cover
Contact Name
Eko Ariwidodo
Contact Email
eko.ariwidodo@iainmadura.ac.id
Phone
+6285231042871
Journal Mail Official
jurnalkarsa@iainmadura.ac.id
Editorial Address
Gedung Rektorat Lt.2, Institut Agama Islam Negeri Madura, Jl. Raya Panglegur km.4 Pamekasan 69371
Location
Kab. pamekasan,
Jawa timur
INDONESIA
KARSA: Jurnal Sosial dan Budaya Keislaman (Journal of Social and Islamic Culture)
ISSN : 24423289     EISSN : 24424285     DOI : https://doi.org/10.19105/karsa
KARSA is a peer-reviewed national journal published by Institut Agama Islam Negeri Madura. It has been nationally accredited SINTA 2 since 2017 by Ministry of Research Technology and Higher Education of Republic Indonesia. It is published twice a year (June and December). It publishes articles of research results, applied theory studies, social issues, cultural studies, and Islamic culture issues. The aim of KARSA is to disseminate cutting-edge research that explores the interrelationship between social studies and (including) culture. The journal has scope and seeks to provide a forum for researchers interested in the interaction between social and cultural aspects across several disciplines. The journal publishes quality, original and state-of-the-art articles that may be theoretical or empirical in orientation and that advance our understanding of the intricate relationship between social science and culture. KARSA accepts manuscript with a different kind of languages are Indonesian, English, Arabic, or French.
Articles 459 Documents
PERGOLAKAN POLITIK ANTARA TOKOH MUSLIM DAN NASIONALIS PADA SAAT PENENTUAN DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA Jailani, Imam Amrusi
KARSA: Journal of Social and Islamic Culture Vol 22, No 2 (2014): ISLAM, BUDAYA DAN POLITIK
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v22i2.531

Abstract

Pengkajian yang  menggambarkan moment-moment krusial dan bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia menjelang dan sesaat setelah proklamasi kemerdekaan amatlah urgen. Sudah dimaklumi bahwa terdapat dua faksi yang keduanya saling berkompetisi dalam menentukan dasar Negara Republik ini, yaitu  kalangan Islam, yang berpendirian bahwa dasar Negara dari bangsa Indonesia harus Islam, dan golongan golongan nasionalis “sekuler” yang memandang bahwa Negara Republik Indonesia, harus berdasarkan atas kebangsaan, bukan Islam. Memang diakui bahwa mayoritas tim perumus yang tergabung dalam keanggotaan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) adalah Muslim, namun pada kenyataannya mereka tidak seia sekata dalam memposisikan Islam sebagai dasar negara, dan akhirnya dicapai kesepakatan bahwa dasar Negara republik Indonesia adalah Pancasila. Pencapaian konsesus tersebut merupakan kredit point tersendiri, khususnya mengenai jiwa besar para elit atau tokoh Muslim dengan menerima Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia. Bagi mereka, kepentingan bangsa dan Negara berada di atas segala-galanya. Tendensi golongan, apalagi kepentingan pribadi, untuk sejenak dilupakan, demi kepentingan umat dan bangsa.
Shifting Paradigm of Modern Islam Fundamentalism as Islamized Space Autonomy in Indonesia Ariwidodo, Eko
KARSA: Journal of Social and Islamic Culture Vol 25, No 1 (2017)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v25i1.1357

Abstract

Idealism various groups of political Islam failed to change the political landscape of the Middle East and some other regions. Political Islam is not won power, while the old regimes are still in power. Western powers are increasingly plugging hegemony (political, economic, cultural) in the region. Political Islam is also not always successfully display the values contained in the ideals of fundamentalism in the form of the application of religious laws in politics. Islamic fundamentalists in some places only produce changes that are not significant in the fields of law, politics and economics. In this case, fundamentalism does emphasize the application of Sharia totally, but often do not care about the character of the political system. The variant of the traditional and modern fundamentalism fundamentalism can be seen also shift to the neo-fundamentalism. Orientation and strategy of neo-fundamentalism is the master of society through social action, far from being revolutionary, neo-fundamentalists are now entering into civil society and political classes. Although the character of the revolution is lost, the symbols of Islam seeped into the public and political discourse of Islam. Neo-fundamentalism seeks re-islamization society at grassroots level, and no longer through the country. Fundamentalists are directing the struggle in the birth of an Islamic society and Islamic space. This shift has seen as a symbol of Islamic fundamentalism in the political failure that resulted in a significant change in the weight of thought and movement.Copyright (c) 2017 by KARSA. All right reserved DOI: 10.19105/karsa.v25i1.1357
PERILAKU POLITIK KELAS MENENGAH MADURA Haliq, Fathol
KARSA: Journal of Social and Islamic Culture Vol 22, No 2 (2014): ISLAM, BUDAYA DAN POLITIK
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v22i2.526

Abstract

Politik sebagai permainan seringkali menghadirkan paradoks bagi aktor politik. Masa Orde Baru, perilaku politik menghadirkan anomali yang menghadapkan masyarakat (civil society) dengan pemerintah, wacana pembangunan Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) melahirkan BASSRA vis-a-vis Orde Baru. Orde Reformasi, setelah keruntuhan Orde Baru, Mei 1998, para ulama’ BASSRA tersedot ke lembaga legislatif dan eksekutif. Mereka telah menjadi bagian dari negara (state) sehingga—seharusnya—orang yang dulunya “berjuang bersama masyarakat” mengimplementasikan apa-apa yang telah diserap dalam masyarakat. Artikel hasil riset di Bangkalan dan Sumenep ini merupakan riset yang membahas dinamika perilaku politik kelas menengah Madura, terutama setelah keruntuhan Orde Baru, 21 Mei 1998 dan selesainya Pembangunan Jembatan Suramadu, 10 Juni 2009.
Local Wisdom Values in Sayu Wiwit Folklore as The Revitalization of Behavioral Education Fatimah, Firdauzia Nur; Sulistyo, Edy Tri; Saddhono, Kundharu
KARSA: Journal of Social and Islamic Culture Vol 25, No 1 (2017)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v25i1.1266

Abstract

This article attempts to describe the value of local wisdom found in Sayu Wiwit folklore as a means for revitalizing behavioral education. This study is conducted by using qualitative descriptive approach with the object of research is the value of local wisdom in Sayu Wiwit folklore. The researcher obtains the primary data through observation and direct communication with the respondents in the form of interviewing historians and experts in culture. Furthermore, the data of this study were analyzed by using flow analysis model, these are the following steps: (1) data collection, (2) data reduction, (3) data display, (4) conclusion drawing. The findings show, the values of local wisdom that can be taken from the folklore Sayu Wiwit are confidence, creativity, and behavior that suggested not giving up easily. The manifest of behavioral education can be seen through the values of local wisdom in Sayu Wiwit story, such as nationalism. The behavior and attitude of the main characters reflect the feeling of  and care about the country. Those attitudes is showed in the form of the confidence of the characters in Sayu Wiwit story that they do not give up and they tend to be creative when they try to defeat the invaders (Netherland) in Belambangan. The story of Sayu Wiwit  is considered as a historical story because it is told orally and this story can be verified with some historical evidences. Puputan Bayu Monument which is located Bayu Village, Songgon District and the name one of heroes who participated in that war is Mas Ayu Wiwit are the several historical evidences. Thus, the values of local wisdom from the folklore can be applied as a behavioral education to foster and develop the spirit of nationalism and patriotism in students.Copyright (c) 2017 by KARSA. All right reserved DOI: 10.19105/karsa.v25i1.1266 
Peranan Baitulmal Al-Hidayah Malang dalam Penanggulangan Kemiskinan Berdasarkan Modal Sosial Wardoyo, Ria Angela; Wisadirana, Darsono; Susilo, Edi
KARSA: Journal of Social and Islamic Culture Vol 24, No 2 (2016): Islam, Culture, and Economics
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v24i2.803

Abstract

Penelitian ini meneliti tentang peranan Baitulmal Al-Hidayah dalam penang-gulangan kemiskinan pada pedagang usaha mikro di kelurahan Jodipan, kota Malang. Selain itu, ia juga meneliti tentang unsur modal sosial dalam penge-lolaan Baitulmal Al-Hidayah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif de-ngan jenis penelitian studi kasus. Alat analisis penelitian ini menggunakan teori modal sosial dan pemberdayaan masyarakat. Tiga peranan telah dilaksanakan oleh Baitulmal Al-Hidayah, yaitu menjauhkan masyarakat dari praktik ekonomi non-syariat berupa penerapan sistem ekonomi Islam, melakukan pembinaan dan pendanaan usaha kecil, dan melepaskan ketergantungan pada rentenir. Strategi pemberdayaan pada pedagang usaha mikro binaan baitulmal tersebut dimulai dari menyelesaikan kebergantungan terhadap rentenir, melakukan pember-dayaan secara kelompok dengan mengumpulkan usaha mereka sesuai dengan konsep hulu ke hilir dengan prinsip solidaritas di antara mereka, melakukan ke-giatan pelatihan, memberikan sertifikasi manajemen mutu halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), mengikutsertakan usaha binaan baitulmal tersebut ke dalam pameran hasil Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), dan melakukan ra-pat evaluasi yang dilakukan secara berkala oleh dewan pengawas syariah guna menjamin kepastian dan keberlangsungan usaha mereka.Copyright (c) 2016 by KARSA. All right reserved DOI: 10.19105/karsa.v24i2.803
KAJIAN SOSIOLINGUISTIK TERHADAP BAHASA DAKWAH AKTIVIS DAKWAH KAMPUS (ADK) SURAKARTA Isnaniah, Siti
KARSA: Journal of Social and Islamic Culture Vol 21, No 2 (2013): ISLAM, BUDAYA DAN BAHASA
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v21i2.521

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk dan makna jargonyang digunakan oleh ADK Surakarta, alasan yang mendasari ADKmenggunakan jargon tersebut, dan kontribusi jargon yang digunakan olehADK Surakarta terhadap dakwah Islam. Bentuk-bentuk bahasa (jargon)dakwah yang digunakan oleh ADK Surakarta kebanyakan berasal dari bahasaArab. Penggunaan bentuk-bentuk bahasa dakwah tersebut hanya berupa katadan gabungan kata, tidak ada yang berupa kalimat. Penggunaan jargondakwah tersebut tidak dibedakan berdasarkan status sosial, letak geografis,dan tingkat pendidikan. Makna dari bentuk-bentuk bahasa (jargon) dakwahyang digunakan oleh ADK Surakarta tidak hanya makna leksikal, tetapisituasi dan kondisi (konteks) komunikasi sangat menentukan makna jargondakwah yang digunakan. Alasan yang mendasari ADK Surakarta menggunakanbentuk-bentuk bahasa (jargon) dakwah adalah untuk memasyarakatkanbahasa Arab di kalangan masyarakat umum, suasana komunikasilebih akrab  dan mempererat ukhuwah Islamiyah, menunjukkan jati dirikomunitas ADK untuk mempermudah syiar (dakwah) Islam, jargon ADKSurakarta dapat memberikan kontribusi terhadap dakwah Islam, yaitumemperkuat ukhuwah Islamiyah, ekspansi dakwah Islam, dan menyatukanmasyarakat Islam dengan menngunakan jargon bahasa Arab yang sama.
KOMUNIKASI SANTUN DALAM AL-QUR’AN Zahid, Moh.
KARSA: Journal of Social and Islamic Culture Vol 21, No 2 (2013): ISLAM, BUDAYA DAN BAHASA
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v21i2.516

Abstract

Komunikasi santun merupakan etika yang diterima secara universal dan turutmenjadi faktor penentu efektivitas suatu komunikasi. Al-Qur’an tidak sajamemerintahkan untuk berkomunikasi secara santun, tetapi juga memberikancontoh-contoh bentuk-bentuk komunikasi santun dalam berbagai situasi dankondisi. Perintah Al-Qur’an tersebut menggunakan beberapa istilah, sepertiqawlan karîmâ (perkataan yang mulia), qawlan maysûrâ (perkataan yangmenyenangkan), qawlan maʻrûfâ (perkataan yang baik), qawlan layyinâ (perkataanyang lembut), qawl sadîd (perkataan yang jujur), dan istilah lainnya yangsemakna dengan istilah-istilah tersebut. Istilah-istilah tersebut terdapat dalamberagam contoh konkrit komunikasi santun dalam Al-Qur’an, baik komunikasiantara Tuhan dan manusia atau sebaliknya maupun komunikasi antar manusia.
Normativity-Deductivity of Ibn Rusyd’s Bidâyah Al-Mujtahid Wa Nihâyah Al-Muqtashi Abdul Aziz, Jamal
KARSA: Journal of Social and Islamic Culture Vol 24, No 1 (2016): Islam, Culture, and Law
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v24i1.1000

Abstract

Ibn Rusyd,  better known as  Moslem philosopher, but he was actually   an expert in other fields, among which was islamic jurisprudence (fiqh).  He wrote a monumental work in the field of Islamic jurisprudence, namely the Bidâyah al-Mujtahid wa Nihâyah al-Muqtashid. This book compiles the book systematically, logical, and comprehensive, and serves a variety of opinions from various schools of jurisprudence that developed at that time objectively. This paper examines about Muqaddimah Bidâyah Kitab al-Mujtahid that comprise theories of understanding religious text (al-adillah al-shar’îyah) underlying causes of dissent which will be described in it, also on the systematization of this book. I finally concludes that the book Bidâyah al-Mujtahid wa Nihâyah al-Muqtashid is fiqh comparison described systematically-logical-argumentative and contains themes of fiqh holistically-comprehensive.Copyright (c) 2016 by KARSA. All right reserved DOI: 10.19105/karsa.v24i1.1000
Ekonomi dan Prestise dalam Budaya Kerapan Sapi di Madura Juhari, Imam Bonjol
KARSA: Journal of Social and Islamic Culture Vol 24, No 2 (2016): Islam, Culture, and Economics
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v24i2.913

Abstract

Penelitian ini menunjukkan bahwa nilai religiusitas budaya kerapan sapi dalam perjalanan sejarahnya telah mengalami perubahan. Budaya kerapan sapi yang pada mulanya lebih dipersepsi sebagai teologi tradisional kemudian mengalami perubahan makna ke arah teologi pasar. Dalam hal ini, perubahan yang terjadi dalam aspek significant symbols yang tidak kelihatan (covert), menjadi significant symbols yang kelihatan (overt). Perubahan yang menyangkut suatu sikap mental orang Madura, yang pada mulanya kerapan sapi merupakan simbol nilai religius tradisional seperti kesopanan dan rasa hormat, kesederhanaan sebagai rekreasi yang terarah, berubah menjadi simbol ekonomi dan prestise yang permisif dan hedonis (berorientasi pasar), serta menjadi ajang untuk meraih citra dan pengakuan terhadap status sosial dan status ekonomi yang lebih tinggi. Perubahan ini juga berimplikasi pada motivasi orang Madura dalam memelihara dan memiliki sapi kerapan. Motivasi  memelihara dan memiliki sapi kerapan menjadi bersifat ekonomis dan prestise.Copyright (c) 2016 by KARSA. All right reserved DOI: 10.19105/karsa. karsa.v24i2.913  
Acculturation of Javanese And Malay Islam in Wedding Tradition of Javanese Ethnic Community at Selangor, Malaysia Rohmanu, Abid
KARSA: Journal of Social and Islamic Culture Vol 24, No 1 (2016): Islam, Culture, and Law
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v24i1.1008

Abstract

This study is to see the level of acculturation of Javanese and Malay Islams in Javanese community wedding at Selangor Malaysia. According to the theory of culture, each culture has a uniqueness, as a individual uniqueness. The unique culture of Javanese ethnic wedding in Selangor is believed to be a process of negotiation between Malay and Javanese culture.. Acculturation theory is used in this research to explain and understand the reality of that culture. The study concluded that ethnic wedding traditions of Javanese Islam in Selangor pointed to the high level of acculturation. The acculturation leads to a “substitution” and “syncretism”. The substitution refers to the meaning that the Javanese tradition for the most replaced with new cultures (Malay). Acculturation can also be said as a cultural syncretism, the mixing of these two cultures into a new culture that are distinctive.Copyright (c) 2016 by KARSA. All right reserved DOI: 10.19105/karsa.v24i1.1008

Page 1 of 46 | Total Record : 459