Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Konsep Humanisme Yunani Kuno dan Perkembangannya dalam Sejarah Pemikiran Filsafat Hadi, Sumasno
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 22, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Humanisme adalah suatu faham filsafat yang menjunjung tinggi nilai-nilai dan kedudukan manusia serta menjadikannya sebagai kriteria segala sesuatu. Humanisme mempunyai objek utama yaitu sifat hakiki manusia beserta batas-batas dan kecenderungan alamiahnya. Humanisme sebagai istilah, dalam sejarah intelektual, selalu menyoroti persoalan-persoalan kemanusiaan yang sering digunakan di dalam kajian bidang filsafat. Humanisme sebagai gerakan intelektual muncul pada era renaissance yang memiliki akar kuat pada zaman Yunani Kuna. Dua hal pokok di dalam peradaban Yunani Kuna yang menjadi sumber konsep humanisme adalah perkembangan pemikiran filsafat dari persoalan alam (kosmologis) menuju pembicaraan soal-soal manusia (antropologis); dan konsep “paideia” sebagai sistem pendidikan Yunani Kuna yang menjadi awal dari kesadaran intelektual manusia dan menjadi perenungan eksistensi manusia dalam bentuk daya nalarnya. Kata Kunci: humanisme, paideia, Yunani Kuno
PEMIKIRAN SUTAN TAKDIR ALISYAHBANA TENTANG NILAI, MANUSIA, DAN KEBUDAYAAN Hadi, Sumasno
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 21, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sutan Takdir Alisyahbana is one of the Indonesian greatest intellectuals concerned with human and cultural issues.He is a man of letters, linguist, philosopher and social scientist.His background of knowledge is different from most sociologists, anthropologists and historians so that it is not surprise that his thought of culture has its own style.His thoughts are rooted in humanism which developed inEurope since Renaissance to the rise of neo-positivism. According to him, a reality is a result of intellect and a movement of values.He believes that ethics generally is the core of individual, social, and cultural life. Ethical relationships of value are the main core of cultural issue. Human, as a creator of culture, has a dual nature. One side, human is a natural creature and on the other side, human is an intellectual/ reason creature. As a natural creature, human is subjected to natural laws which control his/her birth and physical life. Meanwhile, as an intellectual/ reason creature, according to him, human obedience to the law of reason defines humanity and allows human creates a high culture.Keywords: Sutan Takdir Alisyahbana, value, human, culture.
UJIAN NASIONAL DALAM TINJAUAN KRITIS FILSAFAT PENDIDIKAN PRAGMATISME Hadi, Sumasno
Al Adzka Vol 4, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini adalah sebuah kajian analitis terhadap aliran pemikiran filsafat pendidikan pragmatisme.Analisis tersebut digunakan untuk melakukan tinjauan kritis atas konsep dan pelaksanaan UjianNasional dalam sistem pendidikan di Indonesia. Jenis kajian ini adalah kajian pustaka denganmenggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Adapun metode analisis yang dipakai adalahhermeneutika dan interpreteasi sebagai metode yang menekankan pada perumusan makna. Hasilkajian ini menyatakan bahwa filsafat pendidikan pragmatisme adalah konsep pendidikan yangdidasarkan pada pengakuan akan perubahan, proses, relativitas dan rekonstruksi pengalaman pesertadidik sebagai manusia. Dalam tinjauan filsafat pendidikan pragmatisme, sistem Ujian Nasional perludikaji ulang sebab pelaksanaan Ujian Nasional tidak menjamin para peserta didik untuk menempatkanpengetahuannya dalam memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Pendidikan pragmatisme jugamemandang evaluasi belajar bukan hanya diperoleh melalui sistem Ujian Nasional yang dominanmenilai aspek kognitif saja. Paradigma pendidikan pragmatisme melihat sistem Ujian Nasional kurangtepat untuk diterapakan dalam sistem evaluasi pendidikan di Indonesia karena hanya melibatkan sisiformalitas pendidikan belaka, tidak menyentuh hasil penilaian yang lebih bermakna sepertipengalaman dan keterampilan dalam memecahkan masalah.
Studi Etika Tentang Ajaran-Ajaran Moral Masyarakat Banjar Sumasno Hadi, Sumasno Hadi
TASHWIR Vol 3, No 6 (2015): (April-Juni)
Publisher : IAIN Antasari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v3i6.594

Abstract

Based on the philosophy and the cosmology of Banjar people, the ethics theory that can raised is a religio-teleological ethics. This concept of ethics has stated that the value of happiness (eudeaimonia) as the goal of life was the quality of a happy life and hereafter. So, the ethical telos or goal is the happiness in a religious orientation. The happiness of the world is less weighty than the happiness of the life hereafter. It can be confirmed that the eudemonistic ethics of Banjar people is the concept of religious ethics. In addition to the religio-teleological and religio-eudoministic,, the Banjar ethics have also declared themselves as the harmony ethics, as well as the ethics of virtue and obligation.Keywords: The ethics of Banjar, the ethics of religio-teleologis, moral philosophy, moral teachingsBerdasarkan pandangan hidup (falsafah) dan kosmologi masyarakat Banjar, konsep/teori etika yang dapat diajukan adalah etika religio-teleologis. Konsep etika ini menyatakan bahwa nilai kebahagiaan (eudeaimonia) sebagai tujuan hidup adalah kualitas bahagia dunia-akhirat. Jadi telos atau tujuan etisnya adalah kebahagian secara religius (orientasi agama). Kebahagiaan dunia kurang berbobot dibandingkan dengan kebahagiaan akhirat. Dari sini dapat dinyatakan pula, etika eudemonistik masyarakat Banjar adalah konsep etika yang religius. Selain etika religio-teleologis dan religio-eudemonistik, etika Banjar juga menyatakan diri sebagai etika harmoni, juga etika keutamaan dan etika kewajiban.Kata kunci: etika Banjar, etika religio-teleologis, ajaran moral, filsafat moral
PEMIKIRAN SUTAN TAKDIR ALISYAHBANA TENTANG NILAI, MANUSIA, DAN KEBUDAYAAN Hadi, Sumasno
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 21, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.939 KB) | DOI: 10.22146/jf.3118

Abstract

Sutan Takdir Alisyahbana is one of the Indonesian greatest intellectuals concerned with human and cultural issues.He is a man of letters, linguist, philosopher and social scientist.His background of knowledge is different from most sociologists, anthropologists and historians so that it is not surprise that his thought of culture has its own style.His thoughts are rooted in humanism which developed inEurope since Renaissance to the rise of neo-positivism. According to him, a reality is a result of intellect and a movement of values.He believes that ethics generally is the core of individual, social, and cultural life. Ethical relationships of value are the main core of cultural issue. Human, as a creator of culture, has a dual nature. One side, human is a natural creature and on the other side, human is an intellectual/ reason creature. As a natural creature, human is subjected to natural laws which control his/her birth and physical life. Meanwhile, as an intellectual/ reason creature, according to him, human obedience to the law of reason defines humanity and allows human creates a high culture.Keywords: Sutan Takdir Alisyahbana, value, human, culture.
HUMANISME TEISTIK EMHA AINUN NADJIB DAN KONTRIBUSINYA BAGI KEHIDUPAN SOSIAL Hadi, Sumasno
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 27, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.434 KB) | DOI: 10.22146/jf.17206

Abstract

Emha Ainun Najib, or Emha, is a poet, artist, writer, thinker, and other populist designations that exist in Indonesian society. As a writer, his essays in the 1980s to the 1990s very coloring various mass media in Indonesia. There, many critical discourses and sharp in highlighting the social reality, religion, art and culture. The studies reviewed Emha thoughts in perspective philosophy of humanism. The result was found, that the thought Emha have a strong spirit in his defense to the humanitarian aspects (humanism). Spirit is supported by the value of spirituality and religiosity that leads to ethical purpose, namely a quality of “consciousness”. Humanism Emha is theistic humanism which has the potential to be used as a solution-critical reflections on the problems of social life.
KONSEP HUMANISME YUNANI KUNO DAN PERKEMBANGANNYA DALAM SEJARAH PEMIKIRAN FILSAFAT Hadi, Sumasno
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 22, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jf.12990

Abstract

Humanism is a philosophical view that upholds values and positions of human and make it as a criterion of all things. Humanism has its main object that is human nature, its limits and natural tendencies. Humanism as a term in the intellectual history has always highlighted problems of humanity that is often used in the study of philosophy. Humanism as an intellectual movement emerged in the Renaissance era which roots in Ancient Greece. Two main points of the Ancient Greek civilization as sources of humanism concept are a philosophical development from problems of nature (cosmological) into discussion about problems of human (anthropological); and the concept of "paideia" as the Ancient Greek education system that becomes the beginning of human consciousness and intellectual, and also a reflection of human existence in the form of reason.
UJIAN NASIONAL DALAM TINJAUAN KRITIS FILSAFAT PENDIDIKAN PRAGMATISME Hadi, Sumasno
Journal of Al-Adzka: Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol 4, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.101 KB) | DOI: 10.18592/aladzkapgmi.v4i2.139

Abstract

Tulisan ini adalah sebuah kajian analitis terhadap aliran pemikiran filsafat pendidikan pragmatisme.Analisis tersebut digunakan untuk melakukan tinjauan kritis atas konsep dan pelaksanaan UjianNasional dalam sistem pendidikan di Indonesia. Jenis kajian ini adalah kajian pustaka denganmenggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Adapun metode analisis yang dipakai adalahhermeneutika dan interpreteasi sebagai metode yang menekankan pada perumusan makna. Hasilkajian ini menyatakan bahwa filsafat pendidikan pragmatisme adalah konsep pendidikan yangdidasarkan pada pengakuan akan perubahan, proses, relativitas dan rekonstruksi pengalaman pesertadidik sebagai manusia. Dalam tinjauan filsafat pendidikan pragmatisme, sistem Ujian Nasional perludikaji ulang sebab pelaksanaan Ujian Nasional tidak menjamin para peserta didik untuk menempatkanpengetahuannya dalam memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Pendidikan pragmatisme jugamemandang evaluasi belajar bukan hanya diperoleh melalui sistem Ujian Nasional yang dominanmenilai aspek kognitif saja. Paradigma pendidikan pragmatisme melihat sistem Ujian Nasional kurangtepat untuk diterapakan dalam sistem evaluasi pendidikan di Indonesia karena hanya melibatkan sisiformalitas pendidikan belaka, tidak menyentuh hasil penilaian yang lebih bermakna sepertipengalaman dan keterampilan dalam memecahkan masalah.
UJIAN NASIONAL DALAM TINJAUAN KRITIS FILSAFAT PENDIDIKAN PRAGMATISME Hadi, Sumasno
Al-Adzka: Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol 4, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/aladzkapgmi.v4i2.139

Abstract

Tulisan ini adalah sebuah kajian analitis terhadap aliran pemikiran filsafat pendidikan pragmatisme.Analisis tersebut digunakan untuk melakukan tinjauan kritis atas konsep dan pelaksanaan UjianNasional dalam sistem pendidikan di Indonesia. Jenis kajian ini adalah kajian pustaka denganmenggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Adapun metode analisis yang dipakai adalahhermeneutika dan interpreteasi sebagai metode yang menekankan pada perumusan makna. Hasilkajian ini menyatakan bahwa filsafat pendidikan pragmatisme adalah konsep pendidikan yangdidasarkan pada pengakuan akan perubahan, proses, relativitas dan rekonstruksi pengalaman pesertadidik sebagai manusia. Dalam tinjauan filsafat pendidikan pragmatisme, sistem Ujian Nasional perludikaji ulang sebab pelaksanaan Ujian Nasional tidak menjamin para peserta didik untuk menempatkanpengetahuannya dalam memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Pendidikan pragmatisme jugamemandang evaluasi belajar bukan hanya diperoleh melalui sistem Ujian Nasional yang dominanmenilai aspek kognitif saja. Paradigma pendidikan pragmatisme melihat sistem Ujian Nasional kurangtepat untuk diterapakan dalam sistem evaluasi pendidikan di Indonesia karena hanya melibatkan sisiformalitas pendidikan belaka, tidak menyentuh hasil penilaian yang lebih bermakna sepertipengalaman dan keterampilan dalam memecahkan masalah.
Popular Banjar Song: Study on Music Form and Media Culture Hadi, Sumasno; Sulisno, Sulisno
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 21, No 1 (2021): June 2021
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v21i1.29349

Abstract

Technological developments in society and their social practices contribute to the popularity of folk songs. In this regard, this study aims: (1) to analyze the form of popular Banjar song music, and (2) to analyze the discourse and culture-media context that underpins the popularity of the Banjar song. This research was conducted using qualitative methods with data collection strategies including observation, document studies, questionnaires, and interviews. In the aspect of content, analysis of the form of music is carried out in stages: (1) notating the popular Banjar song document; (2) analyzing the form/structure of the music; (3) presenting the elements of the music form, and (3) making conclusions. Meanwhile, in studying the culture-media discourse on popular Banjar songs, it is carried out using the Pierre Bourdieu’s social practice approach which focuses on the concepts of habitus, capital, and the cultural field. Based on the analysis that has been carried out, it is known that popular Banjar songs have basic forms with three variations, namely the form of one part (A), two parts (AB), and three parts (ABC). However, it shows that most of the songs that exist are in the form of two parts, with a tendency to use major tonality. This finding confirms that the popular Banjar song is a product of mass culture, namely artworks produced from the popular culture ecosystem. In this study, it is also found that social and symbolic capital in the popularity of the Banjar song becomes a social practice that takes place in the cultural field of the people of South Kalimantan. The cultural field is a social space for cultural agents to actualize the popularity of the Banjar song.