Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

EFEKTIFITAS ANTIINFLAMASI EKSTRAK DAUN SIRSAK SEBAGAI KOMPLEMEN NATRIUM DIKLOFENAK PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR Meisyayati, Sari; Dewiwaty, Marisyah
Kartika Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Jenderal Achmad Yani, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.072 KB) | DOI: 10.26874/kjif.v3i2.100

Abstract

ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang efektivitas antiinflamasi ekstrak daun sirsak sebagai komplemen natrium diklofenak pada tikus putih jantan. Pada penelitian ini digunakan 5 kelompok perlakuan yaitu kontrol positif (Tween 80 2%), natrium diklofenak dosis 4,5 mg/kgbb, ekstrak daun sirsak dosis 100 mg/kgbb, kombinasi natrium diklofenak dosis 2,25 mg/kgbb dengan ekstrak daun sirsak dosis 50 mg/kgbb, kombinasi natrium diklofenak dosis 1,125 mg/kgbb dengan ekstrak daun sirsak dosis 25 mg/kgbb. Seluruh kelompok hewan diberikan sediaan uji masing – masing kemudian setelah 1 jam diinduksi radang dengan karagen 1% melalui intraplantar. Selanjutnya dilakukan pengukuran volume telapak kaki sebelum dan sesudah diinduksi radang setiap 30 menit selama 6 jam untuk menghitung persentase radang telapak kaki tersebut. Nilai AUC total dari persentase radang yang diperoleh menjadi parameter untuk menggambarkan aktifitas antiinflamasi pada kelompok perlakuan. Hasil analisis statistik dengan uji T independen menunjukkan bahwa radang yang terbentuk pada kelompok kombinasi natrium diklofenak dan daun sirsak dengan dosis ¼ dosis tunggalnya masing-masing tidak berbeda nyata dengan  kelompok yang diberikan dosis tunggal natrium diklofenak sehingga dapat disimpulkan bahwa efek antiinflamasi ekstrak daun sirsak sebagai komplemen pada dosis kombinasi yang lebih kecil tersebut sebanding dengan natrium diklofenak dosis tunggalnya sehingga dapat dikatakan terjadi efek adisi pada kelompok kombinasi tersebut dan ekstrak daun sirsak mampu menurunkan dosis penggunaan natrium diklofenak sebagai antiinflamasi. Kata kunci : Antiinflamasi, komplemen, daun sirsak, natrium diklofenak ABSTRACT The study of antiinflamatory efectivity soursop leaf’s extract as diclofenac sodium complement on white male rat has been done. Five groups have been used on this study. Those were positif control (Tween 80 2%), diclofenac sodium 4,5 mg/kgbw, soursoup leaf’s extract 100 mg/kgbw, combination of diclofenac sodium 2.25 mg/kgbw and soursoup leaf’s extract 50 mg/kgbw, combination of diclofenac sodium 1.125 mg/kgbw and soursoup leaf’s extract 25 mg/kgbw. Each animal from all groups was given test compound and after one hour inflammation was induced by caraagenan via intra plantar. Paw volume was measured every 30 minutes during 6 hours to calculate inflammatory percentage. .The AUC of inflammatory percentage used as antiinflamation activity parameter. The result showed that there was no diffrerence activity between group of combination at quarter dose of each component and group of single dose of diclofenac sodium. Apparently, there is an additive effect of the combination. It also indicates that soursoup leaf’s extract as complement can reduce the dose of diclofenac sodium for anti-inflammatory effect. Keywords : antiinflamatory, complement, soursoup leaf, diclofenac sodium
Efek Analgetik Kombinasi Infusa Daun Sirih (Piper betle L.) dan Infusa Daun Kemangi (Ocimum sanctum L.) terhadap Mencit Putih Jantan Galur Swiss Webster Sari Meisyayati; Jelin Wulandari; Erjon
Jurnal Ilmiah Bakti Farmasi Vol 4 No 2 (2019): Jurnal Ilmiah Bakti Farmasi
Publisher : Lembaga Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) STIFI Bhakti Pertiwi Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.861 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian uji efek analgetik kombinasi daun sirih (Piper betle L.) dan daun kemangi (Ocimum sanctum L.) terhadap mencit putih jantan yang diinduksi dengan asam asetat 1% v/v secara intraperitoneal. Mencit putih jantan galur Swiss Webster umur 2-3 bulan dengan berat 20-30 g dibagi menjadi 6 kelompok perlakuan. kelompok I sebagai kontrol negatif diberi ssediaan aquadest, kelompok II sebagai kontrol positif diberi sediaan suspensi aspirin, kelompok III diberi sediaan infusa daun kemangi 20%b/v, kelompok IV diberi sediaan daun sirih 40%b/v, kelompok V diberi sediaan kombinasi infusa daun kemangi 10%b/v dan infusa daun sirih 20%b/v, kelompok VI diberi sediaan kombinasi infusa daun kemangi 5%b/v dan infusa daun sirih 10%b/v yang diberikan secara peroral. Pengamatan dilakukan setiap 5 menit selama 1 jam setelah diinduksi dengan asam asetat 1% v/v secara intraperitoneal. Data geliat kumulatif rata-rata dihitung % proteksi. Kemudian data jumlah respon geliat kumulatif yang diperoleh dianalisis dengan uji ANOVA. Hasil penelitian menunjukan bahwa sediaan infusa memiliki efek analgetik terhadap mencit putih jantan, dan adanya efek yang aditif dari kombinasi infusa daun kemangi 10%b/v dan infusa daun sirih 20%b/v.
AKTIVITAS ANTIJAMUR MINYAK ATSIRI SEREH WANGI (CYMBOPOGON NARDUS (L.) RENDLE) Meisyayati, Sari; Sulastri, Hetty; Lely, Nilda
Jurnal Kesehatan Saelmakers PERDANA (JKSP) Vol 1 No 1 (2018): Jurnal Kesehatan Saelmakers Perdana
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Musi Charitas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.605 KB) | DOI: 10.32524/jksp.v1i1.343

Abstract

Citronella fragrance is one of the many plants in Indonesia. Citronella fragrance is widely used by Indonesian people as a spice dish and has traditionally been used for various treatments. Citronella fragrance contains essential oils that have the potential to have anti-fungal effects and have traditionally been used for the treatment of skin diseases. Isolation of citronella essential oil with the method of vapor distillation. The tested fungi are opportunistic fungi that often infect human skin. In testing the antifungal activity of the citronella essential oil (Cymbopogonnardus (L.) Rendle) against the fungal causing skin infection. The research was done by using agar diffusion method and using the density disc as the diffusion medium against A research of antifungal’s activity of essential oil of citronella (Cymbopogon nardus (L.) Rendle ) to fungus that cause disease in humans has been done. This research used agar diffusion method to the fungus test Tricophyton rubrum, Tricophyton mentagrophytes and Candida albicans. The concentration that used 1%, 0,5%, 0,25% and 0,1%. The results showed that in concentration 1% essential oil of citronella (Cymbopogon nardus ( L.)Rendle) has the highest activity with Candida albicans with an average of inhibition diameter was 19,4mm  ± 0,15. In 0,1% concentration of essential oil of citronella (Cymbopogon nardus (L.) Rendle) does not have antifungal’s activity to Tricophyton mentagrophytes that without inhibition diameter around the paper discs. Meanwhile, in concentration 0,1%, the essential oil of citronella (Cymbopogon nardus (L.) Rendle) still have antifungal’s activity to Tricophyton rubrum and Candida albicans with an average of  inhibition diameter 7,4 mm ±  0,35 dan 8,5 mm ±  0,15. Keywords: Candida albicans, Sereh wangi (Cymbopogonnardus (L.), Tricophyton                      rubrum, Tricophyton mentagrophytes, Candida albicans
AKTIVITAS ANTIJAMUR MINYAK ATSIRI SEREH WANGI (CYMBOPOGON NARDUS (L.) RENDLE) Lely, Nilda; Sulastri, Hetty; Meisyayati, Sari
Jurnal Kesehatan Saelmakers PERDANA (JKSP) Vol 1 No 1 (2018): Jurnal Kesehatan Saelmakers Perdana
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Musi Charitas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.605 KB) | DOI: 10.32524/jksp.v1i1.343

Abstract

Citronella fragrance is one of the many plants in Indonesia. Citronella fragrance is widely used by Indonesian people as a spice dish and has traditionally been used for various treatments. Citronella fragrance contains essential oils that have the potential to have anti-fungal effects and have traditionally been used for the treatment of skin diseases. Isolation of citronella essential oil with the method of vapor distillation. The tested fungi are opportunistic fungi that often infect human skin. In testing the antifungal activity of the citronella essential oil (Cymbopogonnardus (L.) Rendle) against the fungal causing skin infection. The research was done by using agar diffusion method and using the density disc as the diffusion medium against A research of antifungal?s activity of essential oil of citronella (Cymbopogon nardus (L.) Rendle ) to fungus that cause disease in humans has been done. This research used agar diffusion method to the fungus test Tricophyton rubrum, Tricophyton mentagrophytes and Candida albicans. The concentration that used 1%, 0,5%, 0,25% and 0,1%. The results showed that in concentration 1% essential oil of citronella (Cymbopogon nardus ( L.)Rendle) has the highest activity with Candida albicans with an average of inhibition diameter was 19,4mm  ± 0,15. In 0,1% concentration of essential oil of citronella (Cymbopogon nardus (L.) Rendle) does not have antifungal?s activity to Tricophyton mentagrophytes that without inhibition diameter around the paper discs. Meanwhile, in concentration 0,1%, the essential oil of citronella (Cymbopogon nardus (L.) Rendle) still have antifungal?s activity to Tricophyton rubrum and Candida albicans with an average of  inhibition diameter 7,4 mm ±  0,35 dan 8,5 mm ±  0,15. Keywords: Candida albicans, Sereh wangi (Cymbopogonnardus (L.), Tricophyton                      rubrum, Tricophyton mentagrophytes, Candida albicans
Efek Analgetik Kombinasi Ekstrak Daun Pepaya (Carica Papaya L) dan Ekstrak Daun Asam Jawa (Tamarindus indica L) pada Mencit Putih Jantan Sari Meisyayati; Josafin Immanuel; David Darwis
Jurnal Ilmiah Bakti Farmasi Vol 2 No 1 (2017): Jurnal Ilmiah Bakti Farmasi
Publisher : Lembaga Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) STIFI Bhakti Pertiwi Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.961 KB)

Abstract

Pada penelitian terdahulu diketahui bahwa daun pepaya dan daun asam jawa (memiliki efek analgetik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efek analgetik kombinasi ekstrak daun pepaya dan ekstrak daun asam jawa. Uji analgetik dilakukan dengan metode Sigmund menggunakan mencit putih jantan galur Swiss Webster. 35 ekor mencit dikelompokkan menjadi kelompok perlakuan, yaitu kontrol negatif yang diberi tween 80 2%, kontrol positif yang diberiasetosal 65 mg/kgBB, serta kelompok yang diberi ekstrak daun pepaya dosis tunggal 200 mg/kgBB, ekstrak daun asam jawa dosis tunggal 400 mg/kgBB, kombinasi dosis tunggal masing-masing ekstrak, kombinasi setengah dosis tunggal masing-masing ekstrak, kombinasi seperempat dosis tunggal masing-masing ekstrak. Tiap hewan diberikan sediaan uji secara per oral lalu dilanjutkan induksi asam asetat 1% secara intraperitoneal satu jam kemudian. Setelahnya jumlah geliat diamati dan dihitung mulai menit ke-10 dengan interval lima menit selama satu jam. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan jumlah geliat dari seluruh kelompok perlakuan terhadap kontrol negatif. Pemberian kombinasi seperempat dosis tunggal menunjukkan jumlah geliat yang sebanding dengan pemberian dosis tunggal ekstraknya. Hal ini menunjukkan adanya efek analgetik yang bersifat sinergis dari penggabungan keduanya karena penggunaan dosis yang jauh lebih kecil memiliki efektifitas yang besarnya sama dengan dosis besar sehingga penggunaannya dapat lebih efisien dan dapat lebih meminimalisasi kemungkinan adanya efek samping.
Aktifitas Aktraktan Formula Salep Minyak Atsiri Seledri (Apium graviolens L.) terhadap Lalat Buah (Batocera spp) di Kebun Pare Budi Untari; Petrus Chanel Aprianto; Sari Meisyayati
Jurnal Ilmiah Bakti Farmasi Vol 1 No 2 (2016): Jurnal Ilmiah Bakti Farmasi
Publisher : Lembaga Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) STIFI Bhakti Pertiwi Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.648 KB)

Abstract

Kairomon bergapten yang dikandung tanaman seledri memiliki aktifitas atraktan bagi lalat buah sehingga dapat mengendalikan hama tanaman buah. Untuk itu perlu diteliti bentuk formula sediaan atraktan minyak atsiri dan ekstrak tanaman seledri yang dapat bertahan lama untuk mengendalikan lalat buah serta aktifitas aktraktan dari masing-masing formula tersebut. Pada penelitian ini dibuat formula salep dengan metode pelebaran dari minyak atsiri dengan 3 konsentrasi yaitu 0,25%, 0,5% dan 1% dengan basis salep cera alba, vaselin putih dan pengawet nipagin-nipasol. Selanjutnya sediaan salep diuji aktifitas aktraktan pada kebun pare selama 4 minggu dengan interval pengamatan parameter berupa jumlah lalat buah setiap 2 minggu. Hasil penelitian menunjukkan formula salep minyak atsiri memiliki aktifitas atraktan pada seluruh periode waktu pengujian. Aktifitas tersebut meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi minyak atsiri.
Efektivitas Buah Mengkudu sebagai Komplemen Glibenklamid pada Pengobatan Diabetes Mellitus terhadap Mencit Putih Jantan Meisyayati, Sari; Lidia, Lidia
Syifa'Medika Vol 2, No 1 (2011): Syifa' MEDIKA: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sm.v2i1.2860

Abstract

Buah Mengkudu
Efek Imunomodulator Jus Herbal Kombinasi Bawang Putih, Jahe Merah, Jeruk Nipis, Cuka Apel dan Madu terhadap Mencit Putih Jantan Sari Meisyayati; Wahyudi Apriyanto; Yopi Rikmasari
Jurnal Ilmiah Bakti Farmasi Vol 1 No 2 (2016): Jurnal Ilmiah Bakti Farmasi
Publisher : Lembaga Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) STIFI Bhakti Pertiwi Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.745 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek imunomodulator dari jus herbal kombinasi bawang putih, jahe merah, jeruk nipis, cuka apel dan madu pada sejumlah variasi dosis. Penelitian ini menggunakan metoda bersihan karbon dan menggunakan 20 ekor mencit putih jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan. Sediaan jus herbal diberikan secara oral dengan variasi dosis 2 ml/kgBB, 4 ml/kgBB dan 8 ml/kgBB, begitu pula dengan suspensi tween 80 1% sebagai kontrol negatif dan suspensi fitofarmaka 6,5 mg/kgBB selama enam hari berturut-turut. Selanjutnya pada hari ke tujuh masing-masing kelompok uji diinjeksi tinta karbon melalui vena ekor lalu darah diambil melalui retro vena orbital setelah menit ke 5 dan 15 lalu dilisis dengan natrium karbonat untuk selanjutnya diukur absorban menggunakan spektrofotometri uv-vis pada λ maksimum 675 nm. Parameter yang diamati adalah konstanta fagositosis dan waktu paruh yang selanjutnya seluruh data masing-masing kelompok diolah dengan ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian jus herbal kombinasi bawang putih, jahe merah, jeruk nipis, cuka apel dan madu pada mencit putih jantan dapat meningkatkan kemampuan fagositosis sel-sel imun secara signifikan dibandingkan kontrol negatif serta dapat pula mempercepat waktu bersihan karbon yang bertindak sebagai antigen sehingga terbukti efektif sebagai imunomodulator. Efek tersebut telah timbul mulai dosis 2 ml/kgBB.
Anti-hypercholesterolemic activity of herbal juice with shelf life of 50 and 100 days in male rats induced by PTU and high-fat diet Sari Meisyayati; Ade Arinia Rasyad; Frelis Setya Nanda; Ayu Lestari; Alex Ferianto; Rizki Wahyudi
Jurnal Ilmiah Farmasi 2022: Special Issue
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.specialissue2022.art5

Abstract

AbstractBackground: Herbal juice with the composition of rosella flower, garlic, red ginger, dan lime extract, apple cider vinegar andhoney has been proven to be effective as an anti-hypercholesterolemia and has a high level of safety through acute and sub chronic toxicity tests that have been carried out. To be marketed, it is also necessary to know how long this herbal juice formula preserve its antihyperlipidemic effect during the storage process.Objective: This study was aimed to examine the effectiveness of herbal juice stored for 50 days and 100 days in PTU-induced rats and high-fat diet.Methods: This test used 6 groups of animals consists of group I (Na CMC 0.5%/negative control), group II (fresh herbal juice), group III (herbal juice stored 50 days at room temperature), group IV (herbal juice stored for 50 days at cold temperatures), group V (herbal juice stored for 100 days at room temperature), and group VI (herbal juice stored for 100 days at cold temperatures). The dosage of the test preparation was 5.4 ml/kg given once a day for 10 days. Induction was carried out using PTU ad libitum and high-fat diet twice a day for 10 days. Measurement of serum total cholesterol levels was carried out on day 0 and 11 using the CHOD-PAP method.Results: Groups II and IV could reduce cholesterol significantly compared to the negative control group (p<0.05), while the other groups could increase blood cholesterol level.Conclusion: Herbal juice showed effectiveness as anti-hypercholesterolemia in male white rats after being stored for 50 days and 100 days. Shelf life and temperature do not reduce its activity.Keywords:anti-hypercholesterolemia, herbal juice, shelf life, temperatureIntisariLatar belakang:Jus herbal dengan komposisi sari bunga rosella, bawang putih, jahe merah, jeruk nipis, cuka apel dan madu telah terbukti efektif sebagai antihiperkolestrolemia dan memiliki tingkat keamanan yang tinggi melalui uji toksisitas akut dan subkronik yang telah dilakukan. Untuk dapat dipasarkan, perlu pula diketahui seberapa lama formula jus herbal ini mampu mempertahankan efek antihiperlipidemianya selama proses penyimpanan.Tujuan:Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas jus herbal yang disimpan 50 hari dan 100 hari pada tikus yang diinduksi PTU dan pakan tinggi lemak.Metode:Pengujian ini menggunakan 6 kelompok hewan perlakuan yang terdiri dari kelompok I (NaCMC 0,5%/kontrol negatif), kelompok II (jus herbal segar), kelompok III (jus herbal yang disimpan 50 hari suhu kamar), kelompok IV (jus herbal yang disimpan 50 hari suhu dingin), kelompok V (jus herbal yang disimpan 100 hari suhu kamar), dan kelompok VI (jus herbal yang disimpan 100 hari suhu dingin). Dosis sediaan uji 5,4 ml/kgbb yang diberikan satu kali sehari selama 10 hari. Induksi dilakukan dengan pemberian PTU ad libitum dan pakan tinggi lemak 2x sehari selama 10 hari. Pengukuran kadar kolesterol total serum dilakukan pada hari ke-0 dan ke-11 dengan metode CHOD-PAP.Hasil:Kelompok II dan IV dapat menurunkan kolesterol secara signifikan dibandingkan kelompok kontrol negatif (p<0,05), sementara kelompok lain mengalami peningkatan kadar kolesterol darah.Kesimpulan: Jus herbal menunjukkan efektivitas sebagai antihiperkolesterolemia pada tikus putih jantan setelah disimpan selama 50 hari dan 100 hari. Masa simpan dan suhu tidak mengurangi aktivitasnya.Kata kunci :antihiperkolesterolemia, jus herbal, masa simpan, suhu
Toksisitas Akut Beberapa Formula Jus Herbal dengan Komposisi Sari Bunga Rosella, Nanas Bawang Putih, Jahe Merah, Jeruk Nipis, Cuka Apel dan Madu terhadap Mencit Putih Jantan Galur Swiss Webster Sari Meisyayati; Ramona; Agnes Leorina; Geby Patriani; Ahmad Fatoni; Yunita Listiani Imanda; Yenni Sri Wahyuni
Jurnal Ilmiah Bakti Farmasi Vol 4 No 1 (2019): Jurnal Ilmiah Bakti Farmasi
Publisher : Lembaga Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) STIFI Bhakti Pertiwi Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.805 KB)

Abstract

Hasil penelitian beberapa formula jus herbal kombinasi sari bunga rosella, bawang putih, nanas, jahe merah, cuka apel dan madu pada tikus percobaan diketahui beberapa formula tersebut efektif menurunkan kolesterol. Sejumlah penelitian menunjukkan adanya bukti ketidakamanan sejumlah suplemen kesehatan berbahan herbal. Berdasarkan hal diatas maka perlu dilakukan penelitian lanjutan yaitu berupa uji toksisitas akut untuk memperoleh nilai LD50 yang akan memberikan informasi tingkat keamanan dari formula bahan herbal tersebut. Pengujian toksisitas akut untuk setiap formula jus herbal dilakukan pada 44-60 ekor mencit betina yang terbagi menjadi 4-6 kelompok perlakuan. Terdapat 3 formula jus herbal yang diujikan yang masing-masing menggunakan 3-5 variasi dosis. Pada hari pengujian, tiap-tiap mencit diberikan sediaan formula jus herbal tertentu secara per oral Pemberian ini dilakukan secara bertahap dengan maksimal volume pemberian 0,5 ml dengan interval pemberian 30 menit. Pengamatan terhadap tanda-tanda toksisitas dilakukan pada 3-4 jam pertama setelah pemberian uji. Jumlah kematian dihitung maksimal 3× 24 jam. Pembedahan dilakukan pada hewan yang mati kurang dari 24 jam setelah pemberian sediaan uji. Dari hasil penelitian diperoleh nilai LD50 untuk masing-masing formula adalah 109,88 ml/kgbb, 146,63 ml/kgbb dan 124,4 ml/kg. Ketiganya masuk dalam kriteria praktis tidak toksis. Terdapat tanda-tanda toksisitas yang muncul pada mencit yang diujikan berupa penurunan aktifitas gerak, peningkatan laju pernafasan, urinasi dan salivasi. Urinasi merupakan tanda toksisitas yang paling dominan muncul. Hal tersebut karena beberapa komponen jus herbal memiliki efek diuretik yang potensial.