Andrita Ceriana Eska
Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Jember

Published : 16 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Radar S-Band Deteksi Misil Disepanjang Pulau Jawa Indonesia Bagian Selatan Eska, Andrita Ceriana; Setiabudi, Dodi
e-Jurnal Arus Elektro Indonesia Vol 1, No 3 (2015)
Publisher : e-Jurnal Arus Elektro Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknologi radar membantu mengawasi daerah yang tercakup, diantaranya seperti deteksi misil di udara. Misil memiliki bentuk dan ukuran yang bermacam-macam, dalam penelitian melakukan kajian RCS antara . Selain kajian tersebut, penggunaan frekuensi S-Band mulai 2 GHz hingga 4 GHz dengan dipengaruhi atmosfer juga menentukan pengaruh luas cakupan radar. Lokasi kajian dari teknologi radar tersebut diterapkan di sepanjang pulau Jawa-Indonesia bagian selatan. Analisa yang diperoleh, diantaranya mengetahui hubungan dari luas cakupan radar, frekuensi S-Band, dan RCS. Kontribusi dari analisa tersebut memberikan masukan pada perencanaan untuk kebutuhan jumlah teknologi radar yang dibutuhkan di sepanjang pulau Jawa-Indonesia bagian selatan.
Adaptive Modulation and Coding (AMC) around Building Environment for MS Communication at The Train Eska, Andrita Ceriana
EMITTER International Journal of Engineering Technology Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.415 KB) | DOI: 10.24003/emitter.v6i2.279

Abstract

This paper focused at communication systems when train moved. The communication propagation was influenced by building environment. The communication condition that used uplink direction. Mobile station was placed inside the train where moved with 500 km/hour velocity. The analysis was used consists of Doppler effect, atmospheric, and building environment. The variation communication frequency was used consists of 2.6 GHz, 5 GHz, and 10 GHz. Diffraction mechanism caused building was used single knife edge method. The result was showed SNR value from the communication frequency variation, distance comparison between LOS and NLOS, alteration adaptive modulation and coding (AMC), and coverage area percentage. Modulation and Coding Scheme (MCS) was used for AMC consists of QPSK, 16 QAM, and 64 QAM. Decreases of SNR value can be occured when communication distance for NLOS condition farther then LOS condition. That distance became increases because was obstructed with high building. Changeable of AMC value was caused propagation condition. The coverage area percentage when communication frequency that was used consists of 2.6 GHz, 5 GHz, and 10 GHz was obtained 88.4%, 88.4%, and 81.7%.
Adaptive Modulation and Coding (AMC) around Building Environment for MS Communication at The Train Andrita Ceriana Eska
EMITTER International Journal of Engineering Technology Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.415 KB) | DOI: 10.24003/emitter.v6i2.279

Abstract

This paper focused at communication systems when train moved. The communication propagation was influenced by building environment. The communication condition that used uplink direction. Mobile station was placed inside the train where moved with 500 km/hour velocity. The analysis was used consists of Doppler effect, atmospheric, and building environment. The variation communication frequency was used consists of 2.6 GHz, 5 GHz, and 10 GHz. Diffraction mechanism caused building was used single knife edge method. The result was showed SNR value from the communication frequency variation, distance comparison between LOS and NLOS, alteration adaptive modulation and coding (AMC), and coverage area percentage. Modulation and Coding Scheme (MCS) was used for AMC consists of QPSK, 16 QAM, and 64 QAM. Decreases of SNR value can be occured when communication distance for NLOS condition farther then LOS condition. That distance became increases because was obstructed with high building. Changeable of AMC value was caused propagation condition. The coverage area percentage when communication frequency that was used consists of 2.6 GHz, 5 GHz, and 10 GHz was obtained 88.4%, 88.4%, and 81.7%.
Radar S-Band Deteksi Misil Disepanjang Pulau Jawa Indonesia Bagian Selatan Andrita Ceriana Eska; Dodi Setiabudi
Jurnal Arus Elektro Indonesia Vol 1 No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknologi radar membantu mengawasi daerah yang tercakup, diantaranya seperti deteksi misil di udara. Misil memiliki bentuk dan ukuran yang bermacam-macam, dalam penelitian melakukan kajian RCS antara . Selain kajian tersebut, penggunaan frekuensi S-Band mulai 2 GHz hingga 4 GHz dengan dipengaruhi atmosfer juga menentukan pengaruh luas cakupan radar. Lokasi kajian dari teknologi radar tersebut diterapkan di sepanjang pulau Jawa-Indonesia bagian selatan. Analisa yang diperoleh, diantaranya mengetahui hubungan dari luas cakupan radar, frekuensi S-Band, dan RCS. Kontribusi dari analisa tersebut memberikan masukan pada perencanaan untuk kebutuhan jumlah teknologi radar yang dibutuhkan di sepanjang pulau Jawa-Indonesia bagian selatan.
Determination of MS Location through Building Using AoA Method of Frequency 47 GHz Andrita Ceriana Eska
IJITEE (International Journal of Information Technology and Electrical Engineering) Vol 1, No 3 (2017): September 2017
Publisher : Department of Electrical Engineering and Information Technology,Faculty of Engineering UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1686.755 KB) | DOI: 10.22146/ijitee.31955

Abstract

This research discusses the determination of mobile station (MS) location of the uplink communication system. The location determination mobile station is based on the angle-of-arrival (AoA) method. The communication propagation is influenced by building environment. The building environment was modeled with diffraction method. Several diffraction methods were used such as single knife edge, and multiple knife edge method. The communication frequency used was 47 GHz. The analysis used percentage value at coverage area and comparison of error percent values between two method to determine mobile station location. The percentage of the communication coverage area obtained was 71.4% or of 255 from 300 nodes. The comparison methods used for mobile station location determination were the selection of the best SNR and localization technique. The error percentage value based on the selection of the best SNR method is 0.95%. The error percentage value based on localization technique method is 0.78%.
AMC Femtocell untuk Komunikasi Drone Frekuensi 5 GHz menggunakan AWGN Metode Selection Combining pada Lingkungan Bergedung Andrita Ceriana Eska
Jurnal Arus Elektro Indonesia Vol 8 No 3 (2022)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jaei.v8i3.35045

Abstract

Perkembangan jaringan komunikasi seluler semakin meningkat. Penelitian ini melakukan analisa tentang jaringan komunikasi yang digunakan untuk komunikasi drone disekitar gedung-gedung dengan cakupan femtocell. Frekuensi komunikasi yang digunakan adalah 5 GHz. AMC (Adaptive Modulation and Coding) yang digunakan memanfaatkan MCS (Modulation and Code Scheme) terdiri dari QPSK, 16QAM, dan 64QAM. Hasil penelitian menunjukkan dominasi persentase 64 QAM dengan coderate 4/5 pada SC sebesar 91%.
AMC pada UE Frekuensi 10 GHz melewati HetNet Microcell dan Femtocell menggunakan Metode SKE pada Lingkungan Bergedung Andrita Ceriana Eska
Jurnal Arus Elektro Indonesia Vol 9 No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jaei.v9i2.41369

Abstract

Sistem komunikasi bergerak berupa user equipment (UE) bergerak pada lintasan lurus diantara lingkungan bergedung. Mekanisme difraksi karena pengaruh lingkungan bergedung yang dimodelkan menggunakan Single Knife Edge (SKE). Frekuensi komunikasi yang digunakan 10 GHz. Lintasan UE melewati HetNet (Heterogeneous Networks) yang terdiri dari microcell dan femtocell. Propagasi UE menggunakan kondisi uplink dengan kanal AWGN. Adaptive Modulation and Coding (AMC) yang menggunakan MCS (Modulation and Code Scheme). MCS tersebut terdiri dari QPSK, 16QAM, dan 64QAM. Sebagai hasil percentase cakupan pada penggunaan SC (Selection Combining) HetNet didapatkan sebanyak 94,03%, gNB1 microcell sebanyak 88,06%, dan gNB femtocell sebanyak 64,18%. Penggunaan selection combining HetNet dengan modulasi 64QAM sebanyak 67,16%, dan modulasi 64QAM dengan code rate 4/5 sebanyak 58,2%.
Komunikasi Bergerak Frekuensi 2.3 GHz Melewati Pepohonan Menggunakan Metode Giovanelli Knife Edge Andrita Ceriana Eska
JURNAL INFOTEL Vol 8 No 1 (2016): May 2016
Publisher : LPPM INSTITUT TEKNOLOGI TELKOM PURWOKERTO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20895/infotel.v8i1.57

Abstract

Sistem komunikasi antara MS (Mobile Station) dan RBS (Radio Base Station) dengan frekuensi 2.3 GHz kondisi uplink, komunikasi yang terjadi ketika pengguna MS yang bergerak disepanjang trotoar terhadap RBS yang berada di tepi bagian atas gedung. Propagasi melewati pepohonan yang berada diantara kedua ruas jalan dan juga berada disepanjang trotoar, sehingga metode difraksi menggunakan single knife-edge dan Giovanelli knife-edge. Pada penelitian ini berfokus pada variasi ketinggian gedung dan daya pancar. Analisa ditunjukkan pada persentase daerah cakupan disepanjang lintasan MS. Persentase tersebut terjadi peningkatan dengan variasi daya pancar 20 dBm hingga 40 dBm yang diikuti peningkatan ketinggian gedung. Hasil penelitian, menunjukkan beberapa titik pada lintasan yang memiliki loss yang sangat besar, menjadikan sedikit peningkatan persentase daerah tercakup RBS. Pengaruh dari komunikasi tersebut diantaranya karena pepohonan, atmosfer, dan juga jarak komunikasi
Propagasi Komunikasi Radio Base Station Femtocell pada Tiang Lampu Jalan Frekuensi 10 GHz Andrita Ceriana Eska
JURNAL INFOTEL Vol 9 No 4 (2017): November 2017
Publisher : LPPM INSTITUT TEKNOLOGI TELKOM PURWOKERTO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20895/infotel.v9i4.264

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk perkembangan sistem komunikasi. Penelitian ini membahas tentang sistem komunikasi Radio Base Station (RBS) femtocell pada tiang lampu jalan. Frekuensi komunikasi yang digunakan 10 GHz. Frekuensi tersebut dipengaruhi oleh redaman atmosfer seperti uap air dan oksigen. Analisa penelitian terdiri dari variasi ketinggian RBS femtocell, dan code rate dari signal-to-interference-plus-noise-ratio (SINR) threshold dengan modulasi 16 QAM dan 64 QAM. Variasi ketinggian RBS yaitu 6 meter, 8 meter, dan 10 meter. Variasi code rate yang digunakan untuk SINR threshold dari modulasi 16 QAM seperti 1/2, 2/3, 3/4, dan 4/5. Variasi nilai code rate yang digunakan untuk SINR threshold dari modulasi 64 QAM seperti 2/3, 3/4, dan 4/5. Hasil penelitian dari nilai signal-to-noise ratio dan persentase daerah cakupan pada lintasan mobile station.
Pengaruh Code Rate untuk Komunikasi RBS Femtocell Frekuensi 47 GHz pada Tiang Lampu Jalan Andrita Ceriana Eska
JURNAL INFOTEL Vol 9 No 4 (2017): November 2017
Publisher : LPPM INSTITUT TEKNOLOGI TELKOM PURWOKERTO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20895/infotel.v9i4.303

Abstract

Penelitian ini menjelaskan tentang sistem komunikasi radio base station femtocell yang diletakkan pada tiang lampu jalan. Frekuensi yang digunakan 47 GHz. Analisis pada penelitian ini terdiri dari variasi daya transmitter, dan variasi code rate dari signal-to-interference-plus-noise-ratio threshold 16 QAM. Daya transmitter yang digunakan 10 mW hingga 200 mW. Variasi code rate dari signal-to-interference-plus-noise-ratio threshold 16 QAM terdiri dari 1/2, 2/3, 3/4, dan 4/5. Sebagai hasil ditunjukkan hubungan antara daya transmitter dan code rate, dan hubungan antara persentase daerah tercakup pada lintasan mobile station dan code rate. Berdasarkan hubungan antara persentase daerah tercakup and code rate didapatkan semakin meningkat nilai code rate maka nilai persentase pada daerah tercakup semakin berkurang