cover
Contact Name
Media Pustakawan
Contact Email
media.pustakawan@gmail.com
Phone
+6287876564261
Journal Mail Official
media.pustakawan@gmail.com
Editorial Address
Jalan Salemba Raya No.28 A, Pusat Pembinaan Pustakawan
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Pustakawan
Published by Perpustakaan Nasional
ISSN : 08529248     EISSN : 26853396     DOI : https://doi.org/10.37014/medpus
Core Subject : Science,
Jurnal Media Pustakawan merupakan terbitan Perpustakaan Nasional, Pusat Pembinaa Pustakawan(Pusat Pembinaan Pustakawan) yang berfokus pada bidang ilmu perpustakaan dan informasi khususnya yang berhubungan dengan pengembangan kepustakawanan . Artikel Jurnal yang diterbitkan merupakan hasil kajian atau penelitian yang dapat bersumber dari studi literatur, studi lapangan, eksperimen, dan implementasi dari konsep, teori & model di bidang kepustakawanan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 227 Documents
Analisis Usulan Kebutuhan Koleksi e-Resources Perpustakaan Perguruan Tinggi Negeri untuk Diadakan Perpustakaan Nasional Zen, Adriati; Septiadi, Edithya; Purnomowati, Diyah
Media Pustakawan Vol 24, No 1 (2017): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.196 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v24i1.161

Abstract

Perpustakaan Nasional sebagai benteng terakhir dari semua jenis perpustakaan yang ada di Indonesia, berusaha menyediakan koleksi yang dibutuhkan masyarakat serta menjalankan fungsinya sebagai pusat pendidikan seumur hidup (life-long education), pusat informasi, pelestarian kebudayaan, dan tempat rekreasi masyarakat dengan memberikan layanan kepada pemustaka sehingga kebutuhan informasi mereka dapat terpenuhi. Kebutuhan informasi setiap pemustaka, baik dilihat dari konteks psikologis, intelektual maupun sosial berbeda satu dengan yang lainnya. Analisis kebutuhan koleksi e-resources kali ini ditujukan pada Perpustakaan Perguruan Tinggi Negeri. Sebagai salah satu tahapan dalam mengembangkan dan membangun koleksi, khususnya untuk memperkuat koleksi e-resources yang dapat memenuhi kebutuhan informasi pemustaka serta dapat menjangkau lebih banyak pemustaka tanpa dibatasi ruang dan waktu. Untuk meningkatkan keakuratan penyediaan informasi bagi pemustaka, kemajuan teknologi diharapkan dapat mempermudah proses penyediaan, penelusuran dan penyajian informasi. Pemberian jasa perpustakaan dapat ditingkatkan kecepatan dan ketepatannya sehingga dapat memberikan kepuasan kepada pemustaka serta mampu meningkatkan keakuratan penyediaan informasi untuk kebutuhan pemustaka serta perencanaan dan pengembangan perpustakaan di masa depan.
Kerangka Analisis Kinerja Ikatan Pustakawan Indonesia dengan Pendekatan Balanced Scorecard Makarim, Luthfiati
Media Pustakawan Vol 18, No 1 (2011): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.484 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v18i1.806

Abstract

Abstrak Untuk mengetahui kinerja organisasi selama ini, IPI perlu mengevaluasi kinerjanya secara menyeluruh. Salah satu metode penilaian kinerja organisasi yang menyeluruh adalah balanced scorecard, yaitu model pengukuran kinerja organisasi yang mampu menerjemahkan visi dan strategi organisasi ke dalam seperangkat ukuran kinerja yang terpadu dan ke berbagai tujuan dan ukuran yang terukur; terdiri dari empat perspektif, yaitu finansial, pelanggan, proses bisnis internal serta pembelajaran dan pertumbuhan. Hasil yang diperoleh dapat memberi informasi tentang faktor yang mendorong keberhasilan organisasi saat ini dan di masa  datang. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja organisasi IPI sehingga diketahui aspek apa yang sudah baik dan aspek apa yang perlu ditingkatkan. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif (eksplanatif) dengan memakai data sekunder dari organisasi IPI, data primer dari kuesioner terstruktur yang diberikan kepada responden serta wawancara untuk mendapatkan informasi dan data yang relevan dengan penelitian. Responden meliputi anggota dan pengurus IPI. Data yang terkumpul diukur dengan menggunakan skala Likert lalu dianalisis dengan menghitung skor total masing-masing variabel dan indikatorindikatornya lalu ditabulasikan. Hasil penilaian atas kinerja organisasi IPI dapat terlihat dari skor total masing-masing variabel dan indikator-indikatornya.
MENYELARASKAN FUNGSI PERPUSTAKAAN DALAM PENGEMBANGAN KOLEKSI DENGAN PERATURAN PERUNDANGAN Kustanti, Eni
Media Pustakawan Vol 20, No 2 (2013): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.867 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v20i2.937

Abstract

Perpustakaan merupakan institusi yang didirikan atas amanat UUD 1945 dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Tetapi apakah koleksi yang selama ini dilayankan sudah sesuai dengan tujuan mulia tersebut?. Hal ini perlu di evaluasi secara berkesinambungan. Tulisan ini mengulas koleksi seperti apa yang seharusnya dilayankan di perpustakaan. Adanya beberapa sumber pengadaan bahan perpustakaan, diperlukan suatu proses seleksi yang komprehensif sesuai peraturan perundangan yang berlaku, beberapa diantaranya yaitu: Pembukaan UUD 1945 alinea 4, UU No. 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan dan UU No. 4 tahun 1990 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam. UU No.4 tahun 1990 ini berfungsi untuk mendukung pelaksanaan UU No. 43 tahun tahun 2007 dan tercapainya amanat pembukaan UUD 1945. Tidak bisa dipungkiri di zaman sekarang banyak sekali beredar karya cetak, karya rekam yang mengandung unsur-unsur negatif di dalamnya yang sudah seharusnya menjadi perhatian para pustakawan, karena merekalah yang menjadi ujung tombak ada tidaknya bahan perpustakaan yang dilayankan. Kegiatan seleksi bahan perpustakaan yang dilakukan oleh pustakawan sangat penting untuk mendukung pengembangan koleksi maupun mendukung fungsi perpustakaan itu sendiri. Dalam melakukan seleksi bahan perpustakaan harus mengacu amanat UUD 1945 dan Undang-undang No. 43 Tahun 2007, yaitu harus: mencerdaskan kehidupan bangsa, mampu mengembangkan potensi masyarakat agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan nasional.
Digitalisasi Manuskrip Nusantara Sebagai Pelestari Intelektual Leluhur Bangsa Hendrawati, Tuty
Media Pustakawan Vol 25, No 4 (2018): Desember
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.672 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v25i4.196

Abstract

Abstrak Keberadaan Manuskrip Nusantara yang tersebar diseluruh Indonesia saat ini masih banyak tersimpan di masyarakat dan belum mendapatkan perlindungan, perawatan dan pelestarian sebagaimana seharusnya dilakukan agar keberadaan naskah terpelihara. Perpustakaan Nasional RI melalui Pusat Preservasi Bahan Pustaka melakukan upaya penyelamatan Manuskrip Nusantara, baik dengan cara konservasi fisik ataupun dengan pelestarian kandungan informasi di dalamnya. Digialisasi manuskrip nusantara merupakan salah satu upaya pelestarian kandungan informasi yang terdapat pada manuskrip, sehingga apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada naskah aslinya, Perpustakaan Nasional masih menyimpan salinan naskah dalam format digital sebagai master preservasi. Adapun permasalahan yang dihadapi dalam kegiatan digitalisasi manuskrip nusantara antara lain, sulitnya teridentifikasi kepemilikan naskah perorangan yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia, masih kurangnya kepercayaan dari para pemilik naskah terhadap upaya pemerintah dalam melakukan tindakan pelestarian naskah, serta kondisi naskah yang sudah terlalu rusak dan sangat rapuh.
Proses Seleksi Koleksi Perpustakaan bagi Pengguna Disabilitas Mahmudah, Afdini Rihlatul; Riyadi, Aris
Media Pustakawan Vol 23, No 2 (2016): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7971.607 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v23i2.845

Abstract

Tulisan ini membahas tentang proses seleksi koleksi perpustakaan bagi layanan pengguna disabilitas. Proses seleksi koleksi perpustakaan merupakan sebuah ilmu yang terfokus pada pemilihan item yang terdaftar agar karya dan informasi di dalamnya dapat disebarluaskan dan menjadi pengetahuan untuk masyarakat. Penyeleksian dilakukan dengan mengidentifikasi kebutuhan koleksi berdasarkan subjek dan bentuk fisik materinya kemudian menentukan jumlah anggaran yang ada dan mengalokasikan dananya pada subjek atau kategori koleksi. Proses ini meliputi identifikasi, evaluasi, memutuskan pembelian dan persiapan pemesanan yang dilakukan oleh tim seleksi yang mengambil sumber informasi tentang item dengan menggunakan alat bantu seleksi. Terdapat empat konsep kontrak pengadaan yang dilakukan antara perpustakaan dengan vendor yang bekerjasama berupa standing order, blanked order, approval order, dan till forbidden. Karakter yang ada pada setiap perpustakaan dapat berbeda-beda menggunakan proses dan konsep seleksi bergantung pada jenis koleksi yang diprioritaskan oleh perpustakaan tersebut. Kebijakan seleksi mempengaruhi perpustakaan untuk menyediakan koleksi yang sesuai dengan permintaan dan kebutuhan penggunanya karena para pengguna disabilitas kesulitan mendapatkan informasi yang terdapat pada koleksi perpustakaan.
Pustakawan Idaman Masyarakat Pengguna Pada Badan Perpustakaan Propinsi Nusa Tenggara Timur Randan, Samuel
Media Pustakawan Vol 14, No 2 (2007): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.944 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v14i2.975

Abstract

Badan Perpustakaan Propinsi Nusa Tenggara Timur adalah Lembaga Pemerintahan Daerah yang bertugas membantu Gubernur dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai lingkup tugasnya di bidang perpustakaan, dokumentasi dan informasi. Agar dapat melaksanakan tugas dengan baik, sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya Badan Perpustakaan Propinsi Nusa Tenggara Timur membutuhkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas yaitu para pengelola  perpustakaan yang profesional. pustakawan yang profesional tidak hanya dituntut untuk menguasai penguasaan teknik perpustakaan saja, tetapi juga harus mempunyai kematangan etika, harus merasa terpanggil untuk menjadi pustakawan karena pustakawan adalah pelayan masyarakat yang selalu berhadapan dengan berbagai kalangan masyarakat. Penelitian ini dilakukan dengan penyebaran angket. dengan sampel 41 orang responden dan jumlah pertanyaan 21 ditambah dengan data responden sebanyak 4 pertanyaan. Hasil penelitian tersebut dianalisi dengan menggunakan metode deskriptif. Dari hasil penelitian yang diperoleh melalui analisis data yang terhimpun maka dapat disimpulkan bahwa pustakawan yang menjadi idaman masyarakat pengguna pada Badan Perpustakaan Propinsi Nusa Tenggara Timur adalah , Minimal berpendidikan S1 Ilmu Perpustakaan atau D3 Perpustakaan dan terus belajar untuk menambah pengetahuan dan wawasan di bidang perpustakaan serta menguasai informasi dan lokasi informasi. Baik laki-laki maupun perempuan dapat menjadi pustakawan, selalu berada di tempat duduknya, berpakaian dinas yang rapi dan bagi perempuan tidak menggunakan rok mini (terlalu pendek). Orangnya ramah, pandai bergaul dan suka menolong dalam mencari informasi. Pustakawan pada Badan Perpustakaan Propinsi Nusa Tenggara Timur cukup ramah dan dapat membantu mencari informasi. 
Cleaning Database Perpustakaan Perguruan Tinggi dengan Melakukan Sinkronisasi Data Akademik Berbasis Denda Saputra, Andi
Media Pustakawan Vol 25, No 2 (2018): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (575.196 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v25i2.271

Abstract

Abstrak Tagihan denda masih menjadi polemik di perpustakaan perguruan tinggi. Berbagai upaya sudah dilakukan supaya pemustaka segera mengembalikan buku pinjaman dan melunasi tagihan denda. Akan tetapi hanya sebagian dari mereka yang menyelesaikan kewajibannya. Terbuka kemungkinan sebagian dari mereka sudah tidak aktif lagi sebagai mahasiswa. Oleh karena itu perlu dilakukan sinkronisasi data dengan database akademik untuk memastikan status kemahasiswaannya. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan cleaning database perpustakaan melalui sinkronisasi data antara database perpustakan dengan database akademik, menggunakan instrumen denda. Prosesnya diawali dengan melakukan rekapitulasi data tunggakan. Kemudian diambil sampel data dari tunggakan yang jumlah dendanya melebihi batas toleransi. Diperoleh sebanyak 198 mahasiswa yang tagihan dendanya melebihi batas. Data tersebut dikirimkan ke pengelola data akademik universitas untuk diperiksa status kemahasiswaannya. Setelah dilakukan sinkronisasi ternyata hanya 69% mahasiswa yang menunggak denda yang masih aktif, sisanya 31% sudah tidak aktif lagi sebagai mahasiswa Unand, ada yang keluar, pindah, drop out, dan lulus. Diantara mahasiswa aktif ternyata hanya 60% yang melakukan registrasi pada semester yang sedang berjalan. Bagi mahasiswa yang masih aktif, dikirimkan daftar tagihan ke fakultas masing-masing. Sedangkan yang tidak aktif, dilakukan proses cleaning di dalam pangkalan data, dengan mengeluarkan mahasiswa yang bersangkutan dari keanggotaan, denda dari transaksi yang tertunggak dihapuskan, dan buku yang dipinjamnya dirubah statusnya menjadi hilang.
Kelompok Kerja Tenaga Fungsional Pustakawan Sebagai Sarana Menuju Pustakawan Profesional: Contoh Kasus Di Lingkungan Perpustakaan Nasional RI Santoso, Wartini
Media Pustakawan Vol 17, No 3&4 (2010): SEPTEMBER & DESEMBER
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.731 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v17i3&4.881

Abstract

Kondisi lingkungan bekerja sangat mempengaruhi terbentuknya jiwa, sikap mental dan kinerja pustakawan sebagai pengawai negeri sipil yang lebih mengedepankan profesionalitas sebagai tolok ukur penilaiannya. Pustakawan Perpustakaan Nasional RI misalnya, keterpurukannya (tidak pede atau nyaman dengan profesinya menurut padangan umum tentang pustakawan Prof. DR. Azyumardi Azra, 2005) lebih disebabkan karena terposisikan sebagai staf bidang dan tidak adanya pembinaan profesi yang terorganisir akibat dari belum berfungsinya ”sarang tawon” sebagai wadah pustakawan yang telah disediakan, di samping masih banyaknya pustakawan hasil impasing. Untuk dapat merubah citra ini, selain dengan peningkatan kompetensi, dengan self-esteem dan self-respect perlu adanya peran aktif Perpustakakan Nasional RI sebagai institusi induk yang berperan ganda pula sebagai pembina sumber daya perpustakaan, termasuk di dalamnya pustakawan. Makalah ini berusaha mengungkap kondisi lapangan pustakawan Perpustakaan Nasional RI
Persepsi Pustakawan Perpustakaan Umum terhadap Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Alam, Niswa Nabila Sri Bintang; Kamil, Rusdan
Media Pustakawan Vol 28, No 2 (2021): Agustus
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7796.979 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v28i2.1252

Abstract

The National Library of Indonesia launched a social inclusion-based library transformation program based on the library for all movement in collaboration with the Ministry of National Development Planning / BAPPENAS. In 2019, all libraries participating in this program totaled 359 public libraries spread across all provinces in Indonesia. The purpose of this study was to determine the perceptions of general librarians in Indonesia towards social inclusion-based library programs that have been implemented for the last two years. Two previous studies related to librarian perception research and the development of social transformation programs are the basis for the development of this research. The population in this study was 2477 librarians who work in public library institutions in Indonesia from various levels ranging from central to the village, while the determination of the research sample was carried out by simple random sampling technique with a confidence level of 94.5% and a margin of error of 5.7% so that 273 respondents were obtained. The research results are expected to provide input on national strategies and policies for the implementation of a social inclusion-based library transformation program.
Kejahatan Dunia Maya Bidang Akademik Winata, Arda Putri
Media Pustakawan Vol 26, No 4 (2019): Desember
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.125 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v26i4.575

Abstract

Perkembangan teknologi informasi berbasis komputer dan jaringan internet sangat pesat di masyarakat. Perkembangan ini terjadi di hampir semua bagian dunia yang berdampak pada globalisasi dunia bisnis. Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dengan jaringan internet, menghadirkan dunia kedua, ruang cyber. Orang yang tidak bertanggung jawab menggunakan ini untuk mendapatkan keuntungan. Mereka tidak segan melakukan kejahatan dunia maya di bidang akademik untuk mendapat untung. Dan bagaimana dengan pustakawan? Apakah itu peran pustakawan? Metode yang digunakan dalam makalah ini adalah tinjauan literatur. Sumber data diperoleh melalui studi beberapa literatur. Di Indonesia, kejahatan dunia maya di dunia akademik selama 2013-2018 telah ditemukan. Temuan ini ada di situs resmi sistem peringkat kredit dosen. Paling tidak dapat disimpulkan bahwa ada empat jenis kejahatan dunia maya yang terjadi di Indonesia, yaitu plagiarisme, penerbitan predator, pencurian identitas dan konferensi palsu. Selain itu, pustakawan dapat memainkan peran aktif dalam mencegah kejahatan dunia maya di dunia akademik dengan berbagai cara seperti menyediakan layanan literasi informasi, berkolaborasi dengan pihak-pihak terkait untuk membuat kebijakan penulisan ilmiah, terlibat dalam seminar tentang plagiarisme, meningkatkan platform dan memastikan keamanan sumber informasi, memberikan pelatihan tentang penggunaan alat referensi dan hal-hal lain. Pustakawan sebagai mitra untuk akademisi harus berperan dalam mencegah kejahatan digital sehingga semua akademisi merasa aman dalam menciptakan pekerjaan untuk mendidik kehidupan bangsa secara berkelanjutan.

Page 1 of 23 | Total Record : 227