Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Pemanfaatan Tepung Tulang Ikan untuk Bidang Pertanian oleh Masyarakat Desa Tanjung Keramat Gorontalo Desi Arisanti; Ika Okhtora Angelia; Amiruddin Amiruddin
Jurnal Ilmiah Pangabdhi Vol 7, No 1: April 2021
Publisher : LPPM Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/pangabdhi.v7i1.9992

Abstract

Tuna fish bones are by-products or waste from fisheries. Not many people have applied tuna fishbone in agriculture. In fact, tuna fish bones can be used as organic fertilizer and animal feed which can be processed into bone meal. According to this condition, the Community Service Team from the Agricultural Product Technology Study Program took the initiative to assist the community to take advantage of it. This activity is carried out in Tanjung Kramat Village, which is one of the largest tuna producing areas in Gorontalo. This activity includes material presentation, discussion and demonstration of making fish bone meal. From the results of these activities, enthusiasm from the community and local village officials can be seen to develop it into organic fertilizer and animal feed.
Variasi Konsentrasi Solven pada Proses Ekstraksi Antosianin dari Ubi Jalar Ungu Ika Okhtora Angelia
Journal Of Agritech Science (JASc) Vol 3 No 1 (2019): Journal of Agritech Science (JASc) - Mei
Publisher : Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.272 KB) | DOI: 10.30869/jasc.v3i1.331

Abstract

Ubi jalar ungu merupakan salah satu komoditas yang harganya murah dan mudah ditemukan di seluruh wilayah Indonesia. Selain sebagai sumber makanan pokok, ubi jalar ungu juga merupakan salah satu sumber zat warna merah (antosianin) yang bisa dijadikan sebagai bahan pewarna alami makanan. Antosianin merupakan zat pewarna alami yang tergolong ke dalam benzopiran yang tidak menimbulkan kerusakan pada bahan makanan dan bukan merupakan zat yang beracun bagi tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi solven terbaik pada proses ekstraksi antosianin pada ubi jalar ungu sebagai pewarna alami makanan dan sebagai salah satu upaya memperkenalkan kepada masyarakat khususnya masyarakat Gorontalo tentang penggunaan bahan pewarna alami makanan agar layak dikonsumsi. Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah metode rancangan acak lengkap (RAL). Tahap-tahap dalam penelitian ini diantaranya dengan melakukan studi pustaka, pengumpulan data, dan analisis. Teknik pengujian yang digunakan adalah uji kadar antosianin, uji pH dan uji warna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil analisis kimia pada ekstraksi antosianin ubi jalar ungu dengan beberapa konsentrasi solven pada perlakuan A1 yaitu kadar antosianin 126.69 mg/100 g, pH 4.59, uji warna 353.88o. Untuk perlakuan A2 yaitu kadar antosianin 78.71 mg/100 g, pH 4.72, uji warna 330.25o. Untuk perlakuan A3 yaitu kadar antosianin 68.80 mg/100 g, pH 4.86, uji warna 315.87o.
PENGARUH LAMA PERENDAMAN DAN KONSENTRASI NATRIUM METABISULFIT TERHADAP KANDUNGAN VITAMIN C DAN TINGKAT KECERAHAN DALAM PEMBUATAN TEPUNG UBI JALAR, TEPUNG JAGUNG DAN TEPUNG SINGKONG Ika Okhtora Angelia; Abd. Azis Hasan
Jurnal Technopreneur (JTech) Vol 6 No 2 (2018): JURNAL TECHNOPRENEUR (November)
Publisher : UPPM Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.436 KB) | DOI: 10.30869/jtech.v6i2.200

Abstract

The types of plants commonly used to making flour include tubers that have carbohydrates that resemble as wheat, are sweet potatoes, potatoes, corn, and cassava. The problem often faced by food containing carbohydrates is easy to a browning reaction because of the activity of polyphenols and oxidation enzymes which can convert polyphenols into polycarbonate insulation. The defective that causes color changes during storage can be overcome by using additives that are standard and safe for consumption such as Natrium Metabisulfite. The effect of soaking time on Natrium Metabisulfite on the whitish degree of flour will also be studied. This study was conducted to determine Vitamin C level and the whitish degree of flour in the process of making cassava flour, sweet potato flour and corn flour. The research used factorial design with three treatment combinations and each treatment was repeated three times with two factors, soaking length (15 minutes, 30 minutes , 45 minutes) and Natrium Metabisulfite concentration (1 gram , 2 gram , 3 gram). The results showed that sweet potato flour of had the highest significant effect the whitish degree of flour (treatment A3N3) and vitamin C (treatment A2N3). Soaking length and Natrium Metabisulfite had significant effect the whitish degree of flour and vitamin C.
KANDUNGAN PH, TOTAL ASAM TERTITRASI, PADATAN TERLARUT DAN VITAMIN C PADA BEBERAPA KOMODITAS HORTIKULTURA (pH Content, Total Acidified Acid, Dissolved Solids and Vitamin C in Some Horticultural Commodities) Ika Okhtora Angelia
Journal Of Agritech Science (JASc) Vol 1 No 2 (2017): Journal of Agritech Science (JASc) - November
Publisher : Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.272 KB) | DOI: 10.30869/jasc.v1i2.133

Abstract

Buah dan sayuran merupakan sumber komoditas hortikultura yang potensial dan banyakmengandung nutrisi terutama vitamin sehingga sangat baik jika dikonsumsi setiap haridan mudah didapat, murah dan murah serta sumber vitamin dan mineral. Selain menjadisumber vitamin, buah-buahan juga mengandung mineral, serat dan pada jenis buahtertentu juga menghasilkan cukup banyak energi. Berdasarkan hasil penelitian diperolehrata-rata pH dari masing-masing sampel adalah pepaya 6.1247, wortel 8.0715, tomat4.6425, nanas 4.7557. Berdasarkan hasil penelitian, masing-masing sampelmenunjukkan total padatan terlarut terlarut, padatan terlarut dalam pepaya 2223, wortel2.9325, tomat 3.125 dan nanas 9.52. Berdasarkan hasil penelitian nilai kandunganvitamin C pada setiap sampel adalah pepaya 9.0728, wortel 23.4915, tomat 17.8015,dan nanas 14.379. Perbedaan hasil untuk masing-masing sampel dapat dipengaruhi oleh:perbedaan jumlah asam organik pada setiap sayuran dan buah
OPTIMALISASI PEMANFAATAN LAHAN PEKARANGAN MENGGUNAKAN TEKNIK VERTIKULTUR UNTUK BUDIDAYA SAYURAN PENCEGAH STUNTING PADA BALITA GIZI BURUK Ika Okhtora Angelia; Nurhafnita Nurhafnita; Ingka R Akolo
Jurnal Abdimas Gorontalo (JAG) Vol 2 No 2 (2019): Jurnal Abdimas Gorontalo (JAG), November 2019
Publisher : UPPM Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jag.v2i2.381

Abstract

ABSTRAK Stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia, juga ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa. Hal ini dikarenakan anak stunted, bukan hanya terganggu pertumbuhan fisiknya (bertubuh pendek/kerdil) saja, melainkan juga terganggu perkembangan otaknya, yang mana tentu akan sangat mempengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, produktivitas dan kreativitas di usia-usia produktif. Perbaikan pola makan dengan mulai merintis menanam tanaman tinggi zat besi dan asam folat di pekarangan rumah (Daun kelor, daun bayam hijau dan daun ubi) juga diperlukan khususnya untuk memenuhi kebutuhan ibu hamil dan MPASI balita. Pemanfaatan budidaya secara vertikultur mampu mempermudah ibu rumah tangga untuk menyediakan sayuran untuk keluarganya. Dengan semakin mudahnya akses terhadap sayuran pencegah stunting maka ancaman terhadap stunting terhadap balita dapat dikurangi angka prevalensinya. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah sosialisasi penggalakan kegiatan penghijauan dan penanaman bibit khususnya tanaman sayuran menggunakan sistem budidaya vertikultur sebagai alternatif upaya peningkatan asupan gizi yang optimal untuk mencegah stunting di wilayah tersebut. Hasil kegiatan ini adalah masyarakat menguasai materi stunting dan teknik vertikultu dengan baik dan mampu mempraktikkan cara pembuatan media tanam dengan teknik vertikultur dan mampu melakukan penyemaian bibit sayuran dengan baik. ABSTRACT Stunting is a major threat to the quality of Indonesian people, as well as a threat to the nation's competitiveness. This is because stunted children, not only impaired physical growth (short / dwarf), but also disturbed brain development, which of course will greatly affect the ability and achievement at school, productivity and creativity in productive ages. Improving diet by starting to plant plants high in iron and folic acid in home yards (Moringa leaves, green spinach leaves and yam leaves) are also needed specifically to meet the needs of pregnant women and MPASI toddlers. Utilization of verticultural cultivation can facilitate housewives to provide vegetables for their families. With more easy access to vegetables that prevent stunting, the threat to stunting against infants can be reduced in prevalence. The purpose of this community service activity is promoting the promotion of greening and planting of seeds, especially vegetable crops using verticultural cultivation systems as an alternative effort to increase optimal nutritional intake to prevent stunting in the region. The results of this activity are the community mastered the material of stunting and verticultural techniques well and is able to practice how to make planting media with verticulture techniques and be able to seed vegetable seeds with the aim of this service is the socialization of promoting greening activities and planting of seeds, especially vegetable plants using a verticultural cultivation system as an alternative effort to increase the optimal nutritional intake to prevent stunting in the region. The result of this activity is that the community mastered the material of stunting and verticulture techniques well and was able to practice how to make planting media with verticulture techniques and be able to do good seedling of vegetable seeds.
OPTIMALISASI PEMANFATAAN LAHAN PEKARANGAN MENGGUNAKAN TEKNIK VERTIKULTUR UNTUK BUDIDAYA SAYURAN PENCEGAH STUNTING PADA BALITA GIZI BURUK Ika Okhtora Angelia; Nurhafnita Nurhafnita
Jurnal Abdimas Gorontalo (JAG) Vol 3 No 1 (2020): Jurnal Abdimas Gorontalo (JAG), Mei 2020
Publisher : UPPM Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jag.v3i1.568

Abstract

Stunting is a major challenge to the quality of Indonesian people, as well as a threat to the nation's competitiveness. This is because children are stunted, not only hinder their physical growth (short / dwarf), but also improve brain development, which of course will greatly affect the ability and achievement in school, increase and increase productivity in productive periods. Improving diet by starting to plant high substances and folic acid in the yard (Moringa leaves, green spinach leaves and sweet potatoes) are also needed specifically to meet the needs of pregnant women and MPASI toddlers. Farmers' homes to provide vegetables for households. Thus the more easy access to stunting prevention vegetables, the protection against stunting for infants can be calculated the prevalence rate.
QUALITY IMPROVEMENT OF VIRGIN COCONUT OIL (VCO) BY FERMENTED DRY CULTURE OF LACTIC ACID BACTERIA (BAL) TO YIELD AND WATER CONTENT Desi Arisanti; Ika Okhtora Angelia
Jurnal Pertanian Vol. 11 No. 1 (2020): APRIL
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/jp.v11i1.2178

Abstract

Virgin Coconut Oil contains medium chain fatty acids that are easily digested and oxidized by the body so as to prevent accumulation in the body. This research will try to produce virgin coconut oil / VCO by fermentation and using various variations of the concentration of BAL dry culture starter. The use of BAL dry culture has several advantages including being able to be stored for a long time in cold temperatures, easily applied and cost efficiency. The purpose of this study was to determine the percentage of Free Fatty Acid (FFA) and yield produced in the fermentation process of virgin coconut oil. Because the lower the FFA value produced the higher the quality of the oil produced The parameters observed in this study are the percentage of Free Fatty Acid (FFA), yield of virgin coconut oil (VCO), and water content. This study used a complete randomized design with 1 factor, namely the concentration of BAL dry culture, with the following research treatments: A1 = 5 gram of BAL dry culture; A2 = 10 gram of BAL dry culture; A3 = 15 gram of BAL dry culture; A4 = 20 gram of BAL dry culture. From the results of the study it can be concluded that the best treatment of water content is in treatment A3 which is 0.1463%. The best treatment yield was in treatment A1, which was 13.336%. 
ANALISIS KADAR LEMAK PADA TEPUNG AMPAS KELAPA IKA OKHTORA ANGELIA
Jurnal Technopreneur (JTech) Vol 4 No 1 (2016): JURNAL TECHNOPRENEUR (Mei)
Publisher : UPPM Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.226 KB) | DOI: 10.30869/jtech.v4i1.42

Abstract

Ampas kelapa merupakan hasil samping pembuatan santan, daging kelapa yang diolah menjadi minyak kelapa dari pengolahan cara basah akan diperoleh hasil samping ampas kelapa. Ampas kelapa juga merupakan bahan pangan sumber serat. Kandungan gizi tepung ampas kelapa mengandung karbohidrat dalam jumlah yang lebih rendah yaitu sekitar 33,64125%, kandungan protein yaitu 5,78725%, dan kandungan lemak tepung ampas kelapa cukup tinggi daripada tepung terigu (38,2377%). Kandungan lemak pada minyak kelapa diperlukan manusia sebagai pelindung tubuh dari perubahan suhu, terutama suhu rendah, pelarut beberapa vitamin (A, D, E dan K), sumber energi, Sebagai pelindung organ vital seperti lambung dan jantung, penahan lapar, penghemat protein, sebab lemak merupakan sumber utama terbentuknya energy serta sebagai penyusun membran sel. Hasil pengujian kadar lemak pada tepung kelapa dengan menggunakan metode soxhlet menunjukkan bahwa tepung ampas kelapa pada kode sampel 0396 dan kode sampel 0397 tidak jauh berbeda yaitu pada sampel 0396 jumlah total lemak yaitu 64,68% sedangkan pada sampel 0397 jumlah total lemaknya adalah 64,97%.
REDUKSI TINGKAT KETENGIKAN MINYAK KELAPA DENGAN PEMBERIAN ANTIOKSIDAN EKSTRAK DAUN SIRIH (Piper betle Linn) IKA OKHTORA ANGELIA
Jurnal Technopreneur (JTech) Vol 4 No 1 (2016): JURNAL TECHNOPRENEUR (Mei)
Publisher : UPPM Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.54 KB) | DOI: 10.30869/jtech.v4i1.47

Abstract

Minyak kelapa rentan mengalami kerusakan akibat oksidasi dan hidrolisis selama penyimpanan. Kerusakan akibat oksidasi dan hidrolisis ini menimbulkan ketengikan, yang bisa menurunkan mutu minyak kelapa di pasaran. Bau tengik yang muncul terjadi selain akibat adanya kontak dengan oksigen (oksidasi), juga karena adanya kontak dengan molekul air (hidrolisis) atau kontak dengan logam. Proses oksidasi atau hidrolisis ini biasanya bisa dicegah atau diminimalisir dengan penambahan Bahan Tambahan Makanan (BTM) yaitu zat antioksidan. Antioksidan yang dizinkan penggunaannya di Indonesia antara lain asam askorbat, BHT (Butil Hidroksi Toulene), BHA (Butil Hidroksi Anisol) dan TBQ (Tert Butil Quinon). Penggunaan antioksidan ekstrak daun sirih digunakan sebagai upaya untuk mencari antioksidan dari bahan alami yang lebih aman untuk kesehatan dan harganya lebih murah dibandingkan antioksidan sintesis. Hasil pengukuran terhadap bilangan peroksida menunjukkan kecenderungan meningkat dengan semakin banyaknya pengulangan dalam proses penggorengan. Dengan penambahan ekstrak daun sirih dapat terlihat pengaruhnya dengan berkurangnya nilai bilangan peroksidanya. Bilangan peroksida pada minyak baru adalah 4,824 meq peroksida/kg. Pada kecepatan pengadukan 100 rpm dengan waktu ekstraksi 30 menit diperoleh bilangan peroksida yang tidak terlalu signifikan. Semakin rendah bilangan peroksida yang diperoleh berarti antioksidan yang dihasilkan dari ektsrak serbuk kering daun sirih itu tinggi.
UJI KARAKTERISTIK KOPI NON KAFEIN DARI BIJI PEPAYA DENGAN VARIASI LAMA PENYINARAN Ika Okhtora Angelia
Journal Of Agritech Science (JASc) Vol 2 No 1 (2018): Journal of Agritech Science (JASc) - Mei
Publisher : Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.272 KB) | DOI: 10.30869/jasc.v2i1.174

Abstract

Minuman kopi biasanya berasal dari biji kopi pilihan yang memiliki kandungan antioksidan lebih besar dibandingkan teh hitam. Selain kandungan antioksidan, minuman dari biji kopi mengandung sumber kafein yang sangat tinggi. Pembuatan kopi dari bahan dasar biji pepaya diharapkan mampu mengubah paradigma masyarakat tentang kandungan kafein pada biji kopi, sehingga masyarakat bisa mengetahui yang mana proses penyangraian kopi biji pepaya yang berkualitas baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi lama penyangraian terbaik terhadap karakteristik mutu kopi biji pepaya. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode rancangan acak lengkap (RAL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan yang paling disukai antara semua perlakuan adalah perlakuan A3 (lama penyangraian 80 menit). Adapun hasil analisa sifat kimia kopi bubuk biji pepaya pada perlakuan A1 yaitu; kadar air 4,11%, kadar abu 8,75%, total mikroba 135,33 koloni/gram, dan total padatan tidak larut air 35,39%. Untuk perlakuan A2 yaitu; kadar air 2,86%, kadar abu 8,15%, total mikroba 94 koloni/gram, dan total padatan tidak larut air 17,96%. Perlakuan A3 yaitu; kadar air 2,39%, kadar abu 7,41%, total mikroba 1,33 koloni/gram, dan total padatan tidak larut air 8,25%. Berdasarkan hasil dan pembahasan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa, rata-rata kandungan gizi kopi bubuk biji pepaya pada perlakuan yang disukai adalah kadar air 2,39%, kadar abu 7,41%, kadar total padatan tidak larut air 8,25%, dan total mikroba 1,33 koloni/gram. Kadar air, abu dan total mikroba sudah memenuhi syarat mutu kopi sangrai berdasarkan SNI tetapi kadar total padatan tidak larut air tidak memenuhi syarat mutu kopi sangrai berdasarkan SNI.