cover
Contact Name
Mohamad Roky Huzaeni
Contact Email
rockyhuzaen1309@gmail.com
Phone
+6285217243207
Journal Mail Official
jurnalconstitution@uinkhas.ac.id
Editorial Address
Jl. Mataram No. 1 Mangli, Kaliwates, Jember 68136, Jawa Timur, Indonesia.
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
Constitution Journal
ISSN : -     EISSN : 29621720     DOI : https://doi.org/10.35719/constitution.v1i2
Constitution journal publishes articles on law studies from various perspectives, literature studies, and field studies. This journal emphasizes aspects constitutions, issues on constitutional law and state administrative law either in Indonesia or other countries all over the world.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 18 Documents
KEWENANGAN POSITIVE LEGISLATURE MAHKAMAH KONSTITUSI DALAM PENGUJIAN UNDANG-UNDANG TERHADAP UNDANG-UNDANG DASAR 1945: The Authority of the Legislative Body of the Constitutional Court in Judicial Review of the Constitution 1945 M. Noor Harisudin; Fika Alfiella
Constitution Journal Vol. 1 No. 1 (2022): Constitution Journal June 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.407 KB) | DOI: 10.35719/constitution.v1i1.4

Abstract

This study aims to analyze the authority of the Constitutional Court in setting new norms in cases of judicial review of the Constitution. Basically the Constitutional Court is a branch of judicial power, but the fact is that the Constitutional Court has several times made decisions containing new norms in judicial review of the Constitution. This research uses normative juridical research and library research (library) which focuses on library activities to obtain data without conducting research in the field. The results of this study are: 1) The authority of the Constitutional Court has been regulated explicitly in Article 24 C of the 1945 Constitution, as such, the decision of the Constitutional Court which is constitutionally positive in Indonesia is not contradictory/constitutional. 2) The decision of the Constitutional Court is final and binding since it is officially pronounced or read out in an open plenary session which is open to the public. The final decision of the Constitutional Court in addition to having binding power, also has evidentiary power and executorial power, the Constitutional Court's decision is the final word for the enforcement of a legal norm/stipulation whose position is equal to the law itself. 3) Since its establishment until now, the Constitutional Court has received requests for Judicial Review (PUU) as many as 1041 (one thousand and forty-one) cases. Among them there are several decisions that establish new norms which are then followed up by the government, one of which is Constitutional Court Decision Number 128 /PUU-XIII/2015. Then PERMENDAGRI Number 67 of 2017 was born Studi ini bertujuan untuk menganalisis kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam menetapkan norma baru pada perkara pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar. Pada dasarnya Mahkamah Konstitusi merupakan cabang kekuasaan yudikatif namun faktanya Mahkamah Konstitusi sudah beberapa kali menetapkan putusan yang berisi norma baru dalam pengujian undang-undang terhadap Undang- Undang Dasar. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian yuridis normatif dan library research (kepustakaan) yang memusatkan kegiatan pada perpustakaan untuk memperoleh data tanpa melakukan riset di lapangan. Hasil dari penelitian ini adalah : 1) Kewenangam Mahkamah Konstitusi  telah diatur secara eksplisit dalam Pasal 24 C Undang-Undang Dasar 1945, sebagaimana hal terssebut maka putusan Mahkamah Konstitusi  yang bersifat positive legislature secara konstitusional di Indonesia tidak bertentangan/Konstitusional. 2) Putusan Mahkamah Konstitusi bersifat final dan mengikat (final and binding) sejak resmi diucapkan atau dibacakan dalam sidang pleno terbuka yang terbuka untuk umum. Putusan  final  Mahkamah Konstitusi selain  memiliki  kekuatan  mengikat,  juga  memiliki kekuatan pembuktian dan kekuatan eksekutorial, maka putusan  Mahkamah Konstitusi menjadi kata akhir dari pemberlakuan sebuah  norma/ketentuan undang-undang  yang kedudukannya  setara  dengan  Undang-Undang  itu  sendiri. 3) Sejak berdiri hingga  sekarang, Mahkamah Konstitusi  telah menerima permohonan Pengujian Undang-Undang (PUU) sebanyak 1041 (seribu empat puluh satu) perkara Diantaranya terdapat beberapa putus an yang menetapkan norma baru yang kemudian ditindak lanjuti oleh pemerintah salah satunya, Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 128/PUU-XIII/2015. maka lahir PERMENDAGRI Nomor 67 tahun 2017.
RELASI AGAMA DAN NEGARA (STUDI KOMPARASI PEMIKIRAN NURCHOLIS MADJID DAN ABDURRAHMAN WAHID): Religion and State Relations (Comparative Study of the Thoughts of Nurcholis Madjid and Abdurrahman Wahid) Rafid Abbas; Muhammad Danial
Constitution Journal Vol. 1 No. 1 (2022): Constitution Journal June 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.742 KB) | DOI: 10.35719/constitution.v1i1.5

Abstract

Religion and the State are two important things that cannot be separated from human life. This study raises the thoughts of Nurcholis Madjid and Abdurrahman Wahid regarding the relationship between religion and the state, namely a state based on the values of Pancasila. Pancasila has been widely discussed by Muslims from both secular and nationalist schools. Although Islam is not shown in Pancasila, Islamic values still exist and are positioned as neutral as possible, while according to Abdurrahman Wahid, religion plays a role as a source of the nation's and state's view of life. The purpose of the research is to find out and compare (comparison) the thoughts of Nurcholis Madjid and Abdurrahman Wahid regarding the relationship between religion and the state. The type of research is library research which focuses and limits activities in the library to obtain data. The results of the study state that the thoughts of Nurcholis Madjid and Abdurrahman Wahid regarding the relationship between religion and the state are the most suitable for Indonesia, namely the Pancasila state, which is a country based on the values of Pancasila. Then the comparison (comparison) of the thoughts of Nurcholis Madjid and Abdurrahman Wahid regarding the relationship between religion and the state is that religion and the state must complement and strengthen each other, so the middle way that is suitable for this is Pancasila.     Agama dan Negara merupakan dua hal penting yang mustahil dipisahkan dari kehidupan manusia. Penelitian ini mengangkat Pemikiran Nurcholis Madjid Dan Abdurrahman Wahid Mengenai Relasi Agama Dan Negara, yakni Negara yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila. Pancasila sudah banyak dibahas oleh kaum muslim baik dari aliran sekuler maupun nasionalis. Meskipun Islam tidak ditampakkan dalam Pancasila, namun nilai Islam masih ada dan diposisikan senetral mungkin, sedangkan menurut Abdurrahman Wahid, agama berperan menjadi sumber pandangan hidup bangsa dan Negara. Tujuan penelitian untuk Mengetahui dan membandingkan (Komparasi) Pemikiran Nurcholis Madjid Dan Abdurrahman Wahid Mengenai Relasi Agama Dan Negara Jenis  penelitian  adalah  kepustakaan  (library  research) yang memusatkan dan membatasi kegiatan pada perpustakaan untuk memperoleh dataHasil penelitian menyatakan bahwa Pemikiran Nurcholis Madjid Dan Abdurrahman Wahid Mengenai Relasi Agama Dan Negara yang paling cocok untuk Indonesia adalah negara Pancasila yakni negara yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila. kemudian perbandingan (Komparasi) Pemikiran Nurcholis Madjid  Dan  Abdurrahman Wahid Mengenai Relasi Agama Dan Negara adalah antara agama dan negara harus saling mengisi  dan menguatkan satu sama lainnya, maka jalan tengah yang cocok untuk hal demikian adalah Pancasila.
UPAYA PANITIA DALAM MENGATASI KECURANGAN PEMILIHAN KEPALA DESA DI DESA SAMBIMULYO KECAMATAN BANGOREJO KABUPATEN BANYUWANGI: The Committee's Efforts in Overcoming Fraudulent Village Head Elections in Sambimulyo Village, Bangorejo District, Banyuwangi Regency Sri Lumatus Saadah; Hanif Masruri
Constitution Journal Vol. 1 No. 1 (2022): Constitution Journal June 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.826 KB) | DOI: 10.35719/constitution.v1i1.6

Abstract

The election of the Sambimulyo Village Head (Pilkades) which is free from fraudulent practices is indeed a hope for all Sambimulyo residents. The Sambimulyo Village Consultative Body (BPD), which is part of the Sambimulyo Village Government, is fully responsible for organizing the Sambimulyo Pilkades. BPD Sambimulyo then formed the Sambimulyo Village Head Election Committee by upholding neutrality. The Sambimulyo Village Head Election Committee has made the Sambimulyo Village Head Election Stages and the 2019 Sambimulyo Village Head Election Committee Decision Number: 188/30/PAN.SAMBIMULYO/IX/2019 concerning the 2019 Sambimulyo Village Head Election Rules to oversee the implementation of the Sambimulyo Village Election which is clean from practice - fraudulent practices. The focus of this research is how the efforts, the implementation system of the Sambimulyo Village Election Committee in preparing the village head election and supervision of the Sambimulyo BPD after the village head election is carried out. This study uses descriptive qualitative research methods. The results of this study state that 1) The preparations made by the village head election committee are in accordance with Government Regulation No. 47 of 2015 and the village village election committee has made efforts in the form of removing the image that has been installed by the village head candidate on the side of the road. However, the community cannot report to the Pilkades committee but a successful team of candidates, 2) The Sambimulyo Village Head Election Implementation System has been established in the form of a Campaigning Opportunity Day System and a Centralized System in voting, 3) the Sambimulyo Village Consultative Body supervises after election of village heads as well as creating security and peace by collaborating with village heads to instill the slogan ojo rupture ojo bubrah mung amargo chosen by the lurah to the people of Sambimulyo Village                                                                           Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Sambimulyo yang bebas dari praktik kecurangan memang menjadi harapan bagi seluruh warga Sambimulyo. Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Sambimulyo yang merupakan bagian dari Pemerintahan Desa Sambimulyo, bertanggungjawab secara penuh terhadap penyelenggaraan Pilkades Sambimulyo. BPD Sambimulyo kemudian membentuk Panitia Pemilihan Kepala Desa Sambimulyo dengan menjunjung tinggi netralitas. Panitia Pilkades Sambimulyo telah membuat Tahapan Pemilihan Kepala Desa Sambimulyo dan Keputusan Panitia Pemilihan Kepala Desa Sambimulyo Tahun 2019 Nomor: 188/30/PAN.SAMBIMULYO/IX/2019 Tentang Tata Tertib Pemilihan Kepala Desa Sambimulyo Tahun 2019 untuk mengawal pelaksanaan Pilkades Sambimulyo yang bersih dari praktek-praktek kecurangan. Fokus penelitian ini adalah bagaimana upaya, sistem pelaksanaan Panitia Pemilihan Desa Sambimulyo dalam mempersiapkan pemilihan kepala desa dan pengawasan BPD Sambimulyo setelah pemilihan kepala desa dilaksanakan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa 1) Persiapan yang dilakukan oleh panitia pilkades sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2015 dan panitia pilkades telah melakukan upaya berupa melepas gambar yang telah dipasang oleh calon kades di pinggir jalan. Akan tetapi, masyarakat tidak dapat melakukan pelaporan kepada panitia pilkades melainkan tim sukses dari para calon, 2) Sistem Pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa Sambimulyo telah ditetapkan dalam bentuk Sistem Hari Kesempatan Berkampanye dan Sistem Sentralisasi dalam pemungutan suara, 3) Badan Permusyawaratan Desa Sambimulyo melakukan pengawasan setelah pemilihan kepala desa serta menciptakan keamanan dan ketentraman dengan bekerjasama dengan para cakades untuk menanamkan slogan ojo pecah ojo bubrah mung amargo pilihan lurah kepada masyarakat Desa Sambimulyo
TINJAUAN FIQH SIYASAH DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2014 (STUDI KASUS KANTOR CAMAT CANDI, SIDOARJO): Review of Siyasah Fiqh and Law Number 23 of 2014 (Case Study of Candi Subdistrict Office, Sidoarjo) Larasati Fitriani Asis
Constitution Journal Vol. 1 No. 1 (2022): Constitution Journal June 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.96 KB) | DOI: 10.35719/constitution.v1i1.7

Abstract

This study aims to determine the implementation of the duties and authorities of the Candi Camat in coordinating village government as well as a review of Fiqh Siyasah and Law Number 23 of 2014 concerning Regional Government on the implementation of the duties and authorities of the Candi Camat in coordinating village government in Candi District, Sidoarjo Regency. The type of research is field research (field research) and using a qualitative approach. Then, the data collection methods used in this study were observation, interviews, and documentation and the validity of the triangulation data sources. From the results of research using indicators 1) Coordinate community empowerment, 2) Coordinate efforts to organize public peace and order; 3) Coordinate the implementation and enforcement of Regional Regulations and Regional Regulations; 4) Coordinate the maintenance of public service infrastructure and facilities; 5) Coordinate the implementation of government activities carried out by regional officials in the sub-district; and 6) Fostering and supervising the implementation of village and/or kelurahan activities, showing that the Candi Camat implements his duties and authorities in accordance with Law Number 23 of 2014 concerning Regional Government and also applies the leadership of Fiqh Siyasah, which is more precisely leadership that must be imitated from the Prophet Muhammad SAW namely siddiq, amanah, fathanah, and tabligh. The Candi Camat is quite good at coordinating his duties and authorities, but the Candi Camat needs to improve his relationship with the community in terms of village development, as well as provide maximum guidance to all levels of society in terms of community empowerment in Candi Subdistrict.     Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi tugas dan wewenang Camat Candi dalam mengkoordinasikan pemerintahan desa serta tinjauan Fiqh Siyasah dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah terhadap implementasi tugas dan wewenang Camat Candi dalam mengkoordinasikan pemerintahan desa di Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo. Jenis penelitian yaitu penelitian lapangan (field research) dan menggunakan pendekatan kualitatif. Kemudian, metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu, observasi, wawancara, dan dokumentasi dan keabsahan data triangulasi sumber. Dari hasil penelitian yang menggunakan indikator 1) Mengkoordinasikan pemberdayaan masyarakat, 2) Mengoordinasikan upaya penyelenggaraan ketenteraman dan ketertiban umum; 3) Mengoordinasikan penerapan dan penegakan Perda dan Perkada; 4) Mengoordinasikan pemeliharaan prasarana dan sarana pelayanan umum; 5) Mengoordinasikan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan yang dilakukan oleh perangkat daerah di kecamatan; dan 6) Membina dan mengawasi penyelenggaraan kegiatan desa dan/atau kelurahan,  menunjukkan bahwa Camat Candi dalam mengimplementasikan tugas dan wewenang sesuai dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah dan juga menerapkan kepemimpinan Fiqh Siyasah yang lebih tepatnya kepemimpinan yang harus diteladani dari Nabi Muhammad SAW yaitu siddiq, amanah, fathanah, dan tabligh. Camat Candi sudah cukup baik dalam mengkoordinasikan tugas dan wewenangnya, namun Camat Candi perlu meningkatkan hubungannya dengan masyarakat dalam hal pembangunan desa, serta memberikan pembinaan yang maksimal kepada seluruh lapisan masyarakat dalam hal pemberdayaan masyarakat di Kecamatan Candi.
KEDUDUKAN LEMBAGA KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI (KPK) DALAM SISTEM KETATANEGARAAN INDONESIA (TELAAH YURIDIS NORMATIF PUTUSAN MK): The Position of the Corruption Eradication Commission (KPK) in the Indonesian Constitutional System (Normative Juridical Review of the Constitutional Court's Decision) Izzah Qotrun Nada
Constitution Journal Vol. 1 No. 1 (2022): Constitution Journal June 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.389 KB) | DOI: 10.35719/constitution.v1i1.9

Abstract

The Corruption Eradication Commission (KPK) is an institution established to increase the efficiency and effectiveness of eradicating corruption that has been rampant throughout society. In Law no. 30 of 2002 explains that the KPK is an independent institution and is free from the influence of any power. However, The Corruption Eradication Commission (KPK) is considered by some to be an extra-constitutional institution. The Constitutional Court Decision No. 36/PUU-XV/2017 states that the Corruption Eradication Commission (KPK) is a state institution within the realm of the executive. This decision contradicts the three previous decisions which stated otherwise that the Corruption Eradication Commission (KPK) is an independent state institution through its decision No. 012-016-019/PUU-IV/2006, No. 5/PUU-IX/2011, No. 49/PUU-XI/2013. The KPK has advantages in terms of its duties and authorities which have been regulated in Law no. 30 of 2002 which is now Law Number 19 of 2019 concerning the Corruption Eradication Commission. However, seeing the reality that the public strongly believes in the existence of the KPK, it is unfortunate that the legal politics of eradicating corruption through the establishment of the KPK appears to have no clear legal politics from the government, so that the establishment of the KPK does not set the boundaries of its establishment so that the position of the KPK is currently a polemic. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merupakan lembaga yang dibentuk untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna terhadap pemberantasan tindak pidana korupsi yang sudah merajalela keseluruh lapisan masyarakat. Dalam UU No. 30 Tahun 2002 menjelaskan bahwa KPK merupakan lembaga independen dan bebas dari pengaruh kekuasaan manapun. Akan tetapi, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dianggap oleh sebagian pihak sebagai lembaga ekstrakonstitusional. Putusan Mahkamah Konstitusi No. 36/PUU-XV/2017 menyatakan bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merupakan lembaga negara yang berada dalam ranah eksekutif. Putusan tersebut bertentangan dengan tiga putusan sebelumnya yang menyatakan sebaliknya bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merupakan lembaga negara independen melalui putusannya No. 012-016- 019/PUU-IV/2006, No. 5/PUU-IX/2011, No. 49/PUU-XI/2013. KPK memiliki kelebihan dalam hal tugas dan wewenangnya yang sudah diatur dalam Undang-undang No. 30 tahun 2002 yang kini menjadi Undang-undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi. Namun melihat realitasnya publik sangat mempercayai adanya KPK, patut disayangkan politik hukum pemberantas korupsi melalui pembentukan KPK tampak tidak ada politik hukum yang jelas dari pemerintah, sehingga pendirian KPK tidak menetapkan batas-batas pendirian sehingga kedudukan KPK menjadi polemik saat ini.
PELAKSANAAN KERJASAMA EKSTRADISI POLITIK LUAR NEGERI INDONESIA DALAM MENINGKATKAN SISTEM KEKEBALAN HUKUM DI KAWASAN ASEAN: Implementation of Cooperation in Extradition of Indonesian Foreign Policy in Improving the Immune System in the Asean Region Salma Amriya Mathovani
Constitution Journal Vol. 1 No. 1 (2022): Constitution Journal June 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.011 KB) | DOI: 10.35719/constitution.v1i1.10

Abstract

The pattern of relations between nations and the increasingly complex existence of foreign policy have contributed to the development of transnational crime. These developments require countries around the world to have universally recognized legal instruments based on international practice within the framework of applying national law and enhancing international security to combat and eliminate transnational crimes. The focus of the problem studied is the reason why the Indonesian state requires the establishment of an ASEAN extradition treaty, the efforts that have been made by Indonesia relating to the mechanism for carrying out extradition for criminals and the prospect of the formation of an ASEAN extradition treaty and its implications for the interests of the Indonesian state. This study uses library research methods, namely by reading, listening, understanding, and reviewing the application of laws, scientific works, books, and literature related to the problems studied. Pola hubungan antar bangsa dan keberadaan politik luar negeri yang semakin kompleks, turut mendorong berkembangnya kejahatan transnasional. Perkembangan tersebut menuntut negara-negara di seluruh dunia untuk memiliki instrumen hukum yang diakui secara universal berdasarkan praktik internasional dalam kerangka penerapan hukum nasional dan peningkatan keamanan internasional untuk memerangi dan menghapus kejahatan transnasional. Fokus masalah yang diteliti adalah alasan negara indonesia membutuhkan pembentukan perjanjian ekstradisi ASEAN, upaya yang telah dilakukan indonesia berkaitan dengan mekanisme pelaksanaan ekstradisi terhadap pelaku kejahatan dan prospek terbentuknya perjanjian ekstradisi ASEAN dan implikasinya terhadap kepentingan negera indonesia.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan atau library research, yaitu dengan membaca, mendengar, memahami, dan mengkaji penerapan undang-undang, karya ilmiah, buku-buku, dan literatur yang berkaitan dengan permasalahan yang dikaji.
PENEGAKAN HUKUM PENGEBORAN MINYAK ILEGAL PADA PERTAMBANGAN RAKYAT: Law Enforcement Of Illegal Oil Drilling In Public Mining Nuril Firdausiah
Constitution Journal Vol. 1 No. 2 (2022): Constitution Journal December 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.419 KB) | DOI: 10.35719/constitution.v1i2.18

Abstract

Natural resources, in the form o;f minerals and coal contained in the earth of indonesia are one of the capital controlled by the state to achieve public welfare. One of the controls has been regulated in law number 3 of 2020 concerning amendments to law number 4 of 2009 concerning mineral and col mining. Traditional oil mining activities are part of the utilization of natural resources which are expected to provide welfare for the village community. Illegal oil drilling activities carried out traditionally seem to be an endless story, which occurs due to lack of attention to being able to manage old wells. Actually, the management of old wells has been regulated through ministerial regulation and mineral resources number i of 2008 concerning guidelines for controlling petroleum mining in old wells. But what is happening now is that there are many levels of illegal oil drilling carried out traditionally, such as using used pipes, which are then pumped or drilled to extract crude oil, which is plugged into the ground and then pulled out using a diesel engine driven by a foot clutch and then collected. 500 liter tanks. Judging from the drilling process, there are many impacts that will arise due to illegal drilling of crude oil, including fires and exploding wells that cannot be managed properly by the perpetrators, therefore there must be regulations issued by the goverment. Keywords: Illegal Oil, Drilling, Mining, Regulation. Sumber daya alam, berupa mineral dan batubara yang terkandung didalam bumi indonesia merupakan salah satu modal yang dikuasai negara untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Salah satu penguasaannya yang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Aktifitas penambangan minyak tradisional adalah bagian dari pemanfaatan sumber daya alam yang diharapkan mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat desa. Kegiatan pengeboran minyak ilegal yang dilakukan secara tradisional seakan menjadi cerita yang tak berkesuduhan, yang mana terjadi karena kurangnya pengawasan oleh pemerintah dan kurangnya perhatian untuk dapat mengelola sumur tua. Sebenarnya pengelolaan sumur tua sudah diatur melalui Peraturan Menteri dan Sumber Daya Mineral Nomor 1 Tahun 2008 Tentang Pedoman Penguasaan Pertambangan Minyak Bumi pada Sumur Tua. Namun yang terjadi saat ini adalah banyaknya tingkat pengeboran minyak ilegal yang dilakukan secara tradisional seperti menggunakan pipa-pipa bekas, yang kemudian pengambilan minyak mentahnya dipompa atau semacam di bor, yang ditancapkan kebawah tanah kemudian ditarik dengan mengguunakan mesin diesel yang digerakkan dengan kopling kaki lalu dikumpulkan ditangki-tangki berukuran 500 liter. Dilihat dari proses pengeborannya, banyak sekali dampak yang akan timbul akibat pengelolaan minyak bumi secara ilegal drilling di antaranya yang terjadi kebakaran dan meledaknya sumur-sumur yang tidak dapat dikelola dengan baik oleh pelaku, oleh karena itu harus ada regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Kata Kunci : Minyak Ilegal, Pengeboran, Pertambangan, Regulasi.
ANALISIS PEMADAMAN PENERANGAN JALAN UMUM SELAMA PEMBERLAKUAN PEMBATASAN KEGIATAN MASYARAKAT DARURAT PERSPEKTIF HUKUM PELAYANAN PUBLIK: Analysis of Public Street Lighting Blackouts During the Enforcement of Restrictions on Emergency Community Activities Legal Perspective of Public Service Ina Ismayawati; Sholikul Hadi
Constitution Journal Vol. 1 No. 2 (2022): Constitution Journal December 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.304 KB) | DOI: 10.35719/constitution.v1i2.22

Abstract

The implementation of Emergency Community Activity Restrictions or Emergency PPKM is one form of policy issued by the Indonesian government during the COVID-19 pandemic. This step was taken as an effort to stop the spread of COVID-19. However, in reality, this policy reaps pros and cons in society because it is considered to have injured several aspects of public service law. The objectives to be achieved with this research are: 1) Knowing the policy of turning off Public Street Lighting (PJU) during Emergency PPKM violates the law of public service or not. 2) Knowing the application of the principles of public service in the policy of blackout of Public Street Lighting (PJU) during the PPKM Emergency. This research is a type of normative legal research. The approach used in this research consists of two kinds, namely the statutory approach and the conceptual approach. The research was conducted by identifying and reviewing selected legal issues using primary, secondary, and tertiary legal materials. After conducting an in-depth study, conclusions will be drawn in the form of legal arguments that will answer legal issues and are stated in the conclusions. This study reached the following conclusions: 1) The policy of blackout of Public Street Lighting during Emergency PPKM is still not following the ideal public service law. 2) The application of the principles of public service has not yet been fully fulfilled. maximum during the implementation of the policy. Keywords : Blackout, Public Street Lighting, Emergency PPKM, Public Service. Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Darurat atau PPKM Darurat ialah salah satu bentuk kebijakan yang dikeluarkan pemerintah Indonesia selama pandemi covid-19. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk memutus penyebaran covid-19. Namun, realitanya kebijakan ini menuai pro dan kontra dalam masyarakat karena dianggap telah mencederai beberapa aspek dalam hukum pelayanan publik. Tujuan yang ingin dicapai dengan adanya penelitian ini ialah: 1) Mengetahui kebijakan pemadaman Penerangan Jalan Umum (PJU) selama PPKM Darurat melanggar hukum pelayanan publik atau tidak. 2) Mengetahui penerapan asas-asas pelayanan publik dalam kebijakan pemadaman Penerangan Jalan Umum (PJU) selama PPKM Darurat. Penelitian ini ialah jenis penelitian hukum normatif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas dua macam yaitu pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konsep. Penelitian dilakukan dengan cara mengidentifikasi dan mengkaji isu hukum yang dipilih dengan menggunakan bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Setelah dilakukan pengkajian yang mendalam maka akan ditarik kesimpulan dalam bentuk argumentasi hukum yang akan menjawab isu hukum dan dituangkan dalam kesimpulan. Penelitian ini mencapai kesimpulan sebagai berikut: 1) Kebijakan pemadaman Penerangan Jalan Umum selama PPKM Darurat masih belum sesuai dengan hukum pelayanan publik yang ideal. 2) Penerapan asas-asas pelayanan publik masih belum dapat dipenuhi secara maksimal selama pelaksanaan kebijakan tersebut Kata Kunci : Pemadaman, Penerangan Jalan Umum, PPKM Darurat, Pelayanan Publik.
POLITIK HUKUM PENYATUAN KELEMBAGAAN LITBANG JIRAP DAN IMPLIKASINYA BAGI KELEMBAGAAN DAN PENATAAN SDM : Legal Politics of Institutional Unification Research and Development Institution and its Implications for Institutional and Human Resources Management Safira Annisa
Constitution Journal Vol. 1 No. 2 (2022): Constitution Journal December 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.066 KB) | DOI: 10.35719/constitution.v1i2.28

Abstract

The establishment of BRIN as a mandate to implement Law Number 11 of 2019 concerning to National System of Science and Technology brings renewal to the institutional form of research and development in Indonesia. This study aims to find out the legal politics of uniting research and development institutions through BRIN and its implications in the context of institutional arrangements and human resources. This research uses a normative juridical method with statutory approaches, conceptual approaces, and case approaches. The results of the research show: first, the legal politics of uniting research and development institutions is based on the mandate of the National Science and Technology National Agency Law which aims to strengthen the carrying capacity of science and technology as an integrated institution carrying out research, development, study and application as well as inventions and innovations; and second, the implications of the results of the unification of research and development institutions through BRIN have an impact on the transfer of duties, functions and authorities of existing research and development institutions in ministries/institutions and independent institutions as well as the transfer of the human resources status of researchers from various ministries and institutions into BRIN employees. Keywords: BRIN, integration, research, innovation, research and development. Pembentukan BRIN sebagai mandat pelaksanaan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Iptek membawa pembaharuan pada bentuk kelembagaan lembaga litbang jirap di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui politik hukum penyatuan kelembagaan litbang jirap melalui BRIN dan implikasinya dalam konteks penataan kelembagaan dan sumber daya manusia. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif melalui studi kepustakaan dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan pendekatan kasus. Hasil penelitian menunjukkan: pertama, politik hukum penyatuan kelembagaan litbang jirap didasarkan pada mandat Undang-Undang Sisnas Iptek BRIN yang bertujuan untuk memperkuat daya dukung iptek sebagai lembaga yang secara terintegrasi menjalankan penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan serta invensi dan inovasi; dan kedua, implikasi hasil penyatuan lembaga litbang jirap melalui BRIN berdampak terhadap pengalihan tugas, fungsi, dan wewenang lembaga litbang jirap existing di kementerian/lembaga dan lembaga independen serta pengalihan status kepegawaian para peneliti menjadi pegawai BRIN. Kata kunci: BRIN, integrasi, riset, inovasi, penelitian dan pengembangan.
TANGGUNG JAWAB PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN JEMBER DALAM MENYELENGGARAKAN PENGELOLAAN SAMPAH BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 18 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH: Responsibilities of the Local Government of Jember Regency in Implementing Waste Management Based on Law Number 18 of 2008 Concerning Waste Management Firman Sulistiyono
Constitution Journal Vol. 1 No. 2 (2022): Constitution Journal December 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.097 KB) | DOI: 10.35719/constitution.v1i2.29

Abstract

One of the environmental problems that until now has not been handled properly, one of which is waste management. Based on Law No. 18 of 2008 Article 9 there is a responsibility for local governments to organize waste management based on norms, standards, procedures and criteria. Regional government responsibilities are also regulated in Government Regulation Number 81 of 2012 concerning Management of Household Waste and Household-like Waste. With the enactment of the regulations above, local governments have the responsibility to organize waste management, so that environmental pollution can be handled properly. Therefore this paper is intended to examine the actions of the Regional Government in carrying out waste management, research is carried out using normative law, namely research on legal norms. Principles, concepts and theories related to waste management according to law number 18 of 2008. The results of the study show that in carrying out waste management actions local governments often carry out planning actions, control arrangements and supervision. On the other hand, the regional government in handling waste management, until now still refers to Regional Regulation No. 4 of 2011 concerning Waste Management Retribution. Even though there are no regulations governing comprehensive waste management, the Regional Government continues to manage its waste Keywords: Responsibility, Authority, Waste Management. Salah satu masalah lingkungan hidup yang sampai saat ini belum dapat ditangani secara baik salah satunya pengelolaan sampah. Berdasarkan Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2008 Pasal 9 terdapat adanya tanggung jawab pemerintah daerah untuk menyeleggarakan pengelolaan sampah berdasarkan norma, standar, prosedur, dan kreteria. Tanggung jawab pemerintah daerah juga diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 Tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Dengan berlakunya peraturan diatas pemerintah daerah memiliki tanggung jawab menyelenggarakan pengelolaan sampah, sehingga pencemaran lingkungan hidup bisa tertangani dengan baik. Oleh karena itu tulisan ini dimaksudkan untuk mengkaji tindakan Pemerintah Daerah dalam menyelenggarakan pengelolan sampah, Penelitian dilakukan menggunakan hukum normative, yaitu penelitian terhadap norma-norma hukum. Asas-asas, konsep dan teori yang berkaitan dengan tanggung jawab pemerintah daerah dalam menyelenggarakan pengelolaan sampah menurut undang-undang nomor 18 Tahun 2008. Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam melakukan tindakan pengelolaan sampah pemerintah daerah kerap melakukan tindakan perencanaan, pengaturan penegndalian dan pengawasan. Disisi lain, pemerintah daerah dalam melakukan penanganan Pengelolaan sampah, sampai saat ini masih mengacu kepada Perda Nomor 4 Tahun 2011 Tentang Retribusi Pengelolaan Sampah. Meski belum ada peraturan yang mengatur pengelolaan sampahnya secara komprehensif Pemerintah Daerah kabupaten jember tetap melakukan pengelolaan sampahnya. Kata Kunci: Tanggung Jawab, Kewenangan, Pengelolaan Sampah.

Page 1 of 2 | Total Record : 18