Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Identifikasi Sifat Morfologi dan Fisiologi Isolat Bakteri Blood Disease Bacteria (BDB) Pada Bibit Pisang (Musa SP) Ambon Hijau Darmansyah, Darmansyah; Yefriwati, Yefriwati
LUMBUNG Vol 17 No 2 (2018): Juli
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32530/lumbung.v17i2.38

Abstract

Pisang (Musa sp) merupakan salah satu jenis buah tropika yang mempunyai potensi cukup tinggi untuk dikelola secara intensif dengan berorientasi agribisnis, karena pisang telah menjadi usaha dagang ekspor dan impor di pasar Internasional. Akhir-akhir ini tanaman pisang banyak terserang penyakit layu bakteri, untuk mengatasi permasalahan ini maka digunakan teknologi Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA). FMA merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualisme dengan akar tanaman yang dapat mengendalikan serangan penyakit. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi sifat morfologi dan fisiologi isolat bakteri Blood Disease Bacteria (BDB) Pada Bibit Pisang. Penelitian ini telah dilaksanakan di laboratorium Biologi Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, mulai dari bulan Mei sampai Juli 2017. Parameter yang diamati adalah (1) sifat morfologi koloni bakteri BDB (ukuran, bentuk, permukaan), (2) sifat fisiologi bakteri BDB (uji gram, uji pektinase). Berdasarkan hasil identifikasi sifat morfologi bakteri BDB di laboratorium terlihat bentuk koloni bulat, bentuk sel batang, warna koloni putih dengan formasi kuning dan ukuran koloni 0,5 â?? 4,5 um. Sedangkan sifat fisiologi dari bakteri BDB ini adalah gram positif dan enzim pektinase.
INTRODUKSI FORMULA FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA DARI RIZOSFER PISANG PADA BIBIT PISANG UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT DARAH BAKTERI (RALSTONIA SOLANACEARUM PHYLOTYPE IV) Yefriwati, Yefriwati; Habazar, Trimurti; Husin, Eti Farda
JURNAL AGROTROPIKA Vol 16, No 1 (2011): Agrotropika Vol.16 No.1 2011
Publisher : JURNAL AGROTROPIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.012 KB)

Abstract

Blood disease bacteria (BDB) caused by Ralstonia solanacearum Phylotype IV (Pseudomonas solanacearum) is one of the most important diseases on banana. Using biological agents such as arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) to control BDB is still not maximal result, based on that need to search a potensial indigeneous AMF specific location. The aim of this experiment were to study the stability of formulated AMF indigenous to control BDB and to increase growth of banana seedlings. This research was arranged by Factorial in Randomized Complete Design (RCD) on green house experiment with 5 replicate. The treatment consist of 2 factors : 1) enrichment of carrier of AMF, sand with rock phosphate (0, 10, 20 and 40 %). 2) incubation periode (0, 1 and 2 months). Banana seedlings were intruduced with formulated AMF at planting date. Two month old banana seedlings were inoculated with Ralstonia solanacearum Phylotype IV. The parameter were observed include: incubation periode, disease insidence, disease severity, discoloration of pseudostem, population density of Ralstonia solanacearum Phylotype IV, colonisation degree of AMF on banana root, spore density on rhizosphere, growth of banana seedlings.The results showed that all formulated AMF introduced on banana seedlings reduced BDB development and increase banana growth compare with control plants, especially the formulated AMF enriched with 30 % rock phosphate.Key Words: arbuscular mycorrhizal fungi, blood disease bacteria, biological controll agents, banana
PENGARUH JARAK TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN UMBI TANAMAN KENTANG (Solanum tuberosum.L) DI BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN SUMETERA BARAT. yulianti, uzi; yefriwati, yefriwati
HORTUSCOLER Vol. 1 No. 02 (2020): Oktober
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32530/jh.v1i02.254

Abstract

Kentang (Solanum tuberosum.L) merupakan salah satu sayuran yang memiliki peranan penting dalam memenuhi kebutuhan pangan. Produksi kentang di Indonesia masih rendah disebabkan salah satunya penggunaan mutu bibit yang digunakan mempunyai kualitas rendah dan pengetahuan yang kurang tentang budidaya. Optimalisasi produksi tanaman kentang dapat dilakukan dengan pengaturan jarak tanam. Pengaturan jarak tanam terhadap produksi umbi benih kentang dapat mempengaruhi persaingan dalam hal penggunaan air dan zat hara. Semakin rapat perlakuan jarak tanam semakin meningkat pertumbuhan tinggi tanaman kentang, lebar daun, dan umbi yang berukuran kecil lebih banyak. Berdasarkan permasalahan tersebut telah dilakukan percobaan tugas akhir dengan judul “Pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kentang (Solanum tuberasum. L)”. Tujuan percobaan ini adalah mengetahui pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil umbitanaman kentang sebagaibibitdan untuk mendapatkan satu jarak tanam yang memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan dan umbi bibit tanaman kentang. Percobaan tugas akhir ini dilakukan mulai tanggal 26 Februari – 23 April 2019. Tempat pelaksanaan percobaan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat. Perlakuan menggunakan pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil umbi bibit tanaman kentang, dengan menggunakan jarak tanam 20 cm x 20 cm, 15 cm x 15 cm dan 10 cm x 10 cm. Parameter yang diamati pada percobaan ini adalah, tinggi tanaman, lebar daun, jumlah tunas, dan bobot umbi. Tahapan pelaksanaannya pertama perlakuan, kedua persiapan media tanam tanaman kentang, ketiga penyiapan bibit tanaman kentang, keempat pengukuran jarak tanam dan pembuatan lubang tanam, kelima penanaman umbi tanaman kentang, keenam pemeliharaan tanaman meliputi : penyiraman, penyiangan, pemupukan susulan, ketujuh pengamatan, kedelapan panen. Hasil percobaan ini adalah penggunaan jarak tanam 10 cm x 10 cm untuk pembibitan lebih optimal pertumbuhan dan hasil umbi yang didapatkan. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat dikesimpulan bahwa, 1. Jarak tanam berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil umbi tanaman kentang sebagai bibit. 2. Jarak tanam terbaik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman kentang sebagai bibit terdapat pada percobaan jarak tanam 10 cm x 10 cm. Sebaiknya pada pembibitan tanaman kentang untuk bibit menggunakan jarak tanam 10 cm x 10 cm.
PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK TABUR (POT) DAN ZEOLIT UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHANDAN HASIL TANAMAN MENTIMUN (Cucumis sativus L.)DI PT.INDMIRA YOGYAKARTA yefriwati, yefriwati; Delvira, Ziela
HORTUSCOLER Vol. 2 No. 01 (2021): April
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32530/jh.v2i01.380

Abstract

Mentimun (Cucumis sativus L.) merupakan salah satu jenis tanaman sayur tropis yang banyak dikembangkan di Indonesia dan memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Salah satu upaya untuk mendukung pengembangan budidaya mentimun yaitu dengan menggunakan pupuk organik tabur (POT) dan Zeolit. POT merupakan pupuk organik tabur yang berasal dari bahan organik yang banyak mengandung hara makro (N,P, dan K) dan hara mikro (Ca dan Mg). Pengaruh bahan organik terhadap sifat fisik tanah adalah terhadap peningkatan porositas tanah. Zeolit sering digunakan sebagai pembenah tanah.Tujuan percobaan ini yaitu (1) mengoptimalkan produksi tanaman mentimun dengan menggunakan pupuk organik tabur (POT) dan zeolit (2) mengetahui pengaruh penggunaan pupuk organik tabur (POT) dan zeolit yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun. Kegiatan percobaan tugas akhir ini telah dilakukan selama 3 bulan dari bulan Maret sampai Mei 2019 yang bertempat di kebun percobaan PT. Indmira, Sleman, Yogyakarta.Alat yang digunakan, cangkul, seedbed, meteran, ember, gelas akua, alat tulis (spidol, pena dan rol), kaleng bekas. Bahan yang dibutuhkan adalah bibit mentimun, NPK mutiara, MPPH, zeolit , Pupuk POT, ajir, semat (bambu), dolomit, arang , sekam bakar, cocopeat, tali rafia, kantong plastik.Parameter yang diamatiya itu tinggi tanaman, jumlah duan, lebar daun, awal muncul bunga dan hasil. Berdasarkan hasil pengamatan menggunakan kombinasi pupuk organik tabur (POT) dan zeolit dapat mengoptimalkan pertumbuhan tanaman mentimun dilihat dari tinggi tanaman (21,35 cm), jumlah daun (9,75 helai), lebar daun (17,10 cm), awal muncul bunga (2,70 buah), dan produksi (13,989 gr), dan dalam budidaya tanaman mentimun disarankan menggunakan kombinasi pupuk organik tabur (POT) dan zeolit.