Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Conflicts Faced By The Main Protagonist In Movie Captain America Civil War I Made Adi Purnawan; I Wayan Resen
Humanis Vol 19 No 1 (2017)
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jurnal ini berjudul “Conflicts Faced by The Main Protagonist in Movie Captain America Civil War”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi konflik dari karakter protagonis utama dan bagaimanacara mengatasi konflik tersebut. Data dari penelitian ini diambil dari movie yang berjudul Captain America Civil War. Metode untul mengumpulkan data menggunakan metode dokumentasi dan metode untuk mengalisis data menggunakan metode qualitative. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori konflik dari Reaske (1966) untuk mengidentifikasi konflik, teori penyelesaian konflik dari Thomas dan Kilmann (1970). Berdasarkan hasil dari penelitian, karakter protagonist utama menghadapai konflik internal, relational dan external. Karakter protagonis utama menyelesaikan konfliknya dengan gaya compromising dan accommodating
Verbal And Visual Signs On Airlines Advertisements: A Semiotic Study Ayu Sastya Kartika; I Nengah Sudipa; I Wayan Resen
Humanis Volume 17. No. 2. Nopember 2016
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan  ini berjudul " Verbal and Visual Sign on Airlines Advertisements: A Semiotic Study”. Data diambil dari satu sumber yaitu www.youtube.com, dengan teknik observasi dan pencatatan. Skripsi ini menganalisis dan membicarakan  bentuk-bentuk aspek visual dalam Garuda Indonesia dan Singapore Airlines iklan yang berbentuk video dan pengertian dari narasi berdasarkan aspek-aspek verbal didalam kedua iklan. Alasan dari memilih iklan Garuda Indonesia dan Singapore Airlines adalah karena kedua iklan memiliki visualisasi yang baik yang juga merupakan perwakilan Asia Tenggara untuk menjadi maskapai penerbangan terbaik didunia. Terdapat dua teori yang digunakan untuk menganalisis kedua data ini. Teori elemen-elemen komunikasi visual dan teori penggambaran verbal dalam buku yang berjudul “Advertising as Communication” dengan pengarang Dyer (1993) dan juga teori makna dengan pengarang Geoffrey leech (1974) yang berjudul Semantic. Dari analisis tersebut, ditemukan bahwa macam-macam aspek visual dan verbal dengan menganalisis kedua video memiliki makna untuk menarik pemirsa dan membantu mereka mengungkapkan makna yang lebih dalam dari video iklan Garuda Indonesia dan Singapore Airlines.
Politeness Strategies Found in the Movie Mr. Popper’s Penguins Ni Kadek Dwik Yuvita Sari; I Wayan Resen
Humanis Vol 18 No 1 (2017)
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul “Politeness Strategies Found in the Movie Mr. Popper’s Penguins”. Adapun tujuan dari penelitian ini yakni, untuk mengidentifikasi jenis dari Strategi Kesopanan yang ditemukan di dalam film Mr.Popper’s Penguins, dan untuk menganalisa faktor yang mempengaruhi pemilihan strategi oleh pembicara di dalam film Mr.Popper’s Penguins. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari percakapan antara karakter yang terdapat di dalam film Mr.Popper’s Penguins, yang mana dalam hal ini menggunakan metode dokumentasi, serta mencatat data yang telah didapat sebelumnya. Dalam penelitian ini, untuk menganalisa jenis strategi kesopanan yang ditemukan didalam film, serta untuk mengidentifikasi faktor yang dapat mempengaruhi pemilihan strategi diterapkan teori yang dikemukakan oleh Brown dan Levinson (1987). Berdasarkan teori yang telah disebutkan diatas, terdapat empat jenis strategi kesopanan yang ditemukan didalam film Mr.Popper’s Penguins, diantaranya strategi bald on record, kesopanan positif, kesopanan negatif, dan strategi off record. Terdapat dua jenis strategi bald on record yang ditemukan didalam film, sembilan strategi pada kesopanan positif, dan hanya lima strategi kesopanan negatif yang dapat ditemukan. Sementara terdapat tiga jenis strategi off record yang ditemukan pada film ini. Selain jenis strategi kesopanan, adapun beberapa faktor yang muncul didalam film, yakni faktor payoffs, dan faktor keadaan.
THE FUNCTIONING OF IRONIES FOR AESTHETIC EFFECT IN ROALD DAHL’S SHORT STORY THE LANDLADY I Wayan Resen; Nyoman Kutha Ratna; I Nyoman Darma Putra; Aron Meko Mbete
e-Journal of Linguistics Vol. 8. Juli 2014 No.2
Publisher : Doctoral Studies Program of Linguistics of Udayana University Postgraduate Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.024 KB)

Abstract

Artikel ini membicarakan tentang efek estetis yang dicapai melalui berfungsinya ironi yang hadir secara dominan pada cerita pendek The Landlady karya Roald Dahl. Ironi dalam berbagai tipe dan penggunaannya dalam cerita pendek ini berhasil membangun efek ketegangan yang intens pada pembaca sehingga pembaca menjadi penasaran mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya. Ketegangan terjadi karena tatkala pembaca dengan jelas melihat keterancaman Billy Weaver sebagai calon korban pembunuhan oleh nyonya rumahnya, Billy Weaver sendiri yang langsung berhadapan dengan nyonya rumahnya justru tidak menyadari niat buruk di balik keramahtamahan nyonya rumahnya itu. Dengan demikian, Billy Weaver pun tidak mengambil kesimpulan seperti yang diharapkan pembaca tentang niat negatif nyonya rumahnya walaupun sinyal-sinyal keterancamannya sudah semakin berakumulasi dari sikap dan prilaku nyonya rumahnya yang jelas terbaca dari balik sikap manis yang dihadirkan di permukaan. Estetika ironi ini terbangun bukan saja melalui sikap dan prilaku serba ironis nyonya rumah tersebut, tetapi juga melalui kesenjangan kesadaran yang ada antara Billy Weaver dan pembaca. Kondisi ironis ini bersumber pada kehidupan bermuka dua nyonya rumah, yakni prilaku yang seolah-olah sangat baik di permukaan namun sesungguhnya sadistik di balik itu. Ketakterdugaan sikap dan prilaku nyonya rumah ini mengejutkan dan menegangkan pembaca. Sesungguhnya, ketegangan pembaca bertambah intens ketika mendapati Billy Weaver tetap lugu-lugu (‘innocent’) saja di hadapan nyonya rumahnya yang semakin mencengkeramkan muslihatnya. Pada keterkejutan dan ketegangan akibat prilaku serba ironis nyonya rumah ini dan pada ketidaksabaran pembaca terhadap kepolosan Billy Weaver inilah terletak estetika cerita pendek ini.