Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Iradiasi Bahan Pangan: Antara Peluang dan Tantangan untuk Optimalisasi Aplikasinya Nurul Asiah; Kezia Nadira Kusaumantara; Arianti Nur Annisa
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 15, No 1 (2019): JUNI 2019
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.612 KB) | DOI: 10.17146/jair.2019.15.1.4703

Abstract

Iradiasi bahan pangan merupakan salah satu teknologi yang telah mapan dan berkembang di dunia pangan dalam upaya peningkatan keamanan dan kualitas pangan. Penelitian beberapa dekade telah membuktikan bahwa ir­adiasi bahan pangan merupakan teknologi yang aman. Teknologi ini memiliki potensi yang sangat besar dan sudah banyak diterapkan di berbagai negara. Namun demikian dalam aplikasinya selalu dihadapkan dengan berbagai tantangan yang menghambat optimalisasi pemanfaatannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji faktor kritis dalam peluang dan tantangan aplikasi iradiasi bahan pangan di berbagai negara. Penelitian ini menggunakan metode meta analisis dengan menggunakan 40 jurnal sebagai sumber referensi. Berdasarkan hasil pengkajian, terdapat berbagai faktor kritis yang mempengaruhi optimalisasi aplikasi iradiasi bahan pangan. Faktor kritis tersebut meliputi sumber daya, teknologi, proses, keamanan produk, persepsi konsumen dan regulasi. Dengan mengetahui posisi semua aspek ini, maka diperlukan rancangan tindakan agar proses optimalisasi dapat diwujudkan. Hal ini bisa dilakukan dengan eksplorasi, pemetaan dan inventaris sumber daya yang ada, peningkatan kualitas maupun kuantitas fasilitas dan kegiatan penelitian, pengetatan teknik pengemasan dan pelabelan, monitoring dan pengawasan kualitas produk sepanjang rantai proses dan distribusi dari produsen kemudian distributor hingga konsumen, edukasi kepada konsumen terkait terminologi iradiasi bahan pangan, dan penetapan regulasi terkait baik di dalam negeri maupun di negara lain melalui bilateral agreements. Langkah-langkah optimalisasi ini diharapkan dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam dunia pangan. Hal ini sejalan dengan tantangan peningkatan jumlah populasi manusia dan terbatasnya lahan pertanian, isu globalisasi dan perdagangan internasional yang membutuhkan keamanan maupun ketahanan pangan yang baik. Semua ini bisa diwujudkan dengan kerjasama dari berbagai pihak, baik pemerintah, pelaku dunia industri pangan, pemegang pasar serta masyarakat sebagai konsumen.
Enhancing Quality of Drying Mixed Shrimp Paste from Karawang with Red Pigment by Angkak Dessy Agustina Sari; Muhamad Djaeni; Azafilmi Hakiim; Sukanta Sukanta; Nurul Asiah; Didik Supriyadi
IPTEK The Journal for Technology and Science Vol 29, No 3 (2018)
Publisher : IPTEK, LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j20882033.v29i2.3575

Abstract

existence of shrimp paste farmer is supported by activities of auction fish place one of which located Ciparage beach, Karawang – West Java. Perpetrators produced 2 products such as shrimp paste and mixed shrimp paste. Utilization of Rebon shrimp by totality does not need other additives because drying process brings out the color that had itself so final product becomes redness. Involvement of Petek fish almost partially could reduce the color quality so the society used Rhodamine-B dye. This is widely spreading in the area because this matter is distributed by seller directly – door to door and the price is affordable – cheaper. Novelty this research is application of tray dryer with operating temperature variables – 40, 50, 60oC for 7 hours and the presence of Angkak as natural the red pigment that it is safe for human health. The results showed that the optimum condition of drying mixed shrimp paste was achieved by temperature 40oC. This is not about how much and quickly the moisture that evaporating into the air. Paradigm to chemical composition – organoleptic and antioxidant activity – DPPH method also was be consideration for that matter. Physically, this dried product had normal smell, salty taste, brown color, soft texture, solid shape, and normal appearance.
Pengaruh Konsentrasi dan Waktu Perendaman dengan Larutan Kalsium Hidroksida Terhadap Mutu Sensori Produk Vacuum Frying Buah Nanas Nurul Asiah; Dwi Handayani
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 7, No 2 (2018): Mei 2018
Publisher : Faculty of Animal and Agricultural Sciences, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1178.68 KB) | DOI: 10.17728/jatp.2907

Abstract

AbstrakVacuum frying merupakan suatu alat yang telah terbukti banyak digunakan untuk mengolah buah-buahan menjadi kripik dengan kualitas sensori dan nutrisi yang baik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh perendaman dengan larutan kalsium hidroksida atau Ca(OH)2 terhadap kualitas kripik nanas yang diproduksi dengan menggunakan vacuum frying. Rancangan percobaan dilakukan dengan rancangan acak lengkap yang variabel pertamanya adalah konsentrasi larutan perendaman (0,5, 1, dan 1,5%) serta variabel kedua adalah waktu perendaman (30, 60, dan 90 menit). Selanjutnya produk dianalisis sensori dengan metode uji mutu hedonik. Hasil menunjukkan bahwa perendaman dengan larutan kalsium hidroksida memberikan pengaruh terhadap intensitas sensori warna, rasa dan tingkat kerenyahan. Semakin besar konsentrasi dan lama perendaman dengan larutan kalsium hidroksida dapat meningkatkan kadar air produk dan mengurangi susut masa produk. Tingkat kecerahan produk bisa dipertahankan dengan peningkatan konsentrasi larutan kalsium hidroksida. Rasa kecut pada buah nanas juga bisa dikurangi dengan peningkatan konsentrasi larutan kalsium hidroksida. Kesimpulannya, produk dengan intensitas kerenyahan paling tinggi didapat dengan konsentrasi kalsium hidroksida sebesar 0,5% selama 30 menit.Effect of Concentration and Soaking Time of Calcium hydroxide Solution on Sensory Quality of Pineapple Vacuum Frying ProductAbstractVacuum frying is a tool that has proven widely to be used in the process of making fruits into chips that results in good sensory and nutrition quality of product. The present study was conducted to determine the effect of soaking with a Ca(OH)2 solution on the quality of pineapple chips that were manufactured using vacuum frying. The design of experiments were performed with a completely randomized design in which the first variable was the concentration of the solution (0.5, 1, and 1.5%) and the second variable was the soaking time (30, 60, and 90 minutes). Furthermore, the products were analyzed for sensory with hedonic quality test method. The results showed that soaking with Ca(OH)2 solution provided effect to the intensity of color, flavor, and crispness. The greater concentration and soaking time were able to increase the moisture content of the product and reduce shrinkage lifetime of the product. The brightness level could be maintained by increasing Ca(OH)2 solution. Sour taste in pineapple could also be reduced by increasing Ca(OH)2 solution. As conclusion, products with the highest intensity crispness were obtained with Ca(OH)2 concentration of 0.5% for 30 minutes of soaking time.•|•|•|||
Pengaruh Konsentrasi dan Waktu Perendaman dengan Larutan Kalsium Hidroksida Terhadap Mutu Sensori Produk Vacuum Frying Buah Nanas Nurul Asiah; Dwi Handayani
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 7, No 2 (2018): Mei 2018
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17728/jatp.2907

Abstract

AbstrakVacuum frying merupakan suatu alat yang telah terbukti banyak digunakan untuk mengolah buah-buahan menjadi kripik dengan kualitas sensori dan nutrisi yang baik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh perendaman dengan larutan kalsium hidroksida atau Ca(OH)2 terhadap kualitas kripik nanas yang diproduksi dengan menggunakan vacuum frying. Rancangan percobaan dilakukan dengan rancangan acak lengkap yang variabel pertamanya adalah konsentrasi larutan perendaman (0,5, 1, dan 1,5%) serta variabel kedua adalah waktu perendaman (30, 60, dan 90 menit). Selanjutnya produk dianalisis sensori dengan metode uji mutu hedonik. Hasil menunjukkan bahwa perendaman dengan larutan kalsium hidroksida memberikan pengaruh terhadap intensitas sensori warna, rasa dan tingkat kerenyahan. Semakin besar konsentrasi dan lama perendaman dengan larutan kalsium hidroksida dapat meningkatkan kadar air produk dan mengurangi susut masa produk. Tingkat kecerahan produk bisa dipertahankan dengan peningkatan konsentrasi larutan kalsium hidroksida. Rasa kecut pada buah nanas juga bisa dikurangi dengan peningkatan konsentrasi larutan kalsium hidroksida. Kesimpulannya, produk dengan intensitas kerenyahan paling tinggi didapat dengan konsentrasi kalsium hidroksida sebesar 0,5% selama 30 menit.Effect of Concentration and Soaking Time of Calcium hydroxide Solution on Sensory Quality of Pineapple Vacuum Frying ProductAbstractVacuum frying is a tool that has proven widely to be used in the process of making fruits into chips that results in good sensory and nutrition quality of product. The present study was conducted to determine the effect of soaking with a Ca(OH)2 solution on the quality of pineapple chips that were manufactured using vacuum frying. The design of experiments were performed with a completely randomized design in which the first variable was the concentration of the solution (0.5, 1, and 1.5%) and the second variable was the soaking time (30, 60, and 90 minutes). Furthermore, the products were analyzed for sensory with hedonic quality test method. The results showed that soaking with Ca(OH)2 solution provided effect to the intensity of color, flavor, and crispness. The greater concentration and soaking time were able to increase the moisture content of the product and reduce shrinkage lifetime of the product. The brightness level could be maintained by increasing Ca(OH)2 solution. Sour taste in pineapple could also be reduced by increasing Ca(OH)2 solution. As conclusion, products with the highest intensity crispness were obtained with Ca(OH)2 concentration of 0.5% for 30 minutes of soaking time.•|•|•|||
The Knowledge Transfer of Female Micro Enterprises through Community-Services University Training Programs Nurul Asiah; Wahyudi David; Tuti Widiastuti
Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol 5 No 1 (2020)
Publisher : Universitas Mathla'ul Anwar Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (651.468 KB) | DOI: 10.30653/002.202051.260

Abstract

This study is aiming to observe the role of community-services university training program to the participants knowledge on doing a micro enterprises and how effective the program to enhance the participant knowledge. The female micro enterprise group (18 persons) in South Jakarta was observed throughout the 5 months coaching. This study is applying the quantitative data collection based on the questionnaire and distributed prior and after the training programs. The finding of this study was the motivation of the most participant was household financial factors followed by hobby, skill of the participant as well as social factors. Most of the participant has been exposed by information through internet and they are most likely learns from internet. Training is the second sources for them for getting information. Financial investment and information of investment was the main obstacle for them to enhance their business beside managerial issues. This study found that training effectively delivers cognitive knowledge to the participant. This study concludes that training program may enhance the knowledge but further training is needed to enhance their attitude in doing business.
Sensory Evaluation And Yield Value of Vco Produced By Various Culture Nurul Asiah; Laras Cempaka; Tiara Maulidini
Agricultural Science Vol. 2 No. 1 (2018): September
Publisher : Faculty of Agriculture, Merdeka University Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Virgin Coconut Oil (VCO) adalah minyak kelapa yang diolah dari kelapa segar dengan atau tanpa pemanasan dan tidak melalui proses pemurnian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat penerimaan sensory dan nilai rendemen VCO yang diproduksi dengan metode fermentasi menggunakan berbagai kultur mikroorganisme (Saccharomyces cerevisiae, Lactobacillus plantarum dan Rhizopus oligosporus). Ketiga jenis kultur tersebut dicampurkan ke dalam krim sebanyak 5% (v/v), kemudian dilakukan proses fermentasi pada suhu 35oC selama 24 jam. VCO hasil fermentasi berwarna bening, memiliki aroma khas kelapa, dan memiliki rasa yang hambar. Dari uji sensori secara hedonik, secara keseluruhan panelis memberi nilai lebih dari 3. Rendemen VCO berkisar antara 22.01—25.74%. Perbedaan penggunaan jenis mikroba tidak berpengaruh secara signifikan (p>0,05) terhadap hasil rendemen dan hasil uji organoleptik dari VCO yang dihasilkan.
Integrasi Strategi Pemasaran Online Dan Operasional Bisnis Komunitas Wanita Wirausaha Dalam Meningkatkan Inovasi Produk Ari Kurnia; Nurul Asiah
Jurnal Ilmu Ekonomi dan Sosial (JIES) Vol 10, No 3 (2021): November 2021
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/jies.v10i3.14572

Abstract

Perubahan aktivitas bisnis yang mengarah pada era digital merubah proses pemasaran yang lebih cepat dan meluas. Kehadiran teknologi, perubahan inovasi hingga perubahan gaya hidup menjadikan seseorang dapat terus berkreasi. Menghadapi situasi Pandemi Covid-19 berdampak besar bagi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) karena daya beli turun. Wanita sebagai salah satu pilar terpenting dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara memiliki peran besar dalam membangun peradaban. Dalam penelitian ini, wanita  menjadi hal utama yang disorot dalam perannya memajukan UMKM. Wanita, dalam hal ini adalah Ibu-Ibu modern mau berkembang dan beradaptasi dengan teknologi yang tergabung dalam Komunitas Wanita Pengusaha Jualan Dagangan Mandiri (Kota Pelangi) merupakan komunitas yang beranggotakan perempuan-perempuan kreatif yang memiliki jiwa wirausaha dan bertempat tinggal di daerah Pancoran, Jakarta Selatan.      
Studi Meta-analisis: Pengaruh Penambahan Kultur Starter pada Profil Fermentasi, Mikroorganisme, dan Metabolit Hasil Fermentasi Biji Kakao (Theobroma cacao L.) Nafila Chaerunnisa Misbakh; Laras Cempaka; Wahyudi David; Nurul Asiah
Jurnal Agro Industri Perkebunan Volume 10 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Politeknik Negeri Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25181/jaip.v10i2.2545

Abstract

Fermentation of cocoa beans can produce flavour precursors and colour changes in chocolate. Generally, this process is carried out for 5-7 days without adding starter culture. Adding a starter culture is considered to improve the quality of cocoa beans and shorten the fermentation time. The purpose of this study was to compare the starter cultures used in the cocoa bean fermentation process through a meta-analysis approach. Twenty-four related articles have been screened from the initial number of 110 articles. There are five starter cultures and six parameters that can be processed by Confidence Interval (CI) analysis. Calculating p and I2 values ​​using STATA software was performed to see variations between studies and test the significance of their effects during the fermentation process through p values. The variation test between studies showed that the profiles of lactic acid bacteria (LAB) and acetic acid bacteria (AAB) were heterogeneous. While the yeast profile, levels of lactic acid, acetic acid and pH between studies are homogeneous. The results of the study showed that the addition of starter culture will affect the levels of yeast profile (ES: 0.470; 95% CI: 0.371 to 0.569; p = 0.0); LAB profile (ES: 0.747; 95% CI: 0.600 to 0.894; p = 0,0); AAB profile (ES: 0.808; 95% CI: 0.663 to 0.953; p = 0.0); lactic acid (ES: -0.003; 95% CI: -0.162 to 0.156; p = 0.039); acetic acid (ES: 0.189; 95% CI: 0.01 to 0.368; p = 0.039) and pH (ES: 0.109; 95% CI: 0.001 to 0.218; p = 0.049). Using pure starter cultures can increase the number of microbes of the type added and increase metabolic activity by showing a decrease in acetic acid levels in cocoa beans at the end of the fermentation process. However, no changes were seen in pH or lactic acid levels.
Pendugaan Umur Simpan Produk Ready To Drink (RTD) Bunga Telang dengan Evaluasi Sensori menggunakan Survival Analysis Muhammad Iqbal Ramadhan; Sylvia Oktavia Kusumawardani; Ardiansyah -; Laras Cempaka; Nurul Asiah; Rizki Maryam Astuti; Wahyudi David
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 39, No 2 (2022)
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32765/wartaihp.v39i2.6847

Abstract

Bunga telang memiliki pigmen antosianin yang dapat dimanfaatkan sebagai pewarna pada makanan dan minuman. Ready To Drink (RTD) bunga telang terbuat dari campuran air, gula dan biji chia serta bunga telang (Clitoria Ternatea) dengan rasa jeruk nipis. Tujuan penelitian ini adalah menentukan umur simpan produk RTD bunga telang dengan menggunakan evaluasi sensori, survival analysis. Lima puluh orang panelis melakukan pengujian pada setiap 3 hari hingga 15 hari dengan suhu simpan produk 4, 27 dan 37°C. Parameter yang digunakan adalah uji sensori, analisis total mikroba dan kapang, pengukuran pH, warna dan total padatan terlarut (TPT). Pada penelitian ini, umur simpan produk pada suhu 4, 27 dan 37°C memberikan hasil berbeda yaitu 6, 4 dan 3 hari. Total mikroba pada hari ke-6 pada suhu 4°C telah melewati batas maksimum, sementara suhu 27 dan 37°C pada hari ke-3, sedangkan total kapang khamir telah melewati batas maksimum pada hari ke-6. Nilai pH pada ketiga suhu berada pada kisaran nilai 3,19 hingga 3,51. Nilai ∆E* pada suhu 4 dan 27°C berada pada kisaran 2,0-3,0 yaitu sedikit terlihat, sedangkan 37°C terdapat nilai yang melebihi 3,0 yaitu terlihat dengan baik. Nilai TPT mengalami penurunan tetapi tidak berbeda nyata. Suhu 4°C merupakan kondisi penyimpanan optimum dibandingkan suhu lainnya.
The Preference Mapping of Rice Bran Tempe Cookies Laras Cempaka; Tiara Indra Saraswati; Nurul Asiah; Wahyudi David
Asia Pacific Journal of Sustainable Agriculture, Food and Energy Vol. 8 No. 1&2 (2020): December 2020
Publisher : Asia Pacific Network for Sustainable Agriculture, Food and Energy Network (SAFE Network)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract— Tempe is a traditional indigenous fermentation food from Indonesia. The addition of rice bran as raw material for soybean mixture aims to improve functional properties of tempe. The sensory description and sensory mapping of four formulations rice bran tempe were measured. Seventy-five consumers were recruited to participate in the projective mapping of rice bran tempe cookies at the sensory laboratory of Universitas Bakrie, one of the private universities in Indonesia. The test consists of a descriptive evaluation of products with sensory attributes: taste, color, flavor, texture and aftertaste. Data was used to develop a preference map for rice bran tempe cookies. The cookies formulation consist of rice bran tempe without any addition (RBT1), rice bran tempe with cocoa powder (RBT2), rice bran with dates extract (RBT3), and rice bran tempe with cocoa powder and dates extract (RBT4). Results from preference mapping showed that the position for each rice bran tempe cookies formulation show differently with commercial products. The map shows RBT1 and RBT2 cookies have higher consumer preferences (elevation 40) than RBT3 cookies (elevation 30) or RBT4 cookies (elevation 20). Average overall acceptance scores for the four samples ranged from 4.37 to 4.81 on a 1-9 scale. The addition of rice bran tempe to the cookies formulation has not been accepted by the consumers due to the sensory attributes of bitter taste, dark color, aroma like animal feed, hard texture and bitter aftertaste. The presence of cocoa powder and dates extract has not been able to increase consumer preference of the tempe rice bran cookies.