cover
Contact Name
Hayatul Khairul Rahmat
Contact Email
hayatulkhairul@gmail.com
Phone
+6281268928954
Journal Mail Official
manajemen.bencana@idu.ac.id
Editorial Address
Indonesia Defense University Campus, Indonesian Peace and Security Center Region, Sentul, Bogor Regency, West Java Province, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Manajemen Bencana (JMB)
ISSN : -     EISSN : 27164462     DOI : https://doi.org/10.33172/jmb
Jurnal Manajemen Bencana (JMB) publishes articles of research and conceptual thinking in the field of disaster management but not limited in: Disaster Risk Management; Disaster Risk Psychology; Geographical Information System for Disaster Management; Civil and Military Coordination in Disaster Management; Disaster Mitigation; Disaster Response and Recovery Management; Disaster in National Security Perspective; and Disaster in Defense Science Perspective
Articles 56 Documents
PERAN KOMUNIKASI PADA MASYARAKAT SEBAGAI UPAYA PENGURANGAN RISIKO BENCANA (Studi Pengurangan Risiko Bencana pada Penanggulangan Bencana Erupsi Gunung Kelud, Jawa Timur dengan Metode System Dynamics) Lestari, Fitta Amellia; Soesilo, Tri Edhi Budhi; Khaerudin, Khaerudin
Jurnal Manajemen Bencana (JMB) Vol 3, No 1 (2017): Jurnal Manajemen Bencana
Publisher : Republic of Indonesia Defense University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33172/jmb.v3i1.36

Abstract

Abstrak - Gunung Kelud merupakan gunung api aktif yang berada di Kabupaten Kediri. Gunung Kelud dengan ketinggian 1731 meter merupakan gunung api yang memiliki ciri khas khusus yaitu memiliki danau kawah. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis peran peran komunikasi pada masyarakat sebagai upaya pengurangan risiko bencana dan menganalisis model kegiatan evakuasi korban pada masa tanggap darurat di Gunung Kelud. Penelitian ini menggunakan metode campuran. Metode kualitatif digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian mengenai kearifan lokal pada masa tanggap darurat. Metode kuantitatif menggunakan system dynamics dipakai untuk mengetahui model kegiatan evakuasi korban. Hasilnya adalah terdapat dua kegiatan komunikasi yang ada pada masyarakat sekitar Gunung Kelud, yaitu kegiatan Radio Komunitas dan Sosialisasi Informal. Masyarakat sadar bahwa ada bahaya yang mengintai mereka setiap harinya dan merekat memiliki inisiatif untuk membangun radio komunitas sebagai salah satu alternatif penyampaian informasi mengenai status terbaru Gunung Kelud. Kegiatan Sosialisasi Informal dilakukan karena pemerintah tidak dapat menjangkau dan memberikan informasi dengan cepat dan tepat kepada seluruh masyarakat. Simulasi yang dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan system dynamics menunjukan hasil bahwa jumlah penduduk yang terevakuasi meningkat setiap harinya, namun waktu yang dibutuhkan untuk memindahkan seluruh penduduk terdampak masih terhitung lama, yaitu 7 hari. Peningkatan jumlah penduduk yang terevakuasi setiap hari dipengaruhi oleh efektivitas kegiatan evakuasi.Kata Kunci: Komunikasi, Evakuasi Korban, Pengurangan Risiko BencanaAbstract - Mount Kelud is the volcano active are located in Kabupaten Kediri. Mount kelud with a height 1731 meters is the volcano having typical special that is having a crater lake who makes lava eruption very dangerous nearby residents. The purpose of this research is analyze the role of communication in mount kelud as an effort to disaster risk reduction and analyze model activities evacuate the victims who in the emergency on mount Kelud. This study used mixed methods. Qualitative methods are used to answer research questions about the local wisdom in emergency relief.  Quantitative methods using system dynamics models are used to determine the casualty evacuation activities. The result is that there are two type of communication in communities around Mount Kelud, namely the activities of Community Radio and Informal Socialization. The community is aware that there are dangers lurking glue them every day and have the initiative to establish a community radio as an alternative to deliver information about the latest status of Kelud. Informal Socialization activities carried out because the government can not reach out and provide information quickly and precisely to the entire community. Simulations conducted by researchers using system dynamics results show that the number of people who terevakuasi increasing every day, but the time required to move the entire population affected is still relatively long, ie 7 days. Increasing the number of people who terevakuasi every day is influenced by the effectiveness of evacuation activities. Keyword: Communication, Evacuation, Disaster Risk Reduction
ANALISIS KESIAPAN PEMERINTAH DAERAH DALAM PENANGANAN PENYANDANG DISABILITAS MENGHADAPI BENCANA GEMPA BUMI Wulandari, Riskyana
Jurnal Manajemen Bencana (JMB) Vol 3, No 1 (2017): Jurnal Manajemen Bencana
Publisher : Republic of Indonesia Defense University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33172/jmb.v3i1.37

Abstract

Abstrak - Berdasarkan paradigma bencana sebagai perang, gempa bumi dipandang sebagai musuh yang harus dilawan. Pemerintah adalah unsur utama dalam penanggulangan bencana yang berkewajiban melindungi segenap warga Indonesia termasuk penyandang disabilitas. Meski demikian, kebijakan dan strategi yang telah disusun cenderung kurang peka terhadap kebutuhan khusus tiap ragam disabilitas. Kondisi ini menyebabkan perencanaan penanggulangan bencana gempa bumi kurang menyertakan kelompok disabilitas. Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk menganalisis kesiapan Pemerintah Daerah dalam penanganan penyandang disabilitas menghadapi gempa bumi. Lokasi penelitian bertempat di Kabupaten Bantul dengan partisipan yang dipilih melalui teknik purposive dan snowball sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi, studi dokumen dan materi audio-visual yang kemudian dianalisis secara tematik menurut Cresswell. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan bencana Pemerintah Daerah dalam penanganan penyandang disabilitas adalah dengan mengintegrasikan prioritasi dan pembukaan kesempatan partisipasi bagi penyandang disabilitas ke dalam setiap kegiatan mulai dari asesmen, perencanaan, kerangka kerja institusional, sistem informasi, pangkalan sumber daya, sistem peringatan, pembentukan mekanisme respon, kemudian pendidikan, sosialisasi dan simulasi. Ke depannya, Pemerintah Daerah dapat membangun kesadaran disabilitas pada setiap lapisan masyarakat untuk menciptakan komunikasi yang positif antar pihak dalam bencana, dan mengkader penyandang disabilitas sebagai tenaga relawan yang mampu berkomunikasi sercara efektif dengan keberagaman disabilitas.Kata Kunci: Kesiapan Pemerintah Daerah, Penyandang Disabilitas, Pelibatan dalam Penanggulangan BencanaAbstract - Within the paradigm of disaster as a war, earthquake is an enemy that must be countered. Government is the main element in disaster management that has the responsibility to protect its citizen, including people with disability. However, the policies and strategies which are formulated tend to be insensitive toward the special needs of disability and resulted in disaster planning that lacks disability inclusion. This qualitative research aims to analyze the local government preparedness in managing people with disability to face the earthquake disaster. The research is taken place at Bantul Region. The participants are selected through purposive and snowball sampling. The data collecting techniques are indepth interview, qualitative observation, document study and audio-visual material which then analyzed thematically according to Cresswell. The results showed that local government disaster preparedness in managing people with disability is by integrating proritizing and opening participation for people with disability in every starts from assessment, planning, institusional framework, information system, resource base, warning system, response mechanism, education, socialization and simulation. In the future, local government should raise the awareness of disability in every level of community to create positive communication between stakeholders in disasters and empower people with disability as volunteers that able to communicate effectively with the diversity of disability.Keywords: Local Government Preparedness, People with Disability, Involvement in Disaster Management
STRATEGI PENCEGAHAN MALARIA PADA PRAJURIT TNI-AD DI DAERAH ENDEMIS (Studi Pada Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Batalyon Infanteri 323/Raider Periode November 2014-September 2015) Pamudi, Berwi Fazri; Heridadi, Heridadi; Rimba, Ben Yura
Jurnal Manajemen Bencana (JMB) Vol 3, No 1 (2017): Jurnal Manajemen Bencana
Publisher : Republic of Indonesia Defense University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33172/jmb.v3i1.39

Abstract

Abstrak - TNI-AD setiap tahun mengirimkan Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan RI-PNG ke daerah operasi Papua yang merupakan daerah endemis malaria. Penugasan selama 10 bulan di daerah endemis memungkinkan para prajurit terkena infeksi malaria. Penelitian ini ditujukan untuk menganalisis strategi dan implementasi pencegahan malaria yang dilakukan oleh TNI-AD saat pratugas di homebase dan penugasan di daerah operasi. Penelitian menggunakan metode kualitatif secara wawancara mendalam dan observasi di daerah operasi. Penelitian mengenai implementasi pencegahan malaria berfokus pada upaya promotif, preventif, dan profilaksis anti malaria. Hasil penelitian ini yaitu adanya strategi TNI-AD untuk pencegahan malaria dengan melaksanakan pemetaan vektor penularan nyamuk Anopheles sp. di lingkungan pos pengamanan. Personel mendapatkan kendala untuk manajemen lingkungan karena berbenturan dengan budaya daerah setempat (Hak Ulayat). Terdapat kesenjangan pada implementasi pencegahan malaria Satgas pamtas Yonif 323/Raider yaitu tidak adanya media penyuluhan pencegahan malaria, kurangnya dukungan cairan insektisida untuk pakaian sehari-hari, personel tidak disiplin menggunakan kelambu berinsektisida dan lotion anti nyamuk, penyemprotan ruangan dengan Indoor Residual Spray (IRS) yang kurang efektif, serta tidak terpenuhinya manajemen lingkungan. Untuk itu diperlukan adanya disiplin diri dari setiap personel dan kemitraan dengan berbagai pihak untuk mewujudkan manajemen lingkungan yang bertujuan mengurangi risiko malaria di daerah operasi satuan tugas pengamanan perbatasan.Kata kunci: endemis malaria, satuan tugas pengamanan perbatasan, strategi pencegahan malariaAbstract - Annually, Indonesian Army sends Border Security Task Force Indonesia-PNG to the operation area of Papua which known as Malaria endemic area. The assignment during 10 months in endemic area allow the soldiers exposed to malaria infection. This research aims to find out  the strategy and implementation of malaria prevention which conducted  by  Indonesian  Army  in pre-deployment  at  homebase  and  deployment  at operations area. This study using qualtitave method by in-depth interviews research and direct observation in operation area. This research focused on the promotive, preventive, and prophylactic antimalaria. The result of this research is the concrete strategic of Indonesian Army to prevent Malaria by implementing the transmission vector mapping in case of Anopheles sp widespread nearby environmental security posts. Personnel get constraints to environmental management because it clashes with the local culture (Hak Ulayat). The research finds the gaps in the implementation of malaria prevention on border security  task  force    infantry  batalyon  323/Raider  i.e.  the  absence  of  media  outreach malaria prevention, lack of support the insecticide for clothes, personnel do not use Long Lasting Insectiside Nets (LLINs) and repellent,   Indoor Residual Spray (IRS) are less effective, and does not meet the environmental management.  Eventually, it is necessary to have self discipline for all of the personnel and the partnership with various parties to actualize environment management which is aimed to reduce the malaria risk in operation area of border security task force.Keywords: endemic malaria, border security task force, malaria prevention strategy
ANALISIS DAMPAK PERTAMBANGAN TIMAH RAKYAT TERHADAP BENCANA BANJIR (Studi Pada Kota Pangkalpinang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2016) HS, Yuliana
Jurnal Manajemen Bencana (JMB) Vol 3, No 1 (2017): Jurnal Manajemen Bencana
Publisher : Republic of Indonesia Defense University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33172/jmb.v3i1.40

Abstract

Abstrak - Pulau Bangka Belitung merupakan pulau penghasil timah terbesar di Indonesia dan kedua setelah Malaysia. Izin  penambangan PT. Timah, Tbk seluas 330.664,09 ha dan PT. Koba Tin seluas 41.680,30 ha, sisanya milik perusahaan swasta lain dan tambang rakyat. Dengan kemunduran industri timah sejak tahun 1991 karena turunnya harga timah dunia yang mengakibatkan PT. Timah Tbk harus menghentikan sebagian kegiatan penambangan di Pulau Bangka Belitung untuk mengurangi biaya produksi dan memberi kesempatan pada pertambangan timah rakyat melakukan penambangan di lahan yang telah ditinggalkan secara tradisional. Akan tetapi seiring berjalannya waktu pertambangan timah rakyat ini mengakibatkan dampak yang negatif terhadap lingkungan karena penambangan dilakukan tidak hanya di lahan bekas tambang PT. Timah, Tbk tapi mulai merambah ke wilayah hutan lindung dan hutan konservasi, maupun di dekat Daerah Aliran Sungai (DAS) yang pada akhirnya mengakibatkan banjir ketika musim hujan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif bertujuan untuk menganalisis dampak pertambangan timah rakyat terhadap banjir di provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan menganalisis upaya yang telah dilakukan Pemerintah Provinsi Kepuluan Bangka Belitung dalam penanggulangan banjir akibat pertambangan timah rakyat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor manusia sangat berpengaruh besar terhadap kerusakan lingkungan. Perlu adanya perumusan kebijakan yang mengatur pertambangan timah rakyat dan pengawasan terhadap kegiatan pertambangan timah rakyat. Kata Kunci: Analisis Dampak, Pertambangan Timah Rakyat, Bencana BanjirAbstract - Bangka Belitung Island is largest tin producer island's in Indonesia and the second after Malaysia. Mining permit PT. Timah, Tbk area of 330,664.09 hectares and PT. Koba Tin area of 41680.30 hectares the rest belong to other private companies and artisanal mining. With the decline of the tin industry since 1991 because of the decline in world tin prices resulting PT. Timah,Tbk have to stop to some mining operations in Bangka Belitung Island to reduce production costs and provide opportunities for unconventional tin mining to mine tin mining on lands that have been traditionally left out. But as time goes by mining tin was done the unconventional tin mining of this resulted in a negative impact on the environment due to mining not only in the former mining area of PT. Timah, Tbk but began to encroach forest protection and conservation, as well as near Watershed. Watershed experiencing silting due to residual sludge is discharged into rivers and sedimentation that ultimately lead to flooding during the rainy season. This study is a qualitative report aimed to analyze the impact of unconventional tin mining to flooding in the province of Bangka Belitung and analyze the efforts made by the Provincial Government of Bangka Belitung in the prevention of flooding due to tin mining. Data collection techniques used include interviews, observation, and documentation. The results show that artificial factors/human influence caused environmental damage, and there is a need to establish policies that govern unconventional mining and supervision of tin mining activities.Keywords: Analysis Of Impact, Unconventional Tin Mining, Floods
Efektivitas Peran Relawan Penanggulangan Bencana pada Tanggap Darurat Banjir Jakarta Timur Dalam Rangka Penyelamatan Korban Manusia (Studi di Kelurahan Kampung Melayu Tahun 2014) Sujanto, Bifrenda Arifiani
Jurnal Manajemen Bencana (JMB) Vol 3, No 2 (2017): Jurnal Prodi Manajemen Bencana
Publisher : Republic of Indonesia Defense University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33172/jmb.v3i2.104

Abstract

Abstrak - Pada tahun 2014, banjir setinggi 2 meter terjadi di Kampung Melayu, Jakarta Timur sehingga diperlukan penanggulangan bencana. Aktor yang berperan di dalamnya adalah sukarelawan PMI kota Jakarta Timur dan relawan MDMC cabang Bukit Duri sebagai bagian kelompok yang terorganisir dengan baik. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dengan metode kualitatif yang bertujuan untuk menganalisis faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi peran relawan pada tanggap darurat bencana banjir di wilayah Jakarta Timur dan menganalisis efektivitas perannya dari tiga aspek yaitu kemampuan, pengetahuan dan motivasi. Hasil dari penelitian ini, pertama, faktor internal dan faktor eksternal merupakan faktor pendukung dalam mempengaruhi peran relawan pada penanganan banjir di Jakarta Timur tahun 2014 yang dimiliki oleh kaum muda pada relawan, seperti sifat-sifat yang berempati kepada korban bencana, ingin diakui, dihargai, dipercayai dan mendapatkan pengalaman baru untuk eksistensinya dan karakter ini diinginkan oleh para kaum remaja untuk mendapatkan kesempatan dalam mengasah keterampilan, ilmu pengetahuan dan berorganisasi, maka para relawan tersebut perlu ditampung dalam wadah organisasi dan bila diorganisir dengan baik, mereka dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dalam penanggulangan bencana serta dapat menangani kendala yang dihadapi. Kedua, peran para relawan pada tanggap darurat banjir di Kelurahan Kampung Melayu tahun 2014 cukup efektif dalam melaksanakan penyelamatan korban manusia yang didukung oleh adanya kemampuan teknis para sukarelawan PMI kota Jakarta Timur cukup efektif dibandingkan para relawan dari MDMC cabang Bukit Duri. Sedangkan kemampuan konseptual dan kemampuan sosial para relawan dari kedua organisasi cukup efektif dalam penanganan darurat; Pengetahuan tentang penanggulangan bencana para relawan diperoleh dari pelatihan dan pengalaman; dan motivasi yang positif untuk menolong, mendapatkan ilmu pengetahuan dan pengalaman serta dapat bermanfaat bagi korban terdampak yang mengerahkan seluruh keterampilan, tenaga dan waktu untuk penyelamatan korban.Kata Kunci: Efektivitas, Peran Relawan Banjir, Penyelamatan. Abstract - In 2014, two-meter high flood occurred in Kampung Melayu, East Jakarta, therefore a disaster response was needed. The actors which involved were PMI East Jakarta volunteer and MDMC Bukit Duri volunteer as part of well organized groups. This research used qualitatitive descriptive methods with the aim to analyze the internal and external factors that affect the role of flood disaster relief volunteer in East Jakarta and analyze effectivity of theirs role based on three aspects such as ability, knowledge, and motivation. The research  results indicated, first, the internal and external factors were supporting factor in influencing the role of volunteers in flood emergency response in East Jakarta in 2014 which were owned by young volunteer, such as empathy to the victims, the need to be recognized, appreciated, trusted and gain new experiences for its existence and this character desired by young people to get a chance to sharpen their skills, knowledge and organization experience, therefore these volunteers need to be accommodated in an organization, and if they were organized properly, they can produce something useful in the disaster prevention in addressing obstacles. Secondly, the role of volunteers in flood emergency response in Kampung Melayu in 2014 was quite effective in carrying out human victim rescue, supported by the technical ability of PMI East Jakarta volunteer that was more effective compared to MDMC Bukit Duri volunteer. While conceptual and social ability of the volunteers of both organizations were effective enough in emergency response; Volunteer’’s knowledge of disaster emergency response obtained from training and experience; and positive motivation to help people, gain knowledge and experience as well as could benefit affected victims by mobilizing all the skill, effort and time to rescue victims.Key words: Effectivity, The Role of Flood Volunteer, Rescue.
Analisis Partisipasi Masyarakat Melalui Barisan Pemadam Kebakaran Swadaya Dalam Menghadapi Risiko Kebakaran Permukiman di Kota Banjarmasin Lestari, Dessy Puji; Pramono, Rudy; Nefianto, Tirton
Jurnal Manajemen Bencana (JMB) Vol 3, No 2 (2017): Jurnal Prodi Manajemen Bencana
Publisher : Republic of Indonesia Defense University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33172/jmb.v3i2.105

Abstract

Abstrak - Kota Banjarmasin merupakan kota dengan jumlah kejadian kebakaran permukiman tertinggi di Pulau Kalimantan. Pemerintah Kota Banjarmasin memiliki keterbatasan armada dan anggaran dalam menghadapi risiko kebakaran permukiman. Sehingga masyarakat berusaha menghadapinya sendiri dengan mendirikan Barisan Pemadam Kebakaran swadaya. Penelitian tesis ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan strategi penelitian studi kasus. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisis partisipasi masyarakat melalui Barisan Pemadam Kebakaran swadaya dalam menghadapi risiko kebakaran permukiman. Lokasi penelitian berada di Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin. Metode yang digunakan dalam pengambilan data yaitu observasi, wawancara, dokumentasi langsung di lapangan dan studi dokumen yang kemudian dianalisis menggunakan Model Miles dan Huberman dan analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai bentuk partisipasi masyarakat dalam menghadapi risiko kebakaran permukiman berada pada tahap perencanaan, pelaksaan hingga evaluasi. Partisipasi masyarakat sebagai pengguna jasa Barisan Pemadam Kebakaran swadaya berada pada jenjang citizen power berdasarkan pengelompokkan jenjang partisipasi oleh Arnstein (1969). Sedangkan partisipasi masyarakat sebagai tenaga sukarela Barisan Pemadam Kebakaran swadaya berada diantara jenjang interactive participation dan self-mobilization berdasarkan pengelompokkan jenjang partisipasi oleh Pretty (1994). Faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat terdiri atas faktor internal dari dalam diri masyarakat dan faktor eksternal dari luar masyarakat. Terdapat faktor keinginan masyarakat untuk menciptakan rasa aman sebagai salah satu bentuk penerapan konsep community security yang berhasil ditemukan dalam penelitian ini.Kata Kunci:  Partisipasi Masyarakat, Barisan Pemadam Kebakaran Swadaya, Risiko Kebakaran Permukiman, Community Security. Abstract - Banjarmasin is a city with the highest number of urban fires in Borneo. The community try to face the urban fires risk themselves by establish the swadaya firefighters group. This research is a qualitative research that use case study as research strategy. The main purpose of this research is to analyze community participation through swadaya firefighters group to face the urban fires risk. The location of this research located is in Central Banjarmasin sub-district, Banjarmasin. Data collected thechniques of this research use observation, interviews, directly documentation and documents then analyze used a Miles an Huberman model and content analysis techniques. The results indicate that the community participation to face the urban fires risk  is in stage of planning, implementation and evaluation. Community participation as the users of swadaya firefighters group service at the citizen power level by ladders of participation group by Arnstein (1969). While community participation as volunteers of swadaya firefighters group are in the interactive participation and self-mobilization level by participation ladder group by Pretty (1994). The factors that affect the community participation are internal factors from inside of the community and external factors from outside of the community. There is a needed factor from community to create  sense of security as one of the community security concept application have been found in this research.Keywords: Citizen Participation, Swadaya Firefighters Group,  Urban Fires Risk, Community Security
Kesiapsiagaan RSPAD Gatot Soebroto Dalam Penanggulangan Bencana Pandemi Influenza Untuk Mengantisipasi Ancaman Bioterorisme Simatupang, Ronny Basirun
Jurnal Manajemen Bencana (JMB) Vol 3, No 2 (2017): Jurnal Prodi Manajemen Bencana
Publisher : Republic of Indonesia Defense University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33172/jmb.v3i2.106

Abstract

Abstrak - Saat ini banyak kasus klinis yang disebabkan oleh ancaman bioterorisme dengan menggunakan bahan biologi seperti virus dan bakteri. Virus yang telah digunakan dan berpotensi digunakan sebagai bioterorisme salah satunya adalah virus influenza, rumah sakit merupakan rujukan pasien yang harus siap menerima korban massal akibat pandemi influenza.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji kesiapsiagaan RSPAD Gatot Soebroto dalam penanggulangan bencana pandemi untuk mengantisipasi ancaman bioterorisme. Metodologi penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan menggunakan rancangan grounded theory. Penelitian ini melibatkan petugas kesehatan dari beberapa unit seperti IGD, ruang isolasi, farmasi, laboratorium dan komite PPIRS yang dipilih dengan menggunakan purposive dan snowball sampling. Instrumen penelitian menggunakan pedoman AHRQ (Agency of Healthcare Research and Quality) dan guideline WHO tahun 2009. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapsiagaan RSPAD Gatot Soebroto rata-rata baik dengan rincian perencanaan dan administrasi (86.60%), kapasitas tambahan (79.10%), pendidikan dan latihan (77.70%), Komunikasi (76.90%), dukungan kepegawaian (71.42%), isolasi dan dekontaminasi (94.44%), farmasi (77.77%), laboratorium (83.33%) dan surveilans (91.66%). Kesimpulan yang dapat diambil adalah RSPAD Gatot Soebroto sejauh ini telah memiliki kesiapsiagaan yang baik dalam penanggulangan bencana pandemi influenza. Pembenahan yang perlu dilakukan adalah peningkatan kerjasama dengan rumah sakit lain dan kementerian kesehatan serta peningkatan kualitas SDM melalui penerapan cross training.Kata Kunci: Kesiapsiagaan bencana rumah sakit, pandemi influenza, BioterorismeAbstract - There are many bioterrorism threat clinical cases used biological agent such as virus and bacteria. Virus that potentially used in bioterorrism act is influenza. Influenza can be pandemics and causes mass casualty. To response that, a hospital must have a good preparedness for pandemics. The aim of this study was to asses the preparedness of Indonesian Army Hospital for influenza pandemic to anticipate bioterorrism threat. A qualitative, descriptive and exploratory study  was developed  using grounded theory as a design to data analysis. This study involved health workers from some units like emergency department, isolation room, pharmacy, laboratory, and infection prevention and controlling commitee using purposive dan snowball sampling. Instrument of this study used AHRQ (Agency of Healthcare Research and Quality) and WHO guidelines 2009. It was found that preparedness of Indonesian Army Hospital for pandemics was good in average. In detail, it showed that plan and administration (86.60%) surge capacity (79.10%), education and training (77.70%), communication (76.90%), staffing (71.42%), isolation and decontamination (94.44%), pharmacy (77.77%), laboratory (83.33%), and surveilance (91.66%). It concluded that Indonesian Army Central Hospital Gatot Soebroto recently had a good level of preparedness for pandemics. In the future, the hospital need to enhance cooperation with other hospitals and health ministry. Human resources capacity of hospital can be empowered by cross training method. Keywords : Hospital Disaster Preparedness, Influenza Pandemics,  Bioterrorism
Pengaruh Pengetahuan Kebencanaan dan Sikap Masyarakat Terhadap Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Tanah Longsor (Studi di Kelurahan Lawanggintung, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor) Adiwijaya, Cahyadi
Jurnal Manajemen Bencana (JMB) Vol 3, No 2 (2017): Jurnal Prodi Manajemen Bencana
Publisher : Republic of Indonesia Defense University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33172/jmb.v3i2.107

Abstract

Abstrak - Bencana longsor sering terjadi di provinsi Jawa Barat pada tahun 2016, Kelurahan Lawanggintung, Kecamatan Bogor Selatan, mengalami bencana tanah longsor di Kota Bogor. Hal tersebut dapat mengganggu  kehidupan dan penghidupan masyarakat serta mengancam keselamatan penduduk sehingga dapat mengakibatkan terganggunya Keamanan Nasional dan sistem Pertahanan Negara, karena bencana merupakan ancaman nirmiliter. Dengan upaya peningkatan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana maka Keamanan Nasional  dan Sistem Pertahanan Negara secara otomatis akan terjaga. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pengetahuan kebencanaan dan sikap masyarakat terhadap kesiapsiagaan menghadapi bencana longsor di Kelurahan Lawanggintung. Tesis ini menggunakan metode kuantitatif, dengan pendekatan explanatory survey, karena bertujuan untuk menguji suatu teori dan menjelaskan pengaruh antara dua atau lebih variabel. Pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling, sebanyak 99 orang dari 7.253 orang yang tinggal di Kelurahan Lawanggintung. Berdasarkan pengujian menggunakan regresi sederhana (uji T), terdapat pengaruh positif dan signifikan pengetahuan kebencanaan dan sikap masyarakat terhadap kesiapsiagaan menghadapi bencana longsor. Sedangkan berdasarkan pengujian  regresi berganda (uji F), menunjukan bahwa Terdapat pengaruh positif pengetahuan kebencanaan dan sikap masyarakat secara simultan dan signifikan terhadap Kesiapsiagaan menghadapi bencana longsor di Kelurahan Lawanggintung, Kecamatan Bogor Selatan. Nilai R square (R2) adalah sebesar 0,797 menunjukkan pengetahuan kebencanaan dan sikap masyarakat secara simultan berpengaruh sebesar 79,7% terhadap kesiapsiagaan menghadapi bencana longsor, sisanya sebesar 20,3% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti.  Berdasarkan persamaan regresi Y = 0,082 + 0,153X1 + 0,780X2, menunjukan bahwa sikap masyarakat lebih tinggi jika dibandingkan dengan pengetahuan kebencanaan. Oleh karena itu diperlukan pemantauan, sosialisasi, seminar, kerjasama yang melibatkan masyarakat dan perusahaan-perusahaan swasta maupun instansi agar bersama-sama turut andil dalam meningkatkan kesadaran dalam berperilaku sehingga sikap peduli dan siaga dalam menghadapi bencana tanah longsor akan semakin meningkat dan terjaga.Kata kunci:  Pengetahuan kebencanaan, Sikap, Kesiapsiagaan, Bencana Longsor, Kelurahan lawanggintung.Abstract - Landslides are common in West Java province in 2016, Village Lawanggintung, South Bogor subdistrict, experiencing landslides in the city of Bogor. It can disrupt the life and livelihood of the people and threaten the safety of the population that could lead to disruption of National Security and Defense and State, because disaster is non military threats. With efforts to increase community preparedness in the face of disaster, the National Security and Defense Systems country will automatically be maintained. This study aimed to analyze the influence of knowledge and attitudes towards disaster preparedness of landslides in the Lawanggintung Village. This thesis uses a quantitative method, with explanatory survey approach, as it aims to test a theory and explain the influence between two or more variables. Sampling using simple random sampling technique, as many 99 people out of 7.253 people who lived in the village Lawanggintung. Based on result using simple regression (T test), there is a positive and significant impact of disaster knowledge and attitudes towards disaster preparedness landslides. Then based on multiple regression testing (test F), showed that the positive influences of disaster knowledge and attitudes of society simultaneously and significantly related to preparedness for landslides in the Village Lawanggintung, South Bogor subdistrict. Rated R square (R2) is approximately 0,797 disaster demonstrates knowledge and attitudes simultaneously affect 79,7% of the landslide disaster preparedness, the remaining 20,3% is influenced by other variables not examined. Based on the regression equation Y = 0.082 + 0,153X1 + 0,780X2, shows that public attitude is higher when compared with the knowledge of disaster. Therefore we need monitoring, dissemination, seminars, cooperation involving the public and private companies and institutions / agencies to jointly contribute to raising awareness of behaving so caring attitude and stand in the face landslides will be increased and maintained.Keywords: Knowledge of disaster, Attitude, Preparedness, Landslides, the village of Lawanggintung.  
PELAYANAN JASA MESS DAN DAPUR LAPANGAN DALAM PENANGGULANGAN BENCANA ERUPSI GUNUNG KELUD DI KEDIRI PADA TAHUN 2014 Indarto, Win
Jurnal Manajemen Bencana (JMB) Vol 3, No 3 (2017): Jurnal Prodi Manajemen Bencana
Publisher : Republic of Indonesia Defense University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33172/jmb.v3i3.314

Abstract

Abstrak - Gunung Kelud merupakan gunung berapi di wilayah Kabupaten Kediri yang mengalami erupsi terakhir pada tahun 2014. Upaya penanggulangan bencana erupsi Gunung Kelud pada tahap tanggap darurat melibatkan satuan-satuan jajaran TNI AD yang berlokasi di Kediri, salah satunya yaitu Tepbek V-44-02.A sebagai perpanjangan tangan dari Bekangdam V/Brawijaya. Berdasarkan fenomena tersebut penelitian ini berupaya untuk menggambarkan pelayanan jasa mess dan dapur lapangan yang dilakukan Tepbek V-44-02.A, koordinasi yang dilakukan dengan instansi terkait, dan faktor penentu keberhasilan pelayanan Tepbek V-44-02.A selama penanggulangan erupsi Gunung Kelud. Melalui metode kualitatif berdasarkan wawancara mendalam terhadap sejumlah personel Tepbek V-44-02.A dan berlandaskan kepada elaborasi teoritis dari pelayanan, kualitas, motivasi kerja dan koordinasi dalam manajemen bencana.  Penelitian ini menemukan bahwa peran Tepbek V-44-02.A melalui pelayanan jasa mess dan dapur lapangan sudah berjalan baik. Kendatipun, masih terdapat kesulitan koordinasi dengan instansi terkait sedangkan koordinasi dengan Bekangdam V/Brawijaya sudah berjalan dengan baik. Faktor penentu keberhasilan pelayanan mess dan dapur lapangan dari Tepbek V-44-02.A dapat dilihat dari ukuran berorientasi pada proses yaitu responsivitas, responsibilitas, akuntabilitas, keadaptasian dan empati, kemudian ukuran berorientasi pada hasil dapat dilihat dari aspek efektifitas, produktivitas, kepuasan, dan keadilan. Mencermati hal tersebut kedepannya perlu adanya peningkatan peran Tepbek V-44-02.A melalui peningkatan alat, peningkatan kualitas dan kuantitas personel, serta penguatan koordinasi.Kata Kunci: Erupsi, Kelud, Penanggulangan, Pelayanan, Tepbek Abstract - Gunung Kelud is located at district of Kediri, which experienced the last eruption in 2014. The efforts to response this eruption required all stakeholders involvement in disaster risk management, including several units of the army located in Kediri, which is Tepbek V-44-02.A as an extension of Bekangdam V/Brawijaya. Based on this phenomenon, the study sought to describe the mess services and field kitchens provided by Tepbek V-44-02.A, coordination with others stakeholders in disaster risk management, and critical success factors of Tepbek V-44-02.A dealing with the eruption of Gunung Kelud. Through qualitative methods based on primary data collected by in-depth interviews with a several personnel’s of Tepbek V-44-02.A and based on the theoretical elaboration of service and quality of service, the study found that the role Tepbek V-44-02.A in providing the mess and field kitchens services has been running well. Nevertheless, there are still difficulties in coordination with relevant stakeholders, while the coordination with Bekangdam V/Brawijaya work smoothly. Critical success factors from the mess and field kitchens services of Tepbek V-44-02.A can be seen from the measures of a process-oriented, which is responsiveness, responsibility, accountability, adaptability and empathy, then the measure of a results-oriented can be seen from the aspect of the effectiveness, productivity, satisfaction, and justice. Observing from these results, Tepbek V-44-02.A need to improve their tools, the quality and quantity of personnel, and strengthening coordination with related agencies.Keywords: Eruption, Kelud, Disaster relief, Service, Tepbek
FAKTOR RISIKO (BREEDING PLACES, RESTING PLACES, PERILAKU KESEHATAN LINGKUNGAN, DAN KEBIASAAN HIDUP) PADA KEJADIAN LUAR BIASA DEMAM BERDARAH DENGUE DI KECAMATAN CIKUPA KABUPATEN TANGERANG Anggraeni, Putri; Heridadi, Heridadi; Widana, IDK Kerta
Jurnal Manajemen Bencana (JMB) Vol 4, No 1 (2018): Jurnal Manajemen Bencana
Publisher : Republic of Indonesia Defense University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33172/jmb.v4i1.229

Abstract

Abstrak -- Dewasa ini terjadi pergeseran ancaman nyata di Indonesia yang semula bersifat militer menjadi ancaman non militer. Salah satu ancaman non militer yang mengacam Indonesia adalah bencana. Bencana merupakan ancaman nyata karena mengganggu keamanan insani jika ditinjau dari perspektif keamanan nasional. Salah satu jenis bencana yang mengganggu kemanan insani adalah wabah penyakit. DBD merupakan penyakit potensial wabah. Terjadi KLB DBD di Kabupaten Tangerang tahun 2016. Kecamatan dengan Jumlah insiden rate tertinggi yaitu Kecamatan Cikupa. Berdasarkan teori HAE, DBD dapat disebabkan oleh lingkungan dan perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko KLB DBD di Kecamatan Cikupa Kabupaten Tangerang dilihat dari keberadaan breeding places, resting places, perilaku kesehatan lingkungan dan kebiasaan hidup. Desain penelitian ini adalah case control unmatched. Sampel penelitian sebanyak 135 dengan perbandingan kasus kontrol 1:2. Sampel diperoleh dari laporan DBD Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang tahun 2016 dan laporan puskesmas tahun 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa breeding places ≥3 (OR: 8,531, 95% CI: 3,431-21,209), resting places ≥4 (OR: 2,719, CI 95%: 1,295-5,709), perilaku kesehatan lingkungan yang buruk (OR: 8,500, 95% CI: 3,752-19,394), dan kebiasaan hidup tidak sehat (OR: 3,763, 95% CI: 1,722-8,226) berisiko terhadap KLB DBD di Kecamatan Cikupa Kabupaten Tangerang. Oleh karena itu, dibutuhkan pengendalian DBD yang komprehensif dan multisektoral dalam meniadakan risiko yang ada sebagai upaya pengurangan risiko dengan cara peningkatan pengetahuan dan sosialisasi kepada masyarakat tentang penyakit DBD (meliputi penyebab dan cara pencegahannya), menggalakkan program satu rumah satu jumantik serta pelaksanaan kerja bakti secara rutin satu minggu sekali dipantau oleh RT RW setempat.Kata Kunci: Demam Berdarah Dengue, Faktor Risiko DBD, Kejadian Luar Biasa DBD Abstract -- The real threat that exists in Indonesia today is the non-military threat. One of the non-military threats that runs across Indonesia is disaster. Disaster is a real threat because it disturbs human security in term of National Security perspective. One of disaster type that interferes with human security is disease outbreaks. Dengue Hemorragic Fever (DHF) is a potential outbreak of disease. DHF extraordinary event occurred in Tangerang Regency in 2016. The highest number of incidents rate was occurred in Cikupa Sub-district. Based on Host Agent theory, DHF can be caused by environment and behavior. This study aims to determine the risk factors of DHF outbreak in the Sub-district of Cikupa Tangerang Regency seen from the existence of breeding places, resting places, environmental health behavior and healthy living habits. The design of this study was unmatched case control. The research sample was 135 with the comparison of control cases 1: 2. Samples were obtained from the DHF report of Tangerang District Health Office in 2016 and the report of Puskesmas in 2016. The results showed that breeding places ≥3 (OR: 8,531, 95% CI: 3,431-21,209), resting places ≥4 (OR: 2,719, 95% CI: 1,295-5,709), poor environmental health behaviors (OR: 8,500, 95% CI: 3,752-19,394), and unhealthy living habits (OR: 3,783, 95% CI: 1,722-8,226) are at risk against DHF extraordinary evet in Sub-district of Cikupa Tangerang Regency. Therefore, comprehensive and multisectoral DHF control is needed in eliminating the risks that exist as risk reduction efforts by increasing knowledge and socialization to the community related to DHF( included causes, and ways of prevention). In addition, the promotion  of one home one jumantik program and the implementation of clean together routinely monitored by local RT RW are appropriate.Keywords: Dengue Hemorragic Fever, Risk Factor of DHF, Extraordinary Condition of DHF