cover
Contact Name
Iqbal Aidar Idrus Dm
Contact Email
idrusiqbal@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalofgovernment.uta45@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta utara,
Dki jakarta
INDONESIA
JOURNAL OF GOVERNMENT (Kajian Manajemen Pemerintahan dan Otonomi Daerah)
ISSN : -     EISSN : 24601977     DOI : -
Core Subject : Social,
GOVERNMENT adalah Jurnal Kajian Manajemen Pemerintahan dan Otonomi daerah yang merupakan jurnal terbitan Prodi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 89 Documents
TRANSFORMASI GERAKAN ISLAM POLITIK DALAM PARTAI POLITIK ISLAM : ANALISA KOMPARATIF AKP DAN PKS DI TURKI DAN INDONESIA M. Chairil Akbar; Yeby Ma’asan Mayrudin; Rosa Arista Narendra
JOURNAL OF GOVERNMENT (Kajian Manajemen Pemerintahan dan Otonomi Daerah) Vol 4, No 1 (2018): Jurnal Of Government : Manajemen Pemerintahan dan Otonomi Daerah
Publisher : rogram Studi Ilmu Pemeritahan Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik Universitas 17 Agustu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (655.602 KB)

Abstract

This study seeks to analyze the transformation of the political Islam movement carried out by the PKS (Prosperous Justice Party) and Justice and Development Party AKP (Adalet ve Kalkinma Partition), Turkey, by tracing the general pattern of similar strategies adopted by them, including differences that arise in both parties. PKS and AKP are major Islamic parties in the world that have so far successfully fought in electoral competitions. How to make use of their mass base and Islamic sentiment in liberal parliamentary struggle is a tactical step that characterizes the political Islam movement. Comparison will be made to find the common thread concerning Islamic-style populism with the electoral strategy they use. Political Islam can ultimately be understood not only from the categories of morality, ethics, or religion, but also on the objective category based on political realism.The authors believe that this theme is important and interesting after examining the development of identity political movements that have occurred not only in Indonesia but also in several other countries in the world in the last 10 years. Analysis of the AKP and PKS must, however, be understood in two aspects, namely, first, a cross-over between liberal democracy and Islamic activism, and secondly, the tendency to change the political strategy of the Islamic party. The interplay between the interests of electoral achievement and the ideological vision is a big and dynamic dilemma.Of the various methods available, the research team in this study used qualitative research methods. Data is obtained through a literature review or study of relevant literature such as books, journals, news websites, or thesis or dissertation works. The author's temporary hypothesis is that first, PKS and AKP have political linkage in three things, first, the political vision of Islam which is heavily influenced by the Muslim Brotherhood movement, second, the construction of civil networks and organizations, and the three, electoral strategies and compromise on liberal democracy. PKS and AKP are in turn conditioned by a number of compromises  and political pragmatism. Both are forced to adapt substantially in terms of changes in party models to be more open and plural. Thus, there is a convergence between political Islam and the flow of liberal democracy based on the typical political situation in Indonesia and Turkey. The differences that arise are the political Islam platform of AKP is significantly influenced by the trajectory of Islamic tradition which has long been rooted in the sociological pattern of its society and the economic platform of neoliberalism that has been adopted and applied aggressively by the AKP since its reign in Turkey.
STUDI PRASANGKA SOSIAL DI KECAMATAN WAEAPO (Sebuah Kajian Tentang Patologi Demokrasi Di Ranah Lokal) samsul ode
JOURNAL OF GOVERNMENT (Kajian Manajemen Pemerintahan dan Otonomi Daerah) Vol 1, No 2 (2016): JOURNAL OF GOVERNMENT (Kajian Manajemen Pemerintahan dan Otonomi Daerah)
Publisher : rogram Studi Ilmu Pemeritahan Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik Universitas 17 Agustu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.61 KB)

Abstract

ABSTRACT The aim of this research is to explain the patology analysis of local democracy that using social prejudices ethnic studies in sub Waeapo, Buru regency, Maluku province as a major indicator. Currenrly, In the transition and consolidation of democracy in Indonesia, needed a strong integration in society. Democracy and social integration will act no maximum if strength of integration is nothing. Indonesia is a country with a high cultural diversity, differences often trigger conflicts -ethnic conflict. The consequences of multikultarilism make different ethnic social prejudices. This study tried to look and search the factors that emergence the social prejudice attitudes evolve, the role of social institutions, and the patterns of interethnic . The kind of this study is a descriptive analysis that aims to describe the symptoms as well as symptoms analyzed using a qualitative approach. The subjects in this research are public figure, citizens and local government. There are many method to collect a data in this research, participant observation, in-depth interviews and documentation studies. The results showed that the attitude of the social prejudice that occurred in the district Waeapo is caused by the strong of stereotypical attitudes that developed in two ethnic groups, the social institutions that unable to be a vehicle for adhesives in communication building, as well as the cooperation and social integration among ethnic immigrants and natives. After the discovery of gold mines, the conflict intensity becames increase, a shift and a change in social status, social status, ethnic natives which gained quite dominant and increasing social unrest. Keywords: Democracy, Ethnicity, Social Prejudice   ABSTRAK   Penelitian ini untuk menjelaskan mengenai hasil analisis patologi demokrasi di ranah lokal yang menggunakan studi prasangka sosial antaretnis di Kecamatan Waeapo, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku sebagai indikator utama. Dalam masa transisi dan konsolidasi demokrasi, dibutuhkan integrasi yang kuat dalam masyarakat. Tanpa integrasi yang kuat kemungkinan penguatan demokrasi dan integrasi sosial akan berjalan tidak maksimal. Indonesia merupakan negara dengan tingkat kemajemukan budaya yang cukup tinggi, berbagai perbedaan kerap kali menjadi pemicu konflik – konflik etnis. Perbedaan- perbedaan tersebut kemudia menjadi sikap prasangka sosial antaretnis yang berbeda. Penelitian ini berusaha melihat dan mencari tahu faktor –faktor yang menjadi pemicu munculnya sikap prasangka sosial yang terjadi di kecamatan waeapo. Penelitian ini bertipe deskriptif analitis yaitu tipe penelitian yang bertujuan mendeskripsikan suatu gejala sekaligus menganalisa gejala tersebut menggunakan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini adalah tokoh masyarakat, warga dan pemerintah daerah. Adapun teknik pengumpulan data menggunakan observasi partisipatif, wawancara mendalam dan studi dokumentasi yang relevan dengan penelitian ini.  Hasil penelitian menunjukan bahwa sikap prasangka sosial yang terjadi di Kecamatan Waeapo disebabkan oleh sikap stereotip yang masih kuat berkembang diatara kedua etnis, pranata-pranata sosial yang ada belum mampu menjadi wahana perekat dalam membangun komunikasi, kerjasama dan integrasi sosial diantara etnis pendatang dan pribumi. Pasca ditemukannya tambang emas, intensitas konflik semakin meningkat, terjadinya pergeseran dan perubahan status sosial dimana status sosial etnis pribumi mengalami mengalami penguatan yang cukup dominan dan juga kerawanan sosial semakin meningkat. Kata Kunci: Demokrasi, Etnis, Prasangka Sosial
DESENTRASLISASI DAN MONOISME MASYARAKAT (PRAKTEK ELIT LOKAL MELANGGENGKAN DOMINASI) Firman Firman
JOURNAL OF GOVERNMENT (Kajian Manajemen Pemerintahan dan Otonomi Daerah) Vol 3, No 2 (2018): Jurnal Of Government : Manajemen Pemerintahan dan Otonomi Daerah
Publisher : rogram Studi Ilmu Pemeritahan Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik Universitas 17 Agustu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (547.327 KB)

Abstract

This study on decentralization and the birth of new monoism in the structure of society in South Sulewesi.Praktek domination of power is practiced with the ways of politicization of democracy.Convenience of community monoism as if can not be unstoppable with the existing regulations.Perlu there is a policy and regulation for community monoism practice is not takes place in a massive and beneficial manner only to certain groups. The indication of the management of a region that eludes a group of elites makes the circulation of power increasingly difficult.
POLITIK ANGGARAN EKSEKUTIF DAN LEGISLATIF PADA PEMBAHASAN APBD KABUPATEN BURU SELATAN 2015 Marno Wance
JOURNAL OF GOVERNMENT (Kajian Manajemen Pemerintahan dan Otonomi Daerah) Vol 2, No 2 (2017): Jurnal Of Government (KAJIAN MANAJEMEN PEMERINTAHAN DAN OTONOMI DAERAH)
Publisher : rogram Studi Ilmu Pemeritahan Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik Universitas 17 Agustu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (871.749 KB)

Abstract

ABSTRAK Untuk menjawab permasalahan tersebut maka harus dilakukan analisis secara komprehensif untuk menemukan fakta-fakta yang terjadi di lapangan. Sehingga metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Deskriptif kualitatif. Studi deskriptif kualitatif ini berfungsi untuk menjelaskan dan membaca pola relasi antara eksekutif dan legislatif dalam melakukan tahapan-tahapan pembahasan APBD. Teknik pengumpulan data yang digunakan ada beberapa yaitu observasi, wawancara, dokumentasi dan menggunakan bahan-bahan yang terkait. Pendekatan yang digunakan yaitu data primer dan sekunder. Sumber data primer adalah sumber data yang diperoleh langsung dari responden atau objek yang diteliti, sedangkan sumber data sekunder adalah sumber data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen tertulis, arsip maupun yang lainnya pada instansi atau lembaga yang berhubungan dengan penelitian. Dalam menentukan hasil penelitian tentang pola relasi yang terjadi maka menggunakan teori pola interkasi dalam kekuasaan model stone yang yaitu Model interaksi Decisional, model interkasi Anticipated Reaction, Interaksi Nondecisional Making, Interaksi Sytemic. Dan teori model ROCCIPI (Rule, Capacity, Comunication, interest, process, ideologi). Kata Kunci: Relasi Eksekutif-Legislatif, Legislasi Daerah
REFORMASI STRUKTURAL ORGANISASI PERANGKAT DAERAH (Dalam Perspektif PP No. 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah) Vifin Rofiana
JOURNAL OF GOVERNMENT (Kajian Manajemen Pemerintahan dan Otonomi Daerah) Vol 1, No 1 (2015): JOURNAL OF GOVERNMENT (Kajian Manajemen Pemerintahan dan Otonomi Daerah)
Publisher : rogram Studi Ilmu Pemeritahan Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik Universitas 17 Agustu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.416 KB)

Abstract

ABSTRAK Reformasi birokrasi pada tatanan pemerintah daerah meliputi bidang organisasi perangkat daerah atau yang disebut dengan reformasi struktural. Dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, kepala daerah dibantu oleh perangkat daerah yang diformulasikan berdasarkan prinsip-prinsip manajemen yang terdiri atas unsur pimpinan, unsur staf, unsur pengawas, unsur perencana, unsur pelaksana, unsur pendukung dan unsur pelayanan. Pelaksanaan PP No.41 Tahun 2007 mengarahkan tata kelola organisasi perangkat daerah dan memberikan panduan reformasi struktural birokrasi kepada daerah untuk mampu mengembangkan ruang kerja birokrasi yang memungkinkan aparat publik melakukan perbaikan kinerja pelayanan yang efektif dan efisien sesuai fungsi dan tugas pokok organisasi perangkat daerah. Kata-kata kunci : perangkat daerah, pelayanan, reformasi birokrasi, reformasi struktural
Inovasi Pelayanan dalam Penangulangan Kemiskinan Studi Kasus Pada Unit Pelayanan Terpadu Penanggula ngan Kemiskinan (UPTPK) di Kabupaten Sragen USISA Rohmah
JOURNAL OF GOVERNMENT (Kajian Manajemen Pemerintahan dan Otonomi Daerah) Vol 2, No 1 (2016): JOURNAL OF GOVERNMENT (KAJIAN MANAJEMEN PEMERINTAHAN DAN OTONOMI DAERAH)
Publisher : rogram Studi Ilmu Pemeritahan Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik Universitas 17 Agustu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.367 KB)

Abstract

Capacity development in poverty reduction activities are crucial, based on the updated figures issued by BPS poverty levels have not been able to reduce poverty targeting accordingly, especially in poor areas. This paper aims to develop innovation and as a form of capacity building in poverty reduction, Sragen government initiated service innovation through Unit Pelayanan Terpadu Penanggulangan Kemiskinan (UPTPK). The research method is qualitative descriptive type. The results showed UPTPK implementation services based on criteria supported by the poverty report of  (Tim Nasional Percepatan Penangulangan Kemiskinan) TNP2K and proverty report by PPLS (Pendataan Program Perlindungan Sosial) BPS 2011 to be better targeted distribution. UPTPK service innovation. Sragen in building a bureaucracy based management plurality, creativity, fairness, necessity, responsiveness to construct public service management appreciate the differences that can be accessed by different groups, so that justice can be upheld services. UPTPK services implementation are still having problems related to the budget, human resources personnel and the lack of support DPRD Sragen district. Keywords : Poverty, Innovation and Strategic Management of Public Services.
Otonomi Daerah dan “Amandemen Kedua” UUD 1945 Tjahyo Rawinarno
JOURNAL OF GOVERNMENT (Kajian Manajemen Pemerintahan dan Otonomi Daerah) Vol 3, No 1 (2017): Vol 3, No 1 (2017): Jurnal Of Government : Manajemen Pemerintahan dan Otonomi Da
Publisher : rogram Studi Ilmu Pemeritahan Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik Universitas 17 Agustu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.699 KB)

Abstract

Since its inception, many parties expect much that regional autonomy will be one of the gateways that bring Indonesian society to prosperity and prosperity. The current local autonomy raises the issue of where regional heads can’t cooperate with the regional heads above because they feel the same or equal to the governor and the number of corruption cases perpetrated by the regional head. The implementation of decentralization and deconcentration has not been able to significantly change the welfare of the people in the region. Implementation of local autonomy is still far from the ideals that have been established together. The implementation of regional autonomy requires the improvement of the legal constitution, especially the second amendment Constitution of the Republic of Indonesia. In keeping with the principle of granting greater authority to the regions to manage and prosper itself, it will be far more effective than providing central government obligations to distribute welfare.
KEBIJAKAN RESOLUSI (Pembangunan Bendungan Boiya Sidrap-Enrekang) Barisan Barisan; Haeruddin Haeruddin
JOURNAL OF GOVERNMENT (Kajian Manajemen Pemerintahan dan Otonomi Daerah) Vol 4, No 1 (2018): Jurnal Of Government : Manajemen Pemerintahan dan Otonomi Daerah
Publisher : Program Studi Ilmu Pemeritahan Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik Universitas 17 Agustu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.968 KB)

Abstract

This  research aim to know and  analysis steps resolution by complic the dam growing plan at Boya Enrekang Regency. This complict begin from there was policy governrment who plan act build a dam. This policy get  opposed from the people distric Maiwa speciaally from the villages will destroyed after build this dam.As  the result, this researh pind out strategic manage complict who use this era is silent problem seems the builds will not realisation. So step complict resolution who effering is government must be used compromis to the people. So ready  to get policy, but government nust be change their fields whose destroyed. With new fields, so government give an accomodation as asubsidi for the peopel who was moved.
MODAL SOSIAL KAJIAN TENTANG TATA KELOLA PEMBANGUNAN MASYARAKAT DESA MELALUI GEMOHING DI KECAMATAN WITIHAMA - KABUPATEN FLORES TIMUR Frans Bapa Tokan
JOURNAL OF GOVERNMENT (Kajian Manajemen Pemerintahan dan Otonomi Daerah) Vol 1, No 2 (2016): JOURNAL OF GOVERNMENT (Kajian Manajemen Pemerintahan dan Otonomi Daerah)
Publisher : rogram Studi Ilmu Pemeritahan Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik Universitas 17 Agustu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.859 KB)

Abstract

ABSTRACT The phenomenon of the collapse of social capital, such as the tradition of mutual cooperation and self-sufficient or by the villagers in the district called Gemohing Witihama increasingly felt in the social life of the village, amid strong grip of modernization and globalization. Social capital as collective power of rural communities that have long been rooted in people's lives, is actually the ancestral cultural heritage in managing the important pillars of social cohesion and community development should be a castle guard of civilization. Therefore the main issue to be examined is how the tradition of gemohing highlighted from the perspective of social capital in support of rural development. This study is expected to more comprehensively describe the key role assumed by gemohing as social capital in supporting the process of rural development. The study results demonstrate that social capital has been the collective strength of the governance of rural development increasingly shifted due to the presence of new social institutions formed by the State and a number of policies that it has ignored the main role of gemohing. Despite this collective power that can still be presented again given the still dominant cultural traditions and kinship ties are still inherent in social life, especially in the face of socio-cultural events as well as cooperation for the benefit of rural development. Thus concluded that gemohing can still be used as the basis of social energy boosters that are beneficial for development and also an antidote to the negative effects of globalization. Hence a number of important aspects of gemohing as social capital such as trust, social networks and collective action remains a core strength togetherness strengthen and reinforce cooperation in order to garner a solid face various problems and challenges of rural development. That means gemohing must be preserved and treated as an integrating force for the development of society in all its aspects. And therefore should be given a proper place by the village government in all dimensions of development. Keywors: Social Capital , Gemohing and Rural Community Development ABSTRAK Fenomena runtuhnya modal sosial masyarakat, seperti tradisi bergotong royong dan berswadaya atau oleh masyarakat desa di Kecamatan Witihama disebut Gemohing kian terasa dalam kehidupan sosial desa, di tengah kuatnya cengkraman modernisasi dan globalisasi. Modal sosial sebagai kekuatan kolektif masyarakat desa yang telah lama berakar dalam kehidupan masyarakat, sejatinya merupakan warisan budaya leluhur  dalam mengelola kohesi sosial dan pilar penting pembangunan masyarakat yang mestinya menjadi  benteng penjaga peradaban. Karena itu persoalan utama yang hendak dikaji adalah bagaimanakah tradisi gemohing disorot dari sudut pandang modal sosial  dalam mendukung pembangunan masyarakat desa. Kajian ini diharapkan  mendeskripsikan secara lebih komprehensif peran kunci yang diemban oleh gemohing sebagai modal sosial dalam mendukung proses pembangunan  masyarakat desa. Hasil kajian membuktikan bahwa modal sosial yang selama ini menjadi kekuatan kolektif bagi tata kelola pembangunan masyarakat desa kian mengalami pergeseran akibat hadirnya lembaga-lembaga sosial baru bentukan Negara dan sejumlah kebijakannya  yang justru telah mengabaikan peran utama dari gemohing. Meskipun demikian kekuatan kolektif itu masih dapat dihadirkan kembali mengingat masih dominannya tradisi kultural dan ikatan kekerabatan yang masih melekat dalam kehidupan sosial terutama dalam menghadapi peristiwa sosial budaya maupun kerjasama untuk kepentingan pembangunan  masyarakat desa. Dengan demikian disimpulkan bahwa gemohing masih dapat dijadikan sebagai basis   penguat energi sosial masyarakat yang bermanfaat bagi pembangunan  dan sekaligus  penangkal ekses negatif dari globalisasi. Karena itu sejumlah aspek penting dari gemohing sebagai modal sosial seperti kepercayaan, jaringan sosial dan tindakan kolektif masih tetap menjadi kekuatan inti mempererat dan memperteguh kebersamaan guna menggalang kerjasama yang solid menghadapi berbagai problem dan tantangan pembangunan  desa. Itu berarti gemohing harus dijaga dan dirawat sebagai kekuatan pengintegrasi masyarakat untuk pembangunan di segala aspeknya. Dan karena itu harus diberi tempat semestinya oleh pemerintah desa dalam seluruh dimensi pembangunan.   Kata-kata Kunci :  Modal Sosial, Gemohing dan Pembangunan Masyarakat Desa
ANALISIS KONTRIBUSI PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) KOTA BATAM HIKMAH .
JOURNAL OF GOVERNMENT (Kajian Manajemen Pemerintahan dan Otonomi Daerah) Vol 2, No 2 (2017): Jurnal Of Government (KAJIAN MANAJEMEN PEMERINTAHAN DAN OTONOMI DAERAH)
Publisher : rogram Studi Ilmu Pemeritahan Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik Universitas 17 Agustu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.721 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) kontribusi pajak daerah terhadap PAD, (2) kontribusi retribusi daerah terhadap PAD, (3 efektivitas penerimaan pajak daerah dan (4) efektivitas penerimaan retribusi daerah. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah Dinas Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah Kota Batam dengan objek penelitian besarnya PAD tahun 2013-2016. Penelitian ini menggunakan metode dokumentasi dengan menggunakan analisis data yaitu analisis kontribusi dan rasio efektivitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) pajak daerah berkontribusi secara signifikan terhadap PAD dengan rata-rata persentase kontribusi sebesar 70,69%  dengan kategori besar, (2) retribusi daerah berkontribusi sangat rendah terhadap PAD dengan rata-rata persentase kontribusi 11,21 % dengan kategori kecil, (3) efektivitas penerimaan pajak daerah diperoleh rata-rata sebesar 108,01% % dengan kategori sangat efektif dan (4) efektivitas penerimaan retribusi daerah rata-rata diperoleh sebesar 106,515 dengan kategori sangat efektif. Kata kunci: Pajak daerah, Pendapatan Asli Daerah (PAD), dan Retribusi Daerah.      

Filter by Year

2015 2023