cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Bidan
Published by Ikatan Bidan Indonesia
ISSN : 25023144     EISSN : 26204991     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Ilmiah Bidan (JIB) merupakan jurnal publikasi ilmiah bidan yang terbit setiap 4 bulan sekali (3 edisi dalam setahun) dengan menggunakan sistem peer review untuk seleksi artikel. Makalah ditulis berdasarkan hasil penelitian atau pemikiran inovatif, yang akan diseleksi tim editor Jurnal Bidan. Naskah yang diterima naskah asli yang belum diterbitkan di media cetak, majalah/jurnal/media publikasi lain dengan bahasa akademis dan efektif. JIB menerima artikel/naskah asli yang relevan dengan bidang kebidanan, meta–analisis, hasil Penelitian, Studi Literatur, Clinical Practice, dan Case Report/laporan kasus.
Arjuna Subject : -
Articles 120 Documents
FOLIKEL ANTRAL OVARIUM PADA PEMBERIAN ANTIBODI MONOKLONA BOVINE ZONA PELUSIDA SEBAGAI KANDIDAT IMUNOKONTRASEPSI Milatun Khanifah
Jurnal Ilmiah Bidan (JIB) Vol 2 No 1 (2017)
Publisher : Ikatan Bidan Indonesia (IBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kepadatan penduduk masih merupakan masalah yang penting bagi negara-negara bekembang seperti Indonesia. Di sisi lain penggunaan metode kontrasepsi yang saat ini diandalkan untuk menangani masalah tersebut memiliki bbeberapa kekurangan yang menyababkan upaya menekan jumlah penduduk kurang optimal. Pengembangan metode kontrasepsi dengan target non hormonal seperti penggunan Monoklonal antibodi bovine ZP3 sebagai kandidat bahan imunokontrasepsi perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh Mab-bZP3 sebagai kandidat bahan immunokontrasepsi terhadap histologi ovarium yaitu jumlah folikel antral yang normal dan atretik. Penelitian True experimental ini dilakukan terhadap 36 hewan coba yang terdiri dari tiga kelompok kontrol dan tiga kelompok perlakuan, masing-masing dianalisa pada hari ke-5, ke-10, dan ke-20 setelah perlakuan. Kelompok kontrol diberikan suntikan Phospat Buffer Saline 50 μl dan kelompok perlakuan diberi suntikan Mab bZP3 sebanyak 50 μl. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan rata-rata jumlah folikel antral normal (p-value 0,715) maupun folikel antral atretik (p-value 0,604) antara kelompok kontrol dengan perlakuan. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p-value 0.071) rata-rata jumlah folikel antral atretik antara waktu pemeriksaan pada masing-masing kelompok kontrol dan perlakuan. Namun, terdapat perbedaan yang signifikan (p-value 0.036) rata-rata jumlah folikel antral normal antar waktu pemeriksaan pada masing-masing kelompok kontrol dan perlakuan. Kelompok kontrol yang diperiksa pada hari ke-5, berbeda signifikan hanya dengan kelompok kontrol maupun kelompok perlakuan yang diperiksa pada hari ke-20. Sedangkan rata-rata jumlah folikel antral normal terendah terdapat pada kelompok kontrol yang diperiksa pada hari ke-20, namun tidak berbeda signifikan dengan kelompok perlakuan yang diperiksa pada hari ke-20. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa Mab bZP3 sebagai kandidat bahan imunokontrasepsi tidak berpengaruh terhadap perkembangan folikel, dalam hal regulasi apoptosis dan fungsi reseptor FSH pada sel granulosa. Efek kontrseptif bersifat reversible, yang ditunjukkan dengan tidak adanya perbedaan yang signifikan jumlah folikel antral antara kelompok kontrolndan perlakuan pada hari ke-20.
EFEKTIVITAS KELOMPOK PENDUKUNG ASI (KP-ASI) EKSKLUSIF TERHADAP PERILAKU PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF Bekti Yuniyanti
Jurnal Ilmiah Bidan (JIB) Vol 2 No 1 (2017)
Publisher : Ikatan Bidan Indonesia (IBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebijakan Nasional untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 (enam) bulan telah ditetapkan dalam SK Menteri Kesehatan No.450/Menkes/SK/IV/2004. Cakupan pemberian ASI eksklusif secara nasional belum memenuhi target nasional, salah satunya karena adanya stigma dan stereotipe bahwa menyusui merupakan urusan perempuan. KP-ASI eksklusif adalah suatu kelompok yang beranggotakan ibu hamil dan ibu yang memiliki bayi dibawah usia dua tahun dengan dipandu oleh motivator agar ibu merasa didukung, dicintai dan diperhatikan sehingga muncul emosi positif yang akan meningkatkan produksi hormon oksitosin untuk melancarkan produksi ASI. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas kelompok pendukung ASI eksklusif terhadap perilaku pemberian ASI Eksklusif. Jenis penelitian Quasi Experiment dengan rancangan Postest Only Control Group Design. Penelitian dilakukan bulan Maret-Mei 2016 di wilayah kerja Puskesmas Tembarak Kabupaten Temanggung. Pengambilan sampel dengan total sampel sejumlah 44 responden yang terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok intervensi diberikan perlakuan Dukungan KP-ASI eksklusif sedangkan kelompok kontrol diberikan perlakuan pemberian leaflet tentang ASI eksklusif. Pengolahan data menggunakan Uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan kelompok yang mendapat dukungan KP-ASI sebagian besar (86,4%) memberikan ASI secara eksklusif sedangkan kelompok dengan pemberian leaflet hanya sebagian kecil (31,8 %) yang memberikan ASI secara eksklusif. Kesimpulan penelitian ini adalah pembentukan kelompok pendukung ASI eksklusif efektif terhadap perilaku pemberian ASI eksklusif (p value 0,0001). Disarankan pada masyarakat agar membentuk KPASI eksklusif di masing-masing wilayah dengan dibantu oleh bidan desa dan kader kesehatan setempat sehingga dapat memberikan dukungan pada ibu hamil dan ibu yang memiliki anak usia kurang dari dua tahun untuk memberikan ASI secara eksklusif. Bagi bidan agar bersedia menjadi pendamping sekaligus motivator bagi KP-ASI eksklusif dalam upaya meningkatkan cakupan ASI eksklusif.
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU POSTPARTUM TENTANG TEHNIK MENYUSUI DENGAN TERJADINYA BENDUNGAN ASI Fitri Nurhayati
Jurnal Ilmiah Bidan (JIB) Vol 2 No 1 (2017)
Publisher : Ikatan Bidan Indonesia (IBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masa nifas merupakan masa paling rentan terjadinya angka kesakitan. Salah satu penyebab kesakitan pada ibu nifas yaitu masalah pada proses laktasi. Dalam masa nifas, pengetahuan tentang tehnik menyusui sangat penting untuk di ketahui. Cara menyusui yang salah dapat menyebabkan ASI tidak keluar optimal sehingga dapat mengakibatkan Bendungan ASI. Ibu yang mempunyai pengetahuan baik dapat mengalami bendungan ASI karena ibu tidak menerapkan yang telah diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu postpartum tentang tehnik menyusui dengan terjadinya bendungan ASI. Metode penelitian ini adalah analitik dengan rancangan crosssectional. Sampel penelitian yaitu ibu postpartum lebih dari tiga hari secara total sampling dan populasi berjumlah 32 ibu. Tehnik pengumpulan data dengan cara wawancara dan observasi. Analisa data yaitu analisa univariat dan bivariat dengan menggunakan uji chi square. Hasil penelitian sebagian besar (56,3%) ibu mempunyai pengetahuan baik dan sebagian kecil (18,8%) ibu mengalami bendungan ASI. Hasil p value (0,036)<0.05 yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu postpartum tentang tehnik menyusui dengan terjadinya bendungan ASI. Diharapkan tenaga kesehatan lebih memahami tentang proses laktogenesis dan memberitahukan pada masyarakat tentang proses pembentukan ASI.
PENGARUH FAKTOR IBU DAN POLA MENYUSUI TERHADAP STUNTING BADUTA 6-23 BULAN Sumiaty Sumiaty
Jurnal Ilmiah Bidan (JIB) Vol 2 No 2 (2017)
Publisher : Ikatan Bidan Indonesia (IBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberhasilan pembangunan Nasional tidak terlepas dari ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas. Kekurangan gizi dapat merusak kualitas sumber daya manusia, salah satunya adalah stunting. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan prevalensi stunting tahun 2013 adalah 37,2%, terjadi peningkatan dibandingkan tahun 2010 (35,6%) dan 2007 (36,8%). Total stunting di Sulawesi Tengah tahun 2013 sebesar 41% dan di Kota Palu sebesar 21,42%. Faktor risiko Stunting meliputi faktor rumah tangga dan keluarga, makanan pendamping ASI dan praktek pemberian ASI yang tidak memadai, serta infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor ibu dan pola menyusui terhadap stunting pada BADUTA 6-23 bulan di Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah. Penelitian ini dilaksanakan di Kota Palu selama 3 bulan mulai bulan Agustus sampai dengan Nopember 2015. Desain penelitian Kohort Retrospective, jumlah sampel sebanyak 65 Rumah Tangga dengan teknik pengambilan sampel “purposive sampling”. Alat ukur yang digunakan terlebih dahulu dilakukan uji coba untuk standarisasi instrumen. Data dianalisis secara Univariat, Bivariat dan Multivariat. Hasil analisis multivariat (OR ; 95% CI) menunjukkan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap stunting dalam penelitian ini adalah tidak melakukan antenatal care dengan OR=4,57 (3,05-6,85), tinggi badan ibu <150 cm dengan OR=3,57 (2,47-5,16), tidak inisiasi menyusu dini dengan OR=3,04 (2,71-3,40) dan Jarak Kelahiran <3 tahun OR=2,81 (1,78-4,42). Kesimpulan bahwa faktor risiko stunting adalah tinggi badan ibu, jarak kelahiran, tidak inisiasi menyusu dini dan tidak melakukan Antenatal Care.
PENTINGNYA MELAKUKAN PENGUKURAN SUHU PADA BAYI BARU LAHIR UNTUK MENGURANGI ANGKA KEJADIAN HIPOTERMI Vivi Fridely
Jurnal Ilmiah Bidan (JIB) Vol 2 No 2 (2017)
Publisher : Ikatan Bidan Indonesia (IBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Angka kematian bayi baru lahir di Indonesia masih lebih tinggi dibandingkandengan negara-negara berkembang lainnya. Hipotermi merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian bayi baru lahir di negara berkembang. Mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal sangat penting untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan bayi baru lahir. WHO telah merekomendasikan asuhan untuk mempertahankan panas dalam asuhan bayi baru lahir, namun hipotermi terus berlanjut menjadi kondisi yang biasa terjadi pada neonatal, yang tidak diketahui, tidak di dokumentasikan dan kurang memperoleh penanganan. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pentingnya melakukan pengukuran suhu bayi secara berkala untuk mengurangi kejadian hipotermi pada bayi baru lahir. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif pada 183 bayi baru lahir yang dirawat pada 18 Mei 2016 – 30 Juli 2016 di RSIA Budi Kemuliaan Jakarta. Kriteria inklusi yaitu bayi yang lahir secara sectio caesaria. Sedangkan kriteria eksklusi adalah bayi dengan berat badan lahir rendah. Hasil penelitian bulan mei dari total 40 bayi baru lahir terdapat 19 bayi tidak hipotermi dan 21 bayi yang hipotermi. Pada bulan juni dari 35 bayi baru lahir terdapat 19 bayi tidak hipotermi dan 16 bayi hipotermi. Pada bulan juli dari 108 bayi baru lahir terdapat 99 bayi tidak hipotermi dan 9 bayi hipotermi. Kesimpulan pengukuran suhu secara berkala terhadap bayi baru lahir sangat berpengaruh terhadap penurunan angka kejadian hipotermi sehingga dapat menurunkan pula angka kesakitan dan kematian pada bayi baru lahir.
PENGUATAN PERAN BIDAN DALAM PEMBERDAYAAN PEREMPUAN UNTUK MENDUKUNG PROGRAM SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOAL’S Fatiah Handayani
Jurnal Ilmiah Bidan (JIB) Vol 2 No 2 (2017)
Publisher : Ikatan Bidan Indonesia (IBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Angka kematian Ibu masih menjadi masalah utama dalam tujuan pembangunan berkelanjutan yang menargetkan Angka Kematian Ibu sebanyak 70/100.000 KH pada tahun 2030. Selain itu, tingginya angka unmet need mengindikasikan kurangnya pemberdayaan perempuan dalam masalah perencanaan keluarga. Kondisi tersebut, menuntut bidan semakin mengoptimalkan perannya untuk ikut mengatasi masalah yang terjadi. Telaah artikel ini bertujuan untuk menganalisis : (1) peran bidan; (2) pemberdayaan perempuan dan program pembangunan berkelanjutan/; serta (3) Peran Bidan dalam pemberdayaan perempuan dalam upaya mendukung program pembangunan berkelanjutan. Metode penulisan telaah artikel ini menggunakan studi literatur dari berbagai sumber penelusuran meliputi text book, journal dan referensi lainnya. Hasil telaah artikel menunjukkan peran bidan sebagai pengelola, pelaksana, pendidik dan peneliti memberikan asuhan kebidanan kepada perempuan sebagai fokus utama asuhan harus mendapat penguatan dari berbagai pihak. Bidan mengoptimalkan perannya agar perempuan dapat lebih berdaya/ mempunyai kekuatan untuk mengambil keputusan untuk dirinya terutama terkait hak-hak reproduksi. Penguatan peran bidan dilakukan melalui pengetahuan dan ketrampilan yang baik mengenai situasi masyarakat sekitar. Pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan disamping tugas bidan juga merupakan tugas lintas sektor dan lintas program. Untuk hasil yang optimal, maka penguatan peran bidan harus tetap berdasarkan kewenangannya juga diiringi pengetahuan tentang masyarakat sekitar untuk hasil yang optimal.
EVALUASI SISTEM PELAKSANAAN MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT Herlina Mansur
Jurnal Ilmiah Bidan (JIB) Vol 2 No 2 (2017)
Publisher : Ikatan Bidan Indonesia (IBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) dalam bahasa Inggris yaitu Integrated Management of ChildhoodIllness (IMCI) adalah suatu manajemen melalui pendekatan terintegrasi/terpadu dalam tatalaksana balita sakit yang datang di pelayanan kesehatan, baik mengenai beberapa klasifikasi penyakit, status gizi, status imunisasi maupun penanganan balita sakit tersebut dan konseling yang diberikan.Cakupan Bayi dan Balita (0-5 tahun) yang mendapatkan pelayanan MTBS pada tahun 2014 di Puskesmas Kecamatan wilayah pesisir jakarta utara, Puskesmas kecamatan Penjaringan sebanyak 88% dan Puskesmas kecamatan Cilincing sebanyak 43%masih ada yang belum mencapai target dimana semua balita sakit mendapat pelayanan MTBS. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Informan dalam penelitian ini adalah Bidan Koordinator KIA, Petugas Pelaksana MTBS, petugas seksi kesehatan keluarga Dinas Kesehatan Jakarta Utara dan kader. FGD dilakukan pada ibu yang membawa balita yang sakit untuk berobat di Puskesmas. Variabel dalam penelitian ini adalah input, proses dan output. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sistem pelaksanaan MTBS yang dilakukan di Puskesmas Kecamatan wilayah pesisir Jakarta utara termasuk puskesmas kecamatan yang melaksanakan MTBS. Dimana faktor Input dalam sistem pelaksanaan MTBS termasuk sumber daya manusia, menganggap walaupun SDM kurang karena belum semua petugas mendapatkan pelatihan MTBS tetapi dalam melaksanakan MTBS tetap berjalan dengan baik walaupun dengan waktu yang terbatas, tidak ada dana khusus dalam pelaksanaan MTBS, sarana dan prasarana dalam pelaksanaan MTBS di siapkan oleh Dinas Kesehatan dan Puskesmas Kecamatan, serta metode dalam melaksanakan MTBS mengikuti SOP walaupun tidak semua petugas menggunakannya dalam melaksanakan program MTBS yang ada di puskesmas kecamatan jakarta utara. Faktor proses dalam sistem pelaksanaan MTBS mempunyai perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan evaluasi serta pengawasan. Faktor Output terdiri dari kepuasan orang tua dalam menerima pelayanan MTBS yang diberikan oleh puskesmas kecamatan dan cakupan yang didapat puskesmas kecamatan dalam memberikan pelayanan MTBS.
PERBEDAAN PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR BAYI 0 – 6 BULAN YANG DIBERI ASI EKSKLUSIF DAN NON ASI EKSKLUSIF Riana Trinovita Sari
Jurnal Ilmiah Bidan (JIB) Vol 2 No 2 (2017)
Publisher : Ikatan Bidan Indonesia (IBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ASI eksklusif adalah pemberian ASI secara penuh selama 6 bulan pertama tanpa pemberian makanan atau minuman lain kepada bayi. Kandungan ASI diantaranya AA dan DHA berguna dalam mempercepat myelinisasi. ASI mempunyai efek yang menguntungkan terhadap perkembangan motorik kasar. Berkembangnya produk susu formula telah merubah pola pemberian susu. Cakupan pemberian ASI eksklusif wilayah kerja Puskesmas Mulyorejo Surabaya yaitu 63,78% (2011), masih dibawah target pemerintah (80%). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan perkembangan motorik kasar bayi umur 0 – 6 bulan yang diberi ASI eksklusif dan non ASI eksklusif. Penelitian menggunakan metode analitik cross sectional. Populasinya adalah seluruh bayi usia 0 – 6 bulan di Kelurahan Mulyorejo yang datang Posyandu bulan Juni-Juli 2013. Pengambilan sampel dengan teknik consecutive sampling. Besar sampel 46 responden. Variabel bebasnya pemberian ASI eksklusif dan non ASI eksklusif. Variabel terikatnya perkembangan motorik kasar bayi. Instrument menggunakan lembar wawancara dan Denver II. Sumber data dari wawancara dan pemeriksaan. Analisis data menggunakan uji Fisher. Hasil penelitian dari 46 responden, lebih dari separuh bayi (65,2%) diberi non ASI eksklusif, perkembangan motorik kasarnya sebagian besar normal (78,3%). Hasil uji Fisher p = 0,130. Sehingga p > α, berati tidak ada perbedaan pemberian ASI dengan perkembangan motorik kasar bayi. Kesimpulan penelitian ini, sebagian besar responden memiliki perkembangan motorik kasar normal, kebanyakan diberi ASI non eksklusif dan tidak ada perbedaan perkembangan motorik kasar bayi usia 0 – 6 bulan yang diberi ASI eksklusif dan non ASI eksklusif. Namun pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama penting diutamakan karena keunggulan yang dimiliki.
EFEKTIVITAS PENDIDIKAN KESEHATAN METODE PEER GROUP TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP PERSONAL HYGIENE SAAT MENSTRUASI Siti Rofi’ah
Jurnal Ilmiah Bidan (JIB) Vol 2 No 2 (2017)
Publisher : Ikatan Bidan Indonesia (IBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Remaja adalah masa transisi dari masa anak-anak ke masa remaja, individu mulai mengembangkan ciri-ciri abstrak dan konsep diri menjadi lebih berbeda. Batasan usia remaja adalah 10-24 tahun, ditandai adanya perubahan fisik, emosi dan psikis. Masa remaja merupakan suatu periode pematangan organ reproduksi manusia dan sering disebut masa pubertas. Masa remaja merupakan persiapan menjadi orang tua, untuk itu perlu memiliki kesehatan reproduksi prima sehingga dapat mencetak generasi yang sehat
KEMITRAAN BIDAN DAN BKKBN DALAM UPAYA PENINGKATAN PELAYANAN KONTRASEPSI Istri Bartini
Jurnal Ilmiah Bidan (JIB) Vol 2 No 2 (2017)
Publisher : Ikatan Bidan Indonesia (IBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Investasi untuk peningkatan kesehatan reproduksi di negara yang sedang berkembang melalui penggunaan alat kontrasepsi akan menyelamatkan ibu, bayi baru lahir dan keluarga. Pada tahun 2014 terdapat 225 juta perempuan di dunia tidak mendapatkan pelayanan kontrasepsi modern, sedangkan di Indonesia hampir 50 % (40,3%) kasus unmeet-need masih ditemukan. Data peserta KB aktif di DIY cukup tinggi (89.90%), yang sebagian besar dilaksanakan oleh bidan yang telah bermitra dengan BKKBN dalam pelayanan kontrasepsi melalui pendekatan selama antenatal care dan post natal care. Namun, apakah model kemitraan antara bidan dan BKKBN dapat ditingkatkan sehingga mampu mengatasi masalah unmeet-need terhadap kontrasepsi?. Ini menjadi kajian yang menarik untuk peningkatan strategic plan antara bidan dan BKKBN untuk meningkatkan pelayanan kontrasepsi. Tujuan: Menganalisis hasil kegiatan kemitraan bidan dan BKKBN serta menunjukkan manfaat, kendala, tantangan dan peluang peningkatan kemitraan bidan dan BKKBN dalam peningkatan pelayanan kontrasepsi di DIY. Metode: Studi deskriptif dengan pendekatann kualitatif terhadap kegiatan kemitraan bidan dan BKKBN dalam pelayanan kontrasepsi oleh bidan di DIY dilanjutkan eksplorasi berbagai aspek dan peluang model kemitraan yang dapat dikembangkan. Focus group discussion dan indepth interview akan dilakukan pada informan baik dari pihak pengurus IBI dan BKKBN maupun bidan yang terlibat langsung dalam pelayanan kontrasepsi. Hasil : Bentuk dukungan BKKBN kepada bidan untuk meningkatkan pelayanan kontrasepsi di Daerah Istimewa Yogyakarta berupa kegiatan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan, dukungan sarana dan prasarana serta peningkatan jejaring bagi organisasi bidan pada program Keluarga Berencana. Dukungan yang diberikan dalam kerjasama tersebut saling menguntungkan bagi bidan dan BKKBN, namun pengaruh program BPJS dan otonomi daerah menyebabkan penurunan pelayanan KB khususnya MKJP dan masih ditemukan kondisi unmetneed 7,70%.

Page 3 of 12 | Total Record : 120