Yosua Sibarani
STT Happy Family

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Konseling Pastoral bagi Remaja Korban Kekerasan Fisik pada Masa Pandemi Covid-19 Yosua Sibarani
DUNAMOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 2 No. 2 (2022): Vol. 2 No. 2 (2022): Dunamos (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Happy Family

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.489 KB) | DOI: 10.54735/djtpak.v2i2.11

Abstract

Kasus kekerasan terhadap anak tergolong meningkat pada masa pandemi Covid-19 ini. Di antara kekerasan yang terjadi seperti kekerasan fisik, psikis, dan seksual; kekerasan fisik berada pada posisi pertama dalam urutannya. Kekerasan fisik yang dialami oleh remaja mempengaruhi perilaku dalam interaksi sosialnya. Tidak hanya itu, kekerasan tersebut juga memberi dampak buruk terhadap kesehatan mental remaja. Oleh sebab itu, remaja memerlukan pendampingan konseling pastoral yang efektif dari gereja. Tujuan artikel ini adalah menjelaskan prinsip konseling pastoral bagi remaja korban kekerasan fisik pada masa pandemi. Untuk mencapai tujuan itu, artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Berdasarkan metode tersebut, maka penelitian ini menemukan hasil bahwa gereja mendapat anugerah dari Allah untuk menyatakan kasih Tuhan Yesus Kristus melalui konseling pastoral bagi remaja yang menjadi korban kekerasan fisik. Konseling pastoral bagi remaja korban kekerasan fisik meliputi: membangun hubungan dengan konseli, meyakinkan konseli butuh pertolongan, membawa konseli pada pertobatan, mendengarkan konseli, mengidentifikasi masalah dan mencari solusi, pemulihan, pengampunan, dan pemuridan.
Doktrin Trinitas dalam Pluralisme Agama di Indonesia Yosua Sibarani
DUNAMOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 1 No. 1 (2015): Dunamos (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Happy Family

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sepanjang era modern dan post-modern, keinginan untuk hidup dalam keselarasan diantara orang-orang yang memiliki kepercayaan atau iman yang berbeda-beda, telah mendorong suatu pluralisme yang telah menyingkirkan keyakinan pada pentingnya pewahyuan Kristen, termasuk ajaran Trinitas. Pada kenyataannya, hal ini dapat diamati dalam hidup beragama orang-orang di Indonesia. Pluralisme di Indonesia mengandung potensi merusak dasar-dasar iman Kristen, khususnya ajaran Trinitas, jika tidak ada respon yang benar dalam proses dialog. Orang Kristen seharusnya tidak mengabaikan ajaran Trinitas demi penerimaan dirinya ke dalam lingkungan pluralisme agama. Pada akhir artikel, pengarang ini mengusulkan suatu refleksi teologis dan implikasi-implikasi ajaran Trinitas di tengah-tengah kepelbagaian agama di Indonesia.
Analisis Teologis Akal Budi Manusia dan Relevansinya Bagi Iman Kristen Yosua Sibarani
DUNAMOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 2 No. 1 (2021): Vol 2 No 1 (2021): Dunamos (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Happy Family

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.583 KB) | DOI: 10.54735/djtpak.v2i1.1

Abstract

Salah satu persoalan yang dihadapi oleh orang percaya adalah perdebatan tentang iman dan akal budi. Perdebatan ini berkaitan dengan peran akal budi dalam iman Kristen. Pada akhirnya muncul dua sisi berseberangan yaitu anti akal budi dan pengagungan terhadap akal budi. Pemahaman seseorang tentang hal tersebut tentu mempengaruhi praktek hidup sebagai orang percaya. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk memaparkan relevansi akal budi bagi iman Kristen. Untuk mencapai tujuan itu, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Alkitab tidak pernah melarang orang percaya untuk menggunakan akal budi yang dianugerahkan Allah. Orang percaya harus memiliki akal budi yang dibaharui oleh Roh Kudus untuk dapat mengerti kehendak Allah melalui firman Allah sehingga pertumbuhan iman dapat tercapai (Ef. 4: 23 ; Rm. 10: 17).