cover
Contact Name
Suryani Dyah Astuti
Contact Email
jurnal.biosains@pasca.unair.ac.id
Phone
+6281232977983
Journal Mail Official
jurnal.biosains@pasca.unair.ac.id
Editorial Address
Postgraduate School of Universitas Airlangga Airlangga Street No. 4-6, Campus B of Universitas Airlangga , Airlangga Street, Gubeng District, Surabaya, East Java, Indonesia Postal Code 60286 Telephone 031-5041566, 5041536 Facsimile 031-5029856
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Biosains Pascasarjana
Published by Universitas Airlangga
Jurnal Biosains Pascasarjana is published not only for the publication of research results from graduates, as one of the graduation requirements but also for public that contains a discussion of the natural content, responses of living things, and their environment.
Articles 114 Documents
Pengaruh Lama Paparan Suhu Kamar Terhadap Kualitas DNA pada Pemeriksaan SWAB Earphone dalam Penentuan Jenis Kelamin Toetik Koesbardiati, Aris Saputro Ahmad Yudianto
Jurnal Biosains Pascasarjana Vol. 17 No. 1 (2015): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.4 KB) | DOI: 10.20473/jbp.v17i1.2015.33-45

Abstract

AbstrakMetode identifikasi meliputi sidik jari, property, medis, gigi,dan analisis DNA. Spesimen yang banyak dipakai dalam pemeriksaan DNA dalam mengidentifikasi adalah spesimen yang terdapat bercak darah, bercak semen,  vaginal swab, buccal swab dan tulang. Selain spesimen tersebut terdapat pula benda yang sering digunakan pelaku/korban terakhir kalinya. Misalnya  alat Bantu dengar handphone (headset/earphone). Dalam penggunaannya earphone menempel pada kulit telinga bagian luar sehingga diduga adanya serumen yang menempel pada alat tersebut. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kualitas DNA misal lama paparan. Sampai saat ini di Indonesia  efek lama paparan suhu kamar terhadap kualitas DNA pada bahan DNA swab earphone melalui analisis DNA  belum banyak diketahui. Jenis penelitian ini adalah observasional laboratoris. earphone yang telah digunakan sebelumnya kemudian terpapar suhu kamar  dalam  waktu 1, 7, 14 dan 20 hari. Dari hasil penelitian ini efek lingkungan yakni lama paparan dengan adanya penurunan kadar DNA, menunjukkan penurunan kadar cukup signifikan dari hari ke 1 sampai ke 20. Hanya pada sampel hari ke 1 yang masih menunjukkan terdeteksi pada lokus amelogenin (X :106bp &   Y : 112bp) serta hari ke 7 hanya 1 buah sampel yang masih dapat terdeteksi.   Dari hasil analisis dalam  penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut: terdapat pengaruh lama waktu paparan suhu kamar terhadap kualitas DNA dari bahan swab earphone. Penurunan kadar DNA swab earphone menunjukkan nilai signifikansi (p<0.005) terhadap pengaruh lama waktu paparan suhu kamar..Kata kunci : swab earphone, Kualitas DNA, Amelogenin
Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Umbi Bawang Dayak (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb.) Secara Oral pada Mencit BALB/C Terhadap Pencegahan Penurunan Jumlah Sel yang Terekspresi IFN-ɤ dan Peningkatan Jumlah Sel yang Terekspresi CD 14 Toemon, Angeline Novia
Jurnal Biosains Pascasarjana Vol. 17 No. 3 (2015): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1427.508 KB) | DOI: 10.20473/jbp.v17i3.2015.172-185

Abstract

ABSTRAKEkstrak Etanol Bawang Dayak mengandung senyawa-senyawa turunan Naphtoquinones dan turunannya, Naphtoquinones tersebut merupakan senyawa antimikroba, antifungal, antiviral, antiparasitik, memiliki bioaktivitas anti kanker dan anti oksidan. Kandungan fitokimia pada bawang dayak diyakini sebagai metabolik sekunder. Unsur Fitokimia pada bawang dayak yaitu Tanin sebagai antioksidan, Alkaloid sifat basanya memepermudah dekomposisi sinar UV, Glikosida ,Steroid, Flavonoid berkaitan dengan inakativasi karsinogen, anti proliferasi, penghambatan siklus sel, induksi apoptosis,differensiasi,inhibisi,angiogenesis serta mencegah resistensi multi therapi.Imunotherapi Supresi suatu metode terapi yang berfungsi menekan sistem imun. Contoh bahan obat yang berkaitan dalam metode tersebut adalah golongan Glukokortikoid. Kortikosteroid merupakan obat yang mudah ditemukan serta luas penggunaanya di klinik. Begitu luasnya penggunaan kortikosteroid ini bahkan banyak yang digunakan tidak sesuai dengan indikasi maupun dosis dan lama pemberian dapat menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan. Prednisolon mempunyai efek glukokortikoid yang dominan dan merupakan kortikosteroid oral yang paling sering digunakan dalam terapi supresi penyakit jangka panjang. Berdasarkan hal tersebut perlu dipikirkan obat dari bahan alam yang mencegah penurunan imun sistem akibat pemberian kortikosteroid. Pada pemakaian kortikosteroid jangka panjang, jika imun sistem tidak dipertahankan dan  penurunan imun sistem akan terjadi infeksi dan kematian.   Aktivasi makrofag dapat dilakukan oleh mediator yang dilepaskan oleh limfosit yang dirangsang antigen pada permukaannya. Aktivasi makrofag dapat pula oleh induksi komponen komplemen,interferon (IFN) atau endotoksin (LPS) produk bakteri. Aktivasi makrofag memerlukan rangsangan non spesifik. Makrofag sebagai fagosit profesional menghancurkan patogen melalui beberapa reseptor merangsang produksi substansi mikrobial melalui CD14.Tujuan penelitian ini ingin membuktikan efek pemeberian ekstrak EEUBD terhadap pencegahan penurunan jumlah sel yang terekspresi IFN-ɤ  dan peningkatan jumlah sel yang terekspresi CD 14.Hewan coba yang digunakan adalah mencit jantan strain BALB/C umur 12 minggu,BB 25-30 gram. Dilakukan random alokasi 30 ekor mencit, yang dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu kelompok 1 sampai kelompok 5 masing–masing sebanyak 6 ekor mencit. Mencit pada kelompok 1 atau kontrol tidak diberikan Metilprednisolon dan EEUBD. Mencit kelompok 2 diberikan Metilprednisolon.  Mencit pada kelompok 3-5 diberikan Prednisolon dan EEUBD dengan konsentrasi 50 mg/kgBB, 100 mg/kgBB dan 200 mg/kgBB.Mencit pada kelompok 1 diberi sonde larutan CMC Na+ 0,5 % sebanyak 0,1ml/10gBB1x/hari (volume lambung mencit sekitar 0,5 - 1 cc) setiap hari selama 14 hari (waktu yang diperlukan untuk terbentuknya respon imun ialah 10 hari, maka peneliti menetapkan 14 hari untuk mengurangi risiko kegagalan). Mencit pada kelompok 2 diberi sonde larutan metilprednisolon oral 0,08 mg/30 grBB mencit/hari. Mencit pada kelompok 3 diberikan sonde larutan metilprednisolon dan ekstrak umbi bawang dayak konsentrasi 50 mg/kgBB setiap hari selama 14 hari. Mencit pada kelompok 4 diberikan sonde larutan metilprednisolon dan ekstrak umbi bawang dayak konsentrasi 100 mg/kgBB setiap hari selama 14 hari. Mencit pada kelompok 5 diberikan sonde larutan metilprednisolon dan ekstrak umbi bawang dayak konsentrasi 200 mg/kgBB setiap hari selama 14 hari.Hasil yang didapat  adalah Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh pemberian  ekstrak etanol umbi bawang dayak (Eleutherine bulbosa (mill.) urb.) secara oral pada mencit BALB/C  terhadap pencegahan penurunan jumlah sel yang terekspresi IFN-ɤ secara bermakna dan peningkatan jumlah sel yang terekspresi CD 14 yang kurang bermakna.Jumlah sel  pengekspresi CD 14 pada kelompok pemeberian dosis 200 mg/kgBB EEUBD dan Metil Prednisolon ( P3) lebih tinggi secara bermakna dibandingkan dengan kelompok tanpa pemberian ekstrak EEUBD (K) dan kelompok model (Metil prednisolon), dimana nilai rerata dan simpangan baku untuk kelompok P3 (4,9000  ± 1,54406). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh pemberian EEUBD  pada mencit BALB/C terhadap peningkatan jumlah sel pengekspresi CD 14 secara bermakna.Analisis hubungan antara jumlah sel penghasil IFN-ɤ dengan jumlah sel pengekspresi CD 14, hasil statistika uji korelasi antara jumlah sel penghasil IFN-ɤ dengan jumlah sel pengekspresi CD14 menunjukkan hubungan ditemukan hasil yang bermakna (signifikan) adalah 0,005 (CD14) dan kurang signifikan pada nilai  0,054 (IFN-ɤ).Pada Uji Komparasi  Ganda dengan Post Hoc Tests Games-Howell dari jumlah  sel pengekspresi CD14 tabel 5.4 di atas, menunjukkan hasil yang bermakna /signifikan pada p<0,05 pada kelompok perlakuan bila pemberian EBD 200 mg/KgBB terhadap pemberian obat Metil Prednisolon. Serta pada jumlah sel Interferon Gamma, menunjukkan hasil yang bermakna / signifikan (p<0,05) pada kelompok perlakuan pemberian EBD 200 mg/KgBB  terhadap pemberian obat Metil Prednisolon.Dari hasil penelitian tersebut dapat dikatakan Aktivasi Makrofag yang dilihat dari peningkatan jumlah sel yang terekspresi CD 14 diikuti dengan peningkatan aktivitas atau jumlah sel IFN - ɤ. Peningkatan yang kurang bermakna dari IFN-ɤ dari penelitian ini kemungkinan dalam peran  sel T CD 8+ yang berperan dalam mengsekresikan IFN-ɤ   kurang teregulasi secara optimal serta bisa saja sel yang mengekspresikan IFN gamma terikat sebagian dalam pengecatan Imunohistokimia dengan metode pewarnaan Double Stain.Penelitian ini menyimpulkan Ekstrak Etanol Umbi Bawang Dayak (EEUBD) dosis 200 mg/kg BB mempengaruhi peningkatan jumlah sel yang mengekspresikan CD 14 pada mencit BALB/C . Peningkatan jumlah sel yang mengekspresikan CD 14 ini menunjukkan  peningkatan aktivasi makrofag.Peningkatan ekspresi IFN gamma pada dosis 200 mg/kgBB pada perlakuan mencit BALB/C kontrol dengan CMC Na menunjukkan bahwa EEUBD kurang bermakna dalam penelitian ini karena dengan pengecatan Double Stain yang tidak tercat atau terikat baik seperti yang diharapkan sehingga bisa saja sel yang mengekspresikan IFN gamma terikat sebagian dalam pengecatan.Peningkatan jumlah sel yang mengekspresikan CD 14 dimana meningkatkan makrofag yang aktif ini menunjukkan bahwa peran EEUBD ini dalam respon imun  , berperan dalammengeluarkan substansi penting termasuk enzim,lisozim  dimana akan memusnahkan bakteri atau benda asing.  Kata Kunci : ekstrak umbi bawang dayak , imunosupresi , aktivasi makrofag,sitokin IFN-ɤ , respon imun.
Potensi Ekstrak Etanol Bawang Dayak (Eleutherine americana Merr.) sebagai Protektor Diameter Tubulus Seminiferus Mencit (Mus musculus) Balb/C yang di Induksi Timbal Asetat Gayatri, Paramita Ratna
Jurnal Biosains Pascasarjana Vol. 19 No. 2 (2017): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.033 KB) | DOI: 10.20473/jbp.v19i2.2017.189-196

Abstract

 Abstrak  Timbal merupakan salah satu bahan pencemar udara  yang berpengaruh pada kesehatan organ reproduksi pria. Polusi udara oleh logam berat ini menyebabkan terbentuknya Reactive Oxygen Species dan penurunan simpanan antioksidan tubuh. Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi ekstrak etanol bawang dayak untuk mempertahankan diameter tubulus seminiferus pada mencit yang diinduksi timbal asetat. Jenis penelitian ini adalah eksperimental murni laboratorik (true experimental) dengan rancangan penelitian Posttest Only Control Group Design. Subyek penelitian adalah 30 mencit (Mus musculus) jantan strain Balb/C yang diinduksi timbal asetat 0,75mg/KgBB/hari dan dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan, yaitu kelompok kontrol negatif (K0), kelompok kontrol positif (K1), dan kelompok perlakuan dengan pemberian ekstrak bawang 30mg/KgBB/hari (K2), 60mg/KgBB/hari (K3), 120mg/KgBB/hari (K4). Pada hari ke 39, hewan coba dikorbankan untuk diukur diameter tubulus seminiferusnya. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna diameter tubulus seminiferus kelompok kontrol dan perlakuan. Kesimpulan penelitian ini ekstrak etanol bawang dayak tidak mempengaruhi diameter tubulus seminiferus mencit yang di induksi timbal asetat Kata kunci : ekstrak etanol bawang dayak, diameter tubulus seminiferus , timbal asetat
Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Umbi Bawang Dayak (Eleuthrine Palmifolia (L.) Merr) Secara Oral pada Mencit BALB/c Terhadap Pencegahan Penurunan Jumlah NK Sel dan CD 8+ Meiliana, Nelly
Jurnal Biosains Pascasarjana Vol. 18 No. 1 (2016): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.905 KB) | DOI: 10.20473/jbp.v18i1.2016.13-23

Abstract

ABSTRAK Penentuan kemampuan ekstrak etanol umbi bawang dayak (Eleutherine Palmifolia (L.) Merr) sebagai imunoprotektor dan imunomodulator terhadap mencit BALB/c melalui pengamatan jumlah sel pengekspresi CD 56+ dan CD 8+ dengan menggunakan metode Imunohistokimia. Analisis statistik dengan Anova satu arah dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) menunjukkan bahwa ekstrak etanol umbi Bawang Dayak menunjukkan hasil beda bermakna (signifikan) pada sel pengekspresi CD 8+ sedangkan sel pengekspresi CD 56+ menunjukkan hasil tidak berbeda (nonsignifikan). Hal ini berarti ekstrak etanol umbi Bawang Dayak berpotensi sebagai imunomodulator dan imunoprotektor pada sel sitotoksik (CD 8+) untuk imunitas seluler. Ekstrak etanol umbi Bawang Dayak  berdasarkan jumlah rerata meningkat pada sel pengekspresi CD 56+, namun masih sangat rendah sehingga hasil uji tidak signifikan. Kata kunci : imunomodulator, imunoprotektor, bawang dayak, ekstrak etanol
Spot Urine for Sex Determination Forensic Identifications with Amelogenin Locus and Y chromosomes (DYS 19). Bercak Urin untuk Identifikasi Forensik Jenis Kelamin dengan Lokus Amelogenin dan Y Kromosom (DYS19) Sispita Sari, Yeti Eka
Jurnal Biosains Pascasarjana Vol. 20 No. 3 (2018): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.809 KB) | DOI: 10.20473/jbp.v20i3.2018.180-193

Abstract

AbstractBackground:  Amelogenin gene was a single copy gene located in an X chromosome and a Y chromosome. The location of amelogenin gene for identification of sex chromosome has good variability between the form and the shape of the X chromosome and the Y chromosome and between Amelogenin alleles among different populations. Purpose: To prove urine spot examination on the results of the sex determination through Deoxyribo Nucleid Acid (DNA) isolation using amelogenin and Y chromosome loci (DYS19). Methods: Spotting the microscopic examination of urine samples to determine the presence or absence of urethral epithelial cells, followed by isolation Deoxyribo nucleid Acid (DNA) in order to determine the extent and purity of DNA amplification. Then performed Polymerase Chain Reaction (PCR) amelogenin locus at 106bp - 112bp and Y chromosomes (DYS19) at 232 -268 bp. Results: in 9 samples of men from 3 families with 3 kinship of different regions shows the results of different tests, because Amel Y variation between individual and populations method of determining the sex of 100% was inaccurate. In some men Amel Y can be removed entirely. This research should be visualized one band on the Y chromosome (DYS19) and the Amelogenin two bands during electrophoresis occurs misidentification of the sample as a woman. Conclusions: Identification of sex using Amelogenin locus and Y chromosomes (DYS19) has six identical and ambiguous results because the two samples shown as the sign of men but visualized as women, another sample was not visualized because of the thick level and concentration of Deoxyribo nucleid Acid (DNA).Keywords: Urine Spot, Sex Determination, Amelogenin, Y chromosome (DYS19).
Pengaruh Meniran Dosis Bertingkat Terhadap Ekspresi IGF-1 Dan Ketebalan Endometrium Pada Mencit Betina Model Endometriosis Widyawaty, Eka Deviany
Jurnal Biosains Pascasarjana Vol. 20 No. 1 (2018): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.239 KB) | DOI: 10.20473/jbp.v20i1.2018.9-21

Abstract

Abstrak Endometriosis menyebabkan 10-15% dari nyeri panggul dan infertilitas pada wanita usia reproduksi. Walaupun endometriosis dapat mempengaruhi infertilitas, tetapi mekanisme dari hal tersebut sampai sekarang masih belum diketahui secara pasti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol herba meniran (Phyllanthus niruri L.) dosis bertingkat terhadap ekspresi Igf-1 dan ketebalan endometrium pada mencit (Mus musculus) betina model endometriosis. Sampel penelitian ini adalah mencit (Mus Musculus) betina model endometriosis. Pada hari ke-15, Kelompok Kontrol (K1) diberi Na CMC 0,5 % dan Kelompok perlakuan (K2), (K3), (K4) diberi ekstrak herba etanol herba meniran dosis 14 mg/20 gBB, 28 mg/20gBB, dan 56 mg/20gBB. Pada hari ke-29 dilakukan pembedahan dan pengambilan sampel endometrium dengan pemeriksaan imunohistokia pada ekspresi IGF-1 dan pewarnaan Hematoxylin-eosin pada ketebalan endometrium. Uji statistik menunjukkan bahwa ada pengaruh pemberian ekstrak etanol herba meniran (Phyllantinus niruri L.) dosis bertingkat terhadap ekspresi IGF-1 dengan nilai p = 0,041 < 0,05 dan ada pengaruh pemberian ekstrak etanol herba meniran (Phyllantinus niruri L.) dosis bertingkat terhadap ketebalan endometrium dengan nilai p = 0,021 < 0,05. Pemberian ekstrak etanol herba meniran (Phyllanthus niruri L.) dosis bertingkat pada mencit (Mus musculus) betina  model endometriosis dapat meningkatkan ekspresi Igf-1 dan ketebalan endometriosis.  Kata Kunci        :    Ekstrak etanol herba meniran, ekspresi IGF-1, ketebalan endometrium
Multi Ultrasonic Electronic Travel Aids (MU-ETA) Sebagai Alat Bantu Penunjuk Jalan Bagi Tuna Netra Aktanto, Mujtahid
Jurnal Biosains Pascasarjana Vol. 18 No. 2 (2016): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1008.624 KB) | DOI: 10.20473/jbp.v18i2.2016.150-161

Abstract

AbstrakTujuan dari penulisan jurnal ini adalah untuk mendesain sebuah instrument berupa Electronic Travel Aids (ETA) yang dapat mendeteksi halangan pada 3 bagian tubuh sekaligus yaitu bagian kepala, dada dan kaki. ETA ini berbasis Mikrokontroler ATMEGA32 dan menggunakan sensor ultrasonik HC-SR04. Multi Ultrasonik Electronic Tavel Aids ini digunakan sebagai alat pemandu bagi penderita tuna netra. Dalam mengukur ketepatan jarak baca terhadap halangan, kalibrasi dari sensor ultrasonik HC-SR04 sangat diperlukan. Data yang telah di uji dari masing-masing sensor dihitung untuk mendapat hasil error rate dan standart deviasi. Dan terakhir, data-data tersebut diolah pada stastistik dan dihitung dengan kalkulasi menggunakan metode uji T-Test berpasangan agar mendapatkan hasil sesuai dengan jarak yang ada.Sesuai dengan hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa sensor HC-SR04 dapat diteima sebagai pengganti alat pengukuran jarak dikarenakan hasil pembacaan Error Rate dan standart deviasi.pada alat. Setelah sensor ultrasonic dapat diterima sebagai alat untuk mengukur jarak, baru dibuat logika output berdasarkan sensor yang ada agar dapat mengenali benda yang ada di depan.Kata kunci—3-5 mikrokontroler, ATMEGA32, Ultrasonik  Sensor, Tuna Netra, Visually Impaired, Electronic Tavel Aids(ETA) Halangan/Obstacle
Kasus Scabies (Sarcoptes Scabiei) Pada Kucing Di Klinik Intimedipet Surabaya Susanto, Heri
Jurnal Biosains Pascasarjana Vol. 22 No. 1 (2020): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.092 KB) | DOI: 10.20473/jbp.v22i1.2020.37-45

Abstract

AbstrakSarcoptes  scabiei  merupakan salah satu ektoparasit yang biasa menyerang kucing. Tungau ini hidup pada kulit dengan membuat terowongan pada stratum corneum dan melangsungkan hidupnya pada tempat tersebut (Henggae et al, 2006). Penyakit skabies dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan hewan lain yang terkena skabies atau dengan adanya sumber tungau skabies di wilayah tempat tinggal kucing (Wardhana et al, 2006). Hewan terserang mengalami penurunan kondisi tubuh, menimbulkan dampak negatif bagi pemelihara dan lingkungan.Studi kasus ini dilakukan dengan cara mengambil data pasien kucing melalui pengamatan langsung dengan melakukan pemeriksaan fisik hewan, dilanjutkan diagnosa oleh Dokter Hewan di Klinik Intimedipet, kemudian dilakukan pengobatan skabies. Parameter yang diamati dalam kegiatan ini berupa kondisi menyeluruh kucing yang diperiksa dan penanganan yang diberikan untuk kasus yang menderita skabies.Berdasarkan data yang diperoleh pada tabel 1 umur kucing yang terkena skabies di Klinik Intimedipet rata-rata berumur kurang dari satu tahun, kemungkinan tertular dari induk yang sudah terinfeksi scabies sebelumnya. Sedangkan dari jenisnya 80% menyerang anak2 kucing Persian yang berbulu panjang. Saran yang perlu disampaikan  bahwa penyakit skabies merupakan penyakit zoonosis, sehingga apabila hewan peliharaan yang terserang penyakit skabies sebaiknya segera dilakukan pengobatan secara intensif.  Kata kunci—Scabies, kucing, klinik Intimedipet
Identifikasi KHV dengan Uji Immunofluorescence dan Immunocytochemistry Berdasarkan Uji Polymerase Chain Reaction Positif KHV pada Ikan Koi (Cyprinus carpio) Surfianti, Oktarina
Jurnal Biosains Pascasarjana Vol. 18 No. 3 (2016): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.318 KB) | DOI: 10.20473/jbp.v18i3.2016.267-282

Abstract

AbstrakKoi Herpesvirus (KHV) menyebabkan penyakit parah dan kematian di segala usia ikan mas dan ikan koi (Cyprinus carpio) dan menyebar dengan cepat di seluruh dunia sebagai penyebab mortalitas yang sangat tinggi dengan perkiraan (80-95%) untuk ikan koi dan ikan mas. Identifikasi KHV ini sudah dilakukan dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR). Tetapi, metode tersebut tidak cocok untuk pekerjaan lapangan karena belum efisien dalam hal waktu dan peralatan.  Perlu ada pemeriksaan berbasis imunologis sebagai identifikasi awal (pemeriksaan dini) yang  belum banyak dilakukan dan perlu dikembangkan terutama untuk pemeriksaan KHV yaitu metode Immunofluorescence sebagai pemeriksaan imunologis untuk identifikasi adanya antigen atau dengan menggunakan pewarnaan fluorescent dan immunocytochemistry menggunakan metode imuno histo (sito) kimia ensim yang bersifat spesifik dengan pewarnaan oleh zat chromogen guna mengidentifikasi antigen dalam suspensi organ insang dan darah. Tujuan dari penelitian ini adalah agar mampu mengidentifikasi  KHV (Koi Herpes Virus) yang menginfeksi ikan koi (Cyprinus carpio L) menggunakan metode aplikasi Immunofluorescence serta Immunocytochemistry berdasarkan pemeriksaan menggunakan uji PCR dengan hasil positif KHV.Hasil dari kedua metode diperoleh positif untuk beberapa sampel berdasarkan positif PCR, ditandai dengan adanya pendaran oleh zat fluorescein berwarna hijau pada antigen KHV dengan pemeriksaan metode Imunofluorescence dan adanya ekspresi zat chromogen pada antigen berwarna coklat kemerahan pada antigen KHV dengan pemeriksaan Imunocytochemistry. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua metode tersebut mampu mengidentifikasi KHV dan dapat digunakan sebagai uji pemeriksaan dini KHV berbasis imunologis.  Kata kunci: Koi Herpesvirus, Ikan koi (Cyprinus carpio), Imunofluorescence, Immunocytochemistry
Optimalization Image Of Turbo Spin Echo (TSE) With Pre Saturation And Gradient Moment Nulling (GMN) To Reduce Flow Artifact On MRI Cervical Ula, Kiki Rohmatul
Jurnal Biosains Pascasarjana Vol. 21 No. 2 (2019): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.462 KB) | DOI: 10.20473/jbp.v21i2.2019.57-70

Abstract

ABSTRACTThe  research  of  Optimization  Image  of  Turbo  Spin  Echo  (TSE)  with  Pre saturation and Gradient Moment Nulling (GMN) to reduce flow artifact on MRI Cervical has been done. The purpose of this research is to know the effect of pre saturation and gradient moment nulling (GMN) on cervical MRI and determine optimal image to reduce flow artifact. This research used four treatment variations that were without pre saturation and without flow compensation (GMN), with pre saturation, with flow compensation (GMN), and with both pre saturation and flow compensation (GMN) on sequence T2-weighting TSE sagital on cervical MRI. The quantitative analysis done by using Region of Interest (ROI) on MRI image then analyzed signal to Noise Ratio (SNR) and Contrast to Noise Ratio (CNR). The best effect and image quality obtained by pre saturation and flow compensation (GMN) treatment with SNR value on tissue was 328,7 at vertebra cervical, 278,6 at spinal cord, 366,6 at discus, 596,3 at CSF. While CNR tissue value was 78,6 at vertebra cervical, 257,6 at spinal cord, 274,8 at discus, and336,3 at CSF followed by the decrease of flow artifact in the amount of 160,4. Conclusion shows that the image with both pre saturation and flow compensation (GMN) treatment on T2 TSE sagital can reduce flow artifact signal on the spinal cord tissue. Keywords : Pre saturation, flow compensation, gradient moment nulling (GMN), MRI Cervical.

Page 1 of 12 | Total Record : 114