. Sampah adalah suatu bahan yangterbuang atau dibuang dari sumbernya hasil aktivitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilaiekonomis. Manajemen pengelolaan sampah merupakan suatu sistem yang bertujuan untuk pencapaian targetkebersihan yang didukung oleh perangkat-perangkat berkaitan. Hasil evaluasi ini diharapkan dapat memberikanmasukan kepada pemerintah daerah khususnya pemerintah kabupaten Malang dalam mengambil kebijakandalam hal kebersihan dan kenyamanan wilayahnya. Dari hasil analisa dan perhitungan didapat banyaknyakebutuhan peralatan / perwadahan, alat pengumpul, kendaraan angkutan sampah dan TPA-nya, metode yangsesuai adalah metode pembuangan terkontrol, dengan peralatan 1 (satu) buah buldoser.Kata kunci : Sampah, Sistem Pengelolaan, Kebutuhan
Analisis Pengaruh Preheating terhadap Hasil Pengelasan SMAW pada ASTM A53 dengan Variasi Temperature dan Waktu dengan Pengujian Kekerasan dan Struktur Mikro Nafi, Maula; Sulistyono, Djoko; Wahid, Ichlas; Albab, Adib Ulil
MEKANIKA: Jurnal Teknik Mesin Vol 7 No 2 (2021): December
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12345/jm.v7i2.6095

Abstract

Dalam dunia industri, baja merupakan material yang sangat banyak dijumpai dari Sebagian bahan bahan baja yang dijumpai sebagai bahan dalam pembuatan mesin, ada banyak beberapa baja yang kita jumpai salah satunya adalah ASTM A53, penyambungan antara dua bagian logam atau lebih dengan menggunakan energi panas merupakan atau bisa disebut dengan pengelasan merupakan hal yang sering kita temui atau dilakukan salah satu pengelasan yang sering kita temui itu adalah pengelasan SMAW (shield metal arc welding) pemanasan yang berlebihan atau tidak merata dapat mengakibatkan tegangan sisa, distorsi, atau perubahan metalurgi yang tidak diinginkan pada logam induk, Adapun cara untuk memperbaikinya adalah dengan melakukan preheating atau bisa disebut dengan pemanasan awal sebelum dilakukan pengelasan, Adapun tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetauhi pengaruh preheating terhadpa kekerasan untuk hasil pengelasan material baja ASTM A53 (2) mengetauhi dampak dari variasi temperature dan waktu untuk struktur mikro, pada hasil pengelasan baja ASTM A53 (3) mengetauhi efek dari temperature dan waktu pada kekerasan pada hasil pengelasan baja ASTM A53. Proses preheating digunakan variasi temperature 160℃,210℃,260℃ dengan waktu tunggu 7menit,15menit,20menit. Setelah pengelasan SMAW selesai, dilakukan pengujian kekerasan dan mikrostruktur baja ASTM A53 untuk mengetahui besarnya kekerasan dan struktur mikro baja, yang disebut sebagai pengelasan. Pengelasan SMAW (shield metal arc welding) adalah jenis pengelasan yang sering kita jumpai atau lakukan. Panas yang diterapkan terlalu cepat atau tidak merata dapat menyebabkan regangan sisa, deformasi, atau perubahan metalurgi yang tidak diinginkan pada logam dasar jika prosesnya tidak dilakukan dengan benar. Adapun cara untuk memperbaikinya adalah dengan melakukan preheating atau pemanasan awal sebelum dilakukan pengelasan, adapun tujuan dari penelitian yang dilakukan yaitu (1) mengetauhi pengaruh preheating terhadpa kekerasan untuk hasil pengelasan material baja ASTM A53 (2) mengetauhi pengaruh pada variasi temperature dan waktu terhadap struktur mikro untuk hasil pengelasan baja ASTM A53 (3) mengetauhi pengaruh temperature dan waktu pada kekerasan untuk hasil pengelasan baja ASTM A53. Proses preheating digunakan variasi temperature 160℃,210℃,260℃ dengan waktu tunggu 7menit,15menit,20menit. Setelah itu dilakukan pengelasan SMAW dengan memutar dan dilanjutkan melakukan Baja ASTM A53 menjalani pengujian kekerasan dan struktur mikro untuk menentukan kekerasan dan struktur mikronya. Kata kunci: Preheating, Pengelasan SMAW, Rockwell, Metalografi, Struktur Mikro, ASTM A53, Baja karbon menengah