Sativa Sativa
Jurusan Pendidikan Teknik Sipil Dan Perencanaan Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

ARSITEKTUR ISLAM ATAU ARSITEKTUR ISLAMI? Sativa, Sativa
Nalars Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Diskusi dan kajian tentang arsitektur Islam sudah sedemikian banyak, terutama di kalangan akademisi dan praktisi. Sebagian diskusi tersebut memfokuskan pada aspek bentuk, langgam, peninggalan historis dan hal-hal lain yang bersifat fisik yang dianggap merupakan bagian dari  kebudayaan umat muslim. Sementara itu sebagian kalangan merasa bahwa sesungguhnya  Islam tidak cukup hanya diwujudkan dengan aspek  fisik semata. Saat ini semakin berkembang  wacana tentang arsitektur islam yang lebih mengedepankan nilai-nilai keislaman daripada tipologi fisik produk arsitektur. Di dalam pengertian ini, penulis menyebutnya sebagai arsitektur islami. Tulisan ini bertujuan untuk menggali sejauh mana perbedaan antara kedua pemikiran tentang arsitektur Islam dan arsitektur Islami, dan mengetahui apa sajakah aspek yang berpengaruh dalam perencanaan produk arsitektur yang islami, melalui kajian terhadap berbagai sumber berupa Al Qur’an dan hadits, buku,  jurnal, dan beberapa artikel, di samping analisis pemikiran penulis sendiri. Dari kajian tersebut ditemukan bahwa bahasan tentang arsitektur islam sangat berbeda dengan arsitektur islami. Arsitektur islam menekankan tentang aspek fisik sebuah lingkungan binaan, sedangkan arsitektur islami lebih mengedepankan pada nilai-nilai keislaman yang bersumberkan pada Al Quran dan Hadits atau sunnah Rasulullah. Aspek dari arsitektur islami yang perlu untuk dikembangkan adalah efisensi, egaliter, privasi, kearifan lokal. Kata kunci : arsitektur islam, arsitektur islami, nilai Islam     ABSTRACT. It has been regarded, there are so many discussion and study of Islamic architecture, particularly among academics and practitioners. Most of the discussion focuses on aspects of form, style, historical relics and other things that are considered physical is part of the culture of Muslims. Meanwhile, some people feel that the real Islam is not enough just realized with the physical aspect only. Currently, growing discourse about Islamic architecture which tends to emphasize Islamic values rather than physical typology of product architecture. In this matter, the author referred to it as Islamic Architecture.This paper is aimed to discover how extend to which the differences between two thinking about Islam Architecture and Islamic Architecture, and to find out the aspects which influence in Islamic Architecture product planning, through the study of various sources of the Quran and hadith, books, journals, and several articles, in addition to analysis of the authors own thoughts.From those studies it was found that a discussion of Islam architecture is very different from Islamic architecture. Islam architecture emphasizes the physical aspects of the built environment, while Islamic architecture is more advanced on Islamic values which root on Al Quran and hadith or sunnah of the Prophet. Aspects of Islamic architecture that need to be developed is efficiency, egalitarian, privacy and genius loci. Keywords : Islam Architecture, Islamic Architecture, Islamic values
SETING ALAMI SEBAGAI SARANA ANAK UNTUK MENGATASI TEKANAN LINGKUNGAN DI KAMPUNG KOTA Sativa, Sativa; Setiawan, Bakti; Wijono, Djoko; Adiyanti, MG
Jurnal Arsitektur Komposisi Vol 11, No 6 (2017): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (903.469 KB) | DOI: 10.24002/jars.v11i6.1377

Abstract

Abstract: Nowadays, the majority of Indonesian people live in the dense urban kampungs. Some of those kampungs laid on the riverside, as a marginal area -- due to their low economic value of the land. They have specific conditions especially on the limitation of infrastructures and facilities for children activities in the settlement area. This research is a part of my dissertation paper, which aims to gain how children (mainly school-age children) coping with such condition. This study is a qualitative exploratory research, meanwhile, observation and interview were used as collecting data methods. Kampung Ngampilan in Yogyakarta, Indonesia, was chosen as a case area, because of its unique characteristics: located on the riverside of Winongo River, had a high density, and most people have low economics. As the result, this study found that natural setting, especially river area and its surrounding vegetation, is a focus location for children to release live stress in their settlement, due to two space aspects: thermal comfort and visual comfort. This condition was triggered by the limited area of their house so that the children prefer to go out from their house especially after attending school in the afternoon. This results will be useful as a reference for urban kampung planning, especially in riverfront area.Keywords: children, kampung, environmental press, natural settingAbstrak: Mayoritas penduduk kota Indonesia tinggal di kampung berkepadatan tinggi. Sebagian dari kampung -kampung berada di bantaran sungai sebagai salah satu area kota yang dianggap marginal karena nilai ekonomi lahan rendah. Kampung-kampung umumnya berkondisi khas dan memiliki keterbatasan infrastruktur termasuk fasilitas untuk kegiatan anak-anak di permukiman. Studi ini merupakan bagian dari disertasi penulis, yang bertujuan mengetahui bagaimana anak-anak (terutama anak usia sekolah dasar) menghadapi tekanan lingkungan. Kampung Ngampilan dipilih karena merupakan kampung kota yang sangat padat, terletak di tepi sungai, berkontur curam, dan warganya termasuk kelompok ekonomi menengah ke bawah. Kajian ini menggunakan metode kualitatif eksploratif, dan penggalian data dilakukan dengan metode observasi lapangan dan wawancara. Penelitian menemukan, seting alami kampung, khususnya sungai dan vegetasi di sekitarnya, merupakan area pilihan utama anak bermain, karena memiliki dua aspek kenyamanan, yaitu kenyamanan termal dan kenyamanan visual. Pilihan anak-anak dipicu oleh kondisi rumah mereka yang sempit, sehingga mereka lebih memilih keluar rumah sepulang sekolah atau sore hari. Temuan ini dapat menjadi acuan bagi pengembangan kampung kota Indonesia yang lebih kondusif untuk anak, khususnya kampung tepi sungai.Kata kunci: seting alami, tekanan lingkungan, kampung kota, anak
ARSITEKTUR ISLAM ATAU ARSITEKTUR ISLAMI? Sativa Sativa
NALARs Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.10.1.%p

Abstract

ABSTRAK. Diskusi dan kajian tentang arsitektur Islam sudah sedemikian banyak, terutama di kalangan akademisi dan praktisi. Sebagian diskusi tersebut memfokuskan pada aspek bentuk, langgam, peninggalan historis dan hal-hal lain yang bersifat fisik yang dianggap merupakan bagian dari  kebudayaan umat muslim. Sementara itu sebagian kalangan merasa bahwa sesungguhnya  Islam tidak cukup hanya diwujudkan dengan aspek  fisik semata. Saat ini semakin berkembang  wacana tentang arsitektur islam yang lebih mengedepankan nilai-nilai keislaman daripada tipologi fisik produk arsitektur. Di dalam pengertian ini, penulis menyebutnya sebagai arsitektur islami. Tulisan ini bertujuan untuk menggali sejauh mana perbedaan antara kedua pemikiran tentang arsitektur Islam dan arsitektur Islami, dan mengetahui apa sajakah aspek yang berpengaruh dalam perencanaan produk arsitektur yang islami, melalui kajian terhadap berbagai sumber berupa Al Qur’an dan hadits, buku,  jurnal, dan beberapa artikel, di samping analisis pemikiran penulis sendiri. Dari kajian tersebut ditemukan bahwa bahasan tentang arsitektur islam sangat berbeda dengan arsitektur islami. Arsitektur islam menekankan tentang aspek fisik sebuah lingkungan binaan, sedangkan arsitektur islami lebih mengedepankan pada nilai-nilai keislaman yang bersumberkan pada Al Quran dan Hadits atau sunnah Rasulullah. Aspek dari arsitektur islami yang perlu untuk dikembangkan adalah efisensi, egaliter, privasi, kearifan lokal. Kata kunci : arsitektur islam, arsitektur islami, nilai Islam     ABSTRACT. It has been regarded, there are so many discussion and study of Islamic architecture, particularly among academics and practitioners. Most of the discussion focuses on aspects of form, style, historical relics and other things that are considered physical is part of the culture of Muslims. Meanwhile, some people feel that the real Islam is not enough just realized with the physical aspect only. Currently, growing discourse about Islamic architecture which tends to emphasize Islamic values rather than physical typology of product architecture. In this matter, the author referred to it as Islamic Architecture.This paper is aimed to discover how extend to which the differences between two thinking about Islam Architecture and Islamic Architecture, and to find out the aspects which influence in Islamic Architecture product planning, through the study of various sources of the Qur'an and hadith, books, journals, and several articles, in addition to analysis of the author's own thoughts.From those studies it was found that a discussion of Islam architecture is very different from Islamic architecture. Islam architecture emphasizes the physical aspects of the built environment, while Islamic architecture is more advanced on Islamic values which root on Al Quran and hadith or sunnah of the Prophet. Aspects of Islamic architecture that need to be developed is efficiency, egalitarian, privacy and genius loci. Keywords : Islam Architecture, Islamic Architecture, Islamic values
Evaluasi Kenyamanan Termal Ruang Kuliah IKIP PGRI Wates Kulon Progo DIY Sativa - Sativa; Putri Salsa Adilline
Inersia : Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol 17, No 2 (2021): Desember
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/inersia.v17i2.46751

Abstract

ABSTRACTThermal comfort is one of the factors that affect the comfort level of the occupants of the room, because if it is not up to standard it can reduce work productivity. This study was conducted to find out how the thermal conditions of the lecture hall at the IKIP PGRI Wates Yogyakarta campus were. This study uses a quantitative descriptive method. The data was obtained through field observations to obtain the value of air temperature, wind speed, humidity, and the value of hourly air change (ACH). The data from the measurement and calculation analysis were then compared with the standards of SNI 03-6572-2001 and EnREI 1991. This study found that: (1) the percentage of ventilation openings met the standard of SNI O3-6572-2001, (2) the thermal comfort index which includes air temperature, wind speed, humidity, and ACH do not meet the standards of thermal comfort according to SNI 03-6572-2001 and EnREI 1991, (3) there are differences in the values of air temperature, humidity, and wind speed between open and closed windows. To support maximum air flow, it is recommended that the window opening type be replaced with a casement side hung type. In addition, the outlet opening on the east side can be added with curtains to reduce solar radiation which can increase air temperature. ABSTRAKKenyamanan termal adalah salah satu faktor yang berpengaruh pada tingkat kenyamanan penghuni ruangan, karena jika tidak sesuai standar dapat mengurangi produktivitas kerja. Kajian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana kondisi termal ruang kuliah Kampus IKIP PGRI Wates Yogyakarta. penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Data diperoleh melalui observasi lapangan untuk mendapatkan nilai temperatur udara, kecepatan angin, kelembapan udara, serta nilai pergantian udara per jam (ACH). Data hasil pengukuran dan analisis perhitungan kemudian dibandingkan dengan standar SNI 03-6572-2001 dan EnREI 1991.  Studi ini menemukan bahwa: (1) prosentase bukaan ventilasi ruang telah memenuhi standar SNI O3-6572-2001, (2) indeks kenyamanan termal yang meliputi temperatur udara, kecepatan angin, kelembapan udara, dan ACH belum memenuhi standar kenyamanan termal sesuai SNI 03-6572-2001 dan EnREI 1991, (3) terdapat perbedaan nilai temperatur udara, kelembapan udara, dan kecepatan angin antara jendela terbuka dan jendela tertutup. Untuk mendukung agar aliran udara lebih maksimal, disarankan tipe bukaan jendela diganti dengan tipe casement side hung. Selain itu,  bukaan outlet pada sisi timur dapat ditambahkan tirai untuk mengurangi radiasi matahari yang dapat meningkatkan suhu udara.
Strategi Pemenuhan Ruang Terbuka Hijau Publik di Kota Yogyakarta Retna Hidayah; Sativa Sativa; Sumarjo H
Inersia : Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol 17, No 1 (2021): Mei
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/inersia.v17i1.40765

Abstract

ABSTRACT Green open space (GOS) is one of the important elements in land allocation in each region which functions to maintain the balance of the ecosystem. In accordance with statutory provisions, the quantity of GOS is set at 30% of total area in each region covering 20% of public GOS and 10% private GOS. Most regions have not succeeded in fulfilling the stipulated quantity of GOS, including Yogyakarta City which has only reached public GOS of 17,78 % in 2014. This study aims to identify the existing public GOS and the strategies undertaken to fulfill the provision of public GOS. The descriptive approach was applied in this study and aims to gain two types of data consisting of existing area of public GOS and strategy in providing public GOS implemented in Yogyakarta City. Existing public GOS was collected by interpreting of Quickbird images which were digitized and validated by a ground survey, while the strategy data in providing public GOS was obtained through secondary sources of Spatial Planning and Land Service reports in 2018-2019. Image interpretation has resulted in data of public GOS of 220.45 ha or 6.64%, making it still has a backlog of 435.04 ha to reach the requirement. Strategies to increase the public GOS were implemented through planting trees along roads/railways, land acquisition for green area in the settlement, and clearing river borders from building. This program increased the public GOS by 0.064%, indicating that the process was quite slow, and the area obtained was not significant. Another strategy is needed by starting to think of alternative solution through private GOS. ABSTRAKRuang terbuka hijau (RTH) menjadi salah satu fungsi penting dalam alokasi peruntukan setiap wilayah yang berfungsi menjaga keseimbangan ekosistem. Sesuai ketentuan peraturan perundangan, ditetapkan besaran 30% untuk fungsi RTH dengan proporsi 20% RTH publik dan 10% RTH privat. Dalam pelaksanaannya sebagian besar wilayah belum berhasil memenuhi capaian sesuai besaran yang ditetapkan. RTH publik Kota Yogyakarta berdasar data tahun 2014 mencapai 17,78 %. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besaran RTH publik dan mengidentifikasi strategi yang dilakukan dalam rangka memenuhi penyediaan RTH publik untuk mencapai target yang disyaratkan. Menggunakan pendekatan deskriptif, penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan dua jenis data mencakup data luas eksisting RTH publik dan data strategi penyediaan RTH. Data luas RTH diperoleh melalui interpretasi citra Quickbird yang didigitasi dan divalidasi dengan ground survey, sementara data strategi penyediaan RTH diperoleh melalui sumber sekunder dari laporan Dinas Tata Ruang dan Pertanahan 2018-2019.  Interpretasi citra menghasilkan data luas RTH publik Kota Yogyakarta sebesar 220,45 ha atau sebesar 6,64%, sehingga masih memiliki backlog RTH publik seluas 435.04 ha. Strategi untuk meningkatkan luas RTH publik melalui penanaman pohon di sepanjang jalan/KA, pembebasan tanah untuk area hijau di permukiman, dan pembebasan sempadan sungai dari bangunan untuk refungsi menjadi RTH yang menghasilkan kenaikan sebesar 0,063%. Peningkatan yang terjadi cukup lambat dan luasan yang diperoleh belum mampu menambah luasan RTH publik secara signifikan.  Diperlukan strategi lain untuk meningkatkan RTH dengan mulai berpikir alternatif melalui peningkatan RTH privat.