cover
Contact Name
akhyarnis febrialdi
Contact Email
febrialdi1@gmail.com
Phone
+628117408799
Journal Mail Official
jurnalkomposits.umb@gmail.com
Editorial Address
Prodi Teknik Sipil, Kampus I Universitas Muara BungoFakultas Teknik Universitas Muara Bungo. Jl Lintas Sumatera. Sungai Binjai
Location
Kab. bungo,
Jambi
INDONESIA
Jurnal KOMPOSITS
ISSN : -     EISSN : 27217256     DOI : 10.36355
Jurnal KOMPOSITS mempublikasikan artikel Hasil Penelitian dan Paper review (literature article) dengan Ruang Lingkup : 1. Material & Rekayasa Struktur. 2. Teknik Sumber Daya Air 3. Sistem Transportasi dan Perkerasan Jalan 4. Manajemen Konstruk
Articles 31 Documents
Perencanaan Perkerasan Jalan Raya Dengan Metode Manual Desain Perkerasan Jalan (MDPJ) No.02/B/BM/2013 Beserta Estimasi Biaya (Studi Kasus Peningkatan Jalan Pada Ruas Kebun Sayur – Talang Kawo Kabupaten Merangin) Adi Wibowo; Radinal Radinal; Ari Endra Nasution
Jurnal KOMPOSITS Vol 1, No 1: 20 Februari 2020, Jurnal KOMPOSITS
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/jkts.v1i1.299

Abstract

Dalam perencanaan tebal perkerasan lentur banyak metode-metode yang dapat digunakan untuk perencanaan. Di indonesia metode perencanaan tebal  perkerasan jalan banyak menggunakan Metode Bina Marga. Metode ini pun telah beberapa kali mengalami perkembangan hingga yang terakhir adalah Metode Manual Desain Perkerasan Jalan (MDPJ). Sebelumnya Metode yang banyak digunakan adalah Metode Analisa Komponen (MAK). Dengan adanya Metode perkerasan jalan yaitu Metode Manual Desain Perkerasan Jalan (MDPJ) tersebut menjadi latar belakang bagi penulis untuk melakukan Perencanaan  dengan menggunakan metode yang terbaru.Dalam perhitungan tugas akhir ini data primer dan sekunder sangatlah penting dalam perencanaan tebal perkerasan menggunakan Metode Manual Desain Perkerasan Jalan (MDPJ). Dari hasil perhitungan didapat CESA5 sebesar 2,362.163 dengan tebal lapis perkerasan untuk lapis permukaan AC-WC = 4 cm, untuk lapis permukaan AC-BINDER = 6 cm, untuk lapis pondasi atas AC-BASE = 7 cm dan untuk lapis pondasi bawah LPA kelas A = 30 cm. Dan untuk estimasi biaya total keseluruhan adalah Rp 44.646.250.000 ( Empat Puluh Empat Milyar Enam Ratus Empat Puluh Enam Juta Dua Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah ).Kata kunci : Metode, Perkerasan, Estimasi Biaya In the thickness planning of flexible pavement many methods can be used for planning. In indonesian, Pavement planning method many use method of  Bina Marga. This method has also been developed sereral times until the las is the Manual Method Of Pavement Design ( MDPJ ). Previously a widely used method in component analysis method ( MAK . With the existensi of road pavement method is the manual method of pavement desing ( MDPJ ) is the background the author to do the planning using the latest method. In the calculation of this final task the primary data and secondary data is very important in the planning of pavement thickness using manual method of pavement design ( MDPJ ). From the calculation results obtained CESA5 of 2,362.163 with a thick layer of pavement for the AC-WC surface layer = 4 cm, for AC-BINDER = 6 cm, to the uppev layer of AC-BASE =7 cm, and for layer sundev LPA class A = 30 cm. And for estimated total total cost is Rp 44,646.250.000 ( Foury Four Billion Six Hundred Forty Six Milion Two Hundred Fifty Thousand Rupiah )Keyword : Method, Pavement, Cost Estimation
Desain Elemen Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa Dengan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (Srpmk) Ari Endra Nasution; Ayu Sri Rejki; Sucitra Wijaya
Jurnal KOMPOSITS Vol 1, No 1: 20 Februari 2020, Jurnal KOMPOSITS
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/jkts.v1i1.300

Abstract

Indonesia merupakan salah satu daerah rawan gempa, hampir setiap wilayah di Indonesia berpotensi terjadinya gempa. Kabupaten Kerinci, merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jambi yang rawan terhadap gempa. Potensi gempa bukan hanya karena aktivitas vulkanik Gunung Kerinci, namun juga terdapat patahan kerak bumi (sesar) jalur sesar Sumatera. Salah satu titik yang dilalui yakni di wilayah Kecamatan Siulak. Berdasarkan peta gempa di Indonesia, daerah Kecamatan Siulak berada di posisi ke 12 dari 295 jalur sesar aktif di Indonesia. Oleh karena itu bangunan yang dibuat di daerah ini harus direncanakan kuat terhadap gempa. Beton bertulang sangat umum digunakan sebagai elemen struktur pada bangunan. Oleh karena itu pemerintah Indonesia telah menetapkan peraturan yang harus dipenuhi untuk perencanaan bangunan gedung dari beton bertulang khususnya pada daerah gempa yang tertuang di dalam SNI 1726:2012 dan SNI 2847:2013. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendesain elemen struktur beton bertulang tahan gempa dengan mengggunakan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) dan membandingkan kebutuhan baja tulangan untuk desain elemen struktur dengan sistem rangka pemikul momen khusus (SRPMK) dengan struktur yang dianalisa tanpa menggunakan beban gempa. Bangunan direncanakan sebagai gedung perkantoran 4 lantai dengan denah 20 x 16 m², tinggi setiap lantai bangunan adalah 4 m, pada lokasi gempa di kabupaten Kerinci dengan kondisi tanah sedang. Material yang digunakan adalah beton dengan f’c 25 Mpa, baja tulangan dengan fy 400 Mpa. Pembebanan yang digunakan meliputi beban gravitasi (beban mati dan beban hidup) sesuai PPIUG 1983 dan SNI 1727:2013 serta beban gempa dinamik respons spektrum sesuai SNI 1726:2012. Perencanaan elemen struktur yang dilakukan meliputi kolom, balok, lantai, dan hubungan balok kolom. Pemodelan dan analisis gaya dalam dilakukan dengan bantuan software  SAP 2000, dimana yang diambil adalah output dari luas tulangan perlu, hasil dari analisis struktur menggunakan SAP 2000, dan selanjutnya dilakukan kontrol terhadap syarat-sayarat SRPMK, hasil dari output ini berupa model dari penulangan balok, kolom, dan hubungan balok kolom, namun untuk perhitungan tulangan pelat lantai momen-momennya dihitung dengan mengacu kepada tabel PBI 1971. Selain dari pada itu dilakukan pula analisis struktur dengan hanya memperhitungkan beban mati dan beban hidup saja (tanpa beban gempa), jumlah tulangan yang akan digunakan dari kedua jenis elemen struktur inilah yang akan dibandingkan. Adapun hasil analisa yang didapatkan adalah, bahwa kebutuhan tulangan untuk struktur sistem rangka pemikul momen khusus (SRPMK) harus dinaikkan 66,9% dari kebutuhan tulangan struktur yang dianalisa tanpa menggunakan beban gempa.Kata kunci: Struktur Beton Bertulang, SRPMK, SNI 1726:2012, SNI 2847:2013Indonesia is one of the most earthquake prone areas, almost every region in Indonesia has a potential earthquake. Kerinci Country is one of the areas in the province of Jambi that is prone to earthquakes. The earthquake potential was not just due to the volcanic activity of mount kerinci, but there is also fracture of the earth’s crust, the sumatera fault line. One of the passing points is siulak sub district area. According to the eartgquake map in Indonesia, Siulak is on the 12th of  the 295 activite fault lines of Indonesia. Reinforced concrete is very common in use as a structural element in buildings. The Indonesia governmant has set rules to folow for building plans of reinforced concrete especially in prone areas of quakes poured inside SNI 1726:2012 and SNI 2847:2013. The purpose of this study is to design element of earthquake resistant reinforced concrete structure using the frame system of specific momen bearers and compare the need for metal structures using the frame system of specific momen bearers  with structure analyzed without using the earthquake load. The building was planned as a four story office building with the 20 x 16 m² plan, high each floor of the building is 4 m, at the Kerinci country earthquake site and medium soil. The material used is concrete with f’c 25 Mpa, metal with fy 400 Mpa. The Load that was being used is load gravity (dead load and live load) according to PPIUG 1983 and SNI 1727:2013, the dynamical load of spectrum response according to SNI 1726:2012. The planning of element structural is columns, beams, plate and joint. Modelling and analysis internal energy used the software of SAP 2000. Taken is the result of output from the metal area results from using SAP 2000, and then control of the SRPMK terms,   the output is a model of the metal beam, column and joint, but the calculations of the plate moment are calculated by reference to the PBI 1971 table. Apart from that, structural analysis involves calculating dead load and live load expenses only (without earthquake load), the amount of metal to be used from both types of structural elements is what will be compared, as for the result of analysis is, that  the need metal for structure using the frame system of specific momen bearers it must be increased 66.9% need for metal of structures analyzed without using the earthquake load.  Key word: Reinforced concrete structure, SRPMK, SNI 1726:2012, SNI 2847:2013
TINJAUAN RENCANA PENGEMBANGAN DAN ANALISIS INVESTASI PEMBANGUNAN PERUMAHAN ( Studi Kasus : Perumahan Puri Indah Marsawa Kab. Bungo ) Derizal Saputra; Radinal Radinal; Azdy Elfistoni
Jurnal KOMPOSITS Vol 1, No 1: 20 Februari 2020, Jurnal KOMPOSITS
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/jkts.v1i1.301

Abstract

Pembangunan  perumahan dan permukiman merupakan  upaya memenuhi salah satu kebutuhan dasar manusia. Rumah tidak lagi hanya sekedar tempat berlindung, tapi kini di era modren rumah di bangun sebagai salah satu bentuk investasi  jangka  panjang. Perkembangan Pembangunan di Kabupaten Bungo saat ini cukup maju dan peningkatan penduduk semakin meningkat, mengakibatkan kebutuhan  akan tempat tinggal juga meningkat. Untuk memenuhi permintaan masyarakat akan tempat tinggal, maka perusahan PT. Arah Bangun Prestasi  Mandiri  membangun Proyek Perumahan Puri Indah Marsawa Berlokasi Di Jalan Iman Bonjol Kelurahan Pasir Putih- Kabupaten Bungo-Jambi. Pada proyek ini akan dibangun perumahan dengan tipe 36/96 m2, tipe 45/117 m2dan tipe 56/130 m2sebanyak 51 unit di atas atas tanah seluas 8.919 m2. Untuk mengetahui  kelayakan Proyek Pembangunan Perumahan Puri Indah Marsawa ini dilakukan Analisis Aspek Teknis dan Aspek Finansial. Analis aspek teknis penelitian ini meliputi Tinggi Bangunan, Koefisien Dasar Bangunan, Koefisien Lantai Bangunan, dan Aksesibilitas Lokasi. Kelayakan aspek teknis ditentukan berdasarkan ketentuan Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bungo Tahun 2013-2032 dan Peraturan Daerah Kabupaten Bungo Tentang Rencana Pembangunan Dan Pengembang Perumahan Kawasan Perumahan  (RP3PKP). Analisis aspek finansial ditentukan berdasarkan nilai Net Present Value, Benefit Cost Ration, Internal Rate Of Return, dan Payback Period. Hasil dari analisis menunjukkan bahwa aspek teknis yaitu Tinggi Bangunan, Koefisien Dasar Bangunan, Koefisien Lantai Bangunan, dan Akselibilitas Lokasi Proyek Perumahan Puri Indah Marsawa layak. Dari investasi yang dikeluarkan (cash out) dan biaya manfaat (benefit) di analisis dengan aspek finansial diperoleh Net Present Value sebesar Rp 2.581.705.705 >0, Benefit Cosh Ratio sebesar 1,43 >1, Internal Rate Of Return > MARR, Payback Period menunjukkan investasi bagus dan layak dilakukan. Kata Kunci : Investasi, Perumahan, Aspek Teknis, Aspek Finansial 
ANALISA PERKERASAN JALAN RAYADUSUN BARU PUSAT JALO – RANTAU PANDANKABUPATEN BUNGO PROVINSI JAMBI (DARI STA 0 + 000 S/D STA 3 + 600) Sucitra wijaya; Lusiana Panihda; Suwarjo Suwarjo
Jurnal KOMPOSITS Vol 1, No 1: 20 Februari 2020, Jurnal KOMPOSITS
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/jkts.v1i1.302

Abstract

Komparasi Metode AASHTO 1993 dengan Metode Bina Marga berdasarkan data pada jalan Dusun Baru Pusat Jalo – Rantau Pandan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkomparasikan Metode AASHTO dan Metode Bina Marga, yaitu membandingkan parameter tebal perkerasan, sehingga akan diketahui perbedaan dan persamaan parameter tersebut. Perencanaan tebal perkerasan dengan kedua metode tersebut bertujuan untuk mengetahui sejauh mana perbedaan yang terdapat dari kedua metode tersebut dalam merencanakan tebal perkerasan lentur jalan raya. Dari hasil analisa Metode AASHTO 1993 didapat tebal lapisan pondasi bawah (Sub Base Course) dengan jenis Batu Pecah (kelas B) sebesar 16 cm, lapisan pondasi atas (Base Course) dengan jenis batu pecah (kelas A) sebesar 15,24 cm, lapisan permukaan (Surface Course) dengan jenis AC-BC sebesar 7,62 cm. Sedangkan untuk Metode Bina Marga didapatkan tebal lapisan pondasi bawah (Sub Base Course) dengan jenis bahan batu pecah (kelas B) sebesar 20 cm, lapisan pondasi atas (Base Course) dengan jenis bahan batu pecah (kelas A) sebesar 20 cm, lapisan permukaan (Surface Course) dengan jenis bahan AC-BC sebesar 13,125 cm. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dari kedua Metode yang telah dianalisa terdapat perbedaan dari masing-masing tebal lapisan perkerasan jalan raya.
STUDI PERBANDINGAN ANALISIS ANGGARAN BIAYA TERHADAP REALISASI BIAYA PEMBANGUNAN SECARA SWAKELOLA (Studi Kasus Pembangunan Lantai 1 dan 2, Gedung Rektorat Universitas Muara Bungo) Ninik Qosidah; Radinal Radinal; Suwarjo Suwarjo
Jurnal KOMPOSITS Vol 1, No 1: 20 Februari 2020, Jurnal KOMPOSITS
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/jkts.v1i1.303

Abstract

Sistem manajemen proyek adalah proses merencanakan, mengorganisir, memimpin dan mengendalikan kegiatan anggota serta sumber daya yang ada untuk mencapai sasaran proyek. Sistem manajemen proyek ada dua yaitu sistem manajemen professional dan sistem manajemen swakelola. Sistem manajemen profesional biasanya melibatkan kontraktor sebagai pelaksana pekerjaan di lapangan melalui proses pelelangan. Sedangkan sistem manajemen konstruksi swakelola melakukan pengelolaan sendiri tanpa melibatkan kontraktor, melainkan tim pelaksanaan ditunjuk oleh suatu badan tertentu ataupun langsung oleh Owner atau pemilik proyek. Pada tahun 2018 Universitas Muara Bungo merancang gedung baru yang berlokasi di Jl.Lintas Sumatera Kecamatan Batin III Kabupaten Bungo yang pelaksanaan pekerjaannya dilakukan secara swakelola. Berdasarkan estimasi Rencana Anggaran Biaya (RAB) dengan SNI yang mengacu pada  Permen PUPR 28/PRT/M/2016 didapatkan nilai estimasi biaya pada pekerjaan pondasi, sloof, kolom dan pekerjaan lantai 2 sebesar Rp 1.423.577.756. Sedangkan dari data realisasi pelaksanaan pekerjaan secara swakelola yang telah dirangkum didapatkan biaya realisasi pekerjaan tersebut sebesar Rp 1.332.418.074. Perbandingan selisih antara estimasi Rencana Anggaran Biaya (RAB) terhadap realisasi biaya pekerjaan swakelola pada pekerjaan pondasi, sloof, kolom dan pekerjaan lantai 2 yaitu Rp 91.159.681. Adapun beberapa komponen yang memperngaruhi perbedaan nilai estimasi RAB dan realisasi biaya pekerjaan diantaranya adalah Perhitungan RAB menggunakan SNI yang mengacu pada Permen PUPR NOMOR : 28/PRT/M/2016 lebih rinci untuk masing-masing item pekerjaan. Selanjutnya nilai koofisien dan harga upah/bahan pada tiap-tiap item pekerjaan sudah baku dan tetap. Sementara upah/bahan pada realisasi pekerjaan mengikuti pengalaman terdahulu dan disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Dari perbandingan estimasi Rencana Anggaran Biaya (RAB) dengan SNI terhadap realisasi biaya pekerjaan secara swakelola didapatkan nilai estimasi yang lebih besar dari realisasi biaya, maka dapat diambil kesimpulan bahwa pekerjaan secara swakelola lebih efisien terhadap biaya. Kata kunci : Rencana anggaran biaya, Biaya realisasi pekerjaan, Faktor Perbedaan RAB dengan biaya realisasi pekerjaan. Project management system is the process of planning, organizing, leading and controlling the activities of members and available resources to achieve project goals. There are two project management systems namely professional management systems and self-management management systems. Professional management systems usually involve contractors as executors of work in the field through an auction process. While the self-managed construction management system carries out its own management without involving the contractor, but the implementation team is appointed by a particular body or directly by the Owner or the project owner. In 2018 Muara Bungo University designed a new building located on Jl. Lintas Sumatera, Batin III District, Bungo Regency, the implementation of which was carried out in a self-managed manner. Based on the estimated Budget Plan (RAB) with SNI which refers to Permen PUPR 28 / PRT / M / 2016, the estimated value of costs for foundation, sloof, column and 2nd floor works is Rp 1,423,577,756. Whereas from the realization of self-managed work implementation data which has been summarized, the realization of the work costs was Rp1.332.418.074. Comparison of the difference between the estimated Budget Plan (RAB) to the realization of the cost of self-management work on foundation, sloof, column and 2nd floor works, namely Rp 91.159.681. The several components that influence the difference in the estimated value of the RAB and the realization of the cost of work include the calculation of the RAB using SNI that refers to PUPR Regulation NUMBER: 28 / PRT / M / 2016 in more detail for each work item. Furthermore, the coefficient and price of wages / materials for each work item are standard and fixed. While wages / materials in the realization of work follow previous experience and adapted to conditions on the ground. From the comparison of estimated Budget Plans (RAB) with SNI to the realization of self-managed work costs, the estimated value is greater than the realized costs, so it can be concluded that self-managed work is more efficient on costs. Keywords: Budget plan, The cost of work realization, The difference between the RAB and the work cost realization.
ANALISA STRUKTUR RANGKA ATAP GEDUNG REKTORAT UNIVERSITAS MUARA BUNGO (Rangka Kuda-Kuda Type Single Frame Beam) Rio Mulyadi; Sucitra Wijaya; Suwarjo Suwarjo
Jurnal KOMPOSITS Vol 1, No 1: 20 Februari 2020, Jurnal KOMPOSITS
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/jkts.v1i1.304

Abstract

Atap pada bangunan berfungsi sebagai penutup bagian yang ada dibawahnya. Pada analisa struktur rangka atap gedung Rektorat Universitas Muara Bungo ini menggunakan penutup atap bahan seng superdeck, rusuk-rusuk atap menggunakan bahan kayu hal tersebut dikarenakan pemasangannya lebih mudah, harganya relatif murah, kekuatan kayu cukup tinggi Selain kayu pada analisa struktur rangka atap ini digunakan pula konstruksi baja konvensional karena kekuatannya cukup tinggi, dapat dibentuk menjadi profil yang diinginkan maka konstruksi baja konvensional ini dirasa cukup efisien digunakan pada rangka atap gedung Rektorat Universitas Muara Bungo apalagi mengingat gedung ini merupakan gedung berlantai 7. Pada analisa rangka atap gedung Rektorat Universitas Muara Bungo yang terdiri dari dimensi reng dan kaso dari konstruksi kayu kelas II. Gording dan  kuda-kuda dari konstruksi baja konvensional menggunakan metode LRFD (Load Resistance Factor Design)  dengan type kuda-kuda single frame beam dan menganalisa baut tanam di dalam beton.Beban-beban yang ditinjau adalah beban mati dan beban hidup menggunakan metode gempa kondisi ultimate yang mengacu pada dasar-dasar peraturan SNI.03.1729.2002. Berdasarkan hasil perhitungan analisa struktur atap gedung Rektorat Universitas Muara Bungo ini didapatkan dimensi reng adalah  lebar 2 cm dan tinggi 4 cm dan dimensi kaso adalah lebar 4 cm dan tinggi 8 cm . Menggunakan bahan baja konvensional dengan gording jenis profil INP.120,  Kuda-kuda menggunakan jenis profil  di titik A=B S.20 x 65 , di titik D = E S.10 x 25,4 dan di titik C S.15 x 42 cm dan baut tanam kuda-kuda di dalam beton minimmal harus ditanam t ≥ 43 cm. Kata kunci: Kayu, Baja Konvensional, LRFD,  metode gempa kondisi ultimate. The roof on the building serves as the cover of the existing part underneath. In the analysis of building roof frame structure Rectorate University of Muara Bungo is using a superdeck zinc roof cover, roof ribs using wood it is because the asembly is easier, the price is relatively cheap, the strength of wood is quite high In addition to wood on the roof frame analysis is also used conventional steel construction because of high strength, Become a desirable profile then this conventional steel construction is considered efficient enough to be used in the framework of the roof of the building Rectorate University of Muara Bungo especially considering this building is a 7 storey building. In the roof analysis of the building Rectorate University Muara Bungo consisting of dimensions of batten (Wooden small beam) and kaso (wooden beam cross longitudinal ) of wooden class construction II. Gording and horses from conventional steel construction using LRFD (Load Resistance Factor Design) method with single frame horses beam type and analyzing planting bolts in concrete based of horses (frame horses).The loads under consideration are dead load and live load using the ultimate condition earthquake method which refers to the basics of SNI.03.1729.2002 regulations. Based on the analysis of roof structure analysis of Rectorate building of Muara Bungo University, it is found that the dimension of the batten is 2 cm wide and 4 cm high and the dimension of kaso is 4 cm wide and 8 cm high. Using conventional steel material with gaming type profile INP.120, Horses use profile type at point A = B S.20 x 65, at point D = E S.10 x 25.4 and at point C S.15 x 42 Cm and bolts planting horses in the minimmal concrete must be planted t ≥ 43 cm. Keywords: Wood, Conventional Steel, LRFD, ultimate condition earthquake method.
PERENCANAAN GELAGAR PENAMPANG I JEMBATAN BETON PRATEGANG BENTANG 30 METER Ari Endra Nasution; Suwarjo Suwarjo; Tidah Indriyani
Jurnal KOMPOSITS Vol 1, No 2 (2020): September, Jurnal KOMPOSITS
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/jkts.v1i2.577

Abstract

Struktur beton prategang merupakan salah satu pilihan metode dalam membangun jembatan saat ini. Hal tersebut mempertimbangkan daya guna yang lebih lama dan perawatan yang lebih sedikit. Oleh karena itu analisis perhitungan gelagar jembatan beton prategang untuk berbagai bentang menjadi banyak diperlukan. Standar Bangunan Atas Jembatan Beton Pratekan Dirjen Bina Marga Departemen PU Tahun 1993 telah menetapkan ukuran penampang berdasarkan panjang gelagar dari 22 hingga 40 meter dengan interval tiap 3 meter sehingga tidak seluruh bentang tersedia dimensi penampangnya dari interval tersebut.  Pada tulisan ini akan dilakukan analisis perhitungan penampang gelagar dengan bentang 30 meter hingga perhitungan kabel dan penempatan tendon. Dengan ini diharapkan dapat memperbanyak khazanah contoh perhitungan yang ada. Hasil analisis perhitungan memperlihatkan bahwa penampang gelagar dapat direncanakan lebih efisien lagi dari ukuran yang diberikan oleh standar di atas dengan kontrol tegangan dan lendutan yang masih dalam batas aman. Gaya prategang sebesar 14.500 kg sudah dapat mengakomodir semua beban-beban yang bekerja akan tetapi jika asumsi kehilangan gaya prategang sebesar 15% untuk jangka panjang terjadi maka akan menghasilkan nilai tegangan yang terjadi pada serat bawah gelagar melebihi tegangan tarik izin beton sehingga gaya prategang perlu dinaikkan sebesar 250 kg saat penegangan untuk mengeliminir tegangan yang terjadi tersebut
KAJIAN ANALISIS KUALITAS UDARA AMBIEN PADA RENCANA PEMBANGUNAN JARINGAN IRIGASI SELING ULU MERANGIN Astri Yulia; Endi Adriansyah
Jurnal KOMPOSITS Vol 1, No 2 (2020): September, Jurnal KOMPOSITS
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/jkts.v1i2.578

Abstract

Kegiatan Irigasi akan memiliki dampak lingkungan dan sosial bagi masyarakat sehingga diperlukan kajian dampaklingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondis ikualitas udara ambien pada jaringan irigasi seling ulu dan untuk mendapatkan hasil analisis kajian dampak lingkungan. Metode yang digunakan dalam penelitian iniadalah metode survei dan Pengukuran Laboratorium Berstandar KAN. Hasil dari penelitian ini adalah kondisi pada jaringan irigas iseling ulu  menunjukkan kualitas udara ambien dan tingkat kebisingan di irigasi seling ulu dan sekitarnya masih baik, mengingat parameter-parameter yang terukur masih memenuhi baku mutu lingkungan (BML) sesuai dengan PeraturanPemerintah No. 41 Tahun 1999 untuk SO2, NO2, TSP, CO, dan O3 tentang Pengendalian Pencemaran Udara, Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 50 Tahun 1996 untuk H2S dan NH3 tentang Baku Tingkat Kebauan, dan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 48 Tahun 1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan.
PERENCANAAN RUMAH SEHAT TYPE 36 Lian Novratilova; Febri Hardianto
Jurnal KOMPOSITS Vol 1, No 2 (2020): September, Jurnal KOMPOSITS
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/jkts.v1i2.579

Abstract

Seiring dengan bertambahnya penduduk sejalan pula dengan pertumbuhan bangunan sebagai tempat bernaung dari iklim luar  yang  ekstrim. Bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal biasanya disebut dengan rumah. Kebutuhan manusia akan rumah tinggal tidak bisa dipandang sebelah mata saja, karena ini merupakan kebutuhan primer setiap manusia. Oleh karenanya, dibutuhkan perencanaan yang baik agar pembangunan rumah tinggal dapat memberikan kenyamanan bagi penghuninya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung kebutuhan ruangan di dalam rumah dan teras sesuai dengan standar pencahayaan dan kebutuhan udara yang sehat Menghitung kebutuhan volume septic tank sesuai dengan perkiraan buangan air limbah kotoran dari penghuni rumah. Menghitung kebutuhan luas lahan minimum yang dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan udara dan pencahayaan yang sehat maka di dapat luas minimum ruangan dalam rumah yaitu sebagai berikut :ruang tamu ukuran panjang 3m  x  lebar 2,5m  x tinggi 3,2m, dengan menggunakan lampu 40 watt, kamar tidur ukuran panjang 3m x lebar 2,5m x tinggi 3,2m, dengan menggunakan lampu 80 watt, dapur dan Ruang makan ukuran panjang 3m x lebar 2,5m x tinggi 3,2m, dengan menggunakan lampu 40 watt, WC/Shower ukuran panjang 1,5m x lebar 1,5m x tinggi 2,75m, dengan menggunakan lampu 20 watt, tinggi teras tidak perlu dihitung karena udaranya bebas, hanya ditentukan tingginya 2,4m minimum,dengan menggunakan lampu 8 watt
PERHITUNGAN RENCANA ANGGARAN BIAYA STRUKTUR INDUK GEDUNG REKTORAT UNIVERSITAS MUARA BUNGO Radinal Radinal; Suripto Suripto; Suwarjo Suwarjo
Jurnal KOMPOSITS Vol 1, No 2 (2020): September, Jurnal KOMPOSITS
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/jkts.v1i2.580

Abstract

Universitas Muara Bungo (disingkat UMB) adalah perguruan tinggi swasta yang berada di Kabupaten Bungo Provinsi Jambi. Pengembangan sarana dan prasarana kampus diperlukan untuk peningkatan pendidikan di Kabupaten Bungo. Untuk mewujudkan peningkatan pendidikan yang baik dalam sebuah pembangunan perlu adanya perencanaan yang jelas. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui besarnya Rencana Anggaran Biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan Struktur Induk Gedung Rektorat Universitas Muara Bungo.  Pada penelitian ini menggunakan  metode penelitian deskriptif.  Data yang digunakan pada penelitian ini  berupa data primer dan data skunder. Tahapan dalam penelitian ini yaitu dengan melakukan Perhitungan volume berdasarkan gambar rencana selanjutnya menganalisa harga satuan pekerjaan untuk mengetahui besaran biaya per item pekerjaan. Perhitungan Anggaran Biaya ini berdasarkan peraturan SNI, dimana dalam menganalisa harga satuan pekerjaan  mengacu pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor : 28/PRT/M/2016. Berdasarkan perhitungan volume dan analisa perhitungan biaya pada item struktur utama (pekerjaan struktur utama yaitu pondasi, sloof, kolom, plat lantai), didapat hasil perhitungan RAB sebesar Rp. 23,726,828,007.13

Page 1 of 4 | Total Record : 31