This Author published in this journals
All Journal Edible : Jedb
Murtado, A.D.
Unknown Affiliation

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

KARAKTERISTIK KIMIA, FISIKA DAN SENSORIS PEMPEK LENJER KERING DENGAN KONSENTRASI CaCl2 Saparudin, Arman; Murtado, A.D.
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 6, No 1 (2017): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v6i1.625

Abstract

This study aims to determine the effect of various concentrations of CaCl2 determine the characteristics of the chemical, physical and sensory pempek lenjer dry, knowing the role of CaCl2 treatment in the absorption of water and find out on how the use of CaCl2 concentration that produces pempek lenjer dry. This research was conducted in the laboratory of the Factulty of Agriculture, University of Muhammadiyah Palembang in April 2016 Until August 2016. This is study uses a randomized block design (RAK) are arranged in a fakorial with various concentrations of CaCl2 treatment factors in the manufacture of dry lenjer pempek consisting of six factors and the treatment was repeated four times. The parameters observed in this study is an analysis of the chemical include moisture and protein content, the analysis of physics include the degree of elasticity, water absorption pempek lenjer raw speed of water absorption pempek lenjer dry, long cooking time and volume development pempek lenjer dry and analysis of sensorilal attributes include aroma, color and flavor lenjer pempek dry. Treatment of various concentrations of CaCl2 very significant effect on the chemical charateristics (moisture and protein content), physics (the level of resilience, water absorption pempek lenjer raw speed of water absorption pempek lenjer dry, long cooking time and volume development pempek lenjer dry) and effect significant effect on sensory properties (aroma, colour and falvor) lenjer pempek dry. A level of the highest value to the aroma, colour and falvor pempek lenjer contained in C3 treatment with average values of 3.75, 3.90 and 3.95 are included criteria rather. Preffered Organoleptic test for aroma, colour and falvor Treatment C3 (CaCl2 concentration of 1.5% by weight of water immersion) have the highest preference level value than the treatment of C1, C2, C3, C4, C5 and C6 to get a good dry lenjer pempek authors suggest treatment should use C3 (CaCl2 concentration of 1.5% by weight of water immer.
PERBANDINGAN SIRSAK DAN TEPUNG KETAN PADA DODOL SIRSAK YANG DIHASILKAN Tahufik, Ahmad Mada; Murtado, A.D.; Suyatno, Suyatno
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 2, No 1 (2013): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v2i1.517

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh perbandingan sirsak dan tepung ketan dalam pembuatan dodol sirsak yang baik. Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang pada bulan Oktober 2012 sampai dengan Desember 2012. Metode penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok yang disusun secara non faktorial terdiri dari tiga tingkat faktor perlakuan dan diuji sebanyak lima kali. Dengan masing-masing perlakuan F1 (20% daging sirsak+40% tepung ketan+10% santan kelapa+30% gula merah), F2 (30% daging sirsak+30% tepung ketan+10% santan kelapa+30% gula merah) dan F3 (40% daging sirsak+20% tepung ketan+10% santan kelapa+30% gula merah). Parameter yang diamati dalam penelitian terdiri dari analisis kimia meliputi kadar air, kadar gula dan kadar vitamin C. Sedangkan uji organoleptik terdiri dari warna, rasa dan tekstur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan sirsak dan tepung ketan berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air, kadar gula dan kadar vitamin C. Penilaian uji organoleptik menunjukkan bahwa perbandingan sirsak dan tepung ketan berpengaruh nyata terhadap warna, rasa dan tekstur dodol sirsak yang dihasilkan. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa perlakuan F3 menghasilkan dodol sirsak terbaik dengan kadar air (26,564 %), kadar gula (41,591 %) dan kadar vitamin C (10,933 mg/100g), warna (3,23), rasa (3,23), dan tekstur (3,58) dengan kriteria agak disukai oleh panelis.
ANALISIS PERBANDINGAN KUALITAS CUKO PEMPEK ASAM ASETAT DAN ASAM LAKTAT Gunawan, Edi; Murtado, A.D.; Muchsiri, Mukhtarudin
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 2, No 1 (2013): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v2i1.487

Abstract

This research used a completely randomized design (CRD) arranged Factorially which consists of six units experiment were repeated three times with each unit experiment A1 (200 ml acetic acid), A2 (250 ml acetic acid), A3 (300 ml acetic acid), A4 (200 ml lactic acid), A5 (lactic acid 250 ml), and A6 (300 ml lactic acid). The parameters which observed in this research consists of acid total, acidity, sugar total, and viscosity. The organoleptic consists of color, flavour and taste. The results showed that the acetic concentration and lactic acid was very  significant effect to the acid total, acidity, sugar total and viscosity. The organoleptic test showed that the acetic acid comparation and lactic acid have significantly effect for color, flavor and taste of cuko pempek. The conclution from this research showed that A2 unit experiment has the best result with acid total (2.38), acidity (4.54), sugar total (29.50), viscosity (1.01), color (3.24), flavour (3.08) and taste (3.36) which has grade three.
KARAKTERISTIK KIMIA DAN FISIK KENTANG SELAMA PENYIMPANAN DALAM KONDISI GELAP Murtado, A.D.
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 3, No 1 (2014): EDIBLE
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v3i1.147

Abstract

Bertujuan untuk: 1) menganalisis sifat kimia dan fisik kentang selama masa penyimpanan dalam kemasan pada kondisi gelap, 2) mengetahui jenis kemasan yang baik untuk masa penyimpanan, mengetahui umur simpan kentang dalam jenis kemasan pada kondisi gelap.Kentang yang digunakan adalah jenis kentang kuning dengan bobot 150 gr ± 5gr. Kentang setelah dilakukan pembersihan melalui pencucian dan di keringkan dengan di lap, kemudian kentang dimasukan dalam kemasan kantong polyetilen, kantong polybag dan karung goni.Selanjutnya disimpan dalam kondisi gelap. Pengamatan dilakukan pada awal penyimpanan (0 hari penyimpanan), umur 5 hari penyimpanan, 10 hari penyimpanan, 25 hari penyimpnan dan 20 hari penyimpanan. Pengamatan meliputi kadar air, kadar pati, kadar gula dan susut bobot kentang.Dilaksanakan di laboratorium kimia Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang dan laboratorium Balai Penelitian dan Pengambangan Industri Palembang. Diperoleh bahwa selama masa penyimpanan 20 hari terjadi penurunan kadar air, kadar pati dan kadar gula. Kemasan polyetilen menunjukkan hasil yang lebih baik dibanding kemasan polybag dan kemasan karung goni.Akan tetapi kemasan polybag mampu mengurangi susut bobot terbaik disbanding kemasan polyetilen dan karung goni.
KARAKTERISTIK KIMIA DAN FISIK KENTANG SELAMA PENYIMPANAN DALAM KONDISI TERANG Murtado, A.D.
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 2, No 1 (2013): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v2i1.521

Abstract

Bertujuan untuk: 1) menganalisis sifat kimia dan fisik kentang selama masa penyimpanan dalam kemasan pada kondisi terang, 2) mengetahui jenis kemasan yang baik untuk masa penyimpanan, mengetahui umur simpan kentang dalam jenis kemasan pada kondisi terang.Kentang yang digunakan adalah jenis kentang kuning dengan bobot 150 gr ± 5gr. Kentang setelah dilakukan pembersihan melalui pencucian dan di keringkan dengan di lap, kemudian kentang dimasukan dalam kemasan kantong polyetilen, kantong polybag dan karung goni.Selanjutnya disimpan dalam kondisi terang. Pengamatan dilakukan pada awal penyimpanan (0 hari penyimpanan), umur 5 hari penyimpanan, 10 hari penyimpanan, 25 hari penyimpnan dan 20 hari penyimpanan. Pengamatan meliputi kadar air, kadar pati, kadar gula dan susut bobot kentang.Dilaksanakan di laboratorium kimia Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang dan laboratorium Balai Penelitian dan Pengambangan Industri Palembang. Diperoleh bahwa selama masa penyimpanan 20 hari terjadi penurunan kadar air, akadar pati dan kadar gula. Kemasan polyetilen menunjukkan hasil yang lebih baik dibanding kemasana polybag dan kemasan karung goni.Akan tetapi kemasan polybag mampu mengurangi susut bobot terbaik disbanding kemasan polyetilen dan karung goni.
MEMPELAJARI BERBAGAI SUHU AWAL PEREBUSAN TERHADAP KEHILANGAN PROTEIN DAGING SAPI BAGIAN HAS DALAM Sari, Dian Novita; Murtado, A.D.; Muchsiri, Mukhtarudin
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 5, No 1 (2016): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v5i1.639

Abstract

Mempelajari Berbagai Suhu Awal Perebusan terhadap Kehilangan Protein Daging Sapi Bagian Has Dalam. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan suhu awal perebusan yang mampu memperkecil kehilangan protein dan sifat indrawi daging, dan untuk optimalisasi perebusan. Penelitian ini dilaksanakan dilaboratorium Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang pada bulan Oktober 2013 sampai dengan bulan April 2014. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang disusun secara non fakorial dengan faktor perlakuan dengan faktor perlakuan berbagai suhu awal perebusan daging sapi yang terdiri dari empat faktor perlakuan dan diulang sebanyak empat kali. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah untuk analisis kimia dilakukan analisis kadar protein pada daging mentah dan daging sapi bagian has dalam yang sudah direbus. Analisis fisik dilakukan uji residu pada air rebusan dan susut daging setelah perebusan pada daging sapi bagian has dalam. Sedangkan uji organoleptik meliputi warna, aroma dan penampakan total dengan menggunakan uji hedonik. Perlakuan suhu awal perebusan daging berpengaruh sangat nyata terhadap kadar protein, kehilangan kadar protein, residu air rebusan, susut volume dan susut berat daging sapi has dalam rebus. Kadar protein tertinggi terdapat pada perlakuan D4 (suhu awal perebusan 1000C) dengan nilai rata-rata 14,54%, Kehilangan Kadar Protein tertinggi terdapat pada perlakuan D1 (suhu awal perebusan 400C) dengan nilai rata-rata 22,08% Residu air rebusan tertinggi terdapat pada perlakuan D1 (suhu awal perebusan 400C) dengan nilai rata-rata 1,38%. Susut volume tertinggi terdapat pada perlakuan D1 (suhu awal perebusan 400C) dengan nilai rata-rata 65,461%. Susut berat tertinggi terdapat pada perlakuan D1 (suhu awal perebusan 400C) dengan nilai rata-rata 48,696%. Uji organoleptik terhadap warna, aroma dan penampakan total pada perlakuan D4 (suhu awal perebusan 1000C) mempunyai tingkat kesukaan tertinggi terhadap warna, aroma dan penampakan total daging sapi dibanding perlakuan D1, D2, D3, Untuk mendapatkan daging sapi rebus yang baik penulis menyarankan sebaiknya menggunakan perlakuan D4 (suhu awal perebusan 1000C).
PENGARUH PERBANDINGAN DAUN DAN KELOPAK BUNGA ROSELA PADA PEMBUATAN “Rosela Blended Tea” Meriyanto, Habibi; Murtado, A.D.; Dasir, Dasir
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 1, No 1 (2012): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v1i1.484

Abstract

Nama latin rosela adalah Hibicus sabdariffa L. Hibicus termasuk tanaman tropis yang tumbuh tahunan. Daun, bunga dan biji rosela memiliki kandungan gizi yang begitu baik sehingga rosela tidak hanya berpotensi untuk bahan baku industri makanan, tetapi juga berpotensi digunakan sebagai bahan baku industri farmasi, minuman tradisional, pewarna alami dan kosmetik. Salah satu pemanfaatan daun dan kelopak bunga rosela adalah pembuatan “rosela blended tea”. Rosela blended tea adalah teh rosela yang dibuat dari kelopak bunga dan daun rosela, melalui proses blanching, pelayuan, pengeringan, dan pengecilan ukuran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbandingan daun dan kelopak bunga rosela pada pembuatan “rosela blended tea”. Menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara non faktorial dengan faktor perlakuan perbandingan daun rosela dan kelopak bunga rosela yang terdiri dari enam tingkat faktor perlakuan dan diuji sebanyak empat kali. Dengan masing-masing perlakuan adalah R0 (100% Daun rosela dan 0% kelopak bunga rosela), R1( 90% Daun rosela dan 10% kelopak bunga rosela), R2 (80% Daun rosela dan 20% kelopak bunga rosela), R3 (70% Daun rosela dan 30% kelopak bunga rosela) R4 (60% Daun rosela dan 40% kelopak bunga rosela), R5 (50% Daun rosela dan 50% kelopak bunga rosela). Parameter yang diamati dalam penelitian ini untuk analisis kimia adalah kadar air, kadar abu dan vitamin C. Sedangkan untuk uji Organoleptik meliputi rasa, Warna dan aroma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan daun dan kelopak bunga rosela berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air, kadar abu, kadar vitamin C. Penilaian uji organoleptik menunjukkan bahwa perbandingan daun dan kelopak bunga rosela berpengaruh nyata terhadap rasa, aroma dan warna teh “rosela blended tea”. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa perlakuan R3 menghasilkan teh “rosela blended tea” terbaik dengan kadar air (8,610%),kadar abu (5,544), kadar vitamin C (26,062/100g), rasa (3,62), dan aroma (3,45), warna (1,63) dengan kriteria agak disukai sampai disukai oleh panelis
PENGARUH BLANSIR DAN LAMA PENGERINGAN TERHADAP TEPUNG TEMPE YANG DIHASILKAN Rahmatullah, Dian Agung; Dasir, Dasir; Murtado, A.D.
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 1, No 1 (2012): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v1i1.480

Abstract

Tempe merupakan produk fermentasi yang tidak dapat bertahan lama. Tempe difermentasikan oleh kapang Rhizophus sp. Setelah terjadi proses fermentasi, nilai gizi protein tempe meningkat karena terjadinya pembebasan asam amino oleh aktifitas enzim proteolitik dari tempe. Permasalahannya dalam pemanfaatan tempe sebaga bahan pangan adalah sifatnya yang mudah rusak dan hanya bertahan sampai 2 hari penyimpanan. Untuk itu perlu dilakukan diversifikasi tempe menjadi produk yang tahan lama dan mudah disubtitusi ke bahan makanan lainnya untuk meningkatkan proteinnya dengan cara merubah tempe menjadi tepung tempe. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Blansir dan Lama Pengeringan terhadap Tepung Tempe yang dihasilkan. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial terdiri dari sembilan perlakuan dan diulang sebanyak tiga kali. Masing-masing perlakuan adalah Blansir selama 3 menit, 5 menit, 7 menit dan lama pengeringan 6 jam, 8 jam dan 10 jam. Parameter yang diamati dalam penelitian terdiri dari analisis kimia meliputi kadar protein, kadar air dan kadar abu, sedangkan organoleptik terdiri dari warna dan aroma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa blansir berpengaruh sangat nyata terhadap kadar protein dan kadar air tepung tempe, tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap kadar abu. Lama pengeringan berpengaruh sangat nyata terhadap kadar protein, kadar air dan kadar abu tepung tempe. Interaksi blansir dan lama pengeringan berpengaruh sangat nyata terhadap kadar protein dan berpengaruh nyata terhadap kadar abu, tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap kadar abu tepung tempe.Penilaian organoleptik menunjukkan bahwa blansir dan lama pengeringan berpengaruh nyata terhadap warna dan aroma tepung tempe. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa interaksi perlakuan B1L3 (7 menit dan lama pengeringan 10 jam) menghasilkan tepung tempe terbaik dengan kadar protein (37,918g/100g), kadar air (11,750%), kadar abu (2,318%), warna (3,49) dan aroma (3,33) dengan kriteria disukai.