Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Pesan Simbolik dalam Prosesi Petawaren Adat Gayo Lues Harinawati, Harinawati; Syafrimayanti, Nurhasanah; Anismar, Anismar
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol 2, No 2 (2021): Multidimensi Problematika Masyarakat
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jspm.v2i2.5517

Abstract

This study identifies and analyzes symbolic messages in the petawaren tradition in Blangkejeren District, Gayo Lues Regency. The research method used is descriptive qualitative. Data collection techniques include observation, interviews, and documentation. The results of the study indicate that the petawaren tradition is one part of Gayo culture which is carried out in welcoming various important events in life. Petawaren is carried out by inviting village elders. The procession of the petawaren tradition requires several main equipment which is prepared by the party who has the intention. The equipment used in this petawaren procession has been mutually agreed upon since time immemorial, including rice and water in a container mixed with celala, dedingin, bebesi, batang teguh, sesampi, and other flowers in an odd number and tied in one knot. The petawaren tradition means prayer and hope so that Allah SWT will always be given safety, blessings, and prosperity.ABSTRAKStudi ini mengidentifikasi dan menganalisis pesan simbolik dalam tradisi petawaren di Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data antara lain observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi petawaren adalah salah satu bagian budaya Gayo yang dilakukan dalam menyambut berbagai peristiwa penting dalam kehidupan. Petawaren dilaksanakan dengan mengundang tetua kampung. Prosesi tradisi petawaren membutuhkan beberapa perlengkapan utama yang dipersiapkan oleh pihak yang mempunyai hajat. Perlengkapan yang digunakan dalam prosesi petawaren ini telah disepakati bersama sejak dahulu kala, antara lain beras dan air dalam wadah yang dicampur celala, dedingin, bebesi, batang teguh, sesampi, dan bunga lainnya yang berjumlah ganjil dan diikat dalam satu ikatan. Tradisi petawaren bermakna doa dan harapan agar senantiasa diberi keselamatan, keberkatan, dan kesejahteraan oleh Allah SWT.
Pesan Simbolik dalam Prosesi Petawaren Adat Gayo Lues Harinawati Harinawati; Nurhasanah Syafrimayanti; Anismar Anismar
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol 2, No 2 (2021): Multidimensi Problematika Masyarakat
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jspm.v2i2.5517

Abstract

This study identifies and analyzes symbolic messages in the petawaren tradition in Blangkejeren District, Gayo Lues Regency. The research method used is descriptive qualitative. Data collection techniques include observation, interviews, and documentation. The results of the study indicate that the petawaren tradition is one part of Gayo culture which is carried out in welcoming various important events in life. Petawaren is carried out by inviting village elders. The procession of the petawaren tradition requires several main equipment which is prepared by the party who has the intention. The equipment used in this petawaren procession has been mutually agreed upon since time immemorial, including rice and water in a container mixed with celala, dedingin, bebesi, batang teguh, sesampi, and other flowers in an odd number and tied in one knot. The petawaren tradition means prayer and hope so that Allah SWT will always be given safety, blessings, and prosperity.ABSTRAKStudi ini mengidentifikasi dan menganalisis pesan simbolik dalam tradisi petawaren di Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data antara lain observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi petawaren adalah salah satu bagian budaya Gayo yang dilakukan dalam menyambut berbagai peristiwa penting dalam kehidupan. Petawaren dilaksanakan dengan mengundang tetua kampung. Prosesi tradisi petawaren membutuhkan beberapa perlengkapan utama yang dipersiapkan oleh pihak yang mempunyai hajat. Perlengkapan yang digunakan dalam prosesi petawaren ini telah disepakati bersama sejak dahulu kala, antara lain beras dan air dalam wadah yang dicampur celala, dedingin, bebesi, batang teguh, sesampi, dan bunga lainnya yang berjumlah ganjil dan diikat dalam satu ikatan. Tradisi petawaren bermakna doa dan harapan agar senantiasa diberi keselamatan, keberkatan, dan kesejahteraan oleh Allah SWT.
ANALISIS WACANA DALAM NOVEL ASSALAMUALAIKUM CALON IMAM KARYA MADANI Harinawati Harinawati; Awaludin Arifin; Maria Ulfa
Jurnal Jurnalisme Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Prodi Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jj.v10i1.4787

Abstract

Novel Assalamualaikum Calon Imam menceritakan tentang kehidupan seorang tokoh bernama Nafisya Kaila Akbar yang ingin menemukan calon imam terbaiknya disaat dia takut menjatuhkan hati pada seseorang karena tidak ingin terluka sama seperti orangtuanya. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan metode analisis wacana model Teun A. Van Dijk yang berdasarkan struktur teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan isi atau pesan yang terkandung dalam novel Assalamualaikum Calon Imam karya Madani. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pesan moral dalam novel Assalamualaikum Calon Imam karya Madani adalah moral dalam hubungan manusia dengan Tuhan yang berupa ketakwaan, dan bersyukur. Moral dalam hubungan manusia dengan manusia lain yang berupa berupa nilai moral nasihat orang tua kepada anak, kasih sayang orang tua dan anak, nasihat antar teman, peduli sesama, dan beramal soleh. Moral dalam hubungan manusia dengan diri sendiri yang berupa pesan kesabaran, bertanggung jawab, keteguhan pendirian, dan kebijaksanaan. Dari segi kognisi sosialnya cukup menggambarkan kereligiusan pengarangnya. Sementara itu dari konteks sosial, novel ini merupakan pesan atau amanat pengarang bagi pembacanya, bahwa sebuah pernikahan yang berakhir dengan perceraian tidak hanya berdampak bagi orang dewasa saja, tetapi juga bagi anak.
NEGOSIASI PEMBELI DAN PEDAGANG DI PASAR TRADISIONAL GEUDONG (Studi pada Penjual Pakaian Dewasa di Kecamatan Samudera Kabupaten Aceh Utara Periode Bulan Januari- Mei 2021) Subhani Subhani; Harinawati Harinawati; Muhammad Ali; Maulidayanti Maulidayanti
Jurnal Jurnalisme Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Prodi Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jj.v10i1.4884

Abstract

Penelitian ini berjudul “Negosiasi Pembeli Dengan Pedagang di Pasar Tradisional Geudong (Studi pada Penjual Pakaian Dewasa di Kecamatan Samudera Kabupaten Aceh Utara)”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Untuk mengetahui bagaimana negosiasi antara penjual dan pembeli melakukan transaksi jual beli di toko pakaian dewasa pada pasar tradisional Geudong Kecamatan Samudera Kabupaten Aceh Utara. Teori yang digunakan adala perilaku negosiasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data yang dikumpulkan dengan tiga teknik yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Instrumen dalam penelitian ini adalah 10 orang. Hasil Penelitian menujukan bahwa negosiasi antara pedagang dan pembeli dalam menentukan kesepakatan harga ketika tawar-menawar barang dan penjelasan terhadap barang yang diperdagangkan, adanya timbal balik yang terjadi ketika melakukan tawar menawar antara kedua pihak karena pedagang pakaian pasar tradisional Kecamatan Samudera identik dengan tawar-menawar, serta penjelasan yang diberikan oleh pedagang akan membuat pembeli kembali bertanya ataupun memberi respon terhadap penjelasan pedagang.
Potret Pemamanan pada Akulturasi Budaya Alas dan Gayo Harinawati Harinawati; Richa Meliza
Aceh Anthropological Journal Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v6i2.9119

Abstract

Abtract: Pemamanan is a tradition of Alas Culture at the time of traditional wedding and circumcision processions, this tradition is carried out by pure Alas tribal families and families who experience Cultural Acculturation, the purpose of this study is to describe the portrait of pemamanan in Alas and Gayo Cultural Acculturation, this research map will look at the Procession Pemamanan in Alas and Gayo Cultural Acculturation in mixed marriages, the results of the study show that the Acculturation of Alas and Gayo Cultures is not carried out 100% following the transition of Pemamanan from the Alas Tribe, the tolerance of Alas Culture (Father) to Gayo Culture (Mother) in traditional processions, but did not completely eliminate the Pemamanan tradition. Based on the results of the study, it can be concluded that the Portrait of the Pemamanan Tradition in the Acculturation of the Alas and Gayo Cultures gave birth to cultural tolerance in the two tribes.Abstrak: Pemamanan merupakan sebuah tradisi Budaya Alas pada saat melakukan prosesi adat perkawinan maupun Khitan, tradisi ini dilakukan oleh keluarga pure suku Alas maupun keluarga yang mengalami Akulturasi Budaya, tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan potret pemamanan pada Akulturasi Budaya Alas dan Gayo, peta penelitian ini akan melihat Prosesi Pemamanan pada Akulturasi Budaya Alas dan Gayo pda perkawinan campuran, hasil penelitian menunjukan bahawa Akulturasi Budaya Alas dan Gayo Potret Pemamanan dilakukan tidak 100% mengikuti trasisi Pemamanan dari Suku Alas, adanya toleransi Budaya Alas (Bapak) terhadap Budaya Gayo (Ibu) pada prosesi adat, namun tidak menghilangkan sepenuhnya tradisi Pemamanan. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan Potret Tradisi Pemamanan Pada Akulturasi Budaya Alas dan Gayo melahirkan toleransi Budaya pada kedua suku tersebut. 
Dari “Diislamkan” ke “Dipestakan”: Pergeseran Makna Mujêlisên (Khitanan) pada Masyarakat Gayo Indra Setia Bakti; Harinawati Harinawati; Siti Ikramatoun
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol 2 No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v2i1.1138

Abstract

This study aims to describe the meaning shift of mujêlisên in Gayo society. The meaning given to the mujêlisên tradition has not been constant at all times. In the Gayo lens traditional, mujêlisên means something Islamic or "to be Islamic". So the activities carried out are directed at actions that are nuanced with spirituality. The study was qualitative research. This study found that over time, the meaning of the mujêlisên tradition was shifted. In praxis, the spirituality aspect not dominates the discourse but has been covered by profane culture festivity practices. It is supported by the various easily accessible facilities to fulfil the consumptive desires of festivity actors.
MANAJEMEN KOMUNIKASI ORGANISASI LEMBAGA DAKWAH KAMPUS (LDK) AL-KAUTSAR DALAM MENSUKSESKAN PROGRAM RIHLAH AKBAR 2022 (Studi Deskriptif Pada Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Al-Kautsar) Sari Ainun; Harinawati Harinawati
Jurnal Jurnalisme Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Prodi Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jj.v12i1.12568

Abstract

Jurnal ini mengkaji tentang manajemen komunikasi organisasi yang dilakukan penggurus dalam organisasinya, hal ini dikarenakan pentingnya   manajemen komunikasi organisasi dalam sebuah organisasi agar dapat menjalankan organisasi dengan efektif. Demikian halnya dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berada di Universitas Malikussaleh yaitu Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Al-Kautsar dalam menjalankan manajemen komunikasi organisasi untuk mensukseskan Program Rihlah Akbar 2022. Pertayaan utama yang ingin dijawab dalam studi ini bagaimana manajemen komunikasi organisasi penggurus Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Al-Kautsar dalam mensukseskan Program Rihlah Akbar 2022. Perspektif teoritik yang digunakan dalam studi ini adalah teori POAC oleh George R. Terry (1998), teori ini membahas mengenai  (planning) perencanaan, (organizing) pengorganisasian, (actuating) pelaksanaan, (controlling) pengawasan. Metode penelitian menggunakan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian manajemen komunikasi organisasi penggurus dalam mensukseskan Program Rihlah Akbar 2022 yaitu adanya penerapan teori POAC oleh George R. Terry (1998) mulai dari (planning) yaitu Agenda jaulah LDK IAIN Takengon dan LDK UKMI UGP Takengon, agenda Kunjungan ke Panti Asuhan Yayasan Berkah Ilahi, Kunjugan   Wisata Goa Putri Pukes dan Wisata Danau Laut Air Tawar, Panitia Acara Program Rihlah akbar 2022 dan Mengikuti Rundown. Kemudian melakukan (organizing) pengorganisasian yaitu dengan menyusun panitia program dan pembagian tugas panitia Program Rihlah Akbar 2022. Selanjutnya (actuating) pelaksanaan rundow acara, pelaksanaan Program tanggal 26-27 November 2022, keamanan peserta dan pelaksanaan tugas panitia program. Terakhir proses (controlling) yaitu Evaluasi kegiatan, Program Rihlah Akbar 2022 sukses dilaksanakan, ada peserta yang tidak bisa mengikuti kegiatan dan kurangnya anggota dari panitia acara.
INTERGENERATIONAL TRANSMISSION OF GAYO LANGUAGE IN BENER MERIAH, ACEH Ratri Candrasari; Harinawati Harinawati; Subhani Subhani; Ichsan Ichsan; Safriandi Safriandi
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jspm.v4i2.10056

Abstract

This study aims to (1) describe the level of existence of the Gayo language and (2) formulate recommendations for strengthening intergenerational transmission of the Gayo language spoken by the tribes in Aceh. This research is studied using a Linguistic-Anthropological perspective, namely a review that analyzes the relationship between culture and language. The research approach used is mixed methods, quantitative and qualitative. To describe the level of existence of the Gayo language, data on language use and language attitudes are needed by distributing questionnaires. Furthermore, the data were analyzed based on the generation group and the realm of language use. The measurement results were then discussed through FGDs involving Gayo ethnic community leaders, Gayo youth, Reje village, Head of the Education and Culture Office. The results of the study show that the Gayo language is still strong in the realm of kinship, social and custom. Gayo language is also still used in almost all generation groups except for the 4th generation, namely those aged <50 years who are at a strong level but are in danger of experiencing a shift. In the realm of association, poetry is still alive, both in important ceremonies and in association, especially advice poetry. Customary law in Gayo land is still upheld so that the Gayo language is still very much alive because qanuns or customary regulations are written in Gayo language. In addition, the effort to transmit language to the younger generation is the Pemangu ceremony, which is the ceremony of handing over children from parents represented by the Gayo Traditional Council to teachers at school.Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan tingkat eksistensi bahasa Gayo dan (2) merumuskan rekomendasi penguatan transmisi antargenerasi bahasa Gayo yang dituturkan oleh suku-suku di Aceh . Penelitian ini dikaji dengan menggunakan perspektif Linguistik-Antropologi, yaitu tinjauan yang menganalisis hubungan antara budaya dan bahasa. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah metode campuran, kuantitatif, dan kualitatif. Untuk menggambarkan tingkat keberadaan bahasa Gayo diperlukan data penggunaan bahasa, dan sikap berbahasa dengan cara menyebarkan kuesioner. Selanjutnya data dianalisis berdasarkan kelompok generasi dan ranah penggunaan bahasa. Hasil pengukuran tersebut kemudian dibahas melalui FGD yang melibatkan tokoh masyarakat etnis Gayo, pemuda Gayo, kampung Reje, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Gayo masih kuat dalam ranah kekeluargaan, sosial, dan adat. Bahasa Gayo juga masih digunakan hampir di semua kelompok generasi kecuali generasi ke-4, yaitu mereka yang berusia <50 tahun yang berada pada level kuat namun terancam mengalami pergeseran. Dalam ranah pergaulan, puisi masih tetap hidup, baik dalam upacara-upacara penting maupun dalam pergaulan, khususnya puisi nasehat. Hukum adat di tanah Gayo masih ditegakkan sehingga bahasa Gayo masih sangat hidup karena qanun atau peraturan adat tertulis menggunakan bahasa Gayo. Selain itu upaya transmisi bahasa kepada generasi muda yaitu dengan upacara Pemangu yaitu upacara penyerahan anak dari orang tua yang diwakili Dewan Adat Gayo kepada guru di sekolah.
PELATIHAN PEMBUATAN AKSESORIS BAGI IBU – IBU DI LINGKUNGAN GAMPONG PADANG SAKTI KOTA LHOKSEUMAWE TAHUN 2021 Harinawati Harinawati; Ratri Candrasari; Autho Cut Andyna
PANDAWA : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 1, No 1 (2022): PANDAWA : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/pandawa.v1i1.5974

Abstract

Kegiatan bina lingkungan kampus Universitas Malikussaleh – Aceh menjadi satu keharusan sebagai salah satu upaya untuk menjalin hubungan yang harmoni antara civitas akademika dengan masyarakat lingkungan. Kegiatan bina lingkungan dalam hal ini ialah kegiatan pengabdian masyarakat yang terfokus pada pembuatan aksesoris bagi ibu – ibu di lingkungan Gampong Padang Sakti Kecamatan Muara Satu Kota Lhokseumawe untuk melakukan self care dengan kegiatan positif yang menyenangkan fisik dan mental dan untuk mengurangi tingkat stress ibu – ibu karena tekanan sosial dan ekonomi akibat Pandemi Covid – 19. Dalam pengabdian ini terfokus pembuatan akseoris berupa aksesoris hijab (bros), gelang, cincin, dan konektor masker. Pengabdian masyarakat ini melibatkan 40 peserta dari empat dusun yang ada di Gampong Padang Sakti meliputi Dususn Cot Suwe, Dususn Seumatang, Dusun Utera, Dusun Dipanyang yang tergabung dalam penggerak PKK. Sebanyak 40 orang mengikuti pelatiahan pembuatan aksesoris selama empat hari sejak 16  sampai 19 November 2021 di Meunasah Gampong Padang Sakti. Pelatihan ini sebagai upaya mengurangi tingkat stress ibu-ibu dengan melakukan kegiatan yang menyenangkan untuk meningkatkan imunitas tubuh. Hasil dari pelatihan ibu – ibu mampu membuat aksesoris berupa bros hijab, gelang, cincin, dan konektor masker. Para peserta pelatihan sangat antusias mengikuti pelatihan pembuatan aksesoris walaupun pada saat pembuatan gelang, cincin, dan konektor hijab menemui kesulitan karena ukuran payet pasir halus dan mata ibu – ibu yang mulai susah melihat lubang kecil. Pengabdian ini akan terus berlangsung dengan program lanjutan berdasarkan kebutuhan Gampong sesuai kesepakatan yang telah ditandatangai oleh Tim Penegabdian dan pengurus PKK Gampong Padang sakti, Kota Lhokseumawe.
PROGRAM PELATIHAN DIGITAL MARKETING DAN STANDARD SISTEM PELAYANAN PELANGGAN BAGI ANGGOTA PPC OJEK SIMPANG LEN GAMPONG PADANG SAKTI KOLA LHOKSEUMAWE Ratri Candrasari; Harinawati Harinawati; Riyandhi Praza
PANDAWA : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 1, No 2 (2022): PANDAWA: JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/pandawa.v1i2.5975

Abstract

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dilatarbelakangi oleh beberapa masalah yang ada di desa lingkungan kampus. Desa Padang Sakti yang bersebelahan dengan desa Blang Pulo merupakan desa yangsangat dekat dengan kampus Universitas Malikussaleh. Salah satu kegiatan keseharian yang melibatkan warga kampus Universitas Malikussaleh adalah urusan transportasi. Salah satu transportasi yang sering digunakan mahasiswa adalah Ojek. Ojek ini selain melayani mahasiswa dan dosen juga melayani masyarakat luas. Keberadaan Ojek ini menjadi solusi bagi mahasiswa yang tidak memiliki kendaraan. Para Ojek yang mangkal di ujung jalan Line Pipa ini memang sudah membentuk persatuan dengan nama PPC Simpang Line. Namun dalam prakteknya kelompok ini belum terorganisir dengan baik dalam pelaksanaan kegiatan mereka sehingga muncul beberapa permasalahan diantaranya (1) keberadaan Ojek yang tidak diatur jadwal sehingga sering kosong pada saat masyarakat butuh atau kadang banyak ojek yang berada di pangkalan pada suatu waktu yang sama sehingga beberapa Ojek tidak mendapatkan pelanggan. (2) dari observasi awal, peneliti mendapatkan informasi bahwa pelanggan, khususnya masyarakat luar yang mengunjungi desa atau kampus Unimal, masih ada perasaan was-was dan kurang nyaman menggunakan jasa Ojek dikarenakan tidak adanya identitas khusus seperti rompi atau helm seragam. Satu hal yang lebih penting, mereka nampak belum siap menghadapi kehadiran Ojek Online yang akan menjadi pesaing mereka. Untuk itu kegiatan pengabdian ini bertujuan utama untuk memberikan pelatihan Digital Marketing dengan tujuan membangun kesiapan para Ojek untuk mengikuti perkembangan teknologi dalam berbisnis. Selain itu juga akan diberikan pengetahuan dasar standar pelayanan pelanggan sehingga para Ojek dapat melakukan kegiatan secara profesional.