cover
Contact Name
FX. Eko Armada Riyanto
Contact Email
fxarmadacm@gmail.com
Phone
+62341552120
Journal Mail Official
stftws@gmail.com
Editorial Address
Jl. Terusan Rajabasa 2 Malang 65746 Indonesia
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Studia Philosophica et Theologica
ISSN : 14120674     EISSN : 25500589     DOI : 1035312
STUDIA focuses on philosophical and theological studies based on both literary and field researches. The emphasis of study is on systematic attempt of exploring seeds of Indonesian philosophy as well as contextualization and inculturationof theology in socio-political-historical atmosphere of Indonesia.
Articles 228 Documents
FIDES ET RATIO Menggagas Pertautan Teologi dan Filsafat plus Implikasinya dalam terang Ensiklik Fides et Ratio Armada Riyanto
Studia Philosophica et Theologica Vol 1 No 1 (2001)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v1i1.3

Abstract

Fides et Ratio (iman dan akal budi) bagaikan dua sayap manusia untuk terbang membubung tinggi pada kontemplasi tentang kebenaran. Apa yang disebut fides adalah segala apa yang ditekuni oleh refleksi teologis. Dan ratio menjadi lapangan luas disiplin filsafat. Tulisan ini mencoba menguak pertautan keduanya, teologi dan filsafat, secara luas sekaligus menyebut aneka implikasi yang akhirnya harus bermuara pada perubahan dan pembaharuan hidup konkret komunitas manusia-manusia yang beriman. Tulisan menyuguhkan tracing history of Christian philosophy dan rincian implikasi luas relasi teologi filsafat dalam terang Ensiklik Paus Yohanes Paulus II tahun 1998, yang menegaskan peringatan 20 tahun pontifikalnya. Tulisan ini mengalirkan jalan pikirannya dalam tiga bagian: (1) pengantar tentang “ratio” dan “fides”; (2) menggagas pertautan filsafat dan teologi secara historis dalam rincian sejarah pertemuan iman dan filsafat; (3) implikasi luas dari pertautan filsafat teologi.
REKAN-ANGGOTA DAN REKAN-PEMBANGUN KERAJAAN ALLAH: Pendasaran Teologis untuk Penghayatan Iman yang Merangkul Petrus Maria Handoko
Studia Philosophica et Theologica Vol 1 No 1 (2001)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v1i1.4

Abstract

Mengenai penghayatan iman yang merangkul, dapat diberikan dua macam pendekatan: praksis dan doktrinal. Artikel ini bermaksud mengajukan pendekatan yang kedua. Tema dibahas berdasarkan dokumen-dokumen Konsili dan ajaran Bapa Suci juga dokumen FABC (Konferensi Uskup-Uskup Asia). Tulisan akan mengalir dalam jalan pikiran pertama-tama menggali monoteisme Abraham sebagai dasar universal agama-agama monoteis. Berikutnya menyimak konsep regnosentris (seputar tema Kerajaan Allah) tentang agama-agama lain. Dan akhirnya, pembahasan sampai kepada rincian tema “rekan-anggota dan rekan-pembangun Kerajaan Allah,” yang menjadi cetusan konkret penghayatan iman yang merangkul.
ALLAH, UNIVERSALITAS, DAN PLURALITAS Achmad Jainuri, PhD
Studia Philosophica et Theologica Vol 1 No 1 (2001)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v1i1.5

Abstract

Harold Coward menulis sebuah buku menarik, Pluralism Challenge to World Religions. Gagasan pluralisme dewasa ini mendominasi dunia agama-agama. Coward bahkan menarik sebuah kesimpulan bahwa tingkat spiritualitas seorang agamawan ditentukan oleh bagaimana dia bersikap terhadap agama-agama lain. Tulisan ini menjabarkan tiga tesis menarik Coward seputar pluralisme: realitas transenden tampil dalam fenomena agama-agama (satu), ada pengakuan umum seputar pengalaman keagamaan tertentu (dua), identifikasi spiritualitas sendiri yang sering kali dipandang lebih tinggi dari agama orang lain (tiga). Rincian ide dari Coward ini dijabarkan untuk suatu pembahasan tentang dialog antarumat beragama. Sebuah pembahasan yang memiliki kepentingan perenial di Indonesia dan di dunia saat ini
SOCIAL CONSTRUCTION OF BALINESE WORLD AND CHRISTIANITY Dr. Ray Sudhiarsa, SVD
Studia Philosophica et Theologica Vol 1 No 1 (2001)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v1i1.6

Abstract

Artikel ini merupakan pengolahan ulang bagian kedua dari paper yang pernah dibawakan sebagai ‘kuliah perdana’ pada pembukaan tahun akademis 2001-2002 STFT Widya Sasana Malang, 10 September 2001. Di sini penulis menganalisis kondisi historis, sosial, politis, dan kultural masyarakat Bali dalam hubungannya dengan kehadiran Gereja-gereja di sana. Gereja selalu berusaha menjadi bagian integral dari masyarakat dan kebudayaan Bali, namun setiap kali dia masuk, setiap kali pula dia terlempar ke luar. Analisis historis kultural ini menunjukkan bahwa memang pada dasarnya masyarakat tradisional Bali adalah komunitas-komunitas tertutup yang ‘lengkap’. Kenyataan ini diperteguh oleh kebijakan politik pemerintah Hindia Belanda yang menduduki pulau Bali (1882- 1950), khususnya politik isolasi dan Balinisasi yang diterapkannya pada pertengahan pertama abad ke-20. Pada bagian akhir, penulis tidak memberikan kesimpulan, melainkan menawarkan pekerjaan rumah, yakni poin-poin yang harus dipertimbangkan oleh Gereja dalam mengaktualkan kehadiran dan misinya di dalam masyarakat setempat.
ON HUMANISM Exploring the Concept of Humanism in Indonesia Robert Wijanarka, CM
Studia Philosophica et Theologica Vol 1 No 1 (2001)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v1i1.7

Abstract

Konflik yang menghiasi peradaban bangsa Indonesia terasa demikian mengoyak humanisme. “Kemanusiaan yang beradab” terasa asing di negara kita. Keberadaban di banyak tempat telah mendadak lenyap. Yang ada malahan kebalikannya, kebiadaban. Tulisan ini mencoba menguak kembali ide- ide yang pernah dimiliki oleh para pendiri negara ini khususnya dalam mendulang konsep tentang humanisme. Kita diingatkan kembali. Ditegur malahan, untuk mengupayakan peradaban kemanusiaan baru di negeri tercinta ini. Segala upaya politis untuk meredam konflik dan kekerasan tidak boleh menyisihkan prinsip-prinsip humanis
KITAB SUCI DAN PENDIDIKAN NILAI B.A. Pareira
Studia Philosophica et Theologica Vol 1 No 2 (2001)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v1i2.10

Abstract

The demand of value education is evident today. In Indonesia value formation occupies the certain place in the whole of frame education. Teachers, particularly those of the young people, are so much concerned with problem of value especially that of life, ethical relationship, and politics. This article elaborates the topics from biblical point of view, i.e., from the Old Testament. As the author gets involved in priestly formation in biblical territory with specialization of the Old Testament, the article shall draw closely ideas of ethical formation from the Book of Proverbs and of Ecclesiastes. Both Proverbs and Ecclesiastes are dealing with value education
ETHICS OF POLITICAL LIFE - From the Christian-Philosophical Point of View Armada Riyanto
Studia Philosophica et Theologica Vol 1 No 2 (2001)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v1i2.11

Abstract

Sejak tata hidup bersama tampil dalam apa yang disebut polis, pergumulan politik merupakan pergumulan seputar bagaimana hidup bersama diorganisasi. Filsafat politik adalah filsafat yang mempromosikan nilai-nilai etis dalam penataan hidup bersama. Semangat peradaban Yunani awali memposisikan problem politis identik dengan problem etis. Hukum, keadilan, hak, kesetaraan, dan seterusnya adalah problem politis sekaligus etis. Artikel ini menggagas relasi antara politik dan etika dalam cakrawala pandang filsafat kristiani. Dengan filsafat kristiani dimaksudkan terutama ajaran para Paus yang dihimpun dalam dokumen-dokumen Social Teaching of the Church (Ajaran Sosial Gereja). Filsafat kristiani tidak membela nilai-nilai iman kristiani secara eksklusif melainkan nilai-nilai kebenaran etis universal manusiawi. Artikel merupakan elaborasi filosofis tema-tema pergumulan filsafat politik dan tanggapan Gereja.
TUJUH TEORI ETIKA TENTANG TUJUAN HUKUM Yong Ohoitimur
Studia Philosophica et Theologica Vol 1 No 2 (2001)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v1i2.12

Abstract

By the term "law" I mean system of law that exists in a political territory. Every system of law consists in some necessary elements such as basic laws or constitutions promulgated by the legislative, regulations made by the judicative, practical decrees announced by the executive. The article shall delvein the topic of ethical theory concerning the purpose of law. Why questioning ethically the purpose of law? By questioning it I try to draw what the ethical reasons of promulgating laws would be in political society. Consequently, every law should not be put into practice in a society, unless it is corresponding with that certain ethical reasons. In so doing, I shall survey the ideas of the seven political philosophers: Hobbes, Cicero, Locke, Aquinas, Bentham, Kant, dan Salmond. From this general survey, I discover that every theory has its own ethical reason which is in line with its anthropology and political philosophy. Besides, every theory finds necessary ethics in its own contemporary context. However, as Indonesia is struggling with law enforcement, it would be helpful to learnfrom their ethical theory of purpose of law.
HUKUM KARMA DIPANDANG DARI SEGI ETIKA S. Reksosusilo
Studia Philosophica et Theologica Vol 1 No 2 (2001)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v1i2.13

Abstract

Karma is a law that sprung from the Hindu tradition centuries ago. Nevertheless, it is still actual; and as a law it can be useful to cope the present challenge of evil made by human conducts in the paradigm of “jungle law.” I believe that the karma law can even lead positively society to the moral and civilized one. Civil society of Indonesia needs the karma law. This article is my personal attempt to underline the important role of the karma law in building up Indonesian civil society especially in terms of lawful enforcement to prevent evil occurred daily. The theme shall be dealt with in the following scheme: 1) the karma law in Hinduism, 2) ethics of human conducts, 3) conscience and ethical reasoning, 4) the karma law and ethics, 5) some coclusive points
INFORMED CONSENT DAN OTONOMI MANUSIA J. Sudarminta
Studia Philosophica et Theologica Vol 1 No 2 (2001)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v1i2.14

Abstract

One of the crucial points in territory of medical service is ethical problem of informed consent. Is it necessary that a patient should be involved in decision making with regard to her/his medical treatment in spite of her/his ignorance? The question is crucial, as in fact a patient comes to a medicaldoctor or hospital simply because of his/her surrender to be treated insofar as he/she can recover his/ her health. It is almost impossible to consider that by coming to a hospital the patient is doubt about medical treatment done in that hospital. In this article I try to draw some ethical considerations up from the fact that in spite of the patient’s ignorance regarding medical treatment, he is the autonomous person. The logical consequence of autonomy is that the person is free from any assumption that can reduce his/her authority upon his/her body. So, the article shall delve into discovering the relationship between informed consent and human autonomy.

Page 1 of 23 | Total Record : 228