cover
Contact Name
Kupiya Timbul Wahyudi
Contact Email
kupiya.timbulwahyudi@kalbe.co.id
Phone
+62818818834
Journal Mail Official
cdkjurnal@gmail.com
Editorial Address
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles 1,450 Documents
Evaluasi dan Manajemen Sinkop di Instalasi Gawat Darurat -, Sukamto
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 11 (2018): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (714.459 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v45i11.576

Abstract

Sinkop didefiniskan sebagai hilang kesadaran sementara disebabkan hipoperfusi otak global, onset tiba-tiba dan pemulihan spontan. Sinkop sering ditemui di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Diagnosis banding sinkop sangat luas dan manajemennya sangat tergantung etiologi utamanya. Kasus sinkop menjadi tantangan bagi dokter umum di IGD untuk memilah pasien yang aman untuk rawat jalan atau perlu evaluasi lanjutan dan rawat inap karena dapat membahayakan.Syncope is defined as a transient loss of consciousness due to cerebral hypoperfusion with spon-taneous return to baseline function without intervention. It is a common chief complaint in emergency ward. The differential diagnosis for syncope is broad and the management varies significantly depending on the underlying etiology. In the emergen¬cy department, syncope presents a challenge to general practitioner to differentiate patients safe for discharge from those who require emer¬gency evaluation and in-hospital management for potentially life-threatening etiologies.
Clindamycin 0.025% and Tretinoin 0.005% Cream for Infantile Acne Vulgaris Reginata, Gabriela; Tan, Sukmawati Tansil; Gunawan, Listyani
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (596.757 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v46i4.494

Abstract

Acne vulgaris is an inflammatory disease of pilosebaceous unit marked by the presence of comedones, papules, pustules, nodules, and cysts. A boy aged 4 years old was reported of having red spots on his cheeks since the age of 1 month old. Erythematous papules and pustules with white heads were found in the facial area. Infantile acne diagnosis was considered. Combination of clindamycin 0.025% and tretinoin 0.005% cream was given to accelerate healing process and to prevent complications such as post-inflammatory hyperpigmentation. The patient’s condition was considerably better after 1 month.Acne vulgaris merupakan inflamasi kelenjar pilosebaceous yang ditandai dengan komedon, papula, pustula, nodula, and kista. Kasus anak laki-laki usia 4 tahun mempunyai bintik kemerahan di pipi sejak usia 1 bulan. Dijumpai papula dan pustula eritematous dengan white heads di wajah, didiagnosis sebagai infantile acne. Diberikan krim kombinasi clindamycin 0.025% and tretinoin 0.005% untuk terapi dan mencegah komplikasi hiperpigmentasi. Keadaan pasien lebih baik setelah terapi 1 bulan.
Dairy Products Benefits in Lowering Blood Pressure Martina, Michelle; Angeline, Daniela
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 7 (2020): Bedah
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.267 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v47i7.604

Abstract

Hypertension is one of the risk factor leading to cardiovascular disease. Diet plays an important role for preventing hypertension and maintaining blood pressure. One of the dietary approach includes intake of daily consumption of low fat dairy product. This review will discuss the relationship between daily dairy intake and blood pressure.Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular. Selain terapi medikamentosa, nutrisi berperan penting dalam mencegah hipertensi dan menjaga tekanan darah. Salah satu pendekatan nutrisi pada pasien hipertensi mencakup konsumsi produk susu rendah lemak. Ulasan ini membahas hubungan konsumsi produk susu dengan tekanan darah.
Potensi Sistem Integrasi Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) dengan Artificial Neural Network (ANN) Sebagai Metode Diagnosis Demam Dengue Ramadhan, Mochamad Iskandarsyah Agung; Billy, Matthew
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.856 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v44i1.811

Abstract

Demam dengue adalah salah satu jenis penyakit tropis yang disebabkan oleh virus dengue dengan perantara nyamuk Aedes. Prevalensinya di Indonesia cukup tinggi dan insidensinya meningkat. Saat ini, metode diagnosis dengue masih memiliki banyak kelemahan dari segi kemudahan, biaya, keamaanan, maupun waktu pemeriksaan. Berbagai penelitian menunjukkan terdapat integrasi antara Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) dan Artificial Neural Network (ANN) yang berpotensi menjadi metode diagnosis demam dengue baru yang tidak invasif, cepat, serta murah dan mudah. BIA menggunakan prinsip impedansi untuk mengukur kadar cairan tubuh sehingga dapat menggambarkan proses plasma leakage selama proses demam dengue. Impedansi ini akan dimasukkan bersama data lain seperti kuantifikasi risiko, jenis kelamin, dan saat terjadinya demam untuk diolah. ANN akan menyesuaikan fungsi perhitungannya dengan data masukan tersebut sehingga didapatkan output diagnosis yang akurat. Akurasi sistem BIA dan ANN untuk mendiagnosis demam dengue sekitar 96%, disebabkan oleh pemilihan parameter yang khas. Sistem integrasi BIA dan ANN dapat digunakan sebagai metode diagnosis demam dengue yang akurat, aman, murah, praktis, dan cepat. Sistem ini perlu dikembangkan untuk dapat mendeteksi demam dengue pada populasi yang besar dan majemuk seperti di Indonesia.Dengue fever is tropical disease caused by dengue virus with Aedes mosquitoes as vector. Its prevalence in Indonesia is quite high and the incidence is increasing. The current diagnosis of dengue is still problematic in terms of convenience, cost, safety, as well as the timing of examination. Studies show that integration of Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) and Artificial Neural Network (ANN) is potentially new, non-invasive, rapid, easy, and inexpensive method of dengue fever diagnosis. BIA uses the impedance of the body fluid to measure plasma leakage during dengue fever. This result will be included along with other data such as quantification of risk, sex, and fever onset to be processed by ANN computing system. ANN will adjust the calculation function to obtain accurate diagnosis. The accuracy of BIA and ANN in diagnosing dengue fever is about 96% due to the selection of specific parameters. Integration between BIA and ANN can be used as an accurate, safe, inexpensive, rapid, and practical.method to diagnose dengue fever. These system needs to be developed to detect dengue fever in the large and diverse population as Indonesia. 
Kualitas Kehidupan Seksual Perempuan Pasca Histerektomi Vaginal dan Kolporafi untuk Perbaikan Prolaps Organ Panggul Pangastuti, Nuring
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.296 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v46i4.499

Abstract

Prolaps organ panggul yaitu keadaan turunnya organ panggul melalui vagina, merupakan salah satu disfungsi dasar panggul yang dapat berakibat nyeri senggama. Prosedur kolporafi anterior dan posterior dapat menurunkan gejala disfungsi seksual yang berhubungan dengan prolaps, serta memperbaiki kepuasan seksual, demikian pula prosedur pembedahan histerektomi vaginal. Dispareunia dapat terjadi pasca perbaikan dinding posterior vagina.Pelvic organ prolapse is when pelvic organs descend through the vagina, and can result in dyspareunia or sexual dysfunction. Anterior and posterior colporrhaphy and vaginal hysterectomy are the procedures to correct the condition. Dyspareunia can occur after repair of the posterior wall of the vagina.
Modalitas Terapi Topikal Vitiligo Diana, Rina; Mulianto, Nurrachmat
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 7 (2018): Onkologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.982 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v45i7.641

Abstract

Vitiligo berpotensi menimbulkan dampak psikososial pada pasien sehingga diperlukan terapi yang aman dan efektif. Saat ini belum ada terapi untuk menyembuhkan; tidak ada terapi tunggal yang dapat berhasil baik pada semua pasien. tetapi banyak pilihan untuk mengatasi lesi vitiligo. Modalitas terapi antara lain terapi topikal, terapi oral, terapi sinar, terapi bedah, terapi psikologis dan terapi komplementer. Dengan meningkatnya penelitian dan pengetahuan tentang patomekanisme vitiligo, beberapa agen topikal baru dikembangkan untuk menginduksi pigmentasi.Vitiligo has potential psychosocial impact on patients. There is currently no therapies to treat vitiligo, but many options are available to treat vitiligo lesions. No single therapy can produce good results in all patients; many treatment options are topical treatments, oral treatments, light therapy, surgical therapy, psychological therapy and complementary therapies. Increasing research and knowledge on vitiligo patomechanism including relation with oxidative stress, skin blood flow, or a cytokine-mediated mechanisms neuropeptides lead to newly developed topical agents to induce pigmentation.
Infected Endocarditis in Intravenous Drug Abusers Irawaty, Agnita; Saputra, Ardian J.
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 3 (2017): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.179 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v44i3.834

Abstract

Infective endocarditis (IE) is one of the most severe complications in intravenous drug abusers (IVDA). IE usually involves the tricuspid valve (70%). Commonly, these patients develop endocarditis on the right side heart valves. Staphylococcus aureus is the most common etiologic agent, and has a relatively good prognosis. We describe a case of Tricuspid Valve Endocarditis (TVE) in a 33-year-old male with a history of intravenous drug users.Drug abuse and addiction are major burdens to society. Overdose, cutaneous complications, pulmonary embolism, infective endocarditis (IE), community-acquired pneumonia, pulmonary tuberculosis, septicemia, and transmission of blood-borne infections are well-known complications of IVDA. Tricuspid Valve Endocarditis (TVE) occurs predominantly in IVDA and Staphylococcus aureus is the usualetiology (60%-70%).
Dermatitis Numularis Stella, Cathelin
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i6.658

Abstract

Dermatitis numularis atau eksim numular atau eksim diskoid merupakan peradangan berupa lesi berbentuk mata uang (koin) atau agak lonjong, berbatas tegas, dengan efloresensi atau lesi awal berupa papul disertai vesikel (papulovesikel), biasanya mudah pecah sehingga basah (oozing), biasanya menyerang ekstremitas. Dilaporkan satu kasus dermatititis numularis di pergelangan tangan kanan anak perempuan berusia 8 tahun. Lesi kulit berbentuk koin (numular) di regio antebrachii anterior dekstra berupa vesikel dan papulovesikel dengan likenifikasi berbatas tegas dengan tepi meninggi disertai eritema dan edema.Dermatitis numularis or nummular or discoid eczema is a coin-shaped inflammation or slightly oval, circumscribed lesions, with effloresence; the initial lesion is a papule with vesicles (papulovesicular), usually easily break and oozing, and mainly affects the extremities. A case of dermatitis numularis on the right wrist in a 8 year-old girl was reported. Lesion is located in the right anterior antebrachii in the form of coin-shaped (nummular) vesicles and papulovesicular lesions with lichenification with raised edges demarcation accompanied by erythema and edema.
Tinea Imbrikata Johan, Reyshiani
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (964.695 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v43i10.876

Abstract

Tinea imbrikata adalah dermatofitosis kronis yang disebabkan oleh Trychophyton concentricum dengan gambaran morfologis khas, berupa papulo skuamosa yang tersusun dalam lingkaran-lingkaran konsentris sehingga tampak seperti atap genting. Dilaporkan satu kasus tinea imbrikata pada wanita usia 47 tahun. Pada pemeriksaan fisik, didapatkan lesi kulit dengan distribusi generalisata hampir di seluruh bagian tubuh kecuali wajah, telapak tangan dan kaki berupa skuama halus yang tersusun konsentris. Pemeriksaan mikroskopis dengan pewarnaan KOH 10% didapatkan hifa panjang, spora dan epitel.Tinea imbricata is chronic dermatophytosis caused by Trychophyton concentricum with typical morphological description, a squamous papullae arranged in concentric circles like roof tiles. A case of tinea imbricata in women aged 47 years was reported. Skin lesions with a generalized distribution was observed in almost all parts of the body except the face, palms of the hands and feet in the form of concentrically arranged smooth scaling. Microscopic examination with 10% KOH staining obtained long hyphae, spores and epithelium. 
Antenatal Care for High Risk Pregnancy Sungkar, Ali; Surya, Raymond
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.61 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v47i10.1092

Abstract

Despite 38% gradual fall since 2000, there was still approximately 295,000 women died during and following pregnancy and childbirth in 2017. Factors that lead to high maternal mortality include inequality access to health service, severe bleeding (mostly postpartum hemorrhage), infection, high blood pressure during pregnancy, complication from delivery, and unsafe abortion. These deaths are correlated to delay in decision to seek care, delay in reaching care, delay in receiving adequate health care. Improvement of antenatal care was the solution to this problem. Indonesia has not updated to the newest model of WHO antenatal care in 2016. Defining high-risk and updating the model can help Indonesia provides excellent care for mothers and reduce maternal deaths.Meskipun terdapat penurunan angka kematian ibu (AKI) sebesar 38% sejak tahun 2000, 295.000 wanita meninggal peripartum pada tahun 2017. Faktor yang menyebabkan AKI di antaranya tidak meratanya akses pelayanan kesehatan, perdarahan berat, infeksi, tekanan darah tinggi selama kehamilan, komplikasi persalinan, dan aborsi tidak aman. Kematian ini terkait dengan keterlambatan keputusan untuk merujuk, keterlambatan untuk mencapai tempat rujukan, dan keterlambatan mendapatkan tatalaksana yang baik. Hingga saat ini, Indonesia belum mengikuti panduan kunjungan antenatal terbaru dari WHO tahun 2016. Mendefinisikan kehamilan risiko tinggi dan penyesuaian model kunjungan antenatal diharapkan dapat memberikan perawatan yang baik bagi ibu dan menurunkan kematian maternal. 

Page 1 of 145 | Total Record : 1450


Filter by Year

2014 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 49, No 4 (2022): Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19 Vol 49, No 3 (2022): Saraf Vol 49, No 2 (2022): Infeksi Vol 49, No 1 (2022): Bedah Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik Vol 48, No 8 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19] Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 5 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi Vol 48, No 2 (2021): Farmakologi - Vitamin D Vol 48, No 12 (2021): General Medicine Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam Vol 47, No 9 (2020): Neurologi Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi Vol 47, No 7 (2020): Bedah Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol 47, No 4 (2020): Arthritis Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi Vol 47, No 11 (2020): Infeksi Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol 47, No 1 (2020): Bedah Vol 46, No 9 (2019): Neuropati Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 7 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus Vol 46, No 5 (2019): Pediatri Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 10 (2019): Farmasi Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 45, No 9 (2018): Infeksi Vol 45, No 8 (2018): Alopesia Vol 45, No 7 (2018): Onkologi Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 2 (2018): Urologi Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi Vol 45, No 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 1 (2018): Suplemen Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi Vol 44, No 7 (2017): THT Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi Vol 44, No 3 (2017): Infeksi Vol 44, No 2 (2017): Neurologi Vol 44, No 12 (2017): Neurologi Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler Vol 43, No 8 (2016): Infeksi Vol 43, No 7 (2016): Kulit Vol 43, No 6 (2016): Metabolik Vol 43, No 5 (2016): Infeksi Vol 43, No 4 (2016): Adiksi Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging Vol 43, No 1 (2016): Neurologi Vol 42, No 9 (2015): Pediatri Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell Vol 42, No 6 (2015): Malaria Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi Vol 42, No 4 (2015): Alergi Vol 42, No 3 (2015): Nyeri Vol 42, No 2 (2015): Bedah Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi Vol 42, No 11 (2015): Kanker Vol 42, No 10 (2015): Neurologi Vol 42, No 1 (2015): Neurologi Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi Vol 41, No 6 (2014): Bedah Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi Vol 41, No 2 (2014): Neurologi Vol 41, No 12 (2014): Endokrin Vol 41, No 11 (2014): Infeksi Vol 41, No 10 (2014): Hematologi Vol 41, No 1 (2014): Neurologi More Issue