This Author published in this journals
All Journal Koneksi
Suryanto, Nathan
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search
Journal : Koneksi

Tinjauan Semiotika Desakralisasi Posisi Laki-Laki dalam Film ‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas’ Suryanto, Nathan; Pandrianto, Nigar
Koneksi Vol. 8 No. 1 (2024): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v8i1.21694

Abstract

This research will discuss the desacralisation of men in the film 'Seperti Dendam, Rindu Harus Dibalas Tuntas'. The film tells of various social conflicts, including discrimination against women and making women mere objects. But on the other hand, the women in the film have a heroic nature and have the same strength as men. Therefore, this film is interesting to study in seeing the desacralisation of the position of men throughout the film. This research uses the theoretical basis of mass media, mass communication, feminism and semiotics. This research uses a qualitative approach with data collection methods of observation, documentation and interviews. As a result, the film contains many scenes that show the desacralisation of men. To strengthen the desacralisation, the film shows the discriminatory side towards women. The film shows that women can fight back and have the same power as men. The film is also very much related to feminist views, with a rebuttal to misogynist views. Penelitian ini akan membahas mengenai desakralisasi terhadap kaum laki-laki dalam film ‘Seperti Dendam Rindu Harus Dibalas Tuntas’. Film tersebut menceritakan berbagai konflik sosial termasuk diskriminasi terhadap kaum perempuan dan menjadikan perempuan sebagai objek belaka. Namun di sisi lain, kaum perempuan pada film tersebut memiliki sifat yang heroik dan memiliki kekuatan yang sama dengan kaum laki-laki. Oleh karenanya, film ini menjadi menarik untuk diteliti dalam melihat desakralisasi terhadap posisi kaum laki-laki yang ada sepanjang film. Penelitian ini menggunakan landasan teori media massa, komunikasi massa, feminisme dan semiotika. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data observasi, dokumentasi dan wawancara. Hasilnya, film banyak mengandung adegan-adegan yang menunjukkan desakralisasi kaum laki-laki. Untuk memperkuat desakralisasi tersebut, film menunjukkan sisi diskriminatif terhadap kaum perempuan. Film menunjukkan bahwa perempuan dapat melawan dan memiliki kekuatan yang sama dengan laki-laki. Film ini juga sangat berkaitan dengan pandangan feminisme dengan bantahan terhadap pandangan misoginis.