LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR
Vol 1, No 1 (2014)

STUDI PENGELOLAAN INFRASTRUKTUR DASAR DI KECAMATAN TELOK BATANG KABUPATEN KAYONG UTARA. STUDI KASUS DESA SUNGAI PADUAN DAN DESA MAS BANGUN

Azwansyah, Heri (Unknown)
Juniardi, Ferry (Unknown)



Article Info

Publish Date
01 Jan 2014

Abstract

Infrastruktur yang memadai dapat mendukung kegiatan ekonomi masyarakat. Studi ini bertujuan untuk mengetahui aksesibilitas infrastruktur dasar bagi masyarakat pedesaan di Desa  Sungai Paduan dan Desa Mas Bangun Kecamatan Telok Batang.  Studi ini membutuhkan data-data aksesibilitas dan kondisi infrastruktur dasar yang diperoleh dari instansi terkait, observasi lapangan dan interview.  Studi ini  menggunakan  metode Integrated Rural Accessibility Planning  (IRAP).  Tingkat aksesibilitas menggunakan beberapa indikator aksesibilitas tiap infastruktur. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pada Desa Sungai Paduan prioritas pertama,  kedua dan ketiga berturut-turut sektor pertanian/perkebunan, sektor sumber air bersih, dan  sektor industri/perdagangan dengan nilai aksesibilitas sebesar 9,90, 9,00, dan 7,59. Pada Desa Mas Bangun, prioritas pertama, kedua dan ketiga untuk mendapat penanganan infrastruktur adalah sektor pertanian/perkebunan, sektor sumber air bersih, dan  sektor Kesehatan dengan nilai aksesibilitas sebesar 10,80, 9,00, dan 7,62. Untuk meningkatkan aksesibilitas inftasratruktur tersebut dapat dilakukan dengan perbaikan fasilitas dan penyedian sarana transportasi, sementara saat ini jalan desa yang ada masih baik. A decent infrastructure is able to support economic activities. This study aims to find out the basic infrastructure accessibility for rural communities in Sungai Paduan village and Mas Bangun village, Telok Batang district. This study requires the data of access and basic infrastructure conditions, obtained from the relevant agencies/departments, field observation, and inteview. This study use Integrated Rural Accessibility Planning (IRAP) method. A level of accessibility uses some indicators of accessibility in each of infrastructures. The study concluded that the priorities in Sungai Paduan village serially  are: agriculture/plantation as the first priority, followed by water resource sector and the industrial/trade sector, with accessibility values ranging from 9.90, 9.00, and 7.59. While in Mas Bangun village, as the first, second and the third priority to get infrastructure treatment are agriculture/plantation, water resources sector, and the health sector with the accessibility values ranging from 10.80, 9.00, and 7.62. To improve the accessibility of infrastructure can be done through facility repairing and the provision of means of transportation. Currently, the existing roads in both villages are in the good conditionREFERENCESAzwansyah, H. 2010. Perencanaan Infrastruktur di Desa Tanjung Satai dan Desa Satai Lestari Kecamatan Pulau Maya Karimata. Jurnal Teknik Sipil Universitas Tanjungpura vol 10 Nomor 2. Desember 2010. Fakultas Teknik Untan. Pontianak.BPS Kabupaten Kayong Utara. 2012. Kalimantan Barat Dalam Angka, BPS Kabupaten Kayong Utara. Sukadana.Parikesit, D., Pratama, D.A., Ekawati, N., 2003. Modul Pelatihan Perencanaan Infrastruktur Perdesaan, Kerjasama Universitas Gajah Mada dengan Kementrian Koordonator Bidang Ekonomi dan International Labour Organization. Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik UGM. Yogyakarta.Dennis, Ron. 1998. Rural Transport and Accessibility. Development Policies Departement, ILO office Geneva.Donnges, Chris. 1999. Rural Access and Employment, The Laos Experience. Development Policies Departement, ILO office Geneva.Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD). 2012. Mewujudkan Pembangunan Ekonomi Bagi Kesejahteraan Rakyat. KPPOD Brief Edisi September – Oktober 2012. KPPOD. Jakarta

Copyrights © 2014