Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

INKORPORASI MINYAK ATSIRI JAHE MERAH DAN LENGKUAS MERAH PADA EDIBLE FILM TAPIOKA Utami, Rohula; Kawiji, Kawiji; Nurhartadi, Edhi
Prosiding Seminar Biologi Vol 9, No 1 (2012): Seminar Nasional IX Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.39 KB)

Abstract

ABSTRAK   Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antioksidan minyak atsiri jahe merah dan lengkuas merah serta pengaruh inkorporasi minyak atsiri jahe merah dan lengkuas merah terhadap aktivitas antimikroba dan karakteristik sensori edible film tapioka. Aktivitas antioksidan diuji menggunakan metode DPPH. Pengujian aktivitas antimikroba dilakukan terhadap bakteri Pseudomonas putida dan Pseudomonas fluorescens sedangkan karakteristik sensori diuji dengan metode perbandingan jamak dan metode hedonik. Aktivitas antioksidan yang dihasilkan sebesar 16.61% untuk minyak atsiri jahe merah dan 22.22% untuk minyak atsiri lengkuas merah. Aktivitas antimikroba edible film dengan inkorporasi 0.1% minyak atsiri jahe merah mampu menghambat Pseudomonas putida sebesar 2.45 cm dan Pseudomonas fluorescens sebesar 1.92 cm sedangkan inkorporasi dengan minyak atsiri lengkuas merah masing-masing menghambat sebesar 2.35 cm dan 2.42 cm (diameter edible film 1.3 cm). Berdasarkan uji perbandingan jamak diketahui bahwa edible film dengan inkorporasi masing-masing 1% minyak atsiri mempunyai karakteristik yang masih mendekati edible film tanpa minyak atsiri dan juga disukai panelis. Oleh karena itu dengan hasil ini maka dapat dilakukan penelitian selanjutnya tentang aplikasi edible film ini sebagai pengemas aktif.   Kata Kunci: edible film, jahe merah, lengkuas merah, minyak atsiri.
PENINGKATAN KUALITAS PRODUKSI UKM MADU MONGSO DI DESA SANGGRAHAN, KECAMATAN GROGOL, KABUPATEN SUKOHARJO Raden Baskara Katri Anandito; Siswanti Siswanti; Edhi Nurhartadi
SEMAR (Jurnal Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni bagi Masyarakat) Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : LPPM UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/semar.v5i2.18354

Abstract

Sanggrahan Village, Grogol District, Sukoharjo Regency is one of the areas that has many home-based processed food industries. Madu mongso is one of the processed food products in this village. Madu mongso is a snack food made from fermented glutinous rice and addition of sugar and coconut milk. Madu mongso is similar to dodol. Problems faced by madu mongso partners are not yet diversifying raw materials, production capacity is still small, packaging not yet appropriate, not yet have p-irt. The solution offered to the local mongso honey processing industry is through the production process of mongso honey introduction technology made from tubers and fruits (cassava, carrots, soursop) in an effort to diversify the products; The introduction of appropriate technology for the processing of honey mongso in the form of mixing machine; The introduction of various technologies of packaging materials; Home industry food permit (p-irt); And IT-based marketing training and direct selling strategies. In addition, the team has also provided equipment to improve the quality and production capacity of mongso honey mixers and heating, as well as packaging tools that can be used by to support the packaging process.Key words: domestic industry, madu mongso, glutinous rice, quality, diversification
PENGARUH LAMA FERMENTASI MOROMI TERHADAP VISKOSITAS, KADAR PROTEIN TERLARUT, AKTIVITAS ANTIOKSIDAN, DAN SENSORI KECAP BUNGKIL WIJEN PUTIH SANGRAI DAN NON SANGRAI Reny Fajri Pratiwi; Rohula Utami; Edhi Nurhartadi
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 5, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.071 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13560

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lama fermentasi moromi terhadapviskositas, kadar protein terlarut, aktivitas antioksidan, dan sensori dari kecap bungkil wijen putih sangrai dannonsangrai, dan untuk mengetahui perlakuan yang menghasilkan kecap dengan kualitas terbaik dari parameterpengujian yang dilakukan. Perancangan Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yaitu lamafermentasi 0, 2, 4, 6, dan 8 minggu kecap bungkil wijen putih sangrai dan nonsangrai. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa pengaruh lama fermentasi moromi dari 0 sampai 8 minggu memberikan perbedaan yangnyata pada 5% terhadap viskositas, kadar protein, antioksidan kecap bungkil wijen sangrai dannonsangrai. Namun untuk sensori tidak begitu memberikan perbedaan yang nyata. Hasil yang didapat viskositasterbesar pada fermentasi 4 minggu sebesar 977 cP, kadar protein terlarut pada fermentasi 6 minggu sebesar 3,03% dan 2,97 %, aktivitas antioksidan pada fermentasi moromi 6 minggu sebesar 6,96%/mg dan 6,02%/mg.Perlakuan lama fermentasi moromi 6 minggu dipilih sebagai perlakuan lama fermentasi moromi yangmenghasilkan kecap yang terbaik. Untuk perlakuan penyangraian, pada penelitian ini memberikan pengaruh,dimana pada kecap bungkil wijen putih sangrai memberikan viskositas, dan aktivitas antioksidan yang lebihtinggi dibandingkan tanpa penyangraian
KAJIAN KARAKTERISTIK KIMIA DAN SENSORI TEMPE KEDELAI (Glycine max) DENGAN VARIASI PENAMBAHAN BERBAGAI JENIS BAHAN PENGISI (KULIT ARI KEDELAI, MILLET (Pennisetum spp.), DAN SORGUM (Sorghum bicolor)) Sri Handajani; Edhi Nurhartadi; Ihda Nurul Hikmah
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 4, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.586 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13584

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan bahan pengisi terhadap karakteristikkimia (kadar protein, serat kasar, dan aktivitas antioksidan) serta karakteristik sensori tempe yang dihasilkan.Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor perlakuan yaitu variasikonsentrasi bahan pengisi yaitu kulit ari kedelai, millet, dan sorgum (0%, 5%, 10%) dengan 3 kali ulangananalisis. Data dianalisis dengan menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dilanjutkan dengan DuncanMultiple Range Test (DMRT) pada tingkat = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwapenambahan kulit ari kedelai, millet, dan sorgum menyebabkan kadar protein, aktivitas antioksidan, dan sertakasar tempe mengalami penurunan. Kadar protein tempe : kedelai, kedelai/kulit ari kedelai, kedelai/millet,kedelai/sorgum berturut-turut 48,6%; 45,8%; 46,7%; 47,2%. Kadar serat kasar berturut-turut 16,7%; 17,5%;15,6%; 14,9%. Aktivitas antioksidan berturut-turut 41,9%; 38,5%; 39,6; 40,7%. Oleh karena itu dapatdisimpulkan bahwa tempe kedelai murni adalah yang paling disukai dengan kadar protein, dan antioksidantertinggi, masing-masing 48,6% dan 41,9%. Tempe dengan penambahan bahan pengisi yang paling disukai yaitutempe kedelai/millet dengan konsentrasi kedelai/millet 95/5%, dengan kadar protein, serat kasar, dan aktivitasantioksidan berturut-turut 46,7%, 15,6%, dan 39,6%.
ISOLASI DAN KARAKTERISASI YEAST AMILOLITIK DARI RAGI TAPE Nurhartadi, Edhi; Rahayu, Endang Sutriswati
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.857 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13600

Abstract

The demand of sugar increases every year caused by people growth. Indonesia has starchy materialslike tapioca and for long time used to produce food by traditional fermentation with ragi tape. Ragi tapecontains many amylolytic and fermentative microbial. The object of this study was to isolate amylolytic yeastfrom ragi tape, which could be used to produce amylolytic enzymes as an alternative source of amylolyticenzyme from microbial origin. Isolation was done by dilution and spread plate methods on peptone glucoseyeast extract soluble starch (PGYS) agar medium, incubated 30C, for 2 days and purified with same medium.The isolates were then identified based on morphology and physiology profiles. Selection of the strongest isolatewith high amylolytic potent was done with amylolytic activity. The chosen isolate was then used to produceamylolytic enzyme in yeast extract malt extract soluble starch (YMS) medium with variation of soluble starchcontent. 15 amylolytic yeast isolates have been isolated, and then identified with taxonomic keys were suspectedas Debaryomyces vanriji (4 isolates), Saccharomycopsis fibuligera (3 isolates), and Pichia burtonii (8 isolates).They could grow well on starch medium. The result of selection based on amylolytic activity showed that S.fibuligera E-3 was the strongest among the others. From the fermentation, this research obtained the cellscontent increased or obtained logarithmic phase in 1st day of fermentation, and after 2nd day reached stationaryphase medium. The reduction sugar content increased in 1st day of fermentation, after 2nd day was increasedslowly. The soluble starch content was decreased rapidly in 1st day, after 2nd day was decreased slowly. Theglucoamylase activity was high at 1st day, but in 2nd day was low. S. fibuligera had glucoamylase activity 44.13mg glucose/L/min/1 ml enzyme solution.
PENGARUH WAKTU INKUBASI DAN KONSENTRASI SUKROSA TERHADAP KARAKTERISTIK MINUMAN PROBIOTIK DARI WHEY HASIL SAMPING KEJU Edhi Nurhartadi; Asri Nursiwi; Rohula Utami; Erina Widayani
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 11, No 2 (2018): Agustus
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1083.383 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v11i2.29056

Abstract

lactose, proteins and minerals. This study aims to determine the effect of variations in incubation time andsucrose concentration on the probiotic drink characteristics made from whey. This study uses CompletelyRandomized Design (CRD) with two factors, variation of incubation time (24 and 36 hours) and sucroseconcentration of (8%; 10%; 12%) on the probiotic whey drink. Probiotic starter cultures used are Lactobacillusacidophillus and Bifidobacterium longum IFO ATCC 13951 15 708 with ratio of 1: 1. Analysis was performedon viscosity, lactic acid levels, pH, antioxidant activity, total lactic acid bacteria and sensory characteristics.The results showed that the selected formula based on hedonic test is probiotic whey drink with 36-hourincubation time and 12% sucrose concentration. Probiotic whey drink has characteristics namely viscosity 6.578cP, 0.453% lactic acid levels, pH 4.36, the antioxidant activity of 19.409%, and total lactic acid bacteria 7.4 x109 cells / ml.
MEAT ANALOG DARI PROTEIN CURD KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris L) DENGAN TEPUNG BIJI KECIPIR (Psophocarpus tetragonolobus) SEBAGAI BAHAN PENGISI : SIFAT FISIKOKIMIA Edhi Nurhartadi; Choirul Anam; Dwi Ishartani; Nur Heriyadi Parnanto; Rysda Aina Laily; Nor Suminar
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 7, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.059 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.12908

Abstract

INKORPORASI MINYAK ATSIRI JAHE MERAH DAN LENGKUAS MERAH PADA EDIBLE FILM TAPIOKA Rohula Utami; Kawiji Kawiji; Edhi Nurhartadi
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 9, No 1 (2012): Prosiding Seminar Nasional IX Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.39 KB)

Abstract

ABSTRAK   Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antioksidan minyak atsiri jahe merah dan lengkuas merah serta pengaruh inkorporasi minyak atsiri jahe merah dan lengkuas merah terhadap aktivitas antimikroba dan karakteristik sensori edible film tapioka. Aktivitas antioksidan diuji menggunakan metode DPPH. Pengujian aktivitas antimikroba dilakukan terhadap bakteri Pseudomonas putida dan Pseudomonas fluorescens sedangkan karakteristik sensori diuji dengan metode perbandingan jamak dan metode hedonik. Aktivitas antioksidan yang dihasilkan sebesar 16.61% untuk minyak atsiri jahe merah dan 22.22% untuk minyak atsiri lengkuas merah. Aktivitas antimikroba edible film dengan inkorporasi 0.1% minyak atsiri jahe merah mampu menghambat Pseudomonas putida sebesar 2.45 cm dan Pseudomonas fluorescens sebesar 1.92 cm sedangkan inkorporasi dengan minyak atsiri lengkuas merah masing-masing menghambat sebesar 2.35 cm dan 2.42 cm (diameter edible film 1.3 cm). Berdasarkan uji perbandingan jamak diketahui bahwa edible film dengan inkorporasi masing-masing 1% minyak atsiri mempunyai karakteristik yang masih mendekati edible film tanpa minyak atsiri dan juga disukai panelis. Oleh karena itu dengan hasil ini maka dapat dilakukan penelitian selanjutnya tentang aplikasi edible film ini sebagai pengemas aktif.   Kata Kunci: edible film, jahe merah, lengkuas merah, minyak atsiri.
KARAKTERISTIK FISIKO-KIMIA DAN SENSORI VELVA PEPAYA (Carica papaya L.) DENGAN PEMANIS MADU Suci Rahmawati; Edhi Nurhartadi; Dwi Ishartani
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 7, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.853 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13006

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi madu sebagai pengganti sukrosa terhadap karakteristik fisik, kimia, dan sensori velva pepaya. Penelitian ini menggunakan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yaitu konsentrasi pemanis madu. Konsentrasi pemanis madu yang digunakan 5-15%. Dilakukan pengulangan sampel sebanyak dua kali dan tiga kali pengulangan analisa. Data yang diperoleh pada pengujian fisik, kimia, sensori dianalisis menggunakan one way ANOVA pada tingkat α = 0,05. Jika terdapat perbedaan nyata, maka dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test(DMRT) pada α= 0,05. Untuk data yang diperoleh dari uji Intensitas Tingkat Kemanisan, jika ada perbedaan nyata dilanjutkan dengan uji Tukey. Hasil penelitian yang diperoleh penggunaan pemanis madu meningkatkanserat pangan, vitamin C, β-karoten, aktivitas antioksidan, daya leleh, dan total padatan terlarut, serta menurunkan kadar air dan overrun velva pepaya yang dihasilkan. Penggunaan pemanis madu berpengaruh nyata terhadapkarakteristik sensori yaitu menurunkan tingkat kesukaan panelis pada parameter warna, rasa, aroma, tekstur, dan overall velva pepaya. Uji intensitas tingkat kemanisan diketahui bahwa velva pepaya dengan 5% pemanis madumemiliki tingkat kemanisan lebih rendah dari velva pepaya dengan 20% pemanis sukrosa, velva pepaya dengan 10% pemanis madu memiliki tingkat kemanisan sama dengan velva pepaya dengan 20% pemanis sukrosa dan velva pepaya dengan 15% pemanis madu memiliki tingkat kemanisan lebih tinggi dari velva pepaya dengan 20% pemanis sukrosa.Kata kunci: madu, sukrosa, velva papaya
PEMBERDAYAAN UKM KERUPUK SINGKONG MELALUI DIVERSIFIKASI PRODUK Nurhartadi, Edhi; Muhammad, Dimas Rahadian Aji; Nursiwi, Asri
SEMAR (Jurnal Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni bagi Masyarakat) Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : LPPM UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/semar.v4i2.4572

Abstract

Magelang regency is the center of cassava in Central Java. One of the villages in the subdistrict Kajoran whose people business are processing cassava into cassava crackers is Sidowangi village. Crackers processing is still done traditionally method. Equipment used were not conform with the standards for the food industry. It is known with the washing cassava peel in the form of a big tub filled with water, put peeled cassava, then washed by hand and foot. In order to clean cassava should be washed one by one so it takes a long time. Besides that the drying process is also done by uncontrolled because the sun drying with braids pedestal. If there is no sun the people can not drying the cassava crackers. Consequently crackers that have been damaged due to slicing become moldy or rotten and it can not be used. As an effort to resolve these problems, the UNS team has agreed with the SME partners to organize a program of activities: training and introduction liquid waste treatment technology into nata de cassava; Introductions production process technology mocaf as product diversification efforts; The introduction of appropriate technology cassava crackers processing food industry standards.The results show that the mplementation of the training activity making nata de cassava, Implementation of the training activity mocaf processing technology, Introduction Equipment For Improved Quality Cassava Crackers and Potential Product Diversification, entrepreneurial training and management of food industry, Pelatihan pemasaran berbasis IT dan strategi direct sellingKey words: diversification, crackers, cassava, introduction, technology