Syifa Mustika
Division Of Gastroentero-hepatology, Department Of Internal Medicine, Faculty Of Medicine, Universitas Brawijaya/Dr. Saiful Anwar Hospital, Malang

Published : 26 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Laporan Kasus: Diagnosa Sindrom Loeffler dan Nekatoriasis Duodenum Berdasarkan Endoskopi Rahmawati, Yuni; Mustika, Syifa; Ahmad, Harijono
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (766.363 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.01.13

Abstract

Nekatoriasis adalah infeksi cacing tambang yang disebabkan oleh Necator americanus dan terdistribusi luas ke seluruh daerah di negara tropis dan subtropis. Larva migran cacing ini dapat menyebabkan gejala pneumonitis yang disebut sindrom Loeffler. Diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya telur cacing dalam tinja, tetapi bisa juga tidak terdiagnosis terutama pada kasus infeksi yang ringan. Pada kasus ini  pria, 60 tahun, suku Jawa, petani, dirawat di rumah sakit karena anemia gravis , sesak napas, melena selama 1 minggu. Foto polos dada menunjukkan infiltrat di paracardial kanan dan kiri. Laboratorium menunjukkan eosinofilia masif, kadar hemoglobin sangat rendah (1,7g/dL), hypochrom mikrositik, penurunan saturasi besi, penurunan kadar albumin. Analisa pada tinja tidak menunjukkan adanya infeksi parasit, hasil endoskopi menunjukkan ulkus gaster duodenum multipel, banyak cacing ditemukan pada duodenum , ukuran 1 cm dan teridentifikasi sebagai Necator americanus. Keluhan pasien membaik  setelah transfusi darah dan pemberian  pirantel pamoat selama 3 hari. Kasus  ini menggambarkan adanya infeksi berat cacing tambang (Necator americanus) yang ditandai dengan  gejala anemia berat, dispepsia, perdarahan saluran cerna bagian atas,  disertai wheezing, rhonki dan infiltrat di area paracardia kanan dan kiri. Analisis tinja metode hapusan langsung menunjukkan tidak adanya infeksi parasit, namun pemeriksaan endoskopi menunjukkan ada banyak infestasi cacing Necator americanus pada duodenum. Hal tersebut mungkin disebabkan karena analisa sampel tinja terbatas pada metode hapusan langsung. Pasien diterapi berdasarkan klinis, temuan endoskopi, dan   menunjukkan respon klinis yang baik.Kata Kunci: Anemia, endoskopi, melena, Necator Americanus , sindrom  Loeffler
Insiden dan Gambaran Klinis Hepatitis Akibat Obat Anti Tuberkulosis di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Saiful Anwar Malang Rifai, Achmad; Herlianto, Budi; Mustika, Syifa; Pratomo, Bogi; Supriono, Supriono
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1078.681 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.03.14

Abstract

 Hepatitis akibat obat anti tuberkulosis (OAT) merupakan ancaman yang serius terhadap pengendalian penyakit tuberkulosis. Namun belum ada data yang representatif mengenai hal tersebut dalam suatu populasi. Penelitian ini bertujuan untuk memahami gambaran klinis dan mengevaluasi efek dari terapi obat anti tuberkulosis di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Saiful Anwar Malang pada tahun 2013. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif potong-lintang (cross sectional) yang melibatkan sebanyak 460 pasien tuberkulosis (TB) yang menerima directly observed treatment strategy (DOTS). Dari hasil penelitian diperoleh 25 pasien yang mengalami hepatitis akibat OAT dengan nilai insiden sebesar 5,4%. Gejala-gejala yang paling sering timbul adalah rasa mual dan muntah (48%). Terjadi hepatitis ringan (20%), sedang (48%), berat (4%), dan sengat berat (4%). Sebanyak 60% tanpa penyakit penyerta. Efek Hepatitis yang menyebabkan pemberhentian OAT sementara sebesar 56% kasus dan yang tetap meneruskan OAT sebesar 44% kasus,  rata-rata durasi terapi hepatitis akibat Obat Anti Tuberkulosis adalah 18 hari. Hepatitis akibat OAT dapat mempengaruhi angka keberhasilan (outcome) terapi. Adanya insiden hepatitis akibat OAT dan besarnya populasi Hepatitis tersebut di Rumah Sakit Saiful Anwar menunjukkan bahwa mendeteksi efek negatif dari terapi OAT sangatlah penting.Kata Kunci: Anti-tuberculosis drug induced liver injury (ATLI), Obat Anti Tuberkulosis (OAT), tuberkulosis paru
DERAJAT DEPRESI PASIEN HEPATITIS C KRONIS YANG MENDAPAT TERAPI PEGIFN-α Indriyaningrum, Nurria Betty; Brahmantyo, Herwindo Pudjo; Mustika, Syifa
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No. 3 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2017.029.03.9

Abstract

Disamping efek dari infeksi hepatitis C, pengobatan hepatitis C dengan menggunakan pegylated interferon alfa dikatakan memiliki efek samping berupa depresi. Untuk mengevaluasi gejala depresi pada pasien hepatitis C yang mendapatkan terapi pegylated interferon alfa di divisi Gastroentero-hepatologi RSUD Dr. Saiful Anwar Malang. Penilaian depresi dilakukan 1 kali, dengan menggunakan kuisioner Patient Health Questionnaire 9 (PHQ-9). Penelitian ini dilakukan antara tahun 2014-2015. Seluruh pasien hepatitis C yang mendapatkan terapi dengan pegylated interferon alfa, diberikan formulir kuisioner dari Patient Health Questionnaire (PHQ-9) untuk dievaluasi kondisi depresi yang terjadi. Dari keseluruhan pasien berjumlah 24 pasien, didapatkan hasil berupa depresi minimal sebanyak 9 pasien (37,5%), depresi ringan sebanyak 12 pasien (50%), depresi sedang sebanyak 2 pasien (8,3%) dan depresi sedang-berat sebanyak 1 pasien (4,2%). Rerata usia pasien adalah 53,55±12,13 (dalam tahun), dengan rentang usia 30-73 tahun. Jumlah pasien pria sama dengan jumlah pasien wanita (masing-masing 12 orang). Rerata lama terapi adalah 17,78±11,88 (dalam minggu). Genotipe terbanyak adalah genotipe 1 (16 pasien, 66,67%). Manifestasi depresi yang terbanyak adalah kelelahan yang terus menerus dan penurunan nafsu makan. Penelitian membuktikan adanya gangguan depresi pada pasien-pasien hepatitis C yang mendapat terapi pegylated interferon alfa (pegIFN?). Penilaian kondisi mental sebelum memulai terapi dan setelah selesai terapi, perlu dilakukan secara rutin untuk menilai adanya efek samping yang perlu ditangani secara lebih lanjut.Kata Kunci: Derajat depresi, hepatitis C kronis, pegIFN?
Prevalensi Infeksi Hepatitis B pada Ibu Hamil di Malang Mustika, Syifa; Hasanah, Dian
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No. 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2018.030.01.13

Abstract

Ibu hamil yang terinfeksi hepatitis B dapat menularkan virus ke bayi mereka selama kehamilan atau persalinan, sehingga penapisan perlu dilakukan untuk mengetahui prevalensi ibu hamil yang mengidap hepatitis B di wilayah Malang. Penapisan dilaksanakan di dua Puskesmas Kota Malang yaitu Dinoyo dan Kedungkandang, dua Puskesmas Kabupaten Malang yaitu Sumberpucung dan Gondanglegi, serta RS Hermina. Peserta diberikan penyuluhan, dilakukan anamnesis, pemeriksaan tanda-tanda vital, dan pengumpulan sampel darah pada ibu hamil yang setuju berpartisipasi. Serum peserta dilakukan pemeriksaan HBsAg dan Anti-HBS, metode yang digunakan adalah ELISA. Terdapat 156 ibu hamil mengikuti penapisan. Rerata usia peserta adalah 28,55,8 tahun dan rerata usia saat menikah adalah 22,53,8 tahun. Didapatkan prevalensi hepatitis B sebesar 1% dan 8% anti-HBs yang positif pada pasien dengan HBsAg negatif. Data ini diharapkan menjadi dasar kebijakan tentang pencegahan hepatitis B, seperti penggalakan vaksinasi hepatitis B dan edukasi hepatitis B ke populasi yang lebih luas.
PERBANDINGAN POTENSI TELBIVUDIN DAN TENOFOVIR DALAM MENURUNKAN SKOR ASPARTATE TRANSAMINASE TO PLATELET RATIO INDEX (APRI) PADA PASIEN HEPATITIS B Wibowo, Bogi Pratomo; Susanto, Edy; Supriono, Supriono; Mustika, Syifa
Majalah Kesehatan FKUB Vol 7, No 1 (2020): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.155 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2020.007.01.5

Abstract

Telbivudin dan tenofovir merupakan analog nukleosida untuk terapi hepatitis B dengan efektivitas tinggi meskipun telbivudin memiliki resistensi yang lebih tinggi daripada tenofovir. Telbivudin memiliki resistensi 2,3-5% pasien pada terapi tahun pertama dan 21,6% pasien pada terapi tahun kedua, sedangkan tenofovir dapat digunakan selama 3 tahun tanpa memunculkan resistensi. Hal ini menyebabkan tenofovir direkomendasikan sebagai terapi lini pertama oleh beberapa panduan. Namun demikian, bila terjadi resistensi tenofovir, sampai saat ini belum ada obat pengganti yang bisa digunakan. Tujuan pengobatan hepatitis B disamping menekan HBV DNA juga memperbaiki histologi jaringan hati. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk membandingkan potensi telbivudin dan tenofovir sebagai pilihan terapi hepatitis B kronis dengan melihat penurunan HBV DNA dan skor Aspartate Transaminasi to Platelet ratio Index (APRI). Penelitian analitik ini menggunakan pendekatan cross sectional. Data rekam medik dari pasien dengan terapi telbivudin dan tenofovir meliputi parameter skor APRI, yaitu kadar AST dan jumlah platelet, serta HBV DNA bulan 0 dan bulan 12. Data skor APRI dibandingkan menggunakan uji t independen dan dependen dengan nilai P < 0,05.Dari 145 pasien, 103 pasien mendapat terapi telbivudin, dan 42 pasien diterapi dengan tenofovir. Rerata penurunan skor APRI pada kelompok telbivudin adalah 1,17±0,17, sedangkan pada kelompok tenofovir 0,75±0,42. Pada kedua kelompok terjadi penurunan skor APRI sebelum dan sesudah terapi yang signifikan (p=0,00). Namun tidak didapatkan perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok (p=0,28).Tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam potensi terapi antivirus antara telbivudin dan tenofovir dalam menurunkan skor APRI pasien hepatitis B kronis
ENSEFALOPATI HEPATIK PADA SIROSIS HATI: FAKTOR PRESIPITASI DAN LUARAN PERAWATAN DI RSUD DR. SAIFUL ANWAR MALANG suyoso, Suyoso; Mustika, Syifa; Achmad, Harijono
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 4 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.04.15

Abstract

Peran Th17 dalam patogenesis asma dan imunoterapi menjadi konsep dan paradigma terbaru. Imunoterapi merupakan salah satu manajemen di dalam asma dan memerlukan waktu yang lama sehingga sering mengakibatkan kegagalan terapi. Terapi adjuvant antara lain probiotik dan Nigella sativa diduga dapat meningkatkan efektifitas imunoterapi. Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi efek pemberian imunoterapi, probiotik dan/atau Nigella sativa terhadap jumlah sel Th17, neutrofil dan skoring asma pada anak asma selama imunoterapi fase rumatan. Penelitian dilakukan pada 31 anak yang dikelompokkan secara acak yaitu imunoterapi plus plasebo atau imunoterapi plus Nigella sativa atau imunoterapi plus probiotik atau imunoterapi plus Nigella sativa plus probiotik selama 56 minggu. Pengukuran jumlah sel Th17 dan neutrofil dilakukan menggunakan flowcytometry setelah perlakuan. Asthma Control Test dilakukan untuk mengevaluasi gejala klinis. Data dianalisis menggunakan uji komparasi Anova One Way dan uji korelasi Pearson. Hasil menunjukkan tidak didapatkan perbedaan yang bermakna jumlah sel Th17 dan neutrophil antara kelompok perlakuan (p-value 0,199 dan 0,326). Asthma control test secara bermakna didapatkan perbedaan antara perlakuan imunoterapi plus probiotik dibandingkan imunoterapi saja. Skoring asma pada kelompok perlakuan imunoterapi plus probiotik adalah yang tertinggi (22,6). Jumlah sel Th17, neutrofil dan ACT menunjukkan hubungan yang lemah dan tidak bermakna secara statistik (r=-0,2) (p= 0,156). Jumlah sel Th17 dan neutrofil tidak didapatkan perbedaan yang bermakna. Skoring asma pada kelompok imunoterapi plus probiotik adalah yang tertinggi. Dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan antara Th17, neutrofil dan skoring asma. Kata Kunci: Imunoterapi, neutrofil, Nigella sativa, probiotik, sel Th17, skoring asma
Comparison of HBV DNA Quantitative Log in Patients Hepatitis B with Telbivudine Therapy Compared with Tenofovir Therapy in Saiful Anwar General Hospital Malang: January 2016 - December 2017 Nasution, Muhammad Imanuddin; Mustika, Syifa
Clinical and Research Journal in Internal Medicine Vol 2, No 1 (2021): First Issue of 2021
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.crjim.2021.002.01.5

Abstract

Background: Hepatitis B is a health problem with high endemic in Indonesia. Hepatitis B virus infection is transmitted parenterally, has a risk of liver cirrhosis and hepatocellular carcinoma. Detection and quantification of HBV DNA are markers of active HBV replication and determine treatment options for hepatitis B. Methods: compare log reduction of HBV DNA in patients treated with Telbivudine and Tenofovir. Results: There was no significant difference in HBV DNA levels between before and after Tenofovir treatment, namely 6 months follow-up (OR 95% CI = 5.41 [0.83 - 35.16], p = 0.0770) and 12 months (OR 95% CI = 5.39 [0.83 - 34.99], p = 0.0780). Telbivudine administration showed a significant difference in HBV DNA levels between before and after treatment at 6 months follow-up (OR 95% CI = 13.69 [4.53 - 41.40], p = 0.0001) and 12 months (OR 95% CI = 13.69 [ 4.53 - 41.41], p = 0.0001). Comparison of Tenofovir and Telbivudine therapy showed no significant difference at 6 months follow-up (OR 95% CI = 0.44 [0.10 - 1.88], p = 0.2690) but significant at 12 months follow-up (OR 95% CI = 6.23). [1.39 - 27.97], p = 0.0170). Conclusion:  There was a significant difference between the administration of Telbivudine as a treatment for hepatitis B with lower serum HBV DNA levels compared with the administration of Tenofovir at 12-month follow-up therapy.
HUBUNGAN ANTARA RASIO NEUTROFIL-LIMFOSIT (RNL) DAN RASIO PLATELET-LIMFOSIT (RPL) DENGAN KADAR RNA VHC PADA PASIEN HEPATITIS C KRONIK Mustika, Syifa; Wantri Anita, Kenty; Wijayanti Saputri, Nur Estu
Majalah Kesehatan FKUB Vol 7, No 3 (2020): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2020.007.03.2

Abstract

Hepatitis C merupakan penyakit inflamasi pada hati yang disebabkan oleh virus hepatitis C. Pada pasien yang terinfeksi hepatitis C akut (HCA) akan sembuh tanpa memerlukan pengobatan, tetapi sebagian besar kasus HCA akan menjadi hepatitis C kronik (HCK) dan memerlukan pengobatan. Menurut WHO, sekitar 185 juta orang telah terinfeksi dan 350.000 jiwa setiap tahunnya meninggal karena hepatitis C. Di Indonesia, 4-5 juta jiwa terinfeksi hepatitis C dan sekitar 80% akan menjadi HCK, 10-20% dapat memburuk menjadi sirosis hati dan 1-5% per tahun meninggal. Rasio neutrophil-limfosit (RNL) dan rasio platelet-limfosit (RPL) dapat digunakan untuk memperkirakan respons terapi mencapai target sustained virological response (SVR). Pemeriksaan ini relatif murah, cepat dan mudah diakses. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara RNL dan RPL dengan kadar ribonucleic acid virus hepatitis C (RNA VHC) pada pasien HCK yang mendapatkan terapi di RS. Dr. Saiful Anwar Malang. Desain penelitian mengggunakan cross-sectional berdasar data rekam medik pasien HCK dan sirosis hati terkompensasi yang telah melakukan pemeriksaan RNA VHC dan darah lengkap sebelum dan sesudah mendapatkan terapi. Sampel dipilih sesuai kriteria inklusi dan eksklusi sampai memenuhi 38 sampel. Hasil menunjukkan ada perbedaan signifikan kadar RNA VHC sebelum dan sesudah mendapatkan terapi sebesar -5,373 dengan p = 0,000, sedangkan pada RNL (p = 0,179) dan RPL (p = 0,473) tidak ada perbedaan signifikan. Uji hubungan nilai RNL dengan kadar RNA VHC (p = 0,723) maupun RPL dengan kadar RNA VHC (p = 0,382) tidak ada hubungan signifikan sebelum mendapatkan terapi. Kesimpulannya, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara RNL dan RPL dengan kadar RNA pada pasien HCK sebelum mendapatkan terapi, tetapi terdapat perbedaan yang signifikan pada kadar RNA VHC sebelum dan sesudah mendapatkan terapi. 
Peranan Gut Mikrobiota dalam Patogenesis Inflammatory Bowel Disease dan Pendekatan Terapi Probiotik Priyantoro, Sigit Triyus; Mustika, Syifa
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 6 (2015): Malaria
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.021 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i6.1003

Abstract

Mikrobiota merupakan sekumpulan mikroorganisme (bakteri, archae, eukaryote dan virus) yang hidup pada host atau tempat khusus host seperti saluran cerna manusia. Terdapat kurang lebih 500-1000 spesies mikrobiota di dalam saluran pencernaan, didominasi oleh bakteri anaerobik. Mikroorganisme atau mikrobiota sangat penting untuk melindungi permukaan mukosa hewan dan manusia terutama saluran cerna. Penyakit yang dikaitkan dengan kondisi dysbiosis mikrobiota saluran cerna antara lain Inflammatory Bowel Disease (IBD), dan penyakit alergi atau atopi. Konsep ini yang mendasari penggunaan probiotik dalam penatalaksanaan penyakit.Microbiota are microorganisms (bacteria, archae, viruses, eukaryote) living in host or special location such as in human gastrointestinal tract. Microbiota microorganism is very important in animal and human to protect mucosal surfaces, especially digestive tract. There are approximately 500-1000 microbiota species in the gastrointestinal tract, dominated by anaerobic bacteria. Various diseases associated with gastrointestinal microbiota dysbiosis conditions are Inflammatory Bowel Disease (IBD) and allergic or atopic disease. This concept underlies the use of probiotics in management of diseases like in inflammatory bowel disease.
Chronic Lung and Gastrointestinal Diseases: Take a Broader Perspective Syifa Mustika; Tiar Oktavian Effendi
Jurnal Respirasi Vol. 8 No. 1 (2022): January 2022
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (593.344 KB) | DOI: 10.20473/jr.v8-I.1.2022.52-59

Abstract

Chronic lung diseases, such as asthma and chronic obstructive pulmonary disease (COPD), are often found with gastrointestinal symptoms or even gastrointestinal diseases as one of its comorbid. Vice versa, many cases of gastrointestinal diseases such as gastroesophageal reflux disease (GERD) have developed respiratory dysfunction later. The connection between these two systems has become interesting lately and has led to several studies to prove the association. Several theories have emerged to explain this association. This includes changes in microbiota, the mucosa-related immune system of both systems, side effects of the therapeutic given, and pathomechanism related to gastrointestinal diseases such as GERD. Many studies try to prove the connection between the microbiota in the respiratory and gastrointestinal system, and changing the abundance in one of the systems can affect another. Both of the systems also have a similar mucosal membrane in their lining. Those membranes have an immune defence called Mucosal-Associated Lymphoid Tissue (MALT). Lymphatic and circulatory systems facilitate the migration between two mucosal, and these interconnections influence each other. Although the side effect of the therapeutic agent in respiratory diseases (such as inhaled corticosteroid, beta-2 agonist, or anti-cholinergic) is thought to be one of the causative mechanisms, discontinuation of therapy is the second option. Probiotic supplementation to improve microbiota is still not a strong recommendation for management.