cover
Contact Name
-
Contact Email
Jlautpulauik@gmail.com
Phone
+6282193576093
Journal Mail Official
Jlautpulauik@gmail.com
Editorial Address
Program Studi Ilmu Kelautan FPIK Universitas Pattimura
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
Jurnal Laut Pulau
Published by Universitas Pattimura
ISSN : 28301676     EISSN : 28301676     DOI : -
JLP Journal focuses on publishing exciting, empirical research, recent science developments, and high-quality science that addresses fundamental questions in fisheries and marine. The scope of this journal includes, but is not limited to, the research results of marine science such as marine biology, marine conservation, aquatic ecology, oceanography, environmental science, marine pollution, etc.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 1 No 2 (2022): Jurnal Laut Pulau" : 7 Documents clear
RESILENSI STOK KARBON MANGROVE DENGAN PENDEKATAN SISTEM SOSIAL EKOLOGI DI PESISIR KABUPATEN MUNA BARAT Rahman Rahman; Eva Susan Ratuluhain; Nur Tasmiah Sirajuddin; Sophia N M Fendjalang; Stefanno M A Rijoly
Jurnal Laut Pulau: Hasil Penelitian Kelautan Vol 1 No 2 (2022): Jurnal Laut Pulau
Publisher : Prodi Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jlpvol1iss2pp1-11

Abstract

Ekosistem mangrove di pesisir Kabupaten Muna Barat mengalami degradasi dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Hal tersebut menyebabkan menurunnya potensi simpanan karbon pada ekosistem mangrove. Secara ekologi mangrove memiliki kemampuan untuk pulih melalui produksi semai dan pertumbuhan diameter. Hal tersebut juga didukung oleh faktor sosial masyarakat sehingga stok karbon mangrove dapat pulih. Kemampuan pemulihan tersebut dikenal dengan istilah resiliensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui resiliensi stok karbon di pesisir Kabupaten Muna Barat dengan pendekatan sosial ekologi. Resiliensi merupakan kemampaun untuk mengembalikan stok karbon mangrove pada waktu tertentu. Penelitian dilakukan melalui observasi dan wawancara kepada para stakeholder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nilai resiliensi stok karbon dengan pendekatan sosial sebesar 0,75, terdapat enam indikator dengan nilai resieliensi terbaik (R = 1) yaitu tingkat pendidikan masyarakat, tidak adanya potensi konflik, kepatuhan terhadap peraturan, adanya mata pencaharian alternatif, tingkat pemanfaatan mangrove, dan ketergantungan terhadap layanan jasa ekosistem. Nilai resiliensi stok karbon dengan pendekatan ekologi sebesar 0,74. Indikator resiliensi ekologi berupa ketebalan mangrove, rasio produksi semai, dan laju pertumbuhan diameter pada masing stasiun memiliki nilai sebesar R = 0,75. Nilai resiliensi stok karbon dengan pendekatan sistem sosial ekologi sebesar 0,74. Nilai resiliensi tersebut, menunjukkan kemampuan ekosistem mangrove untuk merecovery stok karbon pada tegakan melalui produksi semai dan pertumbuhan diameter. Tekanan antropogenik berupa pembangunan berbagai infrastruktur merupakan tekanan berdampak besar namun tidak berkesinambunagn. Tekanan antropogenik berupa penebangan pohon merupakan tekanan kecil berkesinambungan. Kemampuan reproduksi dan laju pertumbuhan diameter mangrove cenderung mampu beradaptasi dengan penebangan pohon sehingga stok karbon dapat recovery dari waktu ke waktu
UKURAN PERTAMA KALI TERTANGKAP (LC50%) DAN HUBUNGAN PANJANG BERAT CAKALANG (Katsuwonus pelamis) DI LAUT BANDA Imanuel V T Soukotta; Louis D Moniharapon; Rahman Rahman; Ronald D Hukubun
Jurnal Laut Pulau: Hasil Penelitian Kelautan Vol 1 No 2 (2022): Jurnal Laut Pulau
Publisher : Prodi Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jlpvol1iss2pp12-18

Abstract

Laut Banda sebagai daerah penangkapan potensial ikan pelagis kecil dan besar berada pada Wilayah Pengelolaan Perikanan RI 714 memiliki potensi perikanan sebesar 788.939 ton/tahun. Penentuan ukuran layak tangkap adalah salah satu solusi menghindari tertangkapnya ikan-ikan ukuran kecil. Harapannya, ikan yang tertangkap sudah pernah (minimum sekali) melakukan pemijahan. Penangkapan terhadap ikan berukuran kecil berdampak pada ketersediaan stok ikan yang siap memijah. Jumlah ikan induk yang siap memijah tidak cukup untuk membuat keseimbangan stok di suatu perairan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2016 sampai Maret 2017 di TPI Seri untuk mengetahui aspek biologi ukuran pertama kali tertangkap dan hubungan panjang berat.sampel diambil secara acak saat nelayan turunkan ikan dari kapal. Hasil Penelitian menunjukan Panjang maksimum ikan Cakalang (Lmax) saat penelitian yaitu 74,5 dan panjang minimumnya 12,5 cm. Hasil perhitungan diperoleh nilai Lc50% sebesar 69,0 cm dan nilai L∞ sebesar 78,4 cm, sehingga ½ L∞ sebesar 39,25 cm. Nilai koefisien b yang diperoleh dari persamaan hubungan panjang berat cakalang adalah 3,001 di wilayah perairan Laut Banda, dengan koefisien determinasi adalah 0,94. Setelah diuji dengan nilai t hitung maka nilai koefisien b=3 atau thitung < ttabel. Ini berarti bahwa pola pertumbuhan cakalang di Laut Banda berpola isometrik. Hal tersebut menunjukan ukuran ikan 69 cm yang tertangkap sebagian besar sudah layak untuk ditangkap
KARAKTERISTIK ANGIN PERMUKAAN DI TELUK AMBON, MALUKU Marlin Chrisye Wattimena; Gerry Giliant Salamena
Jurnal Laut Pulau: Hasil Penelitian Kelautan Vol 1 No 2 (2022): Jurnal Laut Pulau
Publisher : Prodi Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jlpvol1iss2pp19-36

Abstract

Karakteristik angin permukaan di Teluk Ambon antara bulan Agustus dan Oktober dikaji dari dua lokasi pengamatan berbeda yakni Teluk Ambon Luar (TAL) dan ambang teluk yang berdekatan dengan Teluk Ambon Dalam (TAD). Penelitian ini juga (i) menggunakan skala Beaufort dan (ii) mengestimasi kecepatan arus permukaan berdasarkan angin permukaan untuk menganalisis kontribusi angin permukaan pada kondisi oseanografi permukaan di Teluk Ambon. Secara umum, angin permukaan di Teluk Ambon bertiup seragam dalam arah (dari Tenggara) dan kekuatan (4-5 m/det dan 5-6 m/det) di kedua lokasi pengamatan pada bulan Agustus dan September. Disisi lain, pada bulan Oktober, baik arah dan kecepatan di kedua lokasi pengamatan angin di Teluk Ambon ini tidak menunjukan keseragaman yang mana arah angin dominan pada stasiun TAL bertiup dari Selatan dengan kecepatan dominan sebesar 8 m/det sementara arah angin dominan pada stasiun ambang teluk bertiup dari Timur-Tenggara dengan kecepatan dominan sebesar 3 m/det. Angin permukaan antara bulan Agustus dan Oktober di Teluk Ambon tidak mempengaruhi kondisi gelombang dan arus permukaan di teluk tersebut. Hal ini disebabkan tinggi gelombang permukaan (0,3 m – 1 m) akibat angin permukaan yang tidak memenuhi kondisi ekstrim skala Beaufort dan arus permukaan akibat angin permukaan yang sangat kecil dibandingkan arus pasang surut (<0,1 m/det)
KEPADATAN DAN DISTRIBUSI SPASIAL ZOOPLANKTON DI SELAT BALI Jacobus Latumeten; Rizky Hanintyo; Dian Priska
Jurnal Laut Pulau: Hasil Penelitian Kelautan Vol 1 No 2 (2022): Jurnal Laut Pulau
Publisher : Prodi Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jlpvol1iss2pp37-47

Abstract

Selat Bali lebih dikenal karena melimpahnya ikan lemuru (Sardinella lemuru) yang bernilai komersial dan merupakan sumber mata pencarian nelayan dan lapangan kerja. Makanan utama ikan lemuru adalah zooplankton sehingga peranan zooplankton sangat penting dalam menunjang kehidupan ikan lemuru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan zooplankton, dan distribusi spasilnya di Selat Bali, menggunakan scientific hydroacoustic, BioSonic DT-X yang didukung dengan teknologi split-beam. Data dasar akustik diakuisisi pada tujuh transek parallel dan enam leg. Hasil penelitian meninjukan bahwa kepadatan zooplankton yang tinggi di Selat Bali terdapat di perairan bagian selatan dengan variasi tinggi dan kepadatan zooplankton terendah terdapat di bagian barat dengan variasi yang rendah. Secara vertikal distribusi zooplankton di Selat Bali mulai dari lapisan permukaan hingga kedalaman terdalam 40 m di bagian utara dan barat dan kedalaman terdalam 45 m di bagian selatan dan timur. Kepadatan zooplankton yang tinggi umumnya terdapat pada lapisan permukaan dan terus berkurang sejalan dengan bertambah kedalaman, tapi kepadatan yang tertinggi djumpai di bagian selatan dan bagian barat. Secara horizontal, kepadatan zooplankton yang rendah tersebar menempati ruang perairan yang luas bagian di utara sedangkan di kepadatan zooplankton yang lebih tinggi menempati ruang yang sempit, sebaliknya, di bagian selatan kepadatan zooplankton yang tinggi tersebar pada ruang yang lebih luas
SEBARAN NITRAT (NO3) DAN FOSFAT (PO4) DI PERAIRAN NURUWE KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT Valentine Domaris Saleky; Hervie Lewerissa; Salahuddin Bahcmid
Jurnal Laut Pulau: Hasil Penelitian Kelautan Vol 1 No 2 (2022): Jurnal Laut Pulau
Publisher : Prodi Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jlpvol1iss2pp48-54

Abstract

ABSTRAK Pertumbuhan penduduk dan tingginya aktifitas pemanfaatan di daerah perairan Nuruwe berpotensi menimbulkan pencemaran organik di sekitar perairan sehingga menurunkan kualitas perairan yang dapat secara langsung mempengaruhi nutrien perairan. Ketersedian nutrien di perairan berhubungan dengan peningkatan pertumbuhan fitoplankton yang sangat memerlukan unsur hara berupa nitrat dan fosfat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kondisi terkini dari kosentrasi nitrat dan fosfat yang terkandung dalam perairan Nuruwe. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling yang dilakukan untuk menentukan lokasi pengambilan sampel dan didapatkan 6 (enam) stasiun pengamatan. Dengan konsentrasi nitrat yang didapat berkisar dari 0,0 – 0,01 mgL-1 sedangkan kandungan konsentrasi fosfat yang ada berkisar antara 24,622 – 44,605 mgL-1 . Kandungan nutrient berupa nitrat (NO3) dan Fosfat (PO4) di perairan Nuruwe Kabupaten Seram Bagian Barat umumnya bervariasi karena pengaruh daratan berupa limbah domestik maupun sedimentasi lebih dominan dengan hasil konsentrasinya dalam kondisi tidak baik menurut kriteria nilai ambang batas (NAB) baku mutu air laut
KEANEKARAGAMAN GASTROPODA SEBAGAI BIOINDIKATOR PERAIRAN DI PESISIR PANTAI WAIHERU KOTA AMBON JUNITA SUPUSEPA; KRISYE KRISYE; VALENTINE D SALEKY
Jurnal Laut Pulau: Hasil Penelitian Kelautan Vol 1 No 2 (2022): Jurnal Laut Pulau
Publisher : Prodi Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jlpvol1iss2pp55-70

Abstract

Perairan pantai Waiheru meruapan pesisir pantai dengan aktivitas yang cukup tinggi.Adanya pemukiman penduduk yang padat di sekitar pesisir dan juga dekat dengan kebun sayur, mengakibatkan pesisir ini juga mengalami tekanan. Banyaknya pencemar pada air akan menyebabkan menurunnya kadar oksigen terlarut dalam air sehingga akan mengakibatkan penurunan sumberdaya alam perairan tersebut. Salah satu sumberdaya yang tinggal di pesisir pantai adalah gastropoda.Gastropoda umumnya dapat menggambarkan kondisi perairan, sehingga keberadaannya dapat dijadikan indikator penentu kualitas perairan..Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragamn gastropoda dan kondisi perairan pantai Waiheru.Penelitian ini dilakukan pada tahun 2022 padapesisir perairan Waiheru dengan menggunkan metode belt transek. Jarak antara transek 50 m. Metode yang dilakukan meliputi 3 bagian yaitu pengambilan data insitu, analisa laboratorium dan analisa keragaman gastropoda, metode STORET dan metode ABC. Pesisir pantai Waiheru merupakan lokasi pesisir yang memiliki aktivitas yang tinggi, antara lain aktivitas bameti, aktivitas pemukiman dan kebun sayur di sekitar pesisir Hasil analisa ditemukan bahwa pesisir Waiheru terdapat 14 spesies dengan spesies Nerita squamulata memiliki kepadatan tertinggi (1.93 ind/m2). Pesisir Waiheru mempunyai indeks H dalam kategori sedang.Untuk indeks Evenes atau keseragaman terlihat bahwa pesisir Waiheru masuk dalam kategori rendah.Indeks dominansi spesies pesisir Waiheru tidak ada dominasi spesies.Hasil analisa hubungan sifat fisik kima air laut yang dihubungkan dengan metode STORET menunjukan bahwa pesisir Waiheru digolongkan dalam kelas C dan dikategorikan tercemar sedang. Kurva ABC menggambarkan lokasi pesisir Halong termasuk kategori perairan yang tercemar sedang.
VARIABILITAS MUSIMAN SUHU PERMUKAAN LAUT DAN ANGIN DI LAUT ARAFURA YOPI RIUPASSA; JUSUPH J WATTIMURY
Jurnal Laut Pulau: Hasil Penelitian Kelautan Vol 1 No 2 (2022): Jurnal Laut Pulau
Publisher : Prodi Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jlpvol1iss2pp71-84

Abstract

Research on sea surface temperature (SST) and wind in the Arafura Sea is very important to answer various processes and phenomena that occur in the water column, for example upwelling and downwelling phenomena, the influence of monsoon winds, ENSO and LaNina phenomena, mixing of water masses, forecasting fishing areas, determination of marine cultivation areas, and so on. This study aims to examine the spatial distribution and variability of sea surface temperature (SST) and wind and to examine the correlation of SST with wind speed and direction in the Arafura Sea. SST data is obtained from the AQUA MODIS satellite which is downloaded on the website http://oceancolor.gsfc.nasa.gov. Wind data obtained from the site: ftp://ftp.ifremer.fr/ifremer/cersat. The results of the analysis show that the SST in the Arafura Sea varies seasonally with a range of 23–34oC and a variation of 3.01-4.60%. The wind speed ranges from 0.02-10 m/s with a variation of 40.07-47.76%. There is a strong correlation between SST and wind speed and direction based on latitude and longitude. The correlation between wind speed and SST ranges from -0.01 to -0.87, while the correlation between wind direction and SST ranges from 0.52 and -0.71. In certain waters there is a positive linear correlation of SST with wind direction of 0.18-0.78

Page 1 of 1 | Total Record : 7