cover
Contact Name
Nita Nurdiana
Contact Email
ampereupgrip@gmail.com
Phone
+628127868141
Journal Mail Official
ampereupgrip@gmail.com
Editorial Address
Jl Ahmad Yani Lrg Gotong Royong 9/10 Ulu Palembang Sumatera Selatan 30251
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Jurnal Ampere
ISSN : 24772755     EISSN : 26222981     DOI : http://dx.doi.org/10.31851/ampere
Jurnal Ampere, The aim of this journal is to publish articles to all aspects of the latest outstanding developments in the field of Electrical Engineering. Power Systems ·Generator ·Power Distribution ·Electrical Power Convertion ·Protection Systems ·Electrical Materials ·Newreble Energy Signal, System and Electronics ·Digital Signal Processing ·Robotic Systems ·Micro Electronics ·Embedded Systems Computer system ·Information Technology ·Communication Systems
Articles 151 Documents
PEMBANGKITAN TEGANGAN GENERATOR INDUKSI SATU FASA Amin, Saleh Al
JURNAL AMPERE Vol 3, No 2 (2018): JURNAL AMPERE
Publisher : Universitas PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (650.408 KB) | DOI: 10.31851/ampere.v3i2.2398

Abstract

electric power generation machines currently used, induction generators arealternative electric energy generation machines that are being used, because they haveadvantages, especially in the field of construction which can reduce the manufacturing costs of engine manufacturing. At this time an induction generator is produced for one phase small power, which is mostly used for the household sector as a backup generator. Excitation of a single phase induction generator uses an exciter coil on the side of the rotor which is a closed loop circuit, and a coil at the side of the stator which is supplied with a capacitor. The voltage will be generated due to the magnetic remanence in the rotor core, which generates an induced voltage in the stator coil, so that the capacitor will be charged, which will eventually generate a nominal voltage on the side of the power coil at the stator. Dari beberapa mesin pembangkit tenaga listrik yang digunakan sekarang ini, generatorinduksi merupakan mesin pembangkit energi listrik alternatif yang mulai digunakan, karenamemiliki keunggulan, khususnya dibidang konstruksi yang dapat menurunkan biaya produksi pabrikasi mesin. Pada saat ini generator induksi diproduksi untuk daya kecil satu fasa, yang kebanyakan digunakan untuk sektor rumah tangga sebagai pembangkit cadangan. Eksitasi Generator induksi satu fasa menggunakan kumparan eksiter di sisi rotor yang merupakan rangkaian loop tertutup, dan sebuah kumparan di sisi stator yang diseri dengan kapasitor. Tegangan akan terbangkit karena adanya remanensi magnet di inti rotor, yang memnbangkitkan tegangan induksi di kumparan stator, sehingga kapasitor akan terisi muatan, yang akhirnya akan terbangkit tegangan yang nominal di sisi kumparan daya di stator
KENDALI SUHU AIR DENGAN SENSOR TERMOKOPEL TIPE-K PADA SIMULATOR SISTEM PENGISIAN BOTOL OTOMATIS Muslimin, Selamat; Amperawan, Amperawan; Rasyad, Sabilal; Sari, Dewi Permata
JURNAL AMPERE Vol 3, No 2 (2018): JURNAL AMPERE
Publisher : Universitas PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (710.382 KB) | DOI: 10.31851/ampere.v3i2.2393

Abstract

This observation discusses about water temperature control by using thermocouple K-type sensor in an automatic bottle filling system simulator. This control system is purposed to keep the bottle unexpand in the effect of high temperature water. In this observation, we obtained that the bottle will defend or unexpand if it is filled with water in a temperature of ±65°c. This temperature will be used as reference in a water temperature control by using thermocouple sensor. The control system works by monitoring the heater activites in order not to heat the water more than the deterimined setpoint temperature, which is 60°c. In the control process, a thermocouple sensor is supported by PLC Schneider Modicon TM221M16R. The communication process between the thermocouple sensor and PLC utilizes analog input in PLC device. Generated voltage by a thermocouple in the effect of temperature difference between hot junction and cold junction is read by PLC. Generated voltage in the effect of these two points difference is very small, about 40μV/°c. Therefore, IC op amp LM 358 is used as a voltage amplifier. The output of LM 358 is used as PLC analog input to control the water temperature.Abstrak— Pada penelitian ini dibahas mengenai kendali suhu air dengan sensor termokopel tipe-K pada simulator system pengisian botol otomatis. Pengontrolan ini ditujukan untuk menjaga agar botol yang digunakan tidak mengalami pemuaian akibat terisi oleh air dengan suhu tinggi. Dari peneltian didapatkan bahwa botol yang digunakan dalam system ini dapat bertahan atau tidak mengalami pemuaian jika diisi oleh air dengan suhu ± 65oC. Suhu inilah yang kemudian dijadikan sebagai referensi dalam kendali suhu air oleh sensor termokopel. Kendali suhu ini dilakukan dengan cara memantau aktivitas heater agar tidak memanaskan air melebihi suhu setpoint yang ditentukan yaitu 60oC. Pada proses kendalinya, sensor termokopel dibantu oleh PLC Schneider Modicon TM221M16R. Proses komunikasi antara sensor termokopel dan PLC memanfaatkan analog input yang tersedia diperangkat PLC. Adapun yang dibaca oleh PLC adalah tegangan yang dihasilkan oleh termokopel akibat perbedaan suhu antara hot junction dan cold junction. Tegangan yang dihasilkan oleh perbedaan kedua titik ini sangat kecil, berkisar antara 40μV/oC. Oleh karena itu digunakanlah IC op amp LM 358 sebagai penguat tegangan. Keluaran dari LM 358 inilah yang dijadikan sebagai input analog PLC untuk mengontrol suhu air.
EVALUASI KETERSEDIAAN DAYA PADA PT. PLN (PERSERO) GARDU INDUK BUNGARAN PALEMBANG Febrianti, Irine Kartika; Azis, Abdul
JURNAL AMPERE Vol 3, No 2 (2018): JURNAL AMPERE
Publisher : Universitas PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (699.748 KB) | DOI: 10.31851/ampere.v3i2.2397

Abstract

Power losses are the loss of electrical power in the network and the load where the lost power is not used by the load, so the power available on the network will be reduced. Power losses in the distribution network are caused by the presence of prisoners in the carrier. The lost power can be in the form of heat energy generated on the channel, and unused heat energy is called active power losses. Power losses in each channel are very important to take into account because power losses in the network can cause a reduction in electrical energy after arriving at the load. Power requirements that must be supplied by the source to the load depend on the absorption of power by the load and power losses on the network. Large capacity of power requirements is influenced by the amount of power losses, so it can be said that the capacity of power needs is the amount of absorption of power by the load and power losses on the network. One of the substations in the city of Palembang is the Bungaran Substation which has the function of delivering electrical energy to consumers through a medium voltage distribution system. To serve consumers electrical energy needs, currently the Bungaran Palembang Substation has a Transformer 1, 30 MVA 70/20 kV which has a load of four feeders, namely: Akasia Feeder, Sungkai Feeder, Tembesu Feeder, and Cendana Feeder. The results showed that Transformer 1 had an installed power capacity of 30 MVA or 255,000,000 Watts. While the capacity of the total power requirements of the four feeders is 18,786,167.4264 W. So the availability of transformer 1 power is still sufficient to serve the load of four feeders, because only 7.3671% of the installed power capacity is absorbed by the load. Rugi-rugi daya adalah kehilangan daya listrik di jaringan dan beban dimana daya yang hilang tersebut tidak terpakai oleh beban, sehingga daya yang tersedia di jaringan akan berkurang. Rugi-rugi daya pada jaringan distribusi disebabkan oleh adanya tahanan pada penghantar. Daya yang hilang dapat berupa energi panas yang ditimbulkan pada saluran, dan energi panas yang tidak terpakai disebut sebagai rugi-rugi daya aktif. Rugi-rugi daya disetiap saluran sangatlah penting untuk diperhitungkan karena rugi-rugi daya di jaringan dapat menyebabkan berkurangnya energi listrik setelah sampai di beban. Kebutuhan daya yang harus disuplai oleh sumber ke beban tergantung pada penyerapan daya oleh beban dan rugi-rugi daya di jaringan. Besar kapasitas kebutuhan daya dipengaruhi oleh besarnya rugi-rugi daya, sehingga dapat dikatakan bahwa kapasitas kebutuhan daya merupakan jumlah penyerapan daya oleh beban dan rugi-rugi daya di jaringan. Salah satu gardu induk di Kota Palembang adalah Gardu Induk Bungaran yang mempunyai fungsi menyalurkan energi listrik ke konsumen melalui sistem distribusi tegangan menengah. Untuk melayani kebutuhan energi listrik konsumen, saat ini Gardu Induk Bungaran Palembang mempunyai Transformator 1, 30 MVA 70/20 kV yang mempunyai beban empat buah penyulang, yaitu: Penyulang Akasia, Penyulang Sungkai, Penyulang Tembesu, dan Penyulang Cendana. Dari hasil penelitian diperoleh hasil bahwa Transformator 1 mempunyai kapasitas daya terpasang sebesar 30 MVA atau 255.000.000 Watt. Sedangkan kapasitas kebutuhan daya total dari empat penyulang adalah 18.786.167,4264 W. Jadi ketersediaan daya Transformator 1 masih mencukupi untuk melayani beban dari empat penyulang, karena hanya 7,3671 % dari kapasitas daya terpasang daya yang diserap oleh beban.
APLIKASI MATRIK KOOKURANSI TINGKAT KEABUAN UNTUK ANALISA CITRA IKAN TENGGIRI Rasyad, Sabilal; Anisah, Masayu; Jumnahdi, Muhammad
JURNAL AMPERE Vol 3, No 1 (2018): JURNAL AMPERE
Publisher : Universitas PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.936 KB) | DOI: 10.31851/ampere.v3i1.2118

Abstract

Mackerel fish (Cybium commersoni) which is a lot of fish found in the waters of Indonesia with high economic value. This study aims to analyze the image of mackerel fish with 25 fish tail that has an average length of 40cm with weight of 250-300 gram taken in fresh condition from Fish Auction Place located in Kurau village and Pantairebo village of Bangka Island. The image of the fish is taken by using 12Mpiksel digital camera. Image retrieval period is 0 to 6 hours, 6 hours and 6 hours. The image is passed to the RGB filter, which is then extracted using GLCM resulting in a mean of Entropy 3.2039 for fresh fish while for fresh fish 3.5714; Energy 0,0531 for fresh fish while for fresh fish 0,0053; contrast produced 63,6157 for fresh fish while fish not fresh equal to 33,8951; The correlation of 0.5673 for fresh fish and 0.7822 for fish is not fresh homogeneity 0.2357 for fresh fish and 0.1345 for non fresh fish.ABSTRAK Ikan tenggiri (Cybium commersoni) yang merupakan ikan yang banyak ditemukan diperairan Indonesia dengan nilai ekonomis yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa citra Citra ikan tenggiri dengan  sampel ikan 25 ekor yang memiliki panjang rata-rata 40cm dengan berat 250-300 gram diambil dalam kondisi segar dari Tempat Pelelangan Ikan yang berada di desa Kurau dan desa Pantairebo Pulau Bangka. Citra ikan diambil dengan menggunakan camera digital 12Mpiksel. Jangka waktu pengambilan Citra 0 sampai dengan 6 jam pertama, 6 jam kedua dan 6 jam ketiga. Citra dilewatkan pada filter RGB, yang kemudian diekstraksi dengan menggunakan GLCM yang menghasilkan rerata Entropi 3.2039 untuk ikan segar sedangkan untuk ikan tidak segar 3,5714; Energi 0,0531 untuk ikan segar sedangkan untuk ikan tidak segar sebesar 0,0053; kontras dihasilkan 63,6157 untuk ikan segar sedangkan ikan tidak segar sebesar 33,8951; Korelasi 0,5673 untuk ikan segar dan 0,7822 untuk ikan tidak segar homogenitas 0,2357 untuk ikan segar dan 0,1345 untuk ikan tidak segar
PENGARUH JARAK ANTAR SUB KONDUKTOR BERKAS REAKTANSI INDUKTIF SALURAN TERHADAP TRANSMISI 150 KV DARI GARDU INDUK KERAMASAN KE GARDU INDUK MARIANA Azis, Abdul; Nurdin, Alimin
JURNAL AMPERE Vol 3, No 2 (2018): JURNAL AMPERE
Publisher : Universitas PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (968.723 KB) | DOI: 10.31851/ampere.v3i2.2395

Abstract

Electricity is a source of energy that is very much needed by society and electricity is one of the most important needs to support human life today in meeting daily needs, both in the household and in business. The generated electricity is then channeled through the transmission line. In the distribution of electric power, there will be a channeling power losses which are proportional to the length of the channel. The use of a higher voltage level is the solution to these problems, but if the voltage is increased continuously there will be a corona and to reduce the environmental impact of the corona can use a file conductor. Increasing the amount of conductive wire in a beam reduces the corona effect and reduces reactance, reducing reactance due to an increase in GMR from the conductor. Elevation of the voltage on the electric power transmission line can reduce power losses, but the transmission voltage increase can cause corona in the transmission wire. This corona causes power losses and interference with radio communications. One way to reduce the corona effect is to use a condenser file on the transmission line. Besides reducing the corona effect, the beam conductor can also reduce the channel's inductive reactance. From the results of the study, the results show that the distance between the file sub conductors affects the size of the GMR of the file conductor, where the distance between the file sub conductors is greater, the GMR of the conductor will increase. With the increasing size of GMR conductor, the inductive reactance on the transmission line will be even greater. With the increasing conductivity of the beam conductor reactance, the reactive power losses on the transmission line will be even greater. Listrik adalah sumber energi yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan listrik merupakan salah satu kebutuhan yang paling penting untuk menunjang kehidupan manusia saat ini dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, baik dalam rumah tangga maupun dalam bisnis. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik tersebut, maka pemerintah membangun pusat-pusat pembangkit tenaga listrik. Dalam penyaluran daya listrik akan terjadi rugi-rugi daya penyaluran yang besarnya sebanding dengan panjang saluran. Penggunaan tingkat tegangan yang lebih tinggi merupakan solusi dari permasalahan tersebut, tetapi jika tegangan ditingkatkan terus menerus akan terjadi korona dan untuk mengurangi dampak lingkungan dari korona tersebut dapat menggunakan konduktor berkas. Peningkatan jumlah kawat penghantar dalam suatu berkas mengurangi efek korona dan mengurangi reaktansi, pengurangan reaktansi disebabkan oleh kenaikan GMR dari konduktor. Peninggian tegangan pada saluran transmisi daya listrik dapat mengurangi rugi-rugi daya, tetapi peninggian tegangan transmisi dapat menimbulkan korona pada kawat transmisi. Korona ini menimbulkan rugi-rugi daya dan gangguan terhadap komunikasi radio. Salah satu cara untuk mengurangi efek korona yang dilakukan adalah dengan menggunakan kondukor berkas pada saluran transmisi. Di samping mengurangi efek korona, penghantar berkas dapat juga mengurangi reaktansi induktif saluran. Dari hasil penelitian diperoleh hasil bahwa jarak antar sub konduktor berkas mempengaruhi besarnya GMR konduktor berkas, dimana apabila jarak antar sub konduktor berkas semakin besar maka GMR konduktor berkas akan semakin besar. Dengan semakin besarnya GMR konduktor berkas maka reaktansi induktif pada saluran transmisi akan semakin besar. Dengan semakin besarnya reaktansi induktif konduktor berkas maka rugi-rugi daya reaktif pada saluran transmisi akan semakin besar.
KONVERSI LAMPU TL KE LAMPU LED ( STUDI KASUS : JAKABARING SHOOTING RANGE JAKABARING SPORT CITY PALEMBANG ) Thohari, Abdurrahman; Amin, Saleh Al; Nurdiana, Nita
JURNAL AMPERE Vol 3, No 2 (2018): JURNAL AMPERE
Publisher : Universitas PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (759.417 KB) | DOI: 10.31851/ampere.v3i2.2394

Abstract

Asian Games 2018 which will be held in Jakarta and Palembang, Jakabaring Shooting Range Palembang to renovate the building to support the success of Asian Games 2018 at shooting sport. This renovation also replace or convert lamps that previously used TL 2 x 36 Watt lamps to use 40 Watt LED flat lights. In this case the aim to know this comparison is by calculating theoretically strong illumination, the power generated as well as the cost incurred. From the comparison results obtained the comparison terotirs how the better and see the two lights are whether the standard qualified lighting in the arena shooting space That LED lights have a strong light almost the same as the TL lamps but in terms of electric power used LED lights generate more electrical power small with a smaller electric power is obtained electricity tariffs are also cheap, so LEDs can be very energy-efficient lamps and save money.Dengan adanya momentum pergelaran kompetisi olahraga tingkat Asia yaitu Asian Games 2018 yang akan diadakan di Jakarta dan Palembang, Jakabaring Shooting Range Palembang melakukan renovasi pada gedungnya untuk menunjang suksesnya Asian Games 2018 pada cabang olahraga menembak. Renovasi ini juga menganti atau mengkonversikan lampu yang sebelumnya menggunakan lampu TL 2 x 36 Watt menjadi menggunakan lampu flat LED 40 Watt. Dalam hal ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan ini adalah dengan menghitung secara teoritis kuat penerangan, daya yang dihasilkan serta biaya yang dikeluarkan. Dari hasil perbandingan didapatkan perbandingan secara terotirs bagaimana yang lebih baiknya dan melihat kedua lampu tersebut apakah memenuhi syarat standar penerangan pada ruang arena menembak Bahwa lampu LED memiliki kuat penerangan hampir sama dengan lampu TL tetapi dari segi daya listrik yang digunakan lampu LED menghasilkan daya listrik yang lebih kecil dengan daya listrik yang lebih kecil ini didapat tarif listrik yang murah pula, dengan begitu LED sangat bisa menjadi lampu yang hemat energi serta hemat pengeluaran uang.
SISTEM KWH METER ANALOG, DIGITAL DAN PRABAYAR Kartika F, Irine
JURNAL AMPERE Vol 1, No 1 (2016): JURNAL AMPERE
Publisher : Universitas PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/479

Abstract

ABSTRAKPenyaluran energi listrik dibutuhkan suatu alat pembatas dan pengukur (APP) dengan alat ini dapat ditentukan daya pemakaian dan waktu pemakaian sehingga konsumen dapat mengetahui berapa biaya pemakaian energi listrik tiap bulannya.Alat pembatas dan pengukur (APP) sering dikenal dengan KWH meter, dimasyarakat jenis dari KWHmeter memiliki beberapa jenis yaitu KWH analog KWH  digital dan KWH digital pulsa. Perbandingan KWH Meter Analog dan digital bertujuan mengetahui perhitungan tiap alat pembatas dan pengukuran KWH meter, mengetahui nilai ekonomis dari tiap jenis KWH meter dan mengetahui kelebihan dan kekurangan dari tiap jenis KWH meter.Prinsip kerja KWH meter analog adalah Alat ini bekerja menggunakan metode induksi medan magnet dimana medan magnet tersebut menggerakkan piringan yang terbuat dari aluminium. Putaran piringan tersebut akan menggerakkan counter digit sebagai tampilan jumlah KWHnya. KWH meter digital merupakan suatu alat pengukuran yang memiliki fungsi mengukur jumlah pemakaian energi atau Jumlah pemakaian daya dalam satuan waktu dan bekerja berdasarkan program yang dirancang pada mikroprosesor yang terdapat di dalam piranti KWH meter digital Tersebut. KWH meter digital pulsa prabayar merupakan pengembangan dari jenis KWH meter digital yang membedakan adalah menggunakan progarm pulsa prabayar.Kata Kunci : Alat pembatas dan Pengukur (APP), KWH Meter Analog, Digital dan Prabayar
ANALISA GANGGUAN ARUS HUBUNG SINGKAT PADA PENYULANG NAKULA GARDU INDUK TALANG KELAPA Nurdiana, Nita
JURNAL AMPERE Vol 1, No 1 (2016): JURNAL AMPERE
Publisher : Universitas PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.467 KB) | DOI: 10.31851/ampere.v1i1.475

Abstract

ABSTRAKKontinuitas yang baik sangat diperlukan dalam penyaluran energi listrik dari pembangkit sampai ke konsumen. Peralatan proteksi yang baik mendukung mempengaruhi keandalan sistem sehingga mampu meminimalisir terjadinya gangguan. Gangguan hubung singkat merupakan permasalahan yang paling sering terjadi. Dengan melakukan perhitungan yang masih secara manual  pada penyulang Nakula Gardu Induk Talang Kelapa didapat   besar arus gangguan hubung singkat pada titik gangguan 10% panjang saluran adalah 186.962 A sedangkan pada titik gangguan 100% panjang saluran adalah 184.396A. Semakin jauh titik gangguan dari sumber maka semakin kecil arus gangguan yang terjadi. Arus gangguan hubung singkat dipengaruhi oleh impedansi sumber, kapasitas dan impedansi transformator daya serta titik gangguan atau panjang penyulang  Setting waktu relay untuk proteksi saluran  pada titik 1% panjang saluran sebesai 0,71 detik.Kata Kunci : Arus hubung singkat,  panjang saluran, setting relay
ANALISIS KERJA WELDER GENERATOR Perawati, Perawati
JURNAL AMPERE Vol 1, No 1 (2016): JURNAL AMPERE
Publisher : Universitas PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/476

Abstract

ABSTRAK          Generator adalah mesin listrik yang dapat membangkitkan energi listrik dengan induksi elektromagnetik. Generator yang digunakan sebagai pembangkit energi listrik bolak-balik adalah generator sinkron. Pada saat beroperasi normal, generator dibebani dengan beban-beban yang konstan, seperti untuk perumahan, komersial, dan industri, atau gabungannya.  Tetapi ada kalanya generator dibebani dengan beban yang tidak konstan, yaitu untuk pelayanan work shop atau bengkel, dimana penggunaan energi listriknya disamping digunakan untuk penerangan, penggerak motor-motor listrik, juga digunakan untuk melakukan pekerjaan welding atau pengelasan.  Bila generator melayani beban welder (pengelasan), maka arus yang mengalir dari generator sangat tergantung pada kontak elektroda las dengan benda kerja.  Sehingga beban generator tidak akan konstan, yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan kinerja mendadak pada generator tersebut, hingga menimbulkan kerusakan. Tegangan kerja generator mengalami drop dari 30 volt menjadi 12 volt untuk elektroda 2,6 mm dan dari 30 volt menjadi 10 volt untuk elektroda 3,2 mm, karena besarnya arus yang diserap oleh beban, dan mengakibatkan terjadinya drop tegangan yang signifikan. Kata Kunci : Generator sinkron, Beban tidak konstan, Tagangan kerja, Welder
PERANAN GEARBOX PADA PEMBEBANAN MOTOR INDUKSI TIGA FASA Al Amin, M. Saleh
JURNAL AMPERE Vol 1, No 1 (2016): JURNAL AMPERE
Publisher : Universitas PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/477

Abstract

ABSTRAKUntuk menunjang sektor industri, sebagai penggerak mesin produksi atau pesawat angkat, digunakanlah motor listrik jenis motor induksi, dimana jenis motor ini dapat dikontrol kecepatannya dengan menggunakan komponen semikonduktor dan system kontrol elektronik dan digital lainnya, disamping operasionalnya mudah dan murah. Motor induksi 3 fasa yang paling banyak digunakan oleh dunia industri karena memiliki beberapa keuntungan, antara lain struktur motor induksi tiga fasa lebih ringan (20% hingga 40%) dibandingkan motor arus searah (DC)  untuk daya yang sama, harganya relatif lebih murah, dan perawatan lebih mudah dan hemat. Dalam menggunaannya di sektor industri, motor induksi tiga fasa digunakan sebagai penggerak rotasi, penggerak beban geser, beban angkat, beban liquid, atau beban lainnya. Untuk melayani beban-beban yang berat, digunakan alat bantu yang dapat membuat bebannya akan menjadi ringan, alat bantu tersebut adalah Gearbox.  Tetapi ada juga yang menggunakan Pulley dan Belt, dengan menggunakan perbandingan diameter Pulley (poly).Kata Kunci : Gear Box, Polley, Beban

Page 1 of 16 | Total Record : 151