Mega Fatimah Rosana
Faculty of Geology, Padjadjaran University, Jln. Raya Bandung - Sumedang Km. 21

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Epithermal Gold-Silver Deposits in Western Java, Indonesia: Gold-Silver Selenide-Telluride Mineralization Rosana, Mega Fatimah; Matsueda, Hiroharu; Yuningsih, Euis Tintin
Indonesian Journal on Geoscience Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Geological Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (601.476 KB) | DOI: 10.17014/ijog.v1i2.180

Abstract

DOI: 10.17014/ijog.v1i2.180The gold-silver ores of western Java reflect a major metallogenic event during the Miocene-Pliocene and Pliocene ages. Mineralogically, the deposits can be divided into two types i.e. Se- and Te-type deposits with some different characteristic features. The objective of the present research is to summarize the mineralogical and geochemical characteristics of Se- and Te-type epithermal mineralization in western Java. Ore and alteration mineral assemblage, fluid inclusions, and radiogenic isotope studies were undertaken in some deposits in western Java combined with literature studies from previous authors. Ore mineralogy of some deposits from western Java such as Pongkor, Cibaliung, Cikidang, Cisungsang, Cirotan, Arinem, and Cineam shows slightly different characteristics as those are divided into Se- and Te-types deposits. The ore mineralogy of the westernmost of west Java region such as Pongkor, Cibaliung, Cikidang, Cisungsang, and Cirotan is characterized by the dominance of silver-arsenic-antimony sulfosalt with silver selenides and rarely tellurides over the argentite, while to the eastern part of West Java such as Arinem and Cineam deposits are dominated by silver-gold tellurides. The average formation temperatures measured from fluid inclusions of quartz associated with ore are in the range of 170 – 220°C with average salinity of less than 1 wt% NaClequiv for Se-type and 190 – 270°C with average salinity of ~2 wt% NaClequiv for Te-type.
Karakteristik Jasper Merah di Pulau Jawa Bagian Selatan Berdasarkan Analisis SEM dan XRF Rosana, Mega Fatimah; Wijayanti, Kemala; Yuningsih, Euis Tintin; Sulistyawan, Raden Isnu Hajar
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol 18, No 1 (2017): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.014 KB)

Abstract

Jasper is one type of microcrystalline silica which include to gemstone variety. Indonesia has a high potential of jasper because its variety and a huge number of jasper that widely spread in Indonesia. There are 3 (three) types of jaspers that usually found in Indonesia, red jasper, yellow jasper, and green jasper. Among three of them, red jasper is much more abundant especially in Southern Java.Therefore, this research was held to observe the differences of red jasper's characteristic in three places in Java, i.e., Bungbulang – Garut, Samigaluh – Yogyakarta, and Donorojo – Pacitan areas. To attain the purpose of this research, SEM analysis is used to compare their textures and XRF for the chemical compositions.The research concludes that the red jaspers from those three places have the same texture, the granulated texture which derived from quartz texture. The grain size seems to increased from west to east. From the chemical composition it can be seen that the red color of jasper is strongly affected by Fe, Cr, and V. The Ti elements of red jasper also increased from west to east because there is a high Ti content in Pacitan's red jasper and perhaps by the combination of those elements resulting the purple color in red jasper.Keywords - red jasper, gemstone, composition, element, Southern Java
Scale Prevention Technique to Minimized Scaling on Re-Injection Pipes in Dieng Geothermal Field, Central Java Province, Indonesia Rosana, Mega Fatimah; Syafri, Ildrem; Agustinus, Eko Tri Sumarnadi; Zulkarnain, Iskandar
Indonesian Journal on Geoscience Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Geological Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17014/ijog.5.2.129-136

Abstract

DOI: 10.17014/ijog.5.2.129-136Dieng geothermal field including its volcanic geothermal system is dominated by hot water. Brine water is characterized by high salinity, content of chloride (Cl-), amorphous silica (SiO2), Na+, and K+. The condition of brine water has potential for the formation of amorphous silica scale in the re-injection pipeline which is one of the obstacle in the electrical energy production. The scale prevention on re-injection pipes was performed with non-acid re-injection system. Nevertheless, the scale formed in the re-injection pipe is still relatively thick due to the non-optimal sludge. This research is focused in optimizing the deposition of sludge. The research aim is to apply scale prevention technique on re-injection pipeline by involving engineering technology. The study was conducted through laboratory experiments with factorial design method 23 (two levels of three factors). Those three factors are pH, concentrations of coagulants and flocculants concentrations which act as the independent variables. The indicator is the volume of sludge deposition and turbidity of brine water which act as the dependent variables. The result showed that the most significant factor is pH, whereas the concentrations of coagulant and flocculant are preserved to accelerate and stabilize the sludge deposition. The optimal condition is achieved at the level of pH 8, the concentration of 10 ppm coagulant (PAC), and 1 ppm flocculants (Polyamide). These parameters are then used for the preparation of scaling process technology on the prevention of re-injection pipeline by adding some equipments on settling ponds. Therefore, in addition to reduce environmental degradation, it also produces sludge that has potential to be used as raw materials for other industries.
KRITERIA KERUSAKAN AKIBAT PELEDAKAN PADA PEMBUATAN TEROWONGAN CIURUG, TAMBANG EMAS PONGKOR, KABUPATEN BOGOR, PROVINSI JAWA BARAT Wattimena, Ridho Kresna; Sudradjat, Adjat; Rosana, Mega Fatimah; Suwandhi, Awang
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 12, No 2 (2017): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5782.515 KB)

Abstract

Untuk mencapai urat (vein) bijih di lokasi Central pada Level 500 mdpl, Ciurug, dibuat terowongan baru yang dinamakan RU4C-L500 dengan menerapkan teknik peledakan. Terowongan tersebut dirancang berukuran lebar 4 m, tinggi 4 m dan panjang 100 m sampai ke cross-cut menuju urat bijih. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan kriteria kerusakan terowongan yang diakibatkan oleh induksi getaran peledakan yang berpotensi menghasilkan overbreak, sehingga ukuran terowongan menjadi lebih lebar dari rencana semula. Pendekatan Blast Damage Index (BDI) digunakan sebagai metode untuk memperoleh tingkat kerusakan terowongan tersebut. Terowongan menerobos batuan andesit vulkanik yang berdasarkan hasil pengujian memiliki kecepatan rambat gelombang seismik 4157 m/det, densitas 2,37 g/cc dan kuat tarik 8,10 MPa. Batuan tersebut tergolong batuan berkekuatan sedang hingga keras dengan nilai Rock Mass Rating (RMR) antara 58,3 sampai 69,5. Data getaran peledakan diukur dengan menggunakan geofon pada jarak yang aman dari titik ledakan dan menghasilkan Peak Vector Sum (PVS) berkisar antara 2 mm/s sampai 120 mm/s. Hasil pengolahan data getaran menunjukkan, bahwa nilai BDI sebesar 2 yang mengidentifikasi adanya ambrukan terowongan karena induksi getaran peledakan terjadi pada jarak kurang dari 3 m dari titik ledakan. Besar getaran peledakan yang mengambrukan batuan andesit vulkanik tersebut mencapai PVS 1170 mm/s. Pada jarak antara 3,0 m sampai 10 m tidak terjadi kerusakan terowongan yang parah dan dapat direhabilitasi. Kondisi tersebut diidentifikasi oleh nilai BDI 0,5 sampai 1. Kemudian pada jarak di atas 10 m induksi getaran peledakan tidak lagi berpengaruh terhadap kerusakan atau kestabilan dinding terowongan. 
ANALISIS FAKTOR DAN UNIVARIAT DALAM PENENTUAN POTENSI MINERALISASI CU, PB, ZN DI HALMAHERA BAGIAN BARAT, MALUKU UTARA Yuningsih, euis Tintin; Rosana, Mega Fatimah; Soepriadi, Soepriadi; Faizal, Reza Mochammad
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 10, No 3 (2015): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2751.8 KB)

Abstract

Penelitian geokimia dengan menggunakan metode analisis kandungan unsur dari perconto endapan sungai aktif -80 mesh merupakan salah satu fase awal eksplorasi terutama untuk menemukan cebakan mineral logam. Halmahera bagian barat dengan tataan geologi yang kompleks dan berada dalam jalurmetalogenik yang berpotensi membentuk cebakan logam, menghasilkan rona geokimia yang sangat bervariasi dan menarik. Data geokimia sedimen sungai aktif yang tertuang dalam bentuk peta sebaran unsur menyajikan informasi awal yang penting tentang indikasi mineralisasi untuk ditindaklanjuti ke tahap penelitian lebih rinci. Penafsiran data geokimia di wilayah penelitian telah dilakukan dengan pendekatan analisis multivariat yaitu analisis faktor. Diperoleh asosiasi unsur yang berhubungan dengan unsur target Cu, Pb, Zn dengan Co, Fe, Ag dan Au. Litologi daerah penelitian berupa batuan volkanik berkomposisi andesit dan basalt. Terdapat indikasi mineralisasi berupa sulfida pirit dan batuan t erubah yang berupa silisifikasi, propilitisasi dan argilik. Di Halmahera bagian Barat diperkirakan mineralisasi logam yang terbentuk adalah bijih sulfida hidrotermal. 
ALTERASI DI SUMUR PENGEBORAN SMN-1 DAN SMN-2 DI DAERAH PANAS BUMI SUMANI, KABUPATEN SOLOK, PROPINSI SUMATERA BARAT Mardiana, Undang; Rosana, Mega Fatimah; Rezky, Yuanno; Sukaesih, Sukaesih
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 10, No 3 (2015): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1630.422 KB)

Abstract

Daerah penelitian berada di lokasi sumur pengeboran SMN-1 dan lokasi sumur pengeboran SMN-2 berada di daerah panas bumi Sumani, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat. Penelitian dilakukan untuk mengetahui tipe alterasi bawah permukaan dalam lingkungan sistem panas bumi daerah Sumani. Metode yang digunakan adalah melakukan deskripsi megaskopis, mikroskopis dananalisis karakterisasi terhadap batuan inti dari sumur SMN-1 (702 meter) dan SMN-2 (428 meter). Dilakukan juga pengukuran suhu pada sumur SMN-1 dan SMN-2 untuk mengetahui anomali gradien geothermal. Berdasarkan hasil penelitian diketahui jenis-jenis mineral yang terbentuk dalam batuan bawah permukaan dan tipe ubahan serta korelasi zonasi alterasi bawah permukaan. Mineral ubahan yang dijumpai dalam batuan inti sumur SMN-1 terdiri dari; montmorilonit, smektit, sulfat, silika, halit, hematit, oksida vanadium, arsenat, karbonat, zeolit, ilit, pirofilit, klorit, muskovit, dan opal. Mineral ubahan yangterbentuk dalam sumur SMN-2 terdiri dari; kaolinit, montmorilonit, smektit, hematit, posfat, silikat, zeolit dan karbonat. Berdasarkan hasil pengelompokan mineral ubahan yang terbentuk dalam batuan bawah permukaan, sumur SMN-1 didominasi oleh tipe argilik (hingga kedalaman 100 meter) dan tipe propilitik (100-702 meter), sedangkan Sumur SMN-2 merupakan tipe ubahan argilik. Gradien geothermal dari permukaan hingga kedalaman 700 m di sumur SMN-1 menunjukkan ratarata 12,86 o C/100 meter, sedangkan di sumur SMN-2 diperoleh rata-rata 7 derajat C/100 meter. 
PROFIL ENDAPAN LATERIT NIKEL DI POMALAA, KABUPATEN KOLAKA, PROVINSI SULAWESI TENGGARA Kamaruddin, Hashari; Indrakususma, Riko Ardiansyah; Rosana, Mega Fatimah; Sulaksana, Nana; Yuningsih, Euis Tintin
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 13, No 2 (2018): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2527.858 KB)

Abstract

Geologi daerah Pomalaa merupakan bagian dari batuan ultramafik Ofiolit Sulawesi Timur di lengan tenggara Sulawesi. Di daerah tersebut endapan laterit nikel Pomalaa terbentuk dari pelapukan batuan asal ultramafik yang didominasi oleh harzburgit terserpentinisasikan dan memiliki karakteristik tipe endapan laterit nikel hydrous Mg silicate. Lateritisasi terbentuk pada morfologi perbukitan bergelombang rendah dengan sudut kelerengan berkisar 10° sampai dengan 25°. Proses lateritisasi berlangsung dengan baik terutama pada topografi yang cenderung lebih landai yaitu 10° sampai dengan 15°, yang memungkinkan terbentuknya lateritisasi yang cukup dalam dengan zona saprolit yang tebal.
KETERKAITAN KELIMPAHAN UNSUR MAJOR DAN MINOR DENGAN ZONASI LATERIT NIKEL BLOK HZ (HARZBURGIT) DAN DN (DUNIT) DAERAH PULAU PAKAL, HALMAHERA TIMUR Heriawan, Mohammad N; Rosana, Mega Fatimah; Rinawan, Fiandri Indragunawan; Yuningsih, Euis Tintin
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 13, No 3 (2018): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2137.956 KB)

Abstract

Keterkaitan kelimpahan unsur pada profil laterit nikel dilakukan berdasarkan hasil analisis kimia unsur major (Fe, SiO2, MgO, dan Al2O3) dan minor (Ni, Co, MnO, dan Cr2O3) menggunakan analisis univariat dan multivariat. Profil berupa tanah atau hancuran batuan hasil lapukan litologi ultrabasa harzburgit (Blok HZ) dan dunit (Blok DN) berumur Kapur hingga Jura, terletak di daerah Pulau Pakal, Halmahera Timur. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antar unsur kimia major dan minor terhadap nilai koefisien korelasi kuat hingga sangat kuat baik negatif maupun positif yang terdistribusi pada profil laterit nikel Blok HZ dan DN. Penelitian ini fokus pada identifikasi fisik mineralogi bedrock dan analisis kimia profil laterit nikel. Identifikasi fisik di Blok HZ melibatkan 436 conto berasal dari 19 pemboran, kedalaman 10 m hingga 40 m. Adapun identifikasi fisik di Blok DN melibatkan 650 conto berasal dari 16 pemboran, kedalaman 11 m hingga 57 m. Komposisi mineral di Blok HZ terdiri dari mineral oksida besi limonit, gutit, jarosit, dan oksida mangan (zona limonit); krisopras, garnierit, magnetit, hematit, serpentin-krisotil, dan stiktit (zona saprolit); olivin-forsterit, piroksen-ortopiroksen, dan kromit (zona boulder/bedrock). Sedangkan di Blok DN terdiri dari mineral oksida besi limonit, gutit, dan oksida mangan (zona limonit); krisopras, jarosit, garnierit, magnetit, hematit, mineral lempung montmorilonit, kuarsa, serpentin-krisotil, dan talk (zona saprolit), olivin-forsterit, piroksen-hastingsit, dan kromit (zona boulder/bedrock). Analisis statistik univariat menunjukkan distribusi data relatif tidak normal dengan koefisien variasi > 0,5. Pada analisis statistik multivariat mengindikasikan nilai koefisien korelasi positif maupun negatif pada zonasi laterit nikel berupa hubungan unsur yang sangat kuat (± 0,80 - 1,00) dengan jumlah korelasi dominan. Koefisien korelasi pada Blok HZ diantaranya mengindikasikan pasangan unsur yang berkorelasi sangat kuat yaitu: unsur major-major (Fe vs MgO, Fe vs SiO2, SiO2 vs MgO, dan MgO vs Al2O3), minor-minor (Co vs MnO) serta  major-minor (Al2O3 vs Cr2O3, Fe vs Co, Fe vs MnO, dan SiO2 vs Co). Sedangkan pada Blok DN pasangan unsur yang berkorelasi sangat kuat yaitu: unsur major-major (Fe vs MgO), minor-minor (Co vs MnO) dan major-minor (Fe vs Co, Fe vs Cr2O3, Fe vs MnO, MgO vs Co, dan MgO vs MnO). Hal ini berkaitan dengan posisi masing-masing korelasi distribusi unsur kimia major dan minor tersebut pada zona profil laterit nikel Limonit, Saprolit dan Boulder/Bedrock.
KEBERLANJUTAN PENGEMBANGAN GEOPARK NASIONAL CILETUH-PALABUHANRATU DALAM PERSPEKTIF INFRASTRUKTUR Yanuar, Yerry; Anna, Zuzy; Rosana, Mega Fatimah; Rizal, Achmad; Sudrajat, Adjat; Zakaria, Zulfiadi
Jurnal Sosial Ekonomi Pekerjaan Umum Vol 10, No 1 (2018)
Publisher : Puslitbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi (PKPT), Kementerian PUPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1008.576 KB)

Abstract

Geopark CiIetuh adalah salah satu potensi wisata Jawa Barat yang akan dikembangkan menjadi berkelas internasional (global Geopark). Sayangnya sampai sekarang salah satu variable penting yang menunjang tujuan menjadi Global Geopark yaitu infrastruktur baik jalan maupun penunjang lainnya masih dirasakan jauh dari selayaknya.  penelitian ini dilakukan untuk menganalisis persepsi sosial masyarakat yang ada terhadap pengembangan Ciletuh sebagai Kawasan Geopark dan keberlanjutan pengembangan Ciletuh sebagai Kawasan Geopark berdasarkan infrastruktur penunjang yang tersedia. Metoda yang digunakan adalah analisis persepsi dan Rapid Appraisal (RAP) untuk Model Kelayakan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu (RAP-Geopark). Hasil studi persepsi terhadap kondisi infrastruktur pada turis lokal dan turis asing menunjukkan ketidak puasan sebesar 61% sampai 100%, dimana mereka menyatakan bahwa infrastruktur jalan masih buruk, sehingga membutuhkan waktu cukup lama untuk mencapai lokasi,  fasilitas transportasi lokal yang sangat minim (kebanyakan harus menggunakan kendaraan pribadi), kurang penerangan jalan, dan kurangnya iinfrastruktur penunjang lainnya seperti toilet umum, penginapan, internet, dan air bersih di lokasi Geopark. Hasil analisis juga menunjukkan nilai keberlanjutan yang rendah dari infrastruktur Geopark yaitu di bawah 50%. Penelitian merekomendasikan pengembangan infrastruktur baik jalan maupun fasilitas lainnya untuk keberlanjutan pengembangan Geopark Ciletuh secara Global. Kata kunci: Geopark, Ciletuh, Keberlanjutan, Infrastruktur.
Geokimia Endapan Nikel Laterit di Tambang Utara, Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tengara Kamaruddin, Hashari; Indra Kusuma, Riko Ardiansyah; Rosana, Mega Fatimah; Tintin Yuningsih, Euis
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol 20, No 2 (2019): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.392 KB) | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.20.2.85-92

Abstract

Pomalaa is administratively located in Kolaka Regency, Southeast Sulawesi Province. The nickel mining business area in Pomalaa is managed by State-Owned Enterprises and Private Enterprises. Pomalaa is a sub-district that has natural resources in the form of nickel. Nickel Laterite deposits is a result weathering of ultramafic rock that is leaching process and accumulates in the supergen enrichment zone. The lateritization factor is controlled by lithology, morphology, and structure. In general, the profile of laterite nickel deposits in the North Mine area from top to bottom consists of top soil, limonite, saprolite, and bedrock zones. The laterite nickel precipitate in the North Mine shows varying thickness, based on color, texture, size and mineral composition. Laterite deposits from drilling results reaches an range of 25 - 30 meters. Soil and rocks sampling from each laterite zone every meter resulting from drilling are carried out by laboratory testing using XRF (X-Ray Fluorescence) analysis method with 283 total sample. High Ni element show enrichment in the saprolite zone, whereas in the high Fe (iron) element in the limonite zone.Keywords: nickel, laterite, geochemical, Pomalaa