Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

STRUKTUR RUMAH TINGGAL MASYARAKAT JULAH: WUJUD PEWARISAN TRADISI ARSITEKTUR BERKELANJUTAN DI BALI UTARA Ni Putu Suda Nurjani
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (616.404 KB)

Abstract

ABSTRAKIsu lingkungan telah menjadi isu populer dan aktual dalam satu dekade terakhir ini. Hal itu melahirkan berbagai upaya untuk menghasilkan solusi yang tepat bagi permasalahan lingkungan. Berdasarkan kondisi tersebut, salah satu konsep pemecahan masalah yang saat ini banyak dibicarakan adalah arsitektur berkelanjutan (sustainable architecture). Namun demikian, sustainable architecture bukan sekedar menyangkut persoalan teknologi-material, tapi juga menyangkut sikap budaya dan pendidikan. Pada masyarakat tradisional misalnya, sustainability terjadi bukan hanya dengan perwujudan fisik, namun lebih pada adanya kepercayaan atas nilai-nilai yang mendasarinya, yaitu penghargaan dan pemahaman untuk menjaga keselarasan alam. Seperti yang terjadi pada masyarakat Desa Julah. Julah merupakan salah satu desa Bali Aga (Bali asli) yang sampai saat ini sangat taat terhadap adat dan tradisi. Berdasarkan hasil observasi penulis di Desa Julah, tidak ditemukan perubahan yang besar terutama dalam hal pembentukan struktur spasial ruang rumah tinggal masyarakatnya. Walaupun sudah banyak masyarakat Julah yang mapan dari segi ekonomi, akan tetapi mereka tetap taat terhadap adat dan tradisi. Kelestarian lingkungan adalah hal utama yang menjadi pertimbangan dalam setiap permasalahan yang terjadi di Desa Julah. Penelitian ini mengkaji dua hal mendasar yang membentuk karakter keruangan rumah tinggal masyarakat Julah. Pertama, mendeskripsikan bagaimana pola perilaku budaya masyarakat Julah dalam berinteraksi dengan lingkungan alam dan lingkungan binaan (arsitektur) secara selaras dan berkelanjutan. Kedua, mengkaji bagaimana pola perilaku itu dipelihara dan diwariskan melalui proses pembelajaran kepada generasi berikutnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif, yang tidak hanya berfokus pada proses (perilaku) tetapi juga pada bentuk fisik rumah tinggal sebagai produk budaya arsitektur.Kata Kunci : Arsitektur berkelanjutan, rumah tinggal, tradisiABSTRACTEnvironmental issues have become a popular and actual issues in the past decade. It spawned numerous attempts to produce appropriate solutions for environmental problems. Under these conditions, one of the problem-solving that is currently widely discussed in architecture is sustainable development. However, sustainable architecture is not simply linked to a problem-material technology, but also about cultural attitudes and education. In traditional societies, for example, sustainability occurs not only with the physical embodiment, but rather on their confidence in the underlying values, namely respect and understanding to maintain the harmony of nature. As happened in the village community Julah. Julah is a Bali Aga village (original Balinese), which until now was very obedient to the customs and traditions. Based on observations in this village, there are no major changes, especially in terms of the formation of the spatial structure of residential space community. Although, many people in Julah village established in terms of the economy, but they remain obedient to custom and tradition. Environmental sustainability is the main thing to be considered in any problems that occurred in the Julah village. This study examines the two fundamental things that characterize spatial of Julah residential community. First, describe how the patterns of cultural behavior in society Julah interact with the natural environment and the built environment (architecture) in a harmonious and sustainable. Second, examine how patterns of behavior that are maintained and passed through a learning process to the next generation. The method used in this study is a qualitative research method, which not only focuses on the process (behavior) but also on the physical form of the residence as a cultural product architecture.Keyword: sustainable architecture, house, tradition
Dinamika Kampung Kota Berkelanjutan Di Tengah Pandemi Covid-19 Ni Putu Suda Nurjani
Jurnal Ilmiah Vastuwidya Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Mahendradatta Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47532/jiv.v4i1.248

Abstract

Kampung kota sebagai salah satu wujud permukiman di Indonesia, dimasukkan dalam kategori permukiman kumuh (Slums). Kehidupan perkotaan yang dipandang mampu memberikan harapan penghidupan bagi masyarakat desa, membawa arus bawaan yaitu perpindahan penduduk sehingga ruang publik yang ada di perkotaan menjadi semakin berkurang. Lokalitas yang terkandung pada tatanan kampung akan memberi karakter bagi pembentukan semangat urbanisme baru yang sesuai dengan karakter masyarakat. Perwujudan urbanitas dan ruang kota yang berkelanjutan dapat dicapai dengan rumusan prinsip-prinsip yang telah lama diwariskan oleh nenek moyang bangsa ketika membentuk sebuah kampung tradisional. Namun, di tengah pandemi covid-19 yang melanda dunia, keberadaan kampung kota di Indonesia mengalami gejolak yang cukup besar. Masyarakat urban yang dulu nya membentuk sebuah kampung di daerah perkotaan, kini memilih kembali pulang ke daerah asal akibat minimnya pekerjaan yang tersedia di kota. Banyak pekerja dirumahkan tanpa pesangon, dengan tuntutan hidup yang besar, membuat kaum urban memilih pulang kembali ke kampung halaman. Kawasan permukiman yang sebelumnya tumbuh tidak direncanakan, kini ditinggalkan. Ilegal settlement yang dahulu meresahkan, semenjak pandemi berubah menjadi kampung tidak bertuan. Ketika sebuah permukiman yang awalnya dianggap sebagai sebuah beban dan merusak citra kawasan kini ditinggalkan, apakah kota menjadi lebih baik, apakah kehidupan sosial masyarakat kota menjadi baik atau sebaliknya. Fenomena ini memerlukan sebuah kajian mendalam. Citra buruk kota yang sebelumnya selalu dibebankan pada permukiman kumuh, kini bisa dilihat bagaimana permasalahan agraria yang sebenarnya. Dalam permukiman kumuh tumbuh sistem kekerabatan baru yang saling menguatkan antar orang perantauan, membentuk sebuah ruang publik informal yang mendukung kaum individualistis yang hidup di kota.
Exploration of Spatial Design Issues at Backpacker Hostels in Budapest’s Historic Center; Sebuah Review Terhadap Informality dan Adaptasi Desain di Kawasan Budapest, Hungaria Ni Putu Suda Nurjani
Jurnal Ilmiah Vastuwidya Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Mahendradatta Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.781 KB) | DOI: 10.47532/jiv.v3i1.96

Abstract

Transformation is something that cannot be avoided by everyone. Like wise with the change of a region as a phenomenon that can not be avoided by any country in the world. Many researchers who try to review more about the phenomenon of change as a form of adaptation or adjustment to the new environment. However, in developing an area many factors must be considered. When a previous area has a high historical value, the change becomes a technical matter that requires a thorough study. Like this study by Gergely Horryn et al (2017). In this study, Gergely Horryn et al tried to make an alternative hostels design for the development of the Budapest, Hungary region. Given the high historical value of this city, the authors use the method of comparing literature with design feedback from field observations. The design changes were made based on consideration of the historical value of the city, the interior of the room, and the shape of the building to be displayed. From several fedbcak designs, a conclusion about the design of hostels cube are then termed Hc.
IMPLEMENTASI RUANG PUBLIK PREVENTIF COVID-19 DI BALI Ni Putu Suda Nurjani
Jurnal Ilmiah Vastuwidya Vol 4, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Mahendradatta Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47532/jiv.v4i2.316

Abstract

Pandemi covid-19 yang melanda dunia saat ini, memberikan perubahan besar khususnya dalam pemanfaatan ruang publik. ­Public space yang sebelumnya dibangun tanpa adanya batasan ruang, kini diwajibkan untuk dapat beradaptasi guna mencegah penyebaran virus. Adaptasi penggunaan ruang dalam menangani setiap wabah atau bencana, memerlukan sebuah analisa sebagai wujud partisipasi dalam membangun psikologi postif yang mendukung kesehatan masyarakat. Arsitektur lahir dari interaksi manusia dengan spatial setting yang ada di sekitarnya. Membentuk ruang sebagai wadah untuk berinteraksi dengan sesama. Beragam penafsiran masyarakat muncul dalam mengimplementasikan sebuah ruang preventif. Social distancing adalah prinsip dasar perencanaan sebuah ruang di masa pandemi. Minimnya panduan dasar terkait desain ruang preventif covid-19, memunculkan beragam desain ruang yang berpengaruh terhadap sistem kerja dan sistem pelayanan di masyarakat, khususnya yang berada pada ruang publik. Kajian ini bersifat kualitatif deskriptif, dengan mengambil studi kasus pemanfaatan ruang publik di Bali selama pandemi covid-19. Sejauh mana masyarakat memahami dan mengimplementasikan physical distancing dalam sebuah ruang publik, serta seberapa besar fenomena ini dapat mempengaruhi desain dan ergonomi kerja, merupakan analisa dasar yang wajib diketahui bersama, sebelum merencanakan dan mengimplementasikan ruang preventif covid-19 untuk pelayanan publik.
Implementasi Teori Asiatica Euphoria McGee Dalam Pengembangan Zona Industri Studi Kasus: Desa Bajera, Kecamatan Selemadeg, Kabupaten Tabanan, Bali Ni Putu Suda Nurjani
Jurnal Ilmiah Vastuwidya Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Mahendradatta Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (730.38 KB) | DOI: 10.47532/jiv.v2i1.70

Abstract

Cities in Indonesia were initially formed through the transformation of various influences of power and power. Strength as an identity that can attract the outermost area to come to an area, while power lies in the personal strength of man as the leader of a region. These conditions have an impact on the development of the world of industry in the country. Transforming traditional city structures into a modern city, not only physically but also a basic transformation towards the concept of urbanity of its citizens. The urban village as an element of the city which is the identity of a region, still holds a traditional urbanity value system that is different from the conception of modern urbanity. This condition affects the development of industrial zones, such as what happened in Bajera Village, Selemadeg District, Tabanan Regency. The heterogeneity of the population of Bajera Village is one of the biggest indicators of the formation of an industrial zone. The existence of a transportation mode that connects the outermost areas of Bajera with the Core of Bajera Village is another driving factor that influences the growth of industrial estates. This study tried to explain descriptively qualitatively, a fact of regional development based on Asiatica Euphoria McGee's theory. The special attraction in the core of Bajera Village encourages residents in the outermost areas of Bajera to migrate to the core areas of Bajera Village with the aim of staying temporarily and to settle for long periods of time. This phenomenon is in line with the theory put forward by McGee, that the CBD (central business district) is formed due to the attraction of the core (core) and the ease of modes of transportation from peri urban areas to the CBD. This condition makes Bajera village the center of industrial and trade areas in the Selemadeg Barat region, Tabanan, Bali.
Landasan Pembentukan Spasial Kawasan Taman Bumi Global Batur (Batur Global Geopark, Kintamani, Bangli, Bali) Ni Putu Suda Nurjani; Adiyanto Firdiyansyah
Jurnal Ilmiah Vastuwidya Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Mahendradatta Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.305 KB) | DOI: 10.47532/jiv.v3i2.210

Abstract

The area of Taman Bumi Global Batur (Batur Global Geopark) as the World Cultural heritage is an integrated area consisting of 15 villages with a variety of potential. Cultural potential, economic, infrastructure that determines the environmental sustainability in the caldera area of Batur. Since it was established as a world cultural heritage by UNESCO on September 20, 2012 in Portugal, the region has not been able to positively impact the environmental sustainability surrounding the Geopark area. Identifying the potential of the area is still minimal, so the distribution and development of spatial foundations of the spatial is difficult to implement. The depiction of the structure of the residential space can also be seen from other cultures such as ritual implementation and religious events. This study is one of identifying form of spatial structure of the area in the caldera. Data collection with observations directly to the object of study, and interviews with the surrounding community and policy stakeholders, then the results of data in the analysis with related theories that resulted in an overview of the establishment of spatial structure of space that is expected to help sustainable development in the caldera area of Batur, Kintamani, Bangli.
Disrupsi Industri 4.0; Implementasi, Peluang Dan Tantangan Dunia Industri Indonesia Ni Putu Suda Nurjani
Jurnal Ilmiah Vastuwidya Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Mahendradatta Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.321 KB) | DOI: 10.47532/jiv.v1i2.23

Abstract

The Industrial Phenomenon 4.0 has transformed the way humans work into automation / digitization through innovations. Industry 4.0 says the era of technology disruption because of automation and connectivity in a field will make the movement of the industrial world and work competition to be non-linear. Industry players can’t be separated from the internet. All objects are equipped with sensor-assisted technology devices and are able to communicate themselves with information technology systems. This phenomenon then raises the concern that in the era of disruption of human role as the driving force of an industry will be shifted by the presence of smart robots. Humans are no longer dependent on other humans or natural resources, but depend on artificial intelligence products. Based on this, the authors make a qualitative descriptive study that raises the phenomenon of industry in Indonesia, the extent to which 4.0 industry is already known by the people of Indonesia, as well as what opportunities can be utilized by industry players to face the era of digitalization industry. In this study it can be seen that the era of industry 4.0 can be seen as a big enough opportunity for the development of industrial world, because it created equal opportunity for industry players in creating an innovation and at the same time marketing a product. Capital and power are no longer a major obstacle, because innovation and creativity in utilizing digital media is the key to success of every industry player in the industrial disruption era 4.0.
Penataaan Fasade Rumah Susun Dengan Mempertimbangkan Kebutuhan Akan Ruang Privat Frysa Wiriantari; Ni Putu Suda Nurjani
Jurnal Ilmiah Vastuwidya Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Mahendradatta Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.857 KB) | DOI: 10.47532/jiv.v2i2.82

Abstract

A significant increase in population in Indonesia demands the availability of housing as a basic necessity of the community. The limited land area, especially in Bali, has resulted in very high land prices. Flats as one of the efforts of the government and the private sector are considered as one way to overcome these problems. But unfortunately, the existence of flats which on the one hand overcomes the housing problem, on the other hand, raises a new problem, namely the slum impression of flats caused by flats fail to accommodate the basic activities of residents of flats. One such activity is the activity of laundry. In this study, the Kreneng and Sesetan Police Dormitory Flats were used as research objects. By linking the problem with several theories regarding flats, this article is expected to be able to provide an alternative solution to existing problems. With the fulfilment of the housing needs of the community and still being able to maintain the facade of the building, it is expected that the impression of dirty and slum flats can be overcome. The use of surrounding materials will be able to show a tropical impression and add values to the aesthetics of the building.
ANALISIS KERAPATAN VEGETASI MENGGUNAKAN DATA CITRA SATELIT SENTINEL-2A DI KABUPATEN TABANAN Sagung Putri Chandra Astiti; Ni Putu Suda Nurjani
Jurnal Ilmiah Vastuwidya Vol 4, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Mahendradatta Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47532/jiv.v4i2.315

Abstract

Tabanan adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Bali yang memiliki potensi wilayah pertanian dan ruang terbuka hijau yang cukup besar. Peningkatan jumlah demografi penduduk diiringi dengan pesatnya perkembangan industri pariwisata di Kabupaten Tabanan, membuat ruang terbuka hijau dengan vegetasi alami semakin berkurang. Minimnya data pemetaan vegetasi yang dimiliki oleh Kabupaten Tabanan, membuat evaluasi terhadap kelestarian lingkungan semakin sulit. Tingkat alih fungsi lahan di sebuah kawasan sangat sulit untuk diidentifikasi akibat terbatasnya data, serta kondisi topografi wilayah yang relatif tinggi, memerlukan sebuah kajian data satelit untuk membantu Kabupaten Tabanan membuat pemetaan vegetasi yang akurat. Salah satu metode penginderaan jauh untuk mengetahui keberlanjutan dalam pengembangan potensi pertanian dan vegetasi adalah dengan melakukan analisis kerapatan vegetasi atau yang dikenal dengan metode Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Data yang digunakan untuk melakukan analisis NDVI adalah data citra satelit Sentinel-2A yang memiliki resolusi spasial 10 m dengan tahun analisis 2016 - 2020. Berdasarkan hasil pemetaan dan analisis luas lahan (ha) untuk kelas vegetasi yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa nilai kerapatan vegetasi di Kabupaten Tabanan termasuk dalam kelas vegetasi rapat, yang didominasi berada pada Kecamatan Pupuan, Kecamatan Selemadeg Barat, Kecamatan Selemadeg Timur, Kecamatan Selemadeg dan Kecamatan Penebel.
Arsitektur Regionalisme Tropis Hotel Alila Manggis, Bali. Quo Vadis Between Sustainable Architecture And Design Development Siluh Putu Natha Primadewi; Ni Putu Suda Nurjani
Jurnal Ilmiah Vastuwidya Vol 5, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Mahendradatta Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47532/jiv.v5i1.403

Abstract

Berkembangnya regionalisme tropis sebagai sebuah gerakan desain yang mengutamakan respon terhadap iklim, dengan memanfaatkan kemungkinan-kemunginan alam melalui konfigurasinya harus menyediakan pengendalian iklim yang dibutuhkan pengguna. Pengendalian iklim melalui desain termasuk diantaranya arsitektur hotel yang terlihat pada penataan ruang dan tampilan untuk mendukung respon terhadap iklim. Hotel Alila Manggis merupakan salah satu akomodasi berbintang di Bali, yang mana dalam proses desain dan pembangunannya terikat pada budaya dan peraturan daerah yang berlaku di Bali. Tujuan dari makalah ini adalah untuk menganalisis arsitektur hotel Alila Manggis dengan mempergunakan pendekatan desain regionalisme tropis, sebagai salah satu pendekatan desain berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan menganalisis desain regionalisme tropis yang diterapkan pada arsitektur hotel Alila Manggis, yang dibatasi pada wujud atau penampilan luar suatu objek arsitektur, seperti sistem spasial, fisik, dan tampilan.