cover
Contact Name
Taufik Muhammad Fakih
Contact Email
uptpublikasi@unisba.ac.id
Phone
+6285294008040
Journal Mail Official
jrf@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah lantai 4, Rektorat Unisba, Jln Tamansari No.20, 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Riset Farmasi
ISSN : 28083121     EISSN : 27986292     DOI : ttps://doi.org/10.29313/jrf.v1i2
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Riset Farmasi Jurnal Riset Farmasi (JRF) adalah jurnal peer review dan dilakukan dengan double blind review yang mempublikasikan hasil riset dan kajian teoritik terhadap isu empirik dalam sub kajian farmasi. JRF ini dipublikasikan pertamanya 2021 dengan eISSN 2798-6292 yang diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Semua artikel diperiksa plagiasinya dengan perangkat lunak anti plagiarisme. Jurnal ini akan ter-indeks di Google Schoolar, Garuda, Crossref, dan DOAJ. Terbit setiap Juli dan Desember.
Articles 44 Documents
Uji Kualitatif dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanolik Buah Maja (Aegle Marmelos (L.)Correa) dengan Metode DPPH Muhammad Nur Fauzi; Joko Santoso
Jurnal Riset Farmasi Volume 1, No. 1, Juli 2021, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.059 KB) | DOI: 10.29313/jrf.v1i1.25

Abstract

Abstract. Indonesia is a country with the third largest tropical forest in the world. The number of medicinal plants in Indonesia is estimated to be around 1,260 types of plants. Plants produce secondary metabolites that have potential as antioxidants. One of the plants that contains a lot of secondary metabolites is maja (Aegle marmelos (L.) Corr). The purpose of this study was to determine the content of secondary metabolites in maja fruit extracts and to determine the antioxidant activity contained in maja fruit extracts using the DPPH method. The research was conducted by extracting maja fruit samples using maceration method to obtain a thick extract. The extracts obtained were tested for secondary metabolites, TLC test, and antioxidant activity tests using the DPPH method using Uv-vis spectrophotometry. The results of this study indicate that maja fruit extract contains secondary metabolites of flavonoids, tannins, alkaloids, saponins, and glycosides. TLC results obtained Rf 0.512. The result of antioxidant activity of maja fruit extract obtained by IC50 was 269.153 µg / mL. and IC50 vitamin C as a comparison obtained 28,907µg / mL. This shows that the antioxidant activity of maja fruit extract is smaller than the antioxidant activity of vitamin C. Abstrak. Indonesia adalah negara dengan hutan tropis paling besar ketiga di dunia, Jumlah tumbuhan berkhasiat obat di Indonesia diperkirakan sekitar 1.260 jenis tumbuhan. Tumbuhan menghasilkan metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antioksidan. Salah satu tanaman yang banyak mengandung metabolit sekunder adalah tanaman maja (Aegle marmelos (L.) Corr). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder pada ekstrak buah maja dan untuk mengetahui aktivitas antioksidan yang terdapat pada ekstrak buah maja dengan metode DPPH. Penelitian dilakukan dengan mengekstraksi sampel buah maja dengan metode maserasi untuk memperoleh ekstrak kental. Ekstrak yang diperoleh dilakukan uji metabolit sekunder, uji KLT, dan uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH menggunakan spektrofotometri Uv-vis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak buah maja mengandung metabolit sekunder flavonoid, tanin, alkaloid, saponin, dan glikosida. Hasil KLT diperoleh Rf 0,512. Hasil aktivitas antioksidan ektrak buah maja yang diperoleh dengan IC50 adalah 269,153 µg/mL. dan IC50 vitamin c sebagai pembanding diperoleh 28,907µg/mL. hal ini menunjukan bahwa daya aktivitas antioksidan ekstrak buah maja lebih kecil dibanding dengan daya aktivitas antioksidan vitamin C. Kata Kunci: , ,
Uji Aktivitas Antibakteri Propionibacterium acnes Ekstrak Etanol dan Fraksi Daun Karuk (Piper sarmetosum Roxb. Ex. Hunter) serta Analisis KLT Bioautografi Anisa Dwi Nuraeni; Reza Abdul Kodir
Jurnal Riset Farmasi Volume 1, No. 1, Juli 2021, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.947 KB) | DOI: 10.29313/jrf.v1i1.26

Abstract

Abstract. Karuk (Piper sarmetosum Roxb. Ex. Hunter) is a plant that is considered to have antibacterial activity. Acne is a problem in the skin caused by the bacteria Propionibacterium acnes. This research’s aimed to determine the potential antibacterial activity of ethanol extracts and karuk leaf’s fractions, and can find out the class of chemical compounds contained from the ethanol extract and the fraction of karuk leaves which have antibacterial activity. Karuk leaf was extracted by maceration method using 96% ethanol solvent, followed by fractionation using the liquid-liquid extraction method with n-hexane, ethyl acetate, and water solvents. Antibacterial activity test of ethanol extract and fraction with a concentration of 2%, 4%, 6%, and 8% using the well diffusion agar method. To identify the class of compounds that have antibacterial activity, the TLC Bioautography method is used. From the results of research that has been done shows that ethanol extract and n-hexane fraction can inhibit the growth of Propionibacterium acnes with the highest inhibitory diameter of 10.11mm in the extract, and in the n-hexane fraction of 10.93 mm. in the ethyl acetate fraction and the water fraction there is no inhibitory zone formed so that it cannot provide antibacterial activity. The TLC Bioautography results did not show any inhibitory zones and there was no change in color when given a spotting viewer. So that compounds cannot be identified that have antibacterial activity Abstrak. Karuk (Piper sarmetosum Roxb. Ex. Hunter) merupakan tanaman yang diketahui memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Jerawat merupakan permasalahan pada kulit disebabkan adanya bakteri Propionibacterium acnes. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan potensi aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol dan fraksi daun karuk, serta dapat mengetahui golongan senyawa kimia yang terkandung dari hasil ekstrak etanol dan fraksi daun karuk yang memiliki aktivitas antibakteri. Daun karuk diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%, dilanjutkan dengan fraksinasi menggunakan metode ekstraksi cair-cair dengan pelarut n-heksan, etil asetat, dan air. Uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol dan fraksi dengan konsentrasi 2%, 4%, 6%, dan 8% menggunakan metode difusi sumuran agar. Untuk mengetahui golongan senyawa yang memiliki aktivitas sebagai antibakteri digunakan metode KLT Bioautografi. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa ekstrak etanol dan fraksi n-heksan dapat menghambat pertumbuhan Propionibacterium acnes dengan diameter hambat tertinggi 10,11mm pada ekstrak, dan pada fraksi n-heksan 10,93 mm. pada fraksi etil asetat dan fraksi air tidak terbentuk adanya zona hambat sehingga tidak dapat memberikan aktivitas sebagai antibakteri. Hasil KLT Bioautografi tidak menunjukan adanya zona hambat serta tidak terdapat perubahan warna ketika diberikan penampak bercak. Sehingga tidak dapat teridentifikasi senyawa yang memiliki aktivitas antibakteri.
Pengaruh Waktu Aging dan Metode Ekstraksi terhadap Aktivitas Antioksidan Black Garlic yang Dibandingkan dengan Bawang Putih (Allium sativum L.) Salma Fadhilah Azhar; Kiki Mulkiya Yuliawati
Jurnal Riset Farmasi Volume 1, No. 1, Juli 2021, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.369 KB) | DOI: 10.29313/jrf.v1i1.43

Abstract

Abstract. Antioxidant is a compound that could obstruct oxidation reaction through free radical binding. Garlic (Allium sativum L.) is a plant which has many benefits that could be used for traditional medication. Some of pharmacology effects which was discovered are antioxidant, anti-hypertensive, anti-cholesterol, and antimicrobial. Black garlic is the heating aging process which induces many chemical reactions of garlic such as non-enzymatically discoloration to be brown, Maillard reaction which produces antibacterial compound, caramelization, and phenol formation as antioxidant that causes discoloration from cream to dark brown or black. White and Black garlic were extracted through two methods, namely maceration (room temperature) and digestion (± 40°C) by using 96% ethanol solvent. The activity test of extract antioxidant is done using DPPH free radical reduction (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) with absorbance measurement uses UV-Vis spectrophotometry with DPPH maximum wavelength is 515 mm. Garlic maceration has value IC50 in the amount of 28.422 ppm, two weeks maceration of black garlic in the amount of 27.129 ppm and four weeks maceration of black garlic in the amount of 13.041 ppm. While garlic digestion in the amount of 28.524 ppm, two weeks digestion of black garlic in the amount of 28.086 ppm and four weeks digestion of black garlic in the amount of 15.160 ppm. Abstrak. Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat reaksi oksidasi, dengan cara mengikat radikal bebas. Bawang putih (Allium sativum L.) merupakan salah satu tanaman yang mempunyai banyak khasiat yang digunakan untuk pengobatan tradisional. Efek farmakologi yang telah diketahui salah satunya adalah antioksidan, anti-hipertensi, anti-kolesterol, anti-mikroba. Bawang hitam merupakan proses aging dengan pemanasan yang menginduksi banyak reaksi kimia pada bawang putih seperti perubahan warna menjadi coklat secara non-enzimatik, reaksi Maillard yang menghasilkan senyawa antibakteri, karamelisasi, dan pembentukan fenol sebagai antioksidan yang menyebabkan warnanya berubah dari putih kekuningan menjadi coklat tua atau hitam. Bawang putih dan bawang hitam diekstraksi menggunakan dua metode yaitu maserasi (suhu kamar) dan digesti (suhu ±40°C) dengan menggunakan pelarut etanol 96%. Uji aktivitas antioksidan ekstrak dilakukan dengan menggunakan metode peredaman radikal bebas DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) dengan pengukuran absorbansi menggunakan spektrofotometri UV–Vis pada panjang gelombang maksimal DPPH yaitu 515 nm. Pada bawang putih maserasi memiliki nilai IC50 sebesar 28,422 ppm, bawang hitam 2 minggu maserasi 27,129 ppm dan bawang hitam 4 minggu maserasi 13,041 ppm. Sedangkan pada bawang putih digesti 28,524 ppm, bawang hitam 2 minggu digesti 28,086 ppm dan bawang hitam 4 minggu digesti 15,160 ppm.
Karakteristik Edible Film Berbahan Dasar Ekstrak Karagenan dari Alga Merah (Eucheuma Spinosum) Ani Nurmilla; Hilda Aprillia W
Jurnal Riset Farmasi Volume 1, No. 1, Juli 2021, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (676.624 KB) | DOI: 10.29313/jrf.v1i1.44

Abstract

Abstract. Nowadays, edible film is a food coating film that has been developed as a food wrapper. The main components for edible film include carrageenan, starch and pectin. This study aims to isolate carrageenan from red algae and find the best edible film formula from red algal carrageenan. Carrageenan was isolated using NaOH solution of various concentrations of 0.5; 1,0; 1.5 and 2.0 N. Carrageenan which has the best characteristics is then made into an edible film with the addition of glycerol as a plasticizer. Edible film formula is made with four variations of carrageenan concentration, i.e. 1; 1,5; 2 and 2.5%. The results of carrageenan isolation produced the best yield using 2N NaOH, which was 8.4%. The best edible film is edible film made from carrageenan 2.5% because it has the best percent elongation of 77%. Abstrak. Edible film merupakan film penyalut makanan yang banyak dikembangkan akhir-akhir ini sebagai pembungkus makanan. Komponen utama penyusun edible film diantaranya adalah karageenan, pati dan pektin. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi karagenan dari alga merah dan mencari formula edible film dari karagenan alga merah yang paling baik. Karagenan diisolasi dengan menggunakan larutan NaOH berbagai konsentrasi yaitu 0,5; 1,0; 1,5 dan 2,0 N. Karagenan yang memiliki karakteristik paling baik kemudian dibuat menjadi edible film dengan tambahan gliserol sebagai plastisizer. Formula edible film dibuat dengan empat variasi konsentrasi karagenan, yaitu 1; 1,5; 2 dan 2,5%. Hasil isolasi karagenan menghasilkan yield yang paling baik menggunakan NaOH 2N, yaitu sebesar 8,4%. Edible film yang paling baik adalah edible film yang dibuat dari karagenan 2,5% karena memiliki persen pemanjangan yang paling baik yaitu 77%.
Uji Efektivitas Ekstrak Etanol Daun Angsana (Pterocarpus Indicus Willd) sebagai Biolarvasida terhadap Larva Nyamuk Culex Sp. Mohammad Ihsan Abdurrozak; Livia Syafnir
Jurnal Riset Farmasi Volume 1, No. 1, Juli 2021, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.623 KB) | DOI: 10.29313/jrf.v1i1.45

Abstract

Abstract. Mosquitoes are often associated with health problems because mosquito bites not only cause itching but some species can also transmit various types of parasites that are harmful to human health. One of them is Culex sp mosquito which is a class of infectious insects (vectors). This study aimed to test the activity of compounds in angsana leaf extract (Pterocarpus indicus Willd) as biolarvasides on Culex sp. mosquitoes and determine the concentration of LC50 value needed. Extraction was carried out by maceration method using 70% ethanol solvent. The extract collected was then tested biolarvaside activity on Culex sp. The study subjects were divided into 8 treatment groups, namely aquades (negative control), 0.05%, 0.1%, 0.2%, 0.5%, 1%, 2% and ABATE 0.1% (positive control). Each group contained 20 mosquito larvae with three replications (triplo). Observations were made for 24 hours at intervals of 1 hour, 4 hours, 8 hours, 12 hours and 24 hours. The biolarvaside activity of angsana leaf extract was analyzed using the probit method. Based on the results of the Probit analysis, the LC50 value was 0.83%. These results indicate that the angsana leaf extract (Pterocarpus indicus Willd) was effective as a biolarvaside. Abstrak. Nyamuk sering dikaitkan dengan masalah kesehatan karena gigitan nyamuk tidak hanya menimbulkan gatal saja tetapi beberapa spesies nyamuk juga dapat menularkan berbagai jenis parasit yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Salah satunya yaitu nyamuk Culex sp yang merupakan golongan serangga penular (vektor). Penelitian ini bertujuan untuk pengujian aktivitas senyawa dalam ekstrak daun angsana (Pterocarpus indicus Willd) sebagai biolarvasida pada nyamuk Culex sp dan penentuan nilai LC50. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%, Ekstrak yang diperoleh kemudian diuji aktivitas biolarvasida pada nyamuk Culex sp. Subjek penelitian dibagi menjadi 8 kelompok perlakuan, yaitu akuades (kontrol negatif), 0,05%, 0,1%, 0,2%, 0,5%, 1%, 2% dan ABATE 0,1% (kontrol positif).Setiap kelompok berisi 20 ekor larva nyamuk dengan tiga kali pengulangan (triplo) . Pengamatan dilakukan selama 24 jam dengan interval 1jam, 4jam, 8jam, 12jam dan 24jam. Aktivitas biolarvasida ekstrak daun angsana dianalisis dengan menggunakan metode probit. Berdasarkan hasil analisis Probit didapatkan nilai LC50 berada pada konsentrasi 0,83%.Hasil tersebut menunjukkan bahwa Ekstrak daun angsana (Pterocarpus indicus Willd) efektif sebagai biolarvasida.
Formulasi Sediaan Cuka Buah Kopi Menggunakan Ragi (Saccharomyces cerevisiae) dan Bakteri (Acetobacter aceti) Fathan Said R; Gita Cahya Eka Darma
Jurnal Riset Farmasi Volume 1, No. 1, Juli 2021, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.564 KB) | DOI: 10.29313/jrf.v1i1.46

Abstract

Abstract. Indonesia is the third largest coffee producing country in the world, with a variety of compounds that are beneficial to the body. Vinegar fermentation is one way to add value to the benefits of fruits and vegetables because it can form useful new chemical compounds. Vinegar has a variety of benefits that have been studied such as reducing hyperglycemia, hyperinsulinemia, hyperlipidemia and obesity. Previous research in 2013 had made acetic acid from Arabica coffee pulp waste. This study aims to obtain a coffee fruit vinegar formula that conforms to the quality standards of acetic acid SNI 01-4371-1996. The material used is whole coffee with a two-stage fermentation method, namely alcohol fermentation using S. cerevisiae for 4 days and vinegar fermentation using A. aceti for 3 days. The results showed that the formula with 25% coffee fruit and 20% sugar is the best formula compared to other formulas with organoleptic test results in brown, sour and sweet taste and a little distinctive aroma of coffee, 5.03% acetic acid content, 0% alcohol content, pH 3,242. Abstrak. Indonesia merupakan negara ketiga penghasil kopi terbesar di dunia, dengan berbagai kandungan senyawa yang bermanfaat bagi tubuh. Fermentasi cuka merupakan salah satu cara untuk menambah nilai manfaat dari buah dan sayur karena dapat membentuk senyawa kimia baru yang bermanfaat. Cuka memiliki berbagai manfaat yang telah diteliti seperti menurunkan hiperglikemia, hiperinsulinemia, hiperlipidemia dan obesitas. Penelitian sebelumnya pada tahun 2013 telah dilakukan pembuatan asam asetat dari limbah cair kulit kopi arabika. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formula cuka buah kopi yang sesuai standar mutu asam asetat SNI 01-4371-1996. Bahan yang digunakan adalah buah kopi secara utuh dengan metode fermentasi dua tahap yaitu fermentasi alkohol menggunakan S. cerevisiae selama 4 hari dan fermentasi cuka menggunakan A. aceti selama 3 hari. Hasil penelitian menunjukan bahwa formula dengan 25% buah kopi dan 20% gula merupakan formula terbaik dibandingkan dengan formula lain dengan hasil uji organoleptis berwarna coklat, rasa asam dan manis serta sedikit aroma khas kopi, kadar asam asetat 5,053%, kadar alkohol 0%, pH 3,242.
Studi Literatur Aktivitas Antibakteri Penyebab Jerawat dari Minyak Atsiri dan Formulasinya dalam Sediaan Mikroemulsi Nur Karimah; Ratih Aryani
Jurnal Riset Farmasi Volume 1, No. 1, Juli 2021, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.46 KB) | DOI: 10.29313/jrf.v1i1.185

Abstract

Abstract. Acne is a condition where oil glands of the skin become clogged so that acne-causing bacteria can grow in it. The acne-causing bacteria cover Propionibacterium acnes, Staphylococcus aureus, and Staphylococcus epidermidis. Many plants can produce essential oils as an antibacterial agent of acne-causing bacteria. This literature study aims to identify the content of essential oils in several plants as antibacterial agents of acne-causing bacteria and the formulations of microemulsion preparations. This study used a systematic literature review method. The results of the study showed that essential oils from Clove, Oregano, Cassia, and Tea Tree plants had antibacterial activity against the three acne-causing bacteria with an overall minimum inhibitory concentration (MIC) of less than 0.5%. The microemulsion formulation of the essential oil could be made with the composition ratio of Smix (surfactant-cosurfactant) ranging from 1:1, 1:2, and 2:1 with the comparison between oil and Smix of 1:9-1:12. It was made with a stirring speed of 200-250 rpm for 15 minutes. The microemulsion system can increase the antibacterial activity based on the MIC value, zone of inhibition, and the amount of substance that penetrates. Abstrak. Jerawat adalah kondisi kulit dimana terjadi penumpukan minyak pada kelenjar minyak kulit manusia sehingga menyebabkan bakteri penyebab jerawat tumbuh di dalamnya. Bakteri penyebab jerawat diantaranya adalah Propionibacterium acnes, Staphylococcus aureus, dan Staphylococcus epidermidis. Banyak tanaman yang dapat menghasilkan minyak atsiri sebagai agen antibakteri penyebab jerawat. Kajian pustaka ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang kandungan minyak atsiri dalam beberapa tanaman sebagai agen antibakteri penyebab jerawat serta formulasinya sediaan mikroemulsi. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah systematic literature review. Hasil kajian menunjukkan bahwa minyak atsiri dari tanaman Cengkeh, Oregano, Cassia, dan Tea Tree memiliki aktivitas antibakteri terhadap ketiga bakteri penyebab jerawat dengan KHM keseluruhan yang kurang dari 0,5%. Formulasi mikroemulsi minyak atsiri dapat dibuat dengan komposisi perbandingan Smix (surfaktan-kosurfkatan) berkisar 1:1, 1:2, dan 2:1 serta perbandingan antara minyak dengan Smix berkisar antara 1:9-1:12. Mikroemulsi dapat dibuat dengan kecepatan pengadukan 200-250 rpm dan waktu pengadukan 15 menit. Sistem mikroemulsi dapat meningkatkan aktivitas antibakteri berdasarkan nilai KHM, zona hambat, dan jumlah zat yang berpenetrasi.
Studi Literatur Metode Ekstraksi Pektin dari Beberapa Sumber Limbah Kulit Buah Nandianti Nurlita Sari; Anggi Arumsari
Jurnal Riset Farmasi Volume 1, No. 1, Juli 2021, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.101 KB) | DOI: 10.29313/jrf.v1i1.186

Abstract

Abstract. The use of fruit peels is still limited although contains beneficial compounds, one of them is pectin. In the pharmaceutical industry, pectin is used as a medicine for diarrhea, because pectin works as an adsorbent in the intestines, besides that pectin is also used as an emulsifier in liquid preparations. This literature study aims to find out whether fruit peel waste has high potential as a source of natural pectin, as well as to examine what extraction methods can be used to isolate pectin from the same fruit peel source and produce the highest pectin yield, and also meet the quality standards of the international Pectin Producer Association (IPPA). From 14 journals reviewed, it is known that pectin from fruit peel waste can be extracted using conventional methods, Microwave Assisted Extraction (MAE) and Ultrasound Assisted Extraction (UAE). The results of this literature review indicate that fruit peel waste that can be used as source of natural pectin are dragon fruit peel, banana, pineapple and mango. Banana peel produce the highest pectin yield when extracted using conventional and MAE methods. By the conventional method, the banana peel yield 59% pectin, yield with 4.43% methoxyl content and by MAE method the kepok banana peel yield 21.46% pectin, yield with 2.96% methoxyl content. The banana peel methoxyl value obtained meets IPPA quality requirement, in the range of 2.5-7.12% and there is one piece of literature that use the UAE extraction method with a yield of 8,60% obtained from the peel of mango fruit. Abstrak. Pemanfaatan limbah kulit buah masih sangat jarang, padahal dalam kulit buah terdapat beberapa kandungan kimia yang bermanfaat salah satunya yaitu pektin. Dalam industri farmasi pektin digunakan sebagai obat diare, karena pektin bekerja sebagai adsorben dalam usus selain itu pektin juga dimanfaatkan sebagai emulgator pada sediaan cair. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui limbah kulit buah apa yang berpotensi tinggi sebagai sumber pektin alami, serta mengkaji metode ekstraksi apa yang dapat digunakan untuk mengisolasi pektin dari sumber kulit buah yang sama dan menghasilkan rendemen pektin paling tinggi juga memenuhi standar mutu international Pectin Producer Association (IPPA). Dari 14 jurnal yang ditinjau pada penelitian ini diketahui bahwa pektin dari limbah kulit buah dapat diekstraksi dengan menggunakan metode konvensional, Microwave Assisted Extraction (MAE) dan ultrasound Assisted Extraction (UAE). Hasil dari studi literatur ini menunjukkan bahwa limbah kulit buah yang dapat dijadikan sebagai sumber pektin alami yaitu kulit buah naga, pisang, nanas dan mangga. Kulit buah pisang menghasilkan rendemen pektin tertinggi baik ketika diekstraksi menggunakan metode konvensional maupun MAE. Dengan metode konvensional kulit buah pisang raja menghasilkan rendemen pektin sebesar 59% dengan kadar metoksil 4,43% dan dengan metode MAE kulit buah pisang kepok menghasilkan rendemen pektin sebesar 21,46% dengan kadar metoksil 2,96%, Pektin yang dihasilkan dari kulit buah pisang tersebut adalah pektin bermetoksil rendah karena nilai metoksil yang diperoleh berada pada rentang 2,5-7,12% sesuai berdasarkan syarat mutu IPPA. Dan terdapat satu buah data literatur yang menggunakan metode ekstraksi UAE dengan hasil rendemen sebesar 8,60% yang diperoleh dari kulit buah mangga.
Rancangan Pengembangan Sediaan Nanospraygel in situ Mengandung Minyak Kulit Batang Kayu Manis (Cinnamomum burmannii (Nees & T. Nees) Blume) untuk Pengobatan Kandidiasis Oral Bella Khofila Apriliyani; Aulia Fikri Hidayat
Jurnal Riset Farmasi Volume 1, No. 1, Juli 2021, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.516 KB) | DOI: 10.29313/jrf.v1i1.187

Abstract

Abstract. Cinnamon bark oil is known to have antifungal activity so it can be used for oral candidiasis treatment. Thick and impenetrable oral mucosa needs to be treated with modification. Development of in situ nanospraygel can increase the effectiveness and reduce the risk of contamination of the preparation. This study tries to investigate the antifungal activity of cinnamon bark oil, determine suitable formula for the cinnamon bark oil nanoemulsion, and determine the type of gelling agent that can be used to develop in situ nanospraygel. The design of in situ nanospraygel formula containing cinnamon bark oil was carried out by Systematic Literature Review. The study was conducted on articles from reputable databases that matched the inclusion and exclusion criteria. The results of study showed that cinnamon bark oil of Cinnamomum burmannii has antifungal activity against Candida albicans with a minimum inhibitory concentration of 0.039%. Cinnamon bark oil 1% can be formulated into a good nanoemulsion preparation, using Tween 80 as a surfactant with a ratio of oil and surfactant 1:3.The combination of carbopol 934P & gellan gum with a concentration of 0.2% each can be used as an in situ gelling agent to produce cinnamon bark oil Nanospraygel in situ. Abstrak. Minyak kulit batang kayu manis memiliki aktivitas anti jamur sehingga dapat digunakan untuk pengobatan kandidiasis oral. Mukosa mulut yang tebal dan sulit ditembus perlu diatasi dengan modifikasi sediaan. Maka dari itu dilakukan pengembangan sediaan nanospraygel in situ untuk meningkatkan efektivitas dan mengurangi resiko kontaminasi sediaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas antijamur minyak kulit batang kayu manis, mengetahui formulasi yang sesuai untuk nanoemulsi minyak kulit batang kayu manis, serta mengetahui jenis gelling agent yang dapat digunakan untuk mengembangkan nanospraygel in situ. Perancangan formula nanospraygel in situ minyak kulit batang kayu manis dilakukan dengan kajian berbasis Systematic Literature Review. Kajian dilakukan terhadap artikel dari databased bereputasi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil kajian menunjukkan minyak kulit batang kayu manis spesies Cinnamomum burmannii memiliki aktivitas anti jamur terhadap Candida albicans dengan konsentrasi hambat minimum yaitu 0,039%. Minyak kulit batang kayu manis 1% dapat diformulasi menjadi sediaan nanoemulsi yang baik, menggunakan Tween 80 sebagai surfaktan dengan perbandingan minyak dan surfaktan 1:3. Untuk menghasilkan sediaan nanospraygel in situ minyak kulit batang kayu manis dapat digunakan kombinasi carbopol 934P & gellan gum dengan konsentrasi masing-masing yaitu 0,2% sebagai gelling agent in situ
Potensi Antidepresan Beberapa Tumbuhan Suku Fabaceae Nur Ariska Melanti; Ratu Choesrnia
Jurnal Riset Farmasi Volume 1, No. 1, Juli 2021, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (685.699 KB) | DOI: 10.29313/jrf.v1i1.195

Abstract

Abstract. One of the therapies used to cope with depression is by using antidepressant. Fabaceae tribe (legum) has been widely used to overcome various diseases and is one of the potential plant tribes which has antidepressant activity. This research aims to determine the antidepressant activity of various plants of Fabaceae tribes along with the contents and to determine the dose that has an antidepressant effect from certain Fabaceae tribe plants. This research is conducted by literature study. The journal search is conducted by using “Antidepressants activity of plant”, “Fabaceae as antidepressants”, “Antidepressant like activity of Fabaceae” and “Pemanfaatan suku Fabaceae” as keywords. The process of data search used as the reference of literature study is conducted through database such as Google Scholar, ScienceDirect, Taylor & Francis, MDPI, BJPS and ResearchGate. The literature criteria used are scientific articles, research journals and books containing compounds, activities and plants used as antidepressant. The stages conducted in this research are literature search and selection, literature review, formation, discussion and conclusion. Based on the library research that have been conducted, it can be concluded that Albizzia julibrissin, Cassia singueana, Ceratonia siliqua L., Erythrina variegata, Trigonella foenum-graecum, Lotus corniculatus L., Ormosia henryi prain and Prosopis cineraria have antidepressant activities. The majority of antidepressant action mechanism of the Fabaceae tribe plants is through the inhibition of Monoamine Oxidase (MAO) enzyme. Abstrak. Salah satu terapi yang digunakan untuk mengatasi depresi adalah dengan penggunaan antidepresan. Suku Fabaceae (legum) telah banyak digunakan untuk mengatasi berbagai macam penyakit dan merupakan salah satu suku tumbuhan potensial yang memiliki aktivitas sebagai antidepresan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antidepresan dari beberapa tumbuhan suku Fabaceae beserta kandungannya dan mengetahui dosis yang berefek antidepresan dari beberapa tumbuhan suku Fabaceae. Penelitian dilakukan dengan studi literatur. Penelusuran jurnal dilakukan menggunakan kata kunci “Antidepressants activity of plant”, “Fabaceae as antidepressants”, “Antidepressant like activity of Fabaceae” dan “Pemanfaatan suku Fabaceae”. Proses pencarian data yang digunakan sebagai acuan studi literatur dilakukan melalui database seperti Google Scholar, ScienceDirect, Taylor & Francis, MDPI, BJPS dan ResearchGate. Kriteria literatur yang digunakan adalah artikel ilmiah, jurnal penelitian dan buku yang berisi tentang kandungan senyawa, aktivitas dan tumbuhan yang berfungsi sebagai antidepresan. Tahapan yang dilakukan pada penelitian ini yaitu pencarian dan pemilihan literatur, review literatur, penyusunan, pembahasan dan kesimpulan. Berdasarkan penelusuran pustaka yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Albizzia julibrissin, Cassia singueana, Ceratonia siliqua L., Erythrina variegata, Trigonella foenum-graecum, Lotus corniculatus L., Ormosia henryi prain dan Prosopis cineraria memiliki aktivitas antidepresan. Mayoritas mekanisme kerja antidepresan dari tumbuhan-tumbuhan suku Fabaceae adalah melalui penghambatan enzim Monoamine Oxidase (MAO).