Yurika Permanasari
Program Studi Matematika Fakultas MIPA Universitas Islam Bandung

Published : 19 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Kriptografi Polyalphabetic Yurika Permanasari; Erwin Harahap
Matematika Vol 17, No 1 (2018): Jurnal Matematika
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jmtm.v17i1.4065

Abstract

Abstrak. Kriptografi polyalphabetic merupakan improvisasi dari teknik substitusi monoalphabetic. Polyalphabetic substitution chiper melakukan teknik kriptografi monoalphabetic satu kali proses untuk suatu plainteks pesan. Algoritma polyalphabetic cipher membuat ciperteks lebih kuat untuk dapat dipecahkan karena karakter plainteks yang sama tidak dienkripsi dengan cipherteks yang sama. Kunci enkripsi polyalphabetic cipher dapat berbeda sehingga mempunyai kemungkinan kombinasi yang lebih bervariasi dan lebih sulit dipecahkan. Metode Vigenere cipher menjadi dasar dari polyalphabetic substitution cipher. Teknik enkripsi Vigenere cipher menggunakan tabel yang dikenal dengan tabel Vigenere yang digunakan dan menjadi acuan dibeberapa algoritma pengembangan metode polyalphabetic cipher. Metode polyalphabetic cipher lain adalah playfair cipher, menggunakan tabel kunci berupa matriks 5x5 untuk proses enkripsi sehingga memiliki 25! kemungkinan kunci yang cukup sulit dipecahkan.Kata kunci : polyalphabetic cipher, vigenre cipher, playfair cipherAbstract. (Polyalphabetic Cryptography) Polyalphabetic cryptography is an improvisation of monoalphabetic substitution techniques. Polyalphabetic substitution cipher performs one-time monoalphabetic cryptographic technique for a message text message. The polyalphabetic cipher algorithm makes cipertext stronger to be solved because the same plaintext character is not encrypted with the same ciphertext. The key to polyalphabetic cipher encryption can be different so that it has a more varied and more difficult to solve combination possibilities. The Vigenere cipher method is the basis of polyalphabetic substitution cipher. Vigenere cipher encryption techniques use tables known as Vigenere tables which are used and become references in several algorithms for developing polyalphabetic cipher methods. Another polyalphabetic cipher method is playfair cipher, using a key table in the form of a 5x5 matrix for the encryption process so that it has 25! Possible keys that are quite difficult to solve.Keywords: polyalphabetic cipher, vigenere cipher, playfair cipher
REPRESENTASI JALUR (PATH) PADA TRAVELING SALESMAN PROBLEM UNTUK MENENTUKAN JARAK TERPENDEK MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA Yurika Permanasari; Ravi A. Salim
Matematika Vol 6, No 1 (2007): Jurnal Matematika
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jmtm.v6i1.3377

Abstract

Algoritma Genetika merupakan algoritma pencarian yang berdasarkan kepada mekanisme seleksi alam dan genetika alam. Algoritma ini merupakan salah satu alat bantu untuk memudahkan pekerjaan atau menyelesaikan suatu kasus yang dihadapi dengan tidak melibatkan seluruh populasi. Pada kasus Traveling Salesman Problem, Algoritma Genetika merepresentasikan jalur kota yang dilalui sebagai kromosom yang terdiri dari gen-gen yang merupakan kota-kota yang harus dilalui. Dengan menentukan peluang crossover dan mutasi setiap kromosom mengalami regenerasi dengan harapan sebagian besar kromosom yang baik dapat diperiksa sebagai calon jalur terbaik. Dengan menggunakan Order Crossover(OX) pada Representasi Path, kasus Traveling Salesman Problem menghasilkan nilai pendekatan optimum yang sama baik untuk data 50% maupun 100% dari total populasi. Ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan Algoritma Genetika, sebagian sampel sudah mewakili dari seluruh solusi yang ada.Kata Kunci : Algoritma Genetika; Travelling Salesman Problem; Order Crossover
Kriptografi Advanced Encryption Standard (AES) Untuk Penyandian File Dokumen Aditia Rahmat Tulloh; Yurika Permanasari; Erwin Harahap
Matematika Vol 15, No 1 (2016): Jurnal Matematika
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jmtm.v15i1.4067

Abstract

Abstrak. Advanced Encryption Standard (AES) adalah algoritma kriptografi yang menjadi standar algoritma enkripsi kunci simetris pada saat ini. Dalam algoritma kriptografi AES 128, 1blok plainteks berukuran 128 bit terlebih dahulu dikonversi menjadi matriks heksadesimal berukuran 4x4 yang disebut state. Setiap elemen state berukuran 1 byte. Proses enkripsi pada AES merupakan transformasi terhadap state secara berulang dalam 10 ronde. Setiap ronde AES membutuhkan satu  kunci hasil dari generasi kunci yang  menggunakan 2 transformasi yaitu subtitusi dan transformasi. Pada proses enkripsi AES mengunakan 4 transformasi dasar dengan urutan trasformasi subbytes, shiftrows, mixcolumns, dan addroundkey. Sedangkan pada proses dekripsi mengunakan invers semua transformasi dasar pada algoritma AES kecuali addroundkey dengan urutan transformasi invshiftrows, invsubbytes, addroundkey,dan invmixcolumns. Pada data teks, proses enkripsi diawali dengan mengkonversi teks menjadi kode ASCII dalam bilangan heksadesimal yang dibentuk menjadi matriks byte 4x4. Selanjutnya dilakukan beberapa trnsformasi dasar seperti subbytes, shiftrows, mixcolumns, dan addroundkey. Akan tetapi ketika melakukan trasformasi data yang diproses pada setiap trasformasi berupa data biner dari matriks heksadesimal. Kriptografi AES 128 bit memiliki ruang kunci 2128 yang merupakan nilai yang sangat besar dan dianggap aman untuk digunakan sehingga terhindar dari brute force attack.Kata Kunci: AES, Penyandian file, Algoritma kunci simetris.Abstract. (Cryptography Advanced Encryption Standard (AES) for File Document Encryption). Advanced Encryption Standard (AES) is a cryptographic algorithms as a standard symmetric key encryption algorithm that used in current time. AES 128 has 1 blok plaintext with 128 bit sized, where in the process of cryptographic algorithms, first the plaintext is converted into hexadecimal-sized 4 x 4 matrices called the state, where each element of state has 1 byte size. The process of encryption on AES is the transformation towards the state repeatedly in the 10th round. Each round of AES requires one key result of the key generation using 2 basic transformation, i.e. substitution and transformation. AES encryption using 4 transformation by the following sequence: subbytes, shiftrows, mixcolumns, and addroundkey. On the other hand, the process of decryption is using the inverse of all the basic transformation of AES algorithm, except addroundkey. Therefore, the sequence of transformation on the decription is invshiftrows, invsubbytes, invmixcolumns, and addroundkey. In the data text, the encryption process is initiated with convertion the data text into ASCII code in hexadecimal numbers that are molded into the matrix 4 x 4 bytes. Next, do some basic transformation such as subbytes, shiftrows, mixcolumns, and addroundkey. However, when performing the transformation, the processed data on every trasformation is in the form of binary data obtained from the hexadecimal matrix. AES 128 bit cryptography have room 2128 keys which is a tremendous value and is considered secure to use to avoid the brute force attack.Keywords: AES, file Encryption, symmetric key algorithm.
Representasi Matriks untuk Proses Crossover Pada Algoritma Genetika untuk Optimasi Travelling Salesman Problem Ismi Fadhillah; Yurika Permanasari; Erwin Harahap
Matematika Vol 16, No 1 (2017): Jurnal Matematika
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jmtm.v16i1.4050

Abstract

Abstrak. Travelling Salesman Problem (TSP) merupakan salah satu permasalahan optimasi kombinatorial yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahan TSP yaitu mengenai seseorang yang harus mengunjungi semua kota tepat satu kali dan kembali ke kota awal dengan jarak tempuh minimal. TSP dapat diselesaikan dengan menggunakan metode Algoritma Genetika. Dalam Algoritma Genetika, representasi matriks merupakan representasi kromosom yang menunjukan sebuah perjalanan. Jika dalam perjalanan tersebut melewati n kota maka akan dibentuk matriks n x n. Matriks elemen Mij dengan baris i dan kolom j dimana entry M(i,j) akan bernilai 1 jika dan hanya jika kota i dikunjungi sebelum kota j dalam satu perjalanan tersebut, selain itu M(i,j)=0. Crossover adalah mekanisme yang dimiliki algoritma genetika dengan menggabungkan dua kromosom sehingga menghasilkan anak kromosom yang mewarisi ciri-ciri dasar dari parent. Algoritma Genetika selain melibatkan populasi awal dalam proses optimasi juga membangkitkan populasi baru melalui proses crossover, sehingga dapat memberikan daftar variabel yang optimal bukan hanya solusi tunggal. Dari hasil proses crossover dalam contoh kasus TSP melewati 6 kota, terdapat 2 kromosom anak terbaik dengan nilai finess yang sama yaitu 0.014. Algoritma Genetika dapat berhenti pada generasi II karena berturut-turut mendapat nilai fitness tertinggi yang tidak berubahKata kunci : Travelling Salesman Program (TSP), Algoritma Genetika, Representasi Matriks, Proses Crossover Abstract. Travelling Salesman Problem (TSP) is one of combinatorial optimization problems in everyday life. TSP is about someone who had to visit all the cities exactly once and return to the initial city with minimal distances. TSP can be solved using Genetic Algorithms. In a Genetic Algorithm, a matrix representation represents chromosomes which indicates a journey. If in the course of the past n number of city will set up a matrix n x n. The matrix element Mij with row i and column j where entry M (i, j) will be equal to 1 if and only if the city i before the city j visited in one trip. In addition to the M (i, j) = 0. Crossover is a mechanism that is owned by the Genetic Algorithm to combine the two chromosomes to produce offspring inherited basic characteristics of the parent. Genetic Algorithms in addition to involve the population early in the optimization process will also generate new populations through the crossover process, so as to provide optimal number of variables is not just a single solution. From the results of the crossover process in the case of TSP passing through six cities, there are two the best offspring with the same finess value which is 0.014. Genetic Algorithms can be stopped on the second generation due to successive received the highest fitness value unchanged.Keywords: Travelling Salesman Program (TSP), Genetic Algorithm, Matrix Representation, Crossover Process
Analisis Antrian Lalu Lintas Pada Persimpangan Buah Batu – Soekarno Hatta Bandung Erwin Harahap; Yurika Permanasari; Farid Hirji Badruzzaman; Emas Marlina; Didi Suhaedi; M Yusuf Fajar
Matematika Vol 17, No 2 (2018): Jurnal Matematika
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jmtm.v17i2.4552

Abstract

Abstrak. Antrian panjang kendaraan seringkali ditemukan pada lokasi persimpangan lampu lalu lintas. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya penyebab yang paling utama adalah banyaknya kedatangan kendaraan dan durasi lampu lalu lintas dalam satu siklus. Pada artikel ini diuraikan penelitian mengenai lalu lintas di persimpangan Buah-Batu - Soekarno Hatta. Persimpangan ini merupakan salah satu persimpangan yang paling padat di kota Bandung. Metode pengambilan data dilakukan dengan cara observasi langsung ke jalan raya. Selanjutnya dilakukan analisis terhadap data yang diperoleh dengan menggunakan teori antrian. Pada penelitian ini gunakan model antrian M/M/1 dimana kedatangan kendaraan diasumsikan melalui proses Poisson dengan waktu layanan pada lampu lalu lintas diasumsikan berdistribusi eksponensial.Kata kunci: lalu lintas, persimpangan, pemodelan, lampu merah, model antrian.Abstract. Long queues of vehicles are often found at the location of traffic lights. This can be caused by several factors, including the most important cause is the number of vehicle arrivals and the duration of traffic lights in one cycle. In this article a study of traffic at the intersection of Buah-Batu - Soekarno Hatta is described. This intersection is one of the most congested intersections in the city of Bandung. The method of data retrieval is done by direct observation to the highway. Furthermore, an analysis of the data obtained using queuing theory is carried out. In this study use the M/M/1 queue model where the arrival of vehicles is assumed through a Poisson process with the service time at the traffic lights assumed to be exponentially distributed.Keywords: traffic, intersection, modeling, queueing model.
Kriptografi Klasik Monoalphabetic Yurika Permanasari
Matematika Vol 16, No 1 (2017): Jurnal Matematika
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jmtm.v16i1.2543

Abstract

Abstrak. Kriptografi berdasarkan arah implementasi dan pembabakan jamannya dibedakan menjadi  algoritma kriptografi klasik atau konvensional dan algoritma kriptografi modern. Algoritma kriptografi klasik memberikan konsep dasar pemahaman kriptografi dan dijadikan sebagai dasar algoritma kriptografi modern. Teknik dasar dari algoritma kriptografi klasik adalah cipher substitusi dan chiper transposisi. Kriptografi monoalphabetic adalah algoritma kriptografi dengan teknik substitusi yaitu mengganti setiap karakter dari plainteks dengan satu karakter chiperteks. Cryptoanalysis monoalphabetic chiper dapat menggunakan metode terkaan atau  Statistik (analisis frekuensi). Informasi yang dibutuhkan untuk kedua metode ini adalah mengetahui bahasa yang digunakan untuk plainteks  dan konteks plainteks-nya.Kata kunci: kriptografi klasik, chiper substitusi, monoalphabetic chiper, metode terkaan, analisis frekuensiAbstract. (Classical Monoalphabetic Cryptography). Cryptography based on the direction of implementation and dissipation of its era is divided into classical or conventional cryptographic algorithms and modern cryptographic algorithms. Classical cryptographic algorithms provide a basic concept of understanding cryptography and serve as the basis for modern cryptographic algorithms. The basic technique of classical cryptographic algorithms is substitution cipher and transposition cipher. Monoalphabetic cryptography is a cryptographic algorithm with a substitution technique that replaces each character from plaintext with one chipertext character. Monoalphabetic chiper cryptoanalysis can use guess or statistical methods (frequency analysis). The information needed for both methods is to know the language used for plaintext and the context of its plaintext.Keywords: classical cryptography, substitute cipher, monoalphabetic cipher, guess method, frequency analysis 
Modul Gateway Pada Simulasi Persimpangan Lalu Lintas Erwin Harahap; Farid H Badruzzaman; Yurika Permanasari; Didi Suhaedi
Matematika Vol 17, No 1 (2018): Jurnal Matematika
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jmtm.v17i1.4776

Abstract

Abstrak. Kepadatan lalu lintas seringkali terjadi dipersimpangan jalan raya, khususnya persimpangan dengan lampu lalu lintas. Durasi waktu lampu lalu lintas, yaitu lampu merah dan hijau, apabila dilakukan pengaturan secara tepat sesuai dengan kepadatan lalu lintas dapat mengurangi kepadatan. Beberapa masalah yang terjadi pada persimpangan lalu lintas adalah jalan raya adalah tidak terjadinya keseimbangan panjang antrian pada setiap jalur. Pada artikel ini, kami mengusulkan sebuah modul simulasi yang dapat digunakan untuk mensimulasikan persimpangan dengan lampu lalu lintas menggunakan aplikasi MATLAB SimEvents. Modul yang diusulkan adalah berupa modul gateway dimana entitas tidak mengalir selama durasi waktu tertentu yang diatur melalui coding program. Melalui simulasi ini diharapkan dapat dilakukan pemilihan durasi waktu yang tepat sehingga diperoleh keseimbangan panjang antrian di setiap jalur di persimpangan.Kata kunci: persimpangan, lalu lintas, modul simulasi, simevents, MATLAB Gateway Module on The Simulation of Traffic JunctionAbstract. Traffic density often occurs at the intersection of highways, especially intersections with traffic lights. The duration of the traffic lights, namely red and green lights, if properly adjusted according to traffic density can reduce density. Some of the problems that occur at traffic junctions are highways, where there is no balance in the length of the queue on each lane. In this article, we propose a simulation module that can be used to simulate intersections with traffic lights using the MATLAB SimEvents application. The proposed module is in the form of a gateway module where the entity does not flow for a certain duration of time regulated through the coding program. Through this simulation, it is expected to be able to select the right time duration so that the balance of the length of the queue in each path at the intersection is obtained.Keywords: intersections, traffic, simulation modules, simevents, MATLAB
Kriptografi Polyalphabetic One-Time Pad Yurika Permanasari; Erwin Harahap
Matematika Vol 17, No 2 (2018): Jurnal Matematika
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jmtm.v17i2.4451

Abstract

Abstrak. Makalah ini membahas kajian hasil studi pustaka dari beberapa sumber yang relevan. Tujuannya adalah untuk mengetahui pembelajaran program linier dengan berbantuan QM for Window efektif dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan resiliansi matematik. Uraian yang dikaji didasarkan atas analisis terhadap: 1) definisi dari kemampuan berpikir kritis dan resiliensi matematika berdasarkan para pakar; 2) ciri-ciri kemampuan berpikir kritis dan resiliensi matematik; 3) langkah-langkah dalam menyelesaikan masalah program linier dengan bantuan QM for Windows.Kata kunci: berpikir kritis dan resiliensi matematik, program linier, QM for WindowsCryptography Polyalphabetic One-Time PadAbstract. This paper study literature from the resources  references relevant. The purpose  is  for finding of linier proggraming teaching assisted with QM for Window effectively by developing critical thinking and reciliency mathematical abilities. The analysis investigation  based on : 1) The definition of critical thinking and reciliency mathematical abilities according to the scientists; 2) The characteristics of critical thinking and reciliency mathematical abilities; 3) The stages of problem solving by linier programming assisted with QM for Windows.Keywords: critical thinking, critical thinking abilities, linier programming, QM for Windows
ALGORITMA DATA ENCRYPTION STANDARD (DES) PADA ELECTRONIC CODE BOOK (ECB) Yurika Permanasari; Erwin Harahap
Matematika Vol 6, No 1 (2007): Jurnal Matematika
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jmtm.v6i1.3379

Abstract

Electronic Code Book (ECB) adalah salah satu mode enkripsi yang menggunakan algoritma Data Encryption Standard (DES) dalam enkripsi datanya. Dalam mode Electronic Code Book (ECB), 64 bit (1 blok) plainteks di-enkripsi secara bersamaan dan setiap blok plainteks di-enkripsi menggunakan kunci yang sama. Electronic Code Book (ECB) cukup efektif digunakan pada pesan–pesan singkat. Jika plainteks lebih besar dari 64 bit maka input data dibagi per-64 bit, jika diperlukan dapat ditambah padding atau bit pelengkap tanpa merubah makna pesan pada alur  blok untuk menggenapkan menjadi 64 bit.Kata kunci : enkripsi; dekripsi; plainteks; Ciperteks
Lintas-BD 1.1: Model dan Simulasi Lalu Lintas Kota Bandung Erwin Harahap; Farid H Badruzzaman; Yurika Permanasari; M Yusuf Fajar; Abdul Kudus
ETHOS (Jurnal Penelitian dan Pengabdian) Vol 7 No.2 (Juni, 2019) Ethos: Jurnal Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Sains & Teknologi
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/ethos.v7i2.4541

Abstract

Abstract. Traffic is a vital for land transport that connects various locations and even large cities. As civilization and population grew, traffic became more congested and resulted in congestion, a problem that can not be avoided. One solution that has been carried out by the government to overcome this problem is by applying traffic management and methods. Nevertheless, the right method without careful planning can cause nonoptimal results, besides the amount of expenditure spent in the form of costs, time, thoughts, and energy. In this study, researchers compile a traffic simulator system called "LINTAS" which serves as a tool to solve traffic congestion problems. Various methods and management designs, before they are actually implemented on the highway, can be simulated first through the LINTAS system. The benefit of LINTAS system is to test and simulate traffic conditions based on a particular method or management design. Through this simulation, the most appropriate traffic management method is expected to be found to overcome traffic congestion problem. The LINTAS simulator is compiled using the SimEvents toolbox and runs on the MATLAB-Simulink software. The LINTAS system simulation method is made based on Mathematics, specifically the Queuing Theory. Abstrak. Lalu lintas merupakan media yang sangat vital untuk berbagai sarana transportasi darat yang menghubungkan berbagai lokasi dan bahkan kota-kota besar. Seiring berkembangnya tingkat peradaban dan juga jumlah penduduk, lalu lintas menjadi semakin padat sehingga kemacetan menjadi sebuah permasalahan yang sangat sulit untuk dihindari. Salah satu solusi yang selama ini dilakukan oleh pemerintah untuk mengurai masalah kemacetan adalah dengan menerapkan metode dan rekayasa lalu lintas dilapangan. Namun metode yang tepat tanpa melalui perencanaan yang cermat, dapat berakibat kepada hasil yang tidak optimal, disamping besarnya pengeluaran berupa faktor materi biaya, waktu, pikiran, tenaga, dan sebagainya. Dalam penelitian ini kami menyusun sebuah sistem simulator lalu lintas bernama “LINTAS” yang berfungsi sebagai alat bantu dalam memecahkan permasalahan kemacetan lalu lintas. Berbagai metode dan rancangan rekayasa, sebelum diimplementasikan secara nyata di jalan raya, terlebih dahulu dapat disimulasikan melalui sistem LINTAS. Manfaat dari sistem LINTAS adalah untuk menguji dan mensimulasikan kondisi lalu lintas berdasarkan pada rancangan suatu metode atau rekayasa tertentu. Melalui simulasi ini dapat ditemukan metode manajemen lalu lintas yang paling tepat, sehingga masalah kemacetan lalu-lintas dapat diatasi. Simulator LINTAS disusun dengan menggunakan toolbox SimEvents dan dijalankan pada software MATLAB-Simulink.