cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 96 Documents
COVER AND EDITORIAL Betang, Langkau
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.788 KB)

Abstract

COVER AND EDITORIAL
Cover and Editorial Betang, Langkau
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.305 KB)

Abstract

Cover and Editorial
KONSEP RUANG TERBUKA PUBLIK MAHASISWA SEBAGAI PENGHUBUNG ANTAR UNIT DI UNIVERSITAS TANJUNGPURA Purnomo, Yudi; Lubis, Mira S; Nurhamsyah, Muhammad; ., Mustikawati
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.735 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v1i1.18804

Abstract

Ruang publik merupakan wadah pemersatu atau sarana interaksi antar masyarakat yang berbeda dalam satu ruang. Konsep ruang publik yang dapat dimanfaatkan ruang sosial juga dapat dimiliki secara individu (private), seperti pusat perbelanjaan, restoran, kampus, dan lain-lain. Kampus merupakan ruang individu sekaligus ruang publik bagi pertukaran informasi (keilmuan), tempat pemenuhan kebutuhan psikologis (rekreasi) dan fungsi biologis (ruang terbuka hijau) yang dimanfaatkan oleh civitas akademika maupun masyarakat umum. Bagaimana ruang terbuka kampus khususnya di Universitas Tanjungpura dapat menjadi ruang publik merupakan rumusan permasalahan dalam tulisan ini. Teknik observasi, kuesioner dan pemetaan perilaku merupakan metode pengumpulan data penelitian. Hasil dari ketiga metode tersebut dianalisis menggunakan crosstab chi-square dan analisis diskriminan untuk mengidentifikasi ada atau tidaknya hubungan antara pemilihan ruang publik terhadap sifat responden dalam melihat ruang ruang publik serta untuk mengklasifikasikan preferensi responden terhadap komponen dan kriteria perancangan ruang publik.  Hasil penelitian menyimpulkan bahwa rumusan kriteria perancangan ruang publik mahasiswa di Universitas Tanjungpura sangat tergantung kepada faktor seorang mahasiswa melihat lokasi atau tempat ruang tersebut. Faktor jenis kelamin, faktor sifat dan bentuk kegiatan, waktu dan lamanya berkegiatan, frekuensi melakukan kegiatan, teman, serta alasan menjadi faktor penentu dalam merumuskan konsep perancangan. Public space is a communal area  to accommodate interaction  between different communities in one space. The concept of public space that can be utilized as social space can also be owned by individual party (private), such as shopping centers, restaurants, campuses, and others. The campus is a private space which is used as public space for the exchange of science information and  an area to fulfillment  the psychological and biological needs (recreation and green open spaces) that is used by the academic community and societies. The aim of this paper is to formulate concepts of open space in Tanjungpura university as a public space. This study use three techniques/methods of data collection, such as observation, questionnaire and a behavioral mapping. The results of these methods were analyzed by  chi-square crosstab and  discriminant analysis to identify whether there are any relationship between the selection of public space and the  respondent preferences in viewing  public space. Furthermore, the analysis also has a goal to classify the preference of respondents about components and criteria of the design of public space. This study concluded that the formulation of design criteria  of public space for student in the Tanjungpura university is depend on the factors of the students itself in viewing the location of the space. The determining factors in formulating the design concept of the public open space are gender, the nature and kind of activity, duration of activities, frequency of activities, and partner in activities.REFERENCES---. 1991. Teori Perancangan Urban. Program Studi Perancangan Arsitektur Fakultas Pascasarjana ITB. Bandung---. 2005. Peran Ruang Publik dalam Pengembangan Sektor Properti dan Kota. Sambutan Menteri Pekerjaan Umum dalam acara Seminar Nasional Araitektur Dalam Rangka Dies Natalis Ke-48 Universitas Diponegoro. Semarang----. 2010. Jangan Terpancing Provokasi: Bentrok Dinihari, Polisi Lepaskan 21 Tembakan. Artikel dalam Pontianak Post Online tanggal 14 Maret 2010. Diakses 29 Mei 2012. http://www.pontianakpost.com/?mib=berita.detail&id=31280---. 2011. Modul MAP. Program Magister Perencanaan Wilayah dan Kota ITB. Bandung---. 2012. Undang Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.  Pemerintah RI. Jakarta---.n/a. Analisis Diskriminan. Diunduh Bulan Nopember 2013 dari  http://daps.bps.go.id/file_artikel/65/ANALISIS%20DISKRIMINAN.pdf. BPS, Jakarta---. 2011. Crosstab dan Chi-Square: Analisis Hubungan Antarvariabel Kategorikal. Bab 10. http://dosen.narotama.ac.id/wp-content/uploads//12/Mastering-SPSS-18.pdf---. 1982.Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 64 tahun 1982 tentang Susunan Organisasi Universitas Tanjungpura. Pemerintah RI. Jakarta---. 2007.Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan. Kementerian Dalam Negeri. Jakarta---. 2009.Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12 Tahun tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Non Hijau di Wilayah Kota/Kawasan Perkotaan. Kementerian Pekerjaan Umum. Jakarta---. 2008.Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 5 Tahun tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Perkotaan. Kementerian Pekerjaan Umum. JakartaBPS Kota Pontianak. 2012. Kota Pontianak dalam Angka 2012. BPS Kota Pontianak. PontianakEriawan, Tomi. 2003. Prinsip Perancangan Taman Kota dan Taman Bagian Wilayah Kota di Kota Bandung. Thesis pada Magister ITB. BandungGroat, Linda;DavidWang. 2002. Architectural Research Methods. John Wiley and Sons. New YorkHalim, Deddy. 2005. Psikologi Arsitektur: Pengantar Kajian Lintas Disiplin. Gramedia Widiasarana Indonesia. JakartaHardiman, F.Budi. 2010. Ruang Publik: melacak ’Partisipasi Demikratis’ dari Polis sampai Cyberspace. Kanisius. YogyakartaLaurens, Joyce Marcella. 2005. Arsitektur dan Perilaku Manusia. PT. Grasindo. JakartaLeGates, Richard T; Stout, Frederic. 2000. The City Reader: Second Edition. Routledge. London and New YorkLynch, K. 1960. The Image of City. MIT Press. Cambridge, MAMoleong, Lexy J. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi Revisi.Rosda.BandungNasution, S. 2011. Metode Research: Penelitian Ilmiah. Bumi Aksara. JakartaNathiwutthikun, Kan, Wannasilpa Peerapan, Khaisri Paksukcharern. 2008. The Logic of Multi-Use of Public Open Spaces in Chiang Mai City. Nakhara Journal of Environmental Design and Planning, vol.4.  Faculty of Architecture, Chulalongkorn University. BangkokPusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2008.Kamus Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa. JakartaSiahaan, James. 2010. Ruang Publik: Antara Harapan dan Kenyataan. Artikel online Bulletin Tata Ruang ISSN:1978-1571.  Edisi Juli-Agustus 2010. Diunduh  bulan Nopember 2013 dari http://bulletin.penataanruang.net/index.asp?mod=_fullart&idart=265Snyder, James C; Catanese, Anthony J. 1997. Pengantar Arsitektur. Erlangga. JakartaSugiarto, dkk. 2003. Teknik Sampling. PT.Gramedia Pustaka Utama. JakartaUIN Alauddin Makassar. 2009. Pedoman Pusat Informasi dan Komputer. UIN Alauddin Makassar. MakassarUniversitas Gadjah Mada. 2011. Peraturan Rektor Universitas Gadjah Mada Nomor 2451/P/SK/KP/2011 tentang Pegawai Khusus Universitas Gadjah Mada. UGM, YogyakartaValera, Sergi. 1998. Public Space and Social Identity. Paper on Ramesar, A Urban Regeneration, A Challenge for Public Art: Universitat de Barcelona. Universitat de Barcelona. BarcelonaWhite, Edward T. 1992. Buku Sumber Konsep: Sebuah Kosakata Bentuk-Bentuk Arsitektural. Intermatra. BandungWorpole, Ken; Knox, Katharine. 2007.The Social Values of Public Spaces. Paper on research project under the Joseph Rowntree Foundation. The Homestead, 40 Water End, York YO30 6WPZahnd, Markus. 2009.  Pendekatan dalam Perancangan Arsitektur: Metode untuk Menganalisis dan Merancang Arsitektur secara Efektif.Penerbit Kanisius, Semarang: Soegijapranata University Press, Yogyakarta
TAHAPAN KONSTRUKSI RUMAH TRADISIONAL SUKU MELAYU DI KOTA SAMBAS KALIMANTAN BARAT Zain, Zairin; Fajar, Indra Wahyu
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.656 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v1i1.18805

Abstract

Arsitektur tradisional sebagai hasil karya suku bangsa di Indonesia telah membentuk dan mengembangkan adat tradisi sesuai dengan kebutuhan mereka. Adat tradisi merupakan bagian budaya yang mereka ciptakan untuk memfasilitasi aktivitas keseharian. Arsitektur rumah Melayu tradisional di kota Sambas sebagai bagian dari  kebudayaan nusantara mempunyai struktur dan tahapan konstruksi yang memberikan karakteristik sendiri. Penelitian ini dilakukan terhadap sebuah rumah tradisional suku Melayu di  kota Sambas yang berada di Kampung Dagang Timur. Tulisan ini melakukan eksplorasi pada tahapan Konstruksi pada obyek penelitian ini dan juga memberikan pengamatan yang intensif pada sambungan balok dan kolom. Pengamatan ini sebagai penguatan tahapan konstruksi untuk memberikan stabilitas struktur pada rumah tradisional tersebut. Bangunan dengan stabilitas yang tinggi di rumah tradisional Suku Melayu di Kota Sambas dapat tercipta dengan sistem konstruksi yang bai dan  mengacu  pada  kaidah-kaidah  normatif pelaksanaan  tahap  konstruksi yang  secara  alamiah  dipahami  turun  temurun  oleh masyarakat  tradisional Suku  Melayu  di  Kota  Sambas. Penentuan sistem struktur  dan tahapan konstruksi  pada  rumah Tradisional  Suku Melayu di kota  Sambas mampu memberikan keseimbangan bangunan baik secara melintang maupun memanjang bangunan  sehingga  struktur  menjadi  stabil dan  juga memudahkan dalam  keseluruhan tahapan konstruksi rumah Tradisional Suku Melayu di kota Sambas. Traditional architecture as the works of national ethics in Indonesia has formed and developed the traditional customs to fit their needs. Indigenous traditions are part of the cultural behavior as they created to facilitate the daily activities. The architecture of traditional houses of the Malay in the town of Sambas, as part of culture of the archipelago, has structures and  a construction phase that gives its own characteristics. This research was carried out on a traditional house of Malays in the town of Sambas residing in Kampung Dagang Timur. This paper conducted an exploration on the stages of construction to the research object and also provide the intensive observation on the beam and column connections. This observation as the strengthen for the construction phase to provide explanations of the structure stability  on the traditional house. Buildings with high stability found in a traditional house of Malays of the town of Sambas can be created with the construction in a good system and refers to the normative rules of the construction phase that are naturally understood by a hereditary of the traditional Malay society in the city of Sambas . Determination of structural systems and construction phases of the traditional house of Malays in the town of Sambas is able to provide the balance of the building both transverse and longitudinal views so that structure of the building becomes stable and also facilitate the overall construction phase of Traditional house of Malays in the town of SambasREFERENCESAhmad, Abdullah Sani; Jamil Abu Bakar; Fawazul Khair Ibrahim. 2006. Investigation On The Elements Of Malay Landscape Design. Fakulti Alam Bina Universiti Teknologi Malaysia. MalaysiaKuncoro, Wahyu Tri. 2010 Perubahan Nilai Simpang Horisontal Bangunan Bertingkat Setelah Pemasangan Dinding Geser Pada Tiap Sudutnya. Universitas Sebelas Maret. SurakartaKwantes, J. 1985. Mekanika Bangunan Jilid 2. Erlangga. JakartaWahl, Iver. 2007. Building Anatomy : An Illustrated Guide to How Structures Work. Mc.Graw Hill Company Inc. New YorkZain, Zairin. 2003. Sistem Struktur Rumah Tradisional Suku Melayu Di Kota Sambas Kalimantan Barat. Tesis Program Magister Teknik Arsitektur Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada.  YogyakartaZain, Zairin. (2012a). Pengaruh Aspek Eksternal Pada Rumah Melayu Tradisional di Kota Sambas. Jurnal NALARs, Vol 11 No 2 Juli 2012. Universitas Muhammadiyah Jakarta. JakartaZairin Zain. 2012b. Analisis Bentuk dan Ruang pada Rumah Melayu Tradisional di Kota Sambas, Kalimantan Barat. Jurnal NALARs Volume 11 No. 2 Universitas Muhammadiyah Jakarta. JakartaZain, Zairin. 2012c. The Structural System of Traditional Malay Dwellings in Sambas Town West Kalimantan Indonesia. International Journal of the Malay World and Civilization, Volume 30 no. 1 June 2012,  Published by the institute of the Malay world and Civilization Universiti Kebangsaan Malaysia. JohorBahruZain, Zairin; Erich Lehner. 2012. Space: Identifications and Definitions, Study Case on Traditional Malay Dwellings of West Kalimantan, Indonesia. Proceeding of the 1st Biennale International Conference on Indonesian Architecture and Planning (ICIAP) July 10-11, 2012. Yogyakarta. Indonesia, UGM YogyakartaZain, Zairin. 2013.The Anatomy of Traditional Dwellings: Comparative Study between Malay and Dayak Indigenous Architecture in West Kalimantan. LAP Lambert Academic Publishing/ AV Akademikerverlag GmbH & Co. KG. Saarbrücken. Germany
KARAKTERISTIK RUANG PARKIR DI PUSAT PERBELANJAAN JALAN TANJUNGPURA KOTA PONTIANAK Jocunda, Silvia; Purnomo, Yudi
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.487 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v1i1.18806

Abstract

Parkir merupakan tempat pemberhentian kendaraan di suatu kawasan atau bangunan, dimana masyarakat melakukan berbagai aktivitas. Pusat aktivitas untuk masyarakat agar bisa melakukan berbagai aktivitas dapat berupa kawasan pusat perbelanjaan. Daya tarik kawasan dengan tingkat mobilitas barang dan manusia, menciptakan pergerakan lalu lintas yang padat di kawasan tersebut. Peningkatan kebutuhan ruang parkir yang tidak diikuti oleh peningkatan ketersediaan kapasitas ruang parkir di pusat perbelanjaan, berpotensi menyebabkan permasalahan seperti kemacetan arus lalu lintas  karena adanya kendaraan yang parkir di fasilitas umum seperti trotoar dan bahu jalan, kerawa-nan kecelakaan lalu lintas, penurunan kualitas pelayanan jalan, dan lain-lain. Pemaha-man tentang ruang parkir di pusat perbelanjaan diperlukan semua stakeholders yang berfungsi sebagai referensi perencanaaan ruang parkir yang baik di kawasan dan bangunan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menjelaskan ruang parkir di suatu pusat perbelanjaan. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis non-statistik dan statistik dengan menganalisis karakteristik parkir, pola parkir, kapasitas jalan, dan tingkat pelayanan jalan. Lokasi penelitian berada di pusat perbelanjaan yang terletak di Jalan Tanjungpura, Kota Pontianak. Dari penelitian ini ditemukan hasil bahwa karakteristik ruang  parkir  pada  kawasan pusat perbelanjaan  dipengaruhi  oleh  pola aktivitas kegiatan bongkar muat barang dan durasi parkir kendaraan pengangkut barang serta  pola aktivitas kegiatan berbelanja pengunjung  yang menggunakan  mobil penumpang. Penataan menggunakan pola parkir dengan sudut 0 di badan jalan akan meningkatkan kapasitas jalan. Pusat perbelanjaan dengan model shopping street akan menarik jumlah pergerakan kendaraan  lebih kecil jika dibandingkan dengan  model department store. Jenis parkir on street di pusat perbelanjaan (shopping street) memiliki tingkat efektivitas pergantian kendaraan yang parkir lebih baik jika dibandingkan dengan jenis parkir off street di pusat perbelanjaan seperti department store. Parking lot is a place where vehicle stop in an area or a building, where people perform various activities. The center of activity for people may form into several kinds; one of them is shopping center. Mobility level of goods and people in the shopping center, creating a heavy traffic movement in/out of area/building. The increased needs for parking spaces that are not followed by the availability of parking space in shopping center will potentially cause problems. The problems are: traffic congestion as the consequence of parking at public facilities (sidewalks and paving), accidents, the quality reduction of service roads, etc. Knowledge about “parking spaces” in the shopping center is needed by stakeholders as a reference to planning a good parking space for building/area. The purpose of this study is to investigate and explain the parking space at shopping center. The methods of this research is non-statistical and statistical analysis, used to analyze the characteristics of parking, patterns, road capacity and level of service. The research location is in the shopping center located at Jalan Tanjungpura Pontianak. The results of this study discover that the characteristic of parking lot in shopping center of Tanjungpura street are influenced by the activities pattern ofloading/unloading goods and the durations of cargo car parks, and the visitor’s shopping activities with passenger car. On-street parking will increase the road capacity by arrange it with 0° parking pattern. Shopping center with shopping street model attract more smaller vehicles movement if compared to department store model. On-street parking in shopping street has a better turnovers effectiveness rate rather than off-street parking in the department storeREFERENCESBeddington, Nadine. 1982. Design For Shopping Centres. London: Butterworth Scientific.Departemen Perhubungan Direktur Jendral Perhubungan Darat. 1996. Pedoman Teknis Penyelenggaraan Fasilitas Parkir. Jakarta: Departemen Perhubungan Direktur Jendral Perhubungan Darat.Directorate Of Urban Road Development. 1997. Highway Capacity Manual Project (HCM). Jakarta: Directorate General Bina Marga.Gruen, Victor. 1973. Centers For The Urban Enviroment: Survival Of The Cities. New York: Van Nostrand Reinhold Co.Hakim, Rustam dan Hardi Utomo. 2003. Komponen Perancangan Arsitektur Lansekap. Jakarta: PT. Bumi Aksara.Marlina, Endy. 2008. Panduan Perancangan Bangunan Komersial. Yogyakarta: AndiMunawar, Ahmad. 2009. Manajemen Lalu Lintas Perkotaan. Yogyakarta: Beta OffsetNeufert, Ernest. 2002. Data Arsitek Jilid II Edisi 33. Jakarta: Erlangga.Setijowarno dan Frazilia R.B. 2001. Pengantar Sistem Transportasi. Semarang: Unika Soegijaprata.Tamin, Ofyar Z. 2000. Perencanaan dan Permodelan Transportasi, Edisi Kedua. Bandung: Institut Teknologi Bandung.Transportation Research Board. 1994. Highway Capacity Manual, Third Edition Special Report 209. Washington D.C: National Research Council.Warpani, Suwardjoko. 1988. Rekayasa Lalu Lintas. Jakarta: PT. Bhratara Niaga Media
PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR JALAN SEBAGAI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN KETAPANG Juniardi, Ferry; Azwansyah, Heri
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.894 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v1i1.18807

Abstract

Kabupaten Ketapang merupakan kabupaten yang sedang berkembang perlu didukung dengan infrstruktur jaringan jalan yang baik.  Studi ini bertujuan mengembangkan infrastruktur jaringan jalan untuk mendukung pergerakan kendaraan di Kabupaten Ketapang. Studi ini membutuhkan data-data pergerakan kendaraan dan jaringan jalan yang diperoleh dari instansi terkait dan survei lapangan. Model bangkitan pergerakan kendaraan dipengaruhi oleh jumlah sarana kesehatan (X3), sedangkan model tarikan pergerakaan kendaraan  dipengaruhi oleh jumlah penduduk (X1) dan  jumlah sarana kesehatan(X3). Jaringan jalan  arteri primer yang dikembangkan meliputi : ruas Jalan batas Kabupaten Sanggau   Batas  Kecamatan  Balai Berkuak; ruas Jalan Batas Kecamatan Balai Berkuak  Aur Kuning; ruas Jalan Aur Kuning  Sandai; ruas Jalan Sandai  Nanga Tayap; dan ruas Jalan Nanga Tayap  Batas Provinsi Kalimantan Tengah.  Sementara itu, untuk meningkatkan aksesibilitas juga dilakukan peningkatan dan pengembangan terhadap beberapa jalan kolektor primer. Ketapang regency is growing and need to be supported by a good road network infrastructure. This study aims to develop a network infrastructure to support the movement of vehicles in Ketapang regency. This study requires data of movement of vehicles and the road network, obtained from the relevant agencies/departments and field survey. Vehicles trip generation models influenced by number of health facilities (X3), while pull models of vehicle movement influenced by number of residents (X1) and number of health facilities ( X3). Primary artery roads network that was developed include: regency’s boundary road of Sanggau – district’s boundary road of Balai Bekuak; district’s boundary road of Balai Bekuak - Aur Kuning; road segment of Aur Kuning - Sandai; road segment of Sandai - Nanga Tayap, and road segment of Nang Tayap – province’s boundary of Central Kalimantan. In addition, to improve accessibility, it also necessary to makes some improvement and development of the primary collector roadsREFERENCESBPS Kabupaten Ketapang. 2012. Kabupaten Ketapang Dalam Angka. BPS Kabupaten Ketapang. Ketapang.Dirjen Bina Marga. 1997. Manual Kapasitas Jalan Indoensia. Jakarta.Lubis, Muhammad E. 2012. Penetapan Model Bangkitan Pergerakan Untuk Beberapa Tipe Perumahan di Kota Pematangsiantar, Media Teknik Sipil, Volume 10, Nomor 1, Februari 2012: 27 – 34. Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang. Malang.Raperda RTRW Kabupaten Ketapang 2013 – 2033. KetapangTamin, Ofyar Z. 2008. Perencanaan, Pemodelan, dan Rekayasa Transportasi : Teori, Contoh Soal, dan Aplikasi. Penerbit ITB. Bandung.-----------. 2009. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Sekretariat Negara RI. Jakarta
STUDI PENGELOLAAN INFRASTRUKTUR DASAR DI KECAMATAN TELOK BATANG KABUPATEN KAYONG UTARA. STUDI KASUS DESA SUNGAI PADUAN DAN DESA MAS BANGUN Azwansyah, Heri; Juniardi, Ferry
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.973 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v1i1.18808

Abstract

Infrastruktur yang memadai dapat mendukung kegiatan ekonomi masyarakat. Studi ini bertujuan untuk mengetahui aksesibilitas infrastruktur dasar bagi masyarakat pedesaan di Desa  Sungai Paduan dan Desa Mas Bangun Kecamatan Telok Batang.  Studi ini membutuhkan data-data aksesibilitas dan kondisi infrastruktur dasar yang diperoleh dari instansi terkait, observasi lapangan dan interview.  Studi ini  menggunakan  metode Integrated Rural Accessibility Planning  (IRAP).  Tingkat aksesibilitas menggunakan beberapa indikator aksesibilitas tiap infastruktur. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pada Desa Sungai Paduan prioritas pertama,  kedua dan ketiga berturut-turut sektor pertanian/perkebunan, sektor sumber air bersih, dan  sektor industri/perdagangan dengan nilai aksesibilitas sebesar 9,90, 9,00, dan 7,59. Pada Desa Mas Bangun, prioritas pertama, kedua dan ketiga untuk mendapat penanganan infrastruktur adalah sektor pertanian/perkebunan, sektor sumber air bersih, dan  sektor Kesehatan dengan nilai aksesibilitas sebesar 10,80, 9,00, dan 7,62. Untuk meningkatkan aksesibilitas inftasratruktur tersebut dapat dilakukan dengan perbaikan fasilitas dan penyedian sarana transportasi, sementara saat ini jalan desa yang ada masih baik. A decent infrastructure is able to support economic activities. This study aims to find out the basic infrastructure accessibility for rural communities in Sungai Paduan village and Mas Bangun village, Telok Batang district. This study requires the data of access and basic infrastructure conditions, obtained from the relevant agencies/departments, field observation, and inteview. This study use Integrated Rural Accessibility Planning (IRAP) method. A level of accessibility uses some indicators of accessibility in each of infrastructures. The study concluded that the priorities in Sungai Paduan village serially  are: agriculture/plantation as the first priority, followed by water resource sector and the industrial/trade sector, with accessibility values ranging from 9.90, 9.00, and 7.59. While in Mas Bangun village, as the first, second and the third priority to get infrastructure treatment are agriculture/plantation, water resources sector, and the health sector with the accessibility values ranging from 10.80, 9.00, and 7.62. To improve the accessibility of infrastructure can be done through facility repairing and the provision of means of transportation. Currently, the existing roads in both villages are in the good conditionREFERENCESAzwansyah, H. 2010. Perencanaan Infrastruktur di Desa Tanjung Satai dan Desa Satai Lestari Kecamatan Pulau Maya Karimata. Jurnal Teknik Sipil Universitas Tanjungpura vol 10 Nomor 2. Desember 2010. Fakultas Teknik Untan. Pontianak.BPS Kabupaten Kayong Utara. 2012. Kalimantan Barat Dalam Angka, BPS Kabupaten Kayong Utara. Sukadana.Parikesit, D., Pratama, D.A., Ekawati, N., 2003. Modul Pelatihan Perencanaan Infrastruktur Perdesaan, Kerjasama Universitas Gajah Mada dengan Kementrian Koordonator Bidang Ekonomi dan International Labour Organization. Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik UGM. Yogyakarta.Dennis, Ron. 1998. Rural Transport and Accessibility. Development Policies Departement, ILO office Geneva.Donnges, Chris. 1999. Rural Access and Employment, The Laos Experience. Development Policies Departement, ILO office Geneva.Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD). 2012. Mewujudkan Pembangunan Ekonomi Bagi Kesejahteraan Rakyat. KPPOD Brief Edisi September – Oktober 2012. KPPOD. Jakarta
PERUBAHAN KARAKTER ARSITEKTUR PERMUKIMAN KAMPUNG BETING KOTA PONTIANAK KALIMANTAN BARAT Sari, Indah Kartika
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.321 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v1i1.18809

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui perubahan karakter arsitektur permukiman di Kampung Beting Kota Pontianak dalam tiga periode masa pertumbuhan permukiman yakni periode Kesultanan, periode Transisi dan periode Republik. Arsitektur sebagai wujud kebudayaan merupakan bentuk yang paling rentan berubah sebagai bentuk adaptasi  terhadap  perkembangan jaman  dan membentuk perubahan  pada  suatu permukiman. Meskipun demikian, wujud kebudayaan yang diinginkan adalah perubahan yang tetap memelihara karakter inti dan menyesuaikannya dengan kondisi saat ini sehingga tetap terjaga benang merah antara masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Berdasarkan latar belakang dan permasalahan tersebut maka metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian rasionalistik, yakni dengan cara menyusun materi-materi berdasarkan teori dan dilanjutkan dengan  penelusuran empiri tersebut dan dilanjutkan analisis karakter bentuk arsitektur di lokasi amatan, yaitu Stylistic System,  Physical System  dan  Spatial System. Tahapan  ini  diawali dengan dengan studi pustaka kemudian menentukan variabel-variabel dilanjutkan dengan mengobservasi sumber data dari lokasi amatan penelitian pada kondisi saat ini (periode republik) dilanjutkan  dengan melakukan wawancara untuk mendapatkan data baik berupa subject self account atau interpretasi dari penulis pada periode masa kesultanan dan periode masa transisi sehingga dapat direkonstruksi karakter arsitektur permukiman dalam beberapa periode tersebut. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh rumusan perubahan selama tiga periode tersebut dengan menemukan perubahan baik dari stylistic system (bentuk dan dimensi bangunan), physical system (material dan fungsi) maupun spatial system (karakter ruang, pola ruang, hirarki posisi, maupun orientasi. Perubahan-perubahan bentuk tersebut dapat mewakili kondisi kebudayaan pada masa itu yang apabila dirangkaikan akan dapat bercerita tentang sejarah dan kebudayaan dari arsitektur permukiman tersebut. This study aims to determine the change of the architecture character of the residential in the Kampung Beting of Pontianak city. The change classified into three periods of the settlement growth, namely: the Sultanate, transition, and the Republic period. Architecture as expression of culture is the most susceptible element that change by adaptation due to the changing times, and forming changes  in settlement. However, the desirable form of cultures is a change that kept the core of characters and adapt to the current condition that maintained underlying causes between the past, present and future. Based on the background, the method that used in this study is the rationalistic research methods by arranging materials which is based on the theory and continued with the empirical exploration, then follows by analyzing character’s form of the architecture in the site; including stylistic system, physical system and spatial system. This research was begun with the literature review, then followed by determination of variables, observation of location on the current situation (republic’s period), and interviews to get data either as subject self account or author’s intrepretation. The result, obtained a formula of changes over the three periods. The changes occur on stylistic system (shape and dimensions of the building), physical system (material and function) as well as the spatial system (character space, spatial patterns, hierarchical position, and orientation). The changes of form may represent the culture conditions on certain period. From the sequences of changes will inform about the historical-cultural context of the settlement architecture on the areaREFERENCESAlqadrie, Rossandra Dian Wijaya. 2010, Morfologi Kota Pontianak. Program Pascasarjana. Universitas Gadjah Mada. YogyakartaBudihardjo, Eko; Agung Budi Sardjono; Galih Widjil Pangarsa; Eddy Prianto. 2011. Arsitektur dalam Perubahan Kebudayaan. Tulisan dalam blog pribadi http://arsip-s3arskotundip.blogspot.com/2011/05/arsitektur-dalam-perubahan-kebudayaan-2.htmlChing, Francis D.K, 2000. Arsitektur Bentuk Ruang dan Tatanan. Erlangga. JakartaDoxiadis, C. A. 1968. Ekistic, an Introduction to the Science of Human Settlements.    Hutchinson of London. LondonFuad, Zubaidi. 2009. Arsitektur Kaili sebagai Proses dan Produk Vernakular. Jurnal “ruang” volume 1 Nomor 1 September 2009. Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur Universitas  Tadulako. PaluHabraken, N.J. 1976. Variations: The Systematic Design of Supports; MIT Cambridge. MassachusettsMangunwijaya, YB. 1988. Wastu Citra,Pengantar ke Ilmu Budaya Bentuk Arsitektur Sendi-sendi Filsafatnya Beserta Contoh-contoh Praktis.  PT. Gramedia. JakartaRapoport, Amos. 1969. House Form and Culture. University of Winconsin. MilwaukeeRapoport, Amos. 1977. Human Aspects of Urban Form: Towards a Man-Environment Approach to Urban Form and Design. University ofWinconsin. MilwaukeeYunus, Hadi Sabari, 2000. Struktur dan Tata Ruang Kota. Pustaka Bel. YogyakartaVincent. 1983. Perencanaan Tapak Untuk Perumahan (terjemahan). Erlangga. JakartaZeisel, John. 1981. Inquiry by Design, Tools for Environment, Behaviour Research. Cambridge University Press. California
THERMAL COMFORT STUDY OF TEACHERS' ROOM AT SEKOLAH BINA MULIA PONTIANAK Suryajaya, Albert; Caesariadi, Tri Wibowo
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.791 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v1i1.18810

Abstract

Thermal comfort is one of the important aspects to ensure the comfort of a building. School building, e.g. Sekolah Bina Mulia, Pontianak is used for education activities for about eight hours a day. The teachersfourth floor and still applies the natural air ventilation system while other rooms use mechanical ventilation system. It is interesting to see thermal comfort condition in the ort of the room depends on the environment. Because of its position on the fourth floor, the wind circulation can flow freely and the application of air ventilation is possible. The average temperature is 29.599ºC, 71.216% for relative humidity and 0.143 m/s for wind speed, and 29.482ºC for MRT. The average value of PMV is 1.615. The thermal comfort value, based on the average of PPS*(PMV) calculation for three days observation is 0.130 and it is the neutral condition. This means the room is comfort for the users and it is mainly because  of the windows, sun shading, and the building materials which support the natural air ventilation of the school Kenyamanan termal merupakan salah satu aspek penting untuk memastikan suatu bangunan dapat memberikan kenyamanan bagi penggunanya. Bangunan sekolah, seperti Sekolah Bina Mulia Pontianak merupakan bangunan pendidikan yang digunakan kurang lebih delapan jam dalam satu hari. Ruang guru pada sekolah Bina Mulia, yang terletak pada lantai empat masih menggunakan sistem ventilasi udara alami sementara ruangan lain menggunakan sistem penghawaan mekanikal. Kenyamanan termal pada ruangan tentu sangat tergantung pada Keadaan lingkungan. Karena posisinya yang cukup tinggi, pergerakan udara pada ruangan juga lebih bebas. Artinya, aplikasi ventilasi udara alami sangat memungkinkan. Nilai temperatur udara rata-rata pada ruangan adalah 29,599 ºC, kelembaban 71,216%, kecepatan udara 0,143 m/det dan nilai temperatur radiasi 29,482ºC. Nilai PMV rata-rata pada ruangan adalah 1,615. Nilai PPS*(PMV) rata-rata pada ruangan tersebut dalam tiga hari pengamatan adalah 0,130 dan merupakan kondisi netral. Ini artinya ruangan tersebut nyaman bagi penggunanya, yang pada dasarnya dikarenakan sistem jendela, pelindung matahari, dan material bangunan dapat mendukung ventilasi udara alami pada bangunan REFERENCESAlucci, Marcia Peinando; Leonardo Marques Monteiro. 2009. Thermal Comfort Index for The Assessment of Outdoor Urban Spaces in Subtropical Climates. University of Sao Paulo. Sao PauloBrager, G.S. and R. de Dear. 2001. Climate, Comfort, & Natural Ventilation: A new adaptive comfort standard for ASHRAE Standard 55. University of California. Berkeley.Charles, Kate E. 2003. Fanger’s Thermal Comfort and Draught Models. Institute for Research in Construction. OttawaDarby, Sarah and Rebecca White. 2005. Thermal Comfort. University of Oxford. LondonHensen, J.L.M. 1990. Literature Review on Thermal Comfort in Tranisent Conditions. Eindhoven University of Technology. EindhovenMangunwijaya, Yusuf Bilyarta. 1929. Pengantar Fisika Bangunan. Djambatan. JakartaMors, Sanderter, Jan L. M. Hensen, Marcel Loomans, Atze Boerstra. 2011. Adaptive thermal comfort in primary school classrooms: Creating and validating PMV-based comfort charts. Eindhoven University of Technology. EindhovenOrosa, Jose A. 2009. Research on the Origins of Thermal Comfort. University of A Coruña. A CoruñaParsons, Ken. 2003. Human Thermal Environments: The effect of Hot, Modern, and Cold Environments on Human Health, Comfort, and Performance. Tj International Ltd. CornwallPau, J.S., William K.S. Pao, Shaharin A. Sulaiman, and E. Halawa. 2013. Adaptive Thermal’s Model for Optimum Thermal Comfort Setting fo Lecture Halls in Malaysia. CREAM - Current Research in Malaysia Vol.2, No. 2Satwiko, Prasasto. 2005. Fisika Bangunan 1 Edisi 2. Andi. Yogyakarta
ARSITEKTUR TRADISIONAL TIONGHOA: TINJAUAN TERHADAP IDENTITAS, KARAKTER BUDAYA DAN EKSISTENSINYA Khaliesh, Hamdil
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (749.569 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v1i1.18811

Abstract

Budaya merupakan sebuah proses perkembangan pola pikir yang terjadi secara bertahap dalam waktu yang lama. Proses ini terjadi selama manusia ada dan terus  berkembang sesuai dengan  pengembangan wawasan keilmuan. Setting lingkungan merupakan salah satu faktor yang berperan kuat dalam pembentukan karakter budaya. Tionghoa merupakan etnis yang  banyak melakukan perpindahan ke daerah lain termasuk diantaranya daerah barat dan asia, baik dengan hubungan perdagangan maupun ekspedisi. Saat ini, banyak ditemukan daerah  Permukiman Tionghoa di beberapa tempat, sebut saja  Pecinan atau China town. Namun yang menarik adalah perbedaan tempat dan lingkungan tersebut tidak membuat eksistensi Budaya Tionghoa memudar. Dari sekian banyak karakter budaya Tionghoa, yang paling menonjol adalah bentuk arsitekturnya. Hal ini terjadi karena bentuk budaya yang paling mudah dilihat adalah bentuk fisiknya dalam hal ini  arsitektur bangunannya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bagaimana Budaya Tionghoa dapat bertahan dengan eksistensi nilai arsitektur bangunannya. Pemahaman terhadap karakteristik Arsitektur Tionghoa menjadi sangat penting dalam  memahami perkembangan budayanya. Penelitian ini dibatasi pada ruang lingkup arsitektur tradisional. Pemilihan wilayah studi juga berkaitan dengan  perbandingan Arsitektur  Tionghoa pada budaya barat dan timur. Interpretasi deskriptif berdasarkan persamaan dan perbedaan arsitektur  bangunan  akan menjelaskan bagaimana Etnis Tionghoa mampu meminimalisir pengaruh budaya lain terhadap karakter arsitekturnya. Hasil penelitian menunjukan identitas arsitektur tradisional Tionghoa  terbentuk  dengan konsistensi terhadap  nilai kepercayaanya. Sementara  kepercayaan adalah landasan utama yang membentuk Kebudayaan Tionghoa. Oleh karena itu,  refleksi eksistensi Budaya Tionghoa akan berimplikasi terhadap eksistensi identitas arsitekturnya Culture is a process of mindset development that occur gradually over a long time. This process occurs during human life on earth and continue to evolve in accordance with the development of scientific knowledge. The environment setting is one of the factors that play a strong role in shaping the cultural character. Chinese is ethnic which has a lot of migration to other areas such as western and asian regions, either by trading or expedition. Currently,  many Chinese settlement areas are found in several places, called Pechinan or China town. The interesting one is the difference of environment where they live does not make the existence of their culture are fade. From several characters of Chinese culture, the most prominent is the architecture. This happens because of cultural forms is most easily seen in form of physical or architecture of the building. This study aims to identify how the Chinese culture can survive with the existence of architectural value. Understanding about Chinese architecture characteristic is very important to understand the development of the culture. This study limited only to the scope of traditional architecture. The selection of study area is also related to the comparation of Chinese architecture in western and eastern culture. Descriptive interpretation based on similarities and differences in the architecture of the building were able to explained how the Chinese ethnic minimize other cultural influences on the character of the architecture. The results showed that the traditional Chinese architectural identity is formed by the consistency of the religious value. While religion is the major base in the Chinese cultural forming. Therefore, the reflection of existence of Chinese culture have implications for the existence of their architectural identityREFERENCESBanks, J.A., Banks, & McGee, C. A. 1989. Multicultural education. Needham Heights, MA: Allyn & Bacon.Carey, Peter.  1985. Masyarakat Jawa dan Masyarakat China. Jakarta: Pustaka AzetCatanese, A. J. & Snyder, J. C. (1991). Pengantar Arsitektur. Jakarta: Penerbit ErlanggaChen, Joyce. 2011. Chinese Immigration to the United States:History, Selectivity and Human Capital. The Ohio State University.Damen, L. 1987. Culture Learning: The Fifth Dimension on the Language Classroom. Reading, MA: Addison-Wesley.García. J. F. Culture. Ashland University, Ohio. http://personal.ashland.edu/jgarcia/culture1.html, didownload pada 15 okteober 2011.Guo, Shibao &  Don J. DeVoretz. 2006. Chinese Immigrants in Vancouver: Quo Vadis? Discussion Paper No. 2340. Simon Fraser University. Burnaby, BC V5A 1S6. CanadaHandinoto. 2008. Perkembangan Bangunan Etnis Tionghoa di Indonesia (Akhir Abad ke 19 sampai tahun 1960-an). (Prosiding Simposium Nasional Arsitektur Vernakular 2. Petra Christian University – SurabayaKhol, David G. 1984. Chinese Architecture in The Straits Settlements and Western Malaya: Temples Kongsis and Houses, Heineman Asia, Kuala Lumpur. Archipel. Volume 33, 1987. p. 185Kupier, Kathleem. 2011.  The Culture Of Tionghoa. Britannica Educational Publishing. New YorkMaspero, Henri. Translated by Frank A. Kierman, Jr. 1981. Taoism and Chinese Religion. University of MassachusettsO’Gorman, J. F. 1997. ABC of Architecture. Philadelphia: University of Pennsylvania PressPratiwo. 2010. Arsitektur Tradisional Tionghoa dan Perkembangan Kota. Penerbit Ombak. YogyakartaRummens,  Joanna. 2001. An Interdisciplinary Overview of canadian Research on Identity. Department of Canadian Heritage for the Ethnocultural, Racial, Religious, and Linguistic Diversity and Identity Seminar Halifax, Nova ScotiaSalem, MA.  A Teacher’s Sourcebook for Chinese Art & Culture. Peabody Essex Museum.Guo, Shibao  and Don J. DeVoretz. 2006. Chinese Immigrants in Vancouver:Quo Vadis? IZA Discussion Paper. GermanyTaylor, Rodney L. 1982.  "Proposition and Praxis: The Dilemma of Neo-Confucian Syncretism". Philosophy of East and West, Vol. 32, No. 2 pg. 187Wade, Geoff. 2007. The “Liu/Menzies”World Map: A Critique. e-Perimetron, Vol. 2, No. 4, Autumn 2007 [273-280]Widayati, Naniek. 2004. Telaah Arsitektur Berlanggam China di Jalan Pejagalan Raya Nomor 62 Jakarta Barat. Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 32, No. 1, Juli 2004: 42 - 56Wigglesworth, S. & Till, J. 1998. The Everyday and Architecture. Architectural Design. New York: Princeton Architectural PressWong, Bernard. 1998. Ethnicity and Entrepreneurship: The New Chinese Immigrants in  the San Francisco Bay Area. Allyn &Bacon A Simon & Schuster Company. San Francisco State University. United States of America

Page 1 of 10 | Total Record : 96