Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Pola Penggunaan Antibiotik Dalam Swamedikasi Pada Mahasiswa Tahun Pertama Bersama (TPB) Universitas Mataram Siti Fatmah; Siti Rahmatul Aini; Iman Surya Pratama
Majalah Farmasetika Vol. 4, Supl. 1, Tahun 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v4i0.25865

Abstract

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dalam swamedikasi sering terjadi di berbagai kalangan tak terkecuali mahasiswa. Ketidaktepatan penggunaan menyebabkan peningkatan resiko efek samping dan resistensi antibiotik sehingga diperlukan implementasi swamedikasi yang tepat. Studi pola penggunaan obat pada kalangan mahasiswa di Kota Mataram masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola penggunaan antibiotik dalam swamedikasi pada mahasiswa TPB Universitas Mataram. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross sectional) dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif pada 400 mahasiswa TPB yang dipilih secara acak. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-Juli 2018 di Unit Pelaksana Tahun Pertama Bersama Universitas Mataram. Data karakteristik demografi dan pola penggunaan antibiotik diperoleh melalui penyebaran kuesioner. Data karakteristik demografi meliputi nama, nim, alamat, asal sekolah, asal fakultas, dan kontak responden. Pola penggunaan antibiotik meliputi alasan penggunaan, indikasi, sumber mendapatkan, lama terapi, dan efek samping  Analisis dilakukan secara deskriptif. Dari 421 mahasiswa, 379 pernah menggunakan antibiotik. Mahasiswa terdiri dari 119 laki-laki dan 260 perempuan dengan rata-rata usia 17-18 tahun. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan antibiotik untuk mengobati flu dan batuk selama 1-3 hari (43%). Antibiotik diperoleh dengan mudah di apotek berdasarkan rekomendasi tenaga kesehatan (49,6%). Antibiotik jika digunakan berlebihan dapat meningkatkan resiko efek samping seperti mual muntah 35,9%. Penggunaan dihentikan jika efek samping terjadi dan berkonsultasi ke dokter (51,7%). Penggunaan antibiotik dalam swamedikasi pada mahasiswa TPB masih belum tepat ditinjau dari pola penggunaan antibiotik. 
Studi Etnofarmakologi Antiparasit Masyarakat Komunitas Adat Dusun Limbungan di Lombok Timur Rina Marjuliana; Kurniasih Sukenti; Iman Surya Pratama
Natural B, Journal of Health and Environmental Sciences Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Natural B, Journal of Health and Environmental Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat Lombok Timur memiliki pengetahuan etnofarmakologi tentang penyakit parasit yang diperoleh melalui tradisi lisan dan tulisan. Keterbatasan dalam tradisi tutur dan misinterpretasi lontar mendorong upaya eksplorasi dan pelestarian pengetahuan etnofarmakologi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan aspek pemanfaatan etnofarmakologi antiparasit pada komunitas adat Limbungan di Lombok Timur. Penelitian dilakukan menggunakan metode wawancara semi terstruktur dan mendalam. Informan terdiri atas belian, tokoh adat dan penduduk lokal diperoleh melalui snowball sampling. Informasi dianalisa secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kuantitatif dilakukan dengan menghitung Index of Cultural Significance (ICS). Hasil penelitian menunjukkan terdapat 35 spesies dari 22 famili sebagai antiparasit. Penyakit parasit yang diobati terdiri atas sembilan penyakit  seperti malaria, kutu, cacingan, feses berdarah, feses berlendir, mencret, anemia, skabies,  dan borok. Nilai ICS tertinggi terdapat pada Lannea coromandelica (Houtt) Merr dan terendah pada Euphorbia sp, Zingiber zerumbet berturut-turut 123 dan 18. Pengobatan antiparasit memiliki beberapa kearifan lokal seperti pembacaan do’a setiap preparasi ramuan obat dan pengobatan. Takaran dosis masih menggunakan cara tradisional dan secara umum pengobatan dilakukan dua kali sehari. Pengetahuan etnofarmakologi masyarakat Limbungan terkait antiparasit berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut.
UJI EFEK ANTELMINTIK INFUS BUNGA WIDURI (Calotropis gigantea) (L.) Dryand TERHADAP CACING HATI (Fasciola) SECARA IN VITRO Iman Surya Pratama; Zurriatun Toyyibah; Galuh Tresnani
Jurnal Sain Veteriner Vol 39, No 1 (2021): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.47422

Abstract

Fasciolosis merupakan  penyakit parasit yang dapat  menyerang sapi dan manusia disebabkan oleh Fasciola sp. Bunga widuri (Calotropis gigantea) merupakan tumbuhan obat yang telah diketahui secara tradisional dapat  mengobati kecacingan. Penelitian ini bertujuan  menentukan efektivitas infus bunga widuri  terhadap Fasciola sp. secara in vitro dan  berdasarkan gambaran histologi tegumen. Penelitian ini bersifat eksperimental, dilaksanakan pada bulan Mei sampai September  2017 di Laboratorium Biologi FMIPA, Universitas Mataram. Pengujian secara in vitro terdiri dari enam kelompok: albendazol, kontrol negatif, infus bunga widuri konsentrasi 5%, 10%, 15%, dan 30%  dengan parameter indeks pergerakan relatif dan ketahanan hidup. Preparat dibuat menggunakan metode parafin dan pewarnaan hematoksilin eosin. Data hasil perhitungan  in vitro dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney U Test. Analisis  histologi pada bagian tegumen dilakukan secara deskriptif. Secara in vitro  tidak ada pengaruh nyata (p<0,05) peningkatan konsentrasi terhadap penurunan waktu kematian cacing. Preparat histologi menunjukkan peningkatan konsentrasi infus seiring peningkatan kerusakan pada tegumen. Kesimpulan dari penelitian ini konsentrasi efektif infus bunga widuri adalah 5%. Kerusakan tegumen terbesar terjadi pada konsentrasi tertinggi.
Penyuluhan upaya penanggulangan dan pemeriksaan cacingan sebagai implementasi program pesantren sehat Atwazzah Taisir; Ria Hapsari; Iman Surya Pratama; Siti Rahmatul Aini; Galuh Tresnani; Bambang Fajar Suryadi
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 15 No. 2 (2019): Transformasi Desember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.533 KB) | DOI: 10.20414/transformasi.v15i2.1789

Abstract

[Bahasa]: Angka prevalensi cacingan nasional pada tahun 2015 sebesar 28,12%, dengan prevalensi daerah yang bervariasi hingga melebihi 50%. Survey cacingan pada sampel anak SD/MI di Kabupaten Lombok Barat pada tahun 2011 menunjukkan angka prevalensi 29,47%. Cakupan upaya penanggulangan yang masih terbatas mendorong peningkatan koordinasi lintas mitra salah satunya pesantren. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengimplementasikan upaya penanggulangan cacingan melalui penyuluhan dan demonstrasi indikator Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada salah satu mitra pondok pesantren di daerah Lombok Barat. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara semi terstruktur dan observasi pengetahuan siswa dengan lembar kuisioner. Berdasarkan pemeriksaan natif terhadap 38 sampel feses terdapat 3 orang cacingan (0.7 %) terdiri atas infeksi campuran cacing tularan tanah (Ascaris sp dan Trichuris sp) dan infeksi tunggal (Hymenolepis sp, Ascaris sp). Hasil pengabdian secara umum berkontribusi terhadap penguasaan indikator PHBS sederhana yang terdiri atas: Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), penggunaan alas kaki, serta pengukuran berat, dan tinggi badan secara berkala. Kata Kunci: cacingan; pesantren sehat; PHBS [English]: The national worm prevalence rate in 2015 was 28.12%, with regional prevalence varies over 50%. Worms survey in a sample of elementary school children in West Lombok Regency in 2011 showed a prevalence rate of 29.47%. The limited scope of prevention efforts has led to increased coordination across partners including pesantren. This community service program aimed to implement the prevention of intestinal worms through counseling and demonstration of clean and healthy behaviors (PHBS) indicators at one of the boarding schools in West Lombok. The methods used in this program is semi-structured interview and observation of students’ knowledge with questionnaire sheets. Based on the native examination of 38 feces samples, there were three students who have worms (0.7%) consisting of mixed infection of earthworm (Ascaris sp and Trichuris sp) and single infection (Hymenolepis sp, Ascaris sp). Generally, this program contributes to the mastery of simple PHBS indicators consisting of: handwashing with soap (CTPS), footwear use, and periodic weight and height measurements. Keywords: worm infestation; healthy boarding school; personal hygiene
Peningkatan pengetahuan dan pemeriksaan skabies santri Pondok Pesantren Nurul Islam Sekarbela Lalu Husnul Hidayat; Siti Rahmatul Aini; Dedianto Hidajat; Iman Surya Pratama
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 16 No. 2 (2020): Transformasi Desember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/transformasi.v16i2.2652

Abstract

[Bahasa]: Angka prevalensi skabies di pondok pesantren di Indonesia adalah sebesar 3,9-6% termasuk di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Alih pengetahuan oleh tenaga kesehatan terdidik pada santri diperlukan untuk mencapai pesantren bebas skabies. Program pengabdian kepada masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk menentukan peningkatan pengetahuan, status perilaku kebersihan santri dan kesehatan kulit santri melalui penyuluhan dan pemeriksaan skabies pada santri Madrasah Aliyah Nurul Islam Sekarbela, Kota Mataram. Peningkatan pengetahuan ditentukan melalui pemberian kuesioner pretest dan posttest setelah penyuluhan. Status perilaku kebersihan santri ditentukan melalui wawancara semi terstruktur. Status dermatologis ditentukan melalui penemuan lesi skabies dengan pemeriksaan fisik dan teknik dermoskopi. Penyuluhan yang telah dilakukan meningkatkan pengetahuan santri terkait skabies sebesar 25-90%. Status perilaku kebersihan santri terkait skabies pada aspek kebersihan diri terkait penularan masih rendah dengan persentase lebih dari 50%. Berdasarkan pemeriksaan fisik, sebesar 21% santri terinfeksi skabies (n = 52 orang) dengan status dermatologikus berupa papula, erilematosa, skuama, dan erosi. Kata Kunci: alih pengetahuan, skabies, santri, madarasah [English]: The prevalence of scabies in Islamic boarding schools in Indonesia is 3,9-6%, including the province of West Nusa Tenggara. A knowledge transfer by educated health workers to madrasa students (santri) is needed to protect boarding schools from scabies. This community service program aimed to elevate the students’ knowledge of scabies, develop their hygiene behavior, and help them understand skin protection. It was done through counseling and physical examinations on students of MA Nurul Islam Sekarbela. The increase of knowledge was examined through the provision of pre and post counseling questionnaires. The personal hygiene status was determined through semi-structured interviews. Meanwhile, dermatological status was assessed through the scabies lesions by the physical examination and dermoscopy techniques. The counseling increased students’ knowledge of scabies at 72%-95%. The aspect of personal hygiene relating to transmissions is still low (> 50%). Based on the physical examinations, 21% of the students were infected with scabies (n = 52) in the form of papules, erythematous, squama, and erosion. Keywords: knowledge transfer, scabies, santri, madrasa
Studi Preeliminari Suplementasi Produk Herbal Antidiabetes Terhadap Kontrol Glikemik Pasien Diabetes Mellitus Tipe II Yayuk Andayani; Siti Rahmatul Aini; Iman Surya Pratama; Ni Made Ratnata Amalia; Lalu Husnul Hidayat
Jurnal Pijar Mipa Vol. 16 No. 1 (2021): Januari 2021
Publisher : Department of Mathematics and Science Education, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram. Jurnal Pijar MIPA colaborates with Perkumpulan Pendidik IPA Indonesia Wilayah Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.06 KB) | DOI: 10.29303/jpm.v16i1.1662

Abstract

The aim of this preliminary study is to compare the effect of supplement herbal product (contained the combination of extract Phaesolus vulgaris  and Momordica charantia) and control for short term glycemic control in patient with diabetes mellitus type 2. A randomised clinical trial using paralel design subject has been done in patient with diabetes mellitus type II that meet inclusion criteria (n=60, each group consist of 30 patients). The research held on two public health center in Mataram. The participant alocated on two groups which are the group that got oral hypoglicemic medicine with the herbal product and the control group that only got oral hypoglicemic medicine. The character demographic of the patient and the result of the therapy was obtained by patient interviewed and physical assesment. Fasting Blood Glucose was measured on day 0, 7 and 14. The character demographic was analyzed using chi squared test, and there were no signifficant different on both treated and controlled group (p>0,05). There were also no signifficant different found between control and the treated group (0.73 ± 93,06 ;23,83 ± 100,94) on day 7 and day 14 analyzed using t-test. According to this study, the combination between supplement herbal product and oral hypoglicemic medicine does not improved glycemic control on patient with diabetes mellitus type 2. Bias in this studies encourages improvement in design and management of further studies. 
Pengembangan dan Validasi Kuesioner Pengetahuan Mahasiswa Farmasi Terkait Produk Kefarmasian serta Alat Kesehatan dalam Pencegahan Covid-19 Iman Surya Pratama; Siti Rahmatul Aini; Lalu Husnul Hidayat; Muhammad Hipzul Mursyid; Sri Ulan Muharromi
Jurnal Pijar Mipa Vol. 16 No. 2 (2021): Maret 2021
Publisher : Department of Mathematics and Science Education, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram. Jurnal Pijar MIPA colaborates with Perkumpulan Pendidik IPA Indonesia Wilayah Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.127 KB) | DOI: 10.29303/jpm.v16i2.2364

Abstract

Asesmen pengetahuan tentang penggunaan produk kefarmasian dan alat kesehatan penting dilakukan pada mahasiswa farmasi sebagai dasar upaya pencegahan COVID-19. Kuesioner yang valid dan reliabel dibutuhkan dalam asesmen tersebut, namun studi di Indonesia masih terbatas. Oleh karena itu, studi ini bertujuan  untuk menguji validitas dan reliabilitas hasil pengembangan kuesioner gambaran pengetahuan pengetahuan mahasiswa terkait penggunaan produk kefarmasian dan alat kesehatan dalam upaya preventif  Covid-19. Penelitian ini bersifat deskriptif. Uji validitas konten melibatkan penilaian 6 orang pakar secara kualitatif (kesepakatan pakar) dan kuantitatif (indeks dan rasio validitas). Validitas muka dilakukan pada 30 orang mahasiswa secara kualitatif. Uji validitas konstruk dan reliabilitas dilakukan pada 30 orang mahasiswa dengan pendekatan korelasi bivariat dan Cronbach Alpha. Hasil uji validitas isi diperoleh kesepakatan pakar pada 55 item yang telah dikembangkan . Adapun secara kuantitatif nilai ICV-I sebesar 0,8 (1 item) dan 1. CVR bernilai 1 kecuali pada 1 item sebesar 0,6. Secara kuantitatif diperoleh 54 item pertanyaan yang valid. Validitas muka dinyatakan lolos setelah satu kali revisi. Pada uji validitas konstruk dan reliabilitas diperoleh nilai Chronbach Alpha 0,881 dan korelasi  item terkoreksi kurang dari 0,3 pada 14 item. Berdasarkan hasil uji  diperoleh kuesioner  yang valid dan reliabel untuk  mengukur pengetahuan tentang penggunaan produk kefarmasian dan alat kesehatan pada mahasiswa sebagai upaya preventif Covid-19.  
Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Tahun Pertama Bersama (TPB) tentang Penggunaan Antibiotik dalam Swamedikasi Siti Fatmah; Siti Rahmatul Aini; iman Surya Pratama
Jurnal Sains Farmasi & Klinis Vol 6, No 3 (2019): J Sains Farm Klin 6(3), Desember 2019
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.655 KB) | DOI: 10.25077/jsfk.6.3.200-205.2019

Abstract

Prevalensi penggunaan antibiotik dalam swamedikasi cukup tinggi di berbagai kalangan tak terkecuali mahasiswa. Penggunaan antibiotik dalam swamedikasi dapat meningkatkan resistensi antibiotik dan efek samping. Tingkat pengetahuan berpengaruh pada penggunaan  antibiotik dalam swamedikasi yang tepat dan bijak. Penelitian bertujuan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan mahasiswa tentang penggunaan antibiotik dalam swamedikasi. Penelitian dilakukan pada bulan Maret-Juli 2018 di Unit Pelaksana Tahun Pertama Bersama Universitas Mataram menggunakan desain potong lintang. Sejumlah 400 sampel dipilih secara acak. Data karakteristik demografi dan tingkat pengetahuan diperoleh dari kuesioner yang sudah tervalidasi, kemudian dianalisis secara deskriptif. Dari 421 mahasiswal, 379 pernah menggunakan antibiotik yang terdiri dari  119 laki-laki dan 260 perempuan  dengan rata-rata usia 17-18 tahun.  Latar belakang mahasiswa sebagian besar berasal dari SMA. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan mahasiswa tergolong  tinggi (5,4%), sedang (63,1%), dan rendah (31,4%). Pengetahuan terkait kondisi dan dampak penggunaan antibiotik yang tidak tepat perlu diperbaiki. Tingkat pengetahuan responden tergolong sedang sehingga diperlukan peningkatan pemahaman penggunaan antibiotik yang tepat dan bijak.
Pelatihan Deteksi Cacing Parasit Pada Sapi dan Uji Coba Pengobatan Penyakit Cacingan Pada Sapi Menggunakan Tanaman Obat di Desa Kesik, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur Bambang Fajar Suryadi; Galuh Tresnani; Iman Surya Pratama; Kurniasih Sukenti
Jurnal Warta Desa (JWD) Vol. 1 No. 3 (2019): Jurnal Warta Desa (JWD)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.054 KB) | DOI: 10.29303/jwd.v1i3.73

Abstract

Dari bulan Juli hingga Oktober 2018, Tim Pengabdian Masyarakat dari Fakultas MIPA Universitas Mataram mengadakan pelatihan deteksi telur dan cacing dewasa di Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Masbagik Lombok Timur dan pelatihan pembuatan obat cacing alternatif/herbal di Kelompok Peternak Punik Agung, Desa Kesik, Masbagik Lombok Timur dan. Kegiatan diawali dengan deteksi telur cacing dan cacing dewasa pada feses sapi yang dipelihara di kandang kolektif Kelompok Peternak Punik Agung, Desa Kesik. Hasil deteksi feses menunjukkan bahwa semua sapi yang dipelihara di kandang kolektif tersebut menderita cacingan (terdeteksi beberapa jenis/spesies cacing) dengan kategori ringan hingga sedang. Berdasarkan hasil deteksi tersebut, dilakukan pembuatan dan pemberian obat cacing alternatif/herbal. Tanaman yang dipilih sebagai obat herbal cacingan adalah pepaya/gedang (Carica papaya) dan widuri/rembiga (Calotropis gigantea). Dua tanaman ini paling mudah didapat di sekitar perumahan warga di Dusun Kesik dan paling mudah diproses untuk dijadikan obat cacing dibanding tanaman yang lain. Biji pepaya dan bunga widuri dikeringkan dan ditumbuk hingga membentuk serbuk halus untuk kemudian diberikan pada sapi yang menderita cacingan. Berdasarkan hasil deteksi diberikan pemberian obat cacing alternatif/herbal sebagai berikut. Satu kelombok diberi serbuk biji pepaya/gedang (2 hari pemberian sebagai dosis pengobatan), 1 kelompok diberikan serbuk bunga widuri/rembiga (1 hari pemberian sebagai dosis pengobatan) dan 1 kelompok lain diberian albendazol sebagai kontrol positif. Observasi terhadap jumlah telur dan cacing dewasa pasca pemberian obat dilakukan tiap 7 hari sebanyak 2 kali (selama 14 hari). Setelah 14 minggu pemberian obat anternatif/herbal, sapi yang mendapatkan bubuk biji pepaya/gedang menunjukkan penurunan infeksi yang lebih baik (berdasarkan pada penurunan persentase jumlah dan jenis cacing yang menginfeksi) dibandingan dengan bubuk bunga widuri/rembiga. Namun, penurunan tertinggi didapatkan dari sapi yang diberikan Albendazol (kontrol). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, bubuk biji pepaya dapat digunakan sebagai obat alternatif untuk mengatasi kasus sapi cacingan, tapi tidak untuk menggantikan obat standar farmasi.
Pediculicidal Activity of Cem-ceman White Cempaka Flower (Michelia alba DC.) against Pediculus humanus capitis Ahmad Fadli Robby; Iman Surya Pratama; Galuh Tresnani
Ad-Dawaa: Journal of Pharmaceutical Sciences Vol 4 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/djps.v4i1.21154

Abstract

The prevalence of pediculosis reported in Asia has ranged from 0.7% to 59%. High resistance and side effects is a challenge in using the pediculicidal agents. The widely use and empirical as well as scientific studies of traditional plants for anti-lice were already done, one of them is cempaka. The aim of this study was to determine the pediculicidal activity of cem-ceman white cempaka flower (Michelia alba DC.) on Pediculus humanus capitis in vitro. The white cempaka flowers made into cem-ceman preparations by mixing and soaking in coconut oil until 3 days. Pediculisidal activity was tested by filter paper diffusion test method with 3 replications. Data were analyzed using Kruskal-Wallis followed by post hoc Mann-Whitney Method test with software SPSS v.16. The phytochemical screening showed that sample contains alkaloid, tannin, saponin, and triterpenoid. Pediculidal activity test showed that cem-ceman white cempaka flower has pediculicidal effect in 10% concentration (w/v) with 66.67% mortality and 15% concentration (w/v) with 77.33% mortality. In conclusion cem-ceman white cempaka flowers has pediculicidal activity at concentration 10% and 15% but lower than permethrin 1%  (p<0.05).