Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

KEKERASAN FISIK TERHADAP ANAK DAN STRATEGI COPING YANG DIKEMBANGKAN ANAK Patnani, Miwa; Ekowarni, Endang; Etsem, Magda Bhinnety
Indigenous Vol. 6, No. 1, Mei 2002
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/indigenous.v0i0.4615

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kekerasan fisik yang diterima anak, baik dari ayah maupun dari ibu dengan strategi coping yang dikembangkan anak. Data kekerasan fisik, dan data strategi coping diperoleh melalui angket yang diberikan pada murid-murid sekolah dasar kelas V dan VI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara kekerasan fisik terhadap anak dengan strategi coping yang dikembangkan anak, tetapi tidak ada tipe strategi coping khas yang menonjol pada subjek penelitian ini. 
DESCRIPTION OF HAPPINESS ON THE BETAWI PEOPLE IN PERKAMPUNGAN BUDAYA BETAWI SETU BABAKAN Patnani, Miwa
Journal of Educational, Health and Community Psychology Vol 2 No 2 September 2013
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (27.945 KB)

Abstract

AbstractHappiness is an important thing in human life, so it’s not surprisingly that people tend to do anything they could to be happy in their life. So do the Betawi people which is known as the indigenous people in Jakarta. Betawi people now facing the unpleasant reality in spite of their inability to compete with the migrants community who come and dominate the economy growth in Jakarta. This inability to compete, forces the Betawi people to move from downtown to the suburbs of Jakarta. Another impact of this inability to compete is the low level of welfare among the Betawi people, which is in turn, affects their feeling of happy. This study aimed to describe the happiness among Betawi People who lived in Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, South Jakarta. Happiness questionaire was used to collect the data from 55 Betawi People. This questionaire consist of some open question and some question with alternative choices. Open questions describe the definition and sources of happiness, while question with alternative choices describe the level of happiness. The result showed that the subject of this study is quitely happy. The definition of happiness answered by the subject was categorized then, and finally revealed 7 themes: relationship within the family member, something correlated with material, having a peacefull life, something really important, achieving for what they want, physical health and to share with other people. Meanwhile, categorization on the sources of happiness found 8 sources: relationship within the family, materials, giving happiness to their beloved ones, relationship with spouses, physical health, having children, success and developing Betawi culture.Keywords: happiness, level, meaning, sources, Betawi
DESCRIPTION OF HAPPINESS ON THE BETAWI PEOPLE IN PERKAMPUNGAN BUDAYA BETAWI SETU BABAKAN Patnani, Miwa
Journal of Educational, Health and Community Psychology Vol 2, No 2: September 2013
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (27.945 KB)

Abstract

AbstractHappiness is an important thing in human life, so it’s not surprisingly that people tend to do anything they could to be happy in their life. So do the Betawi people which is known as the indigenous people in Jakarta. Betawi people now facing the unpleasant reality in spite of their inability to compete with the migrants community who come and dominate the economy growth in Jakarta. This inability to compete, forces the Betawi people to move from downtown to the suburbs of Jakarta. Another impact of this inability to compete is the low level of welfare among the Betawi people, which is in turn, affects their feeling of happy. This study aimed to describe the happiness among Betawi People who lived in Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, South Jakarta. Happiness questionaire was used to collect the data from 55 Betawi People. This questionaire consist of some open question and some question with alternative choices. Open questions describe the definition and sources of happiness, while question with alternative choices describe the level of happiness. The result showed that the subject of this study is quitely happy. The definition of happiness answered by the subject was categorized then, and finally revealed 7 themes: relationship within the family member, something correlated with material, having a peacefull life, something really important, achieving for what they want, physical health and to share with other people. Meanwhile, categorization on the sources of happiness found 8 sources: relationship within the family, materials, giving happiness to their beloved ones, relationship with spouses, physical health, having children, success and developing Betawi culture.Keywords: happiness, level, meaning, sources, Betawi
PEREMPUAN DAN HAK REPRODUKSI Patnani, Miwa
Indigenous Vol. 3, No. 1, Mei 1999
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/indigenous.v0i0.4548

Abstract

Fungsi reproduksi merupakan salah satu keistimewaan yang dimiliki kaum perempuan. Reproduksi merupakan proses yang sangat penting dalam kelangsungan regenerasi umat manusia. Oleh karena perempuan sebagai pengemban utama fungsi reproduksi, maka sudah seharusnya penghargaan yang tinggi diberikan pada kaum perempuan. Pada kenyataannya, perempuan merupakan pihak yang paling rentan terhadap tindak kesewenang-wenangan. Selama ini hak-hak perempuan yang berkaitan dengan fungsi reproduksi belum mendapatkan perhatian yang semestinya. Nasib perempuan yang selalu dipinggirkan tidak bisa dilepaskan dari dominasi kaum laki-laki yang merupakan imbas dari budaya patriakal yang selama ini dianut. Oleh karena itu untuk mengatasi ketimpangan tersebut, pembongkaran budaya merupakan solusi yang paling mungkin untuk dilakukan.
PENDIDIKAN EKOLOGI PADA ANAK Patnani, Miwa
Indigenous Vol. 3, No. 2, November 1999
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/indigenous.v0i0.4559

Abstract

Menurunnya kualitas lingkungan alam menjadi satu isu yang paling ramai dibicarakan sejak tahun 1970 an. Rasa cemas akan masa depan umat manusia mulai membayang tatkala kerakusan manusia sudah nyata-nyata membawa bencana. Kesadaran akan pentingnya konservasi alam tidak dapat dilepaskan dari berubahanya cara pandang manusia terhadap lingkungan alam atau etika ekologi. Dalam tulisan ini akan dikupas tiga jenis etika ekologi dan masing-masing implementasinya dalam perlakuan manusia terhadap alam. Dalam bagian selanjutnya, akan coba digagas kemungkinan memberikan pendidikan ekologi pada anak-anak sejak usia dini. Usaha tersebut merupakan salah satu cara merealisasikan perubahan paradigma dan tentunya perlakuan manusia terhadap alam, sehingga tercipta apa yang selama in seharusnya terjadi, ketika alam dan manusia menjadi sinergi yang saling mendukung.
PROSTITUSI: ANTARA PILIHAN DAN KETERPAKSAAN Patnani, Miwa
Indigenous Vol. 4, No. 1, Mei 2000
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/indigenous.v0i0.4603

Abstract

Ada satu pameo yang telah cukup lama dikenal, bahwa prostitusi adalah pekerjaan yang paling tua yang pernah dikenal manusia. Sejak jaman Cleopatra berkuasa sampai dengan era milenium tiga sekarang ini, profesi yang banyak mengundang kontroversi ini terus berlangsung. Tidak terhitung banyaknya berbagai diskusi, perdebatan dan keinginan untuk menghilangkan atau paling tidak mengliminir pekerjaan ini, tapi tetap tidak pernah menyelesaikan masalah secara komprehensif. Seiring perkembangan jaman, terjadi pergeseran dalam hal bentuk, latar belakang dan motivasi yang mendasari profesi ini. Untuk menyikapinya tidak cukup dilihat dari satu sudut pandang, tapi harus secara komprehensif.
Description of Happiness on The Betawi People in Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan Patnani, Miwa
Journal of Educational, Health and Community Psychology Vol 2, No 2: September 2013
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.609 KB) | DOI: 10.12928/jehcp.v2i2.3735

Abstract

Abstract Happiness is an important thing in human life, so it’s not surprisingly that people tend to do anything they could to be happy in their life. So do the Betawi people which is known as the indigenous people in Jakarta. Betawi people now facing the unpleasant reality in spite of their inability to compete with the migrants community who come and dominate the economy growth in Jakarta. This inability to compete, forces the Betawi people to move from downtown to the suburbs of Jakarta. Another impact of this inability to compete is the low level of welfare among the Betawi people, which is in turn, affects their feeling of happy. This study aimed to describe the happiness among Betawi People who lived in Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, South Jakarta.Happiness questionaire was used to collect the data from 55 Betawi People. This questionaire consist of some open question and some question with alternative choices. Open questions describe the definition and sources of happiness, while question with alternative choices describe the level of happiness. The result showed that the subject of this study is quitely happy. The definition of happiness answered by the subject was categorized then, and finally revealed 7 themes: relationship within the family member, something correlated with material, having a peacefull life, something really important, achieving for what they want, physical health and to share with other people. Meanwhile, categorization on the sources of happiness found 8 sources: relationship within the family, materials, giving happiness to their beloved ones, relationship with spouses, physical health, having children, success and developing Betawi culture. Keywords:  happiness, level, meaning, sources, Betawi 
PENGAJARAN NILAI TOLERANSI USIA 4-6 TAHUN Patnani, Miwa
Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Psikologi Ulayat
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara (KPIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.629 KB) | DOI: 10.24854/jpu12012-15

Abstract

Tahun 1995 dideklarasikan sebagai tahun toleransi oleh UNESCO. Hal ini dipicu oleh makin meningkatnya konfl ik dan kekerasan yang mengindikasikan adanya penurunan sikap toleransi. Dengan demikian, toleransi merupakan hal yang sangat diperlukan untuk mencapai kehidupan bersama yang damai. Kegiatan pengajaran nilai toleransi ini dirancang untuk anak usia 4-6 tahun, mengingat sikap tidak toleran mulai dikembangkan sejak anak berusia dini. Kegiatan pengajaran ini mudah untuk dilakukan baik di rumah maupun sekolah. Aktivitas dalam kegiatan pengajaran ini disimpulkan dari materi program pendidikan toleransi yang diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Living Values dan Education for Mutual Education Program. Materi yang diajarkan dalam kegiatan ini adalah: penghargaan terhadap diri sendiri, penghargaan terhadap orang lain, penghargaan terhadap perbedaan budaya, dan penyelesaian konfl ik secara damai. Keempat materi ini kemudian dijabarkan dalam 16 aktivitas dengan memperhatikan perkembangan anak secara sosial emosional, bahasa kognitif, fi sik estetis dan motivasi. Semua aktivitas dalam kegiatan ini menggunakan metode bermain yang sangat dekat dengan kehidupan anak. Evaluasi terhadap kegiatan ini menggunakan metode observasi sistematis yang dikombinasikan dengan checklist yang dilakukan oleh pengajar.
PROSTITUSI: ANTARA PILIHAN DAN KETERPAKSAAN Miwa Patnani
Indigenous Vol. 4, No. 1, Mei 2000
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/indigenous.v0i0.4603

Abstract

Pengajaran nilai toleransi usia 4-6 tahun Patnani, Miwa
Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jpu28

Abstract

Tahun 1995 dideklarasikan sebagai tahun toleransi oleh UNESCO. Hal ini dipicu oleh makin meningkatnya konfl ik dan kekerasan yang mengindikasikan adanya penurunan sikap toleransi. Dengan demikian, toleransi merupakan hal yang sangat diperlukan untuk mencapai kehidupan bersama yang damai. Kegiatan pengajaran nilai toleransi ini dirancang untuk anak usia 4-6 tahun, mengingat sikap tidak toleran mulai dikembangkan sejak anak berusia dini. Kegiatan pengajaran ini mudah untuk dilakukan baik di rumah maupun sekolah. Aktivitas dalam kegiatan pengajaran ini disimpulkan dari materi program pendidikan toleransi yang diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Living Values dan Education for Mutual Education Program. Materi yang diajarkan dalam kegiatan ini adalah: penghargaan terhadap diri sendiri, penghargaan terhadap orang lain, penghargaan terhadap perbedaan budaya, dan penyelesaian konflik secara damai. Keempat materi ini kemudian dijabarkan dalam 16 aktivitas dengan memperhatikan perkembangan anak secara sosial emosional, bahasa kognitif, fisik estetis dan motivasi. Semua aktivitas dalam kegiatan ini menggunakan metode bermain yang sangat dekat dengan kehidupan anak. Evaluasi terhadap kegiatan ini menggunakan metode observasi sistematis yang dikombinasikan dengan checklist yang dilakukan oleh pengajar.