cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah MTG
ISSN : 19790090     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 107 Documents
KARAKTERISTIK ENDAPAN EMAS EPITERMAL SULFIDASI TINGGI DAN HUBUNGANNYA DENGAN MINERAL LEMPUNG HASIL ANALISA SPEKTRAL, DAERAH CIJULANG, KABUPATEN GARUT PROVINSI JAWA BARAT Sigit Heru Purwanto; Okki Verdiansyah
Jurnal Ilmiah MTG Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : Magister Teknik Geologi Program Pascasarjana UPN ”Veteran” Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Eksplorasi mineral bijih terutama emas saat ini memiliki target eksplorasi pada berbagai tipe endapan.Mineralisasi regional daerah Jawa Barat terdiri dari berbagai tipe endapan seperti endapan emas epitermal sulfidasi rendah (Cikotok, Cikidang, Pongkor), endapan porfiri (Cihurip, Jampang), vein epitermal Au–Zn,Pb,Cu (Arinem), tipe sulfidasi tinggi (Cibeureum, Cijulang).Geologi daerah Cijulang terdiri dari satuan andesit, crystalline tuff, phreatomagmatic breccia, juvenile rich phreatomagmatic breccia, dan microdiorite yang merupakan anggota Formasi Koleberes dan Formasi Jampang berumur Miosen akhir yang tertutup oleh satuan vulkaniklastik muda berumur Pleiosen.Endapan sulfidasi tinggi daerah Cijulang memiliki alterasi advanced argillic, argillic, propilitic, dan silisifikasi (massive quartz – vuggy quartz) dan mineralisasi terbentuk pada 3 fase yaitu pembentukan silika-pirit, enargit-kalkopirit, dan enargit-tenantit-kalkopirit-sfalerit-galena-stibnit.Analisa Terraspectral geology dominan yang dijumpai adalah kaolinit, dikit, pirofilit, sedangkan alunit hanya setempat dijumpai.Pola geokimia endapan emas high sulfidation epithermal daerah Cijulang berasosisasi dengan alterasi silifikasi (massvie quartz), dengan hubungan positif terhadap keberadaan mineral kaolinite-dickite yang berasosiasi oleh kehadiran pyrrophillite sebagai mineral penciri pathway mineralisasi emas. Pada alterasi advanced argillic terlihat terdapat juga anomali kehadiran emas (<0.2 ppm Au), yang berasosiasi dengan kehadiran pyrrophillite-kaolinite-dickite.Model lithocap Cijulang merupakan tipe cebakan sulfidasi tinggi yang berhubungan dengan tipe porfiri, yang berkembang pada tubuh diatrem.
MINERALISASI EMAS DAN MINERAL PENGIKUTNYA DI DAERAH NIRMALA, BOGOR, JAWA-BARAT Heru Sigit Purwanto
Jurnal Ilmiah MTG Vol 3, No 1 (2010)
Publisher : Magister Teknik Geologi Program Pascasarjana UPN ”Veteran” Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian terletak di Dusun Nirmala, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Litologi daerah telitian tersusun atas dua satuan batuan yaitu satuan tuf lapili dan satuan breksi tuf dengan dua bentukan lahan geomorfik yaitu perbukitan vulkanik bergelombang kuat dan perbukitan bergelombang sedang. Alterasi hidrotermal yang terbentuk di daerah telitian dikelompokkan menjadi dua tipe alterasi yaitu alterasi argilik dan alterasi kloritisasi. Mineralisasi yang dijumpai di daerah telitian adalah pirit, kalkopirit, bornit dan galena. Di daerah telitian mineralisasi dikontrol oleh struktur geologi berupa kekar dan sesar mendatar. Mineralisasi secara dominan dan banyak dijumpai pada uarat kuarsa yang mengisi kekar-kekar terutama shear fracture yang secara umum berarah timur laut – barat daya dan barat laut – tenggara, dengan arah tegasan pada kekar-kekar yang diukur di lapangan relatif berarah utara-selatan.
POTENSI NIKEL SULPHIDA DAERAH IUP HARITA DI PULAU OBI KABUPATEN HALMAHERA SELATAN, PROVINSI MALUKU UTARA Boyke Muhammad Khadafi; C. Danisworo; Heru Sigit Purwanto
Jurnal Ilmiah MTG Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : Magister Teknik Geologi Program Pascasarjana UPN ”Veteran” Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Study ini berisi tentang eksplorasi potensi nikel sulfida di IUP PT. Harita Nickel yang berada di pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara. Berdasarkan studi ini ada empat area prospek untuk nikel sulfida dan dua untuk mineralisasi lainnya. Potensi Nikel sulfida berada di daerah Laiwui, Fluk, Babo, Loji dan Kawasi terkait dengan adanya sesar normal dan sesar geser yang memotong daerah batuan ultramafic, sedangkan di Bobo dan Laiwui, intrusi Diorite dan gabro memiliki prospek mineralisasi lain disamping nikel sulfida.
POTENSI BAHAN GALIAN GRANIT DAERAH KABUPATEN TOLITOLI PROVINSI SULAWESI TENGAH Nanda Prasetiyo
Jurnal Ilmiah MTG Vol 3, No 2 (2010)
Publisher : Magister Teknik Geologi Program Pascasarjana UPN ”Veteran” Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wilayah Kabupaten Tolitoli yang terletak di Provinsi Sulawesi Selatan memiliki berapa potensi geologi yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Sebagai contoh di daerah ini memiliki potensi Bahan galian C yang belum diolah sama sekali berupa batugranit. Granit dapat dimanfaatkan sebagai berbagai material dari ubin, meubel hingga ornament pelapis dinding bangunan dengan nilai jual yang cukup tinggi, oleh sebab itu potensi ini sangat menjanjikan untuk dikembangkan.
INDIKASI BELUM SIAPNYA PEMERINTAH KABUPATEN / KOTA DALAM IMPLEMENTASI PERATURAN PENGELOLAAN AIR TANAH (STUDI KASUS DI KABUPATEN GOWA, SULAWESI SELATAN) Puji Pratiknyo
Jurnal Ilmiah MTG Vol 3, No 2 (2010)
Publisher : Magister Teknik Geologi Program Pascasarjana UPN ”Veteran” Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejak diimplementasikannya Undang Undang otonomi daerah Tahun 1999 dalam rangka pelaksanaan azas desentralisai, maka dibentuk dan disusunlah daerah provinsi, daerah kabupaten, dan daerah kota yang berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat.Pengelolaan air tanah harus berlandaskan pada satuan wilayah cekungan air bawah tanah dan pengelolaan air bawah tanah yang berada dalam satu wilayah kabupaten/kota ditetapkan oleh bupati/walikota. Pengelolaan cekungan air bawah tanah yang melintasi wilayah provinsi atau kabupaten/kota ditetapkan oleh masing-masing gubernur atau bupati/walikota berdasarkan kesepakatan bupati/walikota yang bersangkutan dengan dukungan koordinasi dan fasilitasi dari gubernur. Semestinya daerah kabupaten/kota mempersiapkan sumber daya manusia dalam upaya pengelolaan air tanah sesuai dengan bidang keahlian yang ditanganinya. Ketidaksiapan sumber daya manusia dalam pengelolaan air bawah tanah akan berdampak pada penurunan mutu air tanah. Di kabupaten Gowa, belum siapnya sumber daya manusia dalam pengelolaan air bawah tanah diindikasikan dengan tidak adanya tenaga ahli di bidang air tanah dan isi Surat Izin Melakukan Pengeboran Air Tanah yang secara teknis tidak tepat.
KONTRUKSI SUMUR BOR AIRTANAH DALAM PADA SUMUR “X” DESA NYEMOK, KECAMATAN BRINGIN, KABUPATEN SEMARANG, PROVINSI JAWA TENGAH Gilang Cempaka
Jurnal Ilmiah MTG Vol 7, No 1 (2014)
Publisher : Magister Teknik Geologi Program Pascasarjana UPN ”Veteran” Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lokasi penelitian terdapat pada Desa Nyemok, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Secara geografis terletak pada 7° 15’-7°20” Lintang Selatan dan 3°45’-3°50” Bujur Timur di hitung 0° dari Jakarta. Aspek perencanaan debit pemompaan sumur dalam tahapan desain konstruksi terutama ditinjau atas dasar diameter pompa selam (submersible pump) yang lazim tersedia di pasaran, di samping kecepatan maksimum aliran air ke atas yang diijinkan di dalam pipa untuk memperkecil nilai gesek (friction losses). Untuk dapat merencanakan/desain konstruksi sumur yang baik, perlu tersedianya beberapa informasi data pemboran, antara lain :- Jenis litologi yang ditembus dalam lubang bor,- Dan tahapan kontruksi sumur.
KONTROL GEOLOGI DAN ANALISIS KUALITAS BATUBARA DAERAH BEANHAS DAN SEKITARNYA KECAMATAN MUARA WAHAU KABUAPATEN KUTAI TIMUR PROPINSI KALIMANTAN TIMUR INDONESIA Budi Prayitno
Jurnal Ilmiah MTG Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : Magister Teknik Geologi Program Pascasarjana UPN ”Veteran” Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian berada di daerah Beanhas dan sekitarnya kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Geologi daerah penelitian termasuk dalam Formasi Wahau pada Cekungan Kutai bagian utara yang terbentuk pada Kala Oligosen Akhir – Miosen Awal dengan lingkungan pengendapan laut dangkal - darat (S. Supriatna dan H.Z.Abidin,1995). Berdasarkan hasil pengamatan lapangan formasi ini merupakan formasi pembawa batubara pada satuan batupasir Wahau dan satuan batulempung Wahau. Pola struktur yang berkembang adalah struktur lipatan besar dengan arah sumbu lipatan hampir mendekati Utara – Selatan. Struktur lipatan berupa Sinklin A, Antiklin A, dan Sinklin B. Hasil klasifikasi lipatan pada daerah penelitian menunjukan tipe lipatan Upright HorizontalFold (Fluety, 1964). Berdasar data bawah permukaan serta didukung data laboratorium, maka sebaran kualitas relatif merata pada setiap sub-lapisan batubara yang memiliki kecenderungan meningkat kearah bawah yaitu 4810-5519 Cal/g menjadi 5060 – 5699 Cal/g dengan diikuti penurunan kadar abu yaitu 4,17% menjadi 3,02%. Melihat ciri fisik,rank batubara daerah penelitian termasuk kedalam jenis lignit.
TIPE POLA SEBARAN DAN KEMENERUSAN LAPISAN BATUBARA DI LOKASI PENELITIAN, SEKITAR LOKASI, DAN REGIONAL KASUS WILAYAH SAYAP BARAT ANTIKLIN PALARAN YANG MENUNJAM Stev. Nalendra Jati
Jurnal Ilmiah MTG Vol 7, No 1 (2014)
Publisher : Magister Teknik Geologi Program Pascasarjana UPN ”Veteran” Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Secara administrasi lokasi penelitianberadadi lokasi Tepok, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini yaitu: a)mengetahui pengaruh proses geologi terhadap pola sebaran dan kemenerusan lapisan batubara: b)membangun model kendali geologi terhadap pola sebaran dan kemenerusan lapisan batubara di lokasi penelitian, sekitar lokasi penelitian, dan regional.Geometri lapisan batubara khususnya pola sebaran dan kemenerusan lapisan batubara di lokasi penelitian, sekitar lokasi penelitian, dan regional saling berkaitan karena masih menjadi satu kesatuan dalam proses-proses geologi sebagai pengendali utama pola sebaran dan kemenerusan lapisan batubara. Faktor pengendali pola sebaran dan kemenerusan lapisan batubara di lokasi penelitian, sekitar lokasi penelitian, dan regional adalaherosi permukaan, struktur geologi lipatan dengan jenis antiklin menunjam dan homoklin, serta struktur geologi sesar.Kata kunci: geologi, pola sebaran, kemenerusan, lokasi penelitian
IDENTIFIKASI AWAL GUNUNG API PURBA DAERAH GUNUNG BUNGKUS KECAMATAN BADEGAN KABUPATEN PONOROGO JAWA TIMUR Widodo Widodo
Jurnal Ilmiah MTG Vol 4, No 2 (2011)
Publisher : Magister Teknik Geologi Program Pascasarjana UPN ”Veteran” Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daerah G. Bungkus di bagian barat Kabupaten Ponorogo adalah bagian dari Zona Pegunungan Selatan yang tersusun oleh batuan gunung api purba berumur Tersier. Pusat erupsi sampai sekarang belum diketahui. Melalui studi menyeluruh mengenai geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi, petrograpi dan petrologi keberadaan gunung api purba dapat diidentifikasi. Gunung api purba di daerah Sodong terbentuk hasil dari penunjaman Lempeng Hindia-Australia di Kala Akhir Eosin-Awal Miosin yang membentuk gunung api strato dengan komposisi batuan andesitik. Gunung api purba ini merupakan komplek Gunung Api Lawu Tua. Mineral hasil aktifitas vulkanik mungkin dapat dijumpai di daerah ini sebagai batuan yang mengalami ubahan melalui proses kloritisasi dan propilitisasi.
STRUKTUR GEOLOGI MEMPENGARUHI PENINGKATAN KALORI BATUBARA DI DAERAH BINTUNI PROPINSI PAPUA BARAT Heru Sigit Purwanto
Jurnal Ilmiah MTG Vol 4, No 2 (2011)
Publisher : Magister Teknik Geologi Program Pascasarjana UPN ”Veteran” Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Eksplorasi batubara di daerah Tisihu, Bintuni dan sekitarnya adalah untuk menentukan singkapan batuan, singkapan batubara, unsur struktur geologi dan hubungannya peningkatan kalori batubara di daerah telitian. Satuan batuan daerah penyelidikan didominasi Batulempung dan Batupasir dengan Lapisan Batubara di daerah Tisihu memiliki kedudukan lapisan berarah Barat-Timur, Baratlaut-Tenggara, dan kemiringan perlapisan batubara secara umum ke arah Selatan. Lapisan batubara didaerah telitian umumnya warna hitam , hitam cerah, brittle, gores coklat kehitaman,kusam – mengkilap, konkoidal, getas.Struktur yang dijumpai berupa struktur sesar mendatar barat laut-tenggara dan sesar turun berarah utara-selatan. Arah kedudukkan umum kekar : N 330º-345O E / 78º, N 250º-260O E / 86º dengan arah tegasan, σ1 = N 310º E atau N 130º E dan Arah kedudukkan umum kekar : N 005º E / 72º, N 280º E / 80º , Arah tegasan σ1= N 315º E atau N 135º E dibagian timur Kedudukan umum kekar N 300O-310O E / 76º dan N 020O-035O E / 86º , arah tegasan σ1= N 355º E dan N 175º E.Data singkapan batubara di daerah Tisihu dianalisa dan didapatkan 5 seam utama batubara, dengan ketebalan rata-rata seam antara 0,5 – 4 meter dengan nilai kalori batubara berkisar antara 3255 – 5010 kal.

Page 1 of 11 | Total Record : 107