Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

INTUITIVE UNDERSTANDING OF EARLY ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS IN CONSTRUCTING THE AREA Amir, Mohammad Faizal
International Journal of Insights for Mathematics Teaching (IJOIMT) Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

During this time students failed to understand the broad concept of the area because they did not have an intuitive understanding structured beforehand in early grade elementary school students. The research focuses on the strategies and intuitive development of students in measuring the area in 20 third grade students of elementary school. The research method used is descriptive qualitative. Students are given 3 assignments in different times and selected subjects based on different characteristics that appear each one for interviews. The findings of this research are 2 visual-concrete covering strategies and measurement estimation. As well as 6 levels of development of intuitive understanding namely level 0: incomplete covering, level 1: primitive covering, level 2: visual-concrete covering, level 3: covering array constructed from unit, level 4: covering constructed by measurement estimation, level 5: array Constructed constructed by measurement, level 6: array implied, solution by calculation
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Masalah Kontekstual untuk Meningkatkan Kemampuan Metakognisi Siswa Sekolah Dasar Amir, Mohammad Faizal; Kusuma W, Mahardika Darmawan
Jurnal Pendidikan Matematika IKIP Veteran Semarang Vol 2 No 1 (2018): Journal of Medives : Journal of Mathematics Education IKIP Veteran Semarang
Publisher : Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Veteran Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran berbasis masalah kontekstual untuk meningkatkan kemampuan metakognisi siswa sekolah dasar. Proses pengembangan perangkat terdiri dari tahap pendefinisian (define), perancangan (design), dan pengembangan (develop). Perangkat yang dikembangkan meliputi rencana pelaksanaan pembelajaran, lembar kerja, tes metakognisi, dan kuesioner kemampuan metakognisi pada materi Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dan Faktor Persekutuan Terbesar (FPB). Teknik pengumpulan data menggunakan validasi ahli, observasi, kuesioner, dan tes. Subjek penelitian adalah siswa kelas lima SDN Kalitengah I Tanggulangin Sidoarjo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran berbasis masalah kontekstual yang dikembangkan berkualitas baik. Hal ini dapat dilihat dari keterlaksanaan pembelajaran berkatergori baik, aktivitas siswa berkategori baik, respon metakognisi siswa berkategori positif, ketuntasan hasil belajar metakognisi siswa secara klasikal tercapai. Kemampuan metakognisi siswa menunjukkan hal yang lebih baik dalam hal kesadaran merencanakan, memonitor, dan mengevaluasi proses pemecahan masalah saat dan sesudah pembelajaran berbasis masalah kontekstual. Kata kunci: pembelajaran matematika, metakognisi, pendidikan dasar   ABSTRACT This study aims to develop contextual problem based learning instruments to improve elementary school students metacognition. The process consists of define, design, and develop. The research instruments include lesson plan, worksheet, test, and questionnaire of metacognitive ability in the topic of Least Common Multiple (LCM) and Greatest Common Divisor. The data collection was conducted through expert validation, observation, questionnaire, and test. The subjects of the study were the fifth grade students of SDN Kalitengah I Tanggulangin, Sidoarjo. The findings show good quality of the developed learning instruments. More specifically, the implementation of the teaching and learning process, student activity, students metacognition learning outcome, students metacognition response, and metacognition abilit are in good category. The students metacognition show better in awareness of planning, monitoring, and evaluating problem solving process during and after contextual based learning. Keywords: mathematics learning, metacognition, primary education.
ANALISIS MISKONSEPSI SISWA KELAS V-B MIN BUDURAN SIDOARJO PADA MATERI PECAHAN DITINJAU DARI KEMAMPUAN MATEMATIKA Ziadatul Malikha; Mohammad Faizal Amir
Pi: Mathematics Education Journal Vol. 1 No. 2 (2018): April
Publisher : Universitas Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.548 KB) | DOI: 10.21067/pmej.v1i2.2329

Abstract

Miskonsepsi yang terjadi pada siswa akan mengakibatkan siswa mengalami kesalahan juga untuk konsep pada tingkat berikutnya. Sehingga mengakibatkan terjadinya rantai kesalahan konsep yang tidak terputus karena konsep awal yang telat dimiliki akan dijadikan sebagai dasar belajar konsep selanjutnya. Pecahan merupakan cabang dari aritmatika yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari dan merupakan materi yang berhubungan dengan materi yang lain. Namun mesikipun demikian masih banyak siswa yang mengalami miskonsepsi dalam memahami konsep pecahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui miskonsepsi yang terjadi pada siswa berkemampuan matematika tinggi, sedang dan rendah dan untuk mengetahui seberapa besar presentasi miskonsepsi yang dialami. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah 1) Tes kemampuan matematika untuk mengetahui kemampuan matematika subjek, 2) tes diagnostik miskonsepsi untuk mengetahui miskonsepsi yang terjadi, dan 3) wawancara yang dilakukan pada subjek yang mengalami miskonsepsi terbanyak. Pengecekan keabsahan data menggunakan trianggulasi teknik, yaitu dengan membandingkan data hasil tes, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian dapat dipaparkan sebagai beriku. 1) miskonsepsi pada siswa berkemampuan matematika tinggi sebesar 20%, yaitu pada konsep makna, urutan dan kerapatan pecahan, 2) miskonsepsi pada siswa berkemampuan matematika sedang sebesar 60%, yaitu pada konsep definisi, makna, ketaksamaan pecahan, urutan dan kerapatan pecahan serta perkalian dan pembagian pecahan, dan 3) miskonsepsi pada siswa berkemampuan matematika rendah sebesar 30%, yaitu pada konsep makna, ketaksamaan, urutan atau kerapatan dan perkalian pecahan.
PROSES BERPIKIR KRITIS SISWA SEKOLAH DASAR DALAM MEMECAHKAN MASALAH BERBENTUK SOAL CERITA MATEMATIKA BERDASARKAN GAYA BELAJAR Amir, Mohammad Faizal
Jurnal Math Educator Nusantara: Wahana Publikasi Karya Tulis Ilmiah di Bidang Pendidikan Matematika Vol 1 No 2 (2015)
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.228 KB)

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi proses berpikir kritis siswa sekolah dasardalam memecahkan masalah berbentuk soal cerita berdasarkan perbedaan gaya belajar(visual, auditori, dan kinestetik) siswa. Identifikasi proses berpikir didasarkan atas langkahlangkahberpikir kritis IDEALS yakni Identify, Define, Enumerate, Analyze, List, dan SelfCorrect.Subjek penelitian terdiri dari 1 siswa yang masing-masing memiliki gaya belajarvisual, auditori, dan kinestetik yang tertinggi. Instrumen penelitian meliputi peneliti, tesberpikir kritis, tes gaya belajar, dan pedoman wawancara. Teknik pengumupulan data yangdigunakan terdiri dari tes, wawancara, dan observasi. Oleh karena itu, triangulasi yangdigunakan adalah triangulasi teknik. Analisis data dilakukan dengan cara reduksi data,penyajian data, dan pengambilan simpulan. Proses berpikir kritis siswa visual, auditori, dankinestetik pada langkah identify dan define memiliki kesamaan dalam memecahkan masalahberbentuk soal cerita. Perbedaan proses berpikir kritis tersebut paling menonjol terlihatpada langkah enumerate, analyze, list dan self-corret. Perbedaan tersebut terletak pada caradan jawaban yang dipilih berdasarkan fakta dan alasan logis yang diberikan, perbedaan yanglain terletak pada ketelitian siswa dalam memeriksa kembali jawaban yang diperoleh. Siswakinestetik dapat dikatakan memiliki proses berpikir kritis lebih baik dibandingkan siswa visualdan auditori pada langkah Enumerate, Analyze, List, dan Self-Correct. Sementara, siswaauditori dapat dikatakan memiliki proses berpikir kritis lebih baik dibandingkan siswa visual.Siswa visual cenderung melihat fokus permasalahan dan menganalisa jawaban berdasarkangambar. Siswa auditori seringkali membaca soal dan jawaban kembali agar dapatmenyebutkan fokus permasalahan, apa yang diketahui, apa yang ditanyakan, danmenganalisa permasalahan. Sementara siswa kinestetik melakukannya dengan menggerakgerakkananggota badan dan pensil untuk menentukan fokus dan menganalisapermasalahan.Kata Kunci : Proses Berpikir Kritis, Pemecahan Masalah, Soal Cerita Matematika, GayaBelajar
PEMAHAMAN INTUITIF SISWA SEKOLAH DASAR PADA PENGUKURAN LUAS JAJARGENJANG Mohammad Faizal Amir; Danti Sri Rahayu; Muhlasin Amrullah; Hendra Erik Rudyanto; Dian Septi Nur Afifah
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/ajpm.v9i1.2641

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi dan level pemahaman intuitif siswa sekolah dasar dalam mengukur luas jajargenjang. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Teknik pengambilan data dilakukan dengan cara pemberian tugas, observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Penelitian ini menemukan adanya dua strategi pemahaman intuitif yang baru yaitu strategi visual-kongkrit dan pengukuran estimasi. Sementara itu, ada dua level transisi pemahaman intuitif meliputi level 2: penutupan visual kongkrit dan level 4: penutupan susunan yang dikonstruk melalui estimasi pengukuran. Level pemahaman intuitif siswa yang dikonstruksi dari jenis-jenis strategi tersebut secara bertahap dapat mencapai level pemahaman intuitif, yaitu level 0 sampai level 6. Temuan penelitian ini berimpikasi pada level pemahaman intuitif siswa dalam mengukur luas daerah yang lebih rinci dan berhirarki. Hasil penelitian ini menyarankan agar siswa dapat mencapai pemahaman relasional atau memiliki konsep pengukuran luas yang bermakna, para pendidik khususnya di tingkat sekolah dasar harus menstimulasi pembelajaran menggunakan tugas-tugas pemahaman intuitif secara bertahap dan tidak hanya dibangun melalui pengukuran luas persegipanjang. AbstractThis study aims to identify strategies and levels of intuitive understanding of elementary school students in measuring the area of a parallelogram. This type of study is a case study. Data collection techniques carried out by giving tasks, observation, interview and documentation. Data analysis techniques used are data reduction, data presentation, and drawing conclusions/verification. This study has founded two new intuitive understanding strategies namely visual-concrete and estimation measurement strategies. Meanwhile, there are two levels of intuitive understanding transitions including level 2: visual –concrete covering and level 4: Array covering constructed by measurement estimation. The level of students' intuitive understanding constructed from these types of strategies can gradually reach the level of intuitive understanding, level 0 to level 6. The findings of this study imply the level of students' intuitive understanding in measuring the area in a more detailed and hierarchical area. The results of this study suggest that students can achieve a relational understanding or have a meaningful broad measurement concept, educators, especially at the elementary school level, must stimulate learning using intuitive understanding tasks gradually and not only be built through rectangular area measurement.
Basic School Students Mathematical Literation Abilities Through The Implementation of PAR (Preparation-Assistance-Reflection) Learning Winda Anzilah; Mohammad Faizal Amir
Academia Open Vol 6 (2022): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/acopen.6.2022.1666

Abstract

Literasi matematika merupakan kemampuan seseorang untuk merumuskan, mengunakan dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks masalah kehidupan sehari-hari secara efisien. Kemampuan ini mencakup penalaran matematis dan kemampuan menggunakan konsep-konsep matematika, prosedur, fakta dan fungsi matematika untuk menggambarkan, menjelaskan dan memprediksi suatu fenomena. Hal ini menuntun individu untuk mengnali peranan matematika dalam kehidupan dan membuat penilaian yang baik dan pengambilan keputusan yang dibutuhkan oleh penduduk yang konstruktif, dan reflektif. Pengertian ini mengisyaratkan literasi matematika tidak hanya pada penguasaan materi saja akan tetapi hingga kepada pengunaan penalaran, konsep, fakta dan alat matematika dalam pemecahan masalah sehari-hari.
Stages of Ability to Recognize Number Concepts Through Modified Apron Media for Children with Special Needs Ratna Dwi Kusuma; Mohammad Faizal Amir
Academia Open Vol 6 (2022): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/acopen.6.2022.1676

Abstract

Konsep kesamaan dalam matematika merupakan suatu hal yang mendasar untuk dipelajari siswa di tingkat Sekolah Dasar. Pengetahuan akan kesamaan dalam matematika menjadi prasyat penting untuk mempelajari aljabar di tingkat yang lebih tinggi. Khususnya dalam tahapan kemampuan mengenal konsep bilangan pada anak berkebutuhan khusus yang bisa dikembangkan dengan cara menggunakan media apron hitung. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi literatur. Adapun subjeknya ialah siswa sekolah Dasar Luar Biasa. Data yang diperoleh peneliti yakni dari berbagai literatur yang telah dikaji dan dianalisis oleh peneliti. Adapun hasil peneliti ini adalah siswa dapat mencapai tahapan pada mengenal konsep bilangan.
Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa SD Melalui Media Game Edukasi Andorid Rokhmatul Alfiah; Mohammad Faizal Amir
Jurnal Pendidikan Edutama Vol 9, No 1 (2022): January 2022
Publisher : IKIP PGRI Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30734/jpe.v9i1.2228

Abstract

Abstract: The low level of activity and learning outcomes on flat-shaped materials requires an appropriate solution, especially elementary school mathematics learning that is currently taking place during the COVID-19 pandemic. This study aims to increase the activity and learning outcomes of elementary school students on flat-shaped materials through the application of android educational game media. This media was created through the 1st and 2nd Math android application. The research method used is classroom action research with Kurt Lewin's model. This study lasted for two cycles with indicators of success, namely completeness of activities and student learning outcomes are at least 75% classically. The results showed that students' learning activities in the pre-cycle were 15% (less), the first cycle increased by 51.25%, and the second cycle was 82.75% (good). The increase in student learning outcomes in the pre-cycle was 41.25% (less), the first cycle increased by 66.75% (less), and the second cycle increased by 86% (good). Thus, the use of android educational game media improves elementary school students' activity and learning outcomes in flat-shaped material.Keywords: Activities, learning outcomes, educational game media, android technology Abstrak: Rendahnya aktivitas dan hasil belajar pada materi bangun datar membutuhkan suatu solusi yang tepat, terlebih pembelajaran matematika sekolah dasar yang dilakukan saat ini berlangsung selama masa pandemi covid-19. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa sekolah dasar pada materi bangun datar melalui penerapan media game edukasi android. Media ini dibuat melalui aplikasi android 1st and 2nd Math. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas dengan model Kurt Lewin. Penelitian ini berlangsung selama 2 siklus dengan indicator keberhasilan yaitu ketuntasan aktivitas dan hasil belajar siswa berada minimal 75% secara klasikan. Hasil penelitian menunjukkan aktifitas belajar siswa pada prasiklus sebesar 15% (kurang), siklus I meningkat sebesar 51,25%, dan siklus II sebesar 82,75% (baik). Peningkatan hasil belajar siswa pada prasiklus sebesar 41,25% (kurang), siklus 1 meningkat sebesar 66,75% (kurang), dan siklus II  meningkat sebesar 86% (baik). Dengan demikian, penerapan media game edukasi android meningkatkan aktivitas dan hasil belajar pada materi bangun datar siswa sekolah dasar.Kata Kunci: Aktivitas, hasil belajar, media game edukasi, teknologi andorid 
PENGEMBANGAN DOMINO PECAHAN BERBASIS OPEN ENDED UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA SD Mohammad Faizal Amir; Mahardika Darmawan Kusuma Wardana
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/ajpm.v6i2.1015

Abstract

This research aims to develop an open ended domica-based cards in improving creative thinking ability of elementary school students on the material fractions and find out the results of its development. The development was done by using Plomp model which consists of: (1) the initial Investigation, (2) design, (3) the realization/construction, (4) the testing, evaluation, and revision, (5) implementation. The research subjects at the the testing, evaluation, and revision phase is 38 6th grade students of SDN Kenongo 1 Tulangan Sidoarjo. While in the implementation phase, the ubject is 40 6th grade students SDN Kalitengah 1 Tanggulangin Sidoarjo. Data collection techniques use creative thinking tests, observation of students' creative thinking activities, questionnaires, and documentations. The results concluded that the open ended domica-based card to enhance the creativity of elementary school students produced two sets of cards in the material of common fraction and mixed fractions, as well as a set of cards consisting of whole fractions sub material (regular, percent, and decimal fractions), each of which contains 66 cards. Domica-based card open ended trial results good quality because it has met the criteria of validity, practicality, and effectiveness to train the creativity of students in the aspect of flexibility, elaboration, and novelty.
Action Proof: Analyzing Elementary School Students Informal Proving Stages through Counter-examples Amir, Firana; Amir, Mohammad Faizal
International Journal of Elementary Education Vol 5, No 3 (2021): Agustus
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/ijee.v5i3.35089

Abstract

Both female and male elementary school students have difficulty doing action proof by using manipulative objects to provide conjectures and proof of the truth of a mathematical statement. Counter-examples can help elementary school students build informal proof stages to propose conjectures and proof of the truth of a mathematical statement more precisely. This study analyzes the action proof stages through counter-examples stimulation for male and female students in elementary schools. The action proof stage in this study focuses on three stages: proved their primitive conjecture, confronted counter-examples, and re-examined the conjecture and proof. The type of research used is qualitative with a case study approach. The research subjects were two of the 40 fifth-grade students selected purposively. The research instrument used is the task of proof and interview guidelines. Data collection techniques consist of Tasks, documentation, and interviews. The data analysis technique consists of three stages: data reduction, data presentation, and concluding. The analysis results show that at the stage of proving their primitive conjecture, the conjectures made by female and male students through action proofs using manipulative objects are still wrong. At the stage of confronted counter-examples, conjectures and proof made by female and male students showed an improvement. At the stage of re-examining the conjecture and proof, the conjectures and proof by female and male students were comprehensive. It can be concluded that the stages of proof of the actions of female and male students using manipulative objects through stimulation counter-examples indicate an improvement in conjectures and more comprehensive proof.